TARBIYAH ONLINE: maulid nabi

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Showing posts with label maulid nabi. Show all posts
Showing posts with label maulid nabi. Show all posts

Wednesday, November 29, 2017

Dalil Hukum Merayakan Maulid

November 29, 2017 0
Sudah menjadi rutinitas dan polemik setiap tahun, ketika mendekati bulan Rabiul Awal, diskusi hingga debat terjadi di hampir setiap lini kehidupan masyarakat akan kesahihan perkara perayaan maulid nabi SAW. Pertanyaan yang muncul selalu berkenaan dengan hukum perayaan Maulid dimulai dari boleh tidaknya. Hingga bentuk perayaan yang bagaimana.

Banyak ulama yang telah menjelaskan hukum maulid dari hampir setiap generasi. Sebenarnya polemik ini semestinya tidak lagi menjadi perbincangan yang membuat hubungan antar muslim retak. Namun, apa mau dikata, demikianlah kondisi umat di setiap masa yang mempertanyakan suatu kasus yang sejatinya telah tunas dibahas oleh generasi awal.



Secara nalar, mengingat keberadaan dan kewujudan seseorang yang sangat kita cintai merupakan salah satu bentuk cinta dan penghormatan. Adakah ia bersifat tahunan, bulanan, mingguan harian, atau bahkan setiap saat. Tentunya itu bergantung kepada kondisi kecintaan. Demikian pula bentuk penghormatan dan kecintaan yang dilakukan, bisa beragam, selama pekerjaan itu merupakan hal yang disukai oleh yang dicinta.

Dalam sirah, diceritakan bagaimana salah satu ekspresi cinta yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap istri pertamanya Khadijah al Kubra binti Khuwailid R.A. Beliau SAW sering mengunjungi untuk sekedar bersilaturrahim terhadap kerabat istri tercintanya, membagikan makanan kepada mereka dan hal lainnya. Padahal ketika itu Khadijah R.A telah meninggal. Namun kecintaan Nabi SAW kepadanya tidak luntur sedikit pun. Pada kesempatan lain, Nabi SAW terkenang kepada perjalanan hidup yang mereka berdua lalui semasa istrinya hidup. Mengingat pahit dan manisnya perjuangan bersama-sama dahulu. Itulah salah satu ekspresi cinta yang ditunjukkan Nabi SAW kepada istrinya yang  telah mendahuluinya untuk berjumpa Rabb SWT.

Maka, iman  yang sehat dan nalar yang cemerlang menuntut kita untuk terus mengingat dan mengenang kisah hidup serta kebesaran cinta rahmat yang disebarkan oleh Nabi SAW selaku manusia yang seharusnya paling dicintai. Bahkan melebihi cinta kepada pasangan, orangtua ingga diri sendiri. Cukuplah sebagai dalil hadits riwayat Imam Bukhari, saat Umar bin Khattab R.A mendatangi Nabi SAW dan berkata,” Wahai Rasulullah, engkau lebih kucintai daripadda segala sesuatu kecuali diriku sendiri. Maka Rasulullah bersabda,”Tidak sempurna iman salah satu diantara kalian hingga aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri.” Umar pun tersadar dan berucap, “Sekarang, demi Allah sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Lalu beliau SAW bersabda,”Sekarang wahai Umar, cintamu telah sempurna.”

Bahkan Ulama besar dari mazhab Hanbali yaitu Ibn Rajab al Hanbali berkata,”Mencintai Rasulullah SAW termasuk dari prinsip-prinsip iman. Mencinai beliau berarti sama dengan mencintai Allah SWT. Sungguh Allah telah menyertakan cinta kepada-Nya dengan cinta kepada Nabi SAW. Serta mencela orang-orang yang mengedepankan cita kepada harta, keluarga, kerabat, tanah air dan lainnya. Sebagaimana tertera dalam AL Quran sura taubah ayat 24.”

Salah seorang ulama besar dari Al Azhar, Mesir, Syeikh Ali Jum’ah yang pernah menduduki jabatan Mufti negara Mesir pun tak absen menjadi target penanya. Beliau dengan tegas mengatakan, ”Peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW adalah amalan yang paling utama dan termasuk ibadah paling agung, karena hal tersebut adalah ekspresi kegembiraan dan cinta kepada Beliau. Dan cinta kepada Rasulullah adalah prinsip dari semua dasar iman.”
Memang tidak ada sebuah dalil khusus yang menyatakan “Peringatilah oleh kalian akan hari lahir ku.” Atau yang senada dengannya. Hanya saja, banyak sekali hadits maupun ayat yang secara umum dan memiliki kaitan erat dengan melakukan suatu ibadah khusus dengan sebab cinta, gembira dan rasa syukur.
Diantaranya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Dari Umar bin Khattab R.A ia berkata, “Nabi SAW ditanya mengenai puasa di hari senin. Beliau SAW lantas menjawabm “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan, dan hari dimana aku diutus menjadi Rasul (atau hari pertama aku mendapat wahyu).”
Dalam hadits tersebut terdapat isyarat yang sangat tampak bahwa Rasul SAW bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kelahirannya ke dunia ini dengan cara berpuasa di hari Senin. Nabi SAW merayakan hari lahirnya setiap Senin dengan cara berpuasa. Itu adalah bentuk syukur beliau. Namun yang demikian bukan berarti memperingati kelahiran Nabi SAW hanya dilakukan dengan cara berpuasa. Karena, ulama terdahulu sejak aabad keempat hijrah, telah mengadakan perayaan maulid, dengan melakukan berbagai macam ibadah. Seperti memberi makan, membaca alQuran, berzikir, serta melantunkan sya’ir yang berisikan pujian kepada Nabi SAW. Realitas ini diungkap oleh banyak sekali ulama pakar sejarah, seperti Ibnul Jauzi, Ibn Katsir, Al Hafizh Ibn Dhihyah al Andalusi, Al Hafizh Ibn Hajar Al Asqalani dan ulama hadits Imam As-Shuyuthi. Rahimahumullahu ajma;in.
Ibn Hajar Al Asqalani menjadikan hadits Nabi SAW tentang puasa Asyura yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim sebagai dalil kebolehan dan kesunnahan Maulid. ”Suatu ketika Nabi SAW datang ke Madinah dan menjumpai orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyura, yaitu 10 Muharam. Beliau SAW lalu bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab, “ini adalah hari dimana Allah menenggelamkan Fir’un dan menyelamatkan Musa. Maka kami berpuasa pada hari ini karena bersyukur kepada Alah SWT.”
Foto Saief Alemdar.
Dari hadits tersebut, kata Ibn Hajar, “Dapat diambil faedah tentang amalan sebagai wujud syukur kepada Allah atas apa yang Dia anugerahkan pada hari tertentu dengan diberi nikmat atau terolajkna suatu bencana. Dan amalan itu diulani setiap tahunnya di hari/anggal yang sama. Bentuk syukur dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti bersujud, puasa, sedekah dan membaca Al Quran. Selama itu adalah bentuk ibadah. Dan tentu saja, nikmat apa yang lebih agung daripada nikmat kehadiran dan kewujudan Rasulullah Muhammad SAW sang pembawa rahmat?.”

Sebagian ulama pakar fiqh bahkan menuliskan kitab mengenai kesunnahan dan keharusan melakukan perayaan maulid. Mereka memaparkan dalil-dalil dalam kitabnya. Seperti kitab Al- Madkhal yang ditulis ulama dari mazhab Maliki Ibn Hajj. Menuliskan secara panjang lebar mengenai keistimewaan dan keutamaan perayaan maulid.
Foto Saief Alemdar.
Dalam mazhab Syafi’i, Imam As-Suyuthi bahkan menulis kitab khusus berjudul Husn al Maqashiq fi ‘Amal al Maulid. Didalam sana mbeliau menjawab pertanyaan secara lugas, “Apa hukum perayaan Maulid secara syari’ah, terpuji atau tercela, pelakunya mendapatkan pahala atau malah dosa karena bid’ah?”
Singkatnya, Imam As-Suyuti berkata, ”Perayaan Maulid tidak bertentangan dengan Quran, Sunnah, Atsar dan Ijma’. Perayaan ini tidak tercela, sebagaimana dikatakan oleh Imam Syafi’i (yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi,”Perkara baru dalam agama ada dua macam. Pertama dibuat idak sesuai Quran, Sunnah Atsar dan Ijma’, maka itu adalah bid’ah yang tercela. Kedua perkara baru yang baik, yang tidak ditentang seorang pun, maka hal ini tidak tercela. Sebagaimana Ijma’Sahabat atas perkara baru yang dilakukan Khalifah Umar tentang Shalat malam di bulan ramadhan.) ia adalah perkara baik yang belum dikenal di awal-awal islam. Sesungguhnya bersedekah makanan yang tidak dibarengi dengan perbuatan dosa adalah perbuatan baik. Karena itu Maulid dianggap sebagai bid’ah (perkara baru) yang disunnahkan, sebagaimana pernyataan Sultanul Ulama, imam ‘Izzuddin bin Abdussalam.”

Ulama besar masa ini seperti Abuya Sayyid Alwi Al Maliki rahimahullah mengajukan satu soalan kepada orang yang mempertanyakan dalil peringatan dan perayaan Maulid Nabi SAW, “Adakah kalian mempertanyakan dan melarang kami memperingati dan merayakan hari yang menjadi sebab kita semua mengenal dan beribadah kepada Allah SWT? Sungguh Kelahiran Nabi SAW adalah sebab awal adanya ajaran Islam yang mengajak kita kepada Tauhid dan mengenalkan kita kepada rahmat.”

Syeikh Sa’id Muhammad Ramadhan Al Buthi rahimahullah pun terheran kepada orang-orang yang mencela peringatan Maulid Nabi SAW dengan pernyataan yang hampir sama, ”Memperingati Maulid adalah salah satu ekspresi cinta. Mengkhususkan suatu waktu dari kesibukan pikiran untuk menginga, mengenang dan kembali mengenal bagaimana Teladan terbaik itu hidup. Serta mensyukuri atas segala nikmat yang Allah berikan bersebab darinya. Bukankah Islam dan Tauhid adalah nikmat terbesar yang tiada banding? Lalu dimana letak salahnya memperingati kewujudan pembawa nikmat itu?”
Syeikh Atthiyah Saqqar rahimahullah yang merupakan manan ketua komisi fatwa Azhar berujar dengan pertimbangan keadaan sosial saat ini, “Menurut saya, perayaan Maulid itu boleh dan harus. Menimbang, generasi muda saat ini semakin jauh dengan agama dan pengetahuan akan keteladanan yang luhur. Maka Maulid akan menjadi momentum baginya untuk mengenal Teladan yang terbaik sepanjang zaman (Rasulullah SAW). Dan pun, saat ini betapa banyak perayaan-perayaan yang menyesatkan yang tidak punya nilai islami sedikit pun bahkan telah menghijabi perayaan-perayaan besar dalam Agama Islam. Maka perayaan Maulid dinilai harus diadakan setidaknya setiap tahunnya.”
Foto Saief Alemdar.

Pembacaan kitab Syamail Muhammadiyah

Yang harus diingat, bahwasanya Peringatan Maulid Nabi SAW setahun sekali adalah salah satu bentuk ekspresi cinta dan rindu kepada Beliau SAW. Ia harus diisi dengan berbagai ibadah. Seperti sedekah kepada fakir miskin, memberi makan kepada kekasih Rasulullah (anak yatim) dan kaum muslimin umumnya, berkumpul dengan para waris Nabi yaitu para ‘alim ulama, berzikir memuji mengingat Allah, membaca Al Quran, atau berpuasa, bersujud syukur atas nikmat, mempelajari ilmu agama dan memperdalam pengetahuan tentang Rasulullah juga membacakan sya’ir berupa pujian atas keindahan Rasulullah. Itu semua adalah ibadah yang tentu nilainya baik.

Terakhir. Kadang ada pertanyaan nakal yang menjerat pikiran, “Kenapa harus setahun sekali mengekspresikan cinta kepada Nabi SAW. Seharusnya kan setiap saat?” Ya. Pertanyaan tersebut benar adanya. Dan jawabannya sudah tentu, kita harus mencintai Nabi SAW di setiap denyut jantung. Karena ia adalah prinsip iman. Sesaat ia menghilang, sesaat itu pula iman akan menjadi goyah. Hanya saja, bukankah ketika suatu waktu yang dapat mengingatkan kita kepada sebuah nikmat yang besar yang pernah terjadi, akan menambah rasa rindu yang lebih besar dan semakin kuat? Maka bagi yang mencintai Nabi SAW dan mengetahui kelahirannya di tanggal 12 rabiul awal, tentu akan memaknai tanggal itu sebagai sebuah tanggal dan hari yang besar serta istimewa. Karena sekuntum memori akan menancap semakin dalam bersebabkan ziarah tempat dan pengulangan waktu.

Bagi yang pernah merasakan cinta dan sering diselimuti rindu, tentu tahu bagaimana besar pengaruh pengulangan waktu dan jejak tempat. Demikian untuk melengkapi pertnyataan para ulama yang ‘arif yang hatinya selalu dekat dengan zikir kepada Allah, yang statusnya adalah pewaris Nabi yang keilmuannya telah diakui oleh dunia.

Disadur dari berbagai referensi:
Terutama Kitab Al Bayaan Li Maa Yasyghal al Adzhaan & Al Mutasyaddidun Manhajuhum wa Munaqasyatu Ahammi Qadhayaahum karya Syeikh Ali Jum’ah (Terj).

Ceramah Syeikh Ramadhan Al Buthi dan Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki di Youtube.
Foto bersumber dari Facebook dan Google
Read More

Thursday, November 23, 2017

Terjemahan Kitab Syamail Muhammadiyah Bag.4 (Ikhtishar)

November 23, 2017 0


عن أبيه، «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يلعق أصابعه ثلاثا»

"Sesungguhnya Nabi saw. menjilati jari jemarinya (sehabis makan) tiga kali."
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dariSa'id bin Ibrahim, dari salah seorang anak Ka'ab bin Malik, yang bersumber daribapaknya.)

عن أنس قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أكل طعاما لعق أصابعه الثلاث».

"Bila Nabi saw. selesai makan, beliau menjilati jari jemarinya yang tiga*."
(Diriwayatkan oleh al Hasan bin `Ali al Khilali, dari `Affan, dari Hammad bin Salamah, dariTsabit, yang bersumber dari Anas r.a.)

*Yang dimaksud jari yang tiga ,yakni: jari tengah, jari telunjuk dan ibu jari.

24. JENIS ROTI YANG DIMAKAN RASULULLAH

عن عائشة، أنها قالت: «ما شبع آل محمد صلى الله عليه وسلم من خبز الشعير يومين متتابعين حتى قبض رسول الله صلى الله عليه وسلم».

"Keluarga Nabi saw. tidak pernah makan roti sya'ir* sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga Rasulullah saw. wafat."
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dan diriwayatkan pula oleh Muhammad binBasyar, keduanya menerima dari Muhammad bin Ja'far, dari Syu'bah, dari Ishaq, dari`Abdurrahman bin Yazid, dari al Aswad bin Yazid*, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

*Sya'ir, khintah dan bur, semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indinesia dengan"gandum" sedangkan sya'ir merupakan gandum yang paling rendah mutunya. Kadang kala ia dijadikan makanan ternak, namun dapat pula dihaluskan untuk makanan manusia. Roti yangterbuat dari sya'ir kurang baik mutunya.
*Abdurrahman bin Yazid dan al Aswad bin Yazid bersaudara, keduanya rawi yang tsiqat.

عن أنس قال: «ما أكل رسول الله صلى الله عليه وسلم على خوان ولا أكل خبزا مرققا حتى مات».

"Rasulullah saw. tidak pernah makan di atas meja dan tidak pernah makan roti gandum yang halus, hingga wafatnya." 
(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari'Abdullah bin `Amr –Abu Ma'mar-,dari `Abdul Warits, dari Sa'id bin Abi `Arubah, dari Qatadah, yang bersumber dari Anasr.a.)

25. LAUK PAUK YANG DIMAKAN RASULULLAH

عن عائشة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «نعم الإدام الخل»
قال عبد الله بن عبد الرحمن، في حديثه: «نعم الإدام أو الأدم الخل».

"Sesungguhnya Rasulullah bersabda: "Saus yang paling enak adalah cuka." 
`Abdullah bin `Abdurrahman berkata :"Saus yang paling enak adalah cuka."  
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin `Askar dan `Abdullah bin `Abdurrahman,keduanya menerima dari Yahya bin Hasan, dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

عن أبي أسيد قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «كلوا الزيت وادهنوا به؛ فإنه من شجرة مباركة».

"Rasulullah saw. bersabda :"Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi."
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, daari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkanpula oleh Abu Nu'aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ` Abdullah bin `Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha', yang bersumber dari Abi Usaid r.a.)

عن أنس بن مالك قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يعجبه الدباء فأتي بطعام، أو دعي له فجعلت أتتبعه فأضعه بين يديه لما أعلم أنه يحبه».

"Nabi saw. menggemari buah labu. maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu, atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya.
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja'far, dan diriwayatkan pula oleh `Abdurrahman bin Mahdi, keduanya menerima dari Syu'bah, dari Qatadah yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

عن عائشة قالت: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يحب الحلواء والعسل»

"Nabi saw. menyenangi kue-kue manis (manisan) dan madu."
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ibrahim ad Daruqi, juga diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib dan diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, mereka menerimanya dari AbuUsamah, dari Hisyam bin `Urwah yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

عن أبي هريرة قال: «أتي النبي صلى الله عليه وسلم بلحم فرفع إليه الذراع وكانت تعجبه فنهس منها».

"Nabi saw. diberi makan daging, maka diambilakn baginya bagian dzir'an.*
Bagian dzir'an kesukaannya. Maka Rasulullah saw. Mencicipi sebagian daripadanya. "
(Diriwayatkan oleh Washil bin `Abdul A'la, dari Muhammad bin Fudlail, dari Abi Hayyan at Taimi, dari Abi Zar'ah, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)

*Dzir'an adalah bagian tubuh binatang dari dengkul sampai bagian kaki.

سمعت عبد الله بن جعفر يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إن أطيب اللحم لحم الظهر».

"Daging yang paling baik adalah punggung." 
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad, dari Mis'ar, dari Syaikhan, dari Fahm,* yang bersumber dari `Abdullah bin Ja'far r.a.)

*Namanya adalah Muhammad bin `Abdullah, disebut pula Muhammad bin

`Abdurrahman, juga disebut Abu Hay.

26. WUDHU' RASULULLAH

عن سلمان قال: قرأت في التوراة أن بركة الطعام الوضوء بعده، فذكرت ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم، وأخبرته بما قرأت في التوراة، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «بركة الطعام الوضوء قبله والوضوء بعده».

"Kubaca dalam Taurat bahwa berkah makanan itu karena berwudlu sebelum makan dan berwudlu sesudahnya". Hal tersebut kukatakan kepada Nabi saw., dan kukabarkan apa yang pernah kubaca dalam Taurat itu, maka Rasulullah saw. Bersabda :"Berkah makanan itu disebabkan berwudlu sebelum makan serta sesudahnya." 
(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari `Abdullah bin Numair, dari Qais bin Rabi'. Hadist inipun diriwayatkan pula oleh Qutaibah, dari `Abdul Karim al Jurjani, kedua riwayat itu bersumber dari Qeis bin Rabi', dari Abi Hisyam Adahzadan yang bersumber dari Salman r.a.)


27. DOA SEBELUM DAN SESUDAH MAKAN RASULULLAH

عن أبي أيوب الأنصاري قال: كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم يوما، فقرب طعاما، فلم أر طعاما كان أعظم بركة منه، أول ما أكلنا، ولا أقل بركة في آخره، فقلنا: يا رسول الله، كيف هذا؟ قال: «إنا ذكرنا اسم الله حين أكلنا، ثم قعد من أكل ولم يسم الله تعالى فأكل معه الشيطان».

"Pada suatu hari, kami berada di rumah Rasulullah saw., maka Beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak mengetahui makanan yang paling besar berkahnya pada saat kami mulai makan dan tidak sedikit berkahnya di akhir kami makan." 
Abu Ayub bertanya : "Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya hal ini bisa terjadi?" Rasulullah saw. bersabda :"Sesungguhnya kami membaca nama Allah waktu akan makan, kemudian duduklah seseorang yang makan tanpa menyebut nama Allah, maka makannya disertai syetan."
(Diriwayatkan oleh Qutaibah Dari Ibnu Luhai'ah, dari Yazid bin Abi Habib, dari Rasyad binJandal al Yafi'I, dari Hubeib bin Aus, yang bersumber dari Abu Ayub al Anshari r.a.)

عن عائشة، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إذا أكل أحدكم فنسي أن يذكر الله تعالى على طعامه فليقل: بسم الله أوله وآخره».

"Rasulullah saw. bersabda :"bila salah seorang dari kalian makan, tapi lupa menyebut nama Allah atas makanan itu, maka hendaklah ia membaca :"Bismillahi awwalahu wa akhirahu." (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya). 
(Diriwayatkan oleh Yahya bin Musa, dari abu Daud, dari Hisyam ad Distiwai, dari Budail al `Aqili, dari `Abdullah bin `Ubaid bin `Umair, dari Ummu Kultsum, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

عن أبي سعيد الخدري قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من طعامه قال: «الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وجعلنا مسلمين».

"Apabila Rasulullah saw. selesai makan, maka Beliau membaca : "Alhamdulillahilladzi ath'amana wa saqana wa ja'alana muslimin." (Segala puji bagi Allah Yang memberi makan kepada kami, memberi minum kepada kami dan menjadikan kami orang-orang islam). 
(Diriwayatkan oleh Mahmud Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubairi, dari Sufyan as Tsauri, dari Abu Hasyim, dari Ibnu Isma'il bin Riyah, dari bapaknya (Riyah bin `Ubaid), yang bersumber dari Abu Sa'id al khudri r.a.) 

عن أبي أمامة قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا رفعت المائدة من بين يديه يقول: «الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه غير مودع ولا مستغنى عنه ربنا».

"Adapun Rasulullah saw., bila hidangan makan telah diangkat dari hadapannya,maka beliau membaca :"Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ghaira muwadda'iw wa la mustaghnan `anhu Rabbana." (Segala puji bagi Allah, puji yang banyak tiada terhingga. Puji yang baik lagi berkah padanya.Puji yang tidak pernah berhenti. Dan puji tidak akan mampu lisan menuturkannya, ya Allah Rabbal `Alamin).
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Yahya bin Sa'id, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma'dan yang bersumber dari Abu Umamah r.a.)

28. TEMPAT MINUM RASULULLAH

عن ثابت قال: أخرج إلينا أنس بن مالك، قدح خشب غليظا مضببا بحديد فقال: «يا ثابت، هذا قدح رسول الله صلى الله عليه وسلم».

"Anas bin Malik r.a. memperlihatkan kepada kami tempat minuman yang terbuat dari kayu. Tempat minuman itu tebal dan dililit dengan besi". kemudian Anas r.a. menerangkan : "Wahai Tsabit! Inilah tempat minum Rasulullah saw." 
(Diriwayatkan oleh al Husain bin al Aswad al Baghdadi, dari `Amr bin Muhammad, dari `Isa bin Thuhman, yang bersumber dari Tsabit r.a.)

عن أنس قال: «لقد سقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم بهذا القدح الشراب كله، الماء والنبيذ والعسل واللبن».

"Sungguh ke dalam cangkir ini telah kutuangkan berbagai minuman untuk Rasulullah saw., baik itu air, nabidz*, madu ataupun susu." 
(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid dan Tsabit, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

*Nabidz adalah air kurma, yakni beberapa biji kurma dimasukkan ke dalam air kemudian dibiarkan (semalam) sampai airnya terasa manis.
*Anas bin malik pernah melayani Rasulullah selama 10 tahun.

Baca juga Bagian Pertama

29. BUAH-BUAHAN YANG DIMAKAN RASULULLAH

عن عبد الله قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يأكل القثاء بالرطب».


"Nabi saw. memakan qitsa* dengan kurma (yang baru masak)." 
(Diriwayatkan oleh Isma'il bin Musa al Farazi, dari Ibrahim bin Sa'id, dari ayahnya yang bersumber dari `Abdullah bin Ja'far r.a.)

*Qitsa adalah sejenis buah-buahan yang mirip mentimun tetapi ukurannya lebih besar (Hirbis) 

عن عائشة: «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يأكل البطيخ بالرطب».

"Sesungguhnya Nabi saw. memakan semangka dengan kurma (yang baru masak).” 
(Diriwayatkan oleh `Ubadah bin `Abdullah al Khaza'i al Bashri, dari Mu'awiyah bin Hisyam, dari Sufyan, dari Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

Baca juga bagian kedua

30. MINUMAN RASULULLAH

عن عائشة، قالت: «كان أحب الشراب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم الحلو البارد».

"Minuman yang paling disukai Rasulullah saw. adalah minuman manis yang dingin." 
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Sufyan, dari Ma'mar, dari Zuhairi, dari `Urwah, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

31. CARA MINUM RASULULLAH

عن ابن عباس: «أن النبي صلى الله عليه وسلم شرب من زمزم وهو قائم».

"Sesungguhnya Rasulullah saw. minum air zamzam sambil berdiri."
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani', dari Husyaim, dari `Ashim al Ahwal dan sebagainya, dari Sya'bi, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

عن جده قال: «رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يشرب قائما وقاعدا».

"Aku melihat Rasulullah saw minum dengan berdiri dan duduk"
(Diriwayatkan oleh Qutaibah dari Muhammad bin Ja'far dari Husain dari Ma'mar dari ayahnya dari kakeknya )

عن أنس بن مالك، أن النبي صلى الله عليه وسلم: كان يتنفس في الإناء ثلاثا إذا شرب، ويقول: «هو أمرأ وأروى».

"Sesungguhnya Rasulullah saw. menarik nafas tiga kali pada bejana bila Beliau minum. Beliau bersabda :"Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan." 
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin Hammad, keduanya menerima dari `Abdul Warits bin Sa'id, dari Abi `Ashim, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
Read More

Terjemahan Kitab Syamail Muhammadiyah Bag.3 (Ikhtishar)

November 23, 2017 0


عن أبي هريرة قال: «ولا رأيت شيئا أحسن من رسول الله صلى الله عليه وسلم كأن الشمس تجري في وجهه، وما رأيت أحدا أسرع في مشيته من رسول الله صلى الله عليه وسلم كأنما الأرض تطوى له إنا لنجهد أنفسنا وإنه لغير مكترث».

"Tiada satupun kulihat lebih indah daripada Rasulullah saw., seolah-olah mentari beredar di wajahnya. Juga tiada seorangpun yang kulihat lebih cepat jalannya daripada Rasulullah saw., seolah-olah bumi ini dilipat-lipat untuknya. Sungguh, kami harus bersusah payah melakukan hal itu, sedangkan Rasulullah saw. Tidak memperhatikan. "
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dari Ibnu Luhai'fah, dari Abi Yunus, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)

عن علي بن أبي طالب قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا مشى تكفأ تكفؤا كأنما ينحط من صبب».

"Bila Nabi saw. berjalan, maka ia berjalan dengan merunduk seakan-akan jalanan menurun." 
(Diriwayatkan oleh Shufyan bin Waki', dari ayahnya, dari al Masudi, dari `Utsman bin Muslim bin Hurmuz, dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im, yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib r.a.)
19 . KAIN PENYEKA RASULULLAH

عن أنس بن مالك قال: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكثر القناع كأن ثوبه ثوب زيات».

"Rasulullah saw. sering menyeka (minyak di kepalanya), seakan-akan kain penyeka kepalanya seperti kain penyeka tukang minyak."
(Diriwayatkan oleh Yusuf bin `Isa, dari Waki', dari Rabi' bin Shabih, dari *Yazid bin Aban ar Raqasi, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

*Yazid bin Aban ar Raqasy dikenal sebagai orang yang dinilai mungkar periwatannya. Hadits ini sangat berlawanan dengan hadist Shahih, yang menerangkan tentang kebersihan dan penampilan terpuji dari Rasulullah saw. (Muhammad `Afif az Za'bi)


20. SIKAP DUDUK RASULULLAH 

أنها رأت رسول الله صلى الله عليه وسلم في المسجد وهو قاعد القرفصاء قالت: «فلما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم المتخشع في الجلسة أرعدت من الفرق».

"Ia (Qabilah) melihat Rasulullah saw. di masjid sedang duduk *qurfasha."
Qabilah berkata :"Manakala aku melihat Rasulullah saw. sedang duduk dengan khusyu', maka akupun dibawa oleh perasaan takjub karena wibawanya." 
(Diriwayatkan oleh'Abd bin Humaid, dari `Affan bin Muslim, dari `Abdullah bin Hasan, dari kedua orang anaknya, yang bersumber dari Qabilah binti Makhramah)

• Duduk Qurfasha yakni duduk bertumpu pada pinggul, kedua paha merapat ke perut dan tangan memegang betis.

عن عمه، «أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى».

"Sesungguhnya ia melihat Rasulullah saw. berbaring telentang di masjid, dan salah satu kakinya ditumpangkan pada kaki lainnya." 
(Diriwayatkan oleh Sa'id bin `Abdurrahman al Makhzumi dan lainnya, mereka menerima dari Sufyan, dari Zuhri, dari `Abbad bin Tamim yang bersumber dari pamannya*)

*Ia adalah `Abdullah bin Zaid bin `Ashim bin Muhammad, ia adalah seorang sahabat dan dikatakan bahwa ia yang membunuh Musailamah al Kadzdzab (Nabi palsu)


عن جده أبي سعيد الخدري قال: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا جلس في المسجد احتبى بيديه».
 "Apabila Rasulullah saw. duduk di *masjid, maka ia duduk secara *ihtiba dengan kedua tangannya." 

(Diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib, dari `Abdullah bin Ibrahim al Madini, dari Ishaq bin Muhammad al Anshari, dari Rabih bin `Abdurrahman bin Abi Sa'id, dari bapaknya yang bersumber dari kakeknya Abi Sa'id al Khudri r.a)

*Ihtaba adalah duduk Qurfasha sambil bersandar

21. TEMPAT BERSANDAR RASULULLAH

عن جابر بن سمرة قال: «رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم متكئا على وسادة على يساره».

"Aku pernah melihat Rasulullah saw. duduk bertelekan pada sebuah bantal di sebelah kirinya." 
(Diriwayatkan oleh `Abbas bin Muhammad ad Dauri al Baghdadi, dari Ishaq bin Manshur, dari Israil, dari simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)

عن علي بن الأقمر قال: سمعت أبا جحيفة يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لا آكل متكئا».

"Rasulullah saw. bersabda : "Aku tak mau makan sambil bertelekan/ bersandar"
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari `Ali bin al `Aqmar, yang bersumber dari Abu Juhaifah r.a.)

عن جابر بن سمرة قال: «رأيت النبي صلى الله عليه وسلم متكئا على وسادة»

"Aku melihat Rasulullah saw. duduk bertelekan pada sebuah bantal."
(Diriwayatkan oleh Yusuf bin `Isa, dari Waki', dari Ismail, dari Simak bin Harb, yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.)

Baca juga bagian kedua

22. CARA RASULULLAH BERSANDAR

عن أنس: «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان شاكيا فخرج يتوكأ على أسامة بن زيد وعليه ثوب قطري قد توشح به فصلى بهم».

"Sesungguhnya Nabi saw. sedang dalam keadaan sakit. Beliau keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada Usamah bin Zaid. Waktu itu beliau memakai kain Qithri (buatan Qatar) yang diselempangkan. Kemudian Beliaushalat bersama mereka (para sahabat)." 
(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari `Amr `Ashim, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, yang bersumber dari Anas r.a.)

، عن الفضل بن عباس قال: دخلت على رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه الذي توفي فيه وعلى رأسه عصابة صفراء فسلمت عليه، فقال: «يا فضل» قلت: لبيك يا رسول الله قال: «اشدد بهذه العصابة رأسي» قال: ففعلت، ثم قعد فوضع كفه على منكبي، ثم قام فدخل في المسجد 

"Aku masuk ke rumah rasulullah saw. tatkala beliau sedang sakit yang membawa ajalnya. Di kepalanya ada balutan kain kuning. Kepadanya kuucapkan salam, kemudian beliau bersabda : "Wahai Fadhal, apa kabarmu?" Aku menjawab : "Baik wahai Rasulullah !" Rasulullah bersabda : "Kuatkan balutan yang ada di kepalaku ini !" Fadlal meneruskan ceritanya :"Maka kulakukan perintah Rasulullah saw. itu. Kemudian beliau duduk, lalu meletakkan tangannya di atas bahuku, kemudian beliau berdiri lalu masuk ke masjid."

( Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Muhammad bin al Mubarak, dari `Atha'bin Muslim al Khaffaf al Halabi,dari Ja'far bin Furqan, dari *`Atha' bin Abi Rabbah,yang bersumber dari 
*al Fadlal bin `Abbas r.a.)

*Al Fadlal bin `Abbas r.a. adalah sahabat yang masyhur, ia adalah anak sulung `Abbas r.a.
(paman Rasulullah saw.)
*'Atha' bin Muslim al Khaffaf al Halabi, di dha'ifkan oleh Abu Daud, dan menurut Abu Hatim
tidak boleh dipakai hujjah periwayatannya.
Read More

Terjemahan Kitab Syamail Muhammadiyah Bag.3 (Ikhtishar)

November 23, 2017 0

11. CINCIN RASULULLAH

عن أنس بن مالك قال: «كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من ورق، وكان فصه حبشيا».

"Cincin Rasulullah saw. terbuat dari perak sedangkan batu matanya dari Abessina (Habsyi)".
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id dan sebagainya, dari `Abdullah bin Wahab, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

عن أنس بن مالك قال: «لما أراد رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يكتب إلى العجم قيل له: إن العجم لا يقبلون إلا كتابا عليه خاتم، فاصطنع خاتما فكأني أنظر إلى بياضه في كفه».

"Tatkala Rasulullah saw. hendak menulis surat kepada penguasa bangsa `Ajam (asing), kepadanya diberitahukan: "Sungguh bangsa `Ajam tidak akan menerimanya, kecuali surat yang memakai cap. Maka Nabi saw. dibuatkan sebuah cincin (untuk cap surat). Terbayanglah dalam benakku putihnya cincin itu di tangan Rasulullah saw."
(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Mu'adz bin Hisyam, dari ayahnya, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

عن أنس بن مالك قال: «كان نقش خاتم رسول الله صلى الله عليه وسلم: محمد سطر، ورسول سطر، والله سطر».

"Ukiran yang tertera di cincin Rasulullah saw adalah "Muhammad" satu baris ,"Rasul" satu baris, dan "Allah" satu baris". 
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Muhammad bin `Abdullah al Anshari, dari ayahnya, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

عن ابن عمر قال: «اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق، فكان في يده ثم كان في يد أبي بكر، ويد عمر، ثم كان في يد عثمان، حتى وقع في بئر أريس نقشه: محمد رسول الله».

"Rasulullah membuat cincin dari perak, dulu ditangan Rasul, kemudian ditangan Abu Bakar, dan tangan Umar, kemudian ditangan Utsman hingga terjatuh di sumur Aris, ukiran cincin tersebut bertiliskan " Muhammad Rasulullah "
(Diriwayatkan oleh ishaq bin mansur dari Abdulloh bin Numair dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi' dari Ibnu Umar )

12. CARA BERCINCIN RASULULLAH

عن علي بن أبي طالب: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يلبس خاتمه في يمينه

"Sesungguhnya Nabi saw. memakai cincin di jari tangan kanannya."
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sahl bin `Asakir al Baghdadi, dan diriwayatkan pula oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, keduanya menerima dari Yahya bin Hisan, dari Sulaiman bin Bilal, dari Syarik bin `Abdullah bin Abi Namir, dari Ibrahim bin `Abdullah bin Hunain, dari bapaknya, yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib r.a.)

13. PEDANG RASULULLAH

عن أنس قال: «كانت قبيعة سيف رسول الله صلى الله عليه وسلم من فضة».

"Salut hulu pedang Rasulullah saw. terbuat dari perak."
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir, dari ayahnya dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

عن ابن سيرين قال: «صنعت سيفي على سيف سمرة بن جندب، وزعم سمرة أنه صنع سيفه على سيف رسول الله صلى الله عليه وسلم وكان حنفيا»

"Samurah mengaku bahwa ia membuat pedangnya meniru pedang Rasulullah saw. Sedangkan pedang Rasulullah saw. itu berbentuk Hanafiyya*."
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin syuja' al Baghdad, dari Abu `Ubaidah al Haddad, dari `Utsman bin Sa'id, yang bersumber dari Ibnu Sirin r.a.)

* Pedang Hanafiyya adalah pedang yang di buat oleh suku Bani Hanifah. Pedang buatan Bani Hanafiah terkenal bagus dan halus pembuatannya.

14. BAJU BESI RASULULLAH

عن السائب بن يزيد، «أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان عليه يوم أحد درعان، قد ظاهر بينهما».

"Sesungguhnya Rasulullah saw. pada waktu Ghazwah Uhud memakai dua baju besi. Sungguh beliau memakai keduanya secara rangkap."
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Shufyan bin `Uyainah, dari Yazid bin Khushaifah, yang bersumber dari Saib bin Yazid)

15. HELM / TOPI BESI RASULULLAH*

عن أنس بن مالك: أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل مكة وعليه مغفر، فقيل له: هذا ابن خطل متعلق بأستار الكعبة، فقال: «اقتلوه».


"Sewaktu Rasulullah saw. memasuki kota Mekkah (dihari Pembebasan), beliau memakai topi besi. Kemudian ditunjukkan orang kepadanya : `ini Ibnu Khathal* bersembunyi di dinding Ka'bah (disebabkan takut). Nabi saw. bersabda : "Bunuhlah dia!"
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dari Malik bin Anas, dari Ibnu Syihab, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

*Sebenarnya terjemahan topi besi atau helm tersebut kurang tepat sebab yang dimaksud topi besi di sini adalah rantai besi yang dijalin rapi, dibuat dengan ukuran kepala kemudian di pasang di dalam kopiah.

*Ibnu Khatal ialah seorang dari empat penjahat yang amat memusuhi Islam dan tidak mendapatkan pengampunan umum dari Rasulullah saw. Tiga lainnya ialah Huwairits bin Nuqaid, `Abdullah bin Abi Sarh dan Muqais bin Shababah. Namun, sebelum eksekusi, `Abdullah bin Abi Sarh masuk Islam. Dengan demikian `Abdullah bin Abi Sarh selamat dari hukuman.

16. SURBAN RASULULLAH

عن جابر قال: «دخل النبي صلى الله عليه وسلم مكة يوم الفتح وعليه عمامة سوداء».

"Nabi saw. memasuki kota Mekkah pada waktu pembebasan kota Mekkah, Beliau memakai serban hitam."
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadist inipun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki', dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir r.a.)

عن جعفر بن عمرو بن حريث، عن أبيه، «أن النبي صلى الله عليه وسلم خطب الناس وعليه عمامة سوداء».

"Sesungguhnya Nabi saw. berpidato di hadapan umat, Beliau memakai serban hitam."
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin `Isa, keduanya menerima dari Waki', dari Musawir al Waraq, dari Ja'far bin `Amr bin Huraits,yang bersumber dari bapaknya.)

17. SARUNG RASULULLAH

عن أبي بردة قال: أخرجت إلينا عائشة، كساء ملبدا وإزارا غليظا، فقالت: «قبض روح رسول الله صلى الله عليه وسلم في هذين».

"'Aisyah r.a. memperlihatkan kepada kami pakaian yang telah kumal serta sarung yang kasar, seraya berkata :"Rasulullah saw. dicabut ruhnya sewaktu memakai kedua pakaian ini". 
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani', dari Ismail, dari Ayub, dari Humaid bin Hilal, dari Abi Burdah yang bersumber dari bapaknya).

عن إياس بن سلمة بن الأكوع، عن أبيه قال: كان عثمان بن عفان، يأتزر إلى أنصاف ساقيه، وقال: «هكذا كانت إزرة صاحبي»، يعني النبي صلى الله عليه وسلم.


"'Utsman bin Affan r.a. memakai sarung yang tingginya mencapai setengah betisnya. `Utsman berkata : "Demikianlah cara bersarung sahabatku (yakni Nabi saw.)". 
(Diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr, dari `Abdullah bin al Mubarak, dari Musa bin `Ubaidah, dari Ayas bin Salamah bin al Akwa' yang bersumber dari bapaknya).

عن حذيفة بن اليمان قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بعضلة ساقي أو ساقه فقال: «هذا موضع الإزار، فإن أبيت فأسفل، فإن أبيت فلا حق للإزار في الكعبين».

"Rasulullah saw. memegang otot betis kakiku dan betis kakinya, lalu bersabda: "Inilah tempat batas sarung. Jika kau tidak suka di sini, maka boleh juga diturunkan lagi. Jika kau tidak suka juga, maka tidak ada hak lagi bagi sarung menutup kedua mata kaki". 

(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dari Abul Ahwash, dari Abi Ishaq, dari Muslim binNadzir, yang bersumber dari Hudzaifah Ibnul Yaman r.a.)
Read More