Artikel Lengkap tentang Maharah Al-Kalam dan Fase-Fase Pembelajarannya

Tarbiyah | Kemahiran berbahasa adalah aspek yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Tanpa bahasa, sangat mustahil bagi manusia untuk hidup sebagaimana wajarnya. Hal ini juga berlaku dalam pembelajaran suatu bahasa asing. Kemampuan berbahasa secara lisan adalah hal utama yang ingin dicapai peserta didik dalam pembelajarannya. Maka sudah menjadi hal yang sangat wajar apabila sangat banyak metode, teknik, bahkan media yang digunakan guna mendukung perkembangan kemampuan berbicara peserta didik.
Artikel Lengkap tentang Maharah Al-Kalam dan Fase-Fase Pembelajarannya

A. Pengertian Maharah Al-Kalam

Keterampilan berbicara (maharah al-kalam/speaking skill) adalah kemampuan seseorang dalam mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi yang tertuang dalam bentuk kata-kata untuk mengekspresikan pikiran berupa ide, pendapat, keinginan, atau perasaan kepada lawan bicaranya. Maksudnya adalah berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar dan dilihat yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia untuk menyampaikan pikiran dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Tarigan juga menambahkan bahwa berbicara adalah kombinasi dari beberapa faktor yang diantaranya faktor fisik, psikologis, semantic, neurologis, dan linguistic yang mana kesemua hal tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi manusia dalam hal control sosial.

Adapun tujuan maharah kalam adalah agar peserta didik mampu berkomunikasi secara lisan dengan baik dan lancar serta wajar dengan menggunakan bahasa yang tengah mereka pelajari. Untuk mencapai itu semua sangat dibutuhkan aktivitas-aktivitas yang berupa latihan khusus dan memadai serta mendukung yang kemudian terbagi dalam dua katagori, yaitu pra-komunikatif dan komunikatif.

B. Pembelajaran Maharah Kalam

Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, bahwa pencapaian maharah kalam yang sempurna sangat butuh kepada pembelajaran khusus yang berupa latihan mendukung dan memadai, dan hal tersebut terbagi sebagaimana berikut:
Pertama: latihan prakomunikatif, yaitu membekali peserta didik dengan kemampuan dasar dalam berbicara yang sangat diperlukan ketika terjun di lapangan, seperti latihan penerapan pola dialog, kosa kata, kaidah, mimic muka, dan hal-hal lainnya. Pada tahap ini, guru mempunyai peran yang sangat banyak terutama dalam latihannya, karena setiap hal yang diajarkan perlu diberikan contoh. Adapun proses latihannya dapat dilakukan dengan  beberapa teknik, antara lain:

  1. Hapalan dialog (al-hifzh ‘ala hiwar), yaitu latihan meniru dan menghapal dialog-dialog mengenai berbagai macam situasi dan kesempatan.
  2. Dialog melalui gambar (al-hiwar bil-shuwar), yaitu penggunaan media gambar untuk memahami fakta yang terdapat di dalamnya dan diungkapkan secara lisan sesuai dengan tingkatan kemampuan peserta didik.
  3. Dialog terpimpin (al-hiwar al-muwajjah), yaitu guru memberikan tema tertentu dan peserta didik melengkapi pembicaraab sesuai dengan tema tersebut.
  4. Dramatisasi tindakan (al-tamsil al-suluki), yaitu guru melakukan suatu tindakan dan peserta didik mengemukakan secara lisan apa yang sedang dilakukan sang guru.
  5. Teknik praktek pola (tathbiq al-namadzij), yaitu teknik yang berupa pengungkapan pola-pola kalimat yang harus diulang-ulang secara lisan dalam bentuk tertentu sebagaimana yang diperintahkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan latihan penambahan (ak-tazyid), penyisipan (al-takhlil), substitusi (al-tabdil), integrasi (al-tadmij), menyusun (al-tartib), melengkapi kalimat (takmil al-jumlah), dan lain-lain

Kedua: latihan komunikatif, yaitu latihan yang lebih mengandalkan kreaktifitas peserta didik dalam melakukan suatu latihan. Pada tahap ini, peran guru mulai dikurangi, karena memberikan kebebasan dan kelapangan bagi peserta didik untuk terus mengembangkan kreaktifitasnya dan kemampuannya. Adapun latihan dalam tahap ini dapat dilakukan dengan beberapa teknik, diantaranya adalah:

  1. Percakapan kelompok (al-hiwar al-jama’i), yaitu dengan menggunakan alat rekaman dengan cara merekam satu persatu percakapan peserta didik hingga menjadi sebuah cerita yang lengkap, yang kemudian diputar ulang dan didiskusikan. 
  2. Bermain peran (al-tamtsil), yaitu  memberikan tugas peran tertentu yang harus dilakukan oleh peserta didik, tugas tersebut disesuaikan dengan kemampuan peserta didik.
  3. Praktek ungkapan sosial (tathbiq al-ta’birat al-ijtima’iyyah), yaitu peserta didik mempraktekkan prilaku-prilaku sosial saat berkomunikasi secara lisan, seperti ucapan selamat, ucapan pujian, rasa gembira, dan sebagainya.
  4. Praktek lapangan (al-mumarasah fi al-mujtama’), yaitu peserta didik langsung berkomunikasi langsung dengan penutur asli, tentunya di luar kelas.
  5. Problem solving  (hill al-musykilat), yaitu peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok dan guru memberikan sebuah masalah yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. hal ini bertujuan agar peserta didik terlatih dalam memecahkan suatu masalah dan mampu bekerja sama serta mengadakan kesepakatan tentang suatu rencana untuk memecahkan masalah tersebut. 

(Sumber: Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Cet. Ke-3, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2013)


0 Response to "Artikel Lengkap tentang Maharah Al-Kalam dan Fase-Fase Pembelajarannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel