Evaluasi dalam Dunia Pendidikan

Tarbiyah | Dalam dunia pendidikan, evaluasi merupakan memengang kendali yang sangat kuat. Ia adalah salah satu bagian penting yang menentukan berhasil tidaknya pendidikan yang terdapat di suatu tempat. Kegiatan evaluasi dalam dunia pendidikan tentunya tidak terlepas dari empat istilah lainnya yang saling berkaitan namun sedikit berbeda dari segi pengertiannya, dan keempat istilah tersebut tidak dapat diabaikan perannya dalam suatu proses pembelajaran, yaitu tes, pengukuran, penilaian, dan evaluasi. keempat hal inilah nantinya yang akan melakukan tugas pengevaluasian untuk menemukan hasil dari proses pendidikan yang telah terjadi.

Evaluasi dalam Dunia Pendidikan

A. Tes

Tes (test) merupakan suatu alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang telah ditentukan. Selanjutnya istilah tes (test) juga dikemukakan oleh Mehrens dan Lehmann, menurut mereka tes yaitu pemberian suatu daftar pertanyaan yang standar untuk dijawab. Defenisi ini lansung memberikan karakteristik utama sebuah tes, yaitu tes merupakan suatu daftar pertanyaan, yang harus memenuhi persyaratan tertentu. Dengan kata lain, tes merupakan alat atau suatu prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dengan cara dan aturan yang telah ditentukan.

Dari kedua pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa tes merupakan suatu prosedur atau alat yang digunakan untuk mengukur sesuatu berdasarkan aturan-aturan yang telah ditentukan, baik itu berupa tulisan ataupun lisan. Ada beberapa kriteria yang menentukan baik tidaknya tes sebagai alat ukur, penentuan tersebut oleh Prof. Suharsimi Arikunto didasarkan pada beberapa persyaratan tes yang harus dipenuhi, yaitu:

  1. Validitas, berasal dari kata valid, kata valid ini sangat sering digunakan dalam pembicaraan tentang evaluasi pada umumnya. Jadi, sesuatu itu atau sebuah data itu dapat dikatakan valid jika sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
  2. Reabilitas, secara bahasa reabilitas berasal dari bahasa inggris, yaitu reliability yang asal katanya reliable, yang artinya dapat dipercaya. Jadi seseorang itu dapat dipercaya apabila ia konsisten dengan pembicaraannya dari waktu ke waktu.
  3. Objektivitas, sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam pelaksanaan tes tersebut tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi, terutama dalam sistem skoringnya.
  4. Praktikabilitas, yaitu tes yang sifatnya praktis dan mudah pengadministrasiannya. Tes yang praktis yaitu tes yang mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya dan dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas, sehingga dapat diberikan oleh orang lain.
  5. Ekonomis, maksudnya yaitu pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan ongkos atau biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama.

B. Pengukuran

Pengukuran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk mengukur sesuatu. Mengukur pada hakikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan dasar ukuran tertentu. Pengukuran (measurement) merupakan suatu deskripsi kuantitatif tentang keadaan suatu hal sebagaimana adanya, atau tentang prestasi yang diberikan oleh seorang siswa. Jadi, pengukuran merupakan tindak lanjut dari tes yang berupa suatu tindakan mengenai tingkat keberhasilan siswa. Pada hakikatnya, pengukuran ialah penentuan kedudukan, sedangkan evaluasi adalah penentuan nilai atau harga.

Pengukuran dapat berupa kuantitatif dan kualitatif. Pengukuran kuantitatif yaitu berupa angka antara lain dapat dinyatakan antara 0 sampai dengan 100, sedangkan pengukuran kualitatif biasanya tidak dinyatakan dengan angka, melainkan dengan kualitas, antara lain sangat baik, baik, cukup, kurang dan sangat kurang.

C. Penilaian

Penilaian adalah istilah umum yang mencakup semua metode yang digunakan untuk menilai kemampuan peserta didik. Dengan kata lain, penilaian berarti mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik atau buruk, yang dirancang untuk mengukur tingkat pencapaian siswa dalam belajar yang diperoleh melalui penerapan pogram pengajaran tertentu dalam tempo yang relatif singkat.

Adapun jenis alat penilaian ada dua, yaitu tes dan non tes. Tes ada yang sudah distandarisasi, artinya tes tersebut telah mengalami proses validasi (ketepatan) dan reliabilitasi (ketetapan) untuk suatu tujuan tertentu dan sekelompok siswa tertentu. Contohnya yaitu penyusunan THB (Tes Hasil Belajar) yang merupakan usaha penyusunan tes yang sudah distandarisasi. Jenis tes ini biasanya digunakan untuk menilai isi pendidikan, misalnya aspek pengetahuan, kecakapan, keterampilan, dan pemahaman pelajaran yang telah diberikan guru.

Sedangkan non tes yaitu digunakan untuk menilai aspek tingkah laku, jenis ini lebih sesuai digunakan sebagai alat evaluasi. Misalnya menilai aspek sikap, minat, perhatian, karakteristik dan sejenisnya. Adapun alat evaluasi non tes diantaranya yaitu:

  1. Observasi, yaitu pengamatan kepada tingkah laku pada suatu situasi tertentu. Observasi ini bisa dilakukan secara lansung (dalam situasi yang sebenarnya) dan bisa juga secara tidak lansung (situasi buatan). Kedua jenis observasi ini dapat dilaksanakan secara sistematik, yaitu dengan menggunakan pedoman observasi dan bisa juga tanpa pedoman. 
  2. Wawancara, yaitu komunikasi lansung antara yang mewawancarai dengan yang diwawancarai. Untuk mempermudahkan pelaksanaannya perlu disediakan pedoman wawancara berupa pokok-pokok yang akan ditanyakan.
  3. Studi kasus, yaitu mempelajari individu dalam periode tertentu secara terus menerus untuk melihat perkembangannya. Contohnya untuk melihat sikap siswa terhadap pelajaran yang diberikan guru di sekolah selama satu semester.
  4. Rating scale (skala penilaian), merupakan salah satu alat penilaian yang menggunakan skala yang telah disusun dari ujung yang negatif sampai ujung yang positif, sehingga pada penilaian tersebut penilai tinggal membubuhi tanda cek saja (√).
  5. Check list, yaitu hampir menyerupai rating scale, perbedaannya hanya pada ceck list tidak perlu disusun kriteria atau skala dari yang negatif sampai kepada yang positif. Cukup dengan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang akan kita minta dari yang dievaluasi.
  6. Inventory, yaitu berupa daftar pertanyaan yang disertai alternatif jawaban di antara setuju, kurang setuju, dan tidak setuju.

D. Evaluasi

Dalam dunia pendidikan,  evaluasi merupakan salah satu unsur pendidikan yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu proses pembelajaran. Pengertian evaluasi sendiri secara garis besar mencakup ketiga istilah yang telah penulis jelaskan sebelumnya, yaitu serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur efektivitas sistem pembelajaran secara keseluruhan. Dalam arti luas, evaluasi adalah proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.  Maka dari itu, setiap kegiatan evaluasi merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data, dan berdasarkan informasi atau data tersebut kemudian dicoba untuk membuat suatu keputusan.

Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa evaluasi yaitu suatu proses penilaian yang dilakukan dengan cara mengukur terlebih dahulu, kemudian baru dapat ditentukan hasil penilaian atau evaluasinya.

Sumber:
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013.
Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT. Remaja Rosda Karaya, 2009.
Sudaryono, Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012.
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2013.
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2002.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Evaluasi dalam Dunia Pendidikan"

Post a Comment