Model Pembelajaran Bertukar Pasangan

Tarbiyah | Perbedaan individu pada peserta didik merupakan permasalahan yang cukup serius. Mustahil dapat terlaksananya pembelajaran yang efektif tanpa menyelesaikan permasalahan ini. Perbedaan tersebut bisa datang dari tingkat kemampuan peserta didik, latar belakang pendidikan dan keluarga mereka, maupun hal lainnya, yang terpenting adalah bagaimana seorang guru bisa menyatukan semua perbedaan tersebut dalam sebuah model pembelajaran yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan mereka. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang dapat dijadikan penawar untuk permasalahn ini, karena pembelajaran ini selalu menempatkan peserta didik pada posisi yang sama dan mendorong mereka untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah. Salah satu model yang ada dalam pembelajara ini adalah model pembelajaran bertukar pasangan. Model ini dipercaya mampu menyatukan perbedaan yang ada pada peserta didik.

Model pembelajaran Bertukar pasangan

A. Pengertian Model Pembelajaran Bertukar Pasangan

Model pembelajaran bertukar pasangan merupakan salah satu bagian dari pembelajaraan kooperatif yang dikembangkan dari teori kontruktivisme, yaitu mengembangkan struktur kognitif peserta didik untuk membangun pengetahuan sendiri dengan cara berpikir rasional, oleh karena itulah model ini dianggap sebagai model pembelajaran dengan tingkat mobilitas yang cukup tinggi. Model ini menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran (student oriented), dengan memberikan kesempatan bagi masing-masing peserta didik untuk memberdayakan potensi mereka secara maksimal dan menekankan prilaku kerja sama yang teratur dalam kelompok.

Dalam model ini peserta didik dibagi dalam kelompok heterogen kecil yang beranggotakan 2 orang atau  berpasangan. Setiap kelompok diberikan tugas untuk dikerjakan bersama pasangannya. Setelah pekerjaan mereka selesai dan mereka menguasainya, kedua pasanga tersebut saling bertukar pasangan dengan kelompok lainnya. Masing-masing pasangan yang baru saling menguatkan dan menanyakan tentang apa yang telah mereka kuasai dan pelajari. Pengetuan baru yang mereka dapatkan dari pasangan baru diinformasikan kepada pasangan semula.

Model ini sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran, karena ia mendorong peserta didik untuk berinteraksi, berkomunikasi dengan cara berdiskusi dan bertukar pengetahuan dengan pasangannya tentang pengetahuan yang telah mereka dapatkan. Adapun peran guru dalam model ini adalah sebagai fasilitator, organisator, dan mediator yang mengatur dan mengarahkan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sehingga terciptalah suasana pembelajaran yang demokratis, aktif, dan edukatif.

B. Ciri-Ciri Model Pembelajaran Bertukar Pasangan

Adapun ciri-ciri Model pembelajaran bertukar pasangan sebagaimana yang telah diungkapkan Depdiknas adalah sebagai berikut:

  1. Peserta didik bekerja sama dalam kelompok mereka untuk menuntaskan materi belajar secara berkelompok.
  2. Kelompok yang dibentuk adalah kelompok heterogen yang beranggotakan 2 orang.
  3. Penghargaan lebih beriorientasi pada individu.
  4. Melakukan pertukaran pasangan untuk menguatkan pengetahuan yang mereka dapatkan dan menginformasikannya kepada pasangan semula.
  5. Materi yang cocok dengan model ini adalah materi yang membahas konsep-konsep. 

C. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Bertukar Pasangan

Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan saat menerapkan model ini adalah:

  1. Guru membagi peserta didik dalam kelompok kecil yang beranggotakan 2 orang (peserta didik juga dapat memilih pasangannya sendiri.
  2. Guru meberikan tugas kepada masing-masing kelompok untuk didiskusikan dan dikerjakan bersama-sama.
  3. Setelah tugas selesai, setiap peserta didik dari masing-masing kelompok bertukar pasangan dengan anggota kelompok lain.
  4. Kedua pasangan baru tersebut saling bertanya dan berdiskusi serta saling menguatkan kepastian pengetahuan dan jawaban yang mereka dapatkan dari pasangan semula. 
  5. Pengetahuan baru yang didapatkan dari pasangan baru dibagikan kepada pasangan semula.
  6. Pada akhir pembelajaran guru bersama peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran, merefleksi, memberikan penekanan pada hal-hal yang dianggap penting dan memberikan penghargaan bagi anggota yang unggul.

D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Bertukar Pasangan

Adapun kelebihan yang terdapat pada model pembelajaran ini adalah:

  1. Model ini dapat meningkatkan interaksi dan komunikasi antara peserta didik.
  2. Dapat memperdalam dan memperkuat pengetahuan yang ia miliki bersama pasangannya.
  3. Memperkaya pengetahuan yang mereka dapatkan  dengan cara membandingkannya dengan pengetahuan yang dimiliki oleh pasangan baru.
  4. Setiap anggota kelompok termotivasi untuk menguasai materi pembelajaran.
  5. Menghapus kesenjangan antara peserta didik yang berkemampuan tinggi dengan yang berkemampuan rendah.
  6. Mendorong peserta didik untuk tampil prima karena mereka membawa nama baik kelompok.
  7. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, aktif, dan demokratif.

Sedangkan kekurangan dari model ini adalah:

  1. Sulit bagi peserta didik untuk menemukan pasangan yang seide dan sesuai dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru.
  2. Sukar memahami materi dalam waktu yang sangar singkat, karena mereka harus bertukar pasangan lagi.
  3. Terkadang suasana belajar menjadi ribut dan gaduh saat peserta didik berbicara dan berdiskusi dengan pasangannya.
  4. Sulit mengetahui apakah materi yang diberikan guru dapat dipahami dan dikuasai oleh peserta didik.
  5. Terkadang terjadi intimidasi terhadap peserta didik yang tidak tidak mampu menguasai materi pembelajaran dengan baik, karena mereka memberikan nilai jelek terhadap kelompoknya. 
  6. Ada beberapa peserta didik yang tidak aktif dalam proses pembelajaran, dan ini merugikan pasangannya, karena harus menyelesaikan tugas sendirian.

(Sumber: Istarani, 58 Model Pembelajaran Inovatif, Jilid I, Cet Ke-4, Medan: Media Persada, 2014)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Model Pembelajaran Bertukar Pasangan"

Post a Comment