Pembahasan Terlengkap tentang Model Pembelajaran Jigsaw (Model Tim Ahli)

Tarbiyah | Pada hakikatnya, proses pembelajaran tidak hanya sebagai upaya untuk membelajarkan peserta didik pada konsep-konsep akademik, namun juga mengajarkan mereka untuk “cerdas” berinteraksi dalam kehidupan sosial mereka, baik itu di rumah maupun di sekolah. Model pembelajaran yang baik adalah model pembelajaran yang dapat menaungi semua kebutuhan peserta didik, tidak hanya bermanfaat pada hari ketika ia mempelajari materi tersebut namun lebih jauh dari itu.

Adanya interaksi sosial yang baik pada peserta didik merupakan hasil pembelajaran yang cukup membanggakan, itulah mengapa peserta didik tidak hanya dituntut menyelesaikan masalah yang dimilikinya namun juga mampu membantu temannya dalam menyelasaikan masalah mereka. Salah satu model pembelajaran yang mendasarkan diri pada hal tersebut adalah cooperative learning, dimana siswa ditempatkan dalam kelompok yang berbeda dengan dirinya, dan ia harus belajar menyesuaikan diri dengan berbagai perbedaan yang ada pada mereka. Salah satu tipe yang bisa digunakan dalam hal ini adalah tipe jigsaw. Berikut sekilas penjelasan tentang model  pembelajaran jigsaw.

Model Pembelajaran Jigsaw (Model Tim Ahli)

A. Pengertian Jigsaw

Jigsaw adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s. Model ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik terhadap pembelajarannya sendiri dan juga terhadap pembelajaran yang lain, dengan maksud peserta didik tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tapi juga harus mempersiapkan diri untuk membagikan dan mengajarkan materi tersebut kepada anggota kelompoknya.

Di sini jelas terlihat, model ini tidak hanya menekankan pada kemampuan kognitif maupun sosial peserta didik. Secara langsung model ini didasari oleh teori belajar humanistik, yang mana menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang unik yang memiliki potensi individual dan dorongan internal untuk terus berkembang dan menentukan prilakunya sendiri.

Model ini merupakan model yang sangat menarik untuk  digunakan pada kegiatan pembelajaran, dengan syarat materi tersebut tidak mengharuskan adanya urutan dalam penyampaiannya, karena dalam model ini materi pembelajaran akan dibagi ke dalalam beberapa bagian yang terpisah.

Dalam model ini, peserta didik mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan ide dan pendapatnya, serta mengolah segala informasi yang telah didapatkan. Mereka dapat meningkatkan keterampilan komunikasi dan harus bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajarinya, serta dapat menyampaikan kepada kelompoknya.

B. Komponen Jigsaw

Ada empat komponen dasar dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan jigsaw, yaitu:

  1. Semua anggota kelompok harus bekerja sama untuk menyelesaikan tugas. 
  2. Kelompok yang dibentuk adalah kelompok heterogen.
  3. Setiap aktifitas dalam model jigsaw harus direncanakan dengan sangat baik, sehingga setiap peserta didik dapat aktif dan berkontribusi pada kelompok  dan mendapatkan nilai atas kinerjanya 
  4. Setiap anggota kelompok harus benar-benar mengetahui tujuan akademik maupun sosial dari suatu pembelajaran. 

C. Langkah-langkah Jigsaw

Adapun langkah-langkahyang dapat dilakukan dalam penerapan model ini adalah:

  1. Guru memulai kegiatan pembelajaran dengan mengenalkan topik yang akan dipelajari dan membuat percakapan singkat seputar materi yang akan dipelajari dan materi yang lalu.
  2. Peserta didik dikelompokkan dengan anggota satu sampai lima orang. Misanya materi tentang “jumlah” maka seluruh peserta didik akan dibagi menjadi dua kelompok yang meliputi kelompok “jumlah fi'liyah” dan  kelompok “jumlah ismiyah”. Kelompok-kelompok ini disebut home teams (kelompok asal).
  3. Setelah kelompok asal terbentuk, tiap anggota kelompok dalam kelompok menerima materi yang berhubungan dengan kelompoknya. tiap anggota kelompok harus mempelajari dan mendalami materi tersebut secara keseluruhan. 
  4. Selanjutnya adalah membentuk expert teams (kelompok ahli), kelompok ini terdiri dari satu utusan dari kelompok “jumlah fi'liyah” dan satu utusan dari kelompok “jumlah fi'liyah”. Begitu pula dengan kelompok yang lain, dengan catatan kelompok ahli terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda-beda.
  5. Ketika berada dalam kelompok ahli, masing-masing utusan menjelaskan materi yang dipelajarinya kepada semua anggota kelompok ahli secara bergiliran. Alhasil, setiap anggota kelompok ahli tidak hanya menguasai materi yang diuraikannya, tapi juga menguasai materi yang diuraikan oleh teman sekelompoknya.
  6. Setelah diskusi dan penyampaian materi secara bergiliran selesai, masing-masing kelompok ahli kembali ke kelompok asalnya dan mereka berdiskusi tentang pengetahuan dan materi yang mereka dapatkan dari kelompok ahli sesama anggota kelompok asalnya. Kegiatan ini  merupakan bentuk refleksi terhadap informasi yang mereka dapatkan dari hasil diskusi kelompok ahli. 
  7. Pada akhir pembelajaran seluruh peserta didik berdiskusi tentang seluruh materi yang telah mereka pelajari, dan guru memberikan masukan dan penguatan pada hal-hal yang dianggap perlu. Kegiatan pembelajaran ditutup dengan adanya review dari guru terhadap materi ajar yang telah dipelajari. 

D. Kelebihan Jigsaw

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki oleh jigsaw, diantaranya adalah:


  1. Model ini dapat melibat seluruh peserta didik dalam penerapannya, sekaligus mendorong peserta didik untuk mengajar temannya.
  2. Mengajarkan peserta didik untuk percaya pada kemampuan diri sendiri.
  3. Mendorong peserta didik untuk berani mengungkapkan pendapat dan idenya secara verbal, khususnya saat pemecahan masalah.
  4. Mengajarkan peserta didik untuk menghargai perbedaan.
  5. Meningkatkan hasil akademik peserta didik dan interaksi sosial mereka.
  6. Memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk membandingkan jawabannya dengan jawaban temannya serta menilai ketepatan jawaban tersebut.
  7. Mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
  8. Meningkat kemampuan berpikir kreatif. 

E. Kekurangan Jigsaw

Adapun beberapa kekurangan yang didapati dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw antara lain adalah:

  1. Peserta didik yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, sebaliknya peserta didik yang pendiam akan sulit menyampaikan materi karena kurang percaya diri dan kesulitan menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli.
  2. Terkadang penugasan anggota kelompok untuk menjadi tim ahli tidak sesuai antara kemampuan dengan kompetensi yang harus dipelajari.
  3. Model ini susah diterapkan pada kelas yang sempit, dengan mempertimbangkan peserta didik harus beberapa kali ganti kelompok.
  4. Butuh waktu dan persiapan yang baik, terutama pada penataan kelas.
  5. Karena bentuknya adalah kerja kelompok maka tidak bisa dipungkiri akan ada peserta didik yang hanya pasif dan “menitip nama” dalam menyelesaikan tugas-tugas.
  6. Keadaan kelas yang ramai terkadang memecahkan konsentrasi peserta didik saat menyampaikan materi.
  7. Peserta didik yang cerdas cenderung merasa bosan, sebaliknya peserta didik yang tidak biasa berkompetensi akan kesulitan mengikuti proses pembelajaran. 


0 Response to "Pembahasan Terlengkap tentang Model Pembelajaran Jigsaw (Model Tim Ahli)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel