Sistem Cabang (Nizham Al-Furu’) dan Sistem Gabungan (Al-Nizham Al-Jam’i) dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Tarbiyah | Pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah proses pemeroleh bahasa baru bagi seorang. Dikatakan pembelajaran, karena seseorang memiliki tujuan khusus dan maksud yang mendalam untuk menguasai suatu bahasa, pada pembahasan ini kita fokuskan pada pembelajaran bahasa asing, yaitu bahasa arab. Secara umum, pembelajaran bahasa arab  terbagai dalam tiga sistem, yang mana dikenal dengan sistem kesatuan, sistem cabang dan sistem gabungan. Ketiga sistem tersebut dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa arab, namun disesuaikan dengan jenjang kemampuan peserta didik. Beberapa waktu lalu kita telah membahas tentang sistem kesatuan. Maka, kali ini kita akan membahas sistem cabang dan sistem gabungan. Berikut penjelasannya.
Sistem Cabang (Nizham Al-Furu’) dan Sistem Gabungan (Al-Nizham Al-Jam’i) dalam Pembelajaran Bahasa Arab

A. Sistem Cabang

Sistem cabang (nizham al-furu’/branched system) adalah kebalikan dari sistem kesatuan, karena pada sistem ini pembelajaran bahasa arab dipandang sebagai sekumpulan materi yang terpisah-pisah secara mandiri. Ibrahim juga menambahkan, bahwa pembelajaran bahasa arab pada sistem ini dibagi dalam beberapa cabang dimana setiap cabang memiliki kurikulum tersendiri, buku pelajaran sendiri, bahkan alokasi waktu sendiri. Sehingga dapat dikatakan bahwa qiraah, ta’bir, mahfuzhat, balaghah, dan al-tadzawwuq al-adabi adalah pelajaran yang berdiri sendiri sebagai ilmu bahasa, bukan sebagai sub pelajaran.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik sistem cabang ini adalah sebagai berikut:

  1. Setiap cabang bahasa memiliki alokasi waktu pembelajaran masing-masing.
  2. Setiap cabang memiliki kurikulum tersendiri.
  3. Setiap cabang memiliki buku tersendiri.
  4. Adapun dalam penilaian akhir, guru memberikan penilaian kepada setiap peserta didik berdasarkan tujuan pembelajaran dari cabang yang bersangkutan.

Tujuan pembelajaran bahasa arab dengan sistem ini bukan untuk keterampilan menggunakan bahasa arab sebagaimana pada sistem kesatuan, namun lebih untuk menguasai ilmu-ilmu bahasa.
Adapun kelebihan sistem cabang ini adalah sebagai berikut:

  1. Pembelajaran yang dapatkan lebih mendalam, karena setiap cabang memiliki alokasi waktu dan guru khusus. Sehingga proses mengajar mengajar lebih efektif dan detail.
  2. Setiap permasalahan yang muncul pada cabang tertentu dapat langsung diatasi oleh guru yang mengajar pada cabang tersebut. sehingga peserta didik tidak akan kekurangan perhatian dan permasalahan dapat diselesaikan dengan tuntas

Sedangkan kekurangan yang dimiliki sistem cabang ini adalah:

  1. Pemilahan yang terjadi pada unit bahasa dinilai akan merusak karakteristik substansi bahasa Arab sebagai bahasa yang utuh dan mengakibatkan lemahnya penguasaan peserta didik terhadap kemampuan berbahasa, karena mereka hanya focus pada penguasaann ilmu-ilmu bahasa. 
  2. Pemilahan yang terjadi pada unit bahasa arab akan mengakibatkan tidak seimbangnya perkembangan kemampuan berbahasa peserta didik.

B. Sistem Gabungan 

Sistem gabungan (al-nizham al-jam’i) adalah gabungan antara sistem kesatuan dan sistem cabang, penggabungan ini ditinjau berdasarkan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh kedua sistem tersebut atau dengan kata lain memanfaatkan kelebihan dan mengatasi kekurangan yang ada.
Ibrahim juga menambahkan bahwa penggabungan kedua sistem ini berdasarkan pertimbangan berikut ini:

  1. Dengan melihat bahwa cabang-cabang yang ada dalam bahasa arab adalah kesatuan yang utuh dan saling menguatkan.
  2. Hendaknya guru memandang pembagian ini sebagai teknik untuk memudahkan mereka dalam memberikan perhatian kepada masing-masing cabang dalam pembelajaran bahasa arab.
  3. Sebaiknya sistem kesatuan digunakan pada tingkat pemula, sedangkan sistem cabang digunakan pada tingkat lanjutan.

Sangat jelas terlihat, bahwa setiap aspek kebahasaan memiliki hubungan antara satu dan lainnya, sebagaimana berikut:

  1. Pelajaran membaca (al-qiraah/al-muthalaah) tidak hanya mengandung aspek latihan bahasa, namun juga aspek latihan ekspresi, apresiasi, aplikasi bahasa, bahkan imlak.
  2. Pelajaran tata bahasa (al-qawaid) juga mengandung aspek latihan ekspresi, apresiasi, dan imlak disamping aspek latihan penggunaan bahasa yang benar.
  3. Pelajaran imlak tidak hanya latihan penulisan huruf, kata, dan kalimat namun juga aspek latihan ekspresi, apresiasi, dan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
  4. Pelajaran kesusastraan yang meliputi mahfuzhat, balaghah, dan teks-teks sastra tidak hanya mengandung aspek pemahaman, apresiasi dan perbendaharaan bahasa, namun juga mengandung aspek latihan membaca, ekspresi, dan penggunaan bahasa yang baik dan benar. 

Dengan adanya hubungan yang erat antara setiap aspek kebahasaa, maka semakin banyaklah dampak positif  yang diterima peserta didik dalam pengembangan kemampuan dirinya, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Pelajar dapat merasakan bahwa kompleksitas bahasa arab adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
  2. Materi pelajaran akan terlihat lebih dinamis dan tidak monoton dengan adanya keterlibatan kegiataan kebahasaan yang lain.
  3. Melakukan kegiatan kebahasaan secara integral akan memantapkan penguasaan berbahasa secara alamiah.

(Sumber: Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Cet. Ke-3, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2013)

0 Response to "Sistem Cabang (Nizham Al-Furu’) dan Sistem Gabungan (Al-Nizham Al-Jam’i) dalam Pembelajaran Bahasa Arab"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel