TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Thursday, April 26, 2018

HUKUM BERAMAL DENGAN HADITS DHA’IF

April 26, 2018 0

Kita seringkali mendengarkan nasehat dari para juru nasehat atau ceramah dari salah seorang ustadz atau khutbah dari seorang khatib yang mengandung hadits-hadits dha’if.

Lalu bagaimana kita harus bersikap? Apalagi di sisi lain kita mengetahui adanya hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:
مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُـتــَـعَمـِّدًا فَلْيــَـتـَـبَوَّ أْ مَـقْعـَدَهُ مِنَ النـــَّـارِ . متفق عليه

“Barang siapa yang berdusta atas (nama) ku dengan sengaja maka hendaknya menempati tempat duduknya di neraka” (Muttafaqun alaih).

Terhadap hadits diatas seorang ulama hadits, ibnu Hibban telah berkata dalam Muqaddimah kitab shahihnya pasal “Wajibnya masuk neraka seseorang yang menisbatkan sesuatu (perkataan maupun perbuatan) kepada Al Musthafa Shallallahu ‘Alaihi Wasallam padahal orang tersebut tidak mengetahui keshahihan hadits tersebut”. kemudian beliau (Ibnu Hibban) mengutip dua hadits yang menunjukkan kebenaran perkataannya:
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
مَنْ قَالَ عَلَيَّ مَالَمْ أَقُلْ فَلْيـَتـَبَوَّ أْ مَـقْـعـَدَهُ مِنَ النــَّارِ . رواه ابن حبان

“Barangsiapa yang berkata atas (nama) ku apa yang aku tidak katakan, maka hendaknya dia menempati tempat duduknya di Neraka” (HHR. Ibnu Hibban)

Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘Anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
مَنْ حَدَّثَ عَنـِّي بـــِحَدِ يْثٍ يُرَى أَنـــَّهُ كَذِبٌ فَهُـوَ أَحَدُ كَاذِ بـَـيْنِ . رواه مسلم

“Barangsiapa yang mengucapkan suatu hadits dan dia sangka atau duga bahwa hadits ini adalah dusta maka dia satu dari dua pendusta”. (HR. Muslim).
Image result for beramal dengan hadis dhaif buya yahya

Hukum Mengamalkan Hadits Dha’if.


Para ‘ulama kita –rahimahullahu- telah berikhtilaf dalam hukum meriwayatkan dan mengamalkan Hadits dha’if. Ikhtilaf ‘ulama ini terbagi tiga:

Pertama : bahwa hadits dha’if itu tidak boleh diamalkan secara mutlak (sama sekali) baik dalam masalah hukum, aqidah, targhib watarhib dan lain-lainnya. Yang berpegang pada pendapat ini adalah sejumlah besar dari kalangan Ibnu Taimiyyah, Imam Ibnu Hazm –rahimahullahu- dan lain-lain.

Kedua : Boleh mengamalkan hadits dha’if dalam bab Fadhoilul A’mal, Targhib (menggemarkan melakukan suata amalan), Tarhib (mempertakuti diri mengerjakan suatu amal) namun tidak diamalkan dalam masalah aqidah, dan hukum. Yang memegang pendapat ini adalah sebagian ahli fiqh dan ahli hadits seperti Al Hafidz Ibnu Abdil Barr, Al Imam Nawawi, Ibnu Sholah –rahimahullahu-.


Menurut imam An-Nawawi dan sebagian ulama hadits dan para fuqaha: kita boleh mempergunakan hadits yang dhaif untuk fadha ‘ilul a’mal, baik untuk yang bersifat targhib maupun yang bersifat tarhib, yaitu sepanjang hadits tersebut belum sampai ke derajat maudhu (palsu). Imam An-Nawawi memperingatkan bahwa diperbolehkannya hal tersebut bukan untuk menetapkan hukum, melainkan hanya untuk menerangkan keutamaan amal, yang hukumnya telah ditetapkan oleh hadits shahih, setidak-tidaknya hadits hasan.
1. Fadhailul ’amal (Keutamaan-Keutamaan Amal) : Yaitu hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan-keutamaan amal yang sifatnya sunnah, yang sama sekali tidak terkait dengan masalah hukum yang qath’i, juga tidak terkait dengan masalah aqidah dan juga tidak terkait dengan dosa besar.

2. At-Targhiib (Memotivasi) : Yaitu hadits-hadits yang berisi pemberian semangat untuk mengerjakan suatu amal dengan janji Pahala dan Surga.
3. At-Tarhiib (Menakut-nakuti) : Yaitu hadits-hadits yang berisi ancaman Neraka dan hal-hal yang mengerikan bagi orang yang mengerjakan suatu perbuatan.
4. Al-Qashas : Kisah-kisah Tentang Para Nabi Dan Orang-Orang Sholeh.
5. Do’a Dan Dzikir : Yaitu hadits-hadits yang berisi lafazh-lafazh do’a dan dzikir.

Ketiga : Boleh mengamalkan hadits dha’if secara mutlak jika tidak ditemukan hadits yang shahih atau hasan.
Diriwayatkan dari sebagian besar fuqaha’ yaitu kebolehan beramal dengan hadits dha’if secara mutlak, jika tidak ditemukan hadits selainnya dalam sebuah tema atau pembahasan. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hanifah, Syafi’I, Malik dan Ahmad. Meskipun khusus untuk imam Ahmad, pendapat seperti ini bisa dipahami karena menurut beliau pembagian hadits adalah Shahih dan Dha’if saja.

Kesimpulannya

Sebagaimana ketentuan dengan hadits nabawi yang mempunyai banyak tingkatan dan karakter yang berbeda-beda seperti shahih, hasan, dan dha'if. Hadits shahih mempunyai tingkatan tertinggi dalam pembagian hadits nabawi, kemudian hasan dan pada akhirnya dha'if maka hadits dha'if juga terdapat sangat banyak pembagian. Hadits-hadits dha'if tidak semua boleh diamalkan dan juga tidak semua harus ditinggalkan seperti kekeliruan pemahanan sebagian orang. Imam al-Bukhari adalah imam muhaqqiq dalam bidang hadis beliau mengarang kitab Shahih Bukhari yang di dalamnya terdapat hadits-hadits shahih, namun beliau juga mengarang kitab Adabul Mufrad yang didalamnya terdapat hadist dha'if, hal ini membuktikan bahwa hadits dha'if tidak mutlak ditinggalkan tetapi boleh juga diamalkan. Diantara ketentuan beramal dengan hadis dhaif adalah:

1. Boleh beramal dengan hadis dhaif pada fadhail amal, untuk mengambil nasehat, dan tentang kisah-kisah bukan pada masalah i’tiqad dan bukan pada hukum-hukum seperti halal-haram.
2. Hadits yang dhaif tersebut bukanlah terlalu dhaif seperti perawinya orang yang banyak kebohongan.
3. Hadits tersebut masih dalam katagori dalil-dalil yang umum.
Read More

Tuesday, April 24, 2018

REFERENSI SISTEM POLITIK DAN KONSTITUSI ISLAM (SIYASAH SYAR’IYYAH)

April 24, 2018 0

Banyak polemik yang terjadi terkait dengan sistem konstitusi dan politik Islam, ada yang bilang cerminan sempurna Negara Islam adalah Negara Islam Madinah yang pernah berdiri selama lebih kurang 30 tahun, ada juga yang mengatakan sistem Negara Islam adalah yang berdiri di madinah 1435 tahun lalu dan berakhir di Turki 90 tahun yang lalu. Meskipun pada akhirnya kita harus memisahkan pengertian sistem pemerintahan, konstitusi dan politik Islam, sehingga kita bisa menyimpulkan sebuah kesimpulan yang objektif, paling tidak cukup komprehensif sebagai sebuah kajian.
idealisme politik islam

Sejak munculnya berbagai gerakan dan ajakan mendirikan Negara Islam, banyak teman-teman yang bertanya, “Ini ngajak mendirikan Negara Islam, emang Negara Islam itu seperti apa?”, “Gila, kalau Negara Islam kayak di video-video youtube, main penggal-penggal kepala, gimana nasib kami yang non-muslim?”, “Emang bedanya apa antara Negara Islam dengan Negara kita hari ini?”, dan seabrek pertanyaan lainnya. Yang pasti, Negara Islam yang sempurna tidak akan berdiri tanpa muslim-muslim yang baik.

Menjawab pertanyaan sekitar “Bagaimana sebenarnya Negara Islam itu”, aku ingin mengajak kita semua untuk mengkaji bagaimana konsep Negara Islam, sistem konstitusi dan sistem politiknya sebagaimana yang telah diformulasikan oleh ulama-ulama Islam, baik yang lama maupun yang baru. Karena aku yakin, “manusia itu memusuhi apa yang tidak diketahuinya”, “tak kenal makanya tak sayang”, mari kita kenalan dulu dengan Negara Islam versi muslim-muslim terbaik yang pernah dilahirkan rahim-rahim umat Islam, jangan-jangan sistem itu sama seperti Negara kita sekarang, berarti kita hanya tinggal melanjutkan dan memperbaiki kekurangan, tanpa harus menumpahkan darah dan menyingkirkan pihak yang tidak se-ide dengan kita.

Aku percaya kalau sebuah ilmu itu akan berkembang kalau dikaji, dia tidak akan statis, jangankan ilmu, kalau statis air saja bisa lumutan, apalagi ilmu yang hanya bisa berkembang kalau ada pemikiran dan otak-otak cemerlang. Makanya cukup terasa bahwa siyasah syar’iyyah itu sangat tertinggal, karena jarang ada yang mengkaji, “karena tidak ada prakteknya, ngapain buang-buang waktu mengkajinya”. Sebut saja sistem ekonomi Islam yang sangat banyak kajiannya, lihat bagaimana dia berkembang.

Berikut beberapa referensi kajian tentang siyasah syar’iyyah yang bisa dijadikan bahan kajian dan pengayaan sehingga kita benar-benar memiliki sebuah pandangan yang jelas tentang sistem Negara, sistem politik dan konstitusi Islam.

1.    Ta’liq ala Siyasah Syar’iyyah fi Ishlahi Raiyyah, karya sheikhul Islam imam Ibnu Taimiyyah.
2.    Al Ghiyatsi, karya Imam Juwainy. Cetakan paling bagus adalah terbitan Dar Minhaj, yang ditahqiq (revised) oleh prof. Abdel Aziem Deeb. Ini adalah buku terbagus dan paling komprehensif yang membahsa tentang sistem politik dan konstitusi Islam.
3.    Ahkam Sultaniyyah wal Wilayah Diniyyah, karya al Qadhy imam Mawardy. Cetakan terbaik adalah yang ditahqiq oleh Khaled Abdel Latef. Buku ini adalah pioneer bagi penulis-penulis tentang siyasah syar’iyyah yang datang setelah imam Mawardy. Banyak orientalis “mencuri” isi buku ini tanpa merefer kepada sang imam, hal tersebut diketahui oleh peneliti-peneliti yang objektif saat ini.
4.    Ahkam Sultaniyyah, karya Qadhy imam Abu Ya’la. Buku ini hampir mirip dengan karya imam Mawardy, hanya saja imam abu ya’la tidak mengkomparasi dengan mazhab-mazhab lain, hanya mazhab hambali saja.
5.    Nidham Siyasi Islami Muqaranan Biddaulah Qanuniyyah, karya prof. Munir Humaid Bayyati. Buku ini adalah yang terbagus dan terlengkap yang ditulis oleh ulama kontemporer. Dicetak oleh Dar Nafaes. Buku ini adalah disertasi prof.Munir yang ditulis selama 9 tahun!
6.    Imamah Uzma Inda Ahli Sunnah wal Jamaah, karya prof. Abdullah bin Umar Damijy. Buku ini adalah Thesis prof. Abdullah yang diuji oleh sheikh Sayyid Sabiq.
7.    Dirasah fil Manhaj Islam Siyasi, karya Ustazuna Qadhi sheikh Sa’dy Abu Jaib. Beliau adalah mantan Hakim Agung Suriah, sehingga bukunya lebih cenderung ke ranah praktis.
8.    Mushannafat Nuzum Islamiyyah, karya prof. Musthafa Kamal.
9.    Nidham Siyasi Islamy, karya prof. Abdul Aziz Khayyath. Beliau adalah mantan Menteri Agama Kerajaan Jordania.
10. Khasais Tasyri’ Islamy fis Siyasah wal Hukm, karya ustazuna prof. Fathy Durainy.
11. Ahliyyah Wilayah Sulthaniyyah fil Fiqh al Islamy, karya prof. Abdullah bin Abdul Muhsen.
12. Ahlul Hilly wal Aqdy, karya prof. Abdullah bin Ibrahim Turaiqy.
13. Daur Ahlil Hilly wal Aqdy, karya prof. Fauzy Khalil. Buku ini adalah thesis beliau.
14. Nadhariyyah Siyasiyyah Islamiyyah fi Huquq Insan Syar’iyyah, karya prof. Muhammad Ahmad Mufty dan prof. Samy Shaleh Wakil. Buku ini relatif kecil, tapi sangat bagus membahas tentang masalah HAM.
15. Istifta’ Sya’by Baina Anzimah Wadiyyah wa Syariah Islamiyyah, karya prof. Majid Rageb Hilo.
16. Al Intikhabat fil Fiqh Islamy, karya prof. Fahd bin Shaleh Ajlan.
17. Taddudiyyah Hizbiyyah fi Zilli Syariah Islamiyyah, karya Aly Jaber al Abd. Thesis penulis, yang diterbitkan oleh Darussalam Mesir.
18. Raqabatul Ummah Alal Hukkam, karya prof. Aly Muhammad Husnayn. Diterbitkan oleh Maktab Islamy, aslinya adalah disertasi penulis.
19. Siyasah Syariyyah Halata Ghiyab Hukm Islamy, karya prof. Ahmad Muhyiddin Shaleh. Disertasi penulis, yang diterbitkan oleh Darussalam Mesir.
20. Nadhariyyah Siyasiyah min Madhur Islamy, karya prof. Saifuddin Abdul Fattah.
21. Ahkam Ahli Zimmah, karya imam Ibnu Qayyim al Jauziyyah. Cetakan yang paling bagus adalah terbitan Darul Ulum Lilmalayin, tahqiq prof. Subhy Shaleh. Buku ini adalah referensi terlengkap yang membahas tentang hak dan kewajiban warga Negara non-muslim di Negara Islam.
22. Ahkam Zimiiyyin wal Musta’minin, karya prof. Abdul Karem Zaidan. Buku ini juga membahas tentang hak dan kewajiban non-muslim dan pencari suaka di Negara Islam. Aslinya buku ini adalah disertasi prof. Zaidan di universitas Cairo.
23. Al Madkhal Ila Fiqh Daulah fil Islam, karya Dr. Muhammad Ilmy.
24. Nidham Dustury fil Islam Muqaranan Binnudhum Masriyyah, karya Dr. Musthafa Kamal Wasfy.
25. Mabadi Nidhamul Hukmi fil Islam, karya Dr, Fuad Muhammad Nady.
26. Riasatu Daulah fil Fiqh al Islamy, karya Dr. Muhammad Rafat Usman.
27. Al imamah fil Islam, karya Dr. Abdullah muhsin Turaiqy.
Image result for politik islam
Mungkin ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak referensi tentang siyasah syari'yyah yang ditulis oleh ulama-ulama Islam, yang menurutku bisa dijadikan rujukan untuk siapapun yang tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh tentang sistem pemerintahan, kontitusi dan politik dalam Islam. Sehingga kita bisa memahami risalah Tuhan dengan benar. Niat dan semangat saja tidak cukup untuk membela Islam, perlu ilmu juga. Kamu tidak akan bisa beragama dengan baik kalau tidak berilmu, karena Tuhan tidak bisa disembah dengan kebodohan.

Read More

Saturday, April 14, 2018

MI'RAJ TIDAK MENUNJUKKAN ALLAH BERTEMPAT DI LANGIT

April 14, 2018 0
Tarbiyah.OnlineBeberapa teman dari kalangan Salafi/ Wahabi menuliskan beberapa status di berbagai sosial media yang mereka punya dengan makna yang hampir senada, "Isra' dan Mi'raj diperingati, tapi Allah di Langit diingkari."


Nah, dengan diketemukannya beberapa suara dan tulisan yang menurut kami merupakan sebuah syubhat baru -sejauh yang kami ketahui- yang disasarkan oleh teman-teman Salafi ini, teman-teman dari santri Aswaja, terutama komunitas pemuda Raisul Fata dan At-Thalib meminta kepada kami untuk menuliskan sedikit tulisan, bisa berupa pengumpulan kutipan dalil-dalil, perkataan ulama atau pun juga bantahan analogi. Karena syubhat baru ini dinilai perlu direspon walau selakadar.

Pertama, hal yang ingin kita sampaikan adalah, kita belum menemukan dalil tentang mukjizat peristiwa Isra' dan Mi'raj digunakan sebagai dalil yang menyatakan Allah SWT di langit.

Klaim atau syubhat ini tidak diketemukan di zaman sebelumnya -sejauh pengetahuan kami-, jika tidak pasti ia telah menjadi perbincangan ulama dalam memberi bantahan. Selama ini kaum Salafi/Wahabi selalu berkutat dengan dalil Surah Thaha ayat 5 dan hadits Nabi tentang seorang wanita yang ditanya oleh Nabi tentang Allah SWT lalu dijawab di Langit.

Mengenai klaim tafsiran berdalilkan Ar-Rahman 'Alal 'Arsyi istawa dan hadits tersebut, sungguh telah diuraikan dengan sangat panjang lebar oleh Ulama Ahlussunnah Al Jama'ah, baik dari sisi bahasa, perbandingan serta penggabungan berbagai ayat dan hadits yang dijadikan dalil, dengan takwilan yang tidak mengotori sifat kesucian Allah SWT.
 
Kedua, jika memang syubhat tersebut masih terus disasarkan kepada kaum muslimin secara liar, maka perlu kita tanggapi sedikit. Bahwasanya, dalam sejarah peristiwa luarbiasa yang disebut dengan Isra dan Mi'raj, tidak ada satupun ulama yang menyatakan Allah berada di Sidratul Muntaha (di luar lapisan langit ketujuh, tempat tertinggi yang bahkan Jibril, Mikail dan Israfil pun tidak bisa mendekatinya). Melainkan itu adalah tempat dimana Nabi SAW menerima wahyu tentang syari'at shalat 5 waktu dalam sehari semalam.

Adapun riwayat yang menceritakan tentang bolak-baliknya Nabi Muhamad SAW ketika bernegosiasi (dari 50 waktu awalnya menjadi 5 waktu) di langit ketiga ketika menjumpai Nabi Musa AS, sungguh tidak bisa serta merta dijadikan dalil Allah bertempat. Melainkan, Rasulullah kembali ke tempat yang mulia itu, karena disanalah tempat yang seharusnya Nabi Muhammad SAW menerima wahyu berupa (belas kasih sifat Rahiim Allah) jawaban atas kegundahan dan permintaan hati Rasulullah SAW demi umatnya.


Kenapa demikian?
Hal ini senada dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Musa AS ketika naik ke atas bukit Tursina yang amat sangat terjal, lalu memohon kepada Allah untuk membuka hijab pandangannya (Musa AS) agar bisa melihat wujud Allah SWT (hingga detail riwayat, gunung meleleh dalam sekejap karena tidak mampu menahan cahaya Allah yang Agung padahal masih terhijab dengan puluhan hijab (ghaib) Musa AS mendapatkan 10 ajaran utama dalam syari'atnya). Riwayat dan kisah Nabi Musa AS yang berbicara dengan Allah SWT di bukit Tursina, tidak menjadikan Tursina sebagai tempat yang ditempati oleh Allah SWT.

Sama halnya juga dengan kisah Nabi Ibrahim yang disebutkan dalam Al Quran kisah agungnya, ketika ia ditanya hendak kemana, ia menjawab hendak bertemu dengan Rabb nya, Allah SWT. Padahal, pada pandangan kasat mata, ia beranjak ke Palestina, dimana Baitul Maqdis berada saat ini. -Q.S Ash-Shaffat:99-. Bukankah Baitul Maqdis juga tidak dikatakan dimana Allah bertempat dan bersemayam. Demikian juga dengan Ka'bah Baitullah yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai rumah Allah. Dan rumah adalah tempat dimana penghuninya tinggal disana.

Demikian, pemaknaan terhadap dalil, harus mengacu kepada kaidah memaknai dalil -tafsir- yang tepat. Ia tidak bisa berada sendiri, atau direka-reka sesuka hati.

Ada masanya, akal bisa dijadikan dalil. Namun dalil 'aql (akal) dituntut tidak boleh bertentangan dengan dalil naql (khabar: ayat quran dan sunnah). Dalam keilmuan ahlussunnah wal jama'ah kajian tauhid dan kalam telah dirumuskan dengan sangat rapi tanpa cacat melalui Sifat 20 atau I'tiqad 50, dimana akal dan khabar berjalan beringan dan saling menguatkan.

Maka dari itu, syubhat yang menyatakan Isra' dan Mi'raj adalah dalil bagi Allah mengambil tempat di langit telah tertolak dengan ayat-ayat yang menceritakan mukjizat Nabi Musa AS di Tursina, dan perjalanan Nabi Ibrahim AS ke Baitul Maqdis.

Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah meyakini Allah Ada Tanpa Bertempat. Karena baginya Laitsa Kamitslihi Syaiun (Tidak Serupa Bagaimana di (sesuatu pun) dengan apa pun)

Wallahu 'alam bish-shawab.
Read More

MEMAKNAI MUKJIZAT PERISTIWA ISRA' DAN MI'RAJ

April 14, 2018 2
Tarbiyah.OnlineHampir seluruh umat muslimin tahu tentang kisah isra dan mi'raj ini, atau setidaknya pernah mendengar meski sekali saja dalam hidupnya. Yaitu, perjalanan di malam hari dari kota mekah (mesjidil haram) ke yarussalem (masjidil aqsa). Dan perjalanan menuju sidratul muntaha (menembus lapis langit ke tujuh) dengan mengendarai satu makhluk bernama Buraq yang ukurannya sedikit lebih besar dari keledai, kecepatannya sejauh mata memandang. Rasulullah Muhammad SAW ditemani malaikat Jibril AS sepanjang perjalanan, kecuali ketika ia sampai di Sidratul Muntaha.

Dimana dalam perjalanan tersebut Rasul SAW dibebankan syari'at shalat 5 waktu sehari semalam, di tempat yang sangat istimewa. Dimana Malaikat dan Jin sekalipun tak dapat menembus hijab tersebut. Yaitu sidratul muntaha.

Kisah Isra' dan Mi'raj ini diterangkan oleh Allah dalam firman-Nya, Surah Al Isra dimulai dari ayat pertama. Demikian pula dalam hadits-hadits shahih yang diriwayatkan secara panjang dalam kitab shahih bukhari dan muslim.

Di siang hari, Rasul SAW bercerita tentang kisahnya di hadapan kaum Quraiys, namun banyak diantara mereka yang memungkiri, mendustakan apa yang dikatakan oleh Nabi SAW.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, Rasulullah Saw bersabda:

لمّ كذّبتني قريش قمت فى الحجر فجعلّى الله لى بيت المقدس فطفقت أخبرهم عن ايته وانا انظرو اليه.
"Ketika kaum Quraisy mendustakan aku. Aku berdiri di Hijr Ismail, lalu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis padaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang tiang-tiangnya daripada apa yang aku lihat."

Ketika berita ini didengar oleh kaum Quraiys. Mereka datang kepada Abu Bakar dan menceritakan hal tersebut dengan harapan Abu Bakar akan ikut mendustakan apa yang Muhammad sampaikan seperti hal keadaan mereka lakukan. Namunya ternyata Abu Bakar menjawab, "Jika memang benar Muhammad yang mengatakan hal tersebut, maka dia telah berkata benar, dan sungguh aku akan membenarkannya lebih dari pada itu". Ini pula yang menjadikan Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq (membenarkan Nabi SAW secara mutlak).

Setelah peristiwa Isra dan Mi'raj, pada pagi harinya malaikat Jibril turun kepada Nabi SAW di setiap waktu-waktu tertentu sebagai penanda masuk dan batas waktu shalat. Dan diajarkannya shalat sebagaimana shalat yang disyari'atkan kepada Muhammad SAW, setelah sebelumnya ibadah/ ritual shalat yang dilakukan oleh Nabi SAW adalah mengikuti syari'at shalat Nabi Ibrahim AS.

Ibrah dari Peristiwa Mukjizat Isra dan Mi'raj yang dapat kita petik antara lain:

1. Ketika kita menyebutkan Isra' dan Mi'raj sebagai mukjizat, maka banyak perihal logika tertembusi. Kejadian luar biasa yang ada pada Nabi SAW dan Para Rasul AS lainnya disebut dengan Mukjizat.
Jumhur ulama (hampir semuanya) mengatakan Perjalanan yang dilakukan pada malam itu dilakukan dengan jasad dan ruh, maka perjalanan tersebut juga bukan sebuah mimpi, sebagaimana yang disebutkan oleh para orientalis dan pemuja logika. Karena Nabi SAW mampu menceritakan sebegitu detailnya peristiwa tersebut dan dirasakan oleh tubuhnya yang mulia menembusi alam ruh.
Mustahil? Tidak ada yang mustahil  bagi Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al An'am ayat 109: "...Katakanlah,"Sesungguhnya, mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah....".

Dalam Syarhul Muslim, Imam Nawawi berkata, "Pendapat yang benar menurut kebanyakan kaum muslimin, ulama salaf, fuqaha, ahli hadits dan ilmu tauhid adalah bahwa Nabi SAW di-Isra dan Mi'raj-kan dengan ruh dan jasadnya. Semua nash menunjukkan hal ini dan tidak boleh ditakwil zahirnya kecuali dengan adanya dalil." (Jilid 2 halaman 29).

Demikian halnya dengan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari Syarah 'ala Bukhari, " Sesungguhnya, Isra dan Mi'raj terjadi pada satu malam, dalam keadaan sadar dengan jasad dan ruhnya. Pendapat inilah yang diikuti oleh jumhur ulama, ahli hadits, ahli fiqh, dan ahli ilmu kalam. Semua arti zahir dari hadits-hadits shahih menunjukkan pengertian tersebut, dan tidak boleh dipalingkan kepada pengertian lain karena tidak ada sesuatu yang mengusik akal untuk mentakwilnya." (Fathul Bari 7/136-137)

2. Kedudukan Baitul Maqdis yang mulia bagi umat islam di sisi Allah SWT. Betapa kaum muslimin harus menjaga keberadaan Baitul Maqdis dari tangan-tangan keji dan bernajis Yahudi.

3. Keagungan Syari'at Shalat 5 Waktu. Satu-satunya syari'at diantara pilar agama yang paling penting, diterima oleh Nabi SAW di tempat selain bumi adalah shalat. Seolah Nabi SAW dijamu oleh Allah SWT di tempat yang agung di langit sana. Tempat dimana hanya Nabi SAW saja yang mampu menembusinya. Bahkan Jibril, Mikail dan Israfil (konon menjadi makhluk yang paling dekat dengan Allah) pun tidak mampu berdiri bahkan mendekat kepada Sidratul Muntaha tersebut. Disinilah Allah mewahyukan kepada Muhammad apa yang telah diwahyukan (syari'at shalat).


Syari'at shalat yang didapat Rasul SAW seolah berkesan dijemput oleh Nabi SAW ke tempat yang mulia. Shalat juga disebut menjadi media pendekatan (mi'raj)-nya umat kepada Allah SWT. Disebutkan dalam hadits yang panjang riwayat Bukhari dan Muslim, syari'ah shalat awalnya dibebankan oleh Allah SWT kepada umat Muhammad sebanyak 50 (waktu) kali dalam sehari. Namun para Nabi, terutama Nabi Musa AS yang dijumpai oleh Nabi Muhammad SAW menyarankan kepada Rasulullah SAW untuk meminta keringanan waktu. Sehingga dengan sifat Rahiim-Nya Allah, menjadi 5 waktu saja dalam sehari semalam dibebankannya kewajiban shalat, dengan porsi pahala yang sama dengan 50 waktu.

Untuk membaca sejarah peristiwa Isra dan Mi'raj, banyak sekali buku dan kitab-kitab yang meriwayatkan kisah Isra dan Mi'raj secara detail. Namun, demikian tidak menutup kemungkinan ada riwayat yang bercampur dengan kabar-kabar palsu. 

Dalam Buku Fiqh Sirah oleh Syeikh Asy-syahidul Mimbar Muhammad Sa'id Ramadhan al Buthi disebutkan juga agar berhati-hati kepada kitab Mi'rajul Ibni Abbas, dimana banyak sekali kisah dalam kitab tersebut yang disandarkan kepada Sahabat sekaligus sepupu dari Nabi SAW (Abdullah bin 'Abbas bin Abdul Mutthalib). Kata Syeikh, setiap orang yang berakal dan terpelajar (agama) pasti mengetahui bahwa Ibn Abas terbebas dari segala kedustaan yang dituliskan didalam buku tersebut. (Terj. Fiqh Sirah: Sirah Nabawiyah 142).

Syeikh Al Buthi juga mengatakan, sejarah peristiwa luar biasa ini hanya bisa didapat dan dipercaya melalui riwayat-riwayat shahih. Karena keghaiban yang terjadi di dalamnya. Hindarilah riwayat-riwayat palsu yang menyesatkan umat.

Wallahu a'lam bis-shawab.
Read More

Sunday, April 1, 2018

PENYAKIT LISAN YANG PALING BERBAHAYA

April 01, 2018 0
Dalam masa kini, mudahnya mendapat informasi dan bebasnya akses umat untuk mendapatkan dan membagikan berita juga menjadi senjata yang dapat melukai diri sendiri, disamping memudahkan kita mendapatkan informasi-informasi yang positif dan membangun. Hal ini tentu saja menjadi salah satu bukti bahwa masyarakkat kita belum begitu siap dengan kemajuan teknologi,, terutama teknologi informasi.

Beberapa tahun belakangan, di masa reformasi dan kebebasan pers kita juga melihat di setiap stasiun televisi mempunyai acara gosip. Bahkan di satu channel, memiliki tiga sampai empat acara gosip. Di pagi, siang, sore dan malam. Kala itu, masyarakat hanya menjadi konsumen, jika pun mendistribusi gosip, lingkupnya masih lokal.

Memaknai Ghibah

Mengatai dan menceritakan sesuatu yang tidak disukai oleh seseorang yang menjadi objek gunjingan disebut dengan menggunjing mengumpat atau ghibah.

Ghibah yang paling ringan adalah memanggil orang lain dengan sebutan yang tidak ia sukai, seperti warna kulitnya, atau ras keturunannya, “hei, hitam, cina, atau lainnya” yang jika dipanggil dengan nama itu ia tidak senang. Atau pun dengan mengatai di belakangnya “si hitam, si pendek, si cina atau lainnya”.

Sebuah hadits dari Nabi Saw, "Tahukah kalian apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, Allah dan rasulnya lebih tahu. Beliau mepanjutkan, ghibah itu membivarakan saudara mu dengan sesuatu yang tidak diaukainya. Kemudian seseorang djantara sahabat bertanya, "bagaimana jika yang kukatakan tentang saudara ku itu benar adanya?" Rasul bersabda, "jika benar yang kau bicarakan, berarti kau menggunjingnya, jika tidak, berarti kau telah berbohong."

Berkaitan dengan itu Hasal Al Basri berkata, "Ada 3 kategori membicarakan orang lain: ghibah, bohong dan gosip. Ghibah adalah gunjingan kita kepada orang lain, tentang sesuatu yang benar adanya. Sedangkan bohong adalah berkata sesuatu yang tidak ada padanya dan gosip adalah membicarakan orang lain dengan sesuatu yang sampai pada kita (desas-desus/ isu) belum tentu benar dan salahnya." 

Kesemua itu memiliki ketercelaan yang sama-sama dibenci oleh agama.

Ketercelaan Ghibah


Agar kita bisa terhindar dari ghibah baik berbentuk gunjingan, bohong atau gosip, kita perlu mengetahui tentang bahaya dan ketercelaan ghibah dalam islam.

Yang pertama firman Allah yaitu surah al hujarat ayat 12.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Perumpamaan dan oersamaan yang sungguh sangat menjijikkan dari Allah tentang ghibah, yaitu memakan bangkai manusia (saudara kita sendiri).

Yang kedua ada hadits/ sunnah atau khabar dari Rasulullah "Janganlah kalian saling hasud. Saling dendam, salingbermusuhan da saling menggunjing dinantara kalian. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang salig bersaudara."

“Kalian juga mesti menghindari ghibah, karena ghibah itu lebih berbahaya daripada zina."

Bahkan disebutkan, Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa As bahwa orang yang mati dalam keadaan tobat dari ghibah akan menjadi orang yang paling akhir masuk surga, sedangkan orang yang mati dalam ghibah dan belum sempat bertobat menjadi yang paling awal masuk neraka.ancaman yang sangat menakutkan dari Allah swt tentang bahaya ghibah.

Ketiga ada atsar sahabat dan para salafussalih lainnya.
 
Abu Hurairah berujar, "orang yang memakan daging saudaranya (menggunjing) di dunia, maka diakhirar kelak daging itu akan didekatkan padanya, lalu dikatakan kepadanya "makanlah daging bangkai ini sebagaimana engkau memakannya dalam keadaan hidup di dunia dulu."

Qatadah berkata "dikatakan kepada kami bahwa azab kubur terjadi sebab 3 perkara, sepertiga dari ghibah dan sepertiga dari fitnah dan sepertiga disebabkan oleh kencing."

Al hasan berkata "Demi Allah bagi seorang mukmin, ghibah itu menggerogoti agamanya bahkan lehih cepat daripada penyakit kangker menggerogoti tubuh badannya."

Ibnu Abbas berkata, "Jika engkau hendak menggunjing ab-aib orang lain, ingatlah dulu tentang aib-aib mu yang sangat banyak."

Hasan Al Basri berkata, “Wahai anak Adam, engkau tidak akan mencapai hakikat iman sebelum engkau tidak lagi mencela aib orang lain dengan aib yang aib itu juga ada pada mu, sebelum engkau memperbaiki aib itu dari diri mu. Jika engkau melakukan itu (memperbaiki aib mu sendiri) tentu engkau akan sibuk memperbaikinya dan tak sempat lagi mencela orang lain. Dan yang demikianlah hamba yang paling dicintai oleh Allah."

Ali Zainal Abidin bin Al Husein berkata ketika ia mendengar seseirang menggunjng seseorang. "Hindarilah ghibah karena ghibah adalah lauk pauk anjing-anjing neraka."

Faktor Terjadinya Ghibah


Kenapa Ghibah sering terjadi, kita perlu mengetahui faktor-faktor yang menjadikan seseorang berghibah. Setidaknya ada 8 faktor utama yang mendorong seseorang untuk menggunjing saudara.
Yang pertama adalah peluapan emosi dan kemarahan. Disaat emosi kemarahannya meluap, ia akan membicarakan kejelekan-kejelekan pada orang yang sedang ia marah.
Kedua adalah perasaan khawatir. Ia khawatir jika seseorang akan menimpakannya suatu bahaya, sehingga ia membeberkan kejelekan orang itu kepada orang lain yang punya power lebih kuat.
Ketiga adalah mengikuti kebiasaan teman (ikut-ikutan), yaitu berusaha agar ia menjadi bagian dan sama dengan mereka.
Keempat adalah membersihkan nama baik dari tuduhan, sehingga pada beberapa fase, ia malah membuka aib oranglain demi membela diri.
Kelima sombong, keinginannya untuk bergaya dan meninggikan dirinya dengan mengerdilkan orang lain.
Keenam adalah iri dengki. Ia tak suka dengan kemewahan dan kenikmatan yang didapat orang lain, sehingga dia membuka aib-aib yang tak diketahui orang banyak. Hingga melakukan fitnah, menyebarkan berita bohong.
Ketujuh adalah melawak, kadang dalam menghabiskan waktu untuk tertawa dan lucu-lucuan, kita malah menjadikan kekurangan oranglain sebagai bahan lawakan.
Kedelapan adalah sarkasme yaitu berupa sindiran yang berbunyi ejekan. Biasanya terjadi di hadapan orangnya langsung namun tak jarang menjadi ghibah di belakang.

Obatnya adalah takut akan murka Allah, karena Allah SWT sudah menyatakan betapa buruknya perumpaan pelaku ghibah terhadap saudaranya.
Sebagaimana ia tidak suka digunjing orang, maka ia pun tidak mau menggunjing orang lain.

Sedangkan kafarat/ tebusannya adalah mengakui segala kesalahan dihadapannya dan meminta maaf kepada orang yang dighibah selama ini. Jika tidak mampu,.maka ia harus bertaubat dan membalik.keadaan, dengan terus memuji dan mengabarkan  segala kebaikan yang pernah ia perbuat juga
 mendoakan segala kebaikan untuk orang yang pernah dighibah olehnya.

Semoga kita semua mampu menahan lisan kita dari menggunjing dan memftnah saudara kita.

Sumber dari:
Syeikh yahya Ibn HAmzah Al Yamani Adz Zimari -Kitab Tashfiyatul Qulub min Daran al Awzar wa al-dzunub- 749H.
Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh - Al Qabas An Nur al Mubin min Ihya Ulumuddin

Read More