TARBIYAH ONLINE: Suriah

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Showing posts with label Suriah. Show all posts
Showing posts with label Suriah. Show all posts

Sunday, June 17, 2018

NEGERI SYAM DAN JEJAK WALI ABDAL (2) Umat Yatim dan Dunia Baru

June 17, 2018 0
Tarbiyah.Online - Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan bahwa jika Ahli Syam (penduduk negeri Syam) sudah rusak maka tidak ada lagi kebaikan di dunia ini. Tuhan menjaga Ahli Syam dengan menjaga ulamanya, ulama yang menjaga iman umat. Yang membuat spesial Ahli Syam adalah perpaduan antara ilmu zahir dan batin, ilmu kalam yang katanya ilmu debat, kering, jika diajarkan ulama Syam bisa jadi ilmu yang membuatmu menangis. Itu dia spesialnya para abdal.
Syeikh Anas Syarfawi

Ilmu ushul fiqh yang katanya ilmu akal murni, melelahkan, kering dan tanpa sisi ruhaniyah bisa bikin kita taubat jika diajarkan ulama Syam. Dan orang seperti itu selalu ada di Syam dari generasi ke generasi, warisan paling mahal di negeri Syam, dan Sayidina Muhammad SAW sendiri yang menjaminnya

Tentu kami merasakan kiamat kecil saat satu persatu ulama besar meninggalkan kami, terutama dengan wafatnya nama-nama besar seperri Syeikh Sa'id Ramadhan Albuty, Syeikh Wahbah Zuhayly, Syeikh Abdurrazaq Halaby dan seterusnya. Perasaan yang kami rasakan saat itu  seolah "kami menjadi yatim", siapa yang akan menjaga kami? Bagaimana kami menjalankan hidup kami setelah ini?


Baru-baru ini aku ditegur, Sampai kapan kamu merasa yatim? Dunia terus berjalan dan nabi telah menjanjikan akan selalu ada di syam orang yang mewarisi tugas besar sebagai penjaga iman umat manusia. Mereka generasi baru, yang disiapkan oleh pendahulu untuk menjadi penerus tugas mereka.
Syeikh Hasan Khiyami


Akhirnya akupun terbangun dan sadar, mau tidak mau aku harus menerima, jika sekarang zaman sudah berubah, selalu ada orang spesial disetiap zaman. Dan aku bertemu dengan dua orang yang mewarisi tugas pendahulu mereka dan memahami zaman ini. Segalanya baru, dunia baru dan diisi oleh orang-orang baru yang akan menjaganya.

Diantara mereka yamg kukenal dan hadir untuk dunia baru adalah syeikh Hasan Kjiyami dan syeikh Anas Syarfawi. Dua orang dari generasi baru yang sangat kukagumi. Dimata mereka aku melihat kecerdasan dan kelurusan albuty, ketawadhuan dan keluasan ilmu wahbah zuhayly, keikhlasan dan keramahan kuftaro.

Dan aku bersyukur bisa belajar pada dua generasi yang berbeda ini. Mereka adalah manusia syam yamg terpilih untuk memikul beban umat manusia. Insyaallah nanti akan kuceritakan apa yang mereka ceritakan dalam persatuan hari ini, syeikh Hasan Khiyami tentang dunia tanpa jarak antara kita dengan orang yang sudah wafat, Syeikh Anas Syarfawi siapa itu manusia.

Oleh Ustadz Fauzan
Read More

Sunday, November 19, 2017

Saiyidah Khadijah Cinta Pertama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wa Sallama

November 19, 2017 0
Tarbiyah.online – Perkenalan Saiyidah hadijah dengan Baginda Nabi Muhammad telah dimulai sejak awal, ketika Muhammad mendagangi barang-barang Khadijah di pasar Hubasyah. Sebelum Muhammad menjalankan bisnisnya ke Syam. Muhammad memang telah dikenalnya juga melalu pembicaraan para warga Mekkah, bagaimana sikap jujur, bersih, menjaga diri dan sopannya serta jiwa ksatrianya. Ia tahu Muhammad bukanlah pemuda biasa. Ditambah lagi dengan cerita Maisarah ketika menemani dan membantu Muhammad selama di Syam.


Cerita-cerita Maisarah tentang keajaiban yang terjadi pada Muhammad semakin membuat Khadijah berdecak kagum dan menaruh hormat kepada Muhammad. Tiba-tiba menyelinap rasa penasaran yang lebih besar dalam diri Khadijah. Dan ia teringat akan cerita sepupunya yang merupakan seorang ahli kitab yang masih sangat ketat ketauhidannya. Ia menyembah Allah yang satu, dengan mewarisi ajaran Ibrahim, serta tekun mempelajari kitab Taura dan Injil.. Ia juga sangat anti dan mencela kebiasaan orang Qurays yang menyembah berhala dan menyekutukan Allah, Waraqah bin Nauval. Ia pernah bercerita akan segera datang Nabi yang menyeru kepada Tauhid, mengajak kepada kebaikan dan menghindari segala perbuatan yang buruk dan menghinakan.

Khadijah yang mengingat cerita tersebut, teringat akan Muhammad. Ia merasakan getir-getir bahwa Muhammad sepertinya orang yang diceritakan. Karena keluhuran sikapnya, dan keajaiban perlindungan yang didapatkannya.

Segera Khadijah berangkat menuju Waraqah. Dia pun bercerita tentang apa yang diceritakan Maisarah kepadanya. Waraqah pun berdecak kagum. Dan meminta Khadijah menceritakan ulang dari awal. Sehingga ia tak bisa berkata-kata untuk waktu yang sementara. Keduanya terdiam, lalu dengan sedikit gugup, Waraqah mencoba membuka mulut. “Kalau benar apa yang telah kau ceritakan itu, wahai Khadijah, sungguh tak ayal, itu adalah ciri-ciri dari Nabi umat ini. Inilah saat yang ditunggu-tunggu itu. Setelah berkata demikian, Waraqah mengangkat tangan ke langit dan berseru setengah berteriak, “Sampai kapan, sampai kapan?”

Khadijah pun beranjak meninggalkan sepupunya itu dengan perasaan tak menentu. Berjuta rasa bergejolak dalam jiwanya. Makin hari, semakin tak terkendali. Ia membayangkan Muhammad, namun ia berusaha menepisnya. Tapi ayal, semakin ditepis, bayangan itu semakin nyata dalam benaknya. Ia menutup mulut rapat-rapat, tak menceritakan kepada siapapun apa yang dipikirkan dan dirasa olehnya. Ia pun berusaha untuk menjadikan bayangan itu menjadi impian saja. Membuat hatinya sedikit lebih tenang. Hanya saja, semakin berlalunya waktu, impian yang dikenangnya itu semakin membuncah hendak keluar dari alam mimpi. Ia benar-benar tak berkutik, ak mampu ia menanggung perasaannya.

Ia pun memutuskan untuk menceritakan kepada orang lain. Dia memilih Nafisah binti Munyah, yang merupakan teman terdekatnya. Selama ini, kedekatan mereka sangatlah rapat. Hampir tidak ada rahasia diantara keduanya. Selain bisa dipercaya untuk berbagi cerita, Bnafisah juga memiliki pendapat dan pandangan yang mantap terhadap apa saja curhatan yang dilontarkan Khadijah selama ini.

Di suatu sore, mereka perempuan yang anggun lagi terhormat ini duduk berdua, Khadijah mencoba menjadi seperti biasanya, mereka bercanda, saling menggoda dan bercerita hatta perihal cinta. Tiba-tiba Nafisah memotong pembicaraan dan menembak ke arah Khadijah, “Kulihat ada yang berbeda dengan mu hari ini duhai sahabat ku. Wajah mu sedikit mendung, adakah yang kau sembunyikan dariku? Atau hanya dugaan ku saja.” Khadijah pun terdiam, serasa tertembak di ulu hati, ia tercekat.
Nafisah yang melihat gelagat sahabatnya pun melanjutkan,” Katakanlah pada ku, ceritakan apa yang sedang kau hadapi saat ini, apa yang kau pikir dan kau rasakan. Barangkali aku bisa membantu mu menyelesaikan masalahnyaa. Siapa tahu aku bisa menghapus kesedihan yang tersrat di wajah anggun mu.”

Khadijah masih terdiam, lalu ia menarik nafas dalam-dalam untuk memantapkan perasaannya. Lalu ia pun berkata, “Baiklah. Ini semua terjadi karena ada keinginan dihati ku yang membuat aku kacau.”
“Orang seperti mu bisa dihampiri oleh perasaan dan keinginan yang membuat mu kacau juga?” timpal Nafisah dengan nada bertanya. Khadijah menngangkat sebelah tangannya dan menyapu ke wajah sahabatnya itu, “masalahnya tak sesederhana yang kau duga.” Kilah Khadijah.

“Lalu”, Nafisah penasaran.
Khadijah pun kembali terdiam. Nafisah menunggu hampir putus asa, tak ada jawaban dari Khadijah. “Apa pendapatmu tentang Muhammad?” Tanya Khadijah memcah kesunyian diantara mereka.
“Kenapa dengan Muhammad? Apa peduli mu tetang dirinya?” sentak kemudian, Nafisah yang berkata seperti itu sadar, apa yang sebenarnya sedang bergejolak di hati sahabatnya itu. Matahari sore yang memantul diatas ufuk langit Mekkah pun mewarnai kesunyian diantara mereka.

Khadijah sadar temannya telah mengetahui maksud dan arah pembicaraannya, ia pun memberanikan diri untuk bercerita lebih lanjut,”tetapi mana mungkin aku dengan Muhammad? Dia adalah seorang pemuda belia yang gagah perkasa, sedangkan aku sudah tua, umurku telah mencapai empat puluh, lima belas tahun lebih tua darinya, aku juga seorang janda yang ditinggal mati dua kali. Dia adalah orang yag terpandang dari keturunan ternama, dimuliakan di tengah kaumnya, nasabnya bersih. Apakah mungkin dia mau menerima ku?”.

“Tidak Khadijah!” Sergah Nafisah. “Meskipun umur mu tak lagi muda, di tengah kaummu, kau tetap utama, kau juga memiliki nasab yang agung, kau tampak masih muda dan kuat, bahkan jujur saja, kau tampak masih berumur tiga puluh tahun bahkan lebih muda. Dan jangan lupa, hampir setiap lelaki membincangkan mu, mereka datang melamar mu, namun semuanya kau tolak. Itu cukup sebagai bukti.”

Ucapan dari sang sahabat dekat mampu membuat Khadjiah sedikit leboh tenang. Ia lega dengan kalimat yang dilontarkan sahabatnya. Seolah menumbuhkan harapan baru terhadap mimpinya bisa menjadi kenyataan. Atau setidaknya, ia telah merasa lega, karena telah meluahkan perasaanya yang selama ini mendidih di dalam jiwanya. Sejurus kemudian, Khadijah malah berkata,” tetapi, manakah jarak hasrat ku dan hasrat Muhammad ibn Abdillah, antara cinta ku dan cintanya? Bagaimana ia bisa tahu jalan menuju keberadaan ku? Nafisah, apa yang kita bicarakan ini tak lebih dari seiris mimpi yang jauh dari kenyataan, yang akan segera sirna disaat mata terjaga. Mugkin ini hanya puncak lamunan ku saja.”

Nafisah pun tersenyum, lalu samil menepuk dada tanda percaya diri yang tinggi, ia berujar, “Serahkan urusan itu pada ku, pasti bisa kuselesaikan dengan mulus seperti ingin mu.” Setelah berkata itu, Nafisah bangkit dan berlalu, meninggalkan Khadijah sendirian. Ia pun ikut beranjak, sambil berjalan ia melihat para gadis dan anak-anak sedang bermain di dekatnya. Pikirannya malah melayang ke sebuah kejadian beberapa tahun lalu.

Waktu itu waktu dhuha, Khadijah yang sedang bermain-main bersama teman-teman ciliknya di sebuah suddut kota Mekkah, didatangi oleh seorang kaum Yahudi yang entah darimana datangnya. Mungkin ada sebuah kekuatan ghaib yang mengarahkan dan membawanya ke bumi Mekkah. Pria itu berhenti tepat di hadapan Khadijah dan teman-temannya, dan tertawa sejadi-jadinya. “telah datang masa kedatangan nabi terakhir, siapa diantara kalian yang dapat menjadi istrinya, maka lakukanlah!” teriaknya. Tersentak para wanita-wanita tersebut, mereka mencemooh, mengusir dan melempari dengan batu si Yahudi. Karena menganggap dia orang yang tidak waras, dengan sikapnya seperti orang gila. Hanya Khadijah yang tidak ikut serta. Khadijah malah terkesan dengan kata-kata yang keluar darinya.
Khadijah yang terkenang akan masa lalunya, bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa gerangan yang membuatnya malah mengingat kenangan itu, apa di balik semua ini?

Hari-hari pun terus berlalu. Khadijah tetap berada dalam posisi menunggu dengan perasaan tak karuan. Sementara Nafisah telah menyusun rencana. Di pagi hari, Nafisah bergegas menuju Ka’bah dan mencari Muhammad. Begitu ia melihat dan mendapati Muhammad, ia buntuti dari belakang. Ia menunggu kesempatan untuk bisa berbicara dengan Muhammad, hanya berdua saja. Maka, tiba di tempat yang sunyi, Nafisahh mendekat dan setengah berbisik berkata kepada Muhammad,” Muhammad, aku nafisah binti Munyah. Aku datang membawa berita tentang perempuan agung yang suci dan mulia. Dia sosok yang sempurna, cocok untuk mu. Kalau engkau bersedia, ku sebutkan namanya, dan menyebut namamu disisinya.”

Muhammad terdiam sesaat. Kata-katanya mengejutkan beliau, “Siapakah dia?” Muhammad penasaran.

“Ia adalah Khadijah binti Khuwailid. Tentu kau sudah mengenalnya.” Melihat gurat wajah penuh kharisma yang sedang dilanda rasa beragam rupa, Nafisah melanjutkan,”Tak usah kau jawab sekarang, ambillah waktu mu untuk berpikir-pikir dahulu dengan matang. Aku akan menemui mu kembali besok atau lusa.” Nafisah pun berlalu, khawatir dilihat oleh orang lain.

Perkataan Nafisah menjadi beban pikiran Muhammad. Ia heran kenapa ada perempuan yang menyodorkan berita yang belum pernah terlintas dipikirannya selama ini. Adakah ini hanya basa-basi atau ledekan dari perempuan yang sedang iseng? Atau ini murni dari hati Khadijah? Atau memang sekedar olok-olok. Dalam hati kecil Muhammad bertanya, apakah mungkin Khadijah mau dengannya? Khadijah adalah perempuan yang cerdas, terpandang dan kaya raya. Keagungannya tidak diragukan lagi, sedangkan dirinya hanya pemuda biasa bahkan tergolong miskin. Ia hanya pembantu bisnis Khadijah.

Setelah menganalisa berbagai kejadian terutama, kenekadan Nafisah yang dengan polos dan bersihnya cara penyampaian, kuat keyakinan bahwa itu benar-benar utusan Khadijah. Disampaikanlah kepada Abu Thalib dan seluruh keluarga besarnya, untuk bahan pertimbangan melalui musyawarah keluarga besar hingga akhirnya sepakat untuk datang melamar Khadijah.

In syaa Allah akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya bagaimana proses lamaran dan awal mula kehidupan Nabi Muhammad SAW bersama Khadijah sang Istri Tercinta.
Read More

Tuesday, November 14, 2017

Perjalanan Dagang Ke Syam Pertama Yang Menggelisahkan Hati

November 14, 2017 0
Kedekatan Muhammad kecil dengan pamannya Abu Thalib, sangatlah erat sekali. Dia tidak ingin berpisah meskipun hanya sehari saja. Mungkin ini adalah insting yang  muncul secara naluriah karena ia tidak ingin kehilangan orang yang dekat dengannya dan penuh kasih dan sayang dalam mencintainya, sebagaimana ibunda Aminah dan sang kakek Abdul Mutthalib. Ia pun begitu mencintai Abu Thalib beserta istrinya. Tetapi Muhammad yang masih belia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Muhammad masih kecil, ekspresi cinta kepada mereka jelas hanya bersifat rasa dan ketergantungan.

Sampai-sampai ketika hari dimana kafilah dagang Arab telah menentukan hari untuk berangkat berdagang ke Syam –sudah menjadi adat bangsa Arab melakukan ekspedisi dagang ke Syam dari aman-, bagi penduduk Mekkah hal ini sudah mendarah daging. Muhammad kecil meminta untuk ikut ke Syam, ia tidak sanggup jika tidak melihat keberadaan pamannya walau sesaat. Sang paman menampik keinginan si kecil. Menurutnya, Muhammad kecil masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang wanita dan sosok ibu, belum waktunya bagi si kecil untuk ikut ekspedisi dagang ini. Apalagi, Abu Thalib khawatir jika ia bisa menjadi lalai dengan barang dagangannya, hingga pengawasannya terhadap Muhammad akan berkurang dan terpecah. Bagaimana jika ia kelelahan, dan tak tak sanggup mengimbangi perjalanan kafilah.

Semua kekhawatiran itu memenuhi benak sang paman, demikian juga dengan bibi-bibinya. Namun Muhammad bergeming, ia merasa kekhawatiran yang berlebihan itu tidaklah patut. Ia merasa tidak puas dengan keputusan paman yang demikian. Sang paman pun bingung, karena keponakannya ini, tidak bisa dipisahkan dengannya. Tapi tetap saja mereka tak bisa bersikap keras. Wajah Muhammad kecil yang dipenuhi dengan nur, memancar dan meluluhkan hati mereka semua. Ditambah rasa iba sang paman ketika mengingat masa lalu sang keponakan kesayangannya ini yang nihil akan kasih sayang sang ayah dan miskin waktunya bersama ibu. Ia pun berat hati untuk meninggalkan Muhammad.

Abu Thalib berkata kepada istrinya Fathimah,”Kemaskan barangnya, Aku akan membawanya ikut dan menjaganya.” Fathimah terkejut dengan keptusuan suaminya, dan merasa berat hati, namun ia tak ingin membantah sang suami. Dengan penuh keraguan dan rasa iba, ia kemasi barang dan bekal untuk Muhammad, dan menggantungkan nasib Muhammad kecil serta suaminya kepada Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia agar dijaga keselmatan mereka.

Kafilah pun berangkat menuju Syam, melewati Madinah -Yastrib saat itu-, Khaibar, Tima’, dan Tabuk. Sebuah perjalanan yang amat panjang, dengan sedikit istirahat sebelum mereka mencapai Bushra, salah satu ibu kota negeri itu. Untuk pertama kalinya, Muhammad menyaksikan bangunan-bangunan megah, orang-orang asing, para budak yang diperjual belikan dan budak yang bersama tuannya, juga orang merdeka lainnya. Kaum konglomerat dan kaum fakir, semua berbaur di pasar itu. Muhammad dititipkan sebentar di sebuah kuil tua nan besar bersama beberapa pembantu yang sedang beristirahat disana. Abu Thalib berpesan pada mereka  untuk menjaga Muhammad dengan sangat baik.
Sesaat kemudian, Abu Thalib kembali dan menggandeng tangan Muhammad, mengajaknya jalan-jalan, hingga ke sebuah rumah besar dan bertingkat. Mereka pun naik ke lantai atas dan melihat-lihat ke sekitar. Tiba-tiba seorang tua yang berpakaian hitam dan kasar, datang. Ia memegang tangan Muhammad kecil yang belum matang usia remajanya, dan memeriksanya. Ia tercenung beberapa saat, kemudian meneliti setiap garis dan guratan wajah si anak belia ini. Lalu dengan cepat, pria tua itu menyingkap pundak Muhammad dan kemudian lututnya, seolah ia sedang mencari dan memeriksa sesuatu yang ada pada tubuh badan Muhammad kecil.
Barulah kemudian ia berbicara dengan sangat serius dan -fokus seolah hanya mereka saja yang ada disana-, dalam keramaian orang-orang di dekat pasar. Gelombang pertanyaan pun menghantam Muhammad dan sang paman satu demi satu, mereka menjawabnya dengan cermat. Tetapi, ketika pria tua ini meminta Muhammad untuk bersumpah atas nama Lata dan Uzza, Muhammad berpaling dan menghindar,” Jangan sekali-kali engkau menanyakan tentang keduanya. Sungguh demi Allah aku sangat membenci keduanya melebihi apa pun yang ada.” Berkata sambil melemparkan wajahnya ke arah lain.

Lalu pria tua tersebut bertanya, ”Siapa ayah dari anak ini?”, Muhammad terpana.
“Akulah ayahnya,” jawab Abu Thalib dengan tegas. Pria itu pun menatap lekat wajah dan memerhatikan tubuh Abu Thalib, lalu bergumam tak percaya, “Bukan, tidak mungkin ayah dari anak ini masih hidup.”
Abu Thalib pun terdiam, tak bisa mengelak, dengan sedikit terbata ia pun mengaku, “Maksudku, aku adalah pengganti ayahnya. Aku adalah paman yang mengasuhnya. Sejak lama ia telah ditinggalkan mati oleh ayahnya.”

Pria tua itu, yang kemudian dikenal dengan panggilan Rahib Buhaira itu terdiam untuk beberapa waktu. Lalu ia mengangkat wajahnya dan berkata sedikit berbisik dengan penuh kehati-hatian kepada Abu Thalib, “Tuan, jagalah keponakan mu ini engan sungghuh-sungguh. Berhati-hatilah terhadap orang Yahudi. Jika mereka sampai mengetahui hal ini, pasti, tanpa segan mereka akan berlaku jahat kepadanya, hingga membunuhnya.”

Perubahan sikap terjadi pada keduanya, cara masuk mereka dengan girang dan penuh tawa tadi, kini saat keluar berganti dengan rasa cemas yang tak menentu, terutama pada sang Paman, akibat perkataan Rahib Buhaira. Dadanya bergemuruh, ia gelisah. Muhammad kecil juga mungkin bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ”Siapa itu Yahudi, yang hendak mencelakainya.?” Karena sejauh ini kehidupan yang dikenal Muhammad kecil hanyalah Mekkah.

Dalam perjalanan pulang mereka, penjagaan Abu Thalib benar-benar sangat ekstra. Sebelum mereka menyentuh tanah Mekkah dan melihat rumahnya, hati Abu Thalib dipenuhi rasa was-was, ia tak bisa tidur, matanya bergerilya kiri kanan, depan-belakang untuk mengantisipasi segala potensi kejahatan yang bisa jadi akan menimpa keponakan tersayangnya.

Sesampainya di mekkah, Abu Thalib menceritakan kepada Fathimah, istrinya. Tak ada sedikit pun yang ia sembunyikan. Fathimah sangat terkagum dan terkesima dengan kisah dari suaminya. Ia pun berujar kepada suaminya. “Kalau demikian cerita mu wahai suami ku. Permintaan Muhammad yang sangat ingin ikut  dalam perjalanan kalian kemarin itu bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah takdir Allah, sehingga kau dapat melihat langsung keistimewaan yang dialami oleh anak ini. Dan setiap kejadian menyangkut dirinya. Mungkin itulah kenapa ia sangat dekat dan bergantung pada mu. Hingga aku pun tak kuasa mengekangnya dari mu.”

Dan Fathimah melanjutkan, “Dibalik hari ini terdapat hari esok yang penuh misteri, demikian juga dengan Pribadi Muhammad, masih banyak rahasia yang belum terungkap. Sejauh ini, sebagian telah nyata di hadapan kita. Dan kita pasti akan menyaksikan sesuatu yang lebih besar kedepannya.” “Itu kalau Allah menjaganya dan Yahudi tidak mencelakainya,” Abu Thalib menyela, “Dan aku sangat mengkhawatirkannya wahai Fathimah istri ku.”

Fathimah pun menenangkan, “Tidak ada Yahudi di Mekkah wahai suami ku, kecuali mereka hanya datang dan pergi unuk berdagang. Menurutka, rahasia ini harus kita jaga, jangan dibuka kepada siapa pun. Terutama yang rahib itu sebutkan. Dan Muhammad harus selalu dalam pengawasan kita.”

Sejak hari itu, perhatian dan pengawasan Fahimah binti Asad kepada Muhammad semakin besar dan ketat. Dan cintanya kepada Muhammad pun kian dipadati rasa hormat. Hingga ia tumbuh menjadi semakin dewasa, yang beranjak menjadi seorang pemuda.
Read More