TARBIYAH ONLINE: maulid nabi

Terbaru

Showing posts with label maulid nabi. Show all posts
Showing posts with label maulid nabi. Show all posts

Wednesday, November 29, 2017

Dalil dan Hukum Merayakan Maulid

November 29, 2017 0

Tarbiyah.onlineSudah menjadi rutinitas dan polemik setiap tahun, ketika mendekati bulan Rabiul Awal, diskusi hingga debat terjadi di hampir setiap lini kehidupan masyarakat akan kesahihan perkara perayaan maulid nabi SAW. Pertanyaan yang muncul selalu berkenaan dengan hukum perayaan Maulid dimulai dari boleh tidaknya. Hingga bentuk perayaan yang bagaimana.

Banyak ulama yang telah menjelaskan hukum maulid dari hampir setiap generasi. Sebenarnya polemik ini semestinya tidak lagi menjadi perbincangan yang membuat hubungan antar muslim retak. Namun, apa mau dikata, demikianlah kondisi umat di setiap masa yang mempertanyakan suatu kasus yang sejatinya telah tunas dibahas oleh generasi awal.

Secara nalar, mengingat keberadaan dan kewujudan seseorang yang sangat kita cintai merupakan salah satu bentuk cinta dan penghormatan. Adakah ia bersifat tahunan, bulanan, mingguan harian, atau bahkan setiap saat. Tentunya itu bergantung kepada kondisi kecintaan. Demikian pula bentuk penghormatan dan kecintaan yang dilakukan, bisa beragam, selama pekerjaan itu merupakan hal yang disukai oleh yang dicinta.

Dalam sirah, diceritakan bagaimana salah satu ekspresi cinta yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap istri pertamanya Khadijah al Kubra binti Khuwailid R.A. Beliau SAW sering mengunjungi untuk sekedar bersilaturrahim terhadap kerabat istri tercintanya, membagikan makanan kepada mereka dan hal lainnya. Padahal ketika itu Khadijah R.A telah meninggal. Namun kecintaan Nabi SAW kepadanya tidak luntur sedikit pun. Pada kesempatan lain, Nabi SAW terkenang kepada perjalanan hidup yang mereka berdua lalui semasa istrinya hidup. Mengingat pahit dan manisnya perjuangan bersama-sama dahulu. Itulah salah satu ekspresi cinta yang ditunjukkan Nabi SAW kepada istrinya yang  telah mendahuluinya untuk berjumpa Rabb SWT.

Maka, iman  yang sehat dan nalar yang cemerlang menuntut kita untuk terus mengingat dan mengenang kisah hidup serta kebesaran cinta rahmat yang disebarkan oleh Nabi SAW selaku manusia yang seharusnya paling dicintai. Bahkan melebihi cinta kepada pasangan, orangtua ingga diri sendiri.

Cukuplah sebagai dalil hadits riwayat Imam Bukhari, saat Umar bin Khattab R.A mendatangi Nabi SAW dan berkata,” Wahai Rasulullah, engkau lebih kucintai daripadda segala sesuatu kecuali diriku sendiri. Maka Rasulullah bersabda,”Tidak sempurna iman salah satu diantara kalian hingga aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri.” Umar pun tersadar dan berucap, “Sekarang, demi Allah sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Lalu beliau SAW bersabda,”Sekarang wahai Umar, cintamu telah sempurna.”

Bahkan Ulama besar dari mazhab Hanbali yaitu Ibn Rajab al Hanbali berkata,”Mencintai Rasulullah SAW termasuk dari prinsip-prinsip iman. Mencinai beliau berarti sama dengan mencintai Allah SWT. Sungguh Allah telah menyertakan cinta kepada-Nya dengan cinta kepada Nabi SAW. Serta mencela orang-orang yang mengedepankan cita kepada harta, keluarga, kerabat, tanah air dan lainnya. Sebagaimana tertera dalam AL Quran sura taubah ayat 24.”

Salah seorang ulama besar dari Al Azhar, Mesir, Syeikh Ali Jum’ah yang pernah menduduki jabatan Mufti negara Mesir pun tak absen menjadi target penanya. Beliau dengan tegas mengatakan, ”Peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW adalah amalan yang paling utama dan termasuk ibadah paling agung, karena hal tersebut adalah ekspresi kegembiraan dan cinta kepada Beliau. Dan cinta kepada Rasulullah adalah prinsip dari semua dasar iman.”

Memang tidak ada sebuah dalil khusus yang menyatakan “Peringatilah oleh kalian akan hari lahir ku.” Atau yang senada dengannya. Hanya saja, banyak sekali hadits maupun ayat yang secara umum dan memiliki kaitan erat dengan melakukan suatu ibadah khusus dengan sebab cinta, gembira dan rasa syukur.

Diantaranya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Dari Umar bin Khattab R.A ia berkata, “Nabi SAW ditanya mengenai puasa di hari senin. Beliau SAW lantas menjawabm “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan, dan hari dimana aku diutus menjadi Rasul (atau hari pertama aku mendapat wahyu).”

Dalam hadits tersebut terdapat isyarat yang sangat tampak bahwa Rasul SAW bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kelahirannya ke dunia ini dengan cara berpuasa di hari Senin. Nabi SAW merayakan hari lahirnya setiap Senin dengan cara berpuasa. Itu adalah bentuk syukur beliau. Namun yang demikian bukan berarti memperingati kelahiran Nabi SAW hanya dilakukan dengan cara berpuasa. Karena, ulama terdahulu sejak aabad keempat hijrah, telah mengadakan perayaan maulid, dengan melakukan berbagai macam ibadah. Seperti memberi makan, membaca alQuran, berzikir, serta melantunkan sya’ir yang berisikan pujian kepada Nabi SAW. Realitas ini diungkap oleh banyak sekali ulama pakar sejarah, seperti Ibnul Jauzi, Ibn Katsir, Al Hafizh Ibn Dhihyah al Andalusi, Al Hafizh Ibn Hajar Al Asqalani dan ulama hadits Imam As-Shuyuthi. Rahimahumullahu ajma;in.

Ibn Hajar Al Asqalani menjadikan hadits Nabi SAW tentang puasa Asyura yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim sebagai dalil kebolehan dan kesunnahan Maulid. ”Suatu ketika Nabi SAW datang ke Madinah dan menjumpai orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyura, yaitu 10 Muharam. Beliau SAW lalu bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab, “ini adalah hari dimana Allah menenggelamkan Fir’un dan menyelamatkan Musa. Maka kami berpuasa pada hari ini karena bersyukur kepada Alah SWT.”

Dari hadits tersebut, kata Ibn Hajar, “Dapat diambil faedah tentang amalan sebagai wujud syukur kepada Allah atas apa yang Dia anugerahkan pada hari tertentu dengan diberi nikmat atau terolajkna suatu bencana. Dan amalan itu diulani setiap tahunnya di hari/anggal yang sama. Bentuk syukur dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti bersujud, puasa, sedekah dan membaca Al Quran. Selama itu adalah bentuk ibadah. Dan tentu saja, nikmat apa yang lebih agung daripada nikmat kehadiran dan kewujudan Rasulullah Muhammad SAW sang pembawa rahmat?.”

Sebagian ulama pakar fiqh bahkan menuliskan kitab mengenai kesunnahan dan keharusan melakukan perayaan maulid. Mereka memaparkan dalil-dalil dalam kitabnya. Seperti kitab Al- Madkhal yang ditulis ulama dari mazhab Maliki Ibn Hajj. Menuliskan secara panjang lebar mengenai keistimewaan dan keutamaan perayaan maulid.

Dalam mazhab Syafi’i, Imam As-Suyuthi bahkan menulis kitab khusus berjudul Husn al Maqashiq fi ‘Amal al Maulid. Didalam sana mbeliau menjawab pertanyaan secara lugas, “Apa hukum perayaan Maulid secara syari’ah, terpuji atau tercela, pelakunya mendapatkan pahala atau malah dosa karena bid’ah?”

Singkatnya, Imam As-Suyuti berkata, ”Perayaan Maulid tidak bertentangan dengan Quran, Sunnah, Atsar dan Ijma’. Perayaan ini tidak tercela, sebagaimana dikatakan oleh Imam Syafi’i (yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi,”Perkara baru dalam agama ada dua macam. Pertama dibuat idak sesuai Quran, Sunnah Atsar dan Ijma’, maka itu adalah bid’ah yang tercela. Kedua perkara baru yang baik, yang tidak ditentang seorang pun, maka hal ini tidak tercela. Sebagaimana Ijma’Sahabat atas perkara baru yang dilakukan Khalifah Umar tentang Shalat malam di bulan ramadhan.) ia adalah perkara baik yang belum dikenal di awal-awal islam. Sesungguhnya bersedekah makanan yang tidak dibarengi dengan perbuatan dosa adalah perbuatan baik. Karena itu Maulid dianggap sebagai bid’ah (perkara baru) yang disunnahkan, sebagaimana pernyataan Sultanul Ulama, imam ‘Izzuddin bin Abdussalam.”

Ulama besar masa ini seperti Abuya Sayyid Alwi Al Maliki rahimahullah mengajukan satu soalan kepada orang yang mempertanyakan dalil peringatan dan perayaan Maulid Nabi SAW, “Adakah kalian mempertanyakan dan melarang kami memperingati dan merayakan hari yang menjadi sebab kita semua mengenal dan beribadah kepada Allah SWT? Sungguh Kelahiran Nabi SAW adalah sebab awal adanya ajaran Islam yang mengajak kita kepada Tauhid dan mengenalkan kita kepada rahmat.”

Syeikh Sa’id Muhammad Ramadhan Al Buthi rahimahullah pun terheran kepada orang-orang yang mencela peringatan Maulid Nabi SAW dengan pernyataan yang hampir sama, ”Memperingati Maulid adalah salah satu ekspresi cinta. Mengkhususkan suatu waktu dari kesibukan pikiran untuk menginga, mengenang dan kembali mengenal bagaimana Teladan terbaik itu hidup. Serta mensyukuri atas segala nikmat yang Allah berikan bersebab darinya. Bukankah Islam dan Tauhid adalah nikmat terbesar yang tiada banding? Lalu dimana letak salahnya memperingati kewujudan pembawa nikmat itu?”

Syeikh Atthiyah Saqqar rahimahullah yang merupakan manan ketua komisi fatwa Azhar berujar dengan pertimbangan keadaan sosial saat ini, “Menurut saya, perayaan Maulid itu boleh dan harus. Menimbang, generasi muda saat ini semakin jauh dengan agama dan pengetahuan akan keteladanan yang luhur. Maka Maulid akan menjadi momentum baginya untuk mengenal Teladan yang terbaik sepanjang zaman (Rasulullah SAW). Dan pun, saat ini betapa banyak perayaan-perayaan yang menyesatkan yang tidak punya nilai islami sedikit pun bahkan telah menghijabi perayaan-perayaan besar dalam Agama Islam. Maka perayaan Maulid dinilai harus diadakan setidaknya setiap tahunnya.”

Pembacaan kitab Syamail Muhammadiyah

Yang harus diingat, bahwasanya Peringatan Maulid Nabi SAW setahun sekali adalah salah satu bentuk ekspresi cinta dan rindu kepada Beliau SAW. Ia harus diisi dengan berbagai ibadah. Seperti sedekah kepada fakir miskin, memberi makan kepada kekasih Rasulullah (anak yatim) dan kaum muslimin umumnya, berkumpul dengan para waris Nabi yaitu para ‘alim ulama, berzikir memuji mengingat Allah, membaca Al Quran, atau berpuasa, bersujud syukur atas nikmat, mempelajari ilmu agama dan memperdalam pengetahuan tentang Rasulullah juga membacakan sya’ir berupa pujian atas keindahan Rasulullah. Itu semua adalah ibadah yang tentu nilainya baik.

Terakhir. Kadang ada pertanyaan nakal yang menjerat pikiran, “Kenapa harus setahun sekali mengekspresikan cinta kepada Nabi SAW. Seharusnya kan setiap saat?” Ya. Pertanyaan tersebut benar adanya. Dan jawabannya sudah tentu, kita harus mencintai Nabi SAW di setiap denyut jantung. Karena ia adalah prinsip iman. Sesaat ia menghilang, sesaat itu pula iman akan menjadi goyah. Hanya saja, bukankah ketika suatu waktu yang dapat mengingatkan kita kepada sebuah nikmat yang besar yang pernah terjadi, akan menambah rasa rindu yang lebih besar dan semakin kuat? Maka bagi yang mencintai Nabi SAW dan mengetahui kelahirannya di tanggal 12 rabiul awal, tentu akan memaknai tanggal itu sebagai sebuah tanggal dan hari yang besar serta istimewa. Karena sekuntum memori akan menancap semakin dalam bersebabkan ziarah tempat dan pengulangan waktu.

Bagi yang pernah merasakan cinta dan sering diselimuti rindu, tentu tahu bagaimana besar pengaruh pengulangan waktu dan jejak tempat. Demikian untuk melengkapi pertnyataan para ulama yang ‘arif yang hatinya selalu dekat dengan zikir kepada Allah, yang statusnya adalah pewaris Nabi yang keilmuannya telah diakui oleh dunia.

Disadur dari berbagai referensi:
Terutama Kitab Al Bayaan Li Maa Yasyghal al Adzhaan & Al Mutasyaddidun Manhajuhum wa Munaqasyatu Ahammi Qadhayaahum karya Syeikh Ali Jum’ah (Terj). dan Ceramah Syeikh Ramadhan Al Buthi dan Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki di Youtube.
Read More

Thursday, November 23, 2017

Selamat Berbahagia! Telah Datang Bulan Penuh Berkah

November 23, 2017 0

Tarbiyah.online | Hari-hari yang sedang kita lalui sekarang adalah awal bulan Rabiul Anwar (Bulan berseminya cahaya) yang menampakkan cahaya Nabi Muhammad Saw. terhadap semesta.
Kaum muslimin menamakannya dengan Rabiul Anwar Karena disana berkilauan cahaya Nabi Muhammad Saw, anugerah dan pemberian terindah dari Tuhan. Dengannya Allah menutup Risalah kenabian dan wahyu terkahir untuk semesta.
Dia diutus sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan akan berbagai macam siksa. Dia telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati umat serta berjuang dijalan Allah SWT hingga akhir hayatnya dan Allah meridhainya.
Ini adalah bulan mulia yang ketika kita memasukinya, kita telah memasuki cahaya, kebahagiaan, kegembiraan dan Suka cita bagi setiap muslim.
Maka jika kita tidak bergembira dengan adanya Rasulullah Saw. Lalu kita akan bergembira dengan siapa?

Sudah datang!
Bulan Rabiul Anwar, bulan penuh berkah yang bermula darinya cahaya kenabian yang memancar hingga ke seluruh alam semesta. Ini adalah bulan Rabiul Awal yang Allah SWT. muliakan dengan diutusnya seorang Nabi pilihan , seorang Nabi tercinta Saw. Dan hendaknya kita merayakan kelahiran Nabi Saw. dengan ucapan dan perbuatan, dengan suka cita, khidmat, perasaan dan jiwa. Kita harus merangsang diri kita dengan kedatangan Nabi kepada alam semesta dengan pengertian ini. Sehingga menjadikan kita menyampaikan dari padanya walau satu ayat, sebagaimana kita diperintah, "Sampaikan daripadaku walau satu ayat".

Pengertian ini yang menjadikan kita bergembira dengan peraturan yang telah ditentukan kepada kita, menjalankan perintah-perintah yang telah diperintahkan kepada kita, menegah dari sesuatu yang telah dilarang oleh Rasulullah Saw. kepada kita, sebagaimana kegembiraan kita ketika menyambut kedatangannya.

Jadikanlah Bulan ini sebagai langkah awal kebaikan dalam hidupmu, wahai saudara ku. Firman-Nya, "Dan Lakukan kebaikan agar kamu beruntung". Hiduplah di bulan cahaya dengan cahaya yang telah di utus Allah untuk alam semesta.

Bulan Râbi' al-Anwâr (bulan berseminya cahaya) tengah meneduhi kita, dialah awal musim semi, sebutan "al-Anwâr" yang tersemat padanya lantaran pada bulan itu lahirlah Nabi pilihan dan baginda tersayang SAW.

Binar cahayanya terpancar terang di bulan agung ini, menyinari setiap yang di barat sampai sudut timur dunia, bahkan seluruh semesta, cahanya tidak akan redup hingga kiamat..

" ولد الهدى فالكائنات ضياء # وفم الزمان تبسم وثناء "
Sang hidayah telah lahir lalu semestapun berbinar # sementara bibir zaman tersenyum dan memujinya

Maka di bulan mulya ini sepatutnya kita menjadikan Râbi'al-Anwâr bulan meneladani Rasulullah SAW, menjadikannya pelita bagi kita, dan menapaki jejaknya serta merenungi risalah (Al-Qur'an) yang beliau bawa untuk kita.
Sholawat dan salam Allah serta aliran berkah untuk Sayyidinâ (baginda kami) Muhammad beserta keluarganya bak hembusan angin semilir yang menerpa semak belukar di musim panas.

Maulana Fadhilatus-Syaikh Ali Jum'ah Hafizhahullah,
diterjemahkan oleh Admin FansPage Ahbab maulana Syaikh Ali Jum'ah
Read More

Thursday, November 16, 2017

Seri Sirah Nabawiyah | Keseruan dan Keharuan Muhammad Kecil Saat Menggembala Kambing

November 16, 2017 0

Tarbiyah.online | Muhammad kecil semakin tumbuh kembang menjadi anak remaja. Ia tumbuh dengan baik, bahkan terlihat lebih sehat dan bugar daripada anak lain seusianya. Karakternya pun semakin terlihat. Fathimah sang bibi menceritakan kepada Abu Thalib bahwa Muhammad kini lebih nampak kehalusan dan kelembutannya, sesantunan, ketenangan juga kewibawaannya.

Bahkan Fathimah sedikit heran melihat Muhammad kini yang lebih pemalu. Ia malu untuk meminta dan menyuruh sesuatu kepadanya, “Ia lebih malu dari pada gadis pingitan.”tutur Fathimah. Sang bibi masih mengaggap hal yang sanngat wajar, jika anak seusia Muhammad kini lebih banyak malas dan banyak mainnya. Tapi itu tidak terlihat dalam diri Muhammad.

Muhammad, dengan melihat keadaan keluarga Pamannya ini, ia tentu tidak ingin kehadirannya di tengah keluarga ini malah menambah beban tanggungan. Sementara anggota keluarga yang menjadi tanggungan pamannya ini cukuolah banyak. Ia sadar, ia hanya menumpang disini, bagaimana mungkin ia bisa bermalas-malasan.

Oleh karena itu, jika Fathimah sedang menyajikan makanan, Muhammad mengalah untuk tidak memakannya terlebih dulu, membiarkan sepupu-sepupunya berebut makanan diatas napan akibat rasa lapar dan sedikitnya persediaan makanan. Muhammad mengalah karena didorong oleh rasa malu, sikap hormat, kesucian jiwa dan kelapangan hati untuk tidak ikut mengulurkan tangan ke dalam nampan itu.

Namun gerak-gerik Muhammad ini diperhatikan oleh sang bibi, hingga kemudian Fathimah sering mengambilkan makanan untuk Muhammad, yang memunculkan rasa cemburu pada sepupu-sepupunya yang lain yang merupakan anak dari paman dan bibinya. Mereka sedikit merasa tidak senang karena dengan sedikitnya persediaan makanan, Muhammad malah dianak-emaskan dengan tetap menyediakan porsi makanan untuk Muhammad.

Uniknya, jika keluarga pamannya ini makan secara sendiri-sendiri atau bersama-sama tanpa kehadiran Muhammad, mereka tidak pernah merasakan kenyang. Namun sangat berbeda jika ada Muhammad di tengah-tengah mereka. Makanan yang sedikit mampu memenuhi rongga perut mereka, mereka selalu puas terhadap makanan yang tersedia. Sehingga Abu Thalib berujar kepada seluruh keluarganya, “Jangan makan dulu sebelum Muhammad anakky datang bersama kita.” Muhammad pun datang, dan mereka merasa kenyang, tak hanya kenyang, kadang mereka kelebihan makanan.

Demikian juga ketika minum susu, sering mereka meminta Muhammad yang meneguk duluan susu yang ada dalam bejana, barulah kemudian disusul oleh mereka secara bergantian. Semuanya bisa merasakan kepuasan meminum susu sepuasnya, meski hanya dari satu bejana itu.

Ummu Aiman, sang pengasuh Muhammad kecil, sering sekali makan hanya dalam keadaan sedikit, tapi ia tak pernah mengeluh lapar. Di pagi hari, kadang ia hanya meminum air dari sumur Zamzam. Kalau ditawari makanan, ia menolak dan menjawab, “Maaf, aku kenyang.” Dan kalimat yang keluar tersebut, bukan karena penolakan secara halus atau sikap malunya atau juga ungkapan kosong, melainkan memang demikian, ia merasakan kenyang.

Begitulah keberkahan yang mereka dapatkan bersama Muhammad, meski dalam keadaan sempit.

Kepekaan Muhammad tersebut tumbuh semata-mata dari jiwanya yang lembut nan halus. Ketika ia semakin matang, ia ingin membalas budi sang paman beserta keluarga, dengan sedikit membantu perekonomian mereka. Ia berpikir keras, apa yang harus dikerjakannya. Semua pekerjaan telah ada budak yang melakukan. Hendak berdagang, mana mungkin, ia seorang miskin tanpa modal. Ia terus berpikir, hingga kemudian menemukan sebuah pekerjaan yang cocok menurutnya, menggembalakan kaming penduduk Mekkah ke padang. Ia menilai pekerjaan tersebut sangat cocok baginya, Ia bisa menafakkuri alam, luasnya langit dan padang beserta kehebatan dan kekuatan yang terpampang di dalamnya sungguh suatu pemandangan yang sangat bagus untuk merenungi Kekuasaan Allah.

Sekali tepuk, dua lalat mati. Sebuah pepatah yang barangkali cocok untuk menggambarkan pikiran Muhammad.

Ketika ia utarakan niatnya ini kepada sang paman, Abu Thalib menolaknya. Fathimah terkesima, melihat betapa halus perasaan dan pemikiran yag ada pada anak ini. Usianya masih belia tapi sudah berpikir sejauh itu, mereka menjadi iba. Tapi Abu Thalib tak mampu mendebatnya. Tekad Muhammad telah bulat dan tak bisa ditawar lagi. Akhirnya Abu Thalib pun mengalah dan terpaksa mengizinkan Muhammad menggembala kambing. Maka Abu Thalb pun mencarikan beberapa orang Qurays yang bersedia kambingnya dikembalai oeh Muhammad. Abu Thalib mencari dengan selektif, karena tidak ingin ada yang menjahati Muhammad nantinya.

Tiba saatnya Muhammad menggembala. Fathimah binti Asad sang bibi setiap pagi mengantarkan Muhammad ke depan pintu, kadang ia memberikan bekal untuk seharian di padang gembala di pinggir kota Mekkah. Saban hari, ia berpesan kepada Muhammad untuk berhati-hati, kadang juga ia sampaikan kepada teman-teman Muhammad untuk menjaga Muhammad. Ia menitipkan Muhammad pada sekawanan penggembala lainnya. Sebegitu besar perhatian Fathimah sang bibi.



Muhammad pun menemukan lingkungan baru, bersama anak sebayanya para penggembala cilik yang tersebar di padang sekitar Mekkah. Anak-anak sebagaimana umumnya, ketika berkumpul mereka berbagi cerita-cerita hebat yang dialaminya. Ada yang bercerita bagaimana mereka pernah bertarung mempertaruhkan hidupnya melawan bahaya. Mereka juga menceritakan tentang keberadaan tempat-tempat hiburan, permainan dan aneka kesenangan lainnya. Muhammad tak luput dari sasaran mereka untuk berbagi cerita. Muhammad lebih banyak mendengar daripada ikut bercerita. Ia banyak menyerap informasi baru, dan belajar dari cerita teman-teman sesama penggembala.

Muhammad remaja adalah seorang penggembala yang jujur. Ia selalu tepat waktu dalam bekerja. Meskipun masih remaja, profesionalitasnya telah terlihat.

Teman-teman penggembala membujuk Muhammad untuk ikut ke acara hiburan. Awalnya Muhammad selalau menolak, tapi karena terus menerus dibujuk, akhirnya hati Muhammad pun luluh untuk ikut bersama mereka. Ia juga merasa ingin menyaksikan langsung keberadaan pesta itu, dan duduk ngobrol semalam suntuk.

Di satu hari, teman penggembala Muhammad datang dan membujuk bahkan mendesak Muhammad untuk ikut bersama mereka ke sebuah pesta disudut kota Mekkah. Malamnya mereka pun berangkat.

Disana ada tabuhan rebana, tiupan seruling, alunan lagu dan berbagai macam hiburan yang biasa dijumpai di acara semacam itu. Muhammad duduk di kejauhan dan memperhatikan, namun tak lama, hanya sesaat kemudian, Allah membuat Muhammad tertidur hingga sangat pulas sepanjang malam. Ia baru terbangun ketika tersegat matahri yang kian meninggi.

Saat ia kembali ke tempat teman-temannya berada, ia malah disambut penuh keheranan dan tanya. Muhammad tidak bisa banyak menjawab. Terjadi pula di beberapa waktu kemudian, hal yang sama terulang. Muhammad kembali tertidur sebelum ia mendekat ke tempat pesta.

Akhirnya, Muhammad pun merasa hari-harinya untuk menjadi penggembala cukup, mesti diakhiri secepatnya. Ia harus mencari pekerjaan lain yang lebih cocok, demi membantu pamannya beserta keluarga. Mungkin kini ia sudah bisa berdagang. Usianya telah mencapai tiga belas tahun. Ia yakin sudah bisa ikut membantu pamannya dalam berdagang. Di Mekkah, Abu Thalib mempunyai kios dagang. Muhammad berpikir ia bisa membantu mengurusinya dan menggantikan sang paman saat sang paman harus keluar atau pergi berdagang ke luar Mekkah.

Disadur dari buku terjemah Fii Baiti ar-Rasul (Bilik-Bilik Cinta Muhammad), karya Dr. Nizar Abazhah
Read More

Tuesday, November 14, 2017

Seri Sirah Nabawiyah | Kasih Sayang Fathimah dan Abu Thalib Kepada Muhammad

November 14, 2017 0

Tarbiyah.onlineSetelah meninggalnya sang kakek Abbdul Mutthalib, tongkat kepemimpinan Bani Hasyim, berpindah kepada paman Muhammad, saudara kandung dari Abdullah, ayahnya, Abu Thalib.

Muhammad kecil mendapatkan perhatian yang luar biasa dari Abu Thalib dan istrinya, Fathimah binti Asad. Kecintaan keduanya kepada Muhammad dicurahkan sebagaimana rasa cinta yang mereka curahkan kepada anak-anaknya yang lain. Bahkan Fathimah merasakan cinta yang lebih ia curahkan kepada Muhammad.

Si kecil Muhammad mendapatkan sosok ibu pada diri Fathimah sang Bibi. Bahkan di suatu waktu dengan polosnya Muhammad kecil memanggil Fathimah dengan sebutan ibu, bukan bibi. Terkejut Fathimah mendengarnya. Disatu sisi, ia memandang si kecil dengan rasa penuh iba, megingat si kecil yang tidak merasakan kasih sayang seorang ibu secara cukup.

Namun, di sisi lain dalam benaknya ia meerasakan kebahagiaan yang sangat mendalam. Seolah ada sejuta cahaya kebagiaan yang yang keluar dibalik panggilan itu melalui mulut mungil si kecil Muhammad yang sangat mulia itu. Ia mendekat kearah Muhammad kecil dan mendekapnya, menciuminya dengan penuh kasih sayang. Panggilan "ibu" yang dilontarkan dari si kecil berasa lebih berarti dan membuatnya bahagia, bahkan melebihi rasa yang didapat ketika anak-anaknya memanggilnya dengan sebutan ibu.


Hari terus berlalu, Muhammad kecil ikut merasakan pengawasan Fathimah kepadanya tak pernah absen meskipun sehari. Dan Fathimah merasakan kecemasan ketika melihat perubahan pada sikap Muhammad kecil yang sering menyendiri, sering murung dan lebih pendiam. Seolah Muhammad kecil sedang memikirkan suatu hal yang sangat besar, namun mulutnya terkunci untuk menceritakan apa yang ada di benaknya. Fathimah takut kalau-kalau, penyakit aneh tertimpa kepada Muhammad kecil yang sangat dicintainya.

Fathimah yang semakin cemas, melaporkan kepada sang suami, Abu Thalib. Abu Thalib pun ikut memperhatikan Muhammad kecil, dan mencoba mereka-mereka, apa masalah yang sedang dipikirkan dan dihadapi oleh si kecil, namun mentok, mereka berdua tak mampu menjangkaunya. Hanya saja, dengan epenuh keyakinan dan harapan Abu Thalib berujar kepada istrinya,” Biarkan saja dia, Tuhan pasti akan menjaganya.” Dan ucapan itu terus menerus keluar dari mulut sang paman ketika istrinya mengadukan hal yang sama.

Muhammad merasakan bahwa dirinya selalu diawasi dan dijaga oleh Allah SWT. Yang merupakan salah satu tanda kenabian. Pernah ia diajak kepada berhala oleh paman-paman dan bibi-bibinya. Tapi ia selalu menolak. Hingga pada sebuah kesempatan dan momentum upacara “Bawwanah” sebuah berhala yang besar dan sangat dihormati oleh kaum Qurais dimana mereka akan melakukan ritual, dan meditasi sepanjang hari disana. Muhammad tak bisa menolak untuk menghadirinya, hingga ia pun ikut ke dalam kerumunan tersebut.  Disinilah Muhammad mengalah kepada para paman dan bibi-bibinya.

Di tengah kekhusyukan orang-oarng dewasa, terdapat anak-anak yang tidak penurut. Sebagaimana umumnya dunia anak-anak, mereka lebih banyak memilih melakukan permainan daripada ikut dalam upara. Muhammad pun menghilang dari kerumunan orang yang beribadat itu bersama banyaknya anak-anak yang berlarian kesana kemari. Bahkan Abu Thalib dan istrinya melihat Muhammad tak ada bersama kerumunan anak-anak. Pecah hati sang paman dan bibinya. Mereka keluar berhamburan mencari Muhammad kecil. Ditemukan si kecil sedang bersembunyi di salah satu sudut rumah dalam keadaan gemetar dan sangat ketakutan.



Bibi dan pamannya menanyakan ada apa gerangan hingga Muhammad demikian. Dijawab olehnya “Setiap aku mendekat ke salah satu berhala itu, ada sosok dengan jubah putih menghadang ku, dan berkata agar aku tidak kearah berhala itu. Ketika aku mendekati Bawwanah, ia menegah ‘Awas di belakang mu, Muhammad jangan sentuh itu’.”

Terdiam dan terkagum paman dan bibinya mendengar penuturan dan pengakuan Muhammad kecil. Mereka sadar, bahwa terdapat ribuan misteri di belakang si kecil, dan dia memiliki sesuatu yang sangat istimewa. Sejak saat itu, Muhammad tak pernah lagi diajak menuju tempat berhala, dan semua bibi-bibinya tak berani lagi mengusiknya.

Hal lain yang mereka saksikan adalah Muhammad tidak memakan bahkan menyentuh pun tidak jika makanan dan daiging hewan kurban yang disembelih sebagai sesaji dan sesembahan kepada berhala. Ini membuat meereka semua takjub, memngingat usia Muhammad yang masih sangat belia. Dan membuat mereka menyadari Muhammad yang bersamanya, bukanlah orang sembarangan.
Read More

Thursday, November 9, 2017

Sepotong Kisah Lahir Nabi dalam Maulid Dhiyaul Lami’ Karya Habib Umar

November 09, 2017 0
Maulid Dhiyaullami' bi Maulidin Nabi Syaafi' tentang nasab dan kelahiran Nabi Musthafa SAW:


لَمَّا دَ نَا وَ قْتُ الْبُرُو ز  ِلأَ حْمَدٍ
عَنْ   إِذْنِ   مَنْ   مَا شَاءَ هُ   قَدْ   كَانَـا

Ketika telah dekat waktu kelahiran Ahmad (saw) dari Izin Nya,
yang apabila menghendaki sesuatu tidaklah akan terhalang,

حَمَلَتْ   بِهِ  اْلأُ مُّ   اْلأ َمِينَةُ   بِنْتُ   وَ هـب   مَنْ   لَهَا  أَعْلَى  اْلإِ لهُ  مَكَانَا
مِنْ   وَ الِدِ   الْمُخْتَارِ   عَبْدِ  اللّهِ  بْنِ
عَبْدٍ   لِمُطَّلِبٍ   رَ أَى  الْبُرْ هَانَا

Ia (saw) berada di dalam kandungan Sang Ibu Aminah binti Wahb, yang baginya telah

 Allah Muliakan Martabatnya (sebagai ibu bagi sebaik baik ciptaan),
Dari ayah Sang Hamba yang terpilih (saw), yaitu (ayahnya itu) Abdullah bin Abdul Muthalib

 yang melihat tanda-tanda (Isyarat Kenabian)

قَدْ   كَانَا  يَغْمُرُ   نُورُ  طهَ   وَجْهَهُ
وَسَرَ ى  إِلَى  اْلاِ  بْنِ  الْمَصُونِ   عَيَانَا

Telah terjadi bahwa wajahnya (ayahnya) diterangi Cahaya Thaahaa (saw) yang kemudian

berpindah kepada Sang Anak yang terjaga ini (cahaya itu) terlihat dengan jelas

وَهُوَ ابْنُ   هَاشِمٍ   الْكَرِ  يمِ   الشَّهْمِ  بْنِ
عَبْدِ  مَنَافٍ   اِبْنِ   قُصَيٍّ    كَانَا
وَ الِدُ هُ   يُدْعَى  حَكِيمًا  شَأْ نُهُ
Dan dia adalah keturunan Hasyim yang Mulia dan Perkasa ,
putra Abdu Manaaf, Keturunan Qushay yang dahulu,
Ayahnya digelari Hakiim (orang yang adil) dan kepribadiannya telah termasyur,
maka berbanggalah dengan kepribadian itu,

قَدِ  اعْتَلَى   أَعْزِزْ   بِذ لِكَ  شَانَا
وَاحْفَظْ  أُصُو لَ  الْمُصْطَفَى  حَتَّى   تَرَى
فِي  سِلْسِلا َتِ   أُصُو  لِهِ   عَدْنَانَا
فَهُنَاكَ  قِفْ   وَ اعْلَمْ    بِرَ فْعِهِ     إِ لَى  السْـمَاعِيلَ     كَانَا  لِلأَبِ   مِعْوَ انَا

Dan hafalkanlah silsilah keturunan Nabi yang Terpilih hingga kau temukan

silisilahnya pada (datuknya) Adnan, Apabila telah sampai kepada Adnan maka berhentilah, (bahwa setelah Adnan,
banyak riwayat yang berbeda) dan ketahuilah bahwa nasabnya bersambung hingga
Ismail As (putra Ibrahim As) yang telah menjadi pendukung Ayahnya (Ibrahim As),

وَ حِينَمَا  حَمَلَتْ   بِهِ   آمِنَةٌ
لَمْ   تَشْكُ  شَيْئًا  يَأْ خُذُ   النِّسْوَ انَا
وَبِهَا  أَحَاطَ   اللُّطْفُ   مِنْ  رَ بِّ   السَّمَا
Dan ketika Aminah (ra) mengandungnya (saw) tidaklah Ia (Ibundanya ra)
merasa sakit sebagaimana keluhan wanita hamil,
Baginya (Aminah ra) selubung Kelembutan dari Allah Pemelihara Langit, hilanglah
 segala gangguan, kegelisahan dan kesedihan,
Kemudian ia (Aminah ra) menyaksikan sebagaimana yang telah diketahuinya, bahwa
Yang Maha Pemelihara telah memuliakan Alam Semesta

أَ قْصَى  اْلأَ ذَى  وَ الْهَمَّ   وَ اْلأَ حْزَ انَا
وَ رَ أَتْ   كَمَا  قَدْ  جَاءَ  مَا عَلِمَتْ   بِهِ
أَنَّ   الْمُهَيْمِنَ   شَرَّ فَ   اْلأَ  كْوَ انَا
بِالطُّهْرِ   مَنْ   فِي   بَطْنِهَا   فَاسْتَبْشَرَ تْ
وَ دَ نَا  الْمَخَاضُ   فَأُتْرِ عَتْ   رِ ضْوَ انَا
وَ  تَجَلَّتِ   اْلأَ  نْوَ ارُ   مِنْ    كُلِّ  الْجِهَاتِ   فَوَ قْتُ   مِيلاَ دِ   الْمُشَفَّعِ   حَانَا

Dengan kesucian bayi di dalam kandungannya, maka iapun bergembira ketika telah dekat saat saat kelahiran, maka berluapanlah limpahan keridhoan Nya,
(Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, 4X)

Maka Muncullah Cahaya Cahaya dari segala penjuru dan Detik Kelahiranpun tiba,

وَقُبَيْلَ   فَجْرٍ   أَبْرَ زَتْ   شَمْسُ  الْهُدَى
ظَهَرَ  الْحَبِيبُ   مُكَرَّ  مًا  وَ مُصَانَا

Beberapa saat sebelum terbitnya fajar Muncullah Matahari Hidayah, Lahirlah Sang Kekasih yang Termuliakan dan Terjaga,


سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُللهِ وَلاَ إلهَ  إِلاَ اللهُ وَاللهُ أَ كْبَرُ   أربعًا
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِـاللهِ الْعَلِيِّ الْعَطِيمِ  فِـي كُــلِّ لَـحْظَةٍ أَبَدًا
عَدَدَ خَلْـقِهِ وَرِضَا نَـفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْ شِهِ وَ مِدَادَ كَـلِمَاتِهِ.
صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد  صَلَّى الله عَلَيْهِ  وَسَلَّم

Bershalawat Allah kepada (Nabi) Muhammad
Bershalawat Allah padanya dan memberi salam sejahtera 3x)


يَا نَبِي  سَلاَ  مُ  عَلَيْكَ  يَا رَسُو ل   سَلاَ  مُ   عَلَيْكَ
يَا  حَبِيب  سَلاَ  مُ  عَلَيْك  صَلَو اتُ اللّه عَلَيْكَ

Wahai Nabi salam sejahtera bagimu,  Wahai Rasul salam sejahtera bagimu.
Wahai Kekasih salam sejahtera bagimu,  Shalawat Allah bagimu


أَبْرَ زَ    اللّهُ    الْمُشَفَّع  صَاحِبُ   الْقَدْ رِ   الْمُرَ  فَّع
فَمَلاَ   النُّو رُ   النَّوَ احِي عَمَّ   كُلَّ  الْكَوْنِ أَجْمَع

Telah tiba dengan kehendak Allah sang penberi syafa’at, Yang memiliki derajat yang dimuliakan.
Maka limpahan cahaya memenuhi segala penjuru, Meliputi seluruh alam semesta.

نُكِسَتْ    أَصْنَامُ    شِرْ كٍ  وَ بِنَا الشِّرْ كُ   تَصَدَّ ع
وَ  دَ نَا  وَ قْتُ   الْهِدَ ايَة  وَ حِمَى الْكُفْرِ تَزَعْزَ ع

Maka berjatuhanlah patung-patung berhala di ka’bah, Dan tumbanglah sendi-sendi kemusyrikan.
Maka dekatlah saat-saat petunjuk, Dan benteng kekafiranpun berguncang

مَرْ حَبًا  أَهْلاً  وَ سَهْلا  بِكَ   يَا  ذَا  الْقَدْرِ  اْلأَ رْ فَع
يَا إِمَامَ   اهْلِ   الرِّ سَالَة  مَنْ   بِهِ   اْلآ فَاتِ  تُدْ فَع

Salam sejahteralah atas kedatanganmu, Wahai sang pemilik derajat yang mulia.
Wahai Imam dan pemimpin para Rasul, Yang dengannya bencana-bencana terhapuskan.

أَنْتَ   فِي  الْحَشْرِ   مَلاَ ذٌ  لَكَ    كُلُّ   الْخَلْقِ   تَفْزَ ع
وَ يُنَادُ ونَ   تَرَ ى   مَا قَدْدَهَى مِنْ هَوْلٍ أَفْظَع

Engkaulah satu-satunya harapan di hari Qiamat, Kepadamulah seluruh

 ciptaan berlindung dari kemurkaan Allah.

طَلَعَ الْبَدْرُ  عَلَيْنَا  مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَ دَاع
وَ جَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا  مَا دَ عَا لِلّهِ دَاع

Kemudian mereka datang memanggil-manggilmu dengan penuh harapan,

 Ketika menyaksikan dahsyatnya kesulitan dan rintangan.

فَلَهَا  أَنْتَ  فَتَسْجُد  وَ تُنَادَ ى   أشْفَع   تُشَفَّع

Maka karena itulah engkau (SAW) bersujud kehadirat Tuhanmu,
Maka diserukan kepadamu berikanlah syafa’at, karena engkau diizinkan memberi syafa’at.

فَعَلَيْكَ   اللّهُ   صَلَّى    مَا بَدَ ى النُّو رُ  وَ شَعْشَع

Maka atasmu limpahan shalawat dari Allah, Selama

cahaya masih bersinar terang benderang.

وَ بِكَ   الرَّ حْمنَ   نَسْأَل وَ  أِلهُ   الْعَرْشِ   يَسْمَع

Dan denganmu (SAW) kami memohon kepada Ar Rahmaan,
Maka pencipta Arsy mendengar do’a kami.

يَا عَظِيمَ   الْمَنِّ   يَا رَ بّ شَمْلَنَا بِالْمُصْطَفَى اجْمَع
Wahai pemberi anugerah yang mulia, Wahai Tuhan,
Kumpulkanlah kami dengan AlMusthafa (SAW).

وَ بِهِ   فَا نْظُرْ إِلَيْنَا  وَ اعْطِنَا  بِه  كُلَّ   مَطْمَع

Dan demi Dia (SAW), maka pandanglah kami dengan kasih sayangmu,
Dan berilah kami segala yang kami inginkan.

وَ ا كْفِنَا  كُلَّ   الْبَلاَ  يَا وَ ادْ فَعِ اْلآ  فَاتِ   وَ ارْفَع

Dan hindarkanlah kami dari segala bencana, Dan jauhkanlah

segala kesulitan, dan angkatlah sejauh-jauhnya

رَبِّ  فَا غْفِرْ لِي  ذ ُنُو  بِـي  بِبَرْكَةِ  الْهَادِي  الْمُشَفَّع

Dan siramilah Wahai Tuhanku serta tolonglah kami
 .Dengan lebatnya curahan rahmat- Mu


وَ اسْقِنَا  يَا  رَبّ أَغِثْنَا  بِحَيَا  هَطَّالِ   يَهْمَع
وَ اخْتِمِ   الْعُمْرَ   بِحُسْنَى وَاحْسِنِ الْعُقْبَىوَمَرْجَع

Dan akhirilah usia kami dengan husnul khatimah,
Dan terimalah kami dengan baik saat kembali kepada- Mu 

وَ صَلاَ ةُ   اللّهِ   تَغْشَى مَنْ  لَهُ  الْحُسْنُ  تَجَمَّع

Dan terlimpahlah shalawat dari Allah,  Baginya (SAW) yang kepadanya terkumpul segala kebaikan.


أَ حْمَدَ   الطُهْرَ وَ آلِه  وَ الصَّحَابَة   مَالسَّنَا شَع

Ahmad yang tersuci serta keluarganya

Dan sahabatnya sebanyak pijaran cahaya.

اللهـم صـل وسـلم وبارك علـيه وعلـى آلـه

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam Sejahtera serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya,


***
Dikutip dari Kitab Maulid Dhiyaullami' susunan Habib Umar bin Hafiz
Read More

Seri Sirah Nabawiyah | Kenali Nasab dan Bagaimana Kisah Kelahiran Nabi Muhammad SAW

November 09, 2017 0

Tarbiyah.onlineAl Musthafa Muhammad SAW mempunyai nasab mulia melalui garis keturunan Nabiyullah Ismail anaknya Nabiyullah Ibrahim As. Sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Sesungguhnya, Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, kemudian memilih Hasyim dari Quraisy, dan memilih ku dari bani Hasyim.”

Allah telah memilih Nabi SAW dari kabilah yang paling bersih dan dari keturunan yang paling suci dan utama. Tidak ada sedikitpun “virus-virus” jahiliyah yang menjangkiti nasabnya.


Nasab Nabi Mulia

Nasabnya yang disepakati adalah; Muhammad bin Abdullah bin Abdullah bin Abdul Muththalib (namanya Syaibatul Hamd) bin Hasyim bin Abdi Manaf (namanya Mughirah) bin Qushayyi (namanya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Mu’iddu bin Adnan. Selebihnya, dari yang telah disebutkan, masih ada perselisihan diantara ulama ahli sirah. Akan tetapi, tiada perbedaan pendapat antara mereka bahwa Adnan adalah termasuk anak dari Nabi Ismail bin Ibrahim as.

Dalam zikr maulid yang disusun oleh ulama besar asal Yaman zaman ini Habib Umar bin Hafizh yang berjudul -Dhiyaul lami’ li maulidin nabiyyu syaafi’- (potongan sya’irnya terlampir pada artikel lain berjudul Sepotong Kisah Lahir Nabi di Dhiyaul Lami’) pun disebutkan bahwa cahaya kenabian telah turun temurun ditransfer melalui pribadi-pribadi agung nan terpandang di setiap generasi. Jika Abdullah ayah Nabi SAW dikenal kelembutan sikap, kegagahan serta ketampanannya, Abdul Muththalib dipercayai sebagai pemegang kunci Ka’bah yang sangat dihormati oleh masayarakat Arab dan pengunjung Ka’bah di masanya. Demikian halnya ayah dari Qushayyi, yang digelari sebagai Hakiim, orang terpandai dan bijak yang mempunyai pengaruh bagi kaumnya.

Bangsa Arab adalah anak keturunan dari Ismail bin Ibrahim As, sebagaimana diketahui kisah Nabi Ismail yang tumbuh besar dan hidup di Mekkah sebagai pusat permukiman dan peradaban Arab setelahnya. Maka tak heran jika millah dan minhaj Ibrahim dan Ismail masih mereka warisi. Agama yang lurus (hanif), itulah kenapa ibadah haji, umrah, thawaf, wuquf di Arafah dan qurban telah menjadi ritual keagamaan setiap tahunnya oleh bangsa Arab, bahkan sebelum Islam. Meskipun pada masa-masa tertentu, banyak praktik jahiliyah menyusup kedalam masyarakat dan diteruskan oleh generasi setelahnya. Dan disebutkan bahwa orang pertama yang mengajak kepada kemusyrikan dan menyembah berhala pertama adalah Amr bin Luhayyi bin Qam’ah. (Kisah tentangnya diceritakan khusus di judul Kakek Moyang Kaum Jahiliyah).

Tetap saja masih terdapat orang-orang yang bersih dari pengaruh Jahiliyah, walau sangat sedikit, yang berpegang teguh kepada tauhid (peng-Esaan ALLAH) dan berjalan sesuai syari’at Hanifiyah, yaitu dengan tetap beriman kepada adanya hari bangkit setelah mati, percaya adanya balasan berupa pahala (bagi perbuatan baik), dan dosa (bagi pekerjaan buruk/maksiat), dan mengingkari penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang Arab serta mengecam perilaku buruk juga kesesatan pikiran lainnya.


Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nabi SAW pernah berdiri diatas mimbar lalu bersabda,” “Siapakah aku?”, para sahabat menjawab, “Engkau adalah rasullullah. Semoga keselamatan atasmu.” Nabi kemudian bersabda,”Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk (manusia) kemudian Dia menjadikan mereka dua kelompok, lalu Ia menempatkan aku di dalam kelompok yang terbaik, kemudian menjadikan mereka beberapa kabilah dan menempatkan aku di kabilah yang terbaik. Kemudian Dia menjadikan mereka beberapa rumah dan menempatkan ku di dalam rumah yang terbaik dan paling baik jiwanya.”

Kelahiran Nabi Mulia

Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun Gajah, yakni tahun saat Abraham al-Asyram berusaha menyerang Mekkah dan ingin menghancurkan Ka’bah dikarenakan rasa iri dan dengki atas ketenaran Ka’bah yang mengalahkan kemegahan istananya di negeri Habasyah, dengan congkak dan sombongnya dia langsung memimpin ratusan tentara berkendara gajah untuk datang dan memporak-porandakan Mekkah dan seluruh isinya-. Namun Allah menggagalkannya melalui kejadian yang sangat ajaib dan mengagumkan, sebagaimana diceritakan dalam Al Qurran Surah al-Fil. Belakangan terdapat syubhat tentang kisah burung ababil yang diungkapkan Al Quran tersebut, dengan mengatakan pasukan gajah diserang virus dan flu. Syeikh Muttawalli asy-Sya’rawi (ulama terkemuka dari Mesir) dalam bukunya Muhammad Rasullullah (Kedudukan Nabi Muhammad-terj) mengatakan bahwa tuduhan tersebut menunjukkan kelemahan akal si penuduh. Karena Quran surah Al-Fil turun ditengah masayarakat Mekkah yang tentunya masih banyak diantara mereka yang hidup dan melihat sendiri bagaimana kejadian ajaib itu terjadi, dan tidak ada seorag pun dari mereka membantahnya.


Ada beberapa riwayat dan versi tentang tanggal kelahiran Nabi SAW. Menurut riwayat yang paling kuat, kelahiran Nabi Muhammad SAW jatuh pada senin malam, 12 rabi`ul awal. Maka tak heran, jika peringatan Maulid pun serentak dilakukan di tanggal tersebut. Mngenai hari, Senin adalah hari kelahiran beliau SAW seperti yang beliau SAW tegaskan sendiri dalam Hadits terkait puasa di hari senin yang ditanyakan oleh Sahabat. Jawaban beliau dengan tegas dan lugas, “senin adalah hari aku dilahirkan”.

Perlu diketahui juga, di masa tersebut, tidak ada pencatatan tanggal secara jelas. Juga bangsa Arab tidak mengenal pencatatan tahun secara jelas, karena Arab tidak tersentuh Romawi yang telah menanggalinya dengan kalender Masehi.

Bangsa Arab hanya mengingat tahun melalui kejadian besar yang terjadi di tahun itu dan menamai tahun tersebut dengan nama itu. Sebagaimana tahun gajah, namun bukan berarti mereka tidak mengetahui sistem penanggalan dan perhitungan bulan, karena mereka selalu menunaikan haji di saat musim haji yaitu Dzulqaidah dan Dzulhijjah.

Di malam kelahiran Nabi SAW, diceritakan bahwa terpancar cahaya yang sangat indah nan terang hingga penjuru langit kota Mekkah, dan setiap berhala yang  mengelilingi Ka’bah terjatuh telungkup tanpa ada sebab angin maupun badai. Demikian juga api sembahan yang telah menyala dan tak pernah padam selama seribu tahun, padam hilang cahayanya, dan membuat seluruh istana Kisra di Persia panik. Juga kursi kebesaran Kaisar runtuh di Kejadian tersebut disebutkan sebagai tanda akan binasanya kejahiliyahan dan kemusyrikan. Dan cahaya Islam akan memancar ke seluruh penjuru dunia.

Nabi Muhammad SAW lahir dari rahim Aminah binti Wahab disaat menjelang fajar dalam keadaan yatim. Sebab Abdullah ayahnya telah meninggal ketika Nabi Muhammad masih dalam kandungan Aminah sang ibunda. Aminah dijaga dan sangat disayang oleh Abdul Muththalib dan juga saudara-saudara Abdullah lainnya. Terlihat jelas bagaimana Abu Lahab, paman nabi (yang di kemudian hari memusuhi Nabi) ikut bersenang hati atas keahiran keponakannya, dengan memerdekakan seorang budaknya, sebagaimana hadits riwayat Muslim dari ‘Abbas Ra. Beliau yang Mulia lahir dalam keadaan telah berkhitan dan posisi bersujud (telungkup) yang mensyaratkan rasa malu beliau akan aurat.

Bahkan semasa ibunda Aminah mengandung, tidak ada kesusah dan kepedihan berarti yang dialami oleh ibunda. Kesedihannya atas meninggalnya suami tercinta Abdullah, terobati dengan tanda-tanda kenabian yang dirasakan oleh Aminah sejak mengandung. Ia merasakan sesuatu yang spesial dari yang dikandungnya.



Demikianlah kisah singkat Nasab dan Kelahiran Nabi Mulia Muhammad SAW.

****
Dikutip dari Buku Sirah Nabawiyah susunan Syeikh Sa'id Ramadhan Al Buthi, Kedudukan Muhammad SAW susunan Syeikh Mutawalli asy- Sya'rawi dan Dhiyaul lami' bi Maulidin Nabi Syaafi' susunan Habib Umar bin Hafizh.
Read More