Pengertian Bahasa yang Sebenarnya dan Hakikat-Hakikatnya

Tarbiyah | Bahasa merupakan alat yang selalu digunakan oleh seluruh manusia dalam kehidupan mereka, baik itu di keluarga, lingkungan pembelajaran, pasar, masjid dan berbagai tempat lainnya. Tanpa bahasa mustahil mereka bisa hidup dengan baik, seperti yang kita lihat hari ini. Namun, sering kali manusia umumnya tidak mengenal bahasa yang mereka pakai bahkan tidak pernah tahu menahu soal itu. Tapi bagi beberapa orang hal tersebut masih sering menjadi pertanyaan-pertanyaan yang terus mengelilingi pikiran mereka, mereka bertanya-tanya tentang apa itu bahasa, bagaimana hakikatnya, kenapa kita bisa menggunakan bahasa, bagaimana bahasa tersebut ada, dan kenapa bahasa terus digunakan dari waktu ke waktu.

Pengertian Bahasa yang Sebenarnya dan Hakikat-Hakikatnya

A. Pengertian Bahasa

Bahasa merupakan suatu realitas yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tumbuh kembangnya manusia pengguna bahasa tersebut. realitasnya dalam kehidupan ini semakin menampakkan kuatnya eksistensi manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan beragama. Kekuatan eksistensi tersebut ditunjukkan oleh manusia lewat kemampuannya dalam memproduksi karya-karya besar, seperti teknologi, sains, dan seni, semua hal tersebut tidak pernah terlepas dari peran bahasa yang tengah digunakan ketika itu.  Namun, tidak jarang bahasa dimanfaatkan sebagai alat propaganda, bahkan peperangan yang bisa membahayakan sesama pengguna bahasa jika mereka tidak lagi memperhatikan  rambu-rambu agama dan kemanusiaan dalam penggunaannya.

Berdasarkan realitas diatas, jelaslah bahwa bahasa melibatkan banyak aspek dan tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja. Hingga akhirnya lahirlah berbagai definisi bahasa dari para ahli berdasarkan keilmuan mereka masing-masing, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Al-Khuli menyatakan bahwa bahasa adalah sistem suara yang terdiri dari symbol-simbol arbitrer (manasuka) yang digunakan oleh seseorang bahkan sekelompok orang untuk bertukar pikiran atau berbagi rasa.
  2. Ba’labaki mengatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang terbentuk dari symbol-simbol, diusahakan, dan dapat berubah untuk mengekspresikan tujuan pribadi atau komunikasi antara individu.
  3. Menurut ‘Abd al-Majid bahasa adalah kumpulan isyarat yang digunakan oleh orang-orang untuk untuk mengungkapkan perasaan, emosi, pikiran, serta keinginan. Atau dapat juga dikatakan sebagi alat untuk mengemukakan ide, pikiran, dan tujuan dengan menggunakan struktur kalimat yang dapat dipahami oleh orang lain. 
  4. Mary Finochiaro mengatakan bahwa bahasa adalah sistem arbitrer (manasuka) yang terdiri dari symbol-simbol suara yang digunakan oleh manusia dalam rangka mentransfer budaya kepada yang lainnya atau mereka yang telah memperlajari budaya dalam berkomunikasi.
  5. Sedangkan menurut Ronald Wardaugh  bahasa adalah sistem symbol ujaran yang arbitrer yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi. 

Dari berbagai definisi yang diungkapkan oleh para ahli diatas, dapat kita simpulkan bahwa bahasa itu adalah suatu symbol yang memiliki sistem dan digunakan oleh manusia sebagai alat komunikasi dengan yang lainnya untuk mengekspresiakan perasaannya, pemikirannya, idenya, dan gagasannya.

B. Hakikat Bahasa

Menilik pengertian bahasa diatas, sekilas dapat kita lihat bahwa hakikat bahasa itu sistematik (bersistem), arbitrer (manasuka), ujaran (berupa ucapan), symbol (terdiri atas lambing-lambang), manusiawi (diproduksi dan digunakan oleh manusia), alat komunikasi, dan mengacu kepada obyek baik itu dirinya maupun di luar dirinya, sebagaimana penjelasan berikut ini:

1. Sistematik 

Sistem adalah suatu hal yang terdiri dari unsure yang teratur yang saling berhubungan dengan baik. Sistematik berarti teratur karena diatur oleh sistem, yaitu aturan dan pola. Pada setiap bahasa aturan ini terlihat pada dua hal, yaitu sistem bunyi dan sistem makna. Hanya bunyi-bunyi tertentulah yang dapat digabung hingga menghasilkan suatu makna. dalam bahasa Indonesia kita menggabungkan beberapa bunyi hingga terbentuk kata “kebahagiaan” dan kata ini memiliki arti yang dipahami oleh pengguna bahasa indonesia, namun tidaklah mungkin kita menggabungkan beberapa bunyi hingga membentuk kata “ gazljelake” karena kata ini tidak memiliki arti dalam bahada Indonesia.Adapun sistematika dalam ujaran seperti kalimat “bila taat beribadah kita akan bahagia” bukan “akan bila bahagia beribadah taat kita”. Kalimat pertama langsung dapat dipahami artinya, sedangkan yang kedua tidak.

Sistematika bahasa juga terdapat pada level morfologis, seperti dalam bahasa Indonesia terlihat pada penambahan awalan me- yang dapat dikombinasi dengan akhiran –kan dan –i, seperti kata “membahagiakan”, namun awalan me- tidak bisa dikombinasikan dengan awaln ter-, karena tidak menghasilkan arti yang  sesuai. Adapun dalam bahasa Arab seperti penggunaan huruf “ي” pada fi’il mudharik  “يذهب”, namun tidak bisa digunakan pada kata    "يذهبت" , karena tidak bisa digunakan sembarang tempat. Sedangkan dalam bahasa Inggris misalnya penggunakan –ed pada beberapa kata kerja lampau seperti glow-glowed-glowed, kita tidak biasa mengatakan glow-glew- glown.

2. Arbitrer (manasuka)

Manasuka berarti asal bunyi, seenaknya, dan dimana saja disukai serta dapat dipilih secara acak tanpa alasan atau tidak ada hubungan logis dengan kata-kata sebagai symbol  (al-ramz) dengan yang disimbolan (al-marmuz). Contohnya mengapa diindonesia disebut gelas, di Arab  كوب   dan di Inggris glass. Mengapa bisa demikian. Begitu pula dalam bidang sintaksis, seperti kalimat:  bila mematuhi perintah Allah kita akan bahagia. Mengapa susunan kata-kata kalimat tersebut harus demikian.  Karena memang begitulah susunan dan begitulah maunya. Pada awalnya semua bunyi adalah manasuka, namun karena ia adalah kekayaan sosial maka ia disetujui oleh masyarakat penutur bahasa dan membatin pada diri mereka hingga bila ada yang tidak sesuai maka berarti ia telah melanggar norma-norma bahasa.

3. Ujaran (ucapan)

Bahasa itu ujaran yang berarti bahwa media yang terpenting adalah dengan bunyi-bunyi. Manusia biasa berbicara tanpa menulis, namun tidak bisa menulis tanpa berbicara. Ujaran adalah bahasa yang sesungguhnya, tulisan hanyalah untuk melestarikan ucapan dan hanyalah alat untuk menggambarkan arti di atas kertas saja.

4. Symbol

Ada perbedaan konseptual anatar symbol dan tanda (al-rumuz dan al-‘alamat/symbols dan signs). Menurut Alwasilah symbol mengacu kepada suatu objek dan hubungan antara symbol dan objek itu bersifat manasuka, sedangkan hubungan tanda dengan acuannya tidak manasuka. Symbol dapar tercipta dari bunyi seperti ujaran kita, ia juga bisa berbentuk tulisan dari tinta di atar kertas. Seperti awan tanda akan turun hujan, sedangkan kata  “hujan” di atas kertas tidaklah basah sedikit pun karena tulisan hujan hanyalah symbol. Kadar symbol yang tinggilah yang menjadikan bahasa manusia maha berguna bagi semua penuturnya.

5. Manusiawi

Bahasa itu manusiawi, maksudnya adalah semua yang telah kita bicarakan sebelumnya adalah suatu kekayaan yang hanya dimiliki oleh umat manusia. Keistimewaan bahasa manusia jelas terlihat ketika kita membandingkannya dengan bahasa binatang, karena pada bahasa binatang sama sekali tidak terdapat ciri ganda bahasa manusia, yaitu bunyi dan makna.

6. Alat komunikasi

Fungsi utama dari bahasa adalah alat komunikasi dan interaksi. Bahasa menyatukan keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam berbagai kegiatan sosial mereka. Tanpa bahasa tidak terbayangkan bagaiman kehidupan manusia, karena kata “komunikasi” meliputi mana mengerti dan berbicara, mendengar dan membalas tindak. 

7. Mengacu pada objek

Bahasa mengacu pada objek tertentu, baik itu dirinya maupun objek yang di luar dirinya. Adapun contoh-contoh yang telah dikemukakan diatas menunjukkan bahwa bahasa mengacu pada objek di luar dirinya, yaitu fenomenal yang terjadi pada lingkungan tempat bahasa itu berada. Adapun contoh bahasa mengacu pada dirinya adalah seperti beduk yang memiliki bunyi tersendiri bila dipukul namun bunyi beduk tidak bisa menganalisis bunyi beduk itu sendiri.

Manusia memang hebat. Mereka mampu berbicara tentang bicaranya, menjadikan ujaran sebagai objek ujarannya. Inilah yang disebut dengan metalanguage (al-lughah al-washifah) yaitu bahasa bisa dipakai untuk membicarakan bahasa.

(Sumber: Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Cet. Ke-3, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2013)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Bahasa yang Sebenarnya dan Hakikat-Hakikatnya"

Post a Comment