TARBIYAH ONLINE: pahala shalat tarawih

Terbaru

Showing posts with label pahala shalat tarawih. Show all posts
Showing posts with label pahala shalat tarawih. Show all posts

Friday, May 18, 2018

HIKMAH RAMADHAN PERTAMA: BESARNYA GANJARAN PAHALA

May 18, 2018 0

Salah satu ibadah khusus yang tidak ada di bulan lain bulan Ramadhan, berupa shalat tarawih. Bahkan shalat tarawih dari malam pertama hingga malam ke-30 mempunyai nilai pahala tersendiri dan berbeda-beda.
Penulis mengutip dari berbagai sumber, berikut keutamaan Salat Tarawih di malam pertama bulan Ramadhan:
Pertama, Shalat tarawih merupakan salah satu keistimewaan bulan Ramadhan, tidak ada disunatkan shalat tarawih di luar bulan Ramadhan. Beranjak dariitu kita tidak boleh menyiakan kesempatan berharga ini. Di sebutkan dari Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu‘Alaihi wa Sallam tentang keutamaan (shalat) Tarawih di bulan Ramadhan lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi was Sallam bersabda: Dosa-dosa orang yang beriman keluar darinya pada malam pertama seperti hari dilahirkan ibunya.
Kedua, Diampuni Dosanya
Diketahui dari hadits riwayat Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abu Harairah, barang siapa yang melaksanakan Salat Tarawih pada malam pertama bulan ramadan, dia diibaratkan seperti bayi yang dilahirkan kembali oleh ibunya.
Hal ini berarti orang yang melaksanakan Salat Tarawih di hari pertama akan bersih dari dosa dan kesalahan.

إِِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ اللَّهُ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِعيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَْ الذُّنُوبْ كَيَوْم وَلَدَتْهُ أُمُّه

“Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR : Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abu Hurairah.)
Ketiga, Dimantapkan Hatinya.
Salat Tarawih pada malam pertama bulan Ramadan sangat dianjurkan agar kita semakin siap memasuki bulan penuh berkah ini. Tarawih malam pertama merupakan sebagai penanda awal ramadhan.

Shalat tarawih pada malam pertama adalah pertanda bahwa umat muslim pada keesokan harinya akan mulai melaksanakan ibadah puasa ramadhan.Hal ini juga secara tidak langsung merupakan pemberitahuan kepada setiap umat muslim jika ada diantara mereka yang belum mengetahui kapan dimulainya puasa ramadhan.
Keempat, Doa Dikabulkan
Setelah mendapat kemantapan hati dan ampunan dosa, melaksanakan Salat Trawih mulai dari malam pertama akan membuat doa yang kita minta dikabulkan Allah SWT.

“Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR Muslim dan Ahmad).
Kelima, Taqarrub Kepada Allah.
Seseorang yang memulai ibadah di bulan ramadhan dengan melaksanakan Salat Tarawih menandai bahwa kita semakin dekat dengan Allah.

Shalat Tarawih sebagaimana salat malam lainnya sanga dianjurkan untuk dilaksanakan selama bulan ramadhan. Hal ini bisa membantu kita semakin dekat dengan Allah SWT sebagaimana dalam hadits berbunyi :
“Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang saleh sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR Ahmad). 
Beranjak dari itu marilah kita raih untaian pahala tarawih malam pertama ini dengan sempurna dan mengharap ridha ilahi.


Helmi Abu Bakar el-Langkawi
Read More

HIKMAH RAMADHAN KE-2: PAHALA SHALAT TARAWIH & MEMBACA ALQURAN

May 18, 2018 0
Shalat tarawih sebagai ibadah khusus bulan Ramadhan, mereka yang beribadah dan melakukan shalat tarawih pada malamkedua akan mendapatkan pahala:

 وفى الليلة الثانية يغفر له ولأبويه ان كان مؤمنين 

Pada Malam yang ke : 2 Orang yang Shalat Tarawih akan diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya jika keduanya Mukmin.

Membaca Al-Quran

Bulan Ramadhan yang sedang ditempuh saat ini hendaknya kita meningkatkan amal ibdah. Satunya dengan memperbanyak membaca Al-Quran yang merupakan sebagai pedoman dan petunjuk umat Islam. Siapa yang membacanya juga termasuk ibadah walaupun tidak mengerti isi dan kandungannya. Ramadhan di identifikasikan sebagai bulan Al-Quran, hal ini disebabkan pada bulan ini alquran di turunkan. Setidaknya momentum ramadhan ini tentu saja menganjurkan kepada kita untuk lebih giat dan tekun dalam membaca, memahami dan menguak rahasia dalam kitab suci tersebut.

Rasulullah Saw sendiri orang yang sangat giat membaca al-Quran di samping akhlak beliau juga di ibaratkan sebagai al-quran berjalan. Dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, ia berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan padanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan padanya Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ditemui jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”
Hadist diatas meununjukkan kepada kita untuk memperbanyak membaca al-quran terlebih di bulan Ramadhan ini. Nabi Saw juga memanjangkan bacaan Alqurannya pada saat shalat malam di bulan Ramadhan, lebih dari malam-malam di bulan lainnya. Ini adalah sesuatu yang disyariatkan bagi mereka yang ingin memanjangkannya sesuai dengan kehendaknya, maka hendaknya ia shalat sendiri.
Namun boleh juga memperpanjang bacaan dalam shalat berjamaah atas persetujuan para jamaah. Selain itu, maka dianjurkan untuk membaca dengan bacaan yang ringan. Imam Ahamd berkata kepada sebagian sahabtnya yang shalat bersamanya di bulan Ramadhan, “Mereka itu orang yang lemah, maka bacalah lima, enam, atau tujuh ayat”. Berdasarkan pernyataan Imam Ahmad rahimahullah untuk memperingatkan agar memperhatikan keadaan para makmum dan jangan membebani mereka.
Apa yang di lakukan oleh Rasulullah juga di praktekkan para salafussaleh, dimana membaca Alquran di bulan Ramadhan di dalam shalat dan di luar shalat. Mereka menambah perhatian mereka terhadap Alquran yang mulia. Al-Aswad rahimahullah mengkhatamkan Alquran setiap dua hari. An-Nakha-I mengkhatamkannya setiap tiga hari, namun di sepuluh hari terakhir beliau tambah giat lagi. Sementara itu Qatadah mengkhatamkan Alquran di setiap tujuh hari dan di sepuluh hari terakhir beliau menyelesaikannya dalam tiga hari. Apabila bulan Ramadhan tiba, Az-Zuhri mengatakan, “Bulan ini adalah bulan membaca Alquran dan memberi makan”. Bahkan Imam Malik apabila masuk bulan Ramadhan meninggalkan membaca hadits dan berdiskusi bersama penuntut ilmu lainnya, beliau memfokuskan diri untuk membaca Alquran dari mushafnya. Qatadah fokus mempelajari Alquran di bulan Ramadhan. Hal ini juga di kerjakan oleh Sufyan ats-Tauri apabila datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan ibadah sunnah dan menyibukkan diri dengan membaca Alquran. Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat tentang perhatian para salaafush shalih terhadap Alquran di bulan Ramadhan.

Kelebihan Membaca -Quran

Termasuk keistimewaan Alqur’an adalah ia bisa diambil berkahnya. Allah berfirman: “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya…”QS al An’aam: 92. Imam Darimi meriwayatkan dengan sanad shahih bahwa sesungguhnya Ikrimah bin Abu Jahal seringkali meletakkan mushaf di wajahnya sambil berkata: “Ini adalah kitab Tuhanku, kitab Tuhanku”. Di antara berkahnya adalah bahwa membaca sebagian surat atau ayat darinya bisa mengusir setan dari pembaca dan rumahnya, dan sesungguhnya berkumpul untuk membacanya merupakan jalan bagi turun derasnya rahmat Allah, menarik keridho’annya, tempat datangnya ketenangan dan penyebutan Allah bagi orang – orang yang berkumpul karena Alqur’an.

Menggunakan Alqur’an sebagai pengobatan penyakit fisik dan untuk mengambil berkah tidak lantas mencegah menggunakan Alqur’an untuk penyakit hati, menolak kebodohan dan keraguan dari hati serta mengamalkan syariat dan hukum yang terkandung di dalamnya. Barang siapa setelah ini menyangka bahwa menggunakan Alqur’an pada satu sisi seperti pengobatan bisa membatalkan penggunaannya untuk sisi lain atau menafikannya maka persangkaannya itu didustakan oleh amalan Nabishallallahu alaihi wasallam dan amalan para sahabat serta tabiin. ( Kitab Haula Khasha’ish Alqur’an )
wwww.dinulislamnews.com
Read More