TARBIYAH ONLINE: dalil syari'at

Terbaru

Showing posts with label dalil syari'at. Show all posts
Showing posts with label dalil syari'at. Show all posts

Monday, May 14, 2018

SEBAB WAJIB PUASA, PERIODE WAJIB, WAKTU BERHENTI BERPUASA DAN KESAKSIAN

May 14, 2018 0

Dalam beberapa hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun hadis Mawqûf Bi Hukm al-Marfû‘ dari para sahabat radhiyallâhu ‘anhum, banyak riwayat yang berbunyi sebagaimana berikut ;
إذا رأيتم الهلال نهارا فلا تفطروا حتى يشهد رجلان لرأيناه بالأمس
Apabila kalian melihat hilal pada siang hari -menjelang akhir Ramadhan-, jangan buru-buru berbuka hingga ada dua orang yang bersaksi bahwa hilal itu memang telah terlihat satu hari sebelumnya

(Perkataan Umar Ibn al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Abdur-Razzaq dalam al-Mushannaf)

إذا رأيتم الهلال نهارا قبل أن تزول الشمس تمام ثلاثين فأفطروا، وإذا رأيتموه بعد أن تزول الشمس فلا تفطروا حتى تمسوا
“Apabila kalian melihat hilal pada siang hari sebelum matahari condong ke barat saat puasa hari ke 30, maka berbukalah (karena umur Ramadhan saat itu adalah 29 hari), dan apabila kalian melihatnya setelah matahari condong ke barat, maka jangan berbuka hingga sore (magrib, karena hilal itu adalah untuk keesokan harinya)”
(Perkataan Umar Ibn al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Abdur-Razzaq dalam al-Mushannaf)

ربيع بن عميلة قال : كنا مع سلمان بن ربيعة الباهلي ببلنجر فرأيت الهلال ضحى لتمام ثلاثين فأتيت سلمان بن ربيعة فحدثته فجاء معي فأريته إياه من ظل تحت شجرة فأمر الناس فأفطروا
“Rabî‘ Ibn ‘Umailah berkata, ketika suatu hari kami di wilayah Balanjar bersama Salman Ibn Rabî‘ah al-Bâhilî -radhiayallâhu ‘anhu-, kami melihat hilal pada waktu dhuha di hari ke 30 -Ramadhan-, lalu aku mendatangi Salmân Ibn Rabî‘ah dan menceritakannya. Kemudian ia ikut denganku melihat hilal tersebut dari bawah pohon, maka seketika itu ia menyuruh pasukannya untuk berbuka (karena hari itu terhitung tanggal 1 Syawwâl)”
(Mushannaf Ibn Abî Syaibah. Balanjar adalah satu daerah yang berada di wilayah Kaukasus bagian utara, tepatnya sebelah utara laut hitam. Pada saat itu Salman Ibn Rabi‘ah radhiyallâhu ‘anhu sedang melakukan penaklukkan wilayah tersebut bersama dengan 4000 pasukan muslim; Mu‘jam al-Buldân karya Yaqût al-Hamawî)

إن الهلال رئي في زمن عثمان بن عفان بعشي فلم يفطر عثمان حتى غابت الشمس
Sesungguhnya hilal terlihat pada masa Usman Ibn ‘Affan setelah matahari tergelincir ke barat, lalu Usman tetap berpuasa hingga terbenam matahari
(Al-Syafi‘i, dalam Kitab al-Umm)

عن الشعبي عن علي؛ أنه كان يخطب إذا حضر رمضان فيقول: ألا لا تقدّموا الشهر، إذا رأيتم الهلال فصوموا، وإذا رأيتم الهلال فأفطروا، فإن أغمي عليكم فأتموا العدة، قال: كان يقول ذلك بعد صلاة العصر وبعد صلاة الفجر
Dari al-Sya‘bî (w.105H), dari ‘Alî ; ketika Ramadhan tiba, ‘Alî berkhutbah : Jalan ada yang mendahului bulan (untuk berpuasa/berbuka), apabila kalian telah melihat hilal (Ramadhan) maka berpuasalah, dan apabila kalian melihat hilal (Syawwal) maka berbukalah. Namun apabila hilal tak terlihat, maka sempurnakanlah harinya (menjadi 30 hari). Al-Sya‘bî berkata ; ‘Alî menyampaikan itu setelah shalat ashar dan setelah shalat subuh

(Ibnu Abî Syaibah, al-Mushannaf. Beberapa ulama hadis mengatakan bahwa al-Sya‘bî tidak pernah mendengar riwayat hadis dari Ali Ibn Abi Thalib melainkan beberapa hadis dan minimal satu hadis. Namun Abu Dawud mengatakan bahwa riwayat Mursal al-Sya‘bi lebih aku suka daripada Mursal al-Nakha‘î ; Taqrîb al-Tahdzîb karya al-Hâfizh Ibn Hajar. Al-Hâfizh al-Dzahabî dalam Siyar A‘lâm al-Nubalâ’ menegaskan bahwa al-Sya‘bî pernah shalat menjadi makmum Ali Ibn Abi Thalib, dan meriwayatkan dari beberapa sahabat senior radhiyallâhu ‘anhum. Inti dari riwayat ini sangat shahih karena banyak riwayat terkait).

عن أبي قلابة، قال: كانوا ينظرون إلى الهلال فإن رأوه صاموا، وإن لم يروه نظروا ما يقول إمامهم
Abû Qilâbah (w.104/105/106/107H) berkata ; Para sahabat melakukan pengamatan hilal, bila melihatnya mereka mulai berpuasa, bila tidak melihatnya mereka menunggu keputusan pemimpin
(Ibnu Abî Syaibah, al-Mushannaf).

Inti dari riwayat-riwayat di atas serta paparan para ulama berikut ini adalah tempo wajib berpuasa dimulai ketika telah ada sebab yang menunjukkan masuknya bulan Ramadhan, dan berakhir dengan adanya sebab yang menunjukkan usainya bulan Ramadhan atau masuknya bulan Syawwal.
Berikut adalah cuplikan dari para ulama pemuka mazhab terkait awal dan akhir Ramadhan ditandai dengan sebab dan tanda-tanda seperti hilal.

1. Al-Imam Abu Muhammad Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Hazm al-Andalusi (w.456H);

اتفقوا على أن صيام نهار رمضان ... فرض مذ يظهر الهلال من آخر شعبان إلى أن يتيقن ظهوره من أول شوال
Mereka sepakat bahwa puasa di siang bulan Ramadhan ... adalah fardhu terhitung semenjak hilal terlihat pada akhir Sya‘ban hingga terlihat lagi dengan yakin di awal bulan Syawwal
(Ibn Hazm, Marâtib al-Ijmâ‘, hal.39)

واتفقوا أن الهلال إذا ظهر بعد زوال الشمس ولم يعلم أنه ظهر بالأمس فإنه لليلة مقبلة
Dan mereka sepakat bila hilal tampak setelah tergelincir matahari, dan tidak ada kabar kemarin hari hilal itu telah terlihat, maka hilal -yang terlihat itu- adalah hilal untuk hari esoknya
(Ibn Hazm, Marâtib al-Ijmâ‘, hal.40)

2. Al-Imam Abu ‘Amr Yusuf Ibn Abdillah Ibn Muhammad Ibn Abdil Barr al-Qurthubi (w.463H);

أما الشهادة على رؤية الهلال فأجمع العلماء على أنه لا تقبل في شهادة شوال في الفطر إلا رجلان عدلان
Adapun kesaksian melihat hilal, ulama berijma bahwa kesaksian untuk berbuka di awal bulan Syawwal itu harus dilakukan oleh dua orang yang adil
(Ibn Abdil Barr, al-Tamhîd Limâ Fi al-Muwattha’ Min al-Ma‘ânî wa al-Asânîd, vol.14, hal.354)

3. Al-Imam Abu al-Walid Sulaiman Ibn Khalaf Ibn Sa‘d Ibn Ayyub al-Baji (w.474H);

الرؤية تكون عامة وخاصة فأما العامة فهي أن يرى الهلال الجم الغفير والعدد الكثير حتى يقع بذلك العلم الضروري فهذا لا خلاف في وجوب الصوم والفطر به لمن رآه ومن لم يره
Ru’yah atau melihat bulan adakalanya bersifat umum, adakalanya bersifat khusus. Ru’yah ‘Ammah adalah dengan melihat bulan sabit dengan ukurannya yang sudah cukup besar sehingga mudah dilihat tanpa upaya khusus. Dengan ini, tidak ada perbedaan pendapat ulama dalam wajibnya berpuasa Ramadha maupun berbuka di akhirnya, baik bagi yang melihatnya maupun bagi yang belum melihatnya
(Al-Baji, al-Muntaqa Fî Syarh al-Muwattha’, vol.2, hal.152)

ولا خلاف بين الناس أنه إذا رئي بعد الزوال فإنه لليلة القادمة
Tidak ada perbedaan pendapat ulama apabila hilal terlihat setelah tergelincir matahari maka hilal itu adalah untuk malam berikutnya
(Al-Baji, al-Muntaqa Fî Syarh al-Muwattha’, vol.2, hal.155)

4. Al-Imam Abu Bakr Muhammad Ibn Abdillah Ibn Muhammad Ibn al-‘Arabi al-Ma‘afiri (w.543H);

أما الفطر فاتفق العلماء على أن لا يكون إلا باثنين
Sedangkan berbuka puasa (di akhir Ramadhan), ulama bersepakat bahwa harus disaksikan oleh dua orang
(Ibn al-‘Arabi, al-Qabas Fî Syarh Muwattha’ Mâlik Ibn Anas, vol.1, hal.485)

5. Al-Imam al-Qadhi Abu al-Fadhl ‘Iyadh Ibn Musa Ibn ‘Iyadh Ibn ‘Amrûn al-Yahshubi (w.544H);

الرؤية إذا كانت فاشية صيم بغير خلاف، وإن كان الغيم قبل فيه الشهادة بغير خلاف
Apabila melihat bulan menghasilkan terlihatnya bulan, maka puasa pun dapat dimulai tanpa perbedaan pendapat. Namun apabila ada yang terhalang, maka dapat menggunakan kesaksian tanpa perbedaan pendapat
(Al-Qadhi ‘Iyadh, Ikmal al-Mu‘lim Bi Fawa’id Muslim, vol. 4, hal.11)
6. Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.620H);

فإذا رأوه وجب عليهم الصيام اجماعا
Apabila mereka telah melihat (hilal) maka ulama ijma bahwa mereka wajib berpuasa
(Ibn Qudamah, al-Mughnî Syarh Mukhtashar al-Imâm Abî al-Qâsim al-Kharqî, vol.3, hal.6)

7. Al-Imam Abu Muhammad Baha’uddin Abdurrahman Ibn Ibrahim Ibn Ahmad al-Maqdisi (w.624H);

ويجب بأحد ثلاثة أشياء: كمال شعبان ثلاثين يوما إجماعا
Berpuasa wajib dilaksanakan oleh sebab salah satu dari tiga hal, yaitu dengan menyempurnakan bulan Sya‘ban sebanyak 30 hari berdasarkan ijma
(Baha’uddin al-Maqdisi, al-‘Uddah Syarh al-‘Umdah, vol.1, hal.139)

8. Al-Imam Syihabuddin Abu al-‘Abbas Ahmad Ibn Idris Ibn Abdirrahman al-Qarrafi (w.684H);

لو رئي الهلال بعد الزوال فلليلة المستقبلة اتفاقا
Kalau hilal terlihat setelah tergelincir matahari, maka ulama sepakat bahwa itu untuk malam berikutnya
(Al-Qarrafi, al-Dzakhîrah, vol.2, hal.492)

9. Al-Imam Abu Abdillah Muhammad Ibn Abdillah al-Zarkasyi al-Hanbali (w.772H);

فإن رأوه وجب صيامه، وهذا إجماع
Apabila mereka telah melihat hilal, maka mereka wajib berpuasa, dan ini adalah ijma‘
(Al-Zarkasyi, Syarh Mukhtashar al-Kharqî, vol.1, hal.410)

Wallâhu A‘lam

Read More

IJMA’ KEWAJIBAN BERPUASA DI BULAN RAMADHAN

May 14, 2018 0
Suatu kelayakan bila muncul pertanyaan tentang urgensi ijma‘ ketika dalil dari al-Qur’an dan Hadis sudah cukup jelas tentang puasa. Bahkan tidak hanya puasa, bersuci, shalat, zakat, haji dan banyak jenis ibadah lain yang memiliki dalil jelas dari al-Qur’an dan Hadis juga tak jarang ditemukan keterangan adanya ijma‘.

Foto Grosir Kaos Anak Karinda.
Hal tersebut dapat kita temukan misalnya dalam Bidâyah al-Mujtahid wa Nihâyah al-Muqtashid karya Imam Ibnu Rusyd al-Hafîd (w.595H). Ia sering menuliskan bahwa kewajibannya berdasarkan al-Kitab, al-Sunnah dan al-Ijma’; dengan menampilkan keterangan ijma’ meski al-Qur’an dan hadis yang berbicara tentang hal itu sudah sangat jelas. Tentunya hal itu bukan tanpa alasan yang sudah diketahui oleh ulama fikih. Penjelasan ringkasnya dapat dibaca pada pembahasan Ijma sebelumnya.

Berikut adalah sebagian nukilan dari para ulama terkait kewajiban puasa Ramadhan berdasarkan ijma’.
1. Al-Imam Abu Bakr Muhammad Ibn Ibrahim Ibn al-Mundzir al-Naisaburi (w.318H) ;
وأجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم على وجوب صيام شهر رمضان
“Setiap ulama yang kami hapal telah ijma‘ bahwa hukum puasa di bulan Ramadhan adalah wajib”
(Ibn al-Mundzir, Al-Isyrâf ‘Alâ Madzâhib al-‘Ùlamâ’, vol.3, hal.107)

2. Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Habib al-Bashri al-Mawardi (w.450H);

أجمع المسلمون على وجوب الصيام، وهو أحد أركان الدين، فمن جحده فقد كفر، ومن أقر به ولم يفعله فقد فسق، غير أنه لا يقتل
“Kaum muslimin telah ijma‘ tentang kewajiban puasa (Ramadhan), ia merupakan salah satu rukun agama. Yang mengingkari kewajiban-nya menjadi kafir, sedangkan yang mengakui kewajibannya namun tidak melakukan maka dia fasiq dan tidak perlu dihukum mati”
(Al-Mawardi, al-Hâwî al-Kabîr Syarh Mukhtashar al-Muzanî, vol.3, hal.851)

3. Al-Imam Abu Muhammad Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Hazm al-Andalusi (w.456H);

فمن الفرض صيام شهر رمضان الذي بين شعبان وشوال، فهو فرض على كل مسلم عاقل بالغ صحيح مقيم، حرا كان أو عبدا، ذكرا أو أنثى، إلا الحائض والنفساء، فلا يصومان أيام حيضهما ألبتة، ولا أيام نفاسهما، ويقضيان صيام تلك 
الأيام، وهذَا كله فرض متيقن من جميع أهل الإسلام
“Di antara ibadah fardhu adalah puasa pada bulan Ramadhan, antara bulan Sya‘ban dan Syawwal. Wajib bagi setiap muslim yang telah berakal, baligh, sehat, menetap, baik merdeka maupun seorang budak, laki-laki maupun perempuan yang tidak haid dan nifas. Mereka tidak boleh berpuasa pada hari-hari haid dan nifas, namun harus mengqadhanya -di hari lain-. Ini semua adalah fardhu yang telah pasti kewajibannya dari seluruh kaum muslimin”
(Ibn Hazm, al-Muhallâ Bi al-Atsar, vol.6, hal.160)
Foto HF YouTube Channel.
4. Al-Imam Abu Bakr Ibn Mas‘ud Ibn Ahmad al-Kasani (w.587H);

وأما الإجماع فإن الأمة أجمعت على فرضية شهر رمضان لا يجحدها إلا كافر
“Adapun dalil ijma‘, yaitu ijma‘ umat atas wajibnya -puasa- di bulan Ramadhan, dan hanya orang kafirlah yang mengingkari kewajibannya”
(Al-Kâsânî, Badâi‘ al-Shanâi‘ Fî Tartîb al-Syarâi‘, vol.2, hal.75)

5. Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Abi Bakr Ibn Abdil Jalil al-Rusydani al-Marghinani (w.593H);

اعلم أن صوم رمضان فريضة لقوله تعالى (كتب عليكم الصيام)، وعلى فرضيته انعقد الإجماع ولهذا يكفر جاحده
“Ketahuilah bahwa puasa pada bulan Ramadhan adalah fardhu karena firman Allah ta‘ala (puasa telah diwajibkan kepadamu). Dan hukum fardhunya telah menjadi ijma‘, oleh karenanya orang yang mengingkarinya dapat menjadi kafir”
(Al-Marghînânî, al-Hidâyah Syarh Bidâyah al-Mubtadi’, vol.1, hal.118)

6. Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.620H);

وأجمع المسلمون على وجوب صيام شهر رمضان
“Kaum muslimin telah ijma‘ bahwa puasa di bulan Ramadhan adalah wajib”
(Ibn Qudamah, al-Mughnî Syarh Mukhtashar al-Imâm Abî al-Qâsim al-Kharqî, vol.3, hal.3)

7. Al-Imam Abu Zakariya Yahya Ibn Syarf al-Nawawi (w.676H);

وهذا الحكم الذى ذكره -وهو كون صوم رمضان ركنا وفرضا- مجمع عليه، ودلائل الكتاب والسنة والإجماع متظاهرة عليه
“Status puasa ramadhan sebagai satu rukun dan fardhu yang telah disebutkan -oleh al-Syîrâzî- telah menjadi suatu kesepakatan. Dalil-dalil dari al-Qur’an, hadis dan ijma‘ pun menunjukkan akan hal itu”
(Al-Nawawi, al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzzab, vol.6, hal.252)

8. Al-Imam Abu al-Baqa’ Muhammad Ibn Musa Ibn ‘Isa al-Damiri (w.808H);

وذكر صوم رمضان، وانعقد الإجماع عليه وهو معلوم من الدين بالضرورة، من جحده كفر وقتل بكفر
“-Di dalam hadis Buniya al-Islâm ‘Alâ Khams- disebutkan tentang puasa Ramadhan, kewajibannya telah ditetapkan berdasarkan ijma‘. Dan itu telah diketahui secara qath‘î dari agama. Orang yang mengingkari kewajibannya menjadi murtad dan harus dihukum mati disebabkan kufur -pada kewajibannya-”
(Al-Damîrî, al-Najm al-Wahhâj Fî Syarh al-Minhâj, vol.3, hal,272)

Wallâhu A‘lam

Read More