Teori Tentang Asal Usul Bahasa yang Sebenarnya

Tarbiyah | Berbicara tentang bahasa adalah hal yang sangat menarik dan tidak akan ada habis-habisnya. Bahasa merupakan aspek yang selalu hadir dalam kehidupan manusia, bahkan dalam semua keadaan kehidupan mereka. Tanpa bahasa, tidak akan pernah terjalin suatu hubungan kekeluargaan yang harmonis di anatara manusia, bahkan sangat mustahil dunia pendidikan dan pengajaran bisa berkembang sampai saat ini. diantara pembicaraan yang paling hangat tentang bahasa adalah asal usul bahasa itu sendiri,. Beberapa ahli mencoba menjelaskan pendapat mereka mengenai asal usulnya, baik itu melalui pendekatan tradisional bahkan melalui pendekatan modern, sebagaimana berikut ini.

Teori Tentang Asal Usul Bahasa yang Sebenarnya

A. Pendekatan Tradisional

Setidaknya sampai pertengahan abad ke-18 asal usul bahasa dikatagorikan divine origin atau berdasarkan kepercayaan atau kedewaan, maksudnya adalah bahwa keberadaan bahasa ada hubungannya dengan Tuhan, bahkan Tuhanlah yang langsung mengajarkan bahasa tersebut kepada manusia. Namun pada akhir abad tersebut, kepercayaan tentang asal usul bahasa berpindah dari wawasan keagamaan, mistik, dan takhayul ke alam baru yang disebut organic phase (fase organis), dan diantara teori-teori yang membahas bahasa secara tradisional adalah sebagai berikut:

  1. Teori tauqif, yang menyatakan bahwa bahasa berasal dari Tuhan yang diajarkan melalui ilham, pembawaan, dan insting. Teori mengatakan bahwa bahasa lahir melalui pemberian Tuhan, bukan dari produk manusia, dan manusia hanya menerimanya dari Tuhan. Hal tersebut berdasarkan firman Allah dalam surah Al-baqarah ayat 31 yang artinya “dan dia mengajarkan kepada adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada malaikat lalu berfirman: sebutkanlah kepadaku nama-nama benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar”. Namun banyak yang menentang teori ini, termasuk di dalamnya Ibnu Jinni.
  2. Teori istilah, yang menyatakan bahwa bahasa lahir dari kesepakatan dan persetujuan manusia-manusia yang menuturkan bahasa tersebut atau dengan kata lain bahasa merupakan produk manusia yang terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan usaha dan perkembangan manusia itu sendiri. Ibnu Jinni merupakan salah satu tokoh yang mendukung teori ini, menurutnya makna dari firman Allah pada surah Al-baqarah ayat 31 adalah bahwa Allah tidak memberikan bahasa secara langsung kepada manusia (adam), melainkan memberikan kemampuan dan potensi kepada manusia untuk berbahasa.
  3. Teori pooh-pooh, menyatakan bahwa bahasa berasalah dari ekspresi emosional manusia, seperti gembira, sedih, marah, jengkel, jijik, dan lainnya. Kondisi inilah yang menyebabkan lahirnya kata-kata. misalnya perasaan jengkel atau jijik terlahirkan dengan mengeluatkan suara dari hidung dan mulut yang terdengar sebagai “pooh” atau “pish”. Mungkin inilah yang melatarbelakangi penamaan teori ini.
  4. Teori ding-dong (Teori nativistic), Teori ini diperkenalkan oleh Max Muler, yang mengatakan bahwa setiap kata yang diucapkan menunjukkan kepada maknanya. Teori ini memandang bahwa manusia memiliki kemampuan insting istimewa untuk mengeluarkan ekspresi ujaran bagi setiap  kesan (stimulus) dari luar, kesan tersebut diterima lewar indera, bagaikan pukulan pada bel hingga melahirkan ucapan yang sesuai. pada akhirnya Muler menolak teorinya sendiri.
  5. Teori yo-he-ho, yang menyatakan bahwa bahasa lahir dalam satu kegiatan sosial, seperti bekerja. Misalnya kita sedang mengangkat kayu besar, maka seperti biasa kita secara spontan akan mengucapkan kata-kata tertentu karena terdorong gerakan otot, seperti kata heave! (angkat), Rest (diam), Run (lari), dan sebagainya.
  6. Teori bow-bow (Teori onomatope/echoic), yang mengatakan bahwa kata-kata lahir berdasarkan tiruan bunyi alami, seperti kicauan burung, sungai, gonggongan anjing, dan sebagainya. Teori ini ditentang oleh banyak ahli, termasuk ibnu jinni dan Max muler, bahkan muler mengatakan bahwa teori ini hanya berlaku pada kandang ternak, padahal bahasa lebih banyak terjadi di luar itu.
  7. Teori gestur, mengatakan bahwa isyarat mendahului ujaran, maksudnya adalah bahwa bahasa lahir dari isyarat-isyarat yang bermakna. Para pendukung teori ini menunjukkan penggunaan isyarat oleh berbagai jenis binatang dan juga sistem isyarat yang dipakai oleh orang-orang primitif. Contohnya adalah bahasa isyarat yang dipakai oleh suku Indian di amerika utara ketika mereka berkomunikasi dengan suku-suku yang tidak sebahasa dengan mereka. Namun,  bahasa isyarat tidak selamanya dapat dipakai, misalnya di tempat yang gelap atau ketika tangan tengah memegang sesuatu. Pada keadaan ini orang primitif terdorong untuk berkomunikasi secara lisan, dan dari sinilah bahasa lisan mulai berkembang.

B. Pendekatan Modern

Manusia diciptakan dengan fisik yang sangat sempurna hingga memungkinkan mereka untuk melahirkan ujaran (kemampuan berbahasa). Namun kemampuan berbahasa tersebut bukan semata karena fisik yang sempurna, melainkan juga karena adanya faktor-faktor psikologis pada mereka. Contohnya,  ketika sang petani membayangkan sawah yang dipenuhi dengan padi yang subur yang menjadi penghasilan pokok mereka, maka orang lain akan membayangkan bahwa sawah adalah tempat yang panas dan dipenuhi oleh lumpur serta lintah-lintah yang cacing-cacing yang menggelikan. Dari kedua bentuk bathiniah inilah melahirkan kesan psikologis yang berbeda dan beragam. Seperti padi yang subur, penghasilan pokok, panas, lumpur, cacing, lintah, dan sebagainya.

Ada juga yang mengatakan bahwa perkembangan bahasa pada manusia seperti perkembanagn bahasa pada bayi yang menjadi dewasa. Ketika bayi, bahasa mereka hampir tidak mempunyai arti dan tidak berperan dalam komunikasi, namun kemudian terus berkembang sesuai dengan perkembangan indera, tubuh, dan jiwa mereka hingga menuju kesempurnaan.

C. Beberapa Pendapat Lainnya

Bebebrapa ahli yang lain mengatakan bahwa manusia memiliki dua fasilitas untuk berbahasa yaitu fasilitas fisik yang berupa organ-ogan ujaran dan non fisik seperti ruh, akal pikiran, dan rasa yang akan mengelola segala yang didapati dari alam sekitar. Dalam pikiranlah segala masukan dikelola dan dikonsepkan hingga melahirkan ujaran/ tulisan. Setiap manusia dianugerahi kemampuan pembawaan untuk mengerti alam sekitar.

Bukti pembawaan untuk berbahasa ini tampak pada tangisan pertama bayi yang baru lahir yang merupakan bentuk ujaran yang paling sederhana. Hal ini menandakan bahwa setiap manusai yang baru lahir memiliki kualitas bunyi dasar yang sama yang akan sama siapnya untuk dikembangkan dalam menguasai bahasa apa saja, maka tidak mengherankan jika ada manusia yang mampu menguasai lebih dari satu bahasa.

Adam adalah manusia pertama yang telah dianugerahi kedua fasilitas di atas. Bahasa pertamanya diikuti oleh Hawa dan anak-anaknya. Lama-kelamaan anak-anaknya menyebar ke berbagai penjuru dunia hingaa tumbuh dan berkembanglah bahasa tersebut dan bercabang-cabang  bahkan berbeda dengan bahasa pada awalnya. Perkembangan bahasa terus terjadi sesuai dengan perkembangan kultur dan peradaban penuturnya dan tanpa disadari mereka telah menghimpun ujaran tertentu dari suatu masyarakat dan menyepakati norma-norma kebahasaan bahasa dan norma sosial yang semua penutur tertuntut untuk mengikuti norma tersebut.

Singkatnya manusia pertama (adam) dianugerahi langue yaitu konsep kebahasaan dan kemampuan berbahasa, dengan kemampuan inilah mengkonsepkan alam-alam sekitar dan konsep-konsep ini dinyatakan dalam bentuk ujaran/tulisan atau parole. Parole ini adalah aktualisasi konsep-konsep tadi dan merupakan performance kebahasaanya.

(Sumber: Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Cet. Ke-3, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2013)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Teori Tentang Asal Usul Bahasa yang Sebenarnya"

Post a Comment