Penerapan Counseling Learning Method dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Tarbiyah | Dunia pendidikan adalah dunia yang selalu melahirkan berbagai “penawar” untuk segala permasalah yang dihadapi setiap bagian-bagiannya, terutama permasalahan yang dialami peserta didik dalam pembelajaran bahasa, baik itu yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan, motivasi belajar, maupun permasalahan-permasalahan lain yang tiada akhir. Bukanlah hal yang biasa, ketika pembelajaran bahasa dipandang sebagai sesuatu yang tidak mudah. Maka, kehadiran model pembelajaran layaknya pembelajaran kooperatif merupakan tawaran yang sangat menggiurkan dan umumnya sukses mengatasi permasalahan tersebut.

Namun, jika penggunaan model tersebut belum memberikan efek yang berarti, mungkin tidak ada salahnya jika guru menerapkan metode baru yang bersifat penyuluhan, salah satunya adalah counseling learning method dalam pembelajaran bahasa, khususnya bahasa arab. Metode ini tidak hanya berbicara tentang keaktifan peserta didik dalam pembelajaran, namun juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengungkapkan kepada guru mereka tentang “unek-unek” serta permasalahan yang mereka hadapi selama proses pembelajaran.

Penerapan Counseling Learning Method dalam Pembelajaran Bahasa Arab

A. Pengertian Counseling Learning Method dan Konsep Dasarnya

Counseling learning method (metode belajar konseling/thariqah al-ta’allum al-irsyad) adalah  metode pembelajaran yang diperkenalkan oleh seorang psikologi konseling yaitu Carles A. Curran  dan kawan-kawannya. Dalam metode ini guru berperan sebagai konselor dan peserta didik berperan sebagai klien. Guru akan memberikan penyuluhan kepada peserta didik tentang permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi, tentunya yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa, dengan kata lain guru berperan sebagai penyuluh bahasa.

Metode ini memandang bahwa umumnya yang dipelajari manusia adalah bersifat kognitif dan afektif, karena pembelajaran yang disajikan bertujuan untuk menciptakan komunikasi dan interaksi secara bebas antara pelajar bahasa. Pembelajaran bahasa berlangsung sesuai dengan kemauan peserta didik. Jika mereka memerlukan terjemahan, maka guru akan memberikan terjemahan sesuai dengan permintaan mereka. Adapun ciri khusus metode ini adalah adanya usaha peserta didik untuk menyibukkan diri secara ikhlas untuk dapat berkomunikasi dan mengembangkan kemampuan berbahasanya secara alami.

Tujuan metode ini adalah untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menguasai bahasa asing yang ia pelajari hingga mendekati penutur aslinya serta memupuk perasaan harga diri yang tinggi dalam hati pelajar. Untuk mencapai itu semua, peserta didik harus melalui tahapan-tahapan berikut ini:

  1. Tahap kelahiran, dimana peserta didik dipupuk untuk menanamkan perasaan aman dan perasaan sebagai anggota masyarakat.
  2. Tahap pencapaian kebebasan, peserta didik makin banyak belajar dari pengalaman, sehingga kemampuannya bertambah dan makin bebas dari pimpinan orang tuanya.
  3. Tahap berbicara dengan bebas, peserta didik mulai menunjukkan indentitas dirinya dan sering menolak nasehat-nasehat dari orang yang tidak ia sukai.
  4. Tahap penerimaan kritik membangun sebagai hal yang dapat diterima, peserta didik mulai percaya diri dan siap menerima kritikan membangun yang memperbaiki dirinya.
  5. Tahap peningkatan gaya bahasa dan pengetahuan bentuk-bentuk linguistic yang wajar, peserta didik mulai memperbaiki gaya bahasanya yang kurang bagus sehingga memberikan kepuasan bagi dirinya dan mampu menyesuaikannya dengan situasi-situasi tertentu.

Dari tahapan di atas dapat dilihat, bahwa guru bahasa yang baik adalah yang pandai membaca kondisi dan memanfaatkannya secara efektif dan proses pembelajaran bahasa yang efektif adalah yang dilakukan dengan melihat kondisi-kondisi pelajar secara gradual.

B. Langkah-Langkah Penerapan Counseling Learning Method

Adapun langkah-langkah penggunaan Counseling learning method dalam pembelajaran bahasa arab adalah sebagai berikut:

  1. Pendahuluan. Guru menyiapkan media-media pembelajaran yang akan digunakan, seperti tape-recorder untuk merekam percakapan peserta didik dan membagi mereka kedalam beberapa kelompok kecil yang beranggotakan 5-10 orang
  2. Guru memberikan kesempatan setiap kelompok untuk menentukan topic yang akan dipelajari secara consensus, kemudian mereka merekam suaranya dan mengemukakan rekamannya secara bergiliran. Guru memberikan terjemahan setiap kalimat yang diminta.
  3. Setelah rekaman percakapan selesai (25 menit), rekaman kembali diputar ujaran demi ujaran. Hal ini bertujuan agar peserta didik dapat kembali mendengarkan dengan jelas rekaman tersebut. 
  4. Setelah pemutaran selesai, peserta didik diberikan kesempatan untuk mengusulkan perbaikan atas ujaran-ujaran yang salah.
  5. Pada pertemuan selanjutnya, peserta didik kembali mendengarkan rekaman tersebut dan menulis kesimpulan dari isi rekaman secara berkelompok. Kesimpulan tersebut diperiksa oleh guru untuk dapat menentukan aspek-aspek yang harus kembali diajarkan. Kesimpulan yang ditulis kelompok-kelompok tersebut tentu sangat banyak ragamnya, maka guru harus menekankan jenis ungkapan yang mengandung struktur yang sedang dipelajari saja, misalnya tentang “istifham”.
  6. Dalam pengembangan struktur tersebut, guru dapat meminta peserta didik untuk mengubah bentuk kalimat yang telah mereka buat ke bentuk lain, misalnya dari kalimat aktif ke kalimat pasif, ataupun sebaliknya. Selain itu guru juga dapat memberikan bentuk latihan lain yang berhubungan dengan pembelajaran.
  7. Penutup, guru mempraktekkan struktur-struktur yang telah dipelajari ke dalam ungkapan-ungkapan bebas sesuai dengan keinginan peserta didik guna memantapkan mereka terhadap penguasaan materi. 

C. Kelebihan dan Kekurangan Counseling Learning Method

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki counseling learning method ini, diantaranya adalah:

  1. Proses  pembelajaran berorientasi pada peserta didik, karena mereka melakukan aktivitas secara mandiri.
  2. Belajar bahasa asing dilakukan dengan kerja sama. 
  3. Mendorong peserta didik untuk menerapkan pola-pola komunikasi dengan bahasa asing yang sedang dipelajari, karena sejak awal pemberlajaran mereka telah dilibatkan untuk berkomunikasi timbal balik dan menggunakan kemampuan kognitif mereka untuk menerapkan kaidah bahasa.

Adapun kekurangan metode ini adalah:

  1. Jika guru selalu memberikan terjemahan, maka bentuk pembelajaran cenderung berbentuk penyajian terjemahan dan guru cenderung berperan sebagai penerjemah.
  2. Materi pelajaran pada metode ini berdasarkan proses bukan berdasarkan isi, maka sulit untuk dibukukan, karena setiap kelas cenderung memiliki materi yang berbeda. Atas dasar ini, materi yang dapat disajikan adalah tentang struktur bahasa.
  3. Peran guru sebagai penyuluh dan hal ini tidak biasa dalam pembelajaran nampakknya tidak memacu perkembangan kemampuan berbahasa peserta didik.
  4. Evaluasi kemajuan belajar (tes formatif) dan evaluasi akhir program (tes submatif) lebih rumit dilakukan dibandingkan dengan evaluasi-evaluasi dalam kelas biasa. 

(Sumber: Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Cet. Ke-3, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2013)

0 Response to "Penerapan Counseling Learning Method dalam Pembelajaran Bahasa Arab"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel