TARBIYAH ONLINE: dalil syari'at

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Showing posts with label dalil syari'at. Show all posts
Showing posts with label dalil syari'at. Show all posts

Thursday, May 17, 2018

HIKMAH RAMADHAN PERTAMA: BESARNYA GANJARAN PAHALA

May 17, 2018 0

Salah satu ibadah khusus yang tidak ada di bulan lain bulan Ramadhan, berupa shalat tarawih. Bahkan shalat tarawih dari malam pertama hingga malam ke-30 mempunyai nilai pahala tersendiri dan berbeda-beda.
Penulis mengutip dari berbagai sumber, berikut keutamaan Salat Tarawih di malam pertama bulan Ramadhan:
Pertama, Shalat tarawih merupakan salah satu keistimewaan bulan Ramadhan, tidak ada disunatkan shalat tarawih di luar bulan Ramadhan. Beranjak dariitu kita tidak boleh menyiakan kesempatan berharga ini. Di sebutkan dari Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu‘Alaihi wa Sallam tentang keutamaan (shalat) Tarawih di bulan Ramadhan lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi was Sallam bersabda: Dosa-dosa orang yang beriman keluar darinya pada malam pertama seperti hari dilahirkan ibunya.
Kedua, Diampuni Dosanya
Diketahui dari hadits riwayat Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abu Harairah, barang siapa yang melaksanakan Salat Tarawih pada malam pertama bulan ramadan, dia diibaratkan seperti bayi yang dilahirkan kembali oleh ibunya.
Hal ini berarti orang yang melaksanakan Salat Tarawih di hari pertama akan bersih dari dosa dan kesalahan.

إِِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ اللَّهُ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِعيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَْ الذُّنُوبْ كَيَوْم وَلَدَتْهُ أُمُّه

“Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR : Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abu Hurairah.)
Ketiga, Dimantapkan Hatinya.
Salat Tarawih pada malam pertama bulan Ramadan sangat dianjurkan agar kita semakin siap memasuki bulan penuh berkah ini. Tarawih malam pertama merupakan sebagai penanda awal ramadhan.

Shalat tarawih pada malam pertama adalah pertanda bahwa umat muslim pada keesokan harinya akan mulai melaksanakan ibadah puasa ramadhan.Hal ini juga secara tidak langsung merupakan pemberitahuan kepada setiap umat muslim jika ada diantara mereka yang belum mengetahui kapan dimulainya puasa ramadhan.
Keempat, Doa Dikabulkan
Setelah mendapat kemantapan hati dan ampunan dosa, melaksanakan Salat Trawih mulai dari malam pertama akan membuat doa yang kita minta dikabulkan Allah SWT.

“Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR Muslim dan Ahmad).
Kelima, Taqarrub Kepada Allah.
Seseorang yang memulai ibadah di bulan ramadhan dengan melaksanakan Salat Tarawih menandai bahwa kita semakin dekat dengan Allah.

Shalat Tarawih sebagaimana salat malam lainnya sanga dianjurkan untuk dilaksanakan selama bulan ramadhan. Hal ini bisa membantu kita semakin dekat dengan Allah SWT sebagaimana dalam hadits berbunyi :
“Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang saleh sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR Ahmad). 
Beranjak dari itu marilah kita raih untaian pahala tarawih malam pertama ini dengan sempurna dan mengharap ridha ilahi.


Helmi Abu Bakar el-Langkawi
Read More

Wednesday, May 16, 2018

WAKTU BERBUKA DAN TERLANJUR BERBUKA SEBELUM WAKTUNYA

May 16, 2018 0

Pada bagian ini dijelaskan tentang waktu berbuka, konsekuensi bila terlanjur berbuka karena mengira matahari telah tenggelam, dan anjuran menyegerakan berbuka meskipun hanya seteguk air maupun sebiji kurma sebelum shalat. Karena mengulur waktu berbuka ternyata juga sebuah kebiasaan kaum yahudi dalam pelaksaan puasa dalam ajaran mereka dengan dalih bersabar untuk mengulur waktu (taswîf) dari menyantap perbukaan dan mendahulukan ibadah, padahal berbuka itu sendiri juga merupakan ibadah bagi orang yang berpuasa.

Berikut adalah riwayat beberapa sahabat radhiyallâhu ‘anhum tentang waktu berbuka ;
1. Umar Ibn al-Khatthab radhiyallâhu ‘anhu ;

عن خالد بن أسلم :أن عمر بن الخطاب أفطر ذات يوم في رمضان في يوم ذي غيم ورأى أنه قد أمسى وغابت الشمس فجاءه رجل فقال يا أمير المؤمنين طلعت الشمس، فقال عمر : الخطب يسير وقد اجتهدنا. قال مالك يريد بقوله "الخطب يسير" القضاء فيما نرى والله أعلم
Dari Khâlid Ibn Aslam bahwa Umar Ibn al-Khatthab pernah berbuka ketika mendung di sore bulan Ramadhan karena melihat saat itu sudah sore dan matahari sudah tenggelam. Lalu datanglah seseorang mengabarkan bahwa matahari muncul. Umar pun berkata : Baik, perkaranya sederhana, dan kita pun hanya berijtihad”. Imam Malik menjelaskan, yang kami pahami dari perkataan Umar “al-Khathbu Yasîr” adalah puasa hari itu dapat diqadha, Wallahâhu A‘lam.
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ Bi Riwâyah al-Laytsî, No.670)

عن بشر بن قيس قال : كنا عند عمر بن الخطاب في رمضان والسماء مغيمة فأتي بسويق وطلعت الشمس فقال من أفطر فليقض يوما مكانه
Dari Bisyr Ibn Qays, ia berkata : Kami pernah bersama Umar Ibn al-Khatthab pada bulan Ramadhan dengan cuaca mendung (pada sore hari), lalu bubur gandum pun dihidangkan, dan ternyata matahari terlihat, maka Umar berkata ; Siapa yang terlanjur berbuka hendaklah dia mengqadha puasanya di hari lain
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.178)
عن سعيد بن المسيب، قال: كان عمر يكتب إلى أمرائه أن لا تكونوا من المسوّفين لفطركم، ولا تنتظروا بصلاتكم اشتباك النجوم
Dari Sa‘îd Ibn al-Musayyab, ia berkata ; Umar pernah menulis surat kepada para gubernurnya agar jangan menjadi orang yang suka mengulur-ulur berbuka dan jangan menunggu bintang tampak terlebih dahulu karena melakukan shalat
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.12)

2. Ali Ibn Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu ;

كان علي بن أبي طالب يقول لابن النبّاح: غربت الشمس؟ فيقول: لا تعجل، فيقول: غربت الشمس؟ فيقول: لا تعجل، فيقول: غربت الشمس؟ فإذا قال: نعم، أفطر، ثم نزل فصلى
Ali Ibn Abi Thalib pernah bertanya kepada Ibn al-Nabbâh ; Apakah matahari telah tenggelam? Ibn al-Nabbâh menjawab ; Tidak perlu buru-buru. Ali bertanya lagi ; Apakah matahari telah tenggelam? Ibn al-Nabbâh menjawab lagi ; Tidak perlu buru-buru. Ali bertanya lagi ; Apakah matahari telah tenggelam? Bila ia menjawab sudah, maka Ali pun berbuka, kemudian turun untuk shalat
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.13. Ibn al-Nabbâh adalah ‘Âmir Ibn al-Nabbâh, muadzzin Ali Ibn Abi Thalib)

3. Abdullah Ibn Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن أبي جمرة الضبعي أنه كان يفطر مع ابن عباس في رمضان، فكان إذا أمسى بعث ربيبة له تصعد ظهر الدار، فإذا غابت الشمس أذن، فيأكل ونأكل، فإذا فرغ أقيمت الصلاة فيقوم يصلي ونصلي معه
Dari Abu Jamrah al-Dhuba‘i, ia pernah berbuka puasa Ramadhan bersama Ibn ‘Abbas. Ketika telah sore, Ibn ‘Abbas meminta asuhannya menaiki atap rumah untuk melihat apakah matahari telah terbenam. Bila terbenam maka ia mengumandangkan azan. Kemudian Ibnu Abbas makan, dan kami pun ikut makan. Bila makan telah selesai, iqamah pun dilaksanakan, dan kami ikut shalat dengannya
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.12)

4. Abu Musa al-Asy‘rî radhiyallâhu ‘anhu ;

قال رجل لعمار بن ياسر: إن أبا موسى قال: لا تفطروا حين تبدو الكواكب، فإن ذلك فعل اليهود
Seseorang berkata kepada ‘Ammâr Ibn Yâsir bahwa Abû Mûsa pernah berkata ; Janganlah kalian mulai berbuka hingga menunggu bintang terlihat, karena itu adalah kebiasaan orang-orang yahudi
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vo.3, hal.12)

5. Abu Darda’ radhiyallâhu ‘anhu ;

عن أبي الدرداء قال : ثَلاث من أخلاق النبيين التبكير في الإفطار، والإبلاغ في السحور، ووضع اليمين على الشمال في الصلاة
Dari Abu Darda’, ia berkata ; tiga hal yang merupakan akhlak para nabi ; menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan (tangan) kanan di atas tangan kiri dalam shalat
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.13)

Berikut kutipan statement Ijma’ ulama tentang waktu berbuka;
Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Khalaf Ibn Abdil Malik Ibn Batthal (w.449H);

أجمع العلماء أنه إذا غربت الشمس فقد حل فطر الصائم، وذلك آخر النهار وأول أوقات الليل
Para ulama berijma’ bahwa apabila matahari telah tenggelam maka telah halal berbuka, itulah waktu akhir siang dan awal waktu malam
(Ibn Batthal, Syarh Shahîh al-Bukhârî, vo.4, hal.102)

Al-Imam Abu Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Hazm al-Andalusi (w.456H);

واتفقوا على أن كل ذلك حلال من غروب الشمس إلى مقدار ما يمكن الغسل قبل طلوع الفجر الآخر
Mereka sepakat bahwa itu semua halal semenjak matahari terbenam hingga kira-kira cukup waktu untuk mandi sebelum terbit fajar shadiq
(Ibn Hazm, Marâtib al-Ijmâ‘, hal.39)

Al-Imam Abu ‘Amr Yusuf Ibn Abdillah Ibn Muhammad Ibn Abdil Barr al-Qurthubi (w.463H);

والنهار الذي يجب صيامه من طلوع الفجر إلى غروب الشمس، على هذا إجماع علماء المسلمين فلا وجه للكلام فيه
Waktu siang yang wajib berpuasa padanya adalah semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari, ini berdasarkan ijma’ ulama kaum muslimin, sehingga tidak perlu diperdebatkan
(Ibn Abdil Barr, Al-Tamhîd Limâ Fî al-Muwattha’ Min al-Ma‘ânî wa al-Asânîd, vol.10, hal.62)

Al-Imam Abu al-Fadhl Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar al-‘Asqalani (w.852H);

واتفق العلماء على أن محل ذلك إذا تحقق غروب الشمس بالرؤية أو بأخبار عدلين
Dan para ulama sepakat bahwa waktu berbuka adalah bila telah dipastikan matahari terbenam, baik dengan cara melihatna maupun dengan kabar dari dua orang adil
(Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bârî Bi Syarh Shahîh al-Bukhârî, vol.4, hal.199).

Wallahu a’lam


Read More

AWAL IMSAK DAN KEYAKINAN TERBITNYA FAJAR

May 16, 2018 0

Pada bagian ijma‘ ulama mengenai fajar ini yang dilengkapi dengan keterangan riwayat dari para sahabat Nabi, terlahirlah hukum-hukum fikih yang berbicara tentang kasus keragu-raguan dalam antara dua pilihan masalah atau lebih. Dan dari itu semua terlahir jugalah sebuah kaedah fikih, yaitu :

اليقين لا يُزال بالشك
Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan
Dari sini dapat dipahami bahwa suatu amalan harus berlandaskan keyakinan, bukan keragu-raguan. Itulah prinsip yang diajarkan agama bagi pemeluknya agar hasil dari amalan itu tidak membuahkan kerapuhan dan waswas dalam diri pengamalnya lantaran dilandasi keragu-raguan.

Berikut adalah beberapa cuplikan dari ayat dan atsar para sahabat serta kesepakatan para ulama terkait menghentikan makan sahur harus dilandasi dengan keyakinan terbitnya fajar sebagai tanda dimulainya waktu berpuasa.

Allah subhânahu wa ta‘âlâ berfirman ;

وكلوا واشربوا حتى تيبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر
Makan dan minumlah hingga fajar (shâdiq) telah tampak jelas olehmu” (Surat al-Baqarah, 187)
Ayat di atas menjelaskan bahwa makan dan minum dihentikan ketika waktu fajar subuh telah tiba, sehingga orang yang pada malam itu telah berbuka memulai lagi untuk menahan dari dari makan dan minum.

1. Abu Bakr al-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata :

إذا نظر رجلان إلى الفجر فشك أحدهما فليأكلا حتى يتبين لهما
Apabila dua orang laki-laki melihat ke arah fajar, lalu salah satunya ragu (apakah itu fajar atau tidak) maka hendaklah keduanya tetap makan hingga fajar itu benar-benar tampak
(Riwayat Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf)

2. Aun Ibn Abdillah (w.119H) meriwayatkan secara mursal, ia berkata :

دخل رجلان على أبي بكر وهو يتسحر، فقال أحدهما: قد طلع الفجر، وقال الآخر: لم يطلع بعد، قال أبو بكر: كل قد اختلفَا
Ada dua orang yang datang ke tempat Abu Bakr ketika ia sedang sahur. Lalu salah satunya mengatakan fajar telah terbit namun yang satu lagi mengatakan belum. Abu Bakr menimpali : Makanlah, kalian berdua masih berbeda pendapat
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf)

3. Riwayat al-Hasan al-Bashri dari Umar Ibn al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu secara mursal:

قال عمر : إذا شك الرجلان في الفجر فليأكلا حتى يستيقنا
Umar berkata : Apabila dua orang laki-laki ragu tentang terbit fajar maka tetaplah keduanya makan hingga yakin fajar telah terbit
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf. Al-Hasan al-Bashri lahir saat dua tahun menjelang kepemimpinan Umar Ibn al-Khatthab usai yang ditandai dengan wafatnya beliau)

4. Makhul dari Abdullah Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma :

عن مكحول قال: رأيت ابن عمر أخذ دلوا من زمزم، فقال لرجلين: أطلع الفجر؟ فقال أحدهما: لا، وقال الآخر: نعم، قال: فشرب
Dari Makhul, ia berkata : Aku melihat Ibn Umar mengambil segayung air zamzam, kemudian ia bertanya kepada dua orang laki-laki apakah fajar telah terbit? Yang satu menjawab belum dan yang lain menjawab sudah. Lalu Ibn Umar tetap minum
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

5. Abdullah Ibn al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata :

أحل الله لك الشراب ما شككت حتى لا تشك
Allah menghalalkan minum bagimu selama kamu masih ragu (waktu fajar) hingga akhirnya kamu yakin
(Riwayat Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf)

6. Riwayat ‘Atha’ dari Abdullah Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma :

عن عطاء عن ابن عباس قال لغلامين له، وهو في دار أم هانئ في شهر رمضان وهو يتسحر، فقال أحدهما: قد طلع الفجر، وقال الآخر: لم يطلع، قال: أسقياني
Diriwayatkan oleh Atha’ dari Ibn ‘Abbas bahwa ia menanyakan perihal fajar kepada dua pembantunya ketika sedang sahur di rumah Ummu Hani’ pada bulan Ramadhan. Salah satunya menjawab sudah terbit dan yang lain menjawab belum. Kemudia Ibnu Abbas meminta minum kepada keduanya
(Riwayat Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

Terkait azan Ibnu Ummi Maktum sebagai pertanda larangan melanjutkan makan sahur, di dalam Syarh Shahîh al-Bukhârî, Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Khalaf Ibn Abdil Malik Ibn Batthal (w.449H):

للإجماع أن الصيام واجب من أول الفجر
Karena ada ijma bahwa berpuasa wajib dilaksanakan mulia awal terbit fajar
(Ibn Batthal, Syarh Shahîh al-Bukhârî, vol.2, hal.248)

Berikut pandangan para ulama terkait imsak permulaan puasa;

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Habib al-Bashri al-Mawardi (w.450H);

وكما ذهب حذيفة بن اليمان إلى أن أول الصوم إسفار الصبح فلم يعتدّوا بخلافه وأجمعوا على أنه من طلوع الفجر
Dan sebagaimana Hudzaifah Ibn al-Yaman mengatakan bahwa awal berpuasa adalah dengan datangnya waktu subuh, tidak ada satupun sahabat lain yang berbeda dengannya, dan mereka ijma bahwa puasa dimulai semenjak terbit fajar
(Al-Mawardi, al-Hâwî al-Kabîr Syarh Mukhtashar al-Muzanî, vol.16, hal.213)

Al-Imam Abu ‘Amr Yusuf Ibn Abdillah Ibn Muhammad Ibn Abdil Barr al-Qurthubi (w.463H);

السحور لا يكون إلا قبل الفجر ... وهو إجماع لم يخالف فيه إلا الأعمش فشذ ولم يعرج على قوله، والنهار الذي يجب صيامه من طلوع الفجر إلى غروب الشمس، على هذا إجماع علماء المسلمين فلا وجه للكلام فيه
Waktu sahur adalah sebelum fajar...dan itu berdasarkan ijma yang tidak ada yang menyelisihi selain al-A‘masy (w.147H), akan tetapi pendapatnya (dalam hal ini) Syâdz dan tidak dapat dijadikan pegangan. Waktu terang wajib berpuasa dimulai semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Hal ini telah menjadi ijma para ulama, sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi
(Ibn Abdil Barr, al-Tamhîd Limâ Fî al-Muwattha’ Min al-Ma‘ânî wa al-Asânîd, vol.10, hal.62)
وقد أجمعوا أن الصيام من أول الفجر
Dan mereka telah ijma bahwa berpuasa dimulai semenjak awal fajar terbit
(Ibn Abdil Barr, al-Istidzkâr, vol.1, hal.406)

Al-Imam Abu al-Walid Sulaiman Ibn Khalaf Ibn Sa‘d Ibn Ayyub al-Baji (w.474H);

ولا خلاف أنه لا يجوز الأكل بعد طلوع الفجر
Tidak ada perbedaan pendapat ulama dalam larangan makan setelah terbit fajar
(Al-Baji, Al-Muntaqâ Fî Syarh al-Muwattha’, vol.1, hal.168).

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya Ibn Syarf al-Nawawi (w.676H);

ولا يتعلق بالفجر الأول الكاذب شيء من الأحكام بإجماع المسلمين ... هذا الذي ذكرناه من الدخول في الصوم بطلوع الفجر وتحريم الطعام والشراب والجماع به هو مذهبنا ومذهب أبى حنيفة ومالك وأحمد وجماهير العلماء من الصحابة والتابعين فمن بعدهم
Tidak ada kaitan hukum dengan fajar kadzib (pertama) berdasarkan ijma‘ umat muslim... Kemudian mengenai dimulainya puasa dengan sebab terbit fajar, haramnya makanan, minuman dan jima‘, itu adalah mazhab kami (syafi‘iyyah)), mazhab Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan jumhur sahabat, tabi‘in dan orang-orang setelah mereka
(Al-Nawawi, al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzzab, vol.6, hal.305)

Wallâhu A‘lam

Read More

Tuesday, May 15, 2018

HUKUM SANTAP SAHUR

May 15, 2018 0


Laksanakanlah sahur, karena mengandung keberkahan
Begitulah sabda yang pernah diutarakan oleh Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim untuk menyuruh umatnya untuk bersahur sebelum berpuasa karena keberkahan ada di dalamnya. Bila diamati, keberkahan tersebut dapat berupa hal-hal berikut ;

1. Memberikan kemampuan tambahan bagi orang yang berpuasa pada siang hari hingga saatnya berbuka.
2. Dapat meringankannya melaksanakan tugas saat berpuasa dari merasakan rasa lapar dan haus yang cukup berat.
3. Mengurangi potensi malas di siang hari lantaran kekurangan energi akibat tidak ada zat yang cukup untuk dicerna oleh organ.
4. Memberikan kestabilan organ pencernaan dan kadar gula darah.
5. Dan yang tidak kalah penting adalah sebagai bentuk upaya melaksanakan anjuran Nabi Muhammad shallallâhu ‘alahi wa sallam.
6. Bahkan dalam satu riwayat juga disebutkan bahwa sahur adalah waktu diijabahnya doa disamping memang masuk sepertiga malam terakhir.
Keterangan dari para sahabat Nabi;

عن أبي الوليد عبد الله بن الحارث الأنصاري أن نفرا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قالوا تسحروا ولو بجرع من ماء
Dari Abi al-Walîd Abdullâh Ibn al-Hârits al-Anshârî, bahwa beberapa sahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berkata; Bersahurlah meskipun hanya seteguk air
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.227, no.7599)

Hafshah Ummul Mu’minin radhiyallâhu ‘anhâ;

عن حفصة قالت: تسحروا ولو بشربة من ماء، فإنها قد ذكرت فيه دعوة
Dari Hafshah, ia berkata; Bersahurlah meskipun seteguk air, karena pada saat sahur itu doa dikabulkan
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushanaf, vol.3, hal.8, no.9012)

Abu Darda’ radhiyallâhu ‘anhu;

عن أبي الدرداء قال: من أخلاق النبيين الإبلاغ في السحور
Dari Abu Darda’, ia berkata bahwa di antara akhlak para Nabi adalah mendekatkan momen sahur dengan waktu fajar
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.9, no.9014)

Statement Ijma oleh ulama;

Al-Imâm Abû Bakr Muhammad Ibn Ibrâhîm Ibn al-Mundzir al-Naisabûrî (w.318H);
وقد أجمعوا على أن ذلك مندوب مستحب، ولا إثم على من تركه
Dan mereka telah ijma‘ bahwa sahur itu sangat disunnatkan, dan yang tidak melakukannya tidak berdosa
(Ibn al-Mundzir, al-Isyrâf ‘Alâ Madzâhib al-‘Ulamâ’, vol.3, hal.120)

Al-Imâm al-Qâdhî Abû al-Fadhl ‘Iyâdh Ibn Mûsâ Ibn ‘Iyâdh Ibn ‘Amrûn al-Yashûbî (w.544H);

وأجمع الفقهاء على أن السحور مندوب إليه ليس بواجب
Ulama fikih berijma‘ bahwa melaksanakan sahur hukumnya sunnat, bukan wajib
(Al-Qadhi ‘Iyadh, Ikmâl al-Mu‘lim Bi Fawâ’id Muslim, vol.4, hal.33)

Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);

في استحبابه ولا نعلم فيه بين العلماء خلافا
Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat ulama dalam kesunnahan sahur
(Ibn Qudâmah al-Maqdisî, al-Mughnî Fi Syarh Mukhtashar al-Kharqî, vol.3, hal.108)

Wallâhu A‘lam

Read More

WAJIB BERNIAT PUASA DI MALAM HARI

May 15, 2018 0

Pada bagian ini, kesepakatan ulama dalam persoalan niat berpuasa wajib adalah dari segi waktu pelaksaannya, yaitu di malam hari. Bukan dari segi pelaksanaannya setiap malam atau cukup satu kali, karena di dalam mazhab maliki diriwayatkan bahwa niat puasa Ramadhan dianggap sah bila dilakukan di malam pertama bulan Ramadhan tanpa harus berniat di setiap malamnya. Titik sepakatnya adalah pelaksaannya di malam hari. Kemudian hal lain yang disepakati dalam persoalan niat puasa disini adalah statusnya sebagai penentu keabsahan puasa seseorang, baik niat itu dianggap rukun puasa oleh sebagian mazhab maupun dianggap syarat oleh mazhab lainnya.
Foto HF YouTube Channel.
Berikut kutipan urgensi niat dari beberapa sahabat radhiyallâhu ‘anhum;

Abdullah Ibn Umar radhiyallâhu ‘anhumâ;

لا يصوم إلا من أجمع الصيام قبل الفجر
“Tidak sah puasa -wajib- orang yang tidak meniatkannya sebelum fajar”
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ Bi Riwâyah al-Syaibânî, no.371, ... Bi Riwâyah al-Laytsî, no.633)

عن عائشة وحفصة زوجي النبي صلى الله عليه وسلم بمثل ذلك
Dari Aisyah dan Hafshah –dua Istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam- dengan riwayat sama
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ Bi Riwâyah al-Laytsî, no.633)

Ummul Mu’minîn Hafshah bint Umar Ibn al-Khatthâb radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن حفصة، أنها قالت: لا صيام لمن لم يجمع الصيام قبل الفجر
Dari Hafshah, ia berkata; Tidak sah puasa orang yang tidak meniatkannya sebelum fajar
(Ibnu Abi Syaibah, al-Mushanaf, vol.3, hal.32)

Berikut nukilan keterangan ijma’ oleh para ulama;

Al-Imam Abu Zur‘ah Waliyyudin Ahmad Ibn Abdurrahim Ibn al-Husain al-Kurdi al-‘Iraqi (w.826H);

وقد أجمعوا على وجوب النية فيه
Dan mereka berijma‘ bahwa wajib berniat saat itu (sebelum fajar)
(Abu Zur‘ah, Tharh al-Tatsrîb Fî Syarh Taqrîb al-Asânîd wa Tartîb al-Masânîd, vol.2, hal.12)
Al-Imam Abu Bakr Muhammad Ibn Ibrahim Ibn al-Mundzir al-Naisaburi (w.319H);
وأجمعوا على أن من نوى الصيام كل ليلة من الصيام شهر رمضان فصام أن صومه تام
Dan mereka berijma‘ bahwa orang yang berniat puasa setiap malam Ramadhan, lalu puasa itu dilaksanakannya maka puasanya sempurna
(Ibn al-Mundzir, al-Ijmâ‘, hal.48)

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Khalaf Ibn Abdil Malik Ibn Batthal (w.449H);

إجماع الجميع من أهل العلم على أن المرء قد يكون مفطرًا بترك العزم على الصوم من الليل مع تركه نية الصوم نهاره أجمع، وإن لم يأكل ولم يشرب
Berdasarkan ijma‘ seluruh ulama bahwa seseorang dinggap telah berbuka disebabkan tidak berkeinginan berpuasa semenjak malam harinya serta tidak berniat di malam harinya untuk puasa di siang harinya meskipun dia sama sekali tidak makan dan tidak minum
(Ibn Batthal, Syarh Shahîh al-Bukhârî, vol.4, hal.102)

Al-Imam Abu Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Haz al-Andalusi (w.456H);

قد صح الإجماع على أن من صام ونواه من الليل فقد أدى ما عليه، ولا نص ولا إجماع على أن الصوم يجزئ من لم ينوه من الليل
Jelas ada ijma‘ bagi orang yang berniat puasa di malam hari maka dia telah menunaikan kewajibannya, dan tidak ada nash maupun ijma‘ yang menetapkan bahwa puasa –wajib- orang yang tidak berniat di malam hari dianggap sah
(Ibn Hazm, al-Muhallâ, vol.6, hal.160)

Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.620H);

وجملته أنه لا يصح صوم إلا بنية إجماعا فرضا كان أو تطوعا لأنه عبادة محضة فافتقر إلى النية كالصلاة
Dari itu semua, tidak sah puasa tanpa niat berdasarkan ijma‘, baik puasa fardhu maupun puasa sunnat, karena puasa itu adalah ibadah mahdhah yang membutuhkan niat sebagaimana shalat
(Ibn Qudamah, al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Imâm Abî al-Qâsim al-Kharqî, vol.3, hal.17)

Al-Imam Abu Zakariya Yahya Ibn Syaraf al-Nawawi (w.676H);

تبييت النية شرط في صوم رمضان وغيره من الصوم الواجب فلا يصح صوم رمضان ولا القضاء ولا الكفارة ولا صوم فدية الحج غيرها من الصوم الواجب بنية من النهار بلا خلاف
Berniat di malam hari adalah syarat dalam puasa Ramadhan dan puasa wajib lainnya, sehingga tidak ada perbedaan pendapat ulama bila puasa Ramadhan, puasa qadha’, puasa kaffarat, puasa fidyah haji dan puasa wajib lainnya diniatkan di siang hari
(al-Nawawi, al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzzab, vol.6, hal.289-290).

Wallâhu A‘lam

Read More