Kenal Ulama: Syeikh Ahmad Khatib Sambas, Sufi Kelahiran Kalimantan - TARBIYAH ONLINE

Terbaru

Wednesday, December 11, 2019

Kenal Ulama: Syeikh Ahmad Khatib Sambas, Sufi Kelahiran Kalimantan


Tokoh | Menjadi seorang pengkaji dalam dunia persufian, terkadang membuat kita berkesimpulan bahwa tokoh tokoh sufi hanya berasal dari Persia, Al Andalusia dan sekitarnya.

Padahal jikalau kita mencoba membuka sejarah, rupanya di Indonesia sendiri hidup para sufi yang berasal dari berbagai penjuru, yang sekalipun kiblat mereka adalah para sufi terdahulu.

Salah satunya seperti Hamzah al Fansuri yang berkelahiran Sumatera Utara dan Yusuf al Makassari yang berasal dari Makassar, dan kini penulis akan paparkan terkait kisah hidup dari syaikh Ahmad Khatib Sambas yakni seorang Syaikh berkelahiran Kalimantan.

Syaikh Ahmad Khatib Sambas yang bernama lengkap Syaikh Muhammad Khatib bin Abdul Ghaffar As Sambasi, beliau lahir pada tahun 1217 Hijriah di Sambas, Kalimantan Barat.

Beliau lahir dari keluarga perantau yang mana ayahnya bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Pada saat itu Kalimantan Barat memang masih menjadikan tradisi perantauan sebagai cara hidup bermasyarakat.

Pada masa kecilnya beliau diasuh oleh pamannya yang terkenal alim di wilayahnya, hingga dari sini beliau tergerak untuk mempelajari ilmu ilmu Agama, dengan berguru dari satu ke yang lainnya.

Beberapa gurunya yakni Syaikh Dawud bin Abdullah bin Indris al Fantani (w. ± 1843), Syaikh Syamsuddin, Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari (w. 1812), Syaikh Ibn ‘Ali al Sanusi (w. 1859), Syaikh ‘abd al Hafiz ‘ajami, Utsman bin Hasan Ad Dimyathi (w. 1849), dan lainnya.

Atas kepiawaian beliau dalam menuntut Ilmu dikatakan bahwa diantara murid Syaikh Syamsuddin rupanya, Syaikh Ahmad Khatib Sambas lah yang mencapai pada tingkat kemampuan dan wewenang tertinggi. Maka tak heran jika pencapaian spritualnya ini menjadikan beliau sebagai Syaikh yang terhormat di zamannya dan berpengaruh di seluruh Indonesia.

Bahkan beliau juga ditetapkan sebagai Syaikh Mursyid Kamil Mukammil dalam lingkungan tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah yang berasal dari ajaran Syaikh Syamsuddin.

Itulah mengapa jika dalam pandangan Muhammad Naquib al Attas (cendekiawan dan filsuf muslim yang berasal dari Malaysia) mengatakan bahwa Syaikh Ahmad Khatib adalah Syaikh yang telah mengkombinasikan antara tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah.

Dan siapa sangka? Pengkombinasian tarekat ini rupanya sangat berpengaruh di Melayu dan Indonesia. Selain itu ada tiga pesantren besar di Jawa yang malah merupakan pusat tarekat ini yakni Pesantren Suryalaya di Tasikmalaya (Jawa Barat), Pesantren Futuhiyah di Mranggen (Jawa Tengah) dan di Pesantren Darul Ulum di Peterongan (Jawa Timur). 

Adapun pokok pokok ajaran dari tarekat dari  tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah yakni;

Kesempurnaan Suluk

Yang perlu diketahui terlebih dahulu ialah pengertian dari suluk itu, suluk dalam artian tasawufnya ialah menepuh jalan menuju Allah. Sehingga dalam menempuh kesempurnaan suluk rupanya perlu meracik tiga istilah atau term dalam satu ajaran, dan ketiga istilah tersebut yakni Iman, Islam dan Ihsan.

Adab

Pada ajaran ini tentu membuktikan bahwa Adab atau etika dianggap sangat penting, karena tanpa adab tentu seorang salik tidak akan mungkin mencapai tujuan suluknya. Dan memandang ruang lingkup adab yang dipraktikkan oleh seorang salik yakni meliput pada Adab kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada Syaikh, kepada Ikhwan dan adab kepada diri sendiri.

Dzikir

Dalam tarekat Dzikir yang dikembangkan oleh Syaikh Ahmad Khatib inilah yang membedakan tarekatnya dengan tarekat yang lain. Yang dimana pada aktivitas tarekat ini  meliputi aktivitas lidah baik itu pada lidah fisik maupun lidah batin yang tak hentin hentinya mengingat dan menyebut Asma Allah

Muraqabah

Muraqabah sendiri dalam pandangan tasawuf diartikan sebagai kontemplasi kesadaran seorang hamba yang secara terus menerus diawali Allah disetiap keadaan. Dan tentu pada pelaksaan Muraqabah ini dilaksanakan dalam setiap rangka latihan psikis demi menerima limpahan karunia dari Tuhan sehingga menjadi mukmin yang sesungguhnya.

Disisi lain, melalui muraqabah inilah seseorang akan terus mengawasi hati mereka dan memperoleh wawasan tentang hubungan hati dengan penciptanya dan lingkungannya sendiri.

Namun yang menjadi catatan pentingnya ialah, ternyata Syaikh Ahmad Khatib Sambas tidak lama di Indonesia. Karena dalam catatan sejarah sendiri dikatakan bahwasanya pada usia 19 tahun beliau melanjutkan studi dan menikah dengan seorang waita Arab keturunan Melayu. Beliau menetap di Makkah sampai pada akhirnya beliau wafat disana pada tahun 1289 Hijriah.

Itulah sekilas kisah hidup dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas, semoga bermanfaat.

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org

No comments:

Post a Comment