TARBIYAH ONLINE: kisah masa kecil muhammad saw

Terbaru

Showing posts with label kisah masa kecil muhammad saw. Show all posts
Showing posts with label kisah masa kecil muhammad saw. Show all posts

Thursday, November 16, 2017

Seri Sirah Nabawiyah | Keseruan dan Keharuan Muhammad Kecil Saat Menggembala Kambing

November 16, 2017 0

Tarbiyah.online | Muhammad kecil semakin tumbuh kembang menjadi anak remaja. Ia tumbuh dengan baik, bahkan terlihat lebih sehat dan bugar daripada anak lain seusianya. Karakternya pun semakin terlihat. Fathimah sang bibi menceritakan kepada Abu Thalib bahwa Muhammad kini lebih nampak kehalusan dan kelembutannya, sesantunan, ketenangan juga kewibawaannya.

Bahkan Fathimah sedikit heran melihat Muhammad kini yang lebih pemalu. Ia malu untuk meminta dan menyuruh sesuatu kepadanya, “Ia lebih malu dari pada gadis pingitan.”tutur Fathimah. Sang bibi masih mengaggap hal yang sanngat wajar, jika anak seusia Muhammad kini lebih banyak malas dan banyak mainnya. Tapi itu tidak terlihat dalam diri Muhammad.

Muhammad, dengan melihat keadaan keluarga Pamannya ini, ia tentu tidak ingin kehadirannya di tengah keluarga ini malah menambah beban tanggungan. Sementara anggota keluarga yang menjadi tanggungan pamannya ini cukuolah banyak. Ia sadar, ia hanya menumpang disini, bagaimana mungkin ia bisa bermalas-malasan.

Oleh karena itu, jika Fathimah sedang menyajikan makanan, Muhammad mengalah untuk tidak memakannya terlebih dulu, membiarkan sepupu-sepupunya berebut makanan diatas napan akibat rasa lapar dan sedikitnya persediaan makanan. Muhammad mengalah karena didorong oleh rasa malu, sikap hormat, kesucian jiwa dan kelapangan hati untuk tidak ikut mengulurkan tangan ke dalam nampan itu.

Namun gerak-gerik Muhammad ini diperhatikan oleh sang bibi, hingga kemudian Fathimah sering mengambilkan makanan untuk Muhammad, yang memunculkan rasa cemburu pada sepupu-sepupunya yang lain yang merupakan anak dari paman dan bibinya. Mereka sedikit merasa tidak senang karena dengan sedikitnya persediaan makanan, Muhammad malah dianak-emaskan dengan tetap menyediakan porsi makanan untuk Muhammad.

Uniknya, jika keluarga pamannya ini makan secara sendiri-sendiri atau bersama-sama tanpa kehadiran Muhammad, mereka tidak pernah merasakan kenyang. Namun sangat berbeda jika ada Muhammad di tengah-tengah mereka. Makanan yang sedikit mampu memenuhi rongga perut mereka, mereka selalu puas terhadap makanan yang tersedia. Sehingga Abu Thalib berujar kepada seluruh keluarganya, “Jangan makan dulu sebelum Muhammad anakky datang bersama kita.” Muhammad pun datang, dan mereka merasa kenyang, tak hanya kenyang, kadang mereka kelebihan makanan.

Demikian juga ketika minum susu, sering mereka meminta Muhammad yang meneguk duluan susu yang ada dalam bejana, barulah kemudian disusul oleh mereka secara bergantian. Semuanya bisa merasakan kepuasan meminum susu sepuasnya, meski hanya dari satu bejana itu.

Ummu Aiman, sang pengasuh Muhammad kecil, sering sekali makan hanya dalam keadaan sedikit, tapi ia tak pernah mengeluh lapar. Di pagi hari, kadang ia hanya meminum air dari sumur Zamzam. Kalau ditawari makanan, ia menolak dan menjawab, “Maaf, aku kenyang.” Dan kalimat yang keluar tersebut, bukan karena penolakan secara halus atau sikap malunya atau juga ungkapan kosong, melainkan memang demikian, ia merasakan kenyang.

Begitulah keberkahan yang mereka dapatkan bersama Muhammad, meski dalam keadaan sempit.

Kepekaan Muhammad tersebut tumbuh semata-mata dari jiwanya yang lembut nan halus. Ketika ia semakin matang, ia ingin membalas budi sang paman beserta keluarga, dengan sedikit membantu perekonomian mereka. Ia berpikir keras, apa yang harus dikerjakannya. Semua pekerjaan telah ada budak yang melakukan. Hendak berdagang, mana mungkin, ia seorang miskin tanpa modal. Ia terus berpikir, hingga kemudian menemukan sebuah pekerjaan yang cocok menurutnya, menggembalakan kaming penduduk Mekkah ke padang. Ia menilai pekerjaan tersebut sangat cocok baginya, Ia bisa menafakkuri alam, luasnya langit dan padang beserta kehebatan dan kekuatan yang terpampang di dalamnya sungguh suatu pemandangan yang sangat bagus untuk merenungi Kekuasaan Allah.

Sekali tepuk, dua lalat mati. Sebuah pepatah yang barangkali cocok untuk menggambarkan pikiran Muhammad.

Ketika ia utarakan niatnya ini kepada sang paman, Abu Thalib menolaknya. Fathimah terkesima, melihat betapa halus perasaan dan pemikiran yag ada pada anak ini. Usianya masih belia tapi sudah berpikir sejauh itu, mereka menjadi iba. Tapi Abu Thalib tak mampu mendebatnya. Tekad Muhammad telah bulat dan tak bisa ditawar lagi. Akhirnya Abu Thalib pun mengalah dan terpaksa mengizinkan Muhammad menggembala kambing. Maka Abu Thalb pun mencarikan beberapa orang Qurays yang bersedia kambingnya dikembalai oeh Muhammad. Abu Thalib mencari dengan selektif, karena tidak ingin ada yang menjahati Muhammad nantinya.

Tiba saatnya Muhammad menggembala. Fathimah binti Asad sang bibi setiap pagi mengantarkan Muhammad ke depan pintu, kadang ia memberikan bekal untuk seharian di padang gembala di pinggir kota Mekkah. Saban hari, ia berpesan kepada Muhammad untuk berhati-hati, kadang juga ia sampaikan kepada teman-teman Muhammad untuk menjaga Muhammad. Ia menitipkan Muhammad pada sekawanan penggembala lainnya. Sebegitu besar perhatian Fathimah sang bibi.



Muhammad pun menemukan lingkungan baru, bersama anak sebayanya para penggembala cilik yang tersebar di padang sekitar Mekkah. Anak-anak sebagaimana umumnya, ketika berkumpul mereka berbagi cerita-cerita hebat yang dialaminya. Ada yang bercerita bagaimana mereka pernah bertarung mempertaruhkan hidupnya melawan bahaya. Mereka juga menceritakan tentang keberadaan tempat-tempat hiburan, permainan dan aneka kesenangan lainnya. Muhammad tak luput dari sasaran mereka untuk berbagi cerita. Muhammad lebih banyak mendengar daripada ikut bercerita. Ia banyak menyerap informasi baru, dan belajar dari cerita teman-teman sesama penggembala.

Muhammad remaja adalah seorang penggembala yang jujur. Ia selalu tepat waktu dalam bekerja. Meskipun masih remaja, profesionalitasnya telah terlihat.

Teman-teman penggembala membujuk Muhammad untuk ikut ke acara hiburan. Awalnya Muhammad selalau menolak, tapi karena terus menerus dibujuk, akhirnya hati Muhammad pun luluh untuk ikut bersama mereka. Ia juga merasa ingin menyaksikan langsung keberadaan pesta itu, dan duduk ngobrol semalam suntuk.

Di satu hari, teman penggembala Muhammad datang dan membujuk bahkan mendesak Muhammad untuk ikut bersama mereka ke sebuah pesta disudut kota Mekkah. Malamnya mereka pun berangkat.

Disana ada tabuhan rebana, tiupan seruling, alunan lagu dan berbagai macam hiburan yang biasa dijumpai di acara semacam itu. Muhammad duduk di kejauhan dan memperhatikan, namun tak lama, hanya sesaat kemudian, Allah membuat Muhammad tertidur hingga sangat pulas sepanjang malam. Ia baru terbangun ketika tersegat matahri yang kian meninggi.

Saat ia kembali ke tempat teman-temannya berada, ia malah disambut penuh keheranan dan tanya. Muhammad tidak bisa banyak menjawab. Terjadi pula di beberapa waktu kemudian, hal yang sama terulang. Muhammad kembali tertidur sebelum ia mendekat ke tempat pesta.

Akhirnya, Muhammad pun merasa hari-harinya untuk menjadi penggembala cukup, mesti diakhiri secepatnya. Ia harus mencari pekerjaan lain yang lebih cocok, demi membantu pamannya beserta keluarga. Mungkin kini ia sudah bisa berdagang. Usianya telah mencapai tiga belas tahun. Ia yakin sudah bisa ikut membantu pamannya dalam berdagang. Di Mekkah, Abu Thalib mempunyai kios dagang. Muhammad berpikir ia bisa membantu mengurusinya dan menggantikan sang paman saat sang paman harus keluar atau pergi berdagang ke luar Mekkah.

Disadur dari buku terjemah Fii Baiti ar-Rasul (Bilik-Bilik Cinta Muhammad), karya Dr. Nizar Abazhah
Read More

Wednesday, November 15, 2017

Seri Sirah Nabawiyah | Perjalanan Dagang Ke Syam Pertama Yang Menggelisahkan Hati

November 15, 2017 0

Tarbiyah.onlineKedekatan Muhammad kecil dengan pamannya Abu Thalib, sangatlah erat sekali. Dia tidak ingin berpisah meskipun hanya sehari saja. Mungkin ini adalah insting yang  muncul secara naluriah karena ia tidak ingin kehilangan orang yang dekat dengannya dan penuh kasih dan sayang dalam mencintainya, sebagaimana ibunda Aminah dan sang kakek Abdul Mutthalib. Ia pun begitu mencintai Abu Thalib beserta istrinya. Tetapi Muhammad yang masih belia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Muhammad masih kecil, ekspresi cinta kepada mereka jelas hanya bersifat rasa dan ketergantungan.

Sampai-sampai ketika hari dimana kafilah dagang Arab telah menentukan hari untuk berangkat berdagang ke Syam –sudah menjadi adat bangsa Arab melakukan ekspedisi dagang ke Syam dari aman-, bagi penduduk Mekkah hal ini sudah mendarah daging. Muhammad kecil meminta untuk ikut ke Syam, ia tidak sanggup jika tidak melihat keberadaan pamannya walau sesaat.

Sang paman menampik keinginan si kecil. Menurutnya, Muhammad kecil masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang wanita dan sosok ibu, belum waktunya bagi si kecil untuk ikut ekspedisi dagang ini. Apalagi, Abu Thalib khawatir jika ia bisa menjadi lalai dengan barang dagangannya, hingga pengawasannya terhadap Muhammad akan berkurang dan terpecah. Bagaimana jika ia kelelahan, dan tak tak sanggup mengimbangi perjalanan kafilah.

Semua kekhawatiran itu memenuhi benak sang paman, demikian juga dengan bibi-bibinya. Namun Muhammad bergeming, ia merasa kekhawatiran yang berlebihan itu tidaklah patut. Ia merasa tidak puas dengan keputusan paman yang demikian. Sang paman pun bingung, karena keponakannya ini, tidak bisa dipisahkan dengannya. Tapi tetap saja mereka tak bisa bersikap keras.

Wajah Muhammad kecil yang dipenuhi dengan nur, memancar dan meluluhkan hati mereka semua. Ditambah rasa iba sang paman ketika mengingat masa lalu sang keponakan kesayangannya ini yang nihil akan kasih sayang sang ayah dan miskin waktunya bersama ibu. Ia pun berat hati untuk meninggalkan Muhammad.

Abu Thalib berkata kepada istrinya Fathimah,”Kemaskan barangnya, Aku akan membawanya ikut dan menjaganya.” Fathimah terkejut dengan keptusuan suaminya, dan merasa berat hati, namun ia tak ingin membantah sang suami. Dengan penuh keraguan dan rasa iba, ia kemasi barang dan bekal untuk Muhammad, dan menggantungkan nasib Muhammad kecil serta suaminya kepada Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia agar dijaga keselmatan mereka.


Kafilah pun berangkat menuju Syam, melewati Madinah -Yastrib saat itu-, Khaibar, Tima’, dan Tabuk. Sebuah perjalanan yang amat panjang, dengan sedikit istirahat sebelum mereka mencapai Bushra, salah satu ibu kota negeri itu. Untuk pertama kalinya, Muhammad menyaksikan bangunan-bangunan megah, orang-orang asing, para budak yang diperjual belikan dan budak yang bersama tuannya, juga orang merdeka lainnya. Kaum konglomerat dan kaum fakir, semua berbaur di pasar itu. Muhammad dititipkan sebentar di sebuah kuil tua nan besar bersama beberapa pembantu yang sedang beristirahat disana. Abu Thalib berpesan pada mereka  untuk menjaga Muhammad dengan sangat baik.

Sesaat kemudian, Abu Thalib kembali dan menggandeng tangan Muhammad, mengajaknya jalan-jalan, hingga ke sebuah rumah besar dan bertingkat. Mereka pun naik ke lantai atas dan melihat-lihat ke sekitar. Tiba-tiba seorang tua yang berpakaian hitam dan kasar, datang. Ia memegang tangan Muhammad kecil yang belum matang usia remajanya, dan memeriksanya. Ia tercenung beberapa saat, kemudian meneliti setiap garis dan guratan wajah si anak belia ini. Lalu dengan cepat, pria tua itu menyingkap pundak Muhammad dan kemudian lututnya, seolah ia sedang mencari dan memeriksa sesuatu yang ada pada tubuh badan Muhammad kecil.

Barulah kemudian ia berbicara dengan sangat serius dan -fokus seolah hanya mereka saja yang ada disana-, dalam keramaian orang-orang di dekat pasar. Gelombang pertanyaan pun menghantam Muhammad dan sang paman satu demi satu, mereka menjawabnya dengan cermat. Tetapi, ketika pria tua ini meminta Muhammad untuk bersumpah atas nama Lata dan Uzza, Muhammad berpaling dan menghindar,” Jangan sekali-kali engkau menanyakan tentang keduanya. Sungguh demi Allah aku sangat membenci keduanya melebihi apa pun yang ada.” Berkata sambil melemparkan wajahnya ke arah lain.

Lalu pria tua tersebut bertanya, ”Siapa ayah dari anak ini?”, Muhammad terpana.
“Akulah ayahnya,” jawab Abu Thalib dengan tegas. Pria itu pun menatap lekat wajah dan memerhatikan tubuh Abu Thalib, lalu bergumam tak percaya, “Bukan, tidak mungkin ayah dari anak ini masih hidup.”
Abu Thalib pun terdiam, tak bisa mengelak, dengan sedikit terbata ia pun mengaku, “Maksudku, aku adalah pengganti ayahnya. Aku adalah paman yang mengasuhnya. Sejak lama ia telah ditinggalkan mati oleh ayahnya.”

Pria tua itu, yang kemudian dikenal dengan panggilan Rahib Buhaira itu terdiam untuk beberapa waktu. Lalu ia mengangkat wajahnya dan berkata sedikit berbisik dengan penuh kehati-hatian kepada Abu Thalib, “Tuan, jagalah keponakan mu ini enggan sungghuh-sungguh. Berhati-hatilah terhadap orang Yahudi. Jika mereka sampai mengetahui hal ini, pasti, tanpa segan mereka akan berlaku jahat kepadanya, hingga membunuhnya.”

Perubahan sikap terjadi pada keduanya, cara masuk mereka dengan girang dan penuh tawa tadi, kini saat keluar berganti dengan rasa cemas yang tak menentu, terutama pada sang Paman, akibat perkataan Rahib Buhaira. Dadanya bergemuruh, ia gelisah. Muhammad kecil juga mungkin bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ”Siapa itu Yahudi, yang hendak mencelakainya.?” Karena sejauh ini kehidupan yang dikenal Muhammad kecil hanyalah Mekkah.

Dalam perjalanan pulang mereka, penjagaan Abu Thalib benar-benar sangat ekstra. Sebelum mereka menyentuh tanah Mekkah dan melihat rumahnya, hati Abu Thalib dipenuhi rasa was-was, ia tak bisa tidur, matanya bergerilya kiri kanan, depan-belakang untuk mengantisipasi segala potensi kejahatan yang bisa jadi akan menimpa keponakan tersayangnya.

Sesampainya di mekkah, Abu Thalib menceritakan kepada Fathimah, istrinya. Tak ada sedikit pun yang ia sembunyikan. Fathimah sangat terkagum dan terkesima dengan kisah dari suaminya. Ia pun berujar kepada suaminya. “Kalau demikian cerita mu wahai suami ku. Permintaan Muhammad yang sangat ingin ikut  dalam perjalanan kalian kemarin itu bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah takdir Allah, sehingga kau dapat melihat langsung keistimewaan yang dialami oleh anak ini. Dan setiap kejadian menyangkut dirinya. Mungkin itulah kenapa ia sangat dekat dan bergantung pada mu. Hingga aku pun tak kuasa mengekangnya dari mu.”

Dan Fathimah melanjutkan, “Dibalik hari ini terdapat hari esok yang penuh misteri, demikian juga dengan Pribadi Muhammad, masih banyak rahasia yang belum terungkap. Sejauh ini, sebagian telah nyata di hadapan kita. Dan kita pasti akan menyaksikan sesuatu yang lebih besar kedepannya.” “Itu kalau Allah menjaganya dan Yahudi tidak mencelakainya,” Abu Thalib menyela, “Dan aku sangat mengkhawatirkannya wahai Fathimah istri ku.”

Fathimah pun menenangkan, “Tidak ada Yahudi di Mekkah wahai suami ku, kecuali mereka hanya datang dan pergi unuk berdagang. Menurutka, rahasia ini harus kita jaga, jangan dibuka kepada siapa pun. Terutama yang rahib itu sebutkan. Dan Muhammad harus selalu dalam pengawasan kita.”

Sejak hari itu, perhatian dan pengawasan Fahimah binti Asad kepada Muhammad semakin besar dan ketat. Dan cintanya kepada Muhammad pun kian dipadati rasa hormat. Hingga ia tumbuh menjadi semakin dewasa, yang beranjak menjadi seorang pemuda.
Read More

Tuesday, November 14, 2017

Seri Sirah Nabawiyah | Kasih Sayang Fathimah dan Abu Thalib Kepada Muhammad

November 14, 2017 0

Tarbiyah.onlineSetelah meninggalnya sang kakek Abbdul Mutthalib, tongkat kepemimpinan Bani Hasyim, berpindah kepada paman Muhammad, saudara kandung dari Abdullah, ayahnya, Abu Thalib.

Muhammad kecil mendapatkan perhatian yang luar biasa dari Abu Thalib dan istrinya, Fathimah binti Asad. Kecintaan keduanya kepada Muhammad dicurahkan sebagaimana rasa cinta yang mereka curahkan kepada anak-anaknya yang lain. Bahkan Fathimah merasakan cinta yang lebih ia curahkan kepada Muhammad.

Si kecil Muhammad mendapatkan sosok ibu pada diri Fathimah sang Bibi. Bahkan di suatu waktu dengan polosnya Muhammad kecil memanggil Fathimah dengan sebutan ibu, bukan bibi. Terkejut Fathimah mendengarnya. Disatu sisi, ia memandang si kecil dengan rasa penuh iba, megingat si kecil yang tidak merasakan kasih sayang seorang ibu secara cukup.

Namun, di sisi lain dalam benaknya ia meerasakan kebahagiaan yang sangat mendalam. Seolah ada sejuta cahaya kebagiaan yang yang keluar dibalik panggilan itu melalui mulut mungil si kecil Muhammad yang sangat mulia itu. Ia mendekat kearah Muhammad kecil dan mendekapnya, menciuminya dengan penuh kasih sayang. Panggilan "ibu" yang dilontarkan dari si kecil berasa lebih berarti dan membuatnya bahagia, bahkan melebihi rasa yang didapat ketika anak-anaknya memanggilnya dengan sebutan ibu.


Hari terus berlalu, Muhammad kecil ikut merasakan pengawasan Fathimah kepadanya tak pernah absen meskipun sehari. Dan Fathimah merasakan kecemasan ketika melihat perubahan pada sikap Muhammad kecil yang sering menyendiri, sering murung dan lebih pendiam. Seolah Muhammad kecil sedang memikirkan suatu hal yang sangat besar, namun mulutnya terkunci untuk menceritakan apa yang ada di benaknya. Fathimah takut kalau-kalau, penyakit aneh tertimpa kepada Muhammad kecil yang sangat dicintainya.

Fathimah yang semakin cemas, melaporkan kepada sang suami, Abu Thalib. Abu Thalib pun ikut memperhatikan Muhammad kecil, dan mencoba mereka-mereka, apa masalah yang sedang dipikirkan dan dihadapi oleh si kecil, namun mentok, mereka berdua tak mampu menjangkaunya. Hanya saja, dengan epenuh keyakinan dan harapan Abu Thalib berujar kepada istrinya,” Biarkan saja dia, Tuhan pasti akan menjaganya.” Dan ucapan itu terus menerus keluar dari mulut sang paman ketika istrinya mengadukan hal yang sama.

Muhammad merasakan bahwa dirinya selalu diawasi dan dijaga oleh Allah SWT. Yang merupakan salah satu tanda kenabian. Pernah ia diajak kepada berhala oleh paman-paman dan bibi-bibinya. Tapi ia selalu menolak. Hingga pada sebuah kesempatan dan momentum upacara “Bawwanah” sebuah berhala yang besar dan sangat dihormati oleh kaum Qurais dimana mereka akan melakukan ritual, dan meditasi sepanjang hari disana. Muhammad tak bisa menolak untuk menghadirinya, hingga ia pun ikut ke dalam kerumunan tersebut.  Disinilah Muhammad mengalah kepada para paman dan bibi-bibinya.

Di tengah kekhusyukan orang-oarng dewasa, terdapat anak-anak yang tidak penurut. Sebagaimana umumnya dunia anak-anak, mereka lebih banyak memilih melakukan permainan daripada ikut dalam upara. Muhammad pun menghilang dari kerumunan orang yang beribadat itu bersama banyaknya anak-anak yang berlarian kesana kemari. Bahkan Abu Thalib dan istrinya melihat Muhammad tak ada bersama kerumunan anak-anak. Pecah hati sang paman dan bibinya. Mereka keluar berhamburan mencari Muhammad kecil. Ditemukan si kecil sedang bersembunyi di salah satu sudut rumah dalam keadaan gemetar dan sangat ketakutan.



Bibi dan pamannya menanyakan ada apa gerangan hingga Muhammad demikian. Dijawab olehnya “Setiap aku mendekat ke salah satu berhala itu, ada sosok dengan jubah putih menghadang ku, dan berkata agar aku tidak kearah berhala itu. Ketika aku mendekati Bawwanah, ia menegah ‘Awas di belakang mu, Muhammad jangan sentuh itu’.”

Terdiam dan terkagum paman dan bibinya mendengar penuturan dan pengakuan Muhammad kecil. Mereka sadar, bahwa terdapat ribuan misteri di belakang si kecil, dan dia memiliki sesuatu yang sangat istimewa. Sejak saat itu, Muhammad tak pernah lagi diajak menuju tempat berhala, dan semua bibi-bibinya tak berani lagi mengusiknya.

Hal lain yang mereka saksikan adalah Muhammad tidak memakan bahkan menyentuh pun tidak jika makanan dan daiging hewan kurban yang disembelih sebagai sesaji dan sesembahan kepada berhala. Ini membuat meereka semua takjub, memngingat usia Muhammad yang masih sangat belia. Dan membuat mereka menyadari Muhammad yang bersamanya, bukanlah orang sembarangan.
Read More

Sunday, November 12, 2017

Seri Sirah Nabawiyah | Kasih Sayang Sang Kakek Kepada Muhammad Kecil

November 12, 2017 0

Tarbiyah.online | Setiba di Mekkah dari Madinah setelah perjalanan panjangnya bersama sang Ibu untuk menziarahi makam Ayahanda, dan mendapati sang Ibu ikut meninggalkannya di Abwa'. Muhammad disambut oleh sang Kakek, Abdul Muththalib dengan pelukan dan dekapan kasih sayang. Sang kakek dan seluruh paman-paman beserta istri mereka datang menyambut Muhammad kecil dengan penuh haru dan rasa duka.

Tibalah saatnya Muhammad kecil diasuh oleh sang Kakek. Abdul Muththalib adalah seorang terpandang, pemegang kunci pintu dan penjaga Ka'bah. Ia lah orang yang menggali kembali sumur zam-zam yang sempat lama tertimbun. Dan ia juga yang menyiaapkan air bagi musafir-musafir jama'ah haji yang datang ke Mekkah. Muhammad kecil tetap mendapatkan perhatian dan kasih sayang  ibu, melalui istri-istri paman-pamannya, juga melalui kerabat dan sahabat dekat Aminah. Mereka sangat mencintai Muhammad kecil, sebagaimana mereka mencintai anak-anaknya, bahkan lebih.

Abdul Mutthalib mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada Muhammad kecil. Ia tidak dipanggil sebagai cucu, melainkan anak oleh Abdul Mutthalib. Ia memaminggilnya "anak ku" tidak pernah ia memanggil dengan sebutan "Wahai Anak Abdullah". Orang-orang Makkah pun menjuluki Muhammad kecil sebagai Ibn Abdul Muthhalib, bukan Ibn Abdullah.

Kecintaan sang kakek kepada cucunya ini, memang telah diekspresikannya sejak Muhammad lahir. Nama Muhammad diberikan oleh sang kakek dengan harapan Muhammad akan dipuji oleh seluruh manusia. Muhammad juga adalah nama yang asing dan tidak pernah disematkan kepada seorang pun di kalangan bangsa Arab saat itu. Di subuh kelahirannya pun sang kakek menggendong Muhammad yang masih bayi, dan mentawafkannya sambil melantunkan pujian-pujian kepada Allah Pemilik Semesta Alam untuk merahmati Muhammad sepanjang hidupnya.

Orang-orang kala itu menceritakan kepada  Muhammad kecil dalam rangka menghibur Muhammad agar tak merasa kesepian dan hidup tanpa kasih sayang orangtua kandung, bahwa Abdul Mutthalib sangat mencintai Muhammad. Dan perhatian yang ia terima dari sang Kakek bukan suatu yang terjadi tiba-tiba, melainkan sudah ditunjukkannya sejak dulu.

Abdul Mutthalib terlihat sangat bahagia atas kelahiran Muhammad, bahkan orang-orang menyebutnya, kebahagiaan Abdul Mutthalib lebih besar daripada ketika ia menantikan kelahiran anak-anaknya. Padahal ia memiliki banyak anak-anak lelaki maupun perempuan, memiliki pula cucu-cucu yang lain, dan ia memiliki banyak pembantu. Tapi kelahiran dan keberadaan Muhammad di sisinya benar-benar sesuatu yang lain.


Sang kakek sanhat mengkhwatirkan diri Muhammad sebagaimana orang tua mengkhawatirkan anaknya. Ia selalu memperingatkan orang-orang agar tidak berlaku suatu yang tidak menyenangkan atau yang membahayakan diri Muhammad. Ia selalu berpesan kepada Ummu Aiman selaku pengasuhnya untuk merawat Muhammad dengan baik. Dan jika Abdul Mutthalib mendapatkan undangan atau jamuan, selalu diajaknya Muhammad kecil bersamanya.

Muhammad kecil pun hidup dengan tenang bersama sang kakek, ia mampu melihat guratan penuh cinta dari wajah sang kakek. Dan menyadari keakraban batin diantara keduanya.

Abdul Mutthalib memiliki tempat duduk yang khsusus bergelar karpet merah dan tilam yang tebal sebagai tempat duduknya, ia dikelilingi oleh tempat untuk paman-paman Muhammad. Tak seorang pun berani duduk diatas tempat Abdul Mutthalib, saking istimewanya tempat itu. Lalu di suatu hari Muhammad duduk diatasnya dengan maksud kecintaannya kepada sang kakek. Lalu seorang pamannya menegur Muhammad, dan meminta Muhammad kecil untuk pergi menjauh sambil bermain dengan anak-anak kecil yang lain, agar tidak mengganggu mereka duduk bersama Abdul Mutthalib yang sedang ditunggu kedatangannya. Muhammad kecil pun menurut, dan sedikit menjauh dari tempat duduk pertemuan itu.

Abdul Mutthalib keluar rumah dan melihat Muhammad sedang bermain bersama anak-anak sebayanya. lalu dipanggilnya Muhammad kecl, dipeluknya dan didudukkannya di tempat itu bersamanya. Ia pun menoleh ke arah anak-anaknya yang lain dan orang yang hadir, dan berkata, "Biarkan anakku (Muhammad) duduk di tempat dudukku. Karena sungguh dia tahu teempat yang pantas untuknya. Demi Allah, dia memiliki sesuatu yang luar biasa". Demikianlah mata batin sang kakek melihat keistimewaan Muhammad sejak dari kecil.

Diusia yang lanjut, Abdul Mutthalib menilai diantara banyaknya anak yang ia miliki, Abu Thalib lah yang pantas mengurus Muhammad. Karena Abu Thalib selain satu-satunya saudara kandung Abdullah dari ibu yang bernama Fathimah binti Umar bin Aidz dari klan Makzum, Abu Thalib juga telah menunjukkan cintanya kepada Muhammad sejak lama.

***
Dikutip dari Buku Bilik-Bilik Cinta Muhammad tulisan Dr. Nizar Abahzah.
Read More