TARBIYAH ONLINE

Terbaru

Friday, May 18, 2018

HIKMAH RAMADHAN PERTAMA: BESARNYA GANJARAN PAHALA

May 18, 2018 0

Salah satu ibadah khusus yang tidak ada di bulan lain bulan Ramadhan, berupa shalat tarawih. Bahkan shalat tarawih dari malam pertama hingga malam ke-30 mempunyai nilai pahala tersendiri dan berbeda-beda.
Penulis mengutip dari berbagai sumber, berikut keutamaan Salat Tarawih di malam pertama bulan Ramadhan:
Pertama, Shalat tarawih merupakan salah satu keistimewaan bulan Ramadhan, tidak ada disunatkan shalat tarawih di luar bulan Ramadhan. Beranjak dariitu kita tidak boleh menyiakan kesempatan berharga ini. Di sebutkan dari Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu‘Alaihi wa Sallam tentang keutamaan (shalat) Tarawih di bulan Ramadhan lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi was Sallam bersabda: Dosa-dosa orang yang beriman keluar darinya pada malam pertama seperti hari dilahirkan ibunya.
Kedua, Diampuni Dosanya
Diketahui dari hadits riwayat Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abu Harairah, barang siapa yang melaksanakan Salat Tarawih pada malam pertama bulan ramadan, dia diibaratkan seperti bayi yang dilahirkan kembali oleh ibunya.
Hal ini berarti orang yang melaksanakan Salat Tarawih di hari pertama akan bersih dari dosa dan kesalahan.

إِِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ اللَّهُ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِعيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَْ الذُّنُوبْ كَيَوْم وَلَدَتْهُ أُمُّه

“Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR : Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abu Hurairah.)
Ketiga, Dimantapkan Hatinya.
Salat Tarawih pada malam pertama bulan Ramadan sangat dianjurkan agar kita semakin siap memasuki bulan penuh berkah ini. Tarawih malam pertama merupakan sebagai penanda awal ramadhan.

Shalat tarawih pada malam pertama adalah pertanda bahwa umat muslim pada keesokan harinya akan mulai melaksanakan ibadah puasa ramadhan.Hal ini juga secara tidak langsung merupakan pemberitahuan kepada setiap umat muslim jika ada diantara mereka yang belum mengetahui kapan dimulainya puasa ramadhan.
Keempat, Doa Dikabulkan
Setelah mendapat kemantapan hati dan ampunan dosa, melaksanakan Salat Trawih mulai dari malam pertama akan membuat doa yang kita minta dikabulkan Allah SWT.

“Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR Muslim dan Ahmad).
Kelima, Taqarrub Kepada Allah.
Seseorang yang memulai ibadah di bulan ramadhan dengan melaksanakan Salat Tarawih menandai bahwa kita semakin dekat dengan Allah.

Shalat Tarawih sebagaimana salat malam lainnya sanga dianjurkan untuk dilaksanakan selama bulan ramadhan. Hal ini bisa membantu kita semakin dekat dengan Allah SWT sebagaimana dalam hadits berbunyi :
“Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang saleh sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR Ahmad). 
Beranjak dari itu marilah kita raih untaian pahala tarawih malam pertama ini dengan sempurna dan mengharap ridha ilahi.


Helmi Abu Bakar el-Langkawi
Read More

HIKMAH RAMADHAN KE-2: PAHALA SHALAT TARAWIH & MEMBACA ALQURAN

May 18, 2018 0
Shalat tarawih sebagai ibadah khusus bulan Ramadhan, mereka yang beribadah dan melakukan shalat tarawih pada malamkedua akan mendapatkan pahala:

 وفى الليلة الثانية يغفر له ولأبويه ان كان مؤمنين 

Pada Malam yang ke : 2 Orang yang Shalat Tarawih akan diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya jika keduanya Mukmin.

Membaca Al-Quran

Bulan Ramadhan yang sedang ditempuh saat ini hendaknya kita meningkatkan amal ibdah. Satunya dengan memperbanyak membaca Al-Quran yang merupakan sebagai pedoman dan petunjuk umat Islam. Siapa yang membacanya juga termasuk ibadah walaupun tidak mengerti isi dan kandungannya. Ramadhan di identifikasikan sebagai bulan Al-Quran, hal ini disebabkan pada bulan ini alquran di turunkan. Setidaknya momentum ramadhan ini tentu saja menganjurkan kepada kita untuk lebih giat dan tekun dalam membaca, memahami dan menguak rahasia dalam kitab suci tersebut.

Rasulullah Saw sendiri orang yang sangat giat membaca al-Quran di samping akhlak beliau juga di ibaratkan sebagai al-quran berjalan. Dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, ia berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan padanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan padanya Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ditemui jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”
Hadist diatas meununjukkan kepada kita untuk memperbanyak membaca al-quran terlebih di bulan Ramadhan ini. Nabi Saw juga memanjangkan bacaan Alqurannya pada saat shalat malam di bulan Ramadhan, lebih dari malam-malam di bulan lainnya. Ini adalah sesuatu yang disyariatkan bagi mereka yang ingin memanjangkannya sesuai dengan kehendaknya, maka hendaknya ia shalat sendiri.
Namun boleh juga memperpanjang bacaan dalam shalat berjamaah atas persetujuan para jamaah. Selain itu, maka dianjurkan untuk membaca dengan bacaan yang ringan. Imam Ahamd berkata kepada sebagian sahabtnya yang shalat bersamanya di bulan Ramadhan, “Mereka itu orang yang lemah, maka bacalah lima, enam, atau tujuh ayat”. Berdasarkan pernyataan Imam Ahmad rahimahullah untuk memperingatkan agar memperhatikan keadaan para makmum dan jangan membebani mereka.
Apa yang di lakukan oleh Rasulullah juga di praktekkan para salafussaleh, dimana membaca Alquran di bulan Ramadhan di dalam shalat dan di luar shalat. Mereka menambah perhatian mereka terhadap Alquran yang mulia. Al-Aswad rahimahullah mengkhatamkan Alquran setiap dua hari. An-Nakha-I mengkhatamkannya setiap tiga hari, namun di sepuluh hari terakhir beliau tambah giat lagi. Sementara itu Qatadah mengkhatamkan Alquran di setiap tujuh hari dan di sepuluh hari terakhir beliau menyelesaikannya dalam tiga hari. Apabila bulan Ramadhan tiba, Az-Zuhri mengatakan, “Bulan ini adalah bulan membaca Alquran dan memberi makan”. Bahkan Imam Malik apabila masuk bulan Ramadhan meninggalkan membaca hadits dan berdiskusi bersama penuntut ilmu lainnya, beliau memfokuskan diri untuk membaca Alquran dari mushafnya. Qatadah fokus mempelajari Alquran di bulan Ramadhan. Hal ini juga di kerjakan oleh Sufyan ats-Tauri apabila datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan ibadah sunnah dan menyibukkan diri dengan membaca Alquran. Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat tentang perhatian para salaafush shalih terhadap Alquran di bulan Ramadhan.

Kelebihan Membaca -Quran

Termasuk keistimewaan Alqur’an adalah ia bisa diambil berkahnya. Allah berfirman: “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya…”QS al An’aam: 92. Imam Darimi meriwayatkan dengan sanad shahih bahwa sesungguhnya Ikrimah bin Abu Jahal seringkali meletakkan mushaf di wajahnya sambil berkata: “Ini adalah kitab Tuhanku, kitab Tuhanku”. Di antara berkahnya adalah bahwa membaca sebagian surat atau ayat darinya bisa mengusir setan dari pembaca dan rumahnya, dan sesungguhnya berkumpul untuk membacanya merupakan jalan bagi turun derasnya rahmat Allah, menarik keridho’annya, tempat datangnya ketenangan dan penyebutan Allah bagi orang – orang yang berkumpul karena Alqur’an.

Menggunakan Alqur’an sebagai pengobatan penyakit fisik dan untuk mengambil berkah tidak lantas mencegah menggunakan Alqur’an untuk penyakit hati, menolak kebodohan dan keraguan dari hati serta mengamalkan syariat dan hukum yang terkandung di dalamnya. Barang siapa setelah ini menyangka bahwa menggunakan Alqur’an pada satu sisi seperti pengobatan bisa membatalkan penggunaannya untuk sisi lain atau menafikannya maka persangkaannya itu didustakan oleh amalan Nabishallallahu alaihi wasallam dan amalan para sahabat serta tabiin. ( Kitab Haula Khasha’ish Alqur’an )
wwww.dinulislamnews.com
Read More

DAWUH SYEIKH PRAMUKIY: DAKWAH ADALAH MENAGAJAK DAN MEMPERBAIKI

May 18, 2018 0

“Kalau ada orang yang suka mabuk-mabukan ya ajak dia baik-baik agar meninggalkannya, dengan sabar, jangan memaki dia, sesungguhnya mereka terkena bala yang sangat sulit ditinggalkan, kasihani mereka.”
 Foto Fauzan Inzaghi.
“Kalau ada pelacur, dakwahi dia dan beri solusi yang lebih baik agar dia berubah, jangan menghina atau merendahkan dia, sesungguhnya mereka terjebak disitu, kasihani mereka.”

“Kalau ada orang yang salah paham tentang kewajiban menutup aurat, muamalah dengan non muhrim, kewajiban sholat, kewajiban menghormati orang berilmu dan hukum syar'i lainnya, kasih tahu dia baik-baik dengan penuh kasih sayang, jangan mencaci mereka dengan kata-kata kotor, walau mungkin awalnya nasehat kita dianggap bodoh dan ketinggalan zaman, sesungguhnya itu terjadi karena mereka tidak tahu, kasihani mereka.”

“Begitu juga kalau ada orang salah paham tentang makna jihad, kafir, harbi, khilafah dan lainnya maka harusnya kita tidak membully mereka, tapi ajaklah mereka berdialog dengan sabar, walau mereka akan mencela kita, itu karena mereka tidak tahu, kasihani mereka.”

“Apapun kesalahan mereka kasihani mereka, dan perbaiki mereka dengan baik, bayangkan saja kita atau saudara kita yang terjebak dalam kesalahan itu, baik kesalahan perbuatan atau pemikiran.”

“Betapa malang nasib kita, kita terjebak dalam lingkungan yang membuat kita salah, disatu sisi saudara kita yang lain dibanding menyelamatkan kita dengan sabar malah memlilih membuly kita.”

“Wahai para pembully, pemaki, dan yang menertawakan kesalahan manusia, jika kalian ingin merubah dan memperbaiki mereka bukan begitu caranya, itu bukanlah dakwah atau mengingatkan yang dikerjakan seorang dai,cara seperti itu sama sekali tidak akan merubah mereka, yang ada membuat mereka makin jauh.”

“Tapi jika niat kalian tidak ingin mengingatkan atau merubah, tapi hanya ingin memvonis dan menertawakan kesalahan orang maka sungguh kalian sudah sukses, sungguh kalian sudah sukses memvonis mereka dalam kesalahan, kalian sukses jadi hakim.”

Read More

Thursday, May 17, 2018

WAKTU BERBUKA DAN TERLANJUR BERBUKA SEBELUM WAKTUNYA

May 17, 2018 0

Pada bagian ini dijelaskan tentang waktu berbuka, konsekuensi bila terlanjur berbuka karena mengira matahari telah tenggelam, dan anjuran menyegerakan berbuka meskipun hanya seteguk air maupun sebiji kurma sebelum shalat. Karena mengulur waktu berbuka ternyata juga sebuah kebiasaan kaum yahudi dalam pelaksaan puasa dalam ajaran mereka dengan dalih bersabar untuk mengulur waktu (taswîf) dari menyantap perbukaan dan mendahulukan ibadah, padahal berbuka itu sendiri juga merupakan ibadah bagi orang yang berpuasa.

Berikut adalah riwayat beberapa sahabat radhiyallâhu ‘anhum tentang waktu berbuka ;
1. Umar Ibn al-Khatthab radhiyallâhu ‘anhu ;

عن خالد بن أسلم :أن عمر بن الخطاب أفطر ذات يوم في رمضان في يوم ذي غيم ورأى أنه قد أمسى وغابت الشمس فجاءه رجل فقال يا أمير المؤمنين طلعت الشمس، فقال عمر : الخطب يسير وقد اجتهدنا. قال مالك يريد بقوله "الخطب يسير" القضاء فيما نرى والله أعلم
Dari Khâlid Ibn Aslam bahwa Umar Ibn al-Khatthab pernah berbuka ketika mendung di sore bulan Ramadhan karena melihat saat itu sudah sore dan matahari sudah tenggelam. Lalu datanglah seseorang mengabarkan bahwa matahari muncul. Umar pun berkata : Baik, perkaranya sederhana, dan kita pun hanya berijtihad”. Imam Malik menjelaskan, yang kami pahami dari perkataan Umar “al-Khathbu Yasîr” adalah puasa hari itu dapat diqadha, Wallahâhu A‘lam.
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ Bi Riwâyah al-Laytsî, No.670)

عن بشر بن قيس قال : كنا عند عمر بن الخطاب في رمضان والسماء مغيمة فأتي بسويق وطلعت الشمس فقال من أفطر فليقض يوما مكانه
Dari Bisyr Ibn Qays, ia berkata : Kami pernah bersama Umar Ibn al-Khatthab pada bulan Ramadhan dengan cuaca mendung (pada sore hari), lalu bubur gandum pun dihidangkan, dan ternyata matahari terlihat, maka Umar berkata ; Siapa yang terlanjur berbuka hendaklah dia mengqadha puasanya di hari lain
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.178)
عن سعيد بن المسيب، قال: كان عمر يكتب إلى أمرائه أن لا تكونوا من المسوّفين لفطركم، ولا تنتظروا بصلاتكم اشتباك النجوم
Dari Sa‘îd Ibn al-Musayyab, ia berkata ; Umar pernah menulis surat kepada para gubernurnya agar jangan menjadi orang yang suka mengulur-ulur berbuka dan jangan menunggu bintang tampak terlebih dahulu karena melakukan shalat
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.12)

2. Ali Ibn Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu ;

كان علي بن أبي طالب يقول لابن النبّاح: غربت الشمس؟ فيقول: لا تعجل، فيقول: غربت الشمس؟ فيقول: لا تعجل، فيقول: غربت الشمس؟ فإذا قال: نعم، أفطر، ثم نزل فصلى
Ali Ibn Abi Thalib pernah bertanya kepada Ibn al-Nabbâh ; Apakah matahari telah tenggelam? Ibn al-Nabbâh menjawab ; Tidak perlu buru-buru. Ali bertanya lagi ; Apakah matahari telah tenggelam? Ibn al-Nabbâh menjawab lagi ; Tidak perlu buru-buru. Ali bertanya lagi ; Apakah matahari telah tenggelam? Bila ia menjawab sudah, maka Ali pun berbuka, kemudian turun untuk shalat
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.13. Ibn al-Nabbâh adalah ‘Âmir Ibn al-Nabbâh, muadzzin Ali Ibn Abi Thalib)

3. Abdullah Ibn Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن أبي جمرة الضبعي أنه كان يفطر مع ابن عباس في رمضان، فكان إذا أمسى بعث ربيبة له تصعد ظهر الدار، فإذا غابت الشمس أذن، فيأكل ونأكل، فإذا فرغ أقيمت الصلاة فيقوم يصلي ونصلي معه
Dari Abu Jamrah al-Dhuba‘i, ia pernah berbuka puasa Ramadhan bersama Ibn ‘Abbas. Ketika telah sore, Ibn ‘Abbas meminta asuhannya menaiki atap rumah untuk melihat apakah matahari telah terbenam. Bila terbenam maka ia mengumandangkan azan. Kemudian Ibnu Abbas makan, dan kami pun ikut makan. Bila makan telah selesai, iqamah pun dilaksanakan, dan kami ikut shalat dengannya
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.12)

4. Abu Musa al-Asy‘rî radhiyallâhu ‘anhu ;

قال رجل لعمار بن ياسر: إن أبا موسى قال: لا تفطروا حين تبدو الكواكب، فإن ذلك فعل اليهود
Seseorang berkata kepada ‘Ammâr Ibn Yâsir bahwa Abû Mûsa pernah berkata ; Janganlah kalian mulai berbuka hingga menunggu bintang terlihat, karena itu adalah kebiasaan orang-orang yahudi
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vo.3, hal.12)

5. Abu Darda’ radhiyallâhu ‘anhu ;

عن أبي الدرداء قال : ثَلاث من أخلاق النبيين التبكير في الإفطار، والإبلاغ في السحور، ووضع اليمين على الشمال في الصلاة
Dari Abu Darda’, ia berkata ; tiga hal yang merupakan akhlak para nabi ; menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan (tangan) kanan di atas tangan kiri dalam shalat
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.13)

Berikut kutipan statement Ijma’ ulama tentang waktu berbuka;
Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Khalaf Ibn Abdil Malik Ibn Batthal (w.449H);

أجمع العلماء أنه إذا غربت الشمس فقد حل فطر الصائم، وذلك آخر النهار وأول أوقات الليل
Para ulama berijma’ bahwa apabila matahari telah tenggelam maka telah halal berbuka, itulah waktu akhir siang dan awal waktu malam
(Ibn Batthal, Syarh Shahîh al-Bukhârî, vo.4, hal.102)

Al-Imam Abu Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Hazm al-Andalusi (w.456H);

واتفقوا على أن كل ذلك حلال من غروب الشمس إلى مقدار ما يمكن الغسل قبل طلوع الفجر الآخر
Mereka sepakat bahwa itu semua halal semenjak matahari terbenam hingga kira-kira cukup waktu untuk mandi sebelum terbit fajar shadiq
(Ibn Hazm, Marâtib al-Ijmâ‘, hal.39)

Al-Imam Abu ‘Amr Yusuf Ibn Abdillah Ibn Muhammad Ibn Abdil Barr al-Qurthubi (w.463H);

والنهار الذي يجب صيامه من طلوع الفجر إلى غروب الشمس، على هذا إجماع علماء المسلمين فلا وجه للكلام فيه
Waktu siang yang wajib berpuasa padanya adalah semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari, ini berdasarkan ijma’ ulama kaum muslimin, sehingga tidak perlu diperdebatkan
(Ibn Abdil Barr, Al-Tamhîd Limâ Fî al-Muwattha’ Min al-Ma‘ânî wa al-Asânîd, vol.10, hal.62)

Al-Imam Abu al-Fadhl Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar al-‘Asqalani (w.852H);

واتفق العلماء على أن محل ذلك إذا تحقق غروب الشمس بالرؤية أو بأخبار عدلين
Dan para ulama sepakat bahwa waktu berbuka adalah bila telah dipastikan matahari terbenam, baik dengan cara melihatna maupun dengan kabar dari dua orang adil
(Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bârî Bi Syarh Shahîh al-Bukhârî, vol.4, hal.199).

Wallahu a’lam


Read More

Wednesday, May 16, 2018

POLA PIKIR BERBAHAYA YANG HARUS DIHINDARI

May 16, 2018 0

Ada lima pola pikir yang harus ditolak dan dihindari oleh umat Islam, yaitu pola pikir al-intihār, al-inbihār, al-ijtirār, al-inhisār dan al-ightirār. Berikut penjelasannya:
1. الانتحار (bunuh diri demi mengalahkan lawan). Orang yang memiliki cara berpikir ini mudah mengafirkan orang lain demi menunjukkan diri dan menjaga eksistensi.
2. الانبهار (terpesona dengan orang lain). Orang yang memiliki cara berpikir ini tidak menggunakan sumber-sumber hukum syariat dan tidak lagi bangga dengan peradaban Islam, karena ia telah terpesona oleh sihir peradaban lain, baik dalam hal negatif atau positifnya. 
Setiap hari kita dapat melihat orang yang memiliki pola pikir ini selalu berusaha mengingkari kaidah bahasa Arab, hukum-hukumnya, mengingkari kesepakatan para fuqahā’ dan ulama umat Islam sepanjang sejarah. Ia gemar melontarkan pendapat yang bisa merusak identitas dan menjauhkan karakternya sebagai seorang muslim, demi membangun karakter barunya sebagai penganut sekularisme dan globalisasi peradaban baru yang menyihirnya.
3. الانحسار (menutup diri dari dunia). Orang yang berpikir dengan cara ini memilih untuk melarikan diri dari realitas kehidupan zamannya, dan berlindung di balik mimpi, khayalan dan ilusinya. Hal ini mirip dengan keadaan orang yang melarikan diri dari medan jihad.
Syariat Islam sangat menolak pola pikir ini, karena Islam mengajak pemeluknya untuk hidup bersama masyarakat, melakukan interaksi dengan manusia dan ikut serta memakmurkan dunia. Allah berfirman: “Bersabarlah dengan baik” (QS. Yusuf: 18). Dan Rasulullah bersabda: “Seorang mukmin yang bergaul dengan masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka itu lebih baik dari yang tidak bergaul dan tidak bersabar”. (HR. al-Tirmidzi).
4. الاجترار (mengurung diri pada masa lalu). Orang yang berpikir dengan cara ini ditawan oleh semua pembahasan yang ia dapatkan pada khazanah ilmu Islam klasik (turāts), tanpa mau membentuk cara berpikirnya untuk dapat berijtihad. Ia seolah-olah hidup jauh dari realitas zamannya sendiri.
Foto Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum'ah.
Cara ideal mengobati pola pikir ini adalah dengan memahami berbagai manhaj turāts yang telah dibangun oleh ulama dan fuqahā’ agar kita mampu berjalan pada jalan lurus mereka, sehingga kita mampu berijtihad sesuai kondisi zaman kita, memperbarui pembahasan mereka agar sesuai realitas modern, dan membuat korelasi yang dinamis antara berbagai unsur yang bisa memengaruhi cara pikir dan karakter ilmiah modern.
5. الاغترار (terperdaya oleh diri sendiri). Pola pikir ini adalah cara pikir orang yang bukan ahli pada sebuah bidang ilmu, karena ia terperdaya oleh derajat pengetahuan yang ia anggap telah mencapai puncak spesialisasi ilmu, sehingga ia merasa bisa mandiri dan tidak perlu lagi belajar atau menimba pengalaman dari para ahli dan ulama yang telah menguasai ilmu ini sesuai unsur sistem pendidikan lengkap, yaitu: pelajar, pengajar, kitab, manhaj dan lingkungan ilmiah.
Lima unsur penting ini pun tidak bisa terlepas dari faktor bakat alami, seperti kesiapan, kecerdasan dalam menghubungkan pengetahuan dengan objektif, kemauan kuat yang mendorongnya untuk mencurahkan seluruh kemampuannya agar terus berada di jalan ini, menggali pengetahuan dan mendalami ilmu yang telah ia jadikan fokus pendidikannya.
Spesialisasi ilmiah membuat sang pencari ilmu memiliki naluri ilmu dan kode etik ilmiahnya, serta dapat mengoptimalkan bakat dan kemampuannya.
Spesialisai ilmiah dengan cara mempelajari dan menyelami ilmu dalam waktu yang lama menjadikannya layak dan mampu menerapkan nya pada realitas dengan sempurna.
Pola pikir ini (al-Ightirār) adalah pola pikir yang PALING BERBAHAYA, karena ia menipu. Sehingga pemilik cara pikir ini mengira ia telah mendapatkan ilmu syariat, padahal ia masih belum menyempurnakan alat-alat yang membuatnya layak untuk sampai pada derajat ulama pembaharu (turāts agar sesuai dengan zaman modern ini).
Foto Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum'ah.
Maulana Syaikh Ali Jum’ah, Ulama Al Azhar yang juga merupakan mantan Mufti Mesir
(Tārīkh Ushūl al-Fiqh, hal: 135-137)
Read More

AWAL IMSAK DAN KEYAKINAN TERBITNYA FAJAR

May 16, 2018 0

Pada bagian ijma‘ ulama mengenai fajar ini yang dilengkapi dengan keterangan riwayat dari para sahabat Nabi, terlahirlah hukum-hukum fikih yang berbicara tentang kasus keragu-raguan dalam antara dua pilihan masalah atau lebih. Dan dari itu semua terlahir jugalah sebuah kaedah fikih, yaitu :

اليقين لا يُزال بالشك
Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan
Dari sini dapat dipahami bahwa suatu amalan harus berlandaskan keyakinan, bukan keragu-raguan. Itulah prinsip yang diajarkan agama bagi pemeluknya agar hasil dari amalan itu tidak membuahkan kerapuhan dan waswas dalam diri pengamalnya lantaran dilandasi keragu-raguan.

Berikut adalah beberapa cuplikan dari ayat dan atsar para sahabat serta kesepakatan para ulama terkait menghentikan makan sahur harus dilandasi dengan keyakinan terbitnya fajar sebagai tanda dimulainya waktu berpuasa.

Allah subhânahu wa ta‘âlâ berfirman ;

وكلوا واشربوا حتى تيبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر
Makan dan minumlah hingga fajar (shâdiq) telah tampak jelas olehmu” (Surat al-Baqarah, 187)
Ayat di atas menjelaskan bahwa makan dan minum dihentikan ketika waktu fajar subuh telah tiba, sehingga orang yang pada malam itu telah berbuka memulai lagi untuk menahan dari dari makan dan minum.

1. Abu Bakr al-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata :

إذا نظر رجلان إلى الفجر فشك أحدهما فليأكلا حتى يتبين لهما
Apabila dua orang laki-laki melihat ke arah fajar, lalu salah satunya ragu (apakah itu fajar atau tidak) maka hendaklah keduanya tetap makan hingga fajar itu benar-benar tampak
(Riwayat Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf)

2. Aun Ibn Abdillah (w.119H) meriwayatkan secara mursal, ia berkata :

دخل رجلان على أبي بكر وهو يتسحر، فقال أحدهما: قد طلع الفجر، وقال الآخر: لم يطلع بعد، قال أبو بكر: كل قد اختلفَا
Ada dua orang yang datang ke tempat Abu Bakr ketika ia sedang sahur. Lalu salah satunya mengatakan fajar telah terbit namun yang satu lagi mengatakan belum. Abu Bakr menimpali : Makanlah, kalian berdua masih berbeda pendapat
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf)

3. Riwayat al-Hasan al-Bashri dari Umar Ibn al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu secara mursal:

قال عمر : إذا شك الرجلان في الفجر فليأكلا حتى يستيقنا
Umar berkata : Apabila dua orang laki-laki ragu tentang terbit fajar maka tetaplah keduanya makan hingga yakin fajar telah terbit
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf. Al-Hasan al-Bashri lahir saat dua tahun menjelang kepemimpinan Umar Ibn al-Khatthab usai yang ditandai dengan wafatnya beliau)

4. Makhul dari Abdullah Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma :

عن مكحول قال: رأيت ابن عمر أخذ دلوا من زمزم، فقال لرجلين: أطلع الفجر؟ فقال أحدهما: لا، وقال الآخر: نعم، قال: فشرب
Dari Makhul, ia berkata : Aku melihat Ibn Umar mengambil segayung air zamzam, kemudian ia bertanya kepada dua orang laki-laki apakah fajar telah terbit? Yang satu menjawab belum dan yang lain menjawab sudah. Lalu Ibn Umar tetap minum
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

5. Abdullah Ibn al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata :

أحل الله لك الشراب ما شككت حتى لا تشك
Allah menghalalkan minum bagimu selama kamu masih ragu (waktu fajar) hingga akhirnya kamu yakin
(Riwayat Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf)

6. Riwayat ‘Atha’ dari Abdullah Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma :

عن عطاء عن ابن عباس قال لغلامين له، وهو في دار أم هانئ في شهر رمضان وهو يتسحر، فقال أحدهما: قد طلع الفجر، وقال الآخر: لم يطلع، قال: أسقياني
Diriwayatkan oleh Atha’ dari Ibn ‘Abbas bahwa ia menanyakan perihal fajar kepada dua pembantunya ketika sedang sahur di rumah Ummu Hani’ pada bulan Ramadhan. Salah satunya menjawab sudah terbit dan yang lain menjawab belum. Kemudia Ibnu Abbas meminta minum kepada keduanya
(Riwayat Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

Terkait azan Ibnu Ummi Maktum sebagai pertanda larangan melanjutkan makan sahur, di dalam Syarh Shahîh al-Bukhârî, Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Khalaf Ibn Abdil Malik Ibn Batthal (w.449H):

للإجماع أن الصيام واجب من أول الفجر
Karena ada ijma bahwa berpuasa wajib dilaksanakan mulia awal terbit fajar
(Ibn Batthal, Syarh Shahîh al-Bukhârî, vol.2, hal.248)

Berikut pandangan para ulama terkait imsak permulaan puasa;

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Habib al-Bashri al-Mawardi (w.450H);

وكما ذهب حذيفة بن اليمان إلى أن أول الصوم إسفار الصبح فلم يعتدّوا بخلافه وأجمعوا على أنه من طلوع الفجر
Dan sebagaimana Hudzaifah Ibn al-Yaman mengatakan bahwa awal berpuasa adalah dengan datangnya waktu subuh, tidak ada satupun sahabat lain yang berbeda dengannya, dan mereka ijma bahwa puasa dimulai semenjak terbit fajar
(Al-Mawardi, al-Hâwî al-Kabîr Syarh Mukhtashar al-Muzanî, vol.16, hal.213)

Al-Imam Abu ‘Amr Yusuf Ibn Abdillah Ibn Muhammad Ibn Abdil Barr al-Qurthubi (w.463H);

السحور لا يكون إلا قبل الفجر ... وهو إجماع لم يخالف فيه إلا الأعمش فشذ ولم يعرج على قوله، والنهار الذي يجب صيامه من طلوع الفجر إلى غروب الشمس، على هذا إجماع علماء المسلمين فلا وجه للكلام فيه
Waktu sahur adalah sebelum fajar...dan itu berdasarkan ijma yang tidak ada yang menyelisihi selain al-A‘masy (w.147H), akan tetapi pendapatnya (dalam hal ini) Syâdz dan tidak dapat dijadikan pegangan. Waktu terang wajib berpuasa dimulai semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Hal ini telah menjadi ijma para ulama, sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi
(Ibn Abdil Barr, al-Tamhîd Limâ Fî al-Muwattha’ Min al-Ma‘ânî wa al-Asânîd, vol.10, hal.62)
وقد أجمعوا أن الصيام من أول الفجر
Dan mereka telah ijma bahwa berpuasa dimulai semenjak awal fajar terbit
(Ibn Abdil Barr, al-Istidzkâr, vol.1, hal.406)

Al-Imam Abu al-Walid Sulaiman Ibn Khalaf Ibn Sa‘d Ibn Ayyub al-Baji (w.474H);

ولا خلاف أنه لا يجوز الأكل بعد طلوع الفجر
Tidak ada perbedaan pendapat ulama dalam larangan makan setelah terbit fajar
(Al-Baji, Al-Muntaqâ Fî Syarh al-Muwattha’, vol.1, hal.168).

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya Ibn Syarf al-Nawawi (w.676H);

ولا يتعلق بالفجر الأول الكاذب شيء من الأحكام بإجماع المسلمين ... هذا الذي ذكرناه من الدخول في الصوم بطلوع الفجر وتحريم الطعام والشراب والجماع به هو مذهبنا ومذهب أبى حنيفة ومالك وأحمد وجماهير العلماء من الصحابة والتابعين فمن بعدهم
Tidak ada kaitan hukum dengan fajar kadzib (pertama) berdasarkan ijma‘ umat muslim... Kemudian mengenai dimulainya puasa dengan sebab terbit fajar, haramnya makanan, minuman dan jima‘, itu adalah mazhab kami (syafi‘iyyah)), mazhab Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan jumhur sahabat, tabi‘in dan orang-orang setelah mereka
(Al-Nawawi, al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzzab, vol.6, hal.305)

Wallâhu A‘lam

Read More

KUIS BERKAH RAMADHAN

May 16, 2018 0
Tes pengetahuan Anda tentang Ramadhan disini!
Foto Grosir Kaos Anak Karinda.

KUIS BERKAH RAMADHAN 1
Read More

Tuesday, May 15, 2018

HUKUM SANTAP SAHUR

May 15, 2018 0


Laksanakanlah sahur, karena mengandung keberkahan
Begitulah sabda yang pernah diutarakan oleh Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim untuk menyuruh umatnya untuk bersahur sebelum berpuasa karena keberkahan ada di dalamnya. Bila diamati, keberkahan tersebut dapat berupa hal-hal berikut ;

1. Memberikan kemampuan tambahan bagi orang yang berpuasa pada siang hari hingga saatnya berbuka.
2. Dapat meringankannya melaksanakan tugas saat berpuasa dari merasakan rasa lapar dan haus yang cukup berat.
3. Mengurangi potensi malas di siang hari lantaran kekurangan energi akibat tidak ada zat yang cukup untuk dicerna oleh organ.
4. Memberikan kestabilan organ pencernaan dan kadar gula darah.
5. Dan yang tidak kalah penting adalah sebagai bentuk upaya melaksanakan anjuran Nabi Muhammad shallallâhu ‘alahi wa sallam.
6. Bahkan dalam satu riwayat juga disebutkan bahwa sahur adalah waktu diijabahnya doa disamping memang masuk sepertiga malam terakhir.
Keterangan dari para sahabat Nabi;

عن أبي الوليد عبد الله بن الحارث الأنصاري أن نفرا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قالوا تسحروا ولو بجرع من ماء
Dari Abi al-Walîd Abdullâh Ibn al-Hârits al-Anshârî, bahwa beberapa sahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berkata; Bersahurlah meskipun hanya seteguk air
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.227, no.7599)

Hafshah Ummul Mu’minin radhiyallâhu ‘anhâ;

عن حفصة قالت: تسحروا ولو بشربة من ماء، فإنها قد ذكرت فيه دعوة
Dari Hafshah, ia berkata; Bersahurlah meskipun seteguk air, karena pada saat sahur itu doa dikabulkan
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushanaf, vol.3, hal.8, no.9012)

Abu Darda’ radhiyallâhu ‘anhu;

عن أبي الدرداء قال: من أخلاق النبيين الإبلاغ في السحور
Dari Abu Darda’, ia berkata bahwa di antara akhlak para Nabi adalah mendekatkan momen sahur dengan waktu fajar
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.9, no.9014)

Statement Ijma oleh ulama;

Al-Imâm Abû Bakr Muhammad Ibn Ibrâhîm Ibn al-Mundzir al-Naisabûrî (w.318H);
وقد أجمعوا على أن ذلك مندوب مستحب، ولا إثم على من تركه
Dan mereka telah ijma‘ bahwa sahur itu sangat disunnatkan, dan yang tidak melakukannya tidak berdosa
(Ibn al-Mundzir, al-Isyrâf ‘Alâ Madzâhib al-‘Ulamâ’, vol.3, hal.120)

Al-Imâm al-Qâdhî Abû al-Fadhl ‘Iyâdh Ibn Mûsâ Ibn ‘Iyâdh Ibn ‘Amrûn al-Yashûbî (w.544H);

وأجمع الفقهاء على أن السحور مندوب إليه ليس بواجب
Ulama fikih berijma‘ bahwa melaksanakan sahur hukumnya sunnat, bukan wajib
(Al-Qadhi ‘Iyadh, Ikmâl al-Mu‘lim Bi Fawâ’id Muslim, vol.4, hal.33)

Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);

في استحبابه ولا نعلم فيه بين العلماء خلافا
Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat ulama dalam kesunnahan sahur
(Ibn Qudâmah al-Maqdisî, al-Mughnî Fi Syarh Mukhtashar al-Kharqî, vol.3, hal.108)

Wallâhu A‘lam

Read More