Bagaimanakah Kriteria Tes Bahasa yang Baik Itu?

Tarbiyah | Tes merupakan salah satu bagian dari penyelenggaraan pengajaran bahasa, khususnya pada komponen evaluasi atau penilaian hasil belajar. Tes memberikan informasi tentang hasil belajar peserta didik dalam proses pembelajaran, ia juga memberikan informasi tentang ketetapan identifikasi tujuan, kesesuaian bahan pengajaran, kesesuaian dan keefektifan metode pengajaran, cukup tidaknya latihan yang diberikan, kesulitan belajar peserta didik, dan sebagainya. Semua informasi tersebut dapat diketahui dari nilai-nilai yang dicapai dan kajian terhadap tingkat dan jenis kesalahan yang dibuat.

Agar sebuah tes benar-benar menjadi alat ukur yang baik serta bisa diandalkan, maka seorang guru harus benar-benar memperhatikan  kriteria-kriteria tertentu untuk menjadi tes yang baik. Suatu tes akan dikatakan baik selama ia memiliki ciri-ciri kesesuaian tes dengan kemampuan yang diukur (validitas) dan kemampuan tes tersebut dalam melakukan pengukuran dengan tingkat keajegan tertentu (reabilitas).
Bagaimanakah Kriteria Tes Bahasa yang Baik Itu??

A. Validitas (Al-Shidq)

Kata “valid” sering dimaknai dengan tepat, benar, sahih, atau asah. Maka validitas dapat diartikan dengan ketepatan, kebenaran, kesahihan, atau keabsahan. Istilah “validitas” merupakan kata benda, sedangkan “valid” merupakan kata sifat. Apabila kata valid dihubungkan dengan fungsi tes sebagai alat pengukur, maka sebuah tes akan dikatakan valid apabila tes tersebut dengan tepat, benar, sahih, atau absah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur.

Tes tersebut dianggap valid apabila ia secara sahih mampu mengukur atau mengungkapkan hasil-hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Misalnya tes Nahwu, tes Nahwu dianggap valid apabila ia berisi soal-soal atau pertanyaan-pertanyaan yang berorientasi pada penguasaan nahwu, bukan berisi kata-kata yang sulit dimengerti peserta didik, sehingga tes tersebut lebih berorientasi mengetahui penguasaan peserta didik terhadap kaidah-kaidah nahwu.

Validitas juga sering dihubungkan dengan tujuan tertentu dari suatu tes, sehingga sebenarnya tidak dikenal adanya tes yang valid secara umum, tanpa dikaitkan dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Secara konvensional validitas sering dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu: validitas isi, validitas konstruk, dan validitas kriteria atau validitas empiris. Hari ini, validitas tidak lagi dianggap sebagai suatu yang terdiri dari beberapa jenis yang berbeda satu sama lain serta berdiri sendiri-sendiri, melainkan bersifat tunggal. Yang dapat dibedakan bukannya jenis validitasnya, melainkan cara bagaimana validitas sebagai ciri tes itu dapat dibuktikan keberadaannya.

  1. Validitas isi. Validitas isi mempersoalkan apakah isi dari suatu alat ukur cukup mewakili sebuah populasi materi yang akan diukur.
  2. Validitas konstruk. Sebuah tes dianggap memiliki validitas konstruk apabila tugas yang dituntut pengerjaannya sesuai dengan prilaku yang akan diukur. 
  3. Validitas kriteria (internal dan eksternal). Validitas kriteria mengacu kepada kesesuaian antara hasil suatu tes dengan hasil tes lain yang digunakan sebagai kriteria. Kriteria tes tersebut dapat diambil dari tes sejenis yang diketahui ciri-cirinya sebagai tes yang baik, dan yang diselenggarakan pada waktu yang hampir bersamaan. Validitas kriteria dapat juga berupa validitas peramalan .Dalam hal ini kriteria yang digunakan sebagai bahan pembanding adalah hasil sejenis yang baik, yang diselenggarakan setelah suatu waktu tertentu, misalnya setelah satu semester atau lebih. 

B. Reliabilitas (Al-Tsabat)

Kata Realiabilitas sering dimaknai dengan keajegan atau kemantapan. Suatu tes dianggap reliable apabila hasil-hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan tes tersebut secara berulang kali terhadap objek yang sama, senantiasa menunjukkan hasil yang tetap sama atau sifatnya ajeg dan stabil. Dengan kata lain, suatu tes dikatakan memiliki reliabilitas apabila nilai-nilai yang diperoleh peserta didik dari tesnya adalah stabil, kapan saja, dimana saja dan siapa saja ujian itu dilaksanakan, diperiksa dan dinilai.

C. Objektivitas (Al-Maudu’iyyah)

Suatu tes hasil belajar dikatakan objektif apabila tes tersebut disusun dan dilaksanakan menurut “apa adanya” ditinjau dari segi isi atau materi tesnya. Maksud “apa adanya” di sini adalah bahwa materi tes tersbut bersumber dari materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan sesuai dengan indikator pencapaian yang telah ditentukan.

D. Praktibilitas (Al-Amaliyah Aw Suhulah Al-Thathbiq)

Masalah kepratisan sebuah tes juga sangat perlu dipertimbangkan. Masalah tersebut dapat dilihat dari segi keekonomisan (biaya yang dikeluarkan untuk tes), pelaksanaan, penskoran, dan penafsiran. Tes yang praktis adalah tes yang mudah dilaksanakan, yaitu tidak menuntut banyak peralatan maupun biaya dan memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengerjakan tes yang dianggapnya mudah terlebih dahulu.

Pemilihan sebuah tes juga harus mempertimbangkan kemudahan penskoran terhadap hasil kerja peserta didik, maka hendaknya dilengkapi dengan pedoman penilaian. Sebuah tes juga harus memiliki kemudahan penafsiran terhadap hasil tes. Tes yang baik selalu dilengkapi dengan pedoman bagaimana menafsirkan hasil tes tersebut.

E. Diskriminatif (Al-Tamyiz)

Suatu tes tidak boleh terlalu mudah, sehingga mampu dikerjakan dengan benar oleh semua peserta didik, dan juga tidak boleh terlaku sukar, sehingga tidak mampu dijawab oleh semua peserta didik. Jadi tes yang baik adalah tes yang memiliki nilai derajat kesukaran tertentu.
Suatu tes juga bertujuan untuk memisahkan antara peserta didik yang benar-benar belajar dan peserta didik yang tidak belajar. Maka tes yang bagus adalah tes yang mampu membedakan antara keduanya.

(sumber: Moh. Matsna HS dan Erta Mahyuddi, Pengembangan Evaluasi dan Tes Bahasa Arab, cetakan 1, alkitabah: tangerang selatan, 2012)

0 Response to "Bagaimanakah Kriteria Tes Bahasa yang Baik Itu?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel