TARBIYAH ONLINE: tokoh

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Sunday, August 4, 2019

Kualitas Ulama dan Lingkungan Yang Membentuk Keulamaannya

August 04, 2019 0

Tarbiyah.online – Jika membaca profil seorang ulama, tentu saja diantara bagian penting yang perlu dijelaskan adalah setting sosial ulama tersebut. Hal ini disebabkan karena kualitas dan tingkat keilmuan seorang ulama memang sangat dipengaruhi oleh setting sosial, mulai dari lingkungan hingga masyarakat yang melingkar di sisi bangunan perjalanan kehidupan ulama tersebut.

Sekarang seberapa nilai kualitas ulama yang terbit pada sebuah areal ruang dan waktu tertentu, maka semua itu juga erat kaitannya dengan lingkungan masyarakat pada tempat dan masa itu. Masyarakat tidak boleh berlepas tangan pada nilai dan kualitas ulama² yang muncul di tempat mereka, karena secara langsung atau tidak, mereka juga memiliki peran dalam membentuk kualitas ulama-ulama di sana.

Sekarang apa saja unsur yang perlu diperhatikan dalam setting sosial yang dimaksud? Kalau hendak dirumuskan satu per satu tentu banyak sekali. Tapi kali ini kita hanya membahas dua hal yang sederhana namun cukup berpengaruh. Bagian-bagian tersebut meskipun dijelaskan secara terpisah, tetapi satu sama lain akan tumpang tindih dan saling berkaitan.

1. Standar kompetensi yang ditetapkan oleh masyarakat serta skala prioritasnya

Awal sekali tentu kita semua paham bahwa seseorang tidak akan diposisikan sebagai seorang ulama secara tiba-tiba. Tidak mungkin ketika hari ini ia bukan apa-apa, lalu ujug-ujug keesokan harinya ia dinobatkan sebagai ulama oleh masyarakat di sana. Ketika seseorang diposisikan sebagai ulama, maka tentu saja ada standar tertentu yang berlaku dalam masyarakat dan telah ia penuhi.

Berbicara tentang status keulamaan, maka ada banyak sekali standar yang membentuk seseorang hingga dapat sampai pada level tersebut.  Dari berbagai standar yang ada, kita akan pecahkan menjadi dua kelas. Yaitu standar kelas satu (pokok) dan standar kelas dua (opsional). Dalam hal ini perbedaan kelas tersebut ditentukan oleh seberapa urgen standar tersebut dalam urutan skala prioritas kompetensi seorang ulama.

Standar kelas satu contohnya seperti tingkat ilmu dan wawasan, keluasan referensi, kemampuan mengajar, pemahaman langkah-langkah berpikir ilmiah, kemampuan berkarya (menulis), kemampuan meneliti dan penguasaan pada satu spesialisasi ilmu tertentu. Perhatikan bahwa nama-nama ulama monumental yang mengisi barisan ulama level tertinggi sepanjang sejarah umat Islam! Mereka semua pasti memiliki capaian yang maksimal pada tujuh standar kelas satu yang disebutkan di atas. 

Adapun standar kelas dua contoh-contohnya lebih banyak lagi seperti: membangun atau memimpin satu lembaga pendidikan (Dayah), pandai berceramah, memiliki sebuah majelis zikir/shalawat, memiliki amalan atau bacaan zikir/shalawat tertentu, memiliki pengaruh menentukan arah politik masyarakat, bersuara bagus, pandai bersenandung dan lain sebagainya. 


Ulama Kibar di Al Azhar
Kedua kelas tersebut tentu saja sama-sama penting dan bermanfaat. Namun urutan skala prioritas ini tidak boleh dilangkahi. Seharusnya yang paling diutamakan dalam kompetensi seorang ulama adalah standar kelas satu, jangan sampai standar kelas satu ada yang terabaikan, dan justru poin-poin di standar kelas dua malah jadi kompetensi pokok yang diberlakukan oleh masyarakat. 

Jadi pada satu tempat yang tidak menetapkan syarat keulamaan pada standar kelas satu, maka kualitas ulama di sana juga pasti cenderung menurun. Tempat tersebut akan diisi oleh para ulama yang kering dengan karya dan tulisan, karena memang kemampuan berkarya tidak ditetapkan dalam standar awal. Gebrakan penelitian dan penyelesaian masalah pada hal-hal yang berkaitan dengan Islam menjadi amat sunyi dan sepi, karena sejak awal pemahaman dan penguasaan metodologi penelitian tidak sama sekali diperhitungkan sebagai standar.

Contoh lain misalkan variasi dan kuantitas referensi keilmuan yang menjadi amat terbatas, bahkan tidak jarang ada rujukan (seperti kitab atau tokoh ulama) ilmu keislaman yang amat bernilai pada cabang tertentu, tetapi di tempat tersebut rujukan itu tidak pernah tersentuh atau dikenal. Hal ini tentu saja karena sejak awal, aspek keluasan referensi di tingkat pelajar tidak diperhatikan dengan baik.

Efek yang lebih buruk lagi adalah, di sebagian tempat itu agama Islam akan terkesan sebagai agama yang benar-benar irasional. Kenapa bisa, karena tahapan berpikir ilmiah  sejak awal masa pengkaderan ulama telah dicampakkan secara perlahan-lahan. Di kemudian hari pemuka agama Islam yang terbit adalah orang-orang yang begitu semangatnya menyeret ajaran Islam semakin jauh dari perkembangan ilmu pengetahuan dan sains. Padahal ajaran Islam telah memisahkan dengan baik tentang hal-hal yang tidak bisa diukur dengan rasio seperti perkara ghaib, eskatologi, mukjizat dll, dengan hal-hal yang memang sewajarnya kita mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
K.H Aqil Siradj bersama Habib Luthfi Yahya
Akan tetapi yang terjadi di tempat itu tidak demikian. Secara mutlak sains kemudian dianggap kafir, sains dikesankan sebagai kendaraan yang bergerak ke arah berbeda dengan agama pada persimpangan sejarah hidup manusia. Hingga fakta² empirik dan nyata² telah diterapkan dalam keseharian manusia pun harus ditolak, semua itu atas nama kesetiaan pada ajaran agama. Pokoknya bumi harus datar, semua harus kembali pada pemahaman geosentris bahwa matahari dan benda angkasa lainnya mengelilingi bumi, gravitasi omong kosong, teori² dalam ilmu genetika harus ditolak, misi-misi astronomis hanyalah dongeng dan lain sebagainya. Semua itu dikampanyekan atas nama bela agama. padahal tanpa sadar hal itu justru sedang mencoreng wajah agama Islam pada masyarakat dunia. Tidak peduli bahwa  mereka semua adalah objek dakwah Islam juga, orang-orang yang mesti dibuat tertarik pada agama ini.

Wajah agama Islam jadi semakin runyam ketika tampil orang-orang yang memakai topeng ulama palsu. Hal ini mudah saja terjadi ketika standar kelas dua justru lebih didahulukan daripada standar kelas satu.

Satu orang yang capaian akademik nya belum teruji, tiba-tiba kemudian dielu-elukan bak seorang ulama besar hanya karena ia ternyata memiliki majelis zikir yang ramai pengikutnya. Ada seorang sosok ulama yang membumbung begitu tinggi karena ia banyak membuat gubahan doa, zikir, shalawat tertentu yang katanya Fadhilah membacanya berlipat-lipat. 

Kenapa hal-hal demikian bisa terjadi? Apa pernah ada sejarahnya ulama diorbitkan melalui jalur-jalur non akademik seperti demikian? Atau kemudian muncul satu jalan pintas lain untuk naik ke level ulama, yaitu dengan membangun pesantren dan sebagainya.

Kenapa hal-hal di atas bisa sangat marak terjadi? Tidak lain masalahnya ada pada standar kompetensi yang diberlakukan pada satu daerah, yang telah melanggar skala prioritas yang seharusnya dipakai.

Abah Guru Sekumpul bersama Habib Anis
Standar yang keliru itu jadi  jalan lempang untuk sebagian orang pelan-pelan mulai mendistorsi standar keulamaan.

Ada banyak pihak yang menaikkan kelihaian berceramah menjadi standar di atas segalanya. Sokongan keilmuan penceramah kemudian diabaikan begitu saja. Pokoknya banyak diisi dengan cerita menarik, masa bodoh dengan referensi dan validitas isinya. Kemudian hadis-hadis palsu yang bahkan terlalu palsu untuk dikategorikan sebagai hadis palsu ditebar seperti menebarkan pupuk ke atas tanaman. Kisah-kisah israiliyat yang sejak awal telah bermasalah dikembangkan dan ditambah-tambah lagi agar semakin menarik, lalu karangan² itu dilekatkan pada agama Islam. Pokoknya harus lucu, diisi dengan lagu-lagu irama India, maka penceramah itu sudah layak dipanggil kemana-mana. Bayangkan kemudian orang-orang semacam itu diberikan panggung untuk memperkenalkan wajah Islam kepada masyarakat. Kemudian hal itu berlarut-larut  menyisakan pemahaman² keliru yang sulit diluruskan kembali dalam tubuh umat Islam.

Fakta menyakitkan lain yang mendera kita sekarang adalah pengabaian pada spesialisasi ilmu tertentu. Khazanah ilmu Islam yang demikian luas mengharuskan para pelajar untuk bagi-bagi tugas, mereka harus memilih spesialisasi ilmu yang berbeda-beda. Tujuannya adalah supaya tidak ada posisi pakar cabang ilmu tertentu yang lowong. Mungkin banyak pihak yang menganggap hal ini tidak penting, tapi saya ambil satu contoh. Spesialisasi ilmu hadis. Ada kesulitan besar untuk memisahkan dengan rapi antara hadis² shahih dengan hadis² bermasalah, bahkan dengan cerita-cerita israiliyat yang beredar dalam masyarakat. Mengapa semua ini bisa terjadi? Tidak lain adalah dampak terbatasnya pakar-pakar hadis yang mengisi pos-pos keulamaan di daerah tersebut. Belum lagi diperparah dengan muatan-muatan hadis bermasalah dan israiliyat yang dicampur adukkan oleh penceramah tipe-tipe yang dijelaskan di atas.
Gus Dur bersama K.H.Zainuddin MZ dan Rhoma Irama
Dan kalau mau jujur, ada banyak sekali posisi pakar keilmuan tertentu yang lowong misalnya di Aceh ini atau Indonesia secara umum. Ada berapa orang pakar hadis? pakar ilmu Rijal, ilmu qiraat, ilmu Rasm dan dhabt, pakar muamalah kontemporer, dan ilmu-ilmu yang sebenarnya sangat urgen bagi umat. Jangan bermimpi hal ini bisa diselesaikan dengan pola pendidikan yang mendidik sekelompok pelajar dengan muatan ilmu dan kurikulum yang seluruhnya seragam, kemudian mereka ditugaskan untuk dapat mengisi pos-pos pakar keilmuan yang lowong tersebut. Jangan mimpi!!

Terakhir untuk menutup pembahasan tentang standar kompetensi dan masuk ke poin selanjutnya, maka mari sama-sama kita renungkan,

Ulama-ulama level puncak semacam imam 4 mazhab seperti imam Syafi'i, ulama Mujtahid pra-empat mazhab seperti Al-Zuhry atau Ibrahim al-Nakha'iy, ulama selevel imam Mazhab seperti Sufyan al-Tsaury dan Al-Awza'iy, ulama murid-murid senior dalam mazhab seperti Al-Muzany atau Sahnun, ulama-ulama pelopor perintisan cabang keilmuan seperti imam Haramain al-juwainy atau Ramahurmuzy, ulama yang memiliki banyak karya besar seperti al-Suyuthy dan al-'Asqalany, ulama yang berperan besar dalam tahrir mazhab seperti imam Ghazali atau imam Nawawi, ulama yang sukses meredam pemikiran menyimpang seperti imam al-Asy'ary atau al-Qadhi al-Baqilany, ulama poros dunia kontemporer seperti wahbah Zuhaili atau Ramadhan al-Buthy. Serta berbagai nama ulama sekaliber seperti ulama di atas yang tidak disebutkan di sini. Mereka semua muncul di tengah masyarakat yang memang sejak awal memberlakukan standar selevel itu.

Akan tetapi, jika sejak awal standar yang ditetapkan itu bobrok, maka tidak akan dapat dihindarkan nanti hasil yang dituai juga bobrok.

2. Fungsi dan kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat

Selain daripada standar, setting sosial yang menentukan kualitas ulama yang terbit di satu kawasan adalah fungsi yang diharapkan dan dibutuhkan oleh masyarakat dari keberadaan seorang ulama di sekitarnya. Saat masyarakat menginginkan fungsi pokok seorang ulama, maka ulama-ulama yang muncul juga kapabel dengan fungsi-fungsi tersebut.
Habib Ali al Jifri bersama Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki

Sekarang mari sama-sama membuat perenungan! Apakah selama ini masyarakat kita merupakan gambaran orang yang haus pada ilmu pengetahuan atau lebih gemar menikmati banyolan-banyolan. Jika seperti gambaran pertama, maka kaderisasi ulama pun pastinya akan menyesuaikan dengan rasa haus ilmu pengetahuan, para ulama akan terbentuk untuk menjadi figur yang dapat memuaskan rasa haus itu. Akan tetapi jika sebaliknya, maka percayalah kader-kader ulama pasti akan berbelok menjadi pembuat cerita, karena memang animo masyarakat ada pada bagian itu. Maka saksikanlah bahwa kemampuan mengolah dan merangkai kata akan jauh lebih diperhatikan dibandingkan kualitas dan validitas konten yang dibawanya.

Perhatikan lagi apakah umat Islam di sini terlihat bergairah untuk menikmati karya-karya tulis ilmiah? Mulai dari tulisan murni, Syarah atau hasyiyah untuk karya yang sudah ada sebelumnya, ringkasan untuk karya besar yang sudah ada, Syarah untuk karya-karya dalam bentuk syair dan nazham, terjemahan dan alih bahasa untuk kitab-kitab berbahasa Arab, pemisahan satu kajian tertentu dalam tulisan baru yang utuh dari sebelumnya tercampur², aktualisasi kandungan dari kitab para ulama sebelumnya, atau bentuk-bentuk karya tulis lainnya. Kekeringan tulisan ulama Tempatan yang terjadi di sebuah daerah, pastinya juga dipengaruhi oleh minat membaca umat Islam di sana yang amat rendah. Sehingga sejak awal kemampuan menulis menjadi sesuatu yang tertinggal dalam proses kaderisasi ulama. Padahal kalau melihat kemungkinan verifikasi kebenaran,sajian tertulis akan lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan ceramah-ceramah lisan.

Jika hendak melakukan perbaikan, maka umat Islam harus mulai meningkatkan perhatian dan minat mereka untuk menelusuri dan menikmati sebuah bacaan,baik berkaitan dengan ilmu agama dan bacaan umum yang lain.

Jika kemudian fungsi keulamaan disunat pada batas-batas remeh remeh saja, maka kualitas ulama pun akan menyesuaikan dengan fungsi yang sedikit itu. Bayangkan apa jadinya jika fungsi yang dibutuhkan oleh para ulama sebatas pada hal-hal semacam ini:
Bisa jadi pemimpin doa dan zikir, khususnya saat ada kematian
Ada orang mengaji di kuburan
Ada yang memenuhi undangan berdoa dan shalawatan pada acara tertentu
Ada yang jadi imam shalat dan mengurus tempat shalat, dll
Abiya Anwar Kuta Krueng bersama Abu Mudi
Tidak ada yang salah dengan fungsi-fungsi tersebut. Yang salah adalah menjadikannya sebagai fungsi utama, melenceng dari fungsi ulama sebagaimana mestinya. Jika demikian ya sudah, paradigma yang terbangun di kalangan pelajar agama Islam pun adalah, "saya belajar agama biar bisa mendoakan orang meninggal", "kalian anak sekolah silahkan buat ini itu segala macam! Tapi nanti kalau ada yang meninggal, kamu atau saudara kamu pasti kami yang doakan", "selesai menuntut ilmu agama nanti pasti akan ada banyak undangan kenduri dan sedekah". Sekarang apakah capaian seperti d atas selayaknya dijadikan target seorang penuntut ilmu agama?? Apakah kita hanya bisa berpikir sependek itu??

Justru selayaknya fungsi keulamaan diperluas seluas-luasnya. Bagaimana memberikan solusi terhadap problematika yang muncul dengan sudut pandang pemahaman agama Islam, seharusnya para pelajar agama berperan aktif dan menghasilkan ide-ide untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Bagaimana mewujudkan perkembangan ekonomi, mengentaskan kemiskinan, membangkitkan pikiran kreatif, mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara, mewujudkan stabilitas politik dan pemerintahan dan isu-isu major lainnya. Semua diselesaikan dari sudut yang sesuai dengan keilmuannya masing-masing.

Semua itu tentu saja baru bisa terwujud dengan kemampuan meneliti. Masalah baru bisa diselesaikan dengan kemampuan pengumpulan dan pengolahan data yang baik, kemudian menghasilkan temuan dan simpulan yang bermanfaat dan bisa dipasang sebagai solusi untuk masalah yang hendak diselesaikan. Lalu dilengkapi dengan kemampuan deskripsi dan menulis yang baik dan benar, penguasaan media dan lain sebagainya.

Sekarang bagaimana semua itu bisa terwujud jika menulis tidak pernah merasa perlu dipelajari, meneliti tidak harus dilakukan, penguasaan teknologi dan media terbatas, penguasaan bahasa terbatas pada bahasa daerah saja, bahasa nasional terbata-bata, bahasa internasional tidak dipelajari sama sekali, kemandirian ekonomi tidak mampu dicapai malahan justru bergantung pada sedekah dan pemberian orang, Bagaimana kita pelajar agama bisa diharapkan dapat melakukan fungsi-fungsi seperti di atas.

Abu Mudi dan Waled Nu bersama Habib Umar dan habaib lainnya.
Kecuali jika pelajar agama di masa sekarang memang sudah setuju dan nyaman dengan paradigma berfikir bahwa fungsi dan tujuan belajar agama sebatas mendoakan orang yang sudah mati, mengaji di kuburan dan menghadiri undangan kenduri saja. Ingat bahwa saya tidak mempermasalahkan hal-hal itu, saya pun pernah melakukannya. Tapi kita para pelajar agama, mari sama-sama mengembalikan fungsi ilmu agama sebagaimana kedudukannya yang tinggi. Mari ikut berkarya, meneliti, memberikan solusi, memperbaiki apa yang keliru, mari mengubah wajah pelajar agama sebagai kader-kader ulama menjadi wajah yang lebih akademis dan bernilai, lebih dari sekedar fungsi sampingan saat orang meninggal.

Terakhir kali tentu saja tulisan di atas sebatas merupakan opini penulis. Sah-sah saja dibantah atau dikoreksi, bahkan memang sewajarnya demikian. Tetapi tolong utarakan dengan bahasa dan cara yang berkelas. Kalau sekedar mampu memberikan sumpah serapah, tuduhan dan kecurigaan tidak jelas atau tanggapan sampah, sebaiknya tidak usah ikut berkomentar, karena tulisan ini memang tidak diarahkan untuk orang semacam itu.

Oleh Teungku Rudy Fachruddin, S.IT (Sarjana Ilmu Quran dan Tafsir, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh dan Dewan Guru di Dayah Darul Ulum, Lueng Ie, Aceh Besar).
Read More

Sunday, June 17, 2018

NEGERI SYAM DAN JEJAK WALI ABDAL (2) Umat Yatim dan Dunia Baru

June 17, 2018 0
Tarbiyah.Online - Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan bahwa jika Ahli Syam (penduduk negeri Syam) sudah rusak maka tidak ada lagi kebaikan di dunia ini. Tuhan menjaga Ahli Syam dengan menjaga ulamanya, ulama yang menjaga iman umat. Yang membuat spesial Ahli Syam adalah perpaduan antara ilmu zahir dan batin, ilmu kalam yang katanya ilmu debat, kering, jika diajarkan ulama Syam bisa jadi ilmu yang membuatmu menangis. Itu dia spesialnya para abdal.
Syeikh Anas Syarfawi

Ilmu ushul fiqh yang katanya ilmu akal murni, melelahkan, kering dan tanpa sisi ruhaniyah bisa bikin kita taubat jika diajarkan ulama Syam. Dan orang seperti itu selalu ada di Syam dari generasi ke generasi, warisan paling mahal di negeri Syam, dan Sayidina Muhammad SAW sendiri yang menjaminnya

Tentu kami merasakan kiamat kecil saat satu persatu ulama besar meninggalkan kami, terutama dengan wafatnya nama-nama besar seperri Syeikh Sa'id Ramadhan Albuty, Syeikh Wahbah Zuhayly, Syeikh Abdurrazaq Halaby dan seterusnya. Perasaan yang kami rasakan saat itu  seolah "kami menjadi yatim", siapa yang akan menjaga kami? Bagaimana kami menjalankan hidup kami setelah ini?


Baru-baru ini aku ditegur, Sampai kapan kamu merasa yatim? Dunia terus berjalan dan nabi telah menjanjikan akan selalu ada di syam orang yang mewarisi tugas besar sebagai penjaga iman umat manusia. Mereka generasi baru, yang disiapkan oleh pendahulu untuk menjadi penerus tugas mereka.
Syeikh Hasan Khiyami


Akhirnya akupun terbangun dan sadar, mau tidak mau aku harus menerima, jika sekarang zaman sudah berubah, selalu ada orang spesial disetiap zaman. Dan aku bertemu dengan dua orang yang mewarisi tugas pendahulu mereka dan memahami zaman ini. Segalanya baru, dunia baru dan diisi oleh orang-orang baru yang akan menjaganya.

Diantara mereka yamg kukenal dan hadir untuk dunia baru adalah syeikh Hasan Kjiyami dan syeikh Anas Syarfawi. Dua orang dari generasi baru yang sangat kukagumi. Dimata mereka aku melihat kecerdasan dan kelurusan albuty, ketawadhuan dan keluasan ilmu wahbah zuhayly, keikhlasan dan keramahan kuftaro.

Dan aku bersyukur bisa belajar pada dua generasi yang berbeda ini. Mereka adalah manusia syam yamg terpilih untuk memikul beban umat manusia. Insyaallah nanti akan kuceritakan apa yang mereka ceritakan dalam persatuan hari ini, syeikh Hasan Khiyami tentang dunia tanpa jarak antara kita dengan orang yang sudah wafat, Syeikh Anas Syarfawi siapa itu manusia.

Oleh Ustadz Fauzan
Read More

Friday, June 1, 2018

NEGERI SYAM DAN JEJAK WALI ABDAL (1) Kabar Tentang Keberadaan Para Wali Abdal di Negeri Syam

June 01, 2018 0

Tarbiyah.Online - Salah satu tradisi mubibbin di tanah Syam adalah hadrah, majelis shalawat berjamaah yang dihadiri ulama-ulama dan para wali, dan salah satu majelis hadrah yang paling terkenal adalah majelis Subuh Senin di Jami' Taubah, salah satu mesjid tua di Damaskus. Di zaman ini salah satu ulama yang selalu hadir dimajlis ini adalah Syeikh Syukri al Luhafy, ulama ahli qiraat (ilmu baca Al Quran) beliau juga wali besar negeri Syam.

Dalam satu majlis di Jami Taubah, tidak seperti biasa aku tidak melihat syeikh Syukri al Luhafy didalam lingkaran hadrah, aku tidak percaya beliau tidak hadir di majlis shalawat, karena setahuku beliau tidak pernah absen di seluruh majelis hadrah di Damaskus. Mata ku menyusuri seluruh sudut mesjid, akhirnya aku menemukan beliau sedang bersender di salah satu tiang mesjid, sambil memakai selimut, ternyata beliau sedang sakit parah.

Begitulah ke"gila"an dan rasa cinta kepada baginda Nabi SAW. Walau dalam keadaan sakit parah pun beliau berusaha tetap hadir dimajlis orang-orang yang mengagungkan kekasihnya tersebut. Perlu diketahui saat itu umur beliau sudah hampir seratus tahun, ditambah beliau lagi sakit parah, musim dingin sedang dipuncaknya, dan semua itu terjadi diwaktu subuh. Tapi ini masalah cinta kawan!!! Sulit aku menjelaskannya dengan logika biasa. 

Maqam beliau sebagai ulama besar ini membuat beliau sering ditawarkan untuk memimpin majelis hadrah, tapi beliau selalu menolak karena beliau merasa tidak pantas, beliau lebih memilih berkhidmad, dengan berkeliling dan melayani jamaah hadrah dengan menuangkan air minum untuk mereka, satu persatu dengan tangan beliau sendiri.

Karena keistiqamahan dan kerendahan hati beliau ini, beliau dipercayai sebagai Wali Abdal oleh ulama dan penduduk negeri Syam.

Bagi yang belum tau tentang istilah wali abdal. Kita dengar penjelasan oleh Sayidina Ali karamallahu wajhahu. Suatu hari dalam perang Shiffin penduduk Iraq berkata kasar pada penduduk Syam, lalu sayidina Ali berkata, "Jangan lakukan itu, sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda "wali abdal itu berada di syam, mereka ada 40 orang, ketika satu orang meninggal maka Allah akan mengganti tempatnya dengan orang lain, disebabkan merekalah kalian diturunkan hujan rahmat, karena merekalah kalian dapat mengalahkan musuh, dan karena merekalah penduduk bumi dijauhkan dari marab ahaya.

Dalam hadis lain diriwayatkan dari Abi Darda "bahwasanya para nabi adalah pondasi bumi. Maka dikala masa kenabian telah usai, maka Tuhan mengembankan tugas mereka pada umat Muhammad, yang mendapatkan tugas ini adalah Wali Abdal, mereka bukanlah orang yang banyak berpuasa atau shalat ataupun bertsabih mereka adalah orang-orang yang baik akhlaknya dan wara' (berhati-hati dan menjaga diri), ikhlas niatnya, dan bersih hatinya pada setiap muslim, dan selalu memberi nasihat hanya karena mengharapkan Allah semata.

Dan banyak hadis lain, jika dikumpulkan bisa mencapai derajat Sahih Lighairihi, bagi yang ingin tahu lebih lengkap Imam Suyuthi mengumpulkannya dalam kitab Al hawi lil Fatawa. Bagi yang berniat ziarah ke Syam jangan lupa kunjungi mereka, ambil berkah mereka minta doa dari mereka. 

Oleh Ustadz Fauzan, Mahasiswa Pasca Sarjana asal Aceh di Universitas Auzai, Damaskus, Suriah.
Read More

Monday, March 12, 2018

WAFATNYA ULAMA MERUPAKAN KERUGIAN UMAT

March 12, 2018 0

Dalam kondisi tercabik perang saudara dan dalam durasi tidak sampai satu bulan, Yaman kehilangan tiga ulamanya. Belum lama ditinggal wafat pergi Al-Habib Salim Assyathiri pada pertengahan Februari, di awal bulan ini, Al-Habib Idrus Bin Sumaith syahid di atas sajadahnya. Beliau dibunuh teroris, 3 Maret silam. Dua hari berselang, seorang ulama zahid yang dijuluki 'Ainu Tarim (matanya Kota Tarim), Al-Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi Bin Syihab menyusul dua sahabatnya. Tidak sampai satu bulan, Tarim, Hadramaut kehilangan permata ilmunya. Ketiga ulama ini masyhur ketajaman mata hatinya dan menjadi punjernya Yaman.
Foto Rijal Mumazziq Z.
Habib Salim Asy Syathiri
Di awal Maret ini pula, KH. R. Abd Hafidz bin Abdul Qadir Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, berpulang ke hadirat-Nya. Ulama sederhana yang menjadi penjaga wahyu sebagaimana ayah dan kakeknya.
Foto Rijal Mumazziq Z.
Habib Idrus bin Sumaith
Satu persatu tiang pancang ilmu dirobohkan Allah. Kita bersedih bukan hanya karena ditinggalkan beliau-beliau, melainkan karena kita tidak mampu menyerap gelontoran ilmu saat beliau masih hidup. Kita juga bersedih bukan hanya semakin sedikitnya stok ulama, melainkan karena dengan kewafatan beliau-beliau meninggalkan generasi yang rapuh seperti saya, dan mungkin juga anda. Wafatnya beliau-beliau menjadi penanda apabila satu ulama berpulang, ikut pula keilmuan yang dimiliki.
Ibaratnya, dalam dunia sepakbola, satu pemain pensiun tidak akan bisa digantikan oleh pemain dengan kualitas yang setara. Pele, Maradona, Zidane, tidak akan bisa digantikan Messi, Ronaldo, Mohammed Salah, dan sebagainya. Kemampuan mereka genuin, tak bisa dikloning, tidak bisa dikopipaste. Semua punya karakter dan kemampuan yang khas. Demikian pula dalam dunia ulama. Satu orang KH. Hasyim Asy'ari tidak bisa ditiru KH. Hasyim Muzadi. Keduanya punya karakter, keilmuan, dan gaya yang khas.
Di sinilah barangkali alasan mengapa dalam kitabnya, Tanqihul Qaul, Syekh Nawawi al-Bantani menukil sabda Rasulullah yang termuat dalam Lubabul Hadits-nya Imam Assuyuthi, bahwa di antara tanda orang munafik adalah tidak bersedih atas wafatnya seorang ulama (Baginda mengucapkan "munafik" sebanyak tiga kali). Kalau kita biasa-biasa saja, merasa wajar atas robohnya tiang rumah kita, berarti ada yang eror dalam pribadi kita. Demikian pula ketika ada tiang pancang dunia bernama ulama yang wafat dan kita santai, tidak menampakkan simpati, mungkin ada sesuatu yang hilang dari kita. Jangan-jangan kita bagian dari kaum munafik itu? Wallahu A'lam.
Karena itu, mengingat gentingnya kewafatan para ulama, Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, dalam "al-Manhajus Sawi", membuat penjelasan tersendiri. Dengan mengutip pendapat Imam Baghawi dalam tafsirnya, Habib Zain memuat QS. Ar-Ra'd 41 yang artinya "Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?" dengan memaknai apabila "pengurangan" dalam ayat ini bermakna kematian para ulama dan hilangnya ahli fiqh.
Foto Rijal Mumazziq Z.
Habib Abdullah bin Alwi bin Syihab
Begitu berharganya seorang ulama, sehingga dalam kitab ini pula Habib Zain mengutip kalimat Sayyidina Abdullah ibnu Mas'ud Radliyallahu 'anhu, bahwa kematian seorang ulama adalah lubang dalam Islam dan tidak ada yang bisa menambalnya sepanjang siang dan malam. Oleh karena itu, kata Ibnu Mas'ud, carilah ilmu sebelum dicabut. Dan, ilmu dicabut dengan kematian orang-orangnya.
Demikian gawatnya kewafatan seorang ulama, sehingga Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah juga menganalogikannya dengan telapak tangan. Apabila dipotong salah satunya, maka tidak bisa tumbuh kembali. Demikian beberapa keterangan yang termuat dalam "al-Manhajus Sawi" karya Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith.
***

Dalam Konferensi Dakwah yang dihelat di Magelang, 1 Oktober 1951, KH. A. Wahid Hasyim melontarkan statemen keras, bahwa saat itu sebutan ulama sudah mengalami inflasi.

Inflasi tersebut, menurut Kiai Wahid, diakibatkan dari banyaknya ulama ‘palsu’ yang beredar sebagaimana inflasi dalam bidang ekonomi karena banyaknya peredaran uang palsu. Banyak orang yang disebut ulama hanya untuk menunjukkan bahwa menjadi ulama itu tidak sulit. Meskipun pengetahuan keagamaan mereka dangkal, tetapi mereka dipandang sebagai pemimpin Islam. Mereka justru malah memimpin para ulama yang sesungguhnya, bahkan membatasi ruang geraknya.
Statemen Kiai Wahid Hasyim di atas dikemukakan kembali oleh KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya "Berangkat dari Pesantren". Jika di era 1950-an saja Kiai Wahid menilai seperti itu, lantas bagaimana dengan kondisi sekarang, di mana selain banyak yang mendaku diri sebagai ulama, juga ada yang berlagak mujtahid mutlak yang dengan songong dan sombong bilang tidak perlu merujuk pendapat otoritatif para ulama, cukup merujuk pada al-Qur'an dan Assunnah.
Benarlah jika demikian, kewafatan para ulama ternyata juga memunculkan generasi yang tidak tahu diri karena terlalu tinggi menilai kualitas dirinya.
WAllahu A'lam Bisshawab

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Surabaya)
Read More

Saturday, March 10, 2018

HAKIKAT JALAN SUFI DARI SYEKH ABU HASAN ASY-SYADZILI

March 10, 2018 0
Muqattam, Kamis 20 Jumadil Akhir 1439 H

Menurut Imam Asy-Syadzili, jalan tasawuf itu bukanlah jalan kerahiban, menyendiri di goa, meninggalkan tanggung jawab sosial, tampak miskin menderita, memakan makanan sisa, pakaian compang-camping dan sebagainya.
Tetapi, jalan sufi adalah jalan kesabaran dan keyakinan dalam petunjuk Ilahi. Allah SWT berfirman, “Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (dalam menegakkan kebenaran) dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.” (QS As-Sajadah [32]: 24-25)

Imam Asy-Syadzili mengatakan, “Pelabuhan (tasawuf) ini sungguh mulia, padanya lima perkara, yakni: sabar, takwa, wara’, yakin dan makrifat. Sabar jika ia disakiti, takwa dengan tidak menyakiti, bersikap wara’ terhadap yang keluar masuk dari sini—beliau menunjuk ke mulutnya—dan pada hatinya, bahwa tidak menerbos masuk ke dalamnya selain apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, serta keyakinan terhadap rezeki (yang diberikan Allah) dan bermakrifat terhadap Al-Haqq, yang tidak akan hina seseorang bersamanya, kepada siapa pun dari makhluk.

Allah SWT berfirman, “Bersabarlah (Hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl [16]: 127-128)

Imam Asy-Syadzili juga mengatakan, “Orang yang berakal adalah orang yang mengenal Allah, apa-apa yang Dia kehendaki atasnya dan apa yang berasal darinya secara syariat. Dan, hal yang Allah inginkan dari seorang hamba adalah empat perkara: adakalanya berupa nikmat atau cobaan, ketaatan ataupun kemaksiatan.

Jika engkau berada dalam kenikmatan, maka Allah menuntutmu untuk bersyukur secara syariat. Jika Allah menghendaki cobaan bagimu, maka Dia menuntutmu untuk bersabar secara syariat. Jika Allah menghendaki ketaatan darimu, maka Allah menuntutmu untuk bersaksi atas anugerah dan taufik-Nya secara syariat.

Dan, jika Dia menghendaki kemaksiatan dirimu, maka Allah menuntut dirimu untuk bertobat dan kembali kepada-Nya dengan penyesalan mendalam secara syariat.
Siapa yang mengerti empat perkara ini datang dari Allah dan melakukan apa yang Allah cintai darinya secara syariat, maka dia adalah hamba yang sebenar-benarnya.

Baca juga Abu Hasan Asy-Syadzily, Gurunya Para Wali

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang ketika diberi lalu ia bersyukur, jika ditimpa cobaan dia bersabar, jika dia menzalimi lalu meminta ampun dan jika dia dizalimi lalu memaafkan.” Kamudian Rasul terdiam...Para sahabat pun heran dan bertanya, “Ada hal apa, wahai Rasulullah?” Kemudian Rasul pun menjawab, “Merekalah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dalam ungkapan sebahagian dari mereka menyebutkan, “Tidak akan dianggap mudah melakukan itu, kecuali bagi seorang hamba yang memiliki cinta. Dia tidak mencintai kecuali karena Allah semata atau mencintai apa yang Allah perintahkan sebagai syariat agamanya.”
Read More

KEUTAMAAN SAYIDAH FATHIMAH AZ-ZAHRA (PERINGATAN HARI LAHIRNYA PENGHULU WANITA SURGA)

March 10, 2018 0

Sayyidah Fathimah az-Zahra merupakan seorang perempuan yang sangat cantik, mirip dengan ayah beliau yang sangat rupawan, Sayyiduna Muhammad SAW.
Dilahirkan pada hari jum`at, 20 Jumadil akhir 5 tahun sebelum Muhammad SAW diutus sebagai Rasul. Tahun di mana Rasulullah SAW menjadi pendamai di tengah petinggi kabilah-kabilah Arab yang bertikai untuk menentukan siapa yang paling berhak mengangkat hajar aswad setelah banjir besar melanda Kota Mekkah.
Jubah Sayyidah Fathimah Az-zahra
Kelahiran Sayyidah Fathimah dirayakan besar-besaran.
Beliaulah perempuan nomor 1 diantara perempuan yang ada seluruh alam.
Keagungan itu diberikan atas kesabaran beliau menempuh berbagai penderitaan:
1. Sayyidah Fathimah kecil menjadi anak satu-satunya yang berada di rumah karena kakak-kakaknya menikah dan ikut suami mereka yang berasal dari keluarga terpandang & kaya raya. Sayyidah Fathimah sangat dekat dengan sang ayah, melayani keperluan orang tua.
2. Sayyidah Fathimah merupakan anak perempuan pertama yang masuk Islam.
3. Sayyidah Fathimah selalu setia berada di sisi sang ayah, saat sang ayah dihina, dicaci maki, disakiti.
4. Sayyidah Fathimah merasakan penderitaan diboikot 3 tahun, saat bahan makanan pun tidak ada, dan hanya memakan dedauan.
5. Keluar dari boikot, Sayyidah Fathimah yang dalam kondisi lemah, kehilangan ibundanya.
6. Di perjalanan menuju Madinah, untuk menyusul sang ayah, Sayyidah Fathimah pun jatuh dari tunggangan, akibat ulah kejahatan kafir Quraisy yang mengejar.
7. Di Madinah, untungnya isteri ke dua sang ayah setelah Khadijah al Kubra, Ummuna "Saudah binti Zam`ah al-`Amiriyah" sangat sangat sayang & memperhatikan, dan kesehatan Sayyidah Fathimah mulai memulih.
8. Menikah dengan Sayyiduna Ali dalam perayaan pernikahan yang paling luar biasa masa itu, kaum muslim sangat bahagia dengan kebahagian Sayyiduna Rasulullah SAW.
9. Pernikahan beliau di usia 17 atau 18 tahun, di umur yang tergolong lambat menikah; karena sibuknya keluarga mulia itu dalam memikul beban dakwah & ketinggian derajat beliau, sehingga lelaki yang setaraf sangat sedikit.
Jangan sampai ada yang mengikuti musuh-musuh Islam yang mengatakan hal yang tidak senonoh (dianggap sebagai perempuan jelek & tidak laku).
10. Dan sangat pas dengan Sayyiduna Ali yang merupakan anak laki-laki pertama yang masuk Islam.
11. Pernikahan Sayyidah Fathimah & Sayyiduna Ali merupakan idzin & wahyu dari Allah SWT.
Sebelum Sayyiduna Ali, Sayyiduna Abu Bakr & Sayyiduna Umar meminang tapi ditolak karena tidak ada wahyu untuk itu, menunjukkan bahwa semua yang dilakukan & dikatakan Sayyiduna Rasulullah SAW adalah dari wahyu.
12. Kehidupan pernikahan dengan Sayyiduna Ali yang tidak berpunya banyak harta, kondisi yang lemah & mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa pembantu. Bahkan kadang sang suami ikut membantu ketika tidak sedang sibuk di luar atau dikirim ke luar Madinah untuk suatu tugas.
13. Suatu hari pergi dengan niat meminta budak untuk membantunya mmeberesi pekerjaan rumah pada sang ayah, tapi sesampai di hadapan sang Ayah ia malu mengutarakannya, lalu pulang ke rumah. Dan kembali lagi bersama suaminya Ali untuk memberanikan diri. Tapi permintaan itu ditolak sang Ayah, karena budak itu perlu dijual untuk membeayai anak-anak yatim dari syuhada Uhud. Rasulullah SAW memang membiayai hidup para anak-anak yatim. Beliau SAW memberi amalan untuk Sayyidah Fathimah & suaminya untuk dibaca sebelum tidur.
Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali.
Amalan yang dilaksanakan Sayyidah Fathimah & Sayyiduna Ali sepanjang hidup mereka, mujarrab membuat pengamalnya hilang rasa lelah setelah bangun tidur.
Amalan itu sangat bagus diterapkan oleh para pekerja keras.
Foto Fauzan Inzaghi.
14. Setelah pernikahan, kondisi Sayyidah Fathimah di Madinah terus menerus dalam keadaan lemah, dalam keadaan hamil atau periode menyusui. Tapi dalam semua itu, Sayyidah Fathimah tidak hanya duduk diam di rumah, ia ikut serta dalam berbagai peperangan sebagai tim kesehatan yang merawat luka atau memberi minum para pejuang di medan perang.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan terhormat & mulia tidak berarti hidup mewah, duduk-duduk di rumah dilayani para pembantu, tapi mereka keluar membantu & berpartisipasi dalam berbagai kepentingan sosial, agama & negara.
15. Sayyidah Fathimah "Ummu Abiha" yang merupakan ibu, isteri & anak bagi sang ayah sangat sedih dengan perpisahan, sakit terus menerus setelah Rasulullah wafat.
Kesabaran Sayyidah Fathimah dalam musibah ditinggalkan sang ayah SAW, sebelumnya ibundanya, seluruh kakak-kakaknya, semua masuk ke lembaran pahala Sayyidah Fathimah.. Berkat itu, Sayyidah Fathimah memperoleh kemuliaan yang lebih tinggi dari kakak-kakak beliau, bahkan dari ibundanya sendiri Khadijah al Kubra.
____
Beliaulah perempuan no 1 di seluruh semesta alam. Hidup sabar menghadapi berbagai cobaan, menunjukkkan bahwa kita di dunia ini untuk diuji, berbuat baik dalam semua kondisi yang kita hadapi & rasakan.
Perlunya kita merubah cara berfikir kita bahwa kemulian & keagungan seseorang di sisi Allah SWT bukanlah dilihat dari kenyamanan hidupnya di dunia.
Ayo mencintai ahli al-Bait yang kita diperintahkan Allah dalam al-Qur`an untuk berhubungan baik pada mereka.
Mereka lah juga yang sudah berjuang berat memikul derita dalam menyampaikan agama agung pada kita

Di hadits dha`if disebutkan: "Barang siapa yang di hatinya ada rasa cinta pada ahli al-bait; mati dalam keadaan syahid".
رضي الله عن فاطمة الزهراء وأرضاها، وصلى الله على أبيها سيدنا محمد أزكى صلاة وأنماها، اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله

_____
Sumber:
- Taraajim Sayyidaat Bait an-Nubuwwah.. karangan Binti asy-Syaathi.
- perayaan maulid Sayyidah Fathimah tahun kemaren bersama Syekh Yusri  hafizhahullaah di masjid al-Asyraaf, 23 Jumaadil akhir 1437 / 1 April 2016.
عِقد اللول في سيرة البتول تأليف الشيخ محمد بن حسن بن علوي الحداد.
https://archive.org/details/3iedullul
- Khutbah & prayaan maulid Sayyidah Fathimah bersama Syekh Yusri hafizhahullaah di masjid al-Asyraaf, 20 Jumaadil akhir 1439 / 9 Maret 2018
- Syekh Usamah Mansi al-Hasani hafizhahullaah dalam acara al-amnah.
- al-Habib Muhammad as-Saqqaf hafizhahullaah
Read More

Sunday, February 25, 2018

QASHIDAH AS-SAYYID AHMAD AL-BADAWI RAHIMAHULLAH

February 25, 2018 0
Qashidah As-Sayyid Ahmad Al-Badawi
Hasil gambar untuk sayyid ahmad al badawi
Sya’ir As-Sayyid Ahmad Al-Badawi Radlhyallahu ‘Anhu ketika menziarahi Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam. (As-Sayyid Ahmad al-Badawi merupakan Quthub dari jalur keturunan Imam al-Husein Radhiyallahu ‘Anhu)
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
Yaa Allah limpahkanlah rahmat ta’dzim pada Nabi Muhammad Saw. Wahai Tuhanku limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan padanya.
إن قيل زرتم بما رجعتم ياأکرم الخلق ما نقول
In qîla zurtum bimâ raja’tum yâ akromal khalqi mâ naqûlu
(Ketika Sayyid Ahmad al-Badawi sampai di Raudhah, beliau duduk di hadapan makam Nabi Saw. dan berkata): “Ketika orang-orang bertanya pada kami: “Apa yang kamu bawa pulang setelah menziarahi makam Nabi Saw? Wahai hamba yang paling mulia dari semua umat manusia, apa yang akan kita jawab?”
قولوا رجعنا بکل خير واجتمع الفرع والأصول
Qûlû raja’nâ bikulli khairin Wajtama’al far’u wal ushûl
(Kemudian Sayyid Ahmad al-Badawi mendengar suara dari dalam ruangan makam Nabi Saw yang berkata): “Katakanlah: “Kami datang kembali dengan membawa segala kebaikan, Dan telah berhimpun dari generasi yang lalu dan yang sekarang.”
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
لولا ك يازينة الوجود ماطاب عيشی ولا وجودی
Laulâ ka yâ zînatal wujûdi Mâ thaba ‘aisyî wa lâ wujûdî
“Jika bukan karena Engkau wahai perhiasan dunia (Rasulullah Saw), Maka niscaya tidak akan berbahagia hidup dan keberadaanku.”
ولا ترنمت فی صلاتی ولا رکوعی ولا سجودی
Walâ tarannamtu fî shalâtî Walâ rukû’î walâ sujûdî
“Dan tidaklah aku beribadah hanya melalui shalatku, ruku’ ku maupun sujudku saja.”
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
أيا ليالی الرضا علينا عودي ليخضر منك عودي
Ayâ layâlîr-ridha ‘alainâ ‘Ûdî liyakhdlarra minka ‘ûdî
“Wahai malam (kelahiran Rasulullah Saw) yang penuh dengan keridhaan Ilahi.. Berulanglah lagi agar menjadi menghijau tentram jiwaku ini.”
عودي علينا بکل خير بالمصطفی طيب الجدود
‘Ûdî ‘alaynâ bikulli khairin bil Mushthafâ thayyibil judûdi
“Telah datanglah semua kebaikan, Dengan berkah al-Musthafa yang penuh kedermawanan.”
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
بالله صلنی فداك روحی ذبت من الهجر والصدود
Billâhi shilnî fidâka rûhî Dzubtu minal hajri washshudûdi
“Demi Allah, sampaikanlah pada penebus jiwaku (Rasulullah Saw) Aku akan bingung dan bersedih sekiranya tidak mendapatkan syafa’atmu.”
أنا الذی همت فی هواکم يوما أراکم يکون عيدي
Analladzî himtu fî hawâkum yaumân arakum yakûnu ‘îdî
“Daku hamba yang sangat mencintai Engkau.. Sungguh hari dimana aku dapat berjumpa denganmu adalah hari rayaku“
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
ثم الصلاة علی نبينا وأله الرکع السجود
Tsummash-shalâtu ‘alâ nabiyyinâ wa âlihir-rukka’is-sujûdi
“Kami akhiri dengan shalawat pada Nabi kami, dan keluarganya yang selalu ruku’ dan bersujud.”
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
Video bisa dilihat disini atau bisa juga disini dengan versi irama berbeda. Dan juga versi Habib Syech.

Read More