Model Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual (Contextual Teaching And Learning)

Tarbiyah | Setiap pembelajaran pasti menyisakan berbagai permasalahan dan pertanyaan yang sampai hari ini belum terjawab, baik itu pertanyaan tentang pembelajaran maupun tentang hal lainnya. Contohnya pertanyaan tentang bagaimana cara membuka pikiran peserta didik agar mereka mampu mempelajari konsep dan teknik tertentu. Permasalahan tersebut terus bergulir karena kebanyakan peserta didik di sekolah tidak mampu menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan kehidupan nyata mereka serta bagaimana cara mereka mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan mereka. Berdasarkan permasalah tersebut, lahirlah model-model pembelajaran terbaik yang hadir sebagai "obat" untuk mengatasi masalah tersebut, salah satunya adalah model pembelajara kontekstual. Penggunaan model pembelajaran ini datang menjadi jawaban atas semua pertanyaan itu, karena model ini sangat menekankan pada aspek kinerja peserta didik. Berikut ini adalah pembahasan lebih lanjut tentang model pembelajaran kontekstual.
Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching And Learning)

A. Pengertian Pembelajaran Kontekstual

Pengajaran dan pembelajaran kontekstual atau contextual teaching  and learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi peserta didik untukmembuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan tenaga kerja.  CTL merupakan perpaduan dari banyak “praktik yang baik” dan beberapa pendekatan reformasi pendidikan yang dimaksudkan untuk memperkaya relevansi dan penggunaan fungsional pendidikan untuk semua peserta didik.

Pengajaran kontekstual ini memungkinkan setiap peserta didik untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai jenis tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan. Pembelajaran ini terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya. Oleh karena itulah, pembelajaran CTL ini sangat menekankan pada berpikir dalam tingkat yang lebih tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin, serta pengumpulan, penganalisisan, penyintesisan informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan.

Pendekatan ini berasusmi bahwa secara alami pikiran manusia akan mencari makna konteks yang sesuai dengan situasi nayata lingkungan seseorang, dan hal itu dapat terjadi dengan cara mengaitkan hubungan yang masuk akal dan bermanfaat. Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi ajar dengan peristiwa nyata dalam kehidupan peserta didik dan mendorong  mereka untuk menghubungkan pengetahuan yang mereka miliki dengan penerapannya dalam kehidupan harian mereka, dengan cara melibatkan tujuh komponen  utama pembelajaran kontekstual, yaitu:

  1. Konstruktivisme (constructivism).
  2. Inkuiri (inquiry).
  3. Bertanya (questioning).
  4. Masyarakat belajar (learning community).
  5. Pemodelan (modeling).
  6. Refleksi (reflection).
  7. Penilaian autentik (authentic assessment).

B. Enam Unsur Kunci CTL

Ada enam unsur kunci CTL yaitu sebagai berikut:

  1. Pembelajaran bermakna, pemahaman, relevansi, dan penghargaan pribadi peserta didik bahwa ia berkepentingan terhadap konten yang harus dipelajari.
  2. Penerapan pengetahuan, kemampuan untuk melihat bagaimana menerapkan pengetahuan yang ia miliki pada tatanan yang lain dan fungsinya pada masa sekarang, dan akan datang.
  3. Berpikir tingkat lebih tinggi, peserta didik dilatih untuk berpikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan informasi, memahami suatu isu, atau memecahkan suatu masalah.
  4. Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar, konten pengajaran berhubungan dengan suatu rentan dan beragam standar lokal, negara bagian, nasional, asosiasi, dan industri.
  5. Responsif terhadap budaya, guru harus memahami dan menghormati nilai-nilai, keyakinan, dan kebiasaan peserta  didik, sesama profesi guru dan masyarakat setempat.
  6. Penilaian auntentik, menggunakan berbagai jenis penilaian yang valid dan mencerminkan hasil belajar peserta didik yang sesungguhnya. 

C. Strategi Pembelajaran Kontekstual

Adapun kurikulum dan instruksi yang berdasarkan pada pembelajaran kontekstual harus dirancang untuk merancang lima bentuk dasar pembelajaran berikut:

  1. Menghubungkan (relating), yaitu menghubungkan konsep baru dengan informasi yang telah diketahui peserta didik.
  2. Mencoba (experiencing), yaitu guru memberikan kegiatan yang hand-on kepada peserta didik agar mereka yang tidak mempunyai pengalaman langsung tentang kegiatan tersebut dapat langsung membangun pengetahuannya.
  3. Mengaplikasi (applying), peserta didik mengaplikasikan konsep-konsep tertentu ketika mereka berhubungan dengan aktifitas penyelesaian masalah yang hands-on dan proyek. 
  4. Bekerja sama (cooperating), salah satu strategi intruksional dalam pembelajaran kontekstual adalah bekerja sama, berbagi, merespon, dan berkomunikasi efektif dengan peserta didik.
  5. Proses transfer ilmu (transfering), yaitu menggunakan pengetahuan dalam suatu konteks baru  atau suatu hal yang belum terselesaikan dalam kelas.

Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam penerapan CTL yaitu:

  1. Kurikulum, proses pembelajaran, dan asesmen.
  2. Hubungan dengan dunia kerja, komunitas organisasi, dan konteks terkait.
  3. Pengembangan bagi guru dan pengusaha.
  4. Organisasi sekolah.
  5. Komunikasi.
  6. Waktu untuk membuat rencana dan pengembangan. 

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka pengembangan CTL harus berorientasi pada hal-hal berikut ini:

  1. Berbasis program.
  2. Menggunkan multiple konteks.
  3. Menggambarkan keanekaragaman peserta didik.
  4. Mendukung pengaturan belajar mandiri.
  5. Menggunakan grub belajar yang saling tergantung.
  6. Menggunakan asesmen yang autentik.

D. Elemen dan Karakter CTL

CTL memiliki lima elemen belajar yang konstruktivistik, yaitu:

  1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).
  2. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge).
  3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge).
  4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman (applying knowledge).
  5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

Adapun karakteristik khusus yang membedakan CTL dengan model pembelajaran lain adalah sebagai berikut:

  1. Kerja sama.
  2. Saling menunjang.
  3. Menyenangkan/tidak membosankan (joyfull, comfortable).
  4. Belajar dengan bergairah.
  5. Pembelajaran terintegrasi.
  6. Memakai berbagai sumber.
  7. Peserta didik aktif. 

E. Penerapan model Pembelajaran kontekstual di kelas

Suatu kelas dianggap mengaplikasikan CTL  jika kelas tersebut telah menerapkan tujuh komponen utama CTL. CTL dapat diaplikasikan pada semua kurikulum, semua materi ajar, dan semua bentuk kelas. Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas adalah sebagai berikut:

  1. Menumbuhkan pemikiran bahwa peserta didik akan belejar lebih baik dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
  2. Menyelenggarakan sedalam mungkin kegiatan inkuiri untuk semua tema belajar.
  3. Menumbuh kembangkan rasa ingin tahu peserta didik dengan cara bertanya.
  4. Menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok).
  5. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
  6. Melakukan refleksi pada akhir pembelajaran.
  7. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. 

(Sumber: Trianto Ibnu Badar Al-Tabany, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual, cetakan ke-2, Jakarta: Prenadamedia Group, 2015)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Model Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual (Contextual Teaching And Learning)"

Post a Comment