Sistem Kesatuan (Nizham Al-Wihdah) dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Tarbiyah | Pembelajaran bahasa arab dengan sistem kesatuan sangat membutuhkan guru yang handal dan ideal. Sistem ini dipandang sangat banyak memberikan keuntungan pada diri peserta didik, walaupun bagi pendidik sendiri hal ini dianggap sebagai hal yang berat dan sukar. Oleh karena itulah, sang pendidik yang mengajarkan pelajaran bahasa arab harus benar-benar memiliki kemampuan integral tentang kebahasaan dan mampu mengiring peserta didik agar mampu berbahasa secara utuh.

Sistem Kesatuan (Nizham Al-Wihdah) dalam Pembelajaran Bahasa Arab

A. Pengertian Sistem Kesatuan

Sistem kesatuan (nizham al-wihdah/united system) dalam pembelajaran bahasa arab adalah bahasa arab dipandang sebagai sebuah pelajaran yang terdiri dari bagian-bagian integral yang saling berhubungan dan saling menguatkan antara satu dan lainnya, dan bukanlah merupakan cabang-cabang yang berdiri sendiri. Hal tersebut juga diperkuat oleh Madkur, bahwa bahasa Arab seperti alam yang senantiasa hidup, berkembang dan merupakan satu kesatuan. Unit-unit tersebut terbagi ke dalam beberapa katagori, yaitu bacaan (al-qiraah), pemahaman (al-fahm), ekspresi (al-ta’bir), kebahasaan (al-tsarwah al-lughawiyah), apresiasi bahasa (al-tadzawuq al-adabi).

Adapun dalam konteks pembelajaran bahasa arab di Indonesia, ada katagorisasi lain yang sebenarnya tidak berbeda dengan yang telah disebutkan sebelumnya, karena pada dasarnya ini hanyalah modifikasi saja. Katagorisasi tersebut adalah dialog (al-hiwar), membaca (al-qiraah), struktur (al-tarkib), menulis (al-kitabah), hapalan (al-mahfuzhat), serta apresiasi bahasa (al-tadzawwuq al-adabi). Pembelajaran bahasa arab dengan sistem kesatuan (nizham al-wihdah) ini bertujuan agar para peserta didik menguasai bahasa arab baik itu secara lisan maupun tertulis.

B. Karakteristik Sistem Kesatuan

Adapun karakteristik sistem ini adalah sebagai berikut:

  1. Semua unit bersumber pada satu silabus dan buku sebagai silabus dan buku bahasa arab.
  2. Semua unit tersebut diajarkan pada alokasi waktu yang sama sebagai waktu pembelajaran bahasa arab.
  3. Semua unit tersebut diajarkan oleh guru yang sama, yaitu guru bahasa arab.
  4. Penilaian diberikan secara keseluruhan, yaitu sebagai nilai pelajaran bahasa arab sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Dari karakteristik tersebut jelas, bahwa penyajian pembelajaran berangkat dari satu tema sentral (al-mihwar) yang kemudian dikembangkan dalam setiap unit-unit tersebut. misalnya, tema yang akan dipelajari adalah tentang “ansyithaty fil baiti”, maka semua unit-unit tersebut akan bertemakan “ansyithaty fil baiti”.

Dalam sistem kesatuan, pendalaman dan pengayaan materi bukanlah sesuatu yang dilarang dengan catatan tidak keluar dari inti permasalahan yang diajarkan dan guru juga diharapkan mampu mengaitkan antara materi yang telah dipelajari dengan materi yang akan dipelajari. Target pembelajaran bahasa arab adalah untuk menguasai empat maharah bahasa yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat maharah tersebut saling berhubungan erat dan pembelajarannya ditempuh secara bertahap sebagaimana memperlajari bahasa ibu. Unit-unit tersebut hakikatnya adalah kegiatan kebahasaan untuk mencapai empat keterampilan berbahasa arab.

C. Kelebihan dan Kekurangan Sistem Kesatuan

Ibrahim mengemukakan bahwa kelebihan sistem ini dapat dilihat dari tiga dasar, yaitu dasar psikologis, pedagogis, dan linguistic, sebagaimana berikut:

  1. Dasar psikologis (al-asas al-nafsi), yang sangat menguntungkan peserta didik, yaitu pertama: selalu memperbaharui kegiatan dan materi, sehingga menjauhkan peserta didik dari kejenuhan dan motivasi belajar pun makin meningkat, kedua: selalu mengadakan pengulangan pada tema yang telah lalu guna memberikan penguatan pemahaman peserta didik, ketiga: pemahaman kebahasaan dengan sistem kesatuan adalah pemahaman yang bersifat analitik, hal tersebut sangat memudahkan peserta didik dalam memahami pelajaran. 
  2. Dasar pedagogis (al-asas al-tarbawi), yang menguatkan sistem pembelajaran bahasa arab dengan sistem integrasi antara lain, pertama: menyajikan materi pelajaran dengan teratur dan berkesinambungan merupakan pengajaran yang efektif, kedua: menyajikan pelajaran secara integral akan mengembangkan kemampuan para peserta didik terhadap keterampilan berbahasa secara seimbang.
  3. Dasar linguistic (al-asas al-lughawi), pembelajaran bahasa secara integral akan melibatkan banyak aspek, diantaranya yaitu kosa kata, kalimat, tata bahasa, bahkan budaya yang diusung, sehingga tidak memakan waktu banyak dan mendapatkan hasil yang seimbang dari semua unit. 

D. Unit-Unit Dalam Sistem Kesatuan

Adapun gambaran-gambarab umum tentang unit bahasa sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya adalah sebagai berikut:

  1. Dialog (al-hiwar), yaitu kemampuan mengekspresikan ide, pendapat, gagasan secara lisan kepada lawan bicaranya atau dengan kata lain berkomunikasi lisan secara lancer dan baik dengan menggunakan bahasa yang mereka pelajari.
  2. Struktur (al-tarkib), yaitu materi tentang tata bahasa (al-qawaid) yang diberikan kepada peserta didik guna membantu mereka dalam menyusun kalimat dengan baik dan benar.
  3. Membaca (al-qiraah), yaitu kegiatan mengenali dan memahami teks bacaan dengan cara melafalkannya maupun mencernanya dalam hati.
  4. Menulis (al-kitabah), yaitu mengungkapkan isi pikiran maupun ide dalam sebuah tulisan. Dalam pembelajaran bahasa arab, kegiatan ini dibagi dalam tiga bagian, yaitu imlak (imla’), kaligarfi (khat), dan mengarang (al-insya). Ketiga bagian ini dapat diajarkan secara bertahap dengan metode khusus.
  5. Hapalan (al-mahfuzhat), dan Apresiasi sastra (al-tazawwuq al-adabi), yaitu potongan-potongan sastra atau kalimat-kalimat bijak yang harus dihapal peserta didik karena memiliki nilai praktis dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya menghapal, peserta didik juga menelaah nilai isi, keindahan bahasa, bahkan struktur bahasa yang terdapat dalam (al-mahfuzhat) tersebut. Itulah  mengapa materi (al-mahfuzhat) bisa sekaligus menjadi materi apresiasi sastra (al-tazawwuq al-adabi). 

(Sumber: Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Cet. Ke-3, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2013)

0 Response to "Sistem Kesatuan (Nizham Al-Wihdah) dalam Pembelajaran Bahasa Arab"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel