TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Friday, June 1, 2018

NEGERI SYAM DAN JEJAK WALI ABDAL (1) Kabar Tentang Keberadaan Para Wali Abdal di Negeri Syam

June 01, 2018 0

Tarbiyah.Online - Salah satu tradisi mubibbin di tanah Syam adalah hadrah, majelis shalawat berjamaah yang dihadiri ulama-ulama dan para wali, dan salah satu majelis hadrah yang paling terkenal adalah majelis Subuh Senin di Jami' Taubah, salah satu mesjid tua di Damaskus. Di zaman ini salah satu ulama yang selalu hadir dimajlis ini adalah Syeikh Syukri al Luhafy, ulama ahli qiraat (ilmu baca Al Quran) beliau juga wali besar negeri Syam.

Dalam satu majlis di Jami Taubah, tidak seperti biasa aku tidak melihat syeikh Syukri al Luhafy didalam lingkaran hadrah, aku tidak percaya beliau tidak hadir di majlis shalawat, karena setahuku beliau tidak pernah absen di seluruh majelis hadrah di Damaskus. Mata ku menyusuri seluruh sudut mesjid, akhirnya aku menemukan beliau sedang bersender di salah satu tiang mesjid, sambil memakai selimut, ternyata beliau sedang sakit parah.

Begitulah ke"gila"an dan rasa cinta kepada baginda Nabi SAW. Walau dalam keadaan sakit parah pun beliau berusaha tetap hadir dimajlis orang-orang yang mengagungkan kekasihnya tersebut. Perlu diketahui saat itu umur beliau sudah hampir seratus tahun, ditambah beliau lagi sakit parah, musim dingin sedang dipuncaknya, dan semua itu terjadi diwaktu subuh. Tapi ini masalah cinta kawan!!! Sulit aku menjelaskannya dengan logika biasa. 

Maqam beliau sebagai ulama besar ini membuat beliau sering ditawarkan untuk memimpin majelis hadrah, tapi beliau selalu menolak karena beliau merasa tidak pantas, beliau lebih memilih berkhidmad, dengan berkeliling dan melayani jamaah hadrah dengan menuangkan air minum untuk mereka, satu persatu dengan tangan beliau sendiri.

Karena keistiqamahan dan kerendahan hati beliau ini, beliau dipercayai sebagai Wali Abdal oleh ulama dan penduduk negeri Syam.

Bagi yang belum tau tentang istilah wali abdal. Kita dengar penjelasan oleh Sayidina Ali karamallahu wajhahu. Suatu hari dalam perang Shiffin penduduk Iraq berkata kasar pada penduduk Syam, lalu sayidina Ali berkata, "Jangan lakukan itu, sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda "wali abdal itu berada di syam, mereka ada 40 orang, ketika satu orang meninggal maka Allah akan mengganti tempatnya dengan orang lain, disebabkan merekalah kalian diturunkan hujan rahmat, karena merekalah kalian dapat mengalahkan musuh, dan karena merekalah penduduk bumi dijauhkan dari marab ahaya.

Dalam hadis lain diriwayatkan dari Abi Darda "bahwasanya para nabi adalah pondasi bumi. Maka dikala masa kenabian telah usai, maka Tuhan mengembankan tugas mereka pada umat Muhammad, yang mendapatkan tugas ini adalah Wali Abdal, mereka bukanlah orang yang banyak berpuasa atau shalat ataupun bertsabih mereka adalah orang-orang yang baik akhlaknya dan wara' (berhati-hati dan menjaga diri), ikhlas niatnya, dan bersih hatinya pada setiap muslim, dan selalu memberi nasihat hanya karena mengharapkan Allah semata.

Dan banyak hadis lain, jika dikumpulkan bisa mencapai derajat Sahih Lighairihi, bagi yang ingin tahu lebih lengkap Imam Suyuthi mengumpulkannya dalam kitab Al hawi lil Fatawa. Bagi yang berniat ziarah ke Syam jangan lupa kunjungi mereka, ambil berkah mereka minta doa dari mereka. 

Oleh Ustadz Fauzan, Mahasiswa Pasca Sarjana asal Aceh di Universitas Auzai, Damaskus, Suriah.
Read More

Wednesday, May 30, 2018

DAHSYATNYA PERGI KE MASJID 3 AMALAN YANG DIPERBINCANGKAN PARA MALAIKAT

May 30, 2018 0
Tarbiyah.Online -  Masjid adalah tempat ibadah kaum muslimin. Tempat yang menjadi pusat segala kegiatan kaum muslim dalam berubudiyah kepada Allah SWT.

 Al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ahuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَتَانِي اللَّيْلَةَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُوْرَةٍ قَالَ: أَحْسَبُهُ، قَالَ: فِي الْمَنَامِ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ هَلْ تَدْرِي فِيْمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأُ اْلأَعْلَى؟ قَالَ: قُلْتُ: لاَ، قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثَدْيَيَّ، أَوْ قَالَ: فِي نَحْرِي، فَعَلِمْتُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ، قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، هَلْ تَدْرِي فِيْمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأُ اْلأَعْلَى، قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ فِي الْكَفاَّرَاتِ وَالْكَفَّارَاتُ الْمَكْثُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ وَالْمَشْيُ عَلَى اْلأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ وَإِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ فِي الْمَكَارِهِ وَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ وَمَاتَ بِخَيْرٍ وَكَانَ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
"Malam tadi Rabb-ku datang kepadaku dalam bentuk yang paling indah, aku menyangkan bahwa itu terjadi di dalam mimpi. Kemudian Dia berfirman kepadaku, ‘Wahai Muhammad, apakah engkau tahu apa yang menjadi bahan pembicaraan para Malaikat ?’
Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu.’
Lalu Allah meletakkan tangan-Nya di antara kedua pundakku, sehingga aku merasakan dingin di dada atau di dekat tenggorokan, maka aku tahu apa yang ada di langit dan bumi.
Allah berfirman, ‘Wahai Muhammad, tahukah engkau apa yang menjadi bahan pembicaraan para Malaikat?’
Aku menjawab, ‘Ya, aku tahu. Mereka membicarakan al-kafarat.’
Al-kafarat itu adalah: berdiam di masjid setelah shalat, melangkahkan kaki menuju shalat berjama’ah, dan menyempurnakan wudhu’ dalam keadaan yang sangat dingin.
Barangsiapa yang melakukannya, maka ia akan hidup dengan baik dan wafat dengan baik pula, ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari di mana ia dilahirkan dari (rahim) ibunya.” (HR at-Tirmidzi )

Subhanallah. Orang yang selalu pergi ke masjid dijamin hidupnya dalam keadaan baik, wafatnya pun dalam keadaan baik.

Siapakah yang tidak ingin wafat dalam keadaan baik ??
Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan dari Abu Umamah radhiallahu anhu, dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda: “Ada tiga golongan yang semuanya dijamin oleh Allah Ta’ala, yaitu orang yang keluar untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala dan ghanimah, kemudian orang yang pergi ke masjid, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalau memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala, dan orang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka ia dijamin oleh Allah.” (HR. Abu Dawud)
Dijamin oleh Allah ? Luar biasa.  Lebih dari jaminan hari tua atau jaminan asuransi kesehatan atau jaminan jaminan dunia lainnya. karena itu tak menjamin surga.. harapan seorang mukmin adalah mendapat jaminan dari Allah pencipta alam semesta.
Read More

BATALKAH PUASA SAAT MENGHIRUP POLUSI, DEBU, ATAU DIMASUKI SERANGGA?

May 30, 2018 0

Salah satu pembatal puasa adalah benda yang masuk ke dalam kerongkongan secara disengaja. Namun kemungkinan lain yang bisa terjadi pada seseorang adalah bila dalam kondisi tertentu rongga mulutnya dimasuki oleh benda atau serangga sampai tertelan hingga kerongkongannya disebabkan menguap ataupun sedang membuka mulut saat berkendara lalu tiba-tiba dimasuki oleh serangga, ataupun debu dan asap polusi, maka puasa orang tersebut tidak batal.

Berikut sebagian penjelasan dari riwayat sahabat maupun keterangan ulama mazhab;

Abdullah Ibn ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن ابن عباس في الرجل يدخل حلقه الذباب، قال: لا يفطر

Dari Ibn Abbas, tentang seseorang yang dimasuki serangga pada kerongkongannya. Ibnu Abbas berkata; Puasanya tidak batal
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.107, no.9886)

Al-Imam Abu Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Hazm al-Andalusi (w.456H);

وما نعلم لابن عباس في هذا مخالفا من الصحابة رضي الله عنهم إلا تلك الروايات الضعيفة عنه

Kami tidak mengetahui para sahabat lain yang berbeda dengan Ibnu Abbas terkait masalah ini, selain dari riwayat-riwayat dhaif darinya (yang berbicara sebaliknya)
(Ibn Hamz, al-Muhalla Bi al-Atsar, vol.4, hal.350)


Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);

فأما ما حصل منه عن غير قصد كالغبار الذي يدخل حلقه من الطريق ونخل الدقيق والذبابة التي تدخل حلقه أو يرش عليه الماء فيدخل مسامعه أو أنفه أو حلقه أو يلقي في ماء فيصل إلى جوفه أو يسبق إلى حلقه من ماء المضمضة أو يصب في حلقه أو أنفه شيء كرها أو تداوى مأمومته أو جائفته بغير اختياره أو يحجم كرها أو تقبله امرأة بغير اختياره فينزل أو ما أشبه هذا فلا يفسد صومه لا نعلم فيه خلافا لأنه لا فعل له فلا يفطر كالاحتلام

Adapun sesuatu yang terjadi pada orang yang sedang berpuasa tanpa sengaja seperti debu di jalan yang masuk ke dalam kerongkongannya, kabut tepung, dan serangga yang masuk ke dalam kerongkongannya, atau percikan air yang masuk ke dalam pendengaran, hidung, tenggorokan, ataupun dilempar ke dalam air sehingga kerongkongannya dimasuki air, atau juga saat berkumur-kumur, termasuk juga seseorang yang dipaksa memasukkan sesuatu ke dalam kerongkongan dan hidungnya, atau mengobati bolongan pada kepalanya, dan itu semua bukan keinginannya, atau berbekam karena terpaksa, atau bahkan dicium oleh seorang perempuan tanpa kehendaknya sehingga maninya keluar, dan lain sebagainya, maka puasanya tidak batal. Kami pun tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam hal ini, karena sejatinya itu bukan perbuatannya sehingga puasanya tidak batal, sama halnya dengan orang yang mimpi hingga keluar mani
(Ibn Qudamah, al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Kharqi, vol.3, hal.36)

Wallahu A’lam
Read More

PUASA ORANG YANG BERHADAS BESAR HINGGA TERBIT FAJAR

May 30, 2018 0
Tarbiyah.Online - Status puasa orang yang berjunub sebelum fajar, kemudian bersuci setelah fajar tidak batal sebagaimana hal tersebut pernah dialami oleh Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallâhu ‘anhum.
Berikut riwayat dari istri Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya;

Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن عائشة وأم سلمة زوجي النبي صلى الله عليه وسلم أنهما قالتا: إن كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ليصبح جنبا من جماع غير احتلام ثم يصوم

Dari Aisyah dan Ummu Salamah, para istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, keduanya berkata; Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bangun subuh dalam keadaan junub setelah jima‘, kemudian beliau tetap berpuasa
(Malik Ibn Anas, Al-Muwattha’ Bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.291, no.640)

Abdullah Ibn Mas‘ud radhiyallâhu ‘anhu;

عن ابن سيرين أن ابن مسعود قال: ما أبالي أن أصيب امرأتي ثم أصبح جنبا ثم أصوم، أتيت حلال

Dari Ibn Sirin, bahwa Ibnu Mas‘ud pernah berkata; Tidak masalah bila aku berjima dengan istriku lalu bangun subuh dalam keadaan junub lantas aku tetap berpuasa. Yang aku lakukan itu halal
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.181, no.7401 & Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.82, no.9676)

Abu Darda’ radhiyallâhu ‘anhu;

عن أبي قلابة قال: جاء رجل إلى أبي الدرداء، فقال: إني أصبت أهلي ثم غلبتني عيني حتى أصبحت وأنا أريد الصيام، فقال أبو الدرداء: أتيت امرأتك وهي تحل لك ثم غلبت على نفسك ثم رد الله نفسك فصليت حين عقلت وصمت حين عقلت

Dari Abu Qilabah, ia berkata: Seseorang mendatangi Abu Darda’ dan mengadu: Aku berjima dengan istriku lalu tertidur hingga subuh pun tiba, sementara saya ingin berpuasa. Abu Darda’ menjawab: Kamu berjima dengan istrimu dan dia memang halal bagimu, lalu tertidur, kemudian Alah bangunkan, maka kamu dapat shalat ketika telah sadar, dan dapat berpuasa bila telah sadar
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.181, no.7403)

Abdullah Ibn Umar
radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن نافع قال: لو أذن المؤذن وعبد الله بين رجلي امرأته وهو يريد الصيام لأتم صيامه

Dari Nafi‘, ia berkata: Bila azan berkumandang, dan Abdullah dalam keadaan junub, sementara ia ingin berpuasa, pasti ia tetap menyempurnakan puasanya
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.181, no.7404 & Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.82, no.9677)

Abu Hurairah, Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Abbas radhiyallâhu ‘anhum;

عن أبي هريرة وزيد بن ثابت وابن عباس في الرجل يصبح وهو جنب، قالوا: يمضي على صومه

Pandangan Abu Hurairah, Zaid Ibn Tsabit dan Ibn Abbas tentang seseorang yang bangun dalam keadaan junub adalah tetap melanjutkan puasanya
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.81, no.9668) 

Berikut ada keterangan Ijma‘ oleh para ulama mazhab

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Khalaf Ibn Abdil Malik Ibn Batthal al-Qurthubi (w.449H);

وأجمع فقهاء الأمصار على الأخذ بحديث عائشة وأم سلمة فيمن أصبح جنبًا أنه يغتسل ويتم صومه

Dan ulama fikih belahan dunia telah ijma‘ menerapkan hadis riwayat Aisyah dan Ummu Salamah tentang orang yang masih berjunub setelah fajar untuk melakukan mandi janabah dan menyempurnakan puasanya
(Ibn Batthal, Syarh Shahih al-Bukhari, vol.4, hal.49)

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Habib al-Mawardi (w.450H);

أما من يصبح جنبا من احتلام فهو على صومه إجماعا

Adapun orang bangun dalam keadaan junub karena mimpi tetap dalam keadaan puasa berdasarkan ijma‘
(Al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir Syarh Mukhtashar al-Muzani, vol.3, hal.892)

Al-Imam Abu Bakr Muhammad Ibn Abdullah Ibn Muhammad al-Ma‘afiri Ibn al-‘Arabi (w.543H);

إذا جوزنا له الوطء قبل الفجر ففي ذلك دليل على جواز طلوع الفجر عليه، وهو جنب؛ وذلك جائز إجماعا، وقد كان وقع فيه بين الصحابة رضوان الله عليهم أجمعين كلام، ثم استقرّ الأمر على أنه من أصبح جنبا فإن صومه صحيح

Bila kita membolehkan seseorang berhubungan sebelum fajar, artinya bisa jadi dia masih dalam keadaan junub setelah fajar, dan memang itu tidak mengapa berdasarkan ijma‘. Hal ini sempat jadi perbincangan para sahabat radhiyallâhu ‘anhu, kemudian pada akhirnya menjadi ketetapan bahwa orang yang masih membawa junub pada paginya maka puasanya tetap sah
(Ibn al-‘Arabi, Ahkam al-Qur’an, vol.1, hal.179)

Al-Imam Abu Bakr Ibn Mas‘ud Ibn Ahmad al-Kasani (w.587H);

ولو أصبح جنبا في رمضان فصومه تام عند عامة الصحابة مثل علي وابن مسعود وزيد بن ثابت وأبي الدرداء وأبي ذر وابن عباس وابن عمر ومعاذ بن جبل رضي الله تعالى عنهم

Kalau seseorang pada pagi Ramadhan masih dalam keadaan junub, maka puasanya tetap sah menurut para sahabat seperti Ali, Ibn Mas‘ud, Zaib Ibn Tsabit, Abu Darda’, Abu Dzar, Ibn Abbas, Ibn Umar, Mu‘adz Ibn Jabal radhiyallâhu ‘anhum
(Al-Kasani, Badai‘ al-Shanâi‘ Fi Tartib al-Syarai‘, vol.2, hal.92)

Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);

وجملته أن الجنب له أن يؤخر الغسل حتى يصبح ثم يغتسل ويتم صومه في قول عامة أهل العلم منهم علي وابن مسعود وزيد وأبو الدرداء وأبو ذر وابن عمر و ابن عباس وعائشة وأم سلمة رضي الله عنهم

Pada intinya, berdasarkan pendapat para ulama (baca: para sahabat) seperti Ali Ibn Mas‘ud, Zaid, Abu Darda’, Abu Dzar, Ibn Umar, Ibn Abbas, Aisyah, Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anhum bahwa orang yang berjunub boleh mengundur mandinya hingga subuh, kemudian ia mandi lalu menyempurnakan puasanya
(Ibn Qudamah, Al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Kharqi, vol.3, hal.78)

Al-Imam Abu Zakariya Yahya Ibn Syaraf al-Nawawi (w.676H);

فقد أجمع أهل هذه الأمصار على صحة صوم الجنب سواء كان من احتلام أو جماع وبه قال جماهير الصحابة والتابعين

Para ulama negeri-negeri muslim telah ijma‘ mengenai sahnya puasa orang yang membawa junub, baik akibat mimpi maupun akibat berjima. Pandangan ini juga disepakati oleh jumhur para sahabat dan tabi‘in
(Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, vol.7, hal.222)
إذا جامع في الليل وأصبح وهو جنب صح صومه بلا خلاف عندنا، وكذا لو انقطع دم الحائض والنفساء في الليل فنوتا صوم الغد ولم يغتسلا صح صومهما بلا خلاف عندنا وبه قال جمهور العلماء من الصحابة والتابعين ومن بعدهم
Apabila seseorang berhubungan pada malam hari, lalu bangun pagi dalam keadaaan junub, maka menurut kami puasanya tetap sah tanpa ada perbedaan pendapat di dalamnya. Sama halnya dengan wanita yang berhenti haid dan nifas di malam hari, lalu berniat puasa untuk besok sedangkan mereka belum mandi, maka menurut kami puasanya juga sah tanpa ada perbedaan pendapat di dalamnya. Pandangan ini juga disepakati oleh para sahabat, tabi‘in dan generasi setelah mereka
(Al-Nawawi, al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzzab, vol.6, hal.307)
 
Al-Imam Abu al-Fath Muhammad Ibn Ali Ibn Wahb Ibn Muthi‘ Ibn Daqiq al-‘Id (w.702H);

واتفق الفقهاء على العمل بهذا الحديث وصار ذلك إجماعا أو كالإجماع

Para fuqaha telah menyepakati untuk mengamalkan hadis ini, sehinggi hal itu menjadi ijma‘ atau seperti ijma‘
(Ibn Daqiq al-‘Id, Ihkam al-Ahkam Syarh ‘Umdah al-Ahkam, hal.270. Hadis yang dimaksud adalah hadis riwayat dari istri-istri Nabi terkait beliau bangun setelah fajar dalam keadaan junub dan melanjutkan puasanya).

Wallahu A‘lam
Oleh Ustad Ashfi Bagindo Pakiah
Read More

RUKHSHAH BERBUKA BAGI MUSAFIR DAN ORANG SAKIT

May 30, 2018 0

Ketika Allah bersedekah dengan memberi rukhshah untuk hamba-Nya ~

Beberapa sahabat Nabi radhiyallâhu ‘anhum ;

عن شقيق بن سلمة قال أهللنا هلال رمضان بحلوان أو بالمدائن وفينا رجال من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فنادى أميرهم من شاء منكم أن يصوم فليصم ومن شاء منكم أن يفطر فليفطر فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد صام في السفر وأفطر

Dari Syaqiq Ibn Salamah, ia berkata; Kami memulai Ramadhan di Hulwân atau Madâ’in, saat itu kami bersama beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallaam, lalu pimpinan mereka menghimbau bahwa siapa yang ingin puasa dipersilahkan, dan siapa yang tidak berpuasa juga silahkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah melakukan keduanya dalam perjalanan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4494)

عن قتادة قال صام بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم في السفر وأفطر بعضهم فلم يعب بعضهم على بعض، قال أخذ هذا برخصة الله وأدى هذا فريضة الله

Qatadah, ia berkata bahwa sebagian sahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memilih berpuasa dalam perjalanan dan sebagian yang lain memilih tidak berpuasa, kemudian satu sama lain tidak pernah saling merendahkan. Karena yang satu memanfaatkan keringanan dari Allah, dan yang satu lagi telah menunaikan kewajiban yang Allah berikan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4500)

Ali Ibn Abi Thalib radhiayallâhu ‘anhu;

عن سعد بن معبد قال؛ أقبلت مع علي بن أبي طالب من ينبع، قال فصام علي وكان علي راكبا وأفطرت لأني كنت ماشيا حتى قدمنا المدينة ليلا

Dari Sa‘d Ibn Ma‘bad, ia berkata; Kami bersama Ali berangkat dari Yanbû‘, -ia melanjutkan- Ali berpuasa karena menunggang, sedangkan saya tidak berpuasa karena saya berjalan, hingga kami tiba di Madinah malam hari
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4495)

Aisyah Ummul Mukminin radhiyallâhu ‘anhâ;
عن عروة عن عائشة أنها كانت تصوم في السفر

Dari ‘Urwah, dari Aisyah, bahwa beliau berpuasa dalam perjalanan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4496)

عن ابن أبي مليكة قال: صحبت عائشة في السفر، فما أفطرت حتى دخلت مكة
Dari Ibn Abi Mulaikah (w.117H), ia berkata; Aku mengawal Aisyah dalam perjalanan, dan ia tidak berbuka hingga sampai ke Makkah
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.15, no.9068)

Abdullah Ibn ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن ابن عباس قال لا نعيب على من صام في السفر ولا على من أفطر، قال الله؛ يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر

Dari Ibn Abbas, ia berkata; Kami tidak merendahkan orang orang yang berpuasa dalam perjalanan dan orang yang memilih berbuka. Allah berfirman; Allah menghendaki kemudahan untuk kalian, bukan kesulitan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.2, hal.569, no.4498)

عن أبي جمرة قال: سألت ابن عباس عن الصوم في السفر فقال: عسر ويسر، خذ بيسر الله عليك

Dari Abu Jamrah (w.128H), ia pernah bertanya kepada Ibn ‘Abbas tentang puasa dalam perjalanan. Ibn Abbas menjawab; Ada yang sulit dan ada yang mudah, maka ambillah kemudahan yang Allah berikan
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.14, no.9056)
Abdullah Ibn Umar radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن ابن عمر قال: الإفطار في السفر صدقة تصدّق الله بها على عباده
Dari Ibn Umar, ia berkata bahwa berbuka di perjalanan adalah sedekah yang Allah berikan kepada para hamba-Nya”.
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.14, no.9060)

Jabir Ibn Abdillah dan Abu Sa‘îd al-Khudrî radhiyallâhu ‘anhum;

عن أبي سعيد الخدري وجابر بن عبد الله رضي الله عنهم قالا؛ سافرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فيصوم الصائم ويفطر المفطر فلا يعيب بعضهم على بعض

Dari Abu Sa‘id al-Khudri dan Jabir Ibn Abdillah radhiyallâhu ‘anhum berkata; Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam, maka ada yang berpuasa dan ada pula yang tidak, namun tidak ada yang saling merendahkan
(Muslim Ibn Hajjaj, Shahîh Muslim, vol.3, hal.143, no.2675)

Anas Ibn Malik radhiyallâhu ‘anhû;

عن عاصم قال: سئل أنس عن الصوم في السفر فقال: من أفطر فرخصة، ومن صام فالصوم أفضل

Dari Ashim (w.141H), ia berkata bahwa Anas Ibn Malik pernah ditanya tentang puasa dalam perjalanan. Anas menjawab; Yang berbuka berarti mengambil keringanan, dan yang berpuasa itu juga lebih baik
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.15, no.9067)

Usman Ibn Abî al-‘Âsh radhiyallâhu ‘anhû;

عن ابن سيرين أن عثمان بن أبي العاص قال: الصوم في السفر أفضل، والفطر رخصة

Dari Ibn Sirin (w.110H), bahwa Usman Ibn Abî al-‘Âsh berkata; Memilih berpuasa dalam perjalanan itu lebih baik, dan memilih tidak berpuasa adalah keringanan
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.16, no.9076)

Berikut penjelasan dari para ulama mazhab;

Al-Imam Mâlik Ibn Anas Ibn Mâlik Ibn ‘Âmir al-Madanî (w.179H);

الأمر الذي سمعت من أهل العلم أن المريض إذا أصابه المرض الذي يشق عليه الصيام معه ويتعبه ويبلغ ذلك منه فإن له أن يفطر وكذلك المريض الذي اشتد عليه القيام في الصلاة وبلغ منه ... ودين الله يسر وقد أرخص الله للمسافر في الفطر في السفر وهو أقوى على الصيام من المريض ... فهذا أحب ما سمعت إلي وهو الأمر المجتمع عليه

Satu hal yang pernah saya dengan dari para ulama adalah seseorang mengalami sakit yang kesulitan dan berat untuk berpuasa atau orang sakit yang membuatnya tidak mampu berdiri ketika shalat boleh tidak berpuasa ... dan agama Allah itu berisi kemudahan, dan Dia telah memberikan kemudahan bagi musafir untuk berbuka dalam perjalanannya, padahal mereka tergolong lebih mampu berpuasa daripada orang yang sedang sakit ... Inilah informasi yang sangat aku sukai, dan ini adalah perkara yang telah disepakati
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ Bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.302)

Al-Imam Abu Bakr Ahmad Ibn Ali al-Jasshâsh (w.370H);

واتفقت الصحابة ومن بعدهم من التابعين وفقهاء الأمصار على جواز صوم المسافر غير شيء يروى عن أبي هريرة أنه قال من صام في السفر فعليه القضاء وتابعه عليه شواذ من الناس لا يعدون خلافا

Para sahabat, tabi‘in, fuqaha’ seantero Mesir sepakat dalam kebolehan musafir untuk berpuasa. Kecuali satu riwayat dari Abu Hurairah yang pernah menyampaikan bahwa orang yang tetap berpuasa dalam perjalanan maka harus mengqadha. Ini pernah diikuti oleh segelintir kelompok, namun itu tidak perlu dianggap sebagai pendapat berbeda
(Al-Jasshash, Ahkâm al-Qur’ân, vol.1, hal.265. Dalam riwayat lain disampaikan bahwa Abu Hurairah telah menarik padangan tersebut dan rujuk kepada riwayat yang valid dari para sahabat lainnya)

Al-Imam Abu Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Hazm al-Andalusi (w.456H);

واتفقوا على أن من آذاه المرض وضعف عن الصوم فله أن يفطر، واتفقوا أن من سافر السفر الذي ذكرنا في كتاب الصلاة أنه إن قصر فيه أدى ما عليه فأهل هلال رمضان وهو في سفره ذلك فانه إن أفطر فيه فلا إثم عليه

Dan mereka sepakat bahwa orang yang kesulitan karena sakitnya dan tidak mampu berpuasa, maka dia boleh berbuka. Dan mereka pun sepakat bahwa orang yang melakukan perjalanan sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam pembahasan shalat jika mengqashar berarti telah melakukan apa yang harus dilakukan, kemudian dalam perjalanan itu muncul hilal Ramadhan lalu dia memilih tidak berpuasa, maka dia tidak berdosa
(Ibn Hazm, Marâtib al-Ijmâ‘, hal.40)

Al-Imam Abu ‘Amr Yusuf Ibn Abdillah Ibn Muhammad Ibn Abdil Barr al-Qurthubi (w.463H);

وعلى إباحة الصوم والفطر للمسافر جماعة العلماء وأئمة الفقه بجميع الأمصار إلا ما ذكرت لك عمن قدمنا ذكره، ولا حجة في أحد مع السنة الثابتة هذا إن ثبت ما ذكرناه عنهم ... وأجمع الفقهاء أن المسافر بالخيار إن شاء صام وإن شاء أفطر إلا أنهم اختلفوا في الأفضل من ذلك
Kebolehan berpuasa maupun tidak berpuasa bagi musafir disepakati oleh para ulama dan para imam fikih di seantero wilayah Islam, kecuali pendapat yang telah saya sebutkan kepadamu sebelumnya. Namun pendapat seseorang tidak dapat dijadikan argumen lagi bila telah jelas argumen sunnahnya, itu pun kalau pendapat itu benar adanya ... Dan para ulama fikih berijma bahwa musafir dapat memilih antara berpuasa atau tidak, namun perbedaan mereka (ulama) hanyalah soal mana yang lebih utama saja
(Ibn Abdil Barr, al-Tamhîd Limâ Fî al-Muwattha’ Min al-Ma‘ânî wa al-Asânîd, vol.2, hal.170 & vol.9 hal.67)
Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);
أجمع أهل العلم على إباحة الفطر للمريض في الجملة ... أن المسافر يباح له الفطر فإن صام كره له ذلك وأجزأه وجواز للمسافر ثابت بالنص والإجماع

Para ulama berijma‘ bahwa secara garis besar orang yang sedang sakit boleh berbuka ... sebagaimana musafir pun demikian. Apabila dia berpuasa tetap sah meskipun makruh. Kebolehan berbuka bagi musafir ini adalah jelas berdasarkan nash dan ijma‘
(Ibn Qudamah, al-Mughnî Syarh Mukhtashar al-Kharqî, vol.3, hal.88 & 90)

Dan banyak lagi penjelasan para ulama mazhab terkait kebaradaan ijma terkait rukhshah ini.

Wallâhu A‘lam
Read More