Artikel Terlengkap Tentang Dualisme Bahasa Arab (Fushha dan 'Amiyah)

Tarbiyah | Bahasa merupakan alat komunikasi selalu digunakan manusia di berbagai belahan dunia. Baik itu di benua Asia, Eropa, bahkan Afrika. Ia merupakan unsur yang tidak pernah bisa dipisahkan dari kehidupan manusia karena bagitu besar fungsi yang ia mainkan. Berbicara tentang bahasa tidak akan pernah ada akhinya, karena ia terus berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan tempat ia digunakan. Bahasa arab juga merupakan salah satu bahasa asing yang terus berkembang dari waktu ke waktu hingga akhirnya melahirkan dua jenis, yaitu bahasa arab fushha dan bahasa arab ‘amiyah. kedua jenis ini adalah hal yang berbeda antara satu dan lainnya, baik itu dari segi pengertian, ciri-ciri, bahkan  asal usul kemunculan bahasa tersebut. Berikut ini adalah pembahasannya.

Dualisme Bahasa Arab (Fushha dan 'Amiyah)

A. Bahasa Arab Fushha

Bahasa Arab fushha adalah bahasa bahasa arab baku yang digunakan pada berbagai  kesempatan resmi dan untuk kepentingan kodifikasi karya-karya puisi, prosa, dan pemikiran penulisan intelektual dan mengikuti kaidah-kaidah baku secara internasional.
Adapun ciri-ciri bahasa fushha adalah sebagai berikut:

  1. Bahasa fushha memiliki derajat yang sangat tinggi, karena ia digunakan oleh kalangan orang berpendidikan dan berbakat, bahkan firman Allah dalam Al-quran serta hadis Nabi berbahasa fushha .
  2. Bahasa fushha tidak bersifat kedaerahan atau tidak ada kaitan dengan kabilah tertentu. 

Secara umum, dialek bahasa Arab dikelompokkan menjadi dua, pertama, al-‘arabiyyat al-ba’idah/ al-‘arabiyyat al-nuqusy yaitu dialek bahasa Arab bagian utara jazirah Arab dan sebagian dialek selatan dan ia digunakan pada prasasti-prasasti, hal inilah yang menyebabkan ia tidak sampai kepada kita. Kedua, al-‘arabiyyat al-baqiyyah yaitu dialek yang digunakan dalam qashidah zaman jahiliah/pra-Islam serta yang digunakan dalam Al-Quran, dalam acara formal dan bahasa Arab yang dikenal hari ini. Dialek ini tersebar di seluruh jazirah Arab sejak masa pra islam dan menjadi lingua franca bagi masyarakat multikabilah. Dialek ini adalah gabungan dari berbagai dialek yang berbeda. Bahasa inilah yang dipergunakan dalam berbagai tulisan Arab, pidato-pidato, dan jurnalistik.

Kedudukannya pun semakin kukuh dengan diturunkannya Al-Quran dan makin berkembang seiring dengan meningkatnya intensitas interaksi masyarakat arab dari berbagai kabilah melalui perjalanan, perdagangan, dan festival seni dan sastra hingga melahirkan sebuah lingua franca, bahasa pergaulan bersama (al-lughat al-musytarakah) yang dijadikan alat komunikasi antar kabilah. Ada beberapa pandangan tentang proses terbentuknya lingua franca antar berbagai kabilah yang memiliki berbagai dialek lokal itu:

  1. Dialek Quraisy merupakan dialek yang paling fasih, dominan dan dipahami oleh berbagai kabilah di seluruh jazirah pada masa pra-Islam. 
  2. Dominasi dialek Quraisy terhadap dialek-dialek lain hanya terjadi di zaman pra-Islam, tetapi tidak demikian setelah datangnya Islam. 
  3. Pandangan yang tidak mengakui dialek Quraisy sebagai lingua franca atau bahasa bersama bagi seluruh kabilah Arab.

Sejak adanya Islam, kedudukan lingua franca semakin kokoh karena masyarakat sangat menghargai bahasa bersama, yaitu bahasa yang digunakan Al-Quran. Mereka sangat antusias mendalami dan mengkaji bahasa Al-Quran, bahasa bersama yang dinisbahkan kepada suku Quraisy. Hingga akhirnya bahasa Arab Al-Quran menjadi bahasa baku di seluruh jazirah Arab dan kemudian dipandang sebagai bahasa Arab fushha.

B. Bahasa Arab ‘Amiyah

Bahasa ‘amiyah/bahasa pasaran adalah bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan ia berkembang pesat pada masyarakat umum menengah ke bawah. Para linguis modern pun menamakannya dengan al-lughat al-‘amiyah, al-syakl al-lughawi al-darij, al-lahjat al-sya’i’ah, al-lughat al-mahkiyyah, dan lainnya. Bahasa ini tidak memiliki kaidah baku secara internasional, sehingga dinilai sebagai bahasa yang menyalahi kaidah.
Adapun ciri-ciri bahasa amiyahadalah sebagai berikut:

  1. Bahasa arab ‘amiyah adalah bahasa yang berkembang pesat pada masyarakat umum menengah ke bawah dan berlaku dalam kehidupan mereka.
  2. Bahasa ‘amiyahselalu bercirikan kedaerahan, misalnya bahasa ‘amiyah yang berkembang di Yaman tidak sama dengan yang berkembang di Sudan.

Adapun awal kemunculan bahasa ini adalah ketika masyarakat yang berasal dari kabilah selain Quraisy tidak seluruhnya memiliki kesiapan dan kemampuan menggunakan bahasa Al-Quran secara baik dan benar. Hingga akhirnya terjadilah lahn (kesalahan/penyimpangan pada ‘irab) ketika mereka menggunakan bahasa Arab fushha. Benih-benih lahn mulai muncul sejak zaman nabi Muhammad berupa perbedaan luknah (logat, cara berbicara) di kalangan sahabat. Misalnya, Abdullah berbicara dengan logat Habasyi, Sulaiman berbicara dengan logat Persia, dan lainnya. Istilah lahn baru muncul setelah kedatangan islam dan setelah bahasa Quraisy yang digunakan Al-Quran menjadi bahasa baku.

Sejak adanya penaklukan ke luar jazirah Arab, praktik lahn makin pesat dan masyarakat mulai mencampuradukkan bahasa mereka dengan bahasa orang-orang yang terarabkan (muta’arrabin) di negeri-negeri taklukan. Praktik ini juga terjadi di bahasa tulis, terutama pada masa Umar bin Khattab dan makin meluas sejak penukilan buku-buku berbahasa Romawi dan Qibtiyah (mesir) ke dalam bahasa Arab, surat-surat dan sebagainya. Hingga akhirnya bahasa ini terus berkembang hingga menjadi bahasa yang berdiri sendiri.

(Sumber: Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Cet. Ke-3, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2013)


0 Response to "Artikel Terlengkap Tentang Dualisme Bahasa Arab (Fushha dan 'Amiyah)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel