kenal Ulama: Teungku Fakinah, Ulama Perempuan Aceh dan Pejuang Kemerdekaan Indonesia - TARBIYAH ONLINE

Terbaru

Monday, January 20, 2020

kenal Ulama: Teungku Fakinah, Ulama Perempuan Aceh dan Pejuang Kemerdekaan Indonesia


Ulama Nusantara | Bernama lengkap Teungku Fakinah binti Teungku Datuk, lahir di Desa Lam Beunot kabupaten Aceh Besar pada tahun 1856. Ibundanya  bernama Cut Fatimah (Cut Mah), anak dari Teungku Chik Lampucok atau Tgk Muhammad Saad.

Semenjak usia dini Tgk Fakinah sudah dididik dan diarahkan oleh orang tuanya dengan penuh kedisiplinan dan kesungguhan. Tidak hanya diajarkan membaca Al-Quran dan ilmu pengetahuan agama lainnya, orang tuanya juga mengajarinya pekerjaan keterampilan wanita lainnya seperti menjahit, membuat kerawang sutera dan kasab.

Ketika memasuki usia remajanya, Fakinah sudah menjadi seorang wanita yang alim lagi ahli kerawang. Oleh karena kealimannya itulah kemudian ia dipanggil oleh rekan-rekan dan masyarakat sekitar dengan sebutan Teungku Fakinah atau Teungku Faki.

Kiprahnya Untuk Agama dan Tanah Air

Ketika Tgk Fakinah beranjak dewasa, sekitar tahun 1872, ia dinikahkan dengan seorang lelaki yang alim, bernama Tgk Ahmad, pemuda yang berasal dari desa Aneuk Glee, Indrapuri. Masyarakat Lam Beunot memanggil suami Tgk Fakinah dengan penuh rasa hormat yaitu dengan sebutan Tgk Aneuk Glee.

Tgk Aneuk Glee kemudian dibantu oleh sang mertua, yakni Tgk Datuk untuk mendirikan sebuah Dayah (Pesantren) di desa Lam Beunot yang juga mendapat dukungan dari masyarakat desa tersebut beserta Imam Mukim Lamkrak. Dayah tersebut kemudian berkembang pesat dan banyak didatangi oleh remaja dan pemuda –pemudi yang berasal dari berbagai daerah untuk belajar disana.

Pengajar disaat itu adalah Tgk Aneuk Glee untuk santri laki-laki, dan sang istri yakni Tgk Fakinah mengajar para santri perempuan. Tgk Fakinah tidak hanya mengajarkan ilmu agama kepada para santriwati, akan tetapi ia juga mengajarkan mereka berbagai keterampilan seperti jahit-menjahit, membuat kerawang dan lain sebagainya.

Namun ketika terjadi ekspedisi Belanda pertama ke Aceh pada tahun 1873, Suami Teungku Fakinah yaitu Tgk Aneuk Glee Syahid dalam suatu peperangan demi menghadang laju penjajah Belanda di Aceh.

Setelah menjanda, Tgk Fakinah tetap terus memusatkan perhatiannya untuk membantu memerangi para penjajah Belanda. Saat itu Tgk Fakinah membentuk Badan Amal Sosial yang beranggotakan perempuan dan janda.

Anggota Badan Sosial ini sangat giat dalam mengumpulkan sumbangan perbekalan dari rakyat berupa padi dan uang. Sebagian dari anggotanya juga menjadi juru masak untuk para pejuang. Selain itu, ia juga mengomandoi pembentukan Kuta Pertahanan (Kuta Cot Weue).

Kuta ini khusus dibuat oleh perempuan, baik dalam hal membuat pagar, menggali parit dan memasang ranjau-ranjau. Semua itu dikerjakan oleh perempuan  yang dipimpin oleh Teungku Fakinah.

Setelah membentuk Kuta Cot Weue, pemuka masyarakat pada saat itu menyarankan agar Tgk Fakinah jangan tinggal sendirian (menjanda) dalam memperjuangkan tanah air yang sangat berat itu. Oleh karena itu Tgk Fakinah dinikahkan dengan seorang pemuda alim yang bernama Tgk Badai yang berasal dari desa Langa, Pidie. Tgk Badai adalah salah seorang alumni dayah Tertua di Aceh, Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar.

Perkawinan ini pun ternyata juga tidak berlangsung lama, dikarenakan sang suami tercinta syahid dalam medan peperangan melawan penjajah Belanda.

Dalam mempertahankan Agama dan tanah air, Tgk Fakinah ternyata menjalin ikatan yang kuat dengan seorang wanita pejuang Aceh yang sangat terkenal, yakni Cut Nyak Dhien. Namun hubungan ini pernah sedikit terganggu karena adanya kabar bahwa suami Cut Nyak Dhien, Teuku Umar (diduga) membelot kepada Belanda (walau sebenarnya itu hanya pura-pura demi memata matai para penjajah-pen).

Kendati demikian pada akhirnya hubungan mereka kembali akrab seperti semula, setelah mengetahui kebenarannya dan kembalinya Teuku Umar ke pihak rakyat Aceh dengan segudang senjata dan informasi penting yang berhasil dicuri dari pihak penjajah.

Setelah sebahagian wilayah Seulimum dapat dikuasai Belanda, Tgk Fakinah mengungsi ke Lamno. Lalu pindah ke Tangse dan sekaligus membangun tempat tingal di Blang Peuneuleun.

Pada tanggal 21 Mei 1910, atas permintaan Tgk Panglima Polem Muhammad Daud, Tgk Fakinah dihimbau untuk dapat kembali ke kampung halamannya untuk membuka kembali dayah yang pernah dibangunnya. Dan akhirnya ia pun kembali pulang ke kampung halamannya pada tahun 1911. Kemudian kembali membuka pengajian di dayah tersebut, sehingga ramailah para penuntut ilmu yang berdatangan dari berbagai daerah.

Akhir Hayatnya

Sekitar tahun 1914, Teungku Fakinah berkeinginan untu menunaikan ibadah haji, namun karena tidak ada muhrim yang menemani, akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang lelaki yang bernama Ibrahim. Pada bulan Juli 1915 mereka berdua berangkat ke Tanah suci untuk menunaikan Haji. Selesai melaksanakan Ibadah Haji, Tgk Fakinah masih menetap di Mekkah untuk memperdalam ilmu fikih.

Setelah tiga tahun lamanya di Mekkah, ketika memasuki tahun keempat, suami Tgk Fakinah, H. Ibrahim meninggal dunia. Maka pada tahun 1918 Teungku Fakinah memutuskan untuk kembali ke Aceh.

Sepulangnya dari Mekkah, Teungku Fakinah kembali menetap di kampung halamannya dan memimpin kembali dayah yang sudah lama ia tinggalkan itu dengan mengajarkan ilmu yang diperolehnya selama belajar di Mekkah. Namun setelah beberapa tahun mengajar di dayah tersebut, ajal pun datang menjemput. Teungku Fakinah meninggal dunia pada tahun 1938 di Mukim Lamkrak kampung halamannya.

Demikian biografi singkat Ulama sekaligus Pejuang Kemerdekaan dari kalangan Wanita asal Aceh yang sampai saat ini masih sangat harum namanya. Semoga Allah SWT menerima segala amalannya dan mengampuni segala dosanya dan menempatkan Teungku Fakinah di sebaik-baik tempat, yakni disisi-Nya. Wallahua’lambisshawab!

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org

No comments:

Post a Comment