Tes dalam Evaluasi Pembelajaran Bahasa

Tarbiyah | Evaluasi pembelajaran bahasa merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan pembelajaran bahasa. Ia merupakan tolak ukur yang akan menceminkan pertumbuhan dan perkembangan pembelajaran bahasa pada peserta didik, terutama kemajuan mereka terhadapa penguasaan materi maupun keterampilan yang terdapat dalam bahasa. Evaluasi diselenggarakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Hal itu dilakukan melalui pengumpulan data, baik berupa tes maupun nontes. Data inilah yang nantinya akan memperlihatkan taraf kemajuan peserta didik terhadap tujuan yang telah ditetapkan, sehingga guru bisa menilai kemampuan mereka dan menilai metode serta media yang telah ia gunakan dalam proses pembelajaran.

Tes dalam Evaluasi Pembelajaran Bahasa

A. Tujuan Evaluasi Pembelajaran Bahasa

Tujuan merupakan hal yang harus selalu ada dalam sebuah kegiatan, karena ia akan memberi pegangan adan arah yang jelas yang membawa kita untuk selalu mengikutinya, berlandaskan padanya, dan menjadikannya sebagai pijakan. Adapun tujuan dari evaluasi pembelajaran bahasa adalah untuk mendapatkan tolak ukur dan mengetahui sejauh mana pencapaian peserta didik terhadap tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. 

Hasil  dari evaluasi pembelajaran bahasa memperlihatkan informasi yang jelas tentang pencapaian peserta didik dan proses penyelenggaraan pembelajaran. Dengan itu semua guru dapat mengetahui tingkat keberhasilan belajar yang telah dicapai peserta didik, penguasaan mereka terhadap materi pengajaran, kesulitan yang mereka alami selama proses pengajaran bahasa dan hal-hal lainnya yang menyangkut peserta didik, guru, maupun administrasi.

B. Subjek dan Objek Evaluasi Pembelajaran Bahasa

Subjek atau pelaku evaluasi pembelajaran bahasa adalah orang yang mahir dan memiliki keahlian dalam melakukan evaluasi dalam bidang itu, jadi apabila yang menjadi sasaran evaluasi pembelajaran bahasa Arab adalah prestasi belajar bahasa Arab, maka yang menjadi subjek evaluasinya adalah guru bahasa Arab. Begitu pula bila sasarannya adalah kepribadian peserta didik, maka sukjeknya adalah psikolog, karena psikologlah yang telah dididik dan mempelajari tentang kepribadian seseorang.

Adapun objek evaluasi pembelajaran bahasa adalah segala hal yang berhubungan dan berkaitan dengan kegiatan atau proses pembelajaran bahasa, yang dijadikan titik pusat pengamatan, sehingga diperolehlah informasi seputar hal tersebut. Objek evaluasi pembelajaran bahasa terbagi sebagaimana berikut:

  1. Objek umum evaluasi pembelajaran bahasa Arab. Objek evaluasi pembelajaran bahasa Arab secara umum terbagi seperti berikut: pertama, objek input yang meliputi:  bakat, kepribadian, sikap, inteligensi, dan minat. Kedua, objek transformasi yang meliputi: kurikulum, metode pembelajaran, situasi dan sar-pras, sistem manajemen, guru dan personal lain. ketiga: objek output atau prestasi belajar yang meliputi: kognitif, afektif dan psikomotorik. 
  2. Objek khusus evaluasi pembelajaran bahasa Arab. Secara spesifik, yang menjadi Objek evaluasi pembelajaran bahasa adalah apa yang dipelajari dalam proses pembelajaran bahasa itu sendiri, sehingga terkadang evaluasi pembelajaran bahasa berubah seiring dengan perubahan penekanan pembelajaran bahasa.  Maksudnya, apabila proses pembelajaran lebih ditekankan pada pemahaman qawaid, maka evaluasi pun akan ditekankan pada penguadaan qawaid. Begitu pula sebaliknya, bila pembelajaran ditekankan pada penguasaan keterampilan (istima’, qiraah, kalam, dan kitabah), maka kegiatan evaluasi pun akan ditekankan pada segi itu. Ringkasnya Objek khusus evaluasi pembelajaran bahasa Arab di antara lain meliputi kemahiran berbahasa (istima’, kalam, qiraah, dan kitabah) dan komponen bahasa (bunyi, kosakata, dan tata bahasa)

C. Hakikat Tes 

Tes adalah salah satu bentuk alat evaluasi atau cara untuk mengadakan evaluasi yang berbentuk pertanyaan  (yang harus dijawab) atau tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang telah diciptakan. Melalui tes inilah akan diketahui seberapa banyak dan seberapa mendalam kemampuan peserta didik dalam menguasai bahasa Arab. Dalam bahasa Arab kata “tes” disebut dengan ikhtibar, yang berarti alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.
Sedangkan tes kompetensi kebahasaan adalah tes yang dimaksudkan untuk mengungkapkan informasi tentang kebahasaan peserta didik, yaitu tentang sistem bahasa, struktur, kosa kata, dan seluruh aspek kebahasaan yang ada. Dalam pengajaran bahasa, kompetensi kebahasaan sangat perlu diajarkan dan dites secara khusus dan spesifik, karena kompetensi tersebut dipandang sebagai prasyarat untuk menguasai keterampilan berbahas, baik itu yang bersifat reseptif maupun produktif.

D. Pendekatan Tes Bahasa

Kajian tentang pendekatan tes bahasa dapat dilakukan dengan titik tolak dan kriteria yang berbeda, dan yang menghasilkan rincian pendekatan yang berbeda pula. Dengan adanya rincian yang berbeda tersebut, maka pendekatan bahasa dapat dibedakan sebagai berikut:

  1. Pendekatan tradisional. Pada pendekatan ini, tes yang dilakukan tidak mengacu pada teori kebahasaan atau tidak menuntut kemampuan khusus dalam bidang tes bahasa, jadi siapa saja yang mengajarkan bahasa akan dianggap mampu pula melakukan tes bahasa. Begitu juga dengan pekerjaan peserta didik, semua tergantung pada penilaian guru, karena ia bersifat objektif. Contohnya adalah tes menulis karangan.
  2. Pendekatan diskret. Pada pendekatan ini, tes yang dilakukan bermaksud untuk mengukur tingkat penguasaan peserta didik terhadap satu dan hanya satu jenis kemampuan berbahasa atau komponen bahasa. Misalnya hanya tes menyimak, atau hanya tes bicara, atau hanya tes tata bahasa, atau tes lainnya lainnya.
  3. Pendekatan integratif. Pada pendekatan ini, tes bahasa dilakukan untuk mengukur penguasaan kemampuan berbahasa atas dasar penguasaan terhadap gabungan antara beberapa bagian dari komponen bahasa dan kemampuan  berbahasa. Bentuk tes tersebut bisa menggunakan kalimat atau melengkapi kalimat atau teks bacaan. Juga bisa dikatakan tes di sini bentuk konteks, mementingkan makna, dan efek komunikasi, seperti tes terjemah dan karangan. 
  4. Pendekatan pragmati. Pada pendekatan ini, bahasa dihubungkan dengan penggunaan bahasa yang senyatanya yang tidak hanya melibatkan unsur-unsur kebahasaan saja namun juga unsur yang terkait dalam setiap bentuk penggunaan bahasa. Pendekatan ini juga menekatkan eratnya hubungan antara unsur kebahasan dan unsur nonkebahasaan dalam penggunaan bahasa seutuhnya adalah tidak dapat dihindarkan adanya berbagai kendala. Tes yang dilakukan pada pendekatan ini seperti dikte, tes cloz dan C-tes. 
  5. Pendekatan komunikatif. Pendekatan ini melihat bahasa terhadap penggunaannya dalam komunikasi sehari-hari senyatanya dan memperluas unsur konteks dengan memperhatikan unsur-unsur yang mengambil bagian dalam terwujudnya komunikasi yang baik. Adapun dalam tes bahasa, penerapan pendekatan ini berpengaruh pada beberapa segi penyelenggaraanya, terutama jenis isi wacana yang digunakan, kemampuan berbahasa menjadi sasaran utama, serta bentuk soal, tugas, maupun pertanyaannya. 

E. Jenis-Jenis Tes Bahasa

Ada beberapa jenis tes dalam bahasa, berikut adalah pembagiannya:

  1. Jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan, yaitu: tes seleksi, tes penempatan, tes hasil belajar, tes diagnostik, dan tes uji coba. 
  2. Jenis tes berdasarkan tahapan dan waktu pelaksanaan, yaitu: tes masuk, tes formatif, tes sumatif, pre-tes, dan pos-tes.
  3. Jenis tes berdasarkan cara mengerjakan yaitu: tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan.
  4. Jenis tes berdasarkan jumlah peserta, yaitu: tes perseorangan dan tes kelompok.
  5. Jenis tes berdasarkan bentuk jawaban, yaitu: tes pilihan, tes jawaban pendek, dan tes esai.
  6. Jenis tes berdasarkan cara penilaian (penskoran), yaitu: tes objektif dan tes subjektif. 
  7. Jenis tes berdasarkan cara menafsirkan skor, yaitu: tes acuan norma dan tes acuan kriteria.
  8. Jenis tes berdasarkan objek bahasa yang dinilai, yaitu: tes komponen bahasa dan tes keterampilan berbahasa.
  9. Jenis tes berdasarkan cara penyusunan, yaitu: tes terstandar dan tes buatan guru.

F. Prosedur Penyusunan Tes Bahasa

Ada beberapa prosedur yang harus dilakukan penyusun tes saat menyusun sebuah tes agar tesnya berkualitas dan bagus, langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Persiapan.
  2. Pemilihan materi tes.
  3. Menentukan bentuk dan jenis tes.
  4. Menentukan jumlah butir tes.
  5. Menentukan cara pemberian skor.
  6. Menyusun kisi-kisi.
  7. Penulisan butir-butir soal tes.
  8. Menelaah soal yang telah disusun.
  9. Pemantapan.
  10. Melakukan uji coba tes yang telah disusun.
  11. Penyiapan bentuk akhir.
  12. Penggunaan dan tindak lanjut. 

Tes merupakan salah satu bentuk evaluasi yang dapat dijadikan alat ukur untuk mengetahui keluasan tercapainya tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam hal ini hasil evaluasi adalah cerminan nyata dan bukti yang benar tentang ketercapain tujuan tersebut. Tes yang baik dan sesuai dengan kebutuhan objek yang akan dites akan menghasilkan cerminan yang baik pula.

(Sumber: Moh. Matsna HS dan Erta Mahyuddi, pengembangan evaluasi dan tes bahasa arab, cetakan 1, alkitabah: tangerang selatan, 2012)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tes dalam Evaluasi Pembelajaran Bahasa"

Post a Comment