Ini Dia Cara Pengajaran Maharah Istima’

Tarbiyah | Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial manusia. ia merupakan alat komunikasi yang dibutuhkan manusia untuk menyampaikan setiap gagasan, informasi dan perasaaan  yang  mereka miliki kepada yang lainnya. Oleh karena itu kemahiran berbahasa menjadi hal yang sangat urgen dalam kehidupan mereka.  Jika dilihat dari segi keaktifan seseorang berbahasa, maka kemahiran berbahasa terbagi dua yaitu: kemahiran aktif-produktif dan kemahiran aktif-reseptif.

Pengajaran Maharah  Istima’
 Sepintas kita ketahui bahwa kemahiran aktif-produktif terlihat ketika seserang mampu mempergunakan bahasa sebagai media untuk menyampaikan informasi yang dimilikinya baik itu dalam bentuk lisan maupun tulisan, yaitu berbicara dan menulis, sedangkan kemahiran aktif-reseptif merupakan bentuk kemampun yang terlihat ketika seseorang memahami makna pembicaran dan tulisan orang lain,yaitu membaca (qiraah) dan menyimak (istima’).

A. Pengertian Istima' 

Menurut istilah Menyimak (istima’) merupakan kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami  makna yang disampaikan  melalui ujaran atau bahasa lisan. Lebih lanjut lagi menyimak atau istima’ merupakan keterampilan dalam berbahasa arab yang memungkinkan seseorang untuk memahami bahasa Arab yang digunakan secara lisan, sehingga terhindar dari kesalahpahaman dalam berkomunikasi yang dapat menyebabkan berbagai hambatan dalam pelaksanaan tugas dan kegiatan sehari-hari. Maka dapat dikatakan kemahiran menyimak atau mendengar (maharah istima’) merupakan kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi lambang-lambang lisan  yang didengarnya dengan penuh pemahaman hingga kemudian mampu menyerap informasi serta makna yang terkandung dalam ujuaran dan bahasa lisan yang didengarnya dari pembicara.

B. Tujuan Pembelajaran Istima’

Dari paparan di atas dapat dikatakan bahwa pada dasarnya pembelajaran istima’ bertujuan agar siswa dapat  menguasai hal-hal berikut:
  1. Mengetahui bunyi-bunyi bahasa Arab serta mampu membedakan bunyinya.
  2. Mengetahui macam-macam mad yang terkandung dalam suatu kata serta dapat membedakannya.
  3. Mengetahui bentuk tad’if, tanwin,, tasydid yang terkandung dalam suatu kata dan dapat bisa membedakannya.
  4. Mampu mendengarkan dan memahami kata-kata bahasa Arab dalam bentuk percakapan tanpa aturan qawaid (tatabahasa).
  5. Mengetahui dan memahami bentuk yang sering dipakai dalam bahasa arab, baik itu muzakkar, muannas, waktu, jumlah, perbuatan, dan lainnya. 
  6. Memahami makna yang berkaitan dengan aspek budaya Arab.

C. Tehnik-Teknik Pembelajaran Istima’

Untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran sebagaimana yang telah dipaparkan di atas sangat dibutuhkan metode dan media yang sesuai dengan kondisi keberagaman pribadi, latar belakang pendidikan, kemampuan dan jumlah siswa, serta berbagai hal lain yang turut mengambil andil dalam proses pembelajaran istima’, dan di antara tehnik-teknik  yang dapat digunakan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan istima’ siswa pada tahap awal adalah:
  1. Dengar ucap ulang. Guru dapat mempersiapkan bahan yang akan diperdengarkan ke murid dalam bentuk kata, kalimat, dan ungkapan pendek, bahan yang diperdengarkan dapat dibacakan langsung atau berupa rekaman yang kemudian disimak dan ditiru ucapannya oleh siswa. 
  2. Dengar tulis (dikte). Pada awal pelaksanaan masih seperti teknik dengar ucap ulang, namun siswa tidak meniru melainkan menulis apa yang mereka dengarkan.
  3. Dengar-kerjakan. Siswa melakukan hal yang mereka simak dari ucapan-ucapan yang berisi kalimat perintah.
  4. Dengar- terka. Guru atau rekamannya mendeskripsikan sebuah benda dan siswa menerka isinya.
  5. Memperluas kalimat yang disimak. Guru mengucapkan suatu kalimat dan siswa menirunya. Kemudian guru mengucapkan kalimat lain dan siswa melengkapi kalimat pertama dengan kalimat terahir yang diucapkan guru, begitulah seterusnya sampai beberapa kalimat, alhasil kalimat pertama menjadi lebih luas. 
  6. Menemukan benda. Guru mengumpulkan benda-benda yang dikenal siswa kemudian menyebutkan nama benda tersebut dan siswa mencarinya seta menunjukkan kepada guru.
  7. Bisik berantai. Guru membisikkan suatu kata atau kalimat kepada siswa pertama kemudian ia membisikkan bisikan guru ke siswa berikutnya demikian seterusnya sampai siswa terakhir. Siswa terakhir mengucapkan kata atau kalimat tersebut dengan suara nyaring  atau menulisnya di papan tulis. Guru mencocokkan kalimat atau kata tersebut dengan kalimat yang dibisikkannya,
  8. Meyelesaikan cerita simak. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari tiga sampai lima siswa. Salah seorang dari kelompok pertama maju dan menceritakan cerita yang dibebankan kepada mereka (cerita bisa bebasa atau ditentukan guru), kemudian cerita dilanjutkan oleh anggota kedua hingga seterusnya sampai anggota terakhir. Dalam hal ini siswa dituntut untuk menyimak cerita anggota kelompoknya dan mampu melanjutkan cerita tersebut. Di sinilah ketempilan istima’ berkembang dan meningkat menjadi keterampilan berbiacara, karena memang ada keterkaitan anatara keduanya.
  9. Identifikasi kata kunci dalam teks simakan. Guru memperdengarkan kalimat, paragraf atau wacana yang memiliki kata kunci yang dapat mengungkapkan keseluruhan makna kalimat, paragraf atau wacana tersbut. Siswa menyimaknya dan menggabungkan kata kunci tersebut hingga menjadi kalimat utuh yang memperlihatkan isi bahan simakan.
  10. Identifikasi kalimat topik dalam teks simakan. Siswa mengidentifikasi kalimat topik dalam teks simakan yang mungkin terdapat pada awal, akhir bahkan pada tengah paragraf. 
  11. Menyingkat atau merangkum teks simakan. Siswa merangkum bahan simakan yang diberikan guru seringkas mungkin, namun mampu mewakili isi dan makna bahan simakan tersebut.
  12. Paraphrase. Siswa menyimak bahan bacaan atau rekaman yang diperdengarkan guru dan menyampaikannya dengan kata-kata dan bahasa mereka sendiri. 
  13. Menjawab pertanyaan lisan. Guru dapat memberikan siswa pertanyaan dengan model 5W+1H secara bertahap.

Untuk teknik yang lebih luas lagi, guru dapat menggunakan berbagai pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang terus berkembang pesat sampai hari ini, seperti pendekatan cooperative learning (pembelajaran cooperatif), contextual teaching  and learning ( pengajaran dan pembelajaran kontekstual), dan sebagainya. 

0 Response to "Ini Dia Cara Pengajaran Maharah Istima’ "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel