RUKHSHAH BERBUKA BAGI MUSAFIR DAN ORANG SAKIT - TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Wednesday, May 30, 2018

RUKHSHAH BERBUKA BAGI MUSAFIR DAN ORANG SAKIT


Ketika Allah bersedekah dengan memberi rukhshah untuk hamba-Nya ~

Beberapa sahabat Nabi radhiyallâhu ‘anhum ;

عن شقيق بن سلمة قال أهللنا هلال رمضان بحلوان أو بالمدائن وفينا رجال من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فنادى أميرهم من شاء منكم أن يصوم فليصم ومن شاء منكم أن يفطر فليفطر فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد صام في السفر وأفطر

Dari Syaqiq Ibn Salamah, ia berkata; Kami memulai Ramadhan di Hulwân atau Madâ’in, saat itu kami bersama beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallaam, lalu pimpinan mereka menghimbau bahwa siapa yang ingin puasa dipersilahkan, dan siapa yang tidak berpuasa juga silahkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah melakukan keduanya dalam perjalanan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4494)

عن قتادة قال صام بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم في السفر وأفطر بعضهم فلم يعب بعضهم على بعض، قال أخذ هذا برخصة الله وأدى هذا فريضة الله

Qatadah, ia berkata bahwa sebagian sahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memilih berpuasa dalam perjalanan dan sebagian yang lain memilih tidak berpuasa, kemudian satu sama lain tidak pernah saling merendahkan. Karena yang satu memanfaatkan keringanan dari Allah, dan yang satu lagi telah menunaikan kewajiban yang Allah berikan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4500)

Ali Ibn Abi Thalib radhiayallâhu ‘anhu;

عن سعد بن معبد قال؛ أقبلت مع علي بن أبي طالب من ينبع، قال فصام علي وكان علي راكبا وأفطرت لأني كنت ماشيا حتى قدمنا المدينة ليلا

Dari Sa‘d Ibn Ma‘bad, ia berkata; Kami bersama Ali berangkat dari Yanbû‘, -ia melanjutkan- Ali berpuasa karena menunggang, sedangkan saya tidak berpuasa karena saya berjalan, hingga kami tiba di Madinah malam hari
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4495)

Aisyah Ummul Mukminin radhiyallâhu ‘anhâ;
عن عروة عن عائشة أنها كانت تصوم في السفر

Dari ‘Urwah, dari Aisyah, bahwa beliau berpuasa dalam perjalanan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4496)

عن ابن أبي مليكة قال: صحبت عائشة في السفر، فما أفطرت حتى دخلت مكة
Dari Ibn Abi Mulaikah (w.117H), ia berkata; Aku mengawal Aisyah dalam perjalanan, dan ia tidak berbuka hingga sampai ke Makkah
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.15, no.9068)

Abdullah Ibn ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن ابن عباس قال لا نعيب على من صام في السفر ولا على من أفطر، قال الله؛ يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر

Dari Ibn Abbas, ia berkata; Kami tidak merendahkan orang orang yang berpuasa dalam perjalanan dan orang yang memilih berbuka. Allah berfirman; Allah menghendaki kemudahan untuk kalian, bukan kesulitan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4498)

عن أبي جمرة قال: سألت ابن عباس عن الصوم في السفر فقال: عسر ويسر، خذ بيسر الله عليك

Dari Abu Jamrah (w.128H), ia pernah bertanya kepada Ibn ‘Abbas tentang puasa dalam perjalanan. Ibn Abbas menjawab; Ada yang sulit dan ada yang mudah, maka ambillah kemudahan yang Allah berikan
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.14, no.9056)
Abdullah Ibn Umar radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن ابن عمر قال: الإفطار في السفر صدقة تصدّق الله بها على عباده
Dari Ibn Umar, ia berkata bahwa berbuka di perjalanan adalah sedekah yang Allah berikan kepada para hamba-Nya”.
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.14, no.9060)

Jabir Ibn Abdillah dan Abu Sa‘îd al-Khudrî radhiyallâhu ‘anhum;

عن أبي سعيد الخدري وجابر بن عبد الله رضي الله عنهم قالا؛ سافرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فيصوم الصائم ويفطر المفطر فلا يعيب بعضهم على بعض

Dari Abu Sa‘id al-Khudri dan Jabir Ibn Abdillah radhiyallâhu ‘anhum berkata; Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam, maka ada yang berpuasa dan ada pula yang tidak, namun tidak ada yang saling merendahkan
(Muslim Ibn Hajjaj, Shahîh Muslim, vol.3, hal.143, no.2675)

Anas Ibn Malik radhiyallâhu ‘anhû;

عن عاصم قال: سئل أنس عن الصوم في السفر فقال: من أفطر فرخصة، ومن صام فالصوم أفضل

Dari Ashim (w.141H), ia berkata bahwa Anas Ibn Malik pernah ditanya tentang puasa dalam perjalanan. Anas menjawab; Yang berbuka berarti mengambil keringanan, dan yang berpuasa itu juga lebih baik
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.15, no.9067)

Usman Ibn Abî al-‘Âsh radhiyallâhu ‘anhû;

عن ابن سيرين أن عثمان بن أبي العاص قال: الصوم في السفر أفضل، والفطر رخصة

Dari Ibn Sirin (w.110H), bahwa Usman Ibn Abî al-‘Âsh berkata; Memilih berpuasa dalam perjalanan itu lebih baik, dan memilih tidak berpuasa adalah keringanan
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.16, no.9076)

Berikut penjelasan dari para ulama mazhab;

Al-Imam Mâlik Ibn Anas Ibn Mâlik Ibn ‘Âmir al-Madanî (w.179H);

الأمر الذي سمعت من أهل العلم أن المريض إذا أصابه المرض الذي يشق عليه الصيام معه ويتعبه ويبلغ ذلك منه فإن له أن يفطر وكذلك المريض الذي اشتد عليه القيام في الصلاة وبلغ منه ... ودين الله يسر وقد أرخص الله للمسافر في الفطر في السفر وهو أقوى على الصيام من المريض ... فهذا أحب ما سمعت إلي وهو الأمر المجتمع عليه

Satu hal yang pernah saya dengan dari para ulama adalah seseorang mengalami sakit yang kesulitan dan berat untuk berpuasa atau orang sakit yang membuatnya tidak mampu berdiri ketika shalat boleh tidak berpuasa ... dan agama Allah itu berisi kemudahan, dan Dia telah memberikan kemudahan bagi musafir untuk berbuka dalam perjalanannya, padahal mereka tergolong lebih mampu berpuasa daripada orang yang sedang sakit ... Inilah informasi yang sangat aku sukai, dan ini adalah perkara yang telah disepakati
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ Bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.302)

Al-Imam Abu Bakr Ahmad Ibn Ali al-Jasshâsh (w.370H);

واتفقت الصحابة ومن بعدهم من التابعين وفقهاء الأمصار على جواز صوم المسافر غير شيء يروى عن أبي هريرة أنه قال من صام في السفر فعليه القضاء وتابعه عليه شواذ من الناس لا يعدون خلافا

Para sahabat, tabi‘in, fuqaha’ seantero Mesir sepakat dalam kebolehan musafir untuk berpuasa. Kecuali satu riwayat dari Abu Hurairah yang pernah menyampaikan bahwa orang yang tetap berpuasa dalam perjalanan maka harus mengqadha. Ini pernah diikuti oleh segelintir kelompok, namun itu tidak perlu dianggap sebagai pendapat berbeda
(Al-Jasshash, Ahkâm al-Qur’ân, vol.1, hal.265. Dalam riwayat lain disampaikan bahwa Abu Hurairah telah menarik padangan tersebut dan rujuk kepada riwayat yang valid dari para sahabat lainnya)

Al-Imam Abu Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Hazm al-Andalusi (w.456H);

واتفقوا على أن من آذاه المرض وضعف عن الصوم فله أن يفطر، واتفقوا أن من سافر السفر الذي ذكرنا في كتاب الصلاة أنه إن قصر فيه أدى ما عليه فأهل هلال رمضان وهو في سفره ذلك فانه إن أفطر فيه فلا إثم عليه

Dan mereka sepakat bahwa orang yang kesulitan karena sakitnya dan tidak mampu berpuasa, maka dia boleh berbuka. Dan mereka pun sepakat bahwa orang yang melakukan perjalanan sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam pembahasan shalat jika mengqashar berarti telah melakukan apa yang harus dilakukan, kemudian dalam perjalanan itu muncul hilal Ramadhan lalu dia memilih tidak berpuasa, maka dia tidak berdosa
(Ibn Hazm, Marâtib al-Ijmâ‘, hal.40)

Al-Imam Abu ‘Amr Yusuf Ibn Abdillah Ibn Muhammad Ibn Abdil Barr al-Qurthubi (w.463H);

وعلى إباحة الصوم والفطر للمسافر جماعة العلماء وأئمة الفقه بجميع الأمصار إلا ما ذكرت لك عمن قدمنا ذكره، ولا حجة في أحد مع السنة الثابتة هذا إن ثبت ما ذكرناه عنهم ... وأجمع الفقهاء أن المسافر بالخيار إن شاء صام وإن شاء أفطر إلا أنهم اختلفوا في الأفضل من ذلك
Kebolehan berpuasa maupun tidak berpuasa bagi musafir disepakati oleh para ulama dan para imam fikih di seantero wilayah Islam, kecuali pendapat yang telah saya sebutkan kepadamu sebelumnya. Namun pendapat seseorang tidak dapat dijadikan argumen lagi bila telah jelas argumen sunnahnya, itu pun kalau pendapat itu benar adanya ... Dan para ulama fikih berijma bahwa musafir dapat memilih antara berpuasa atau tidak, namun perbedaan mereka (ulama) hanyalah soal mana yang lebih utama saja
(Ibn Abdil Barr, al-Tamhîd Limâ Fî al-Muwattha’ Min al-Ma‘ânî wa al-Asânîd, vol.2, hal.170 & vol.9 hal.67)
Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);
أجمع أهل العلم على إباحة الفطر للمريض في الجملة ... أن المسافر يباح له الفطر فإن صام كره له ذلك وأجزأه وجواز للمسافر ثابت بالنص والإجماع

Para ulama berijma‘ bahwa secara garis besar orang yang sedang sakit boleh berbuka ... sebagaimana musafir pun demikian. Apabila dia berpuasa tetap sah meskipun makruh. Kebolehan berbuka bagi musafir ini adalah jelas berdasarkan nash dan ijma‘
(Ibn Qudamah, al-Mughnî Syarh Mukhtashar al-Kharqî, vol.3, hal.88 & 90)

Dan banyak lagi penjelasan para ulama mazhab terkait kebaradaan ijma terkait rukhshah ini.

Wallâhu A‘lam

No comments:

Post a Comment