TARBIYAH ONLINE: Tasawuf

TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

Saturday, July 6, 2019

Sisi Lain Tafsir Hadits: Dunia Penjara Bagi Orang Beriman dan Surga Bagi Kafir

July 06, 2019 0

Tarbiyah.online Selama ini kebanyakan dari kita memahami sebuah hadis hanya berdasarkan fiqh dan dan hukum lahiriyah saja. Tentu saja itu tidak salah, bahkan hal tersebut menjadi sebuah dalil hukum yang sama sekali tidak bisa kita kesampingkan, sedikit pun. Namun, beberapa hadis Rasulullah kadang perlu ditinjau dari sisi psikologis dan kejiwaan.

Sebuah hadis yang amat terkenal, "Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir" (H.R Muslim), tentu familiar di telinga kita.

Secara zahir, setiap mukmin dibatasi oleh hukum halal-haram. Dan segala yang diharamkan bisa dinikmati sepuasnya di kehidupan mendatang (akhirat kelak). Sebagaimana pengharaman atas sex bebas dan arak. Di dunia (penjara) ini, setiap orang beriman dilarang oleh syari'at untuk mendekati (apalagi melakukan) hal-hal yang diharamkan.

Parahnya, ada beberapa yang memahami hadis ini bahwa orang beriman harus hidup penuh derita dan menyedihkan selama di dunia. Sedangkan segala bentuk kesenangan hanya boleh dinikmati oleh orang kafir saja. Tentu saja pemahaman seperti ini buntung, dan tidak tepat.

Namun demikian, sisi lain dalam memaknai penjara dunia ini tidaklah sekedar pembatasan halal dan haram saja.

Penggunaan analogi penjara oleh Rasulullah untuk menggambarkan hakikat dunia bagi orang beriman ternyata lebih luas lagi yang bahkan bisa dimengerti oleh orang awam sekalipun (jika ia membuka ketajaman rasanya).

Penjara adalah hal yang sangat tidak disukai oleh siapapun. Selain karena adanya pembatasan, tentu saja sebab penjara bukanlah tempat yang seharusnya bagi jiwa kita. Tempat yang seharusnya bagi orang beriman adalah surga yang tiada batas, yang dikelilingi oleh kesenangan dan tempat seharusnya jiwa berada.

Jiwa kita tahu persis dimana seharusnya tempatnya berada. Jika seorang mukmin sadar, bahwa tempat bagi jiwanya adalah surga, maka otomatis ia akan menganggap dunia sebagai tempat pengasingan. Karakter jiwa kita dibentuk oleh alam pikir dan rasa.

Allah berfirman dalam Surah Yunus ayat 7, "Sesungguhnya oranghorang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat Kami".

Terang dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa orang kafir meyakini dunia ini adalah surga bagi jiwanya. Dimana ia bisa bebas melakukan apa saja dan juga merasa aman di dunia.

Sedang bagi orang beriman, dunia adalah penjara. Jiwanya akan terus merasa gusar di dunia dan 'berontak' ingin kembali ke rumahnya (surga).

Itulah juga orang beriman ketika nyawanya dicabut oleh malaikat, ia merasa senang. Karena saat jiwa terpisah dari raga duniawi, ia berasa terlepas dari penjara dan kembali menuju rumahnya. Bagaikan seorang tahanan yang divonis bebas, ia diantar oleh penjaga (sipir) keluar dari penjara. Betapa bahagianya ia melihat alam yang luas, menikmati kebebasannya.

Sedang jiwa orang kafir akan merenggang kesakitan sebab berontak pergi dari surga dunia nya. Firman Allah "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut nyawa dengan keras." (An Nazi'at: 1). Selain tidak rela meninggalkan surga dunianya, ia pun baru tersadar bahwa ternyata dunia ini bukanlah surga.

Disadur dari buku Reclaim Your Heart, Yasmin Mogahed
Wallahu a'lam
Read More

Wednesday, April 24, 2019

SYA'BAN WAKTU TERBAIK UNTUK MEMPERBANYAK SHALAWAT

April 24, 2019 0

Tarbiyah.online - Pernah dengar kalau Sya'ban sering disebut sebagai bulannya Nabi SAW? Ya, dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan, Rajab adalah bulan Allah, Rajab adalah Muhammad, dan Ramadhan adalah bulannya Ummat Muhammad.

Jika Anda percaya dengan hadits dan keutamaan bulan Sya'ban, tentu Anda akan menjadikan shalawat keatas baginda nabi sebagai amalan utama yang mengisi dan menghiasi sebulan penuh ini.

Salah satu hadist tentang kelebihan shalawat yang di sebutkan  dari Ubayy bin Ka’ab Ra ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau. Lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau?” Rasulullahshallallahu alaihi wasallam menjawab, “Terserah kamu” aku berkata: “Seperempat?”

Beliau bersabda: “Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik”  aku berkata: “Separuh?” Beliau bersabda: ““Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik”aku berkata: “Saya menjadikan seluruh shalawat saya untuk engkau” Beliau bersabda:“…Jika begitu maka kamu dicukupi keinginanmu dan diampuni dosamu.” (HR Turmudzi)

Dalam hal ini, Imam Nawawi rahimahullah berkata: Maksud ungkapan (sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau. Lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau?) adalah: “Saya memperbanyak berdo’a maka berapa banyak saya harus bershalawat  atas engkau dalam do’a saya?”

Sementara itu Abu Laits As Samarkand rahimahullah berkata: Andai dalam bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak ada pahala sama sekali kecuali mengharapkan Syafa’at maka wajib bagi orang berakal untuk tidak melupakannya.

[Apalagi dalam bershalawat ada ampunan dosa – dosa, ada shalawat dari Allah],  Abu Laits melanjutkan: [Jika ingin mengetahui bahwa bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah ibadah yang paling utama maka renungkanlah firman Allah,:

 “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al Ahzab:56.)

Seluruh ibadah telah Allah perintahkan kepada para hambaNya. Sementara shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam maka sungguh diriNya telah bershalawat dan kemudian Memerintahkan orang beriman agar mereka bershalawat atasnya. Ini menetapkan bahwa Shalawat atas Nabishallallahu alaihi wasallam adalah ibadah yang paling utama.

Imam Nawawi berkata: [Jika seseorang bershalawat kepada Nabishallallahu alaihi wasallam maka hendaknya menggabungkannya dengan ucapan salam (Taslim) dan tidak hanya menyebutkan salah satunya].

Imam al Ghazali menceritakan: [Pernah aku menulis sebuah hadits dan sekaligus bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, tetapi tidak mengucapkan salam. Maka aku bermimpi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Beliau bersabda kepadaku, “Kenapa tidak kamu sempurnakan bershalawat atasku dalam kitabmu?” maka mulai setelah itu tidak kutulis shalawat kecuali menyertakan salam]

Imam Nawawi berkata: "[Disunnahkan bagi pembaca hadits atau lainnya yang semakna, jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebut agar mengeraskan suara bacaan shalawat dan salam atas Beliau  dan jangan sampai mengeraskan dengan suara yang terlalu keras sehingga terkesan jelek. Di antara tokoh yang menyatakan dan menganjurkan mengeraskan suara ini adalah al Imam al A’zham al Hafizh Abu Bakar al Khathib al Baghdadi serta juga para tokoh ulama yang lain]”.

Abu Bayan al Ashfihani berkata: [Aku bermimpi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bertanya kepada Beliau: “Kenapa engkau tidak memberikan manfaat kepada anak pamanmu As Syafi’i dengan sesuatu atau mengistimewakannya dengan sesuatu?” Beliau bersabda:

“Ia, aku memohon kepada Tuhanku agar tidak menghisabnya” aku bertanya: “Sebab apa?” Beliau bersbda: “Sebab ia telah bershalawat kepadaku dengan shalawat yang belum pernah aku mendapat shalawat seperti itu” aku bertanya: “Apakah itu?” Beliau bersabda: “Ia (Syafii) mengucapkan: “Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad selama orang – orang yang ingat menyebutnya dan selama orang – orang yang lupa lalai dari menyebutnya”]

Ibnu Abdul Hakam berkata: Dalam mimpi aku melihat Syafi’i dan bertanya: “Apakah yang dilakukan Allah kepadamu?” ia menjawab: “Dia Memberiku nikmat dan Mengampunikun dan dan aku diarak di surga layaknya pengantin diarak serta ditaburkan atasku seperti halnya ditaburkan atas pengantin” aku (Ibnu Abdil Hakam) bertanya: “Dengan apakah kamu menggapai derajat ini?” ia menjawab:

“Sebab ucapanku dalam kitab Ar Risalah;“Dan semoga Allah bershalawat atas Muhammad sesuai bilangan orang pengingatan orang – orang yang ingat dan sesuai bilangan kelalaian orang – orang yang lupa mengingatnya”

Beranjak dari itu mari kita perbanyak bershalawat di bulan Syakban yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Semoga keberkahan dan keridhaan Allah SWT menghampiri kita. Semoga.

Teungku Helmi Abu Bakar, M.Ag, Dewan Guru Senior Dayah MUDI Mesra.
Read More

Friday, June 22, 2018

DUA PERKARA UTAMA DALAM AGAMA

June 22, 2018 0

Tarbiyah.Online -  Agama kita memiliki prinsip utama yang mengajarkan ummatnya untuk menjadi insan kamil, manusia yang sempurna dalam pandangan syari'at. Dalam kitab Nashaihul 'Ibad disebutkan, ada 2 perkara utama yang harus dimiliki dan diamalkan oleh setiap muslim untuk mencapai kesempurnaan iman.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi SAW bersabda:

خصلتان لا شئ افضل منهما الايمان بالله والنفع للمسلمين

"Ada dua perkara, yang tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama muslim (baik dengan ucapan atau kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan badannya)."

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW juga bersabda, "Barang siapa yang pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk menganiaya terhadap seseorang maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa pada waktu pagi hari memiliki niat memberikan pertolongan kepada orang yang dianiaya atau memenuhi hajat orang islam, maka baginya mendapat pahala seperti pahala haji yang mabrur".

Dalam hadits diatas Rasulullah mengabarkan tentang keutamaan berbuat baik kepada seluruh makhluk Allah. Berbuat baik dikategorikan kepada dua perkara: yang pertama kebaikan yang berlaku pasif (yaitu tidak melakukan keburukan) dan kedua kebaikan yang aktif (membantu oranglain dengan segala daya semampunya).

Dan Nabi SAW bersabda "Hamba yang paling dicintai Allah SWT adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling utama adalah membahagiakan hati orang mukmin; dengan menghilangkan laparnya, atau menghilangkan kesusahannya, atau membayarkan hutangnya. Dan selain itu juga terdapat dua perkara yang tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut yaitu syirik kepada Allah dan mendatangkan bahaya kepada kaum muslimin".


Sebagaimana kebaikan diketjakan dengan anggota tubuh badan, pikiran atau pun juga harta. Kejahatanan juga berlaku sama (baik membahayakan atas badannya, atau hartanya). Dua hal tersebut merupakan hal yang paling buruk. 

Karena dari sesungguhnya seluruh perintah Allah selalu tergolong kepada dua perkara tersebut (pengagungan kepada Allah dan menebar kasih sayang kepada makhluk-Nya). Mengagungkan Allah dan berbuat baik kepada makhluknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala. "Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat." (Q.S Al Baqarah:43). Dan melanggar keduanya adalah dosa yang teramat besar.

Dan dalam surat yang lain firman Allah Ta’ala, "Hendaklah kamu bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu." (Q.S. Luqman :14)

Disarikan daripada Kitab Nashaihul 'Ibad karya Syeikh Nawawi Bantani.
Read More

Thursday, May 17, 2018

HIKMAH RAMADHAN PERTAMA: BESARNYA GANJARAN PAHALA

May 17, 2018 0

Salah satu ibadah khusus yang tidak ada di bulan lain bulan Ramadhan, berupa shalat tarawih. Bahkan shalat tarawih dari malam pertama hingga malam ke-30 mempunyai nilai pahala tersendiri dan berbeda-beda.
Penulis mengutip dari berbagai sumber, berikut keutamaan Salat Tarawih di malam pertama bulan Ramadhan:
Pertama, Shalat tarawih merupakan salah satu keistimewaan bulan Ramadhan, tidak ada disunatkan shalat tarawih di luar bulan Ramadhan. Beranjak dariitu kita tidak boleh menyiakan kesempatan berharga ini. Di sebutkan dari Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu‘Alaihi wa Sallam tentang keutamaan (shalat) Tarawih di bulan Ramadhan lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi was Sallam bersabda: Dosa-dosa orang yang beriman keluar darinya pada malam pertama seperti hari dilahirkan ibunya.
Kedua, Diampuni Dosanya
Diketahui dari hadits riwayat Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abu Harairah, barang siapa yang melaksanakan Salat Tarawih pada malam pertama bulan ramadan, dia diibaratkan seperti bayi yang dilahirkan kembali oleh ibunya.
Hal ini berarti orang yang melaksanakan Salat Tarawih di hari pertama akan bersih dari dosa dan kesalahan.

إِِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ اللَّهُ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِعيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَْ الذُّنُوبْ كَيَوْم وَلَدَتْهُ أُمُّه

“Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR : Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abu Hurairah.)
Ketiga, Dimantapkan Hatinya.
Salat Tarawih pada malam pertama bulan Ramadan sangat dianjurkan agar kita semakin siap memasuki bulan penuh berkah ini. Tarawih malam pertama merupakan sebagai penanda awal ramadhan.

Shalat tarawih pada malam pertama adalah pertanda bahwa umat muslim pada keesokan harinya akan mulai melaksanakan ibadah puasa ramadhan.Hal ini juga secara tidak langsung merupakan pemberitahuan kepada setiap umat muslim jika ada diantara mereka yang belum mengetahui kapan dimulainya puasa ramadhan.
Keempat, Doa Dikabulkan
Setelah mendapat kemantapan hati dan ampunan dosa, melaksanakan Salat Trawih mulai dari malam pertama akan membuat doa yang kita minta dikabulkan Allah SWT.

“Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR Muslim dan Ahmad).
Kelima, Taqarrub Kepada Allah.
Seseorang yang memulai ibadah di bulan ramadhan dengan melaksanakan Salat Tarawih menandai bahwa kita semakin dekat dengan Allah.

Shalat Tarawih sebagaimana salat malam lainnya sanga dianjurkan untuk dilaksanakan selama bulan ramadhan. Hal ini bisa membantu kita semakin dekat dengan Allah SWT sebagaimana dalam hadits berbunyi :
“Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang saleh sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR Ahmad). 
Beranjak dari itu marilah kita raih untaian pahala tarawih malam pertama ini dengan sempurna dan mengharap ridha ilahi.


Helmi Abu Bakar el-Langkawi
Read More

HIKMAH RAMADHAN KE-2: PAHALA SHALAT TARAWIH & MEMBACA ALQURAN

May 17, 2018 0
Shalat tarawih sebagai ibadah khusus bulan Ramadhan, mereka yang beribadah dan melakukan shalat tarawih pada malamkedua akan mendapatkan pahala:

 وفى الليلة الثانية يغفر له ولأبويه ان كان مؤمنين 

Pada Malam yang ke : 2 Orang yang Shalat Tarawih akan diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya jika keduanya Mukmin.

Membaca Al-Quran

Bulan Ramadhan yang sedang ditempuh saat ini hendaknya kita meningkatkan amal ibdah. Satunya dengan memperbanyak membaca Al-Quran yang merupakan sebagai pedoman dan petunjuk umat Islam. Siapa yang membacanya juga termasuk ibadah walaupun tidak mengerti isi dan kandungannya. Ramadhan di identifikasikan sebagai bulan Al-Quran, hal ini disebabkan pada bulan ini alquran di turunkan. Setidaknya momentum ramadhan ini tentu saja menganjurkan kepada kita untuk lebih giat dan tekun dalam membaca, memahami dan menguak rahasia dalam kitab suci tersebut.

Rasulullah Saw sendiri orang yang sangat giat membaca al-Quran di samping akhlak beliau juga di ibaratkan sebagai al-quran berjalan. Dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, ia berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan padanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan padanya Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ditemui jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”
Hadist diatas meununjukkan kepada kita untuk memperbanyak membaca al-quran terlebih di bulan Ramadhan ini. Nabi Saw juga memanjangkan bacaan Alqurannya pada saat shalat malam di bulan Ramadhan, lebih dari malam-malam di bulan lainnya. Ini adalah sesuatu yang disyariatkan bagi mereka yang ingin memanjangkannya sesuai dengan kehendaknya, maka hendaknya ia shalat sendiri.
Namun boleh juga memperpanjang bacaan dalam shalat berjamaah atas persetujuan para jamaah. Selain itu, maka dianjurkan untuk membaca dengan bacaan yang ringan. Imam Ahamd berkata kepada sebagian sahabtnya yang shalat bersamanya di bulan Ramadhan, “Mereka itu orang yang lemah, maka bacalah lima, enam, atau tujuh ayat”. Berdasarkan pernyataan Imam Ahmad rahimahullah untuk memperingatkan agar memperhatikan keadaan para makmum dan jangan membebani mereka.
Apa yang di lakukan oleh Rasulullah juga di praktekkan para salafussaleh, dimana membaca Alquran di bulan Ramadhan di dalam shalat dan di luar shalat. Mereka menambah perhatian mereka terhadap Alquran yang mulia. Al-Aswad rahimahullah mengkhatamkan Alquran setiap dua hari. An-Nakha-I mengkhatamkannya setiap tiga hari, namun di sepuluh hari terakhir beliau tambah giat lagi. Sementara itu Qatadah mengkhatamkan Alquran di setiap tujuh hari dan di sepuluh hari terakhir beliau menyelesaikannya dalam tiga hari. Apabila bulan Ramadhan tiba, Az-Zuhri mengatakan, “Bulan ini adalah bulan membaca Alquran dan memberi makan”. Bahkan Imam Malik apabila masuk bulan Ramadhan meninggalkan membaca hadits dan berdiskusi bersama penuntut ilmu lainnya, beliau memfokuskan diri untuk membaca Alquran dari mushafnya. Qatadah fokus mempelajari Alquran di bulan Ramadhan. Hal ini juga di kerjakan oleh Sufyan ats-Tauri apabila datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan ibadah sunnah dan menyibukkan diri dengan membaca Alquran. Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat tentang perhatian para salaafush shalih terhadap Alquran di bulan Ramadhan.

Kelebihan Membaca -Quran

Termasuk keistimewaan Alqur’an adalah ia bisa diambil berkahnya. Allah berfirman: “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya…”QS al An’aam: 92. Imam Darimi meriwayatkan dengan sanad shahih bahwa sesungguhnya Ikrimah bin Abu Jahal seringkali meletakkan mushaf di wajahnya sambil berkata: “Ini adalah kitab Tuhanku, kitab Tuhanku”. Di antara berkahnya adalah bahwa membaca sebagian surat atau ayat darinya bisa mengusir setan dari pembaca dan rumahnya, dan sesungguhnya berkumpul untuk membacanya merupakan jalan bagi turun derasnya rahmat Allah, menarik keridho’annya, tempat datangnya ketenangan dan penyebutan Allah bagi orang – orang yang berkumpul karena Alqur’an.

Menggunakan Alqur’an sebagai pengobatan penyakit fisik dan untuk mengambil berkah tidak lantas mencegah menggunakan Alqur’an untuk penyakit hati, menolak kebodohan dan keraguan dari hati serta mengamalkan syariat dan hukum yang terkandung di dalamnya. Barang siapa setelah ini menyangka bahwa menggunakan Alqur’an pada satu sisi seperti pengobatan bisa membatalkan penggunaannya untuk sisi lain atau menafikannya maka persangkaannya itu didustakan oleh amalan Nabishallallahu alaihi wasallam dan amalan para sahabat serta tabiin. ( Kitab Haula Khasha’ish Alqur’an )
wwww.dinulislamnews.com
Read More

DAWUH SYEIKH PRAMUKIY: DAKWAH ADALAH MENAGAJAK DAN MEMPERBAIKI

May 17, 2018 0

“Kalau ada orang yang suka mabuk-mabukan ya ajak dia baik-baik agar meninggalkannya, dengan sabar, jangan memaki dia, sesungguhnya mereka terkena bala yang sangat sulit ditinggalkan, kasihani mereka.”
 Foto Fauzan Inzaghi.
“Kalau ada pelacur, dakwahi dia dan beri solusi yang lebih baik agar dia berubah, jangan menghina atau merendahkan dia, sesungguhnya mereka terjebak disitu, kasihani mereka.”

“Kalau ada orang yang salah paham tentang kewajiban menutup aurat, muamalah dengan non muhrim, kewajiban sholat, kewajiban menghormati orang berilmu dan hukum syar'i lainnya, kasih tahu dia baik-baik dengan penuh kasih sayang, jangan mencaci mereka dengan kata-kata kotor, walau mungkin awalnya nasehat kita dianggap bodoh dan ketinggalan zaman, sesungguhnya itu terjadi karena mereka tidak tahu, kasihani mereka.”

“Begitu juga kalau ada orang salah paham tentang makna jihad, kafir, harbi, khilafah dan lainnya maka harusnya kita tidak membully mereka, tapi ajaklah mereka berdialog dengan sabar, walau mereka akan mencela kita, itu karena mereka tidak tahu, kasihani mereka.”

“Apapun kesalahan mereka kasihani mereka, dan perbaiki mereka dengan baik, bayangkan saja kita atau saudara kita yang terjebak dalam kesalahan itu, baik kesalahan perbuatan atau pemikiran.”

“Betapa malang nasib kita, kita terjebak dalam lingkungan yang membuat kita salah, disatu sisi saudara kita yang lain dibanding menyelamatkan kita dengan sabar malah memlilih membuly kita.”

“Wahai para pembully, pemaki, dan yang menertawakan kesalahan manusia, jika kalian ingin merubah dan memperbaiki mereka bukan begitu caranya, itu bukanlah dakwah atau mengingatkan yang dikerjakan seorang dai,cara seperti itu sama sekali tidak akan merubah mereka, yang ada membuat mereka makin jauh.”

“Tapi jika niat kalian tidak ingin mengingatkan atau merubah, tapi hanya ingin memvonis dan menertawakan kesalahan orang maka sungguh kalian sudah sukses, sungguh kalian sudah sukses memvonis mereka dalam kesalahan, kalian sukses jadi hakim.”

Read More

Wednesday, May 16, 2018

POLA PIKIR BERBAHAYA YANG HARUS DIHINDARI

May 16, 2018 0

Ada lima pola pikir yang harus ditolak dan dihindari oleh umat Islam, yaitu pola pikir al-intihār, al-inbihār, al-ijtirār, al-inhisār dan al-ightirār. Berikut penjelasannya:
1. الانتحار (bunuh diri demi mengalahkan lawan). Orang yang memiliki cara berpikir ini mudah mengafirkan orang lain demi menunjukkan diri dan menjaga eksistensi.
2. الانبهار (terpesona dengan orang lain). Orang yang memiliki cara berpikir ini tidak menggunakan sumber-sumber hukum syariat dan tidak lagi bangga dengan peradaban Islam, karena ia telah terpesona oleh sihir peradaban lain, baik dalam hal negatif atau positifnya. 
Setiap hari kita dapat melihat orang yang memiliki pola pikir ini selalu berusaha mengingkari kaidah bahasa Arab, hukum-hukumnya, mengingkari kesepakatan para fuqahā’ dan ulama umat Islam sepanjang sejarah. Ia gemar melontarkan pendapat yang bisa merusak identitas dan menjauhkan karakternya sebagai seorang muslim, demi membangun karakter barunya sebagai penganut sekularisme dan globalisasi peradaban baru yang menyihirnya.
3. الانحسار (menutup diri dari dunia). Orang yang berpikir dengan cara ini memilih untuk melarikan diri dari realitas kehidupan zamannya, dan berlindung di balik mimpi, khayalan dan ilusinya. Hal ini mirip dengan keadaan orang yang melarikan diri dari medan jihad.
Syariat Islam sangat menolak pola pikir ini, karena Islam mengajak pemeluknya untuk hidup bersama masyarakat, melakukan interaksi dengan manusia dan ikut serta memakmurkan dunia. Allah berfirman: “Bersabarlah dengan baik” (QS. Yusuf: 18). Dan Rasulullah bersabda: “Seorang mukmin yang bergaul dengan masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka itu lebih baik dari yang tidak bergaul dan tidak bersabar”. (HR. al-Tirmidzi).
4. الاجترار (mengurung diri pada masa lalu). Orang yang berpikir dengan cara ini ditawan oleh semua pembahasan yang ia dapatkan pada khazanah ilmu Islam klasik (turāts), tanpa mau membentuk cara berpikirnya untuk dapat berijtihad. Ia seolah-olah hidup jauh dari realitas zamannya sendiri.
Foto Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum'ah.
Cara ideal mengobati pola pikir ini adalah dengan memahami berbagai manhaj turāts yang telah dibangun oleh ulama dan fuqahā’ agar kita mampu berjalan pada jalan lurus mereka, sehingga kita mampu berijtihad sesuai kondisi zaman kita, memperbarui pembahasan mereka agar sesuai realitas modern, dan membuat korelasi yang dinamis antara berbagai unsur yang bisa memengaruhi cara pikir dan karakter ilmiah modern.
5. الاغترار (terperdaya oleh diri sendiri). Pola pikir ini adalah cara pikir orang yang bukan ahli pada sebuah bidang ilmu, karena ia terperdaya oleh derajat pengetahuan yang ia anggap telah mencapai puncak spesialisasi ilmu, sehingga ia merasa bisa mandiri dan tidak perlu lagi belajar atau menimba pengalaman dari para ahli dan ulama yang telah menguasai ilmu ini sesuai unsur sistem pendidikan lengkap, yaitu: pelajar, pengajar, kitab, manhaj dan lingkungan ilmiah.
Lima unsur penting ini pun tidak bisa terlepas dari faktor bakat alami, seperti kesiapan, kecerdasan dalam menghubungkan pengetahuan dengan objektif, kemauan kuat yang mendorongnya untuk mencurahkan seluruh kemampuannya agar terus berada di jalan ini, menggali pengetahuan dan mendalami ilmu yang telah ia jadikan fokus pendidikannya.
Spesialisasi ilmiah membuat sang pencari ilmu memiliki naluri ilmu dan kode etik ilmiahnya, serta dapat mengoptimalkan bakat dan kemampuannya.
Spesialisai ilmiah dengan cara mempelajari dan menyelami ilmu dalam waktu yang lama menjadikannya layak dan mampu menerapkan nya pada realitas dengan sempurna.
Pola pikir ini (al-Ightirār) adalah pola pikir yang PALING BERBAHAYA, karena ia menipu. Sehingga pemilik cara pikir ini mengira ia telah mendapatkan ilmu syariat, padahal ia masih belum menyempurnakan alat-alat yang membuatnya layak untuk sampai pada derajat ulama pembaharu (turāts agar sesuai dengan zaman modern ini).
Foto Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum'ah.
Maulana Syaikh Ali Jum’ah, Ulama Al Azhar yang juga merupakan mantan Mufti Mesir
(Tārīkh Ushūl al-Fiqh, hal: 135-137)
Read More

Monday, May 14, 2018

10 FAEDAH MENAHAN LAPAR (PUASA)

May 14, 2018 0


Sebulan ke depan kita akan menjalani hari-hari dengan berpuasa. Menahan lapar dan dahaga sejak mulai dari terbit fajar (subuh) hingga tenggelamnya matahari (maghrib).
Menahan lapar tentu bukanlah perkara gampang. Namun demikian ternyata banyak sekali faedah bagi diri dengan menahan lapar. Puasa adalah cara terbaik untuk mengendalikan nafsu yang liar.

Dalam kitab Tashfiyatul Qulub ... Syeikh Yahya bin Hamzah al Yamani Adz-Dzimari menuturkan ada setidaknya 10 manfaat dan faedah daripada menahan lapar (puasa), sebagai berikut:


Faedah yang pertama, membeningkan hati, mempertajam matahati dan menyalakan bakat. Karena sebaliknya, kenyang menimbulkan kedunguan dan membutakan hati, memperbanyak uap pada otak melalui enzim-enzim sehingga karenanya hati dan benak akan kesulitan untuk berpikir. Orang kenyang kebanyakan berat dan malas berpikir.


Faedah yang kedua, melembutkan hati. Hati yang lembut akan dengan mudah merasakan manisnya munajat kepada Allah Swt. Ada banyak zikir lisan yang menuntuk hadirnya hati, namun malah terasa kering kerontang, akibat hati tak mampu terpengaruh. Mengosongkan perut (puasa) adalah cara yang paling baik untuk melembutkan hati.

Faedah yang ketiga, menimbulkan rasa hina dan patah hati. Ia akan melenyapkan kesombongan dan kecongkakan yang merupakan sumbu dari kezaliman serta kelalaian kepada Allah swt.

Faedah keempat, mengingatkan siksa Allah dan mereka yang mendapatkan bala (ahli bala). Kenyang akan menyebabkan lupa kepada orang-orang yang merasakan kelaparan. Rasa lapar dan haus akan memberikan gambaran kepadanya dahsyatnya sakratul maut dan perihnya siksa neraka. Dimana di dalamnya ia yang dalam keadaan disiksa hanya diberikan makan dari pohon dzaqqum adh-ahri (pohon untuk makanan ahli neraka yang berduri) dan minuman al ghassaq (air yang teramat dingin).

Faedah yang kelima, menjadi penghancur syahwat kemaksiatan dan mengalahkan nafsu pemicu tindakan jahat dan maksiat. Sebab, punca dari segala maksiat adalah nafsu syahwat. Syahwat bergerak bersebab kekuatan, dan kekuatan didapat melalui makan. Maka mengurangi makan dengan menahan lapar (puasa) akan menjadikan syahwat melemah.

Faedah yang keenam, lapar menghilangkan kantuk dan menjadikan mata tetap terjaga. Tentu saja hal ini dibutuhkan bagi pencari rahmat Tuhan di malam hari. Para shiddiqin mensedikitkan makan dan minum agar mereka kuat berjaga demi bersimpuh dan beribadah kepada Allah 'Azza wa jalla. Dan tidur yang banyak bakal menghilangkan banyak kesempatan dan ketersediaan umur.

Faedah yang ketujuh, rasa lapar akan memudahkan ketekunan dalam beribadah, sedangkan kenyang akan menjadikan malas. Makan tentu akan menghabiskan waktu kepada hal yang selain ibadah. Dimulai dari membeli dan/ atau memasak, mencuci tangan, mengunyah hingga bolak-balik ke jamban. Bagi para mujahidin dan 'abidin (pejalan di jalan ibadah) waktu akan selalu diusahakan menjadi peluang beribadah.

Faedah yang kedelapan, puasa menyehatkan badan dan menangkal berbagai penyakit. Karena kebanyakan penyakit berasal dari endapan ampas makanan di dalam perut dan usus. Sakit akan menghambat ibadah dan aktivitas.

Faedah yang kesembilan, lapar menunjukkan sikap hemat (meringankan suplai). Orang yang sedikit makan, ia dapat hidup dan merasa cukup dengan sedikit harta. Sedangkan bagi mereka yang banyak makan, hidupnya terus dihantui pertanyaan "apa yang harus kumakan hari ini?" Tuntutan untuk kenyang, juga akan membuka matanya kepada hal-hal yang idak baik, seperti ketamakan. Tamak merupakan puncak kehinaan.

Faedah yang kesepuluh, lapar akan menggugah rasa sosial ('itsar), mengutamakan orang lain diatas kepentingannya pribadi. Hal ini akan membuka ruang ibadah berupa sedekah kepada anak yatim dan fakir miskin. Makanan yang ia miliki bisa dibagikan, harta yang ia punya bersedia disedekahkan. Hal ini dikarenakan ia merasa cukup dengan makanan yang sedikit.

Demikian 10 faedah daripada menahan lapar (berpuasa). Dalam satu riwayat disebutkan, dengan makna: Rasul berdo'a kepada Allah swt agar ia dijadikan lapar sehari, dan kenyang sehari. Ketika ia Saw ditanya, ia menjawab, karena rasa lapar dan dahaga akan mengingatkan ku kepada mereka yang lebih membutuhkan (anak yatim dan fakir miskin).

Wallahu a'lam

Read More

DENGAN 6 HAL INI, SURGA MENDATANGI MU DAN NERAKA LARI DARI MU

May 14, 2018 0

Seluruh manusia yang beriman dan percaya kepada hari akhir, surga dan neraka tentu sangat menginginkan surga serta berharap tidak mendekati neraka sama sekali. Lalu bagaimana jika ada amalan yang bisa dilakukan dan dikerjakan oleh umat Islam, surga yang akan mendatanginya, serta neraka yang akan lari darinya.

Amirul Mukminin, Saiyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah meriwayatkan, "Siapa yang saja yang mengerjakan enam perkara, maka dia tidak perlu meminta surga dan tak perlu ia melarikan diri dari neraka. Enam perkara dimaksud adalah :
1. Setelah mengenal Allah Swt, ia mena'ati-Nya.
2. Setelah ia mengenal setan, dia mendurhakainya.
3. Setelah mengetahui tentang kebenaran, ia mengikutinya.
4. Setelah mengetahui kebathilan, ia menjauhinya.
5. Setelah ia mengenal dunia, ia menolaknya.
6. Setelah ia mengenal akhirat, ia bersungguh-sungguh mencarinya.

Dengan mengetahui pesan yang enam diatas, tampak betapa mudahnya surga diraih dan neraka dihindari. Kesemua itu adalah inti dari ajaran Islam, pokok dari kebaikan. Disana tertanam aqidah yang kokoh, amalan fiqih yang kuat dan tasawuf yang bersih.

Mengenal Allah Swt dengan segala kekuasaan-Nya, dengan segala rahmat dan azab-Nya tentu akan menggetarkan hati dan menundukkan jiwa. Raja dari segala raja yang harus dita'ati, setiap perintah dan larangan-Nya adalah mutlak.

Setan atau syaithan merupakan musuh bagi manusia. Ia yang selalu mengajak, merayu dan menipu umat manusia kepada kesesatan. Mengikutinya menjadi kerugian tersebar, terlebih setelah sepenuhnya sadar bahwa setan adalah musuh yang nyata.

Segala kebenaran bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Pembawa berita gembira dan penunjuk ke jalan yang benar. Alquran sebagai pedoman bagi umat manusia. Wajib bagi sekalian umat mengikutinya. Demikian juga dengan sunnah, dimana dengannya Alquran tampak semakin nyata. Perkataan Nabi Saw menjadi penjelas, perilakunya mencontohkan segala kebaikan dan kebenaran. Diam dan juga pembiarannya membuka ruang berpikir.

Kebathilan/ keburukan adalah lawan dari kebenaran. Tidak ada jiwa yang fitrah menginginkan berlakunya keburukan, kecuali nafsu-nasfu yang telah dikuasai setan. Maka lawanlah. Durhakai segala keburukan, jauhi, tinggalkan.

Dunia hanyalah alam fana. Wujudnya fatamorgana oase di tengah gurun tandus. Dunia suka menipu, dunia senang merayu umat manusia agar terbuai di dalamnya. Melupakan hakikat penciptaan. Kesenangan dunia berlaku sementara, tidak bijak bahi manusia berakal untuk mengejar dunia hingga melupakan kehidupan selanjutnya, dimana ia akan dihisab. Jadikanlah dunia sebagai ladang untuk bertani. Demi memanen hasilnya di kampung akhirat yang abadi.

Akhirat adalah kampung halaman, seluruh manusia yang pernah hidup, meski hanya sehela nafas, akan dibangkitkan di yaumil ba'ats, dimintakan pertanggungjawaban. Carilah akhiratmu di dunia.

Wallahu a'lam

Kitab Tashfiyatul Qulub min Daranil Awzar wadz-dzunub karya Syeikh Yahya bin Hamzah al Yamani (w.749)
Read More

Friday, May 11, 2018

MENYEBAR FITNAH, PERILAKU SI ANAK ZINA

May 11, 2018 0
Alquran menyebut fitnah sebagai namimah dan hammalah. Yang mempunyai makna menyebarkan kebohongan demi merusak citra seseorang, memperkeruh suasana dan menghancurkan hubungan yang telah terjalin. Namimah juga memiliki makna membongkar rahasia dan menyebarkan sesuatu yang tidak disukai darinya.
Dalam Alquran Allah SWT menyebutkan, pada Surah Al Qalam ayat 10-13:
"Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya (zaniim), karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak."

Berkaitan dengan ayat diatas, Imam Abdullah ibnul Mubarak berkata: "dia yang dimaksud pada ayat diatas adalah anak hasil zina, tidak bisa menyembunyikan pembicaraan". Ia (Ibnul Mubarak) mengisyaratkan bahwa setiap orang yang tidak bisa menyembunyikan pembicaraan dan melakukan namimah, perbuatannya itu menunjukkan bahwa ia adalah anak hasil zina. Dalil ini diambil dari firman Allah pada ayat ke 13. Az-zanim itu adalah al-da'i (yang keturunannya diragukan, tidak jelas).


Sedangkan dalam Surah Al Humazah ayat pertama, Allah mencela dan melaknat orang yang melakukan fitnah dan pengumpat, "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,...". Dalam satu tafsir disebutkan al humazah juga berarti al-nammam (pelaku namimah/ fitnah).


Peringatan Rasul SAW kepada umatnya akan bahaya dan siksa bagi pelaku ghibah maupun namimah sungguh sangatlah banyak. Diantaranya sabda Nabi SAW. "Seorang nammam tidak akan masuk surga." Dalam hadis lain disebutkan, "Seorang Qattat tidak akan masuk surga". Qattat adalah pembohong dan penyebar fitnah, sama dengan an-nammam".

Dalam hadits yang lain lagi, Rasulullah bertanya kepada Sahabatnya,"Maukah kalian kuberitahu orang yang paling jahat dantarakalian? Para Sahabat menjawab, "Ya, tentu." Lalu Rasul SAW bersabda, "Ialah orang yang senang melakukan namimah (fitnah), yang suka merusak keharmonisan antar kekasih, dan yang nendorong orang baik hingga tergelincir pada aib (provokator)."

Abu Dzar Al Ghifari mengatakan bahwa Rasul SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang mengalamatkan satu kata saja kepada seorang muslim, yang dengan kata itu dia menodai si muslim tak hak (yang syar'i), maka kelak di hari kiamat Allah akan menodainya dengan kata di neraka."


Disarikan dari kitab Tashfiyatul Qulub min Daranil Awzar wadz-zunub, karya Syeikh Yahya bin Hamzah al Yamani, bab Bahaya Lisan.



Ayyuhal muslim, wahai saudara-saudari kami yang muslim. Yang semua kita mengaku diri umat Muhammad, umat terbaik. Kita yang menyebut diri kita sebagai agen, penjaga dan pembela Islam. Sudah saatnya kita merenungi untaian nasihat dan peringatan dari Allah serta Rasul-Nya akan bahaya dan besarnya kecelaan namimah (fitnah).

Fitnah tersebar dari mulut, jari tangan, serta layar handphone dan laptop. Melalui pemberitaan hoax dan konten yang berisikan ujaran kebencian. Tanpa melalui proses tabayun (cross-check) dan pembuktian. Jika ghibah Allah samakan dengan suatu perkara yang menjijikkan (memakan bangkai saudara sendiri), bagaimana dengan namimah (fitnah) yang jelas lebih parah celanya.

Semoga Allah menjaga lisan dan tulisan kita daripada dusta, ghibah dan namimah yang sangat tercela dalam agama.
Read More

Sunday, April 1, 2018

PENYAKIT LISAN YANG PALING BERBAHAYA

April 01, 2018 0
Dalam masa kini, mudahnya mendapat informasi dan bebasnya akses umat untuk mendapatkan dan membagikan berita juga menjadi senjata yang dapat melukai diri sendiri, disamping memudahkan kita mendapatkan informasi-informasi yang positif dan membangun. Hal ini tentu saja menjadi salah satu bukti bahwa masyarakkat kita belum begitu siap dengan kemajuan teknologi,, terutama teknologi informasi.

Beberapa tahun belakangan, di masa reformasi dan kebebasan pers kita juga melihat di setiap stasiun televisi mempunyai acara gosip. Bahkan di satu channel, memiliki tiga sampai empat acara gosip. Di pagi, siang, sore dan malam. Kala itu, masyarakat hanya menjadi konsumen, jika pun mendistribusi gosip, lingkupnya masih lokal.

Memaknai Ghibah

Mengatai dan menceritakan sesuatu yang tidak disukai oleh seseorang yang menjadi objek gunjingan disebut dengan menggunjing mengumpat atau ghibah.

Ghibah yang paling ringan adalah memanggil orang lain dengan sebutan yang tidak ia sukai, seperti warna kulitnya, atau ras keturunannya, “hei, hitam, cina, atau lainnya” yang jika dipanggil dengan nama itu ia tidak senang. Atau pun dengan mengatai di belakangnya “si hitam, si pendek, si cina atau lainnya”.

Sebuah hadits dari Nabi Saw, "Tahukah kalian apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, Allah dan rasulnya lebih tahu. Beliau mepanjutkan, ghibah itu membivarakan saudara mu dengan sesuatu yang tidak diaukainya. Kemudian seseorang djantara sahabat bertanya, "bagaimana jika yang kukatakan tentang saudara ku itu benar adanya?" Rasul bersabda, "jika benar yang kau bicarakan, berarti kau menggunjingnya, jika tidak, berarti kau telah berbohong."

Berkaitan dengan itu Hasal Al Basri berkata, "Ada 3 kategori membicarakan orang lain: ghibah, bohong dan gosip. Ghibah adalah gunjingan kita kepada orang lain, tentang sesuatu yang benar adanya. Sedangkan bohong adalah berkata sesuatu yang tidak ada padanya dan gosip adalah membicarakan orang lain dengan sesuatu yang sampai pada kita (desas-desus/ isu) belum tentu benar dan salahnya." 

Kesemua itu memiliki ketercelaan yang sama-sama dibenci oleh agama.

Ketercelaan Ghibah


Agar kita bisa terhindar dari ghibah baik berbentuk gunjingan, bohong atau gosip, kita perlu mengetahui tentang bahaya dan ketercelaan ghibah dalam islam.

Yang pertama firman Allah yaitu surah al hujarat ayat 12.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Perumpamaan dan oersamaan yang sungguh sangat menjijikkan dari Allah tentang ghibah, yaitu memakan bangkai manusia (saudara kita sendiri).

Yang kedua ada hadits/ sunnah atau khabar dari Rasulullah "Janganlah kalian saling hasud. Saling dendam, salingbermusuhan da saling menggunjing dinantara kalian. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang salig bersaudara."

“Kalian juga mesti menghindari ghibah, karena ghibah itu lebih berbahaya daripada zina."

Bahkan disebutkan, Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa As bahwa orang yang mati dalam keadaan tobat dari ghibah akan menjadi orang yang paling akhir masuk surga, sedangkan orang yang mati dalam ghibah dan belum sempat bertobat menjadi yang paling awal masuk neraka.ancaman yang sangat menakutkan dari Allah swt tentang bahaya ghibah.

Ketiga ada atsar sahabat dan para salafussalih lainnya.
 
Abu Hurairah berujar, "orang yang memakan daging saudaranya (menggunjing) di dunia, maka diakhirar kelak daging itu akan didekatkan padanya, lalu dikatakan kepadanya "makanlah daging bangkai ini sebagaimana engkau memakannya dalam keadaan hidup di dunia dulu."

Qatadah berkata "dikatakan kepada kami bahwa azab kubur terjadi sebab 3 perkara, sepertiga dari ghibah dan sepertiga dari fitnah dan sepertiga disebabkan oleh kencing."

Al hasan berkata "Demi Allah bagi seorang mukmin, ghibah itu menggerogoti agamanya bahkan lehih cepat daripada penyakit kangker menggerogoti tubuh badannya."

Ibnu Abbas berkata, "Jika engkau hendak menggunjing ab-aib orang lain, ingatlah dulu tentang aib-aib mu yang sangat banyak."

Hasan Al Basri berkata, “Wahai anak Adam, engkau tidak akan mencapai hakikat iman sebelum engkau tidak lagi mencela aib orang lain dengan aib yang aib itu juga ada pada mu, sebelum engkau memperbaiki aib itu dari diri mu. Jika engkau melakukan itu (memperbaiki aib mu sendiri) tentu engkau akan sibuk memperbaikinya dan tak sempat lagi mencela orang lain. Dan yang demikianlah hamba yang paling dicintai oleh Allah."

Ali Zainal Abidin bin Al Husein berkata ketika ia mendengar seseirang menggunjng seseorang. "Hindarilah ghibah karena ghibah adalah lauk pauk anjing-anjing neraka."

Faktor Terjadinya Ghibah


Kenapa Ghibah sering terjadi, kita perlu mengetahui faktor-faktor yang menjadikan seseorang berghibah. Setidaknya ada 8 faktor utama yang mendorong seseorang untuk menggunjing saudara.
Yang pertama adalah peluapan emosi dan kemarahan. Disaat emosi kemarahannya meluap, ia akan membicarakan kejelekan-kejelekan pada orang yang sedang ia marah.
Kedua adalah perasaan khawatir. Ia khawatir jika seseorang akan menimpakannya suatu bahaya, sehingga ia membeberkan kejelekan orang itu kepada orang lain yang punya power lebih kuat.
Ketiga adalah mengikuti kebiasaan teman (ikut-ikutan), yaitu berusaha agar ia menjadi bagian dan sama dengan mereka.
Keempat adalah membersihkan nama baik dari tuduhan, sehingga pada beberapa fase, ia malah membuka aib oranglain demi membela diri.
Kelima sombong, keinginannya untuk bergaya dan meninggikan dirinya dengan mengerdilkan orang lain.
Keenam adalah iri dengki. Ia tak suka dengan kemewahan dan kenikmatan yang didapat orang lain, sehingga dia membuka aib-aib yang tak diketahui orang banyak. Hingga melakukan fitnah, menyebarkan berita bohong.
Ketujuh adalah melawak, kadang dalam menghabiskan waktu untuk tertawa dan lucu-lucuan, kita malah menjadikan kekurangan oranglain sebagai bahan lawakan.
Kedelapan adalah sarkasme yaitu berupa sindiran yang berbunyi ejekan. Biasanya terjadi di hadapan orangnya langsung namun tak jarang menjadi ghibah di belakang.

Obatnya adalah takut akan murka Allah, karena Allah SWT sudah menyatakan betapa buruknya perumpaan pelaku ghibah terhadap saudaranya.
Sebagaimana ia tidak suka digunjing orang, maka ia pun tidak mau menggunjing orang lain.

Sedangkan kafarat/ tebusannya adalah mengakui segala kesalahan dihadapannya dan meminta maaf kepada orang yang dighibah selama ini. Jika tidak mampu,.maka ia harus bertaubat dan membalik.keadaan, dengan terus memuji dan mengabarkan  segala kebaikan yang pernah ia perbuat juga
 mendoakan segala kebaikan untuk orang yang pernah dighibah olehnya.

Semoga kita semua mampu menahan lisan kita dari menggunjing dan memftnah saudara kita.

Sumber dari:
Syeikh yahya Ibn HAmzah Al Yamani Adz Zimari -Kitab Tashfiyatul Qulub min Daran al Awzar wa al-dzunub- 749H.
Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh - Al Qabas An Nur al Mubin min Ihya Ulumuddin

Read More

Friday, March 23, 2018

ZUHUD MENJADI PENGHALANG KEMAJUAN UMAT ISLAM?

March 23, 2018 4
Diantara umat Islam, masih banyak yang bertanya tentang kebolehan mengejar dan memiliki perkara duniawi. Bolehkah? Atau memang Islam melarang umatnya mengejar dan memiliki dunia?

Foto Ichsan Adnan.

Memaknai Zuhud dan Faqir Yang Sebenarnya

Perlu diketahui bagi setiap umat Islam, bahwasanya islam tidak mengharamkan  kepemilikan dunia kepada pemeluknya. Dunia tetap memiliki peran bagi umat islam, dan umat berhak atas dunia. Hanya saja umat islam dilarang menjadi budak dunia, yang terus mengejar dunia hingga melupakan tujuan awalnya, yaitu menjadi hamba berbakti dan ta’at kepada Allah dan memperoleh kebahagiaan hakiki di akhirat kelak.

Tujuan utama manusia diciptakan Allah adalah untuk ta’abbud, yaitu beribadah dan menyembah Allah SWT. Sebagaimana dietapkan oleh Al Quran Surat Adz-Dzariyat ayat 54 "Tidaklah Ku ciptakan jin manusia, melainkan hanya untuk menyembah kepada-Ku"

Hidup di dunia adalah ibarat singgah di pelabuhan sementara untuk mengambil bekal menuju perjalanan panjang, akhirat. Demikian banyak diutarakan oleh ulama-ulama Sufi.

Keseimbangan antara dunia dan akhirat menjadi hal yang penting diketahui oleh umat islam kebanyakan, dikarenakan di satu sisi umat manusia yang terlalu dok dengan dunianya, melupakan tujuan akhirat yang seharusnya menjadi tujuan utama. Sedangkan di pihak lain, beberapa umat islam meninggalkan perkara duniawi dan hanya memfokuskan hidupnya kepada akhirat di balik jubah zuhud yang diinterpretasinya.

Hal ini sering dijadikan fokus kritik terhadap kaum Sufi oleh Syeikh Muhammad al Ghazali, ulama kenamaan Al Azhar Mesir dalam bukunya Segarkan Imanmu terbitan Penertbit Zaman. Padahal beliau selain seorang faqih, ahli hadits juga merupakan seorang sufi, namun secara fair beliau mengkritik keras penafsiran istilah zuhud yang membawa umat kepada kemunduran.

Demikian juga dengan faqir, makna faqir adalah merasa butuh kepada Allah setiap saat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili, bukan tidak mempunyai harta dan kekuatan sama sekali. Maka dari itu dalam kehidupan Syeikh Abul HAsan Asy-Syadzili ia dikenal sebagai seorang sufi yang kaya harta. Namun hartanya tidak menjadikan ia terikat padanya.

Dalam kehidupan para sahabat pun kita mengenal Abu BAkar dan Utsman bin Affan yang mempunyai harta berlimpah, dimana semua harta yang ia miliki bisa diwariskan kepada umat. Menjadi salah satu tonggak berdirinya dinul islam. Keduanya senantiasa membantu perjuangan Nabi SAW. Hal serupa juga terdapat pada Khadijah istri pertama dan tercinta yang dimiliki oleh Nabi SAW.

Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi

Contoh teladan terbaik umat manusia adalah Rasulullah Muhammad SAW yang merupakan manusia paling sempurna dan paling bertaqwa kepada Allah SWT. Setiap yang ada pada dirinya adalah keteladanan. Rasulullah SAW selain mengemban amanah sebagai Rasul yang membawa risalah ukhrawi, juga bertindak sebagai manusia yang bekerja di dunia untuk kepentingan duniawi.
Muhammad menjadi seorang pedagang, yang notabene adalah perkara duniawi, menjadi pemimpin negara, bertindak sebagai suami dan ayah.

Dari situ kita melihat pengaruh keduniwaian juga melekat pada diri Rasul SAW dan beliau memberikan contoh terbaik. Hanya saja, Rasullahu Muhammad SAW tidak menjadi budak dunia, sehingga ia lupa dengan tugas utamanya sebagai Rasul yang mengemban tugas ukhrawi dari mengajarkan ummat untuk mengenal Allah dan beribadah kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW pun penuh totalitas dalam bekerja sebagai Pemimpini Negara, Panglima Perang atau sebagai Pedagang di masa mudanya. Terlihat, ketika ia menjadi pedagang, ia mendapatkan untung yang sangat banyak.

Inilah yang menjadi interpretasi paling tepat dari firman Allah yang lain dalam Surat Al Baqarah ayat 30, yaitu "Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi..."

Benang Merah Zuhud dan Misi Khalifah

Benang merah yang menjadi penghubung antara keduniawian dan ukhrawi yang dikerjakan Nabi SAW, adalah mengisi perkara dunianya dengan nilai-nilai akhirat, sehingga segala bentuk pekerjaan yang ia lakukan mengandung nilai ibadah, hal ini berguna bagi pribadinya.

Bagi umat, totalitas pekerjaan yang dilakukan oleh Nabi SAW didapatkan hasilnya dengan sangat puas dan bermanfaat. Muhammad SAW menjadi pemimpin yang adil, menjadi panglima perang yang cerdas dan gagah perkasa, menjadi pedagang yang jujur dan amanah. Ia pun berperan sebagai suami dan ayah yang bijak bagi keluarganya.

Disinilah dunia bisa berubah menjadi akhirat, ketika setiap pekerjaan keduniawian diisi dan dihiasi dengan nilai ukhrawi.

Para sahabat radhiyallahu’anhum pun yang sejatinya adalah didikan langsung dari Nabi SAW tidak semuanya dididik menjadi seorang faqih nan ‘alim dalam ilmu agama. Melainkan mereka sangat beragam. Ada diantara mereka yang menjadi pedagang dan saudagar sukses, ada yang menjadi pemimpin penerus beliau yang sangat hebat dan bijak, ada yang menjadi pekerja yang jujur di segala lini kehidupan. Ini juga menjadi bukti, bahwa Nabi SAW dan ajaran Islam yang dibawa olehnya tidak mengekang keduniawian.

Umat Islam harus mampu menguasai berbagai elemen penting dalam kehidupan, agar tidak ditindas oleh kaum kuffar yang menjadi dunia sebagai Tuhan dan tujuannya. Menguasai ekonomi, pendidikan bahkan teknolohi, hanya bisa dicapai melalui totalitas belajar dan bekerja.

Begitulah konsep keseimbangan yang dibawa oleh Islam antara dunia dan akhirat.

Seorang arif berujar, "Niatkanlah dunia yang kau kejar dan pergunakanlah yang telah kau gapai untuk kemenangan akhiratmu kelak."

Wallahu a'lam
Read More