TARBIYAH ONLINE: ramadhan

Terbaru

Showing posts with label ramadhan. Show all posts
Showing posts with label ramadhan. Show all posts

Monday, June 4, 2018

SEDANG PUASA, BERCUMBU DAN BERCIUMAN. BATALKAH?

June 04, 2018 0


Tarbiyah.Online - Titik kesepakatan ulama dalam hal ini adalah keabsahan puasa seseorang yang dicium atau mencium dan mencumbui istrinya yang tidak membuat spermanya keluar akibat rangsangan yang dirasakannya. Sedangkan bila hal tersebut membuatnya terangsang dan mengakibatkan spermanya keluar maka puasanya menjadi batal. Adapun riwayat dari beberapa sahabat Nabi yang melarang melakukan hal demikian adalah lantaran mempertimbangkan terjerumusnya seseorang pada melakukan yang halal dalam kondisi haram, yakni berhubungan dengan istri di siang Ramadhan.

Berikut keterangan dari beberapa sahabat radhiyallâhu ‘anhum;

Umar Ibn al-Khatthab radhiyallâhu ‘anhu;

إن عاتكة ابنة زيد بن عمرو بن نفيل امرأة عمر بن الخطاب كانت تقبل رأس عمر بن الخطاب وهو صائم فلا ينهاها
Sesungguhnya ‘Atikah bint Zaid Ibn ‘Amr Ibn Nufail, istri Umar Ibn al-Khatthab mencium kepada Umar Ibn al-Khatthab ketika ia sedang berpuasa, dan Umar tidak mencegahnya
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.292, no.643)

Ali Ibn Abi Thalib karramallâhu wajhah;

عن علي، قال: لا بأس بالقبلة للصائم
Dari Ali, ia berkata bahwa tidak mengapa orang yang berpuasa melakukan ciuman
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.59, no.9458)

Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallâhu ‘anhâ;

عن أبي النضر مولى عمر بن عبيد الله أن عائشة بنت طلحة أخبرته أنها كانت عند عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم فدخل عليها زوجها هنالك وهو عبد الله بن عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق وهو صائم فقالت له عائشة ما يمنعك أن تدنو من أهلك فتقبلها وتلاعبها؟ فقال: أقبلها وأنا صائم؟ قالت نعم
Dari Abu al-Nadhr (pelayan Umar Ibn Ubaidillah), bahwa Aisyah bint Thalhah mengabarinya bahwa ketika ia bersama Aisyah istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, datanglah suaminya (Abdullah Ibn Abdurrahman Ibn Abi Bakr al-Shiddîq) yang sedang berpuasa. Lalu Aisyah (ummul mu’minin) berkata; Apa gerangan yang membuatmu tidak ingin mendekati istrimu untuk mencium atau bermesraan dengannya? Abdullan menjawab: Apakah saya dapat menciumnya saat puasa? Tentu, jawab Aisyah
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.292, no.644)

Abu Hurairah, Sa‘d Ibn Abî Waqqâsh dan Sa‘d Ibn Malik radhiyallâhu ‘anhum;

إن أبا هريرة وسعد بن أبي وقاص كانا يرخصان في القبلة للصائم
Sesungguhnya Abu Hurairah dan Sa‘ad Ibn Abi Waqqash membolehkan ciuman bagi orang yang berpuasa
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.292, no.645)

عن زيد بن أسلم قال: قيل لأبي هريرة: تقبل وأنت صائم؟ قال: نعم، وأكفحها، -يعني يفتح فاه إلى فيها- قال: قيل لسعد بن مالك: تقبل وأنت صائم؟ قال: نعم وأخذ بمتاعها
Dari Zaid Ibn Aslam, ia berkata: Abu Hurairah ditanya: Anda mencium istri ketika puasa? Ia menjawab: Iya, bahkan sama-sama mempertemukan bibir. Zaid Ibn Aslam berkata lagi bahwa Sa‘d Ibn Malik pernah ditanya: Anda mencium istri ketika puasa? Ia menjawab: Iya, saya pun menikmatinya
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.185, no.7421)

عن سعيد المقبري أن رجلا سأل أبا هريرة، فقال: رجل قبل امرأته وهو صائم، أأفطر؟ قال: لا، قال: فغيرها؟ قال: فأعرض أبو هريرة
Dari Sa‘id al-Maqbari, suatu ketika seseorang bertanya kepada Abu Hurairah tentang seorang suami yang mencium istrinya apakah batal? Ia menjawab: Tidak. Orang itu bertanya lagi: Bagaimana kalau mencium perempuan yang bukan istri? Maka Abu Hurairah langsung berpaling
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.185, no.7422)

Abdullah Ibn Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ;

إن عبد الله بن عباس سئل عن القبلة للصائم فأرخص فيها للشيخ وكرهها للشاب
Abdullah Ibn Abbas pernah ditanya tentang ciuman bagi orang yang berpuasa, maka beliau membolehkan bagi orang yang sudah tua dan memakruhkan bagi yang masih muda
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.293, no.648)

عن عطاء قال سمعت ابن عباس يسئل عن القبلة للصائم فقال: لا بأس بها إن انتهى إليها، فقيل له: أفيقبض على ساقها؟ قال أيضا: اعفوا الصائم لا يقبض على ساقها
Dari ‘Atha’, ia berkata: Aku mendengar Ibn Abbas ditanya tentang ciuman bagi orang yang berpuasa. Ia menjawab: Tidak mengapa (tidak batal) bila hanya sampai disitu saja. Ia ditanya lagi: Apakah boleh memeluk/mengusap betisnya (istri)? Ia menjawab: Hendaklah orang yang berpuasa menahan dirinya, jangan sampai melakukan itu pada betisnya
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.184, no.7413)

Abdullah Ibn Umar radhiyallâhu ‘anhuma;

إن عبد الله بن عمر كان ينهى عن القبلة والمباشرة للصائم
Abdullah Ibn Umar melarang berciuman dan bercumbu bagi orang yang sedang berpuasa
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.293, no.649)
Dan beberapa sahabat lainnya seperti Abdullah Ibn Mas‘ud, Abu Sa‘id al-Khudri, Hudzaifah, dll, radhiyallâhu ‘anhum.

Berikut keterangan ijma‘ ulama mazhab;

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Habib al-Mawardi al-Bashri (w.450H);

أما إن وطئ دون الفرج أو قبل أو باشر فلم ينزل فهو على صومه لا قضاء عليه ولا كفارة، وإن أنزل فقد أفطر ولزمه القضاء إجماعا
Suami yang mencumbui istrinya yang tidak sampai pada berhubungan, ataupun melakukan ciuman dan bermesraan tanpa ada sperma yang keluar, maka puasanya tetap sah, tidak ada yang perlu diqadha, apalagi kafarat. Namun jika spermanya keluar, maka puasanya batal dan wajib diqadha berdasarkan ijma‘
(Al-Mawardi, Al-Hawi al-Kabir Syarh Mukhtashar al-Muzani, vol.3, hal.945)

Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);

ولا يخلو المقبل من ثلاثة أحوال : أحدها أن لا ينزل فلا يفسد صومه بذلك لا نعلم فيه خلافا ... الحال الثاني : أن يمني فيفطر بغير خلاف نعلمه
Ada tiga kondisi yang dapat dialami oleh orang yang melakukan ciuman : (1) Mencium tanpa sampai mengeluarkan sperma, maka puasanya tetap sah tanpa ada perbedaan pendapat yang kami ketahui. (2) Sampai mengeluarkan sperma, maka puasanya batal tanpa ada perbedaan pendapat yang kami ketahui
(Ibn Qudamah, al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Kharqî, vol.3, hal.336)

Al-Imam Abu al-Abbas Ahmad Ibn Idris Ibn Abdirrahman al-Qarrafi (w.684H);

لا يعلم خلاف في عدم تحريم المباشرة للانسان امرأته بعد الفجر
Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat ulama tentang tidak diharamkannya bercumbu dengan istri setelah fajar
(Al-Qarrafi, al-Dzakhîrah, vol.2, hal.504)

Wallahu a'lam


Read More

Thursday, May 31, 2018

BATALKAH PUASA SAAT MENGHIRUP POLUSI, DEBU, ATAU DIMASUKI SERANGGA?

May 31, 2018 0

Salah satu pembatal puasa adalah benda yang masuk ke dalam kerongkongan secara disengaja. Namun kemungkinan lain yang bisa terjadi pada seseorang adalah bila dalam kondisi tertentu rongga mulutnya dimasuki oleh benda atau serangga sampai tertelan hingga kerongkongannya disebabkan menguap ataupun sedang membuka mulut saat berkendara lalu tiba-tiba dimasuki oleh serangga, ataupun debu dan asap polusi, maka puasa orang tersebut tidak batal.

Berikut sebagian penjelasan dari riwayat sahabat maupun keterangan ulama mazhab;

Abdullah Ibn ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن ابن عباس في الرجل يدخل حلقه الذباب، قال: لا يفطر

Dari Ibn Abbas, tentang seseorang yang dimasuki serangga pada kerongkongannya. Ibnu Abbas berkata; Puasanya tidak batal
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.107, no.9886)

Al-Imam Abu Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Hazm al-Andalusi (w.456H);

وما نعلم لابن عباس في هذا مخالفا من الصحابة رضي الله عنهم إلا تلك الروايات الضعيفة عنه

Kami tidak mengetahui para sahabat lain yang berbeda dengan Ibnu Abbas terkait masalah ini, selain dari riwayat-riwayat dhaif darinya (yang berbicara sebaliknya)
(Ibn Hamz, al-Muhalla Bi al-Atsar, vol.4, hal.350)


Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);

فأما ما حصل منه عن غير قصد كالغبار الذي يدخل حلقه من الطريق ونخل الدقيق والذبابة التي تدخل حلقه أو يرش عليه الماء فيدخل مسامعه أو أنفه أو حلقه أو يلقي في ماء فيصل إلى جوفه أو يسبق إلى حلقه من ماء المضمضة أو يصب في حلقه أو أنفه شيء كرها أو تداوى مأمومته أو جائفته بغير اختياره أو يحجم كرها أو تقبله امرأة بغير اختياره فينزل أو ما أشبه هذا فلا يفسد صومه لا نعلم فيه خلافا لأنه لا فعل له فلا يفطر كالاحتلام

Adapun sesuatu yang terjadi pada orang yang sedang berpuasa tanpa sengaja seperti debu di jalan yang masuk ke dalam kerongkongannya, kabut tepung, dan serangga yang masuk ke dalam kerongkongannya, atau percikan air yang masuk ke dalam pendengaran, hidung, tenggorokan, ataupun dilempar ke dalam air sehingga kerongkongannya dimasuki air, atau juga saat berkumur-kumur, termasuk juga seseorang yang dipaksa memasukkan sesuatu ke dalam kerongkongan dan hidungnya, atau mengobati bolongan pada kepalanya, dan itu semua bukan keinginannya, atau berbekam karena terpaksa, atau bahkan dicium oleh seorang perempuan tanpa kehendaknya sehingga maninya keluar, dan lain sebagainya, maka puasanya tidak batal. Kami pun tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal ini, karena sejatinya itu bukan perbuatannya sehingga puasanya tidak batal, sama halnya dengan orang yang mimpi hingga keluar mani
(Ibn Qudamah, al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Kharqi, vol.3, hal.36)

Wallahu A’lam
Read More

PUASA ORANG YANG BERHADAS BESAR HINGGA TERBIT FAJAR

May 31, 2018 0
Tarbiyah.Online - Status puasa orang yang berjunub sebelum fajar, kemudian bersuci setelah fajar tidak batal sebagaimana hal tersebut pernah dialami oleh Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallâhu ‘anhum.
Berikut riwayat dari istri Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya;

Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن عائشة وأم سلمة زوجي النبي صلى الله عليه وسلم أنهما قالتا: إن كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ليصبح جنبا من جماع غير احتلام ثم يصوم

Dari Aisyah dan Ummu Salamah, para istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, keduanya berkata; Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bangun subuh dalam keadaan junub setelah jima‘, kemudian beliau tetap berpuasa
(Malik Ibn Anas, Al-Muwattha’ Bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.291, no.640)

Abdullah Ibn Mas‘ud radhiyallâhu ‘anhu;

عن ابن سيرين أن ابن مسعود قال: ما أبالي أن أصيب امرأتي ثم أصبح جنبا ثم أصوم، أتيت حلال

Dari Ibn Sirin, bahwa Ibnu Mas‘ud pernah berkata; Tidak masalah bila aku berjima dengan istriku lalu bangun subuh dalam keadaan junub lantas aku tetap berpuasa. Yang aku lakukan itu halal
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.181, no.7401 & Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.82, no.9676)

Abu Darda’ radhiyallâhu ‘anhu;

عن أبي قلابة قال: جاء رجل إلى أبي الدرداء، فقال: إني أصبت أهلي ثم غلبتني عيني حتى أصبحت وأنا أريد الصيام، فقال أبو الدرداء: أتيت امرأتك وهي تحل لك ثم غلبت على نفسك ثم رد الله نفسك فصليت حين عقلت وصمت حين عقلت

Dari Abu Qilabah, ia berkata: Seseorang mendatangi Abu Darda’ dan mengadu: Aku berjima dengan istriku lalu tertidur hingga subuh pun tiba, sementara saya ingin berpuasa. Abu Darda’ menjawab: Kamu berjima dengan istrimu dan dia memang halal bagimu, lalu tertidur, kemudian Alah bangunkan, maka kamu dapat shalat ketika telah sadar, dan dapat berpuasa bila telah sadar
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.181, no.7403)

Abdullah Ibn Umar
radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن نافع قال: لو أذن المؤذن وعبد الله بين رجلي امرأته وهو يريد الصيام لأتم صيامه

Dari Nafi‘, ia berkata: Bila azan berkumandang, dan Abdullah dalam keadaan junub, sementara ia ingin berpuasa, pasti ia tetap menyempurnakan puasanya
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.181, no.7404 & Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.82, no.9677)

Abu Hurairah, Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Abbas radhiyallâhu ‘anhum;

عن أبي هريرة وزيد بن ثابت وابن عباس في الرجل يصبح وهو جنب، قالوا: يمضي على صومه

Pandangan Abu Hurairah, Zaid Ibn Tsabit dan Ibn Abbas tentang seseorang yang bangun dalam keadaan junub adalah tetap melanjutkan puasanya
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.81, no.9668) 

Berikut ada keterangan Ijma‘ oleh para ulama mazhab

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Khalaf Ibn Abdil Malik Ibn Batthal al-Qurthubi (w.449H);

وأجمع فقهاء الأمصار على الأخذ بحديث عائشة وأم سلمة فيمن أصبح جنبًا أنه يغتسل ويتم صومه

Dan ulama fikih belahan dunia telah ijma‘ menerapkan hadis riwayat Aisyah dan Ummu Salamah tentang orang yang masih berjunub setelah fajar untuk melakukan mandi janabah dan menyempurnakan puasanya
(Ibn Batthal, Syarh Shahih al-Bukhari, vol.4, hal.49)

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Habib al-Mawardi (w.450H);

أما من يصبح جنبا من احتلام فهو على صومه إجماعا

Adapun orang bangun dalam keadaan junub karena mimpi tetap dalam keadaan puasa berdasarkan ijma‘
(Al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir Syarh Mukhtashar al-Muzani, vol.3, hal.892)

Al-Imam Abu Bakr Muhammad Ibn Abdullah Ibn Muhammad al-Ma‘afiri Ibn al-‘Arabi (w.543H);

إذا جوزنا له الوطء قبل الفجر ففي ذلك دليل على جواز طلوع الفجر عليه، وهو جنب؛ وذلك جائز إجماعا، وقد كان وقع فيه بين الصحابة رضوان الله عليهم أجمعين كلام، ثم استقرّ الأمر على أنه من أصبح جنبا فإن صومه صحيح

Bila kita membolehkan seseorang berhubungan sebelum fajar, artinya bisa jadi dia masih dalam keadaan junub setelah fajar, dan memang itu tidak mengapa berdasarkan ijma‘. Hal ini sempat jadi perbincangan para sahabat radhiyallâhu ‘anhu, kemudian pada akhirnya menjadi ketetapan bahwa orang yang masih membawa junub pada paginya maka puasanya tetap sah
(Ibn al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an, vol.1, hal.179)

Al-Imam Abu Bakr Ibn Mas‘ud Ibn Ahmad al-Kasani (w.587H);

ولو أصبح جنبا في رمضان فصومه تام عند عامة الصحابة مثل علي وابن مسعود وزيد بن ثابت وأبي الدرداء وأبي ذر وابن عباس وابن عمر ومعاذ بن جبل رضي الله تعالى عنهم

Kalau seseorang pada pagi Ramadhan masih dalam keadaan junub, maka puasanya tetap sah menurut para sahabat seperti Ali, Ibn Mas‘ud, Zaib Ibn Tsabit, Abu Darda’, Abu Dzar, Ibn Abbas, Ibn Umar, Mu‘adz Ibn Jabal radhiyallâhu ‘anhum
(Al-Kasani, Badai‘ al-Shanâi‘ Fi Tartib al-Syarai‘, vol.2, hal.92)

Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);

وجملته أن الجنب له أن يؤخر الغسل حتى يصبح ثم يغتسل ويتم صومه في قول عامة أهل العلم منهم علي وابن مسعود وزيد وأبو الدرداء وأبو ذر وابن عمر و ابن عباس وعائشة وأم سلمة رضي الله عنهم

Pada intinya, berdasarkan pendapat para ulama (baca: para sahabat) seperti Ali Ibn Mas‘ud, Zaid, Abu Darda’, Abu Dzar, Ibn Umar, Ibn Abbas, Aisyah, Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anhum bahwa orang yang berjunub boleh mengundur mandinya hingga subuh, kemudian ia mandi lalu menyempurnakan puasanya
(Ibn Qudamah, Al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Kharqi, vol.3, hal.78)

Al-Imam Abu Zakariya Yahya Ibn Syaraf al-Nawawi (w.676H);

فقد أجمع أهل هذه الأمصار على صحة صوم الجنب سواء كان من احتلام أو جماع وبه قال جماهير الصحابة والتابعين

Para ulama negeri-negeri muslim telah ijma‘ mengenai sahnya puasa orang yang membawa junub, baik akibat mimpi maupun akibat berjima. Pandangan ini juga disepakati oleh jumhur para sahabat dan tabi‘in
(Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, vol.7, hal.222)
إذا جامع في الليل وأصبح وهو جنب صح صومه بلا خلاف عندنا، وكذا لو انقطع دم الحائض والنفساء في الليل فنوتا صوم الغد ولم يغتسلا صح صومهما بلا خلاف عندنا وبه قال جمهور العلماء من الصحابة والتابعين ومن بعدهم
Apabila seseorang berhubungan pada malam hari, lalu bangun pagi dalam keadaaan junub, maka menurut kami puasanya tetap sah tanpa ada perbedaan pendapat di dalamnya. Sama halnya dengan wanita yang berhenti haid dan nifas di malam hari, lalu berniat puasa untuk besok sedangkan mereka belum mandi, maka menurut kami puasanya juga sah tanpa ada perbedaan pendapat di dalamnya. Pandangan ini juga disepakati oleh para sahabat, tabi‘in dan generasi setelah mereka
(Al-Nawawi, al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzzab, vol.6, hal.307)
 
Al-Imam Abu al-Fath Muhammad Ibn Ali Ibn Wahb Ibn Muthi‘ Ibn Daqiq al-‘Id (w.702H);

واتفق الفقهاء على العمل بهذا الحديث وصار ذلك إجماعا أو كالإجماع

Para fuqaha telah menyepakati untuk mengamalkan hadis ini, sehinggi hal itu menjadi ijma‘ atau seperti ijma‘
(Ibn Daqiq al-‘Id, Ihkam al-Ahkam Syarh ‘Umdah al-Ahkam, hal.270. Hadis yang dimaksud adalah hadis riwayat dari istri-istri Nabi terkait beliau bangun setelah fajar dalam keadaan junub dan melanjutkan puasanya).

Wallahu A‘lam
Oleh Ustad Ashfi Bagindo Pakiah
Read More

RUKHSHAH BERBUKA BAGI MUSAFIR DAN ORANG SAKIT

May 31, 2018 0

Ketika Allah bersedekah dengan memberi rukhshah untuk hamba-Nya ~

Beberapa sahabat Nabi radhiyallâhu ‘anhum ;

عن شقيق بن سلمة قال أهللنا هلال رمضان بحلوان أو بالمدائن وفينا رجال من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فنادى أميرهم من شاء منكم أن يصوم فليصم ومن شاء منكم أن يفطر فليفطر فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد صام في السفر وأفطر

Dari Syaqiq Ibn Salamah, ia berkata; Kami memulai Ramadhan di Hulwân atau Madâ’in, saat itu kami bersama beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallaam, lalu pimpinan mereka menghimbau bahwa siapa yang ingin puasa dipersilahkan, dan siapa yang tidak berpuasa juga silahkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah melakukan keduanya dalam perjalanan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4494)

عن قتادة قال صام بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم في السفر وأفطر بعضهم فلم يعب بعضهم على بعض، قال أخذ هذا برخصة الله وأدى هذا فريضة الله

Qatadah, ia berkata bahwa sebagian sahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memilih berpuasa dalam perjalanan dan sebagian yang lain memilih tidak berpuasa, kemudian satu sama lain tidak pernah saling merendahkan. Karena yang satu memanfaatkan keringanan dari Allah, dan yang satu lagi telah menunaikan kewajiban yang Allah berikan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4500)

Ali Ibn Abi Thalib radhiayallâhu ‘anhu;

عن سعد بن معبد قال؛ أقبلت مع علي بن أبي طالب من ينبع، قال فصام علي وكان علي راكبا وأفطرت لأني كنت ماشيا حتى قدمنا المدينة ليلا

Dari Sa‘d Ibn Ma‘bad, ia berkata; Kami bersama Ali berangkat dari Yanbû‘, -ia melanjutkan- Ali berpuasa karena menunggang, sedangkan saya tidak berpuasa karena saya berjalan, hingga kami tiba di Madinah malam hari
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4495)

Aisyah Ummul Mukminin radhiyallâhu ‘anhâ;
عن عروة عن عائشة أنها كانت تصوم في السفر

Dari ‘Urwah, dari Aisyah, bahwa beliau berpuasa dalam perjalanan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4496)

عن ابن أبي مليكة قال: صحبت عائشة في السفر، فما أفطرت حتى دخلت مكة
Dari Ibn Abi Mulaikah (w.117H), ia berkata; Aku mengawal Aisyah dalam perjalanan, dan ia tidak berbuka hingga sampai ke Makkah
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.15, no.9068)

Abdullah Ibn ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن ابن عباس قال لا نعيب على من صام في السفر ولا على من أفطر، قال الله؛ يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر

Dari Ibn Abbas, ia berkata; Kami tidak merendahkan orang orang yang berpuasa dalam perjalanan dan orang yang memilih berbuka. Allah berfirman; Allah menghendaki kemudahan untuk kalian, bukan kesulitan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4498)

عن أبي جمرة قال: سألت ابن عباس عن الصوم في السفر فقال: عسر ويسر، خذ بيسر الله عليك

Dari Abu Jamrah (w.128H), ia pernah bertanya kepada Ibn ‘Abbas tentang puasa dalam perjalanan. Ibn Abbas menjawab; Ada yang sulit dan ada yang mudah, maka ambillah kemudahan yang Allah berikan
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.14, no.9056)
Abdullah Ibn Umar radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن ابن عمر قال: الإفطار في السفر صدقة تصدّق الله بها على عباده
Dari Ibn Umar, ia berkata bahwa berbuka di perjalanan adalah sedekah yang Allah berikan kepada para hamba-Nya”.
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.14, no.9060)

Jabir Ibn Abdillah dan Abu Sa‘îd al-Khudrî radhiyallâhu ‘anhum;

عن أبي سعيد الخدري وجابر بن عبد الله رضي الله عنهم قالا؛ سافرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فيصوم الصائم ويفطر المفطر فلا يعيب بعضهم على بعض

Dari Abu Sa‘id al-Khudri dan Jabir Ibn Abdillah radhiyallâhu ‘anhum berkata; Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam, maka ada yang berpuasa dan ada pula yang tidak, namun tidak ada yang saling merendahkan
(Muslim Ibn Hajjaj, Shahîh Muslim, vol.3, hal.143, no.2675)

Anas Ibn Malik radhiyallâhu ‘anhû;

عن عاصم قال: سئل أنس عن الصوم في السفر فقال: من أفطر فرخصة، ومن صام فالصوم أفضل

Dari Ashim (w.141H), ia berkata bahwa Anas Ibn Malik pernah ditanya tentang puasa dalam perjalanan. Anas menjawab; Yang berbuka berarti mengambil keringanan, dan yang berpuasa itu juga lebih baik
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.15, no.9067)

Usman Ibn Abî al-‘Âsh radhiyallâhu ‘anhû;

عن ابن سيرين أن عثمان بن أبي العاص قال: الصوم في السفر أفضل، والفطر رخصة

Dari Ibn Sirin (w.110H), bahwa Usman Ibn Abî al-‘Âsh berkata; Memilih berpuasa dalam perjalanan itu lebih baik, dan memilih tidak berpuasa adalah keringanan
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.16, no.9076)

Berikut penjelasan dari para ulama mazhab;

Al-Imam Mâlik Ibn Anas Ibn Mâlik Ibn ‘Âmir al-Madanî (w.179H);

الأمر الذي سمعت من أهل العلم أن المريض إذا أصابه المرض الذي يشق عليه الصيام معه ويتعبه ويبلغ ذلك منه فإن له أن يفطر وكذلك المريض الذي اشتد عليه القيام في الصلاة وبلغ منه ... ودين الله يسر وقد أرخص الله للمسافر في الفطر في السفر وهو أقوى على الصيام من المريض ... فهذا أحب ما سمعت إلي وهو الأمر المجتمع عليه

Satu hal yang pernah saya dengan dari para ulama adalah seseorang mengalami sakit yang kesulitan dan berat untuk berpuasa atau orang sakit yang membuatnya tidak mampu berdiri ketika shalat boleh tidak berpuasa ... dan agama Allah itu berisi kemudahan, dan Dia telah memberikan kemudahan bagi musafir untuk berbuka dalam perjalanannya, padahal mereka tergolong lebih mampu berpuasa daripada orang yang sedang sakit ... Inilah informasi yang sangat aku sukai, dan ini adalah perkara yang telah disepakati
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ Bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.302)

Al-Imam Abu Bakr Ahmad Ibn Ali al-Jasshâsh (w.370H);

واتفقت الصحابة ومن بعدهم من التابعين وفقهاء الأمصار على جواز صوم المسافر غير شيء يروى عن أبي هريرة أنه قال من صام في السفر فعليه القضاء وتابعه عليه شواذ من الناس لا يعدون خلافا

Para sahabat, tabi‘in, fuqaha’ seantero Mesir sepakat dalam kebolehan musafir untuk berpuasa. Kecuali satu riwayat dari Abu Hurairah yang pernah menyampaikan bahwa orang yang tetap berpuasa dalam perjalanan maka harus mengqadha. Ini pernah diikuti oleh segelintir kelompok, namun itu tidak perlu dianggap sebagai pendapat berbeda
(Al-Jasshash, Ahkâm al-Qur’ân, vol.1, hal.265. Dalam riwayat lain disampaikan bahwa Abu Hurairah telah menarik padangan tersebut dan rujuk kepada riwayat yang valid dari para sahabat lainnya)

Al-Imam Abu Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Hazm al-Andalusi (w.456H);

واتفقوا على أن من آذاه المرض وضعف عن الصوم فله أن يفطر، واتفقوا أن من سافر السفر الذي ذكرنا في كتاب الصلاة أنه إن قصر فيه أدى ما عليه فأهل هلال رمضان وهو في سفره ذلك فانه إن أفطر فيه فلا إثم عليه

Dan mereka sepakat bahwa orang yang kesulitan karena sakitnya dan tidak mampu berpuasa, maka dia boleh berbuka. Dan mereka pun sepakat bahwa orang yang melakukan perjalanan sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam pembahasan shalat jika mengqashar berarti telah melakukan apa yang harus dilakukan, kemudian dalam perjalanan itu muncul hilal Ramadhan lalu dia memilih tidak berpuasa, maka dia tidak berdosa
(Ibn Hazm, Marâtib al-Ijmâ‘, hal.40)

Al-Imam Abu ‘Amr Yusuf Ibn Abdillah Ibn Muhammad Ibn Abdil Barr al-Qurthubi (w.463H);

وعلى إباحة الصوم والفطر للمسافر جماعة العلماء وأئمة الفقه بجميع الأمصار إلا ما ذكرت لك عمن قدمنا ذكره، ولا حجة في أحد مع السنة الثابتة هذا إن ثبت ما ذكرناه عنهم ... وأجمع الفقهاء أن المسافر بالخيار إن شاء صام وإن شاء أفطر إلا أنهم اختلفوا في الأفضل من ذلك
Kebolehan berpuasa maupun tidak berpuasa bagi musafir disepakati oleh para ulama dan para imam fikih di seantero wilayah Islam, kecuali pendapat yang telah saya sebutkan kepadamu sebelumnya. Namun pendapat seseorang tidak dapat dijadikan argumen lagi bila telah jelas argumen sunnahnya, itu pun kalau pendapat itu benar adanya ... Dan para ulama fikih berijma bahwa musafir dapat memilih antara berpuasa atau tidak, namun perbedaan mereka (ulama) hanyalah soal mana yang lebih utama saja
(Ibn Abdil Barr, al-Tamhîd Limâ Fî al-Muwattha’ Min al-Ma‘ânî wa al-Asânîd, vol.2, hal.170 & vol.9 hal.67)
Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);
أجمع أهل العلم على إباحة الفطر للمريض في الجملة ... أن المسافر يباح له الفطر فإن صام كره له ذلك وأجزأه وجواز للمسافر ثابت بالنص والإجماع

Para ulama berijma‘ bahwa secara garis besar orang yang sedang sakit boleh berbuka ... sebagaimana musafir pun demikian. Apabila dia berpuasa tetap sah meskipun makruh. Kebolehan berbuka bagi musafir ini adalah jelas berdasarkan nash dan ijma‘
(Ibn Qudamah, al-Mughnî Syarh Mukhtashar al-Kharqî, vol.3, hal.88 & 90)

Dan banyak lagi penjelasan para ulama mazhab terkait kebaradaan ijma terkait rukhshah ini.

Wallâhu A‘lam
Read More