Pembahasan Terlengkap Tentang Maharah Al-Qiraah dan Pembelajarannya

Tarbiyah | Sebagaimana yang kita ketahui sebelumnya bahwa pembelajaran bahasa asing khususnya bahasa arab tidak pernah terlepas dari empat maharah yang harus dikuasai peserta didik. keempat maharah tersebut adalah maharah al-istima’, maharah al-kalam, maharah al-qiraah dan maharah al-kitabah. Semua maharah tersebut harus dikuasai pertahap karena mereka saling menguatkan. Pada pembahasan sebelumnya, kita telah membahas tentang maharah al-istima’ dan maharah al-kalam. Maka kali ini kita akan membahas tentang maharah al-qiraah. Berikut pembahasannya.

Pembahasan Terlengkap Tentang Maharah Al-Qiraah dan Pembelajarannya

A. Pengertian Maharah Al-Qiraah

Keterampilan membaca (Maharah al-qiraah/reading skill) adalah kemampuan mengenali dan memahami isi sesuatu yang tertulis (lambang-lambang tertulis) dengan cara melafalkan atau mencernanya di dalam hati. Pada hakikatnya membacanya adalah proses komunikasi antara pembaca dengan penulis melalui teks yang ditulisnya, maka secara langsung di dalamnya ada hubungan kognitif antara bahasa lisan dengan bahasa tulis. Membaca juga melibatkan tiga unsur penting, yaitu unsur isi bacaan, kata sebagai unsur yang membawakan makna, dan symbol tertulis sebagai unsur visual. Perpindahan symbol tertulis ke dalam bahasa ujaran itulah yang disebut dengan membaca.

Membaca tidak hanya melibatkan unsur kognitif dan psikomotorik, namun juga menyangkut penjiwaaan atas isi bacaan. Maka dapat dikatakan, bahwa pembaca yang baik adalah pembaca yang mampu berkomunikasi secara mendalam dengan bacaan  yang mana bisa membuatnya gembira,marah, kagum, dan sebagainya sebagai bentuk efek emosional dari bacaan tersebut. lebih jauh lagi, membaca tidak hanya sekadar itu, namun juga bagaimana seseorang dapat mengaplikasikan apa yang telah dibacanya dalam kehidupan sehari-hari. Sangat banyak metode pengajaran membaca yang terus berkembang hingga hari ini, semua itu bertujuan agar tercapainya semua tujuan pengajaran membaca yang telah ditetapkan.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca meliputi empat hal penting, yaitu:

  1. Mengenali dan mengetahui symbol-simbol tertulis.
  2. Memahami makna yang terkandung.
  3. Menyikapi makna yang terkandung.
  4. Mengimplementasikan makna dan pelajaran yang tekandung dalam bacaan pada kehidupan sehari-hari. 

B. Pembelajaran Maharah Al-Qiraah

Secara garis besar, membaca terbagi dalam dua katagori, yaitu membaca nyaring (al-qiraah al-jahriyyah) dan membaca diam (al-qira’ah al-shamitah).
Pertama: membaca nyaring (al-qiraah al-jahriyyah)
 Membaca nyaring (al-qiraah al-jahriyyah) adalah membaca dengan cara melafalkan atau menyuarakan symbol-simbol tertulis berupa kata-kata atau kalimat yang dibaca. Bentuk ini sangat cocok diberikan kepada peserta didik tingkat pemula. Tujuannya adalah agar peserta didik mampu melafalkan bacaan dengan baik sesuai dengan sistem bunyi dalam bahasa arab.

Adapun kelebihan membaca nyaring adalah sebagai berikut:

  1. Menambah kepercayaan diri peserta didik.
  2. Guru dapat segera memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilafalkan peserta didik.
  3. Menjadikan situasi kelas lebih disiplin, karena setiap peserta didik ikut aktif saat membaca secara serentak.
  4. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menghubungkan lafal dengan otografi (tulisan).
  5. Melatih peserta didik untuk membaca dalam kelompok-kelompok. 

Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut:

  1. Membaca nyari menghabiskan banyak energi dan melelahkan.
  2. Tingkat pemahaman terhadap teks lebih rendah, karena peserta didik focus ke pelafalan kata-kata bukan memahami isi bacaan.
  3. Membaca nyaring menimbulkan kegaduhan, bahkan kadang-kadang mengganggu orang lain. 

Adapun teknik pembelajaran membaca nyaring adalah dengan memperkenalkan bunyi-bunyi huruf dan melatih pelafalannya. Pengenalan dapat dilakukan pada kata-kata sederhana yang sudah banyak diserap dan diketahui oleh peserta didik. guru dapat memberikan contoh pengucapan kata-kata yang kemudian diikuti oleh peserta didik. pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan teknik sintesis (al-tarkib), yaitu dengan cara mendahulukan huruf daripada kata dan teknik analisis (al-tahlil/al-kull), yaitu dengan cara memulai pengajaran materi dari keseluruhan sampai kepada bagian.
Agar pembelajaran membaca nyaring efektif, ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru, diantaranya adalah:

  1. Ketika memulai kegiatan membaca, hendaknya guru memilih peserta didik yang bagus bacaanya.
  2. Guru menyuruh peserta didik untuk membaca di depan kelas dan sesekali membagi pandangan kepada kawannya saat membaca.
  3. Guru harus mampu menciptakan kelas yang aktif dan efektif serta menjadi pengoreksi  kesalahan bacaan. 
  4. Hendaknya peserta didik tidak membaca teks yang terlalu panjang, karena akan cepat melelahkan.
  5. Guru mengajak peserta didik untuk berdiskusi tentang isi bacaan yang telah dibaca.

Kedua: membaca diam (al-qira’ah al-shamitah)
membaca diam (al-qira’ah al-shamitah) adalah membaca dengan dalam hati atau dikenal dengan membaca pemahamanm yaitu tanpa melafalkan symbol-simbol tertulis berupa kata-kata atau kalimat yang dibaca, melainkan hanya mengandalkan kecermatan eksplorasi visual. Tujuannya adalah untuk penguasaan isi bacaan, atau memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan dalam waktu yang cepat. Membaca diam sangat ekonomis dan praktis serta dapat dilakukan dimana saja.

Keterampilan membaca dalam hati perorangan akan menjadi salah satu penentu keberhasilan seseorang dalam menguasai suatu konsep, uraian, cerita yang bernilai sastra atau yang lainnya secara utuh. Oleh karena itulah, kemampuan eksplorasi visual dan kecepatan menjadi aspek inti dalam pengajaran membaca dalam hati. Eksplorasi visual adalah jumlah kata tertulis yang mampu dideteksi oleh mata sekaligus memahaminya dengan cepat. Maka jelaslah bahwa makin bertambah kemampuan eksplorasi visualnya, makin bertambah pula kecepatan membaca dalam hati.
Adapun teknik pembelajaran membaca diam adalah sebagai berikut:

  1. Guru menyajikan bacaan di papan tulis atau LCD yang dijadikan sebagai media.
  2. Guru menyuruh peserta didik untuk membacanya dan menghitung durasi bacaannya.
  3. Guru dapat menggunakan penggaris untuk menuntut mereka dalam membaca baris per baris, sehingga dapat menuntut peserta didik yntuk mengikuti kecepatan membaca yang ditentukan.
  4. Guru menggunkan penutup bacaan dan melubanginya ditengah-tengah, dengan tujuan agar hanya memperlihatkan baris yang dibaca. 

Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam latihan ini, yaitu kata, kalimat, dan paragraph. Ketiga hal ini sangat mendukung makna suatu bacaan. Maka untuk menguji pemahaman peserta didik terhadap bacaan, guru dapat mengetes mereka dari unsur yang paling sederhana, yaitu kata, lalu kalimat (al-jumlah), dan kemudian paragraph (al-faqrah). Pengetesan dapat dilakukan dengan dengan berbagai cara, diantaranya adalah benar  salah, pilihan ganda, isian pendek, uraian, dan sebagainya.

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam membaca diam adalah sebagai berikut:

  1. Guru menjaga ketenangan kelas dari berbagai kegaduhan.
  2. Guru mengingatkan peserta didik untuk tidak mengeluarkan suara saat membaca.
  3. Guru menentukan waktu yang diberikan untuk menyelesaikan dan menelaah bacaan.
  4. Guru membimbing peserta didik untuk berdiskusi tentang isi bacaan yang telah mereka baca.
  5. Guru membiasakan peserta didik untuk menargetkan hasil bacaan dalam bacaann waktu tertentu. 

(Sumber: Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Cet. Ke-3, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2013)

0 Response to "Pembahasan Terlengkap Tentang Maharah Al-Qiraah dan Pembelajarannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel