Pembelajaran Bahasa Asing dalam Sejarah Serta Hipotesisnya

Tarbiyah | Studi tentang metodologi belajar bahasa kedua merupakan hal yang sudah sangat lama dan menghabiskan banyak dana, namun belum dapat banyak mengubah cara seseorang belajar bahasa, terutama yang berhubungan denan aspek kesederhanaan dan kehematan. Bahkan keberhasilan belajar bahasa hari ini tidak begitu jauh dengan hasil yang telah dicapai dua abad yang lalu. Hal ini menunjukkan betapa belajar bahasa bukanlah perkara yang mudah dan sangat membutuhkan kepada metode yang efesien. Bahkan berbagai hipotesis dari studi tentang pembelajaran bahasa asing dalam sejarah menjelaskan bagaimana perkembangan pembelajaran bahasa yang tidak  begitu cepat dan terlihat rumit serta kompleks dalam proses pemerolehannya.

Pembelajaran Bahasa Asing dalam Sejarah Serta Hipotesisnya

A. Pembelajaran Bahasa Asing dalam Sejarah

Secara historis, inovasi, dan perubahan pandangan dalam studi pembelajaran bahasa telah dimulai sejak tahun 1880 lalu yang terbagi dalam empat fase penting sebagaimana berikut ini:

  1. Fase pertama, yaitu antara tahun 1880-1920. Terjadi pengembangan ulang bentuk-bentuk metode langsung (al-thariqah al-mubasyarah/direct method) yang pernah dikembangkan pada zaman yahudi dahulu. Metode tersebut dicoba untuk direkontruksi dan diterapkan pada sekolah-sekolah. Saat itu juga dikembangkan metode bunyi (al-thariqah al-shautiyah/phonetic method) yang juga berakar pada tradisi yunani.
  2. Fase kedua, antara tahun 1920-1940. Saat itu di Amerika dan Canada dibentuk forum studi bahasa asing yang menghasilkan metode-metode bersifat kompromi (al-thariqah al-ittifaqiyyah/compromise method) dan metode membaca (al-thariqah al-qiraah/reading method). Ini adalah pengembangan dari teknik-teknik pengajaran bahasa yang sudah ada dan dikaitkan dengan tujuan-tujuan pembelajaran bahasa yang lebih khusus.
  3. Fase ketiga. Pada fase ini terjadi perang dunia II yang menuntut orang untuk mencari metode pembelajaran bahasa asing yang lebih efesien, cepat, dan dapat dipakai untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak yang bertikai  untuk kepentingan perang. Fase ini terbgai dalam tiga periode, yaitu pertama: periode 1940-1950, dimana lahirnya metode efesien dan praktis dari markas ketentaraan Amerika untuk kepentingan ekspansi perang yang bernama American army method (al-thariqah al-jundiyyah al-amrikiyyah). Namun di pihak lain juga lahir pendekatan baru dalam studi linguistic yang merupakan imbas dari adanya perubahan pandangan dalam kajian kebahasaan waktu itu, yang disebut dengan pendekatan linguistic. Kedua: periode 1950-1960, lahirnya metode audiolingual (al-thariqah al-sam’iyyah al-syafawiyyah) di Amerika dan metode audiovisual (al-thariqah al-bashariyyah) di Inggris dan Prancis, sebagai akibat langsung dari suksesnya army method. Metode ini lahir dari pandangan kaum Behavioris dan akibat adanya penemuan alat-alat teknologi yang membantu belajar bahasa. Metode ini sukses pada awal perkembangannya dan yang menjadi landasan utamanya adalah teori stimulus-responsnya. Di  pihak lain juga lahir minat kajian tentang psikolinguistik. Ketiga: periode 1960-1970. Adanya keraguan dan kajian ulang tentang hakikat belajar bahasa dan saat itu adalah awal runtuhnya metode audiolingual dan masyhurnya analisis kontrastif yang berupaya membantu mencari landasan teori dalam pembelajaran bahasa.
  4. Fase ke empat. Antara tahun 1970-1980, yang dipandang sebagai titik balik dan merupakan periode yang paling inovatif dalam studi pemerolehan bahasa kedua dan bahasa asing.  Pada periode ini konsep dan hakikat belajar bahasa kembali dirumuskan dan diaeahkan pada pengembangan sebuah model  metode pengajaran bahasa yang efektif dan efesien serta dilandasi dengan teori yang kokoh. Yang akhirnya pada tahun 1980-an melahirkan pendekatan komunikatif (al-madkhal al-ittishali/communicative approach) dalam belajar bahasa. 

B. Hipotesis Belajar Bahasa Asing

Adapun beberapa belajar bahasa asing berdasarkan tulisan Walbarg Klein adalah sebagai berikut:

  1. Hipotesis kesamaan (al-fardhiyyah al-sawiyyah/identity hypothesis), menyatakan adanya kesamaan antara belajar bahasa ibu, bahasa kedua, dan bahasa asing yang terletak pada sifat parallel pada urutan-urutan pemerolehan  struktur, seperti interogasi, negasi, dan morfem-morfem gramatikal. 
  2. Hipotesis konstratif (al-fardhiyyah al-taqabuliyyah/constrastive hypothesis), memandang bahwa seseorang sering melakukan kesalahan dalam mengungkapkan suatu kalimat dan terkadang dimudahkan cara belajarnya oleh bahasa pertama. Kesalahan tersebut terjadi karena adanya perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua, sedangkan kemudahan dalam belajarnya karena adanya kesamaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua.  Hipotesis ini juga menyatakan bahwa seorang pelajar bahasa sering kali melakukan transfer antara bahasa ibu pada bahasa yang dipelajarinya  dalam bentuk penggunaan struktur kalimat ketika mengemukakan gagasannya. Transfer tersebut terlihat pada tingkat-tingkat kebahasaaan seperti fonologi, sintaksis, dan leksikon. Sedangkan pada aspek morfologi jarang ditemukan.
  3. Hipotesis krashen (al-fardhiyyah al-krasyiniyyah/krasen’s hypothesis)/teori monitor. Teori ini berkenaan dengan keterkaitan antara belajar secara spontan dengan belajar terbimbing serta perbedaan keduanya. Krashen mengajukan Sembilan Hipotesis yang saling berkaitan untuk menerangkan berbagai aspek yang dapat diamati dalam proses pemerolehan bahasa kedua, kesembilan hipotesis tersebut adalah hipotesis perbedaan antara pemerolehan dan belajar, hipotesis urutan alamiah, hipotesis monitor, hipotesis masukan, hipotesis afektif, hipotesis pembawaan/bakat, hipotesis filter, hipotesis bahasa pertama, dan hipotesis variasi individual dalam penggunaan monitor.
  4. Hipotesis bahasa antara (al-fardhiyyah al-bailughawiyyah/interlanguage hypothesis). Interlanguage adalah model bahasa khas yang memiliki ciri bahasa pertama dan bahasa kedua dan biasanya terdapat pada seseorang yang mempelajari bahasa tertentu sebelum ia benar-benar menguasai bahasa tersebut. 
  5. Hipotesis pijinisasi (al-fardhiyyah al-ikhtilathiyyah/pidginization hypothesis), selain ditemukan dalam studi pemerolehan bahasa juga ditemukan bahasa pijin yaitu bahasa yang dipakai oleh sekelompok masyarakat dalam wilayah tertentu yang diantara dua bahasa. Bahasa tersebut terbentuk ketika penutur bahasa sub ordinat, yaitu bahasa yang secara politis, sosial, dan cultural lebih rendah kedudukannya, mencoba menguasai bahasa yang lebih dominan untuk tujuan-tujuan tertentu.  

(Sumber: Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Cet. Ke-3, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2013)

0 Response to "Pembelajaran Bahasa Asing dalam Sejarah Serta Hipotesisnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel