Penerapan Metode Silent Way dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Tarbiyah | Para penggiat pendidikan tidak pernah berhenti berusaha untuk menghadirkan metode-metode dan melahirkan media-media baru yang efesien dan efektif untuk mempermudah pembelajaran bahasa. Selain memperkaya perbendaharaan metode pembelajaran bahasa juga sebagai bentuk kepedulian yang tinggi terhadap dunia pendidikan, khususnya pembelajaran bahasa. Pada artikel kali ini kita akan membahas metode silent way yang bertujuan membimbing peserta didik untuk mencapai kelancaran berbahasa layaknya penutur aslinya. Berikut adalah pembahasannya.

Penerapan Metode Silent Way Dalam Pembelajaran Bahasa Arab


A. Pengertian Silent Way

Silent way (metode guru diam/al-thariqah al-shamitah) dicetuskan oleh Caleb Gategno yang merupakan seorang ahli pengajaran bahasa yang menerapkan prinsip-prinsip kognivisme dan ilmu filsafat dalam pengajarannya. Latar belakang penamaan metode ini adalah karena guru lebih banyak diamnya daripada berbicara saat proses pembelajaran berlangsung, dan pelajar juga memiliki saat-saat diam untuk tujuan tertentu, yaitu diam tidak membaca, tidak menghayal, tidak menonton video, melainkan berkonsentrasi pada pembelajaran bahasa yang baru saja ia dengar.

Metode ini menggunakan alat peraga tongkat kayu (Cuisenaire rods) dan isyarat jika diperlukan. Isyarat diberikan dalam bentuk gerakan tubuh atau berupa bantuan dari murid lainnya tanpa ada penjelasan verbal. Prinsipnya adalah adanya respek terhadap kemampuan pelajar untuk mengerjakan masalah-masalah kebahasaan serta mampu untuk mengingat informasi tanpa adanya verbalisasi dan bantuan dari guru.

Adapun materi yang digunakan dalam metode ini berdasarkan struktur bahasa. Pembelajarannya disajikan dari unsur yang mudah ke yang susah. Sedangkan materi kosa kata dan struktur kalimat disajikan sedikit demi sedikit sehingga menjadi unit-unit kecil. Unit dasar bahasa dalam metode ini adalah kalimat. Dalam hal ini guru mengajarkan satu makna dari suatu kalimat tanpa menyebutkan makna-makna lain yang mungkin terdapat dalam kehidupan sehari-hari.

B. Konsep Dasar Silent Way dan Tujuannya

Adapun konsep dasar yang didasarkan Caleb dalam metode ini adalah berdasarkan konsep filsafat Stevick, sebagaimana berikut:

  1. Diri (the self) seseorang sama dengan tenaga yang bekerja dalam tubuhnya melalui panca indera, dan bertujuan untuk mengatur masukan-masukan dari luar. Diri adalah suatu tenaga yang memiliki “kemampuan untuk bekerja”, jadi tidak sama dengan “kerja”.
  2. Diri seseorang mulai bekerja saat diciptakan dalam kandungan yang mana sumber awal tenaganya adalah DNA dan mengolah semua masukan dari luar dan menambah tenaga untuk mengolah masukan –masukan selanjutnya. 

Ia juga melihat bahwa hakikatnya belajar melibatkan dua langkah, yaitu:

  1. Belajar adalah pekerjaan yang sengaja dilakukan dengan sadar dan diperintah oleh kemauan yang keras karena diatur oleh otak.
  2. Belajar adalah proses mengasimilasi hasil-hasil aktivitas mental melalui pembentukan gambaran batin yang baru  atau gambaran batin yang lama.

Adapun tujuan pokok metode ini adalah:

  1. Melatih keterampilan peserta didik dalam menggunakan bahasa asing yang dipelajari secara lisan.
  2. Melatih keterampilan menyimak peserta didik dalam menyimak pembicaraan lawan bicara.
  3. Melatih peserta didik agar mampu menguasai tata bahasa yang praktis.

C. Langkah-Langkah Penerapan Silent Way

Adapun langkah-langkah penggunaan metode silent way adalah sebagai berikut:

  1. Pendahuluan. Guru menyediakan alat-alat peragayang berupa papan peraga  dan tongkat. Papan peraga bertuliskan materi yang terdiri dari ejaan suku kata yang hendak dipelajari, ejaan yang berlafal sama diberi warna yang sama. Sedangkan tongkat disediakan 10 buah dengan warna-warna yang berbeda. Tongkat yang paling panjang berukuran 10x1 cm, sedangkan yang paling pendek 1x1 cm. tongkat ini akan digunakan sebagai alat peraga dalam membentuk kalimat lengkap.
  2. Guru menyajikan satu butir bahasa yang dipahami dan penyajiannya hanya satu kali. Guru tidak mengucapkan apa-apa melainkan hanya menunjukkan symbol-simbol yang tertera di papan peraga. Peserta didik melafalkan dengan keras dan serentak apa yang ditunjuk guru.
  3. Setelah peserta  didik mampu mengucapkan bunyi-bunyi dalam bahasa asing yang dipelajari, guru menyajikan papan peraga yang kedua yang berisi kosa kata terpilih. Kosa kata tersebut diambil dari kalimat-kalimat yang sering digunakan dalam sehari-hari.
  4. Guru menggunakan tongkat warna-warni guna memancing peserta didik untuk berbicara bahasa asing yang sedang dipelajari. Misalnya. ( هذه العصا خضراء ). Lalu meminta salah satu peserta didik untuk menunjukkan tongkat lain. seperti. (هذه العصا صفراء), lalu peserta didik tersebut meminta kepada kawannya yang lainnya untuk melakukan hal yang sama. Dengan demikian peserta didik akan didorong untuk membuat kalimat secara lisan  dengan kata-kata yang telah mereka kuasai sebelumnya. Dalam hal ini penggunaan isyarat sangat penting sebagai pengganti penjelasan verbal. Jika sudah memungkinkan untuk mengembangkan perbendaharaan kata-kata, guru bisa menggunakan alat peraga lainnya sesuai, seperti benda-benda alam, gambar-gambar, dan lainnya sesuai kebutuhan. 
  5. Penutup. Guru mengadakan pengetesan dengan cara memberikan perintah-perintah sedapat penting tidak secara verbal seperti halnya pada nomor sebelumnya, pastinya dengan memperhatikan alokasi waktu pembelajaran.    

D. Kelebihan dan Kekurangan Silent Way

Adapun kelebihan metode ini adalah sebagai berikut:

  1. Kelas menjadi aktif dengan adanya tugas-tugas dan aktifitas-aktifitas dalam metode ini.
  2. Respon peserta didik terpancing tanpa adanya intruksi lisan dari guru dan tanpa pemberian contoh yang berulang.
  3. Melatih peserta didik untuk membuat kesimpulan-kesimpulan dan keputusan secara tepat dengan cara membuat analogi-analogi sendiri.

Sedangkan kekurangannya antara lain:

  1. Metode ini sulit diterapkan pada pembelajaran membaca dan mengarang.
  2. Proses pembelajaran dengan menggunakan metode ini tidak menjamin untuk mencapai tujuan yang telah digariskan, seperti kelancaran berbahasa sebagaimana penutur asli.
  3. Pada dasarnya metode ini memiliki banyak kesamaan dengan metode audiolingual.
  4. Konsep dasar pada metode ini adalah memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk menentukan pilihan-pilihan mereka dan terkesan merekalah yang menguasai situasi pembelajaran, namun pada kenyataannya gurulah yang menguasai proses pembelajaran atau teacher-centered.

(Sumber: Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Cet. Ke-3, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2013)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penerapan Metode Silent Way dalam Pembelajaran Bahasa Arab"

Post a Comment