TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Saturday, April 14, 2018

MI'RAJ TIDAK MENUNJUKKAN ALLAH BERTEMPAT DI LANGIT

April 14, 2018 0
Tarbiyah.OnlineBeberapa teman dari kalangan Salafi/ Wahabi menuliskan beberapa status di berbagai sosial media yang mereka punya dengan makna yang hampir senada, "Isra' dan Mi'raj diperingati, tapi Allah di Langit diingkari."


Nah, dengan diketemukannya beberapa suara dan tulisan yang menurut kami merupakan sebuah syubhat baru -sejauh yang kami ketahui- yang disasarkan oleh teman-teman Salafi ini, teman-teman dari santri Aswaja, terutama komunitas pemuda Raisul Fata dan At-Thalib meminta kepada kami untuk menuliskan sedikit tulisan, bisa berupa pengumpulan kutipan dalil-dalil, perkataan ulama atau pun juga bantahan analogi. Karena syubhat baru ini dinilai perlu direspon walau selakadar.

Pertama, hal yang ingin kita sampaikan adalah, kita belum menemukan dalil tentang mukjizat peristiwa Isra' dan Mi'raj digunakan sebagai dalil yang menyatakan Allah SWT di langit.

Klaim atau syubhat ini tidak diketemukan di zaman sebelumnya -sejauh pengetahuan kami-, jika tidak pasti ia telah menjadi perbincangan ulama dalam memberi bantahan. Selama ini kaum Salafi/Wahabi selalu berkutat dengan dalil Surah Thaha ayat 5 dan hadits Nabi tentang seorang wanita yang ditanya oleh Nabi tentang Allah SWT lalu dijawab di Langit.

Mengenai klaim tafsiran berdalilkan Ar-Rahman 'Alal 'Arsyi istawa dan hadits tersebut, sungguh telah diuraikan dengan sangat panjang lebar oleh Ulama Ahlussunnah Al Jama'ah, baik dari sisi bahasa, perbandingan serta penggabungan berbagai ayat dan hadits yang dijadikan dalil, dengan takwilan yang tidak mengotori sifat kesucian Allah SWT.
 
Kedua, jika memang syubhat tersebut masih terus disasarkan kepada kaum muslimin secara liar, maka perlu kita tanggapi sedikit. Bahwasanya, dalam sejarah peristiwa luarbiasa yang disebut dengan Isra dan Mi'raj, tidak ada satupun ulama yang menyatakan Allah berada di Sidratul Muntaha (di luar lapisan langit ketujuh, tempat tertinggi yang bahkan Jibril, Mikail dan Israfil pun tidak bisa mendekatinya). Melainkan itu adalah tempat dimana Nabi SAW menerima wahyu tentang syari'at shalat 5 waktu dalam sehari semalam.

Adapun riwayat yang menceritakan tentang bolak-baliknya Nabi Muhamad SAW ketika bernegosiasi (dari 50 waktu awalnya menjadi 5 waktu) di langit ketiga ketika menjumpai Nabi Musa AS, sungguh tidak bisa serta merta dijadikan dalil Allah bertempat. Melainkan, Rasulullah kembali ke tempat yang mulia itu, karena disanalah tempat yang seharusnya Nabi Muhammad SAW menerima wahyu berupa (belas kasih sifat Rahiim Allah) jawaban atas kegundahan dan permintaan hati Rasulullah SAW demi umatnya.


Kenapa demikian?
Hal ini senada dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Musa AS ketika naik ke atas bukit Tursina yang amat sangat terjal, lalu memohon kepada Allah untuk membuka hijab pandangannya (Musa AS) agar bisa melihat wujud Allah SWT (hingga detail riwayat, gunung meleleh dalam sekejap karena tidak mampu menahan cahaya Allah yang Agung padahal masih terhijab dengan puluhan hijab (ghaib) Musa AS mendapatkan 10 ajaran utama dalam syari'atnya). Riwayat dan kisah Nabi Musa AS yang berbicara dengan Allah SWT di bukit Tursina, tidak menjadikan Tursina sebagai tempat yang ditempati oleh Allah SWT.

Sama halnya juga dengan kisah Nabi Ibrahim yang disebutkan dalam Al Quran kisah agungnya, ketika ia ditanya hendak kemana, ia menjawab hendak bertemu dengan Rabb nya, Allah SWT. Padahal, pada pandangan kasat mata, ia beranjak ke Palestina, dimana Baitul Maqdis berada saat ini. -Q.S Ash-Shaffat:99-. Bukankah Baitul Maqdis juga tidak dikatakan dimana Allah bertempat dan bersemayam. Demikian juga dengan Ka'bah Baitullah yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai rumah Allah. Dan rumah adalah tempat dimana penghuninya tinggal disana.

Demikian, pemaknaan terhadap dalil, harus mengacu kepada kaidah memaknai dalil -tafsir- yang tepat. Ia tidak bisa berada sendiri, atau direka-reka sesuka hati.

Ada masanya, akal bisa dijadikan dalil. Namun dalil 'aql (akal) dituntut tidak boleh bertentangan dengan dalil naql (khabar: ayat quran dan sunnah). Dalam keilmuan ahlussunnah wal jama'ah kajian tauhid dan kalam telah dirumuskan dengan sangat rapi tanpa cacat melalui Sifat 20 atau I'tiqad 50, dimana akal dan khabar berjalan beringan dan saling menguatkan.

Maka dari itu, syubhat yang menyatakan Isra' dan Mi'raj adalah dalil bagi Allah mengambil tempat di langit telah tertolak dengan ayat-ayat yang menceritakan mukjizat Nabi Musa AS di Tursina, dan perjalanan Nabi Ibrahim AS ke Baitul Maqdis.

Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah meyakini Allah Ada Tanpa Bertempat. Karena baginya Laitsa Kamitslihi Syaiun (Tidak Serupa Bagaimana di (sesuatu pun) dengan apa pun)

Wallahu 'alam bish-shawab.
Read More

MEMAKNAI MUKJIZAT PERISTIWA ISRA' DAN MI'RAJ

April 14, 2018 2
Tarbiyah.OnlineHampir seluruh umat muslimin tahu tentang kisah isra dan mi'raj ini, atau setidaknya pernah mendengar meski sekali saja dalam hidupnya. Yaitu, perjalanan di malam hari dari kota mekah (mesjidil haram) ke yarussalem (masjidil aqsa). Dan perjalanan menuju sidratul muntaha (menembus lapis langit ke tujuh) dengan mengendarai satu makhluk bernama Buraq yang ukurannya sedikit lebih besar dari keledai, kecepatannya sejauh mata memandang. Rasulullah Muhammad SAW ditemani malaikat Jibril AS sepanjang perjalanan, kecuali ketika ia sampai di Sidratul Muntaha.

Dimana dalam perjalanan tersebut Rasul SAW dibebankan syari'at shalat 5 waktu sehari semalam, di tempat yang sangat istimewa. Dimana Malaikat dan Jin sekalipun tak dapat menembus hijab tersebut. Yaitu sidratul muntaha.

Kisah Isra' dan Mi'raj ini diterangkan oleh Allah dalam firman-Nya, Surah Al Isra dimulai dari ayat pertama. Demikian pula dalam hadits-hadits shahih yang diriwayatkan secara panjang dalam kitab shahih bukhari dan muslim.

Di siang hari, Rasul SAW bercerita tentang kisahnya di hadapan kaum Quraiys, namun banyak diantara mereka yang memungkiri, mendustakan apa yang dikatakan oleh Nabi SAW.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, Rasulullah Saw bersabda:

لمّ كذّبتني قريش قمت فى الحجر فجعلّى الله لى بيت المقدس فطفقت أخبرهم عن ايته وانا انظرو اليه.
"Ketika kaum Quraisy mendustakan aku. Aku berdiri di Hijr Ismail, lalu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis padaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang tiang-tiangnya daripada apa yang aku lihat."

Ketika berita ini didengar oleh kaum Quraiys. Mereka datang kepada Abu Bakar dan menceritakan hal tersebut dengan harapan Abu Bakar akan ikut mendustakan apa yang Muhammad sampaikan seperti hal keadaan mereka lakukan. Namunya ternyata Abu Bakar menjawab, "Jika memang benar Muhammad yang mengatakan hal tersebut, maka dia telah berkata benar, dan sungguh aku akan membenarkannya lebih dari pada itu". Ini pula yang menjadikan Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq (membenarkan Nabi SAW secara mutlak).

Setelah peristiwa Isra dan Mi'raj, pada pagi harinya malaikat Jibril turun kepada Nabi SAW di setiap waktu-waktu tertentu sebagai penanda masuk dan batas waktu shalat. Dan diajarkannya shalat sebagaimana shalat yang disyari'atkan kepada Muhammad SAW, setelah sebelumnya ibadah/ ritual shalat yang dilakukan oleh Nabi SAW adalah mengikuti syari'at shalat Nabi Ibrahim AS.

Ibrah dari Peristiwa Mukjizat Isra dan Mi'raj yang dapat kita petik antara lain:

1. Ketika kita menyebutkan Isra' dan Mi'raj sebagai mukjizat, maka banyak perihal logika tertembusi. Kejadian luar biasa yang ada pada Nabi SAW dan Para Rasul AS lainnya disebut dengan Mukjizat.
Jumhur ulama (hampir semuanya) mengatakan Perjalanan yang dilakukan pada malam itu dilakukan dengan jasad dan ruh, maka perjalanan tersebut juga bukan sebuah mimpi, sebagaimana yang disebutkan oleh para orientalis dan pemuja logika. Karena Nabi SAW mampu menceritakan sebegitu detailnya peristiwa tersebut dan dirasakan oleh tubuhnya yang mulia menembusi alam ruh.
Mustahil? Tidak ada yang mustahil  bagi Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al An'am ayat 109: "...Katakanlah,"Sesungguhnya, mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah....".

Dalam Syarhul Muslim, Imam Nawawi berkata, "Pendapat yang benar menurut kebanyakan kaum muslimin, ulama salaf, fuqaha, ahli hadits dan ilmu tauhid adalah bahwa Nabi SAW di-Isra dan Mi'raj-kan dengan ruh dan jasadnya. Semua nash menunjukkan hal ini dan tidak boleh ditakwil zahirnya kecuali dengan adanya dalil." (Jilid 2 halaman 29).

Demikian halnya dengan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari Syarah 'ala Bukhari, " Sesungguhnya, Isra dan Mi'raj terjadi pada satu malam, dalam keadaan sadar dengan jasad dan ruhnya. Pendapat inilah yang diikuti oleh jumhur ulama, ahli hadits, ahli fiqh, dan ahli ilmu kalam. Semua arti zahir dari hadits-hadits shahih menunjukkan pengertian tersebut, dan tidak boleh dipalingkan kepada pengertian lain karena tidak ada sesuatu yang mengusik akal untuk mentakwilnya." (Fathul Bari 7/136-137)

2. Kedudukan Baitul Maqdis yang mulia bagi umat islam di sisi Allah SWT. Betapa kaum muslimin harus menjaga keberadaan Baitul Maqdis dari tangan-tangan keji dan bernajis Yahudi.

3. Keagungan Syari'at Shalat 5 Waktu. Satu-satunya syari'at diantara pilar agama yang paling penting, diterima oleh Nabi SAW di tempat selain bumi adalah shalat. Seolah Nabi SAW dijamu oleh Allah SWT di tempat yang agung di langit sana. Tempat dimana hanya Nabi SAW saja yang mampu menembusinya. Bahkan Jibril, Mikail dan Israfil (konon menjadi makhluk yang paling dekat dengan Allah) pun tidak mampu berdiri bahkan mendekat kepada Sidratul Muntaha tersebut. Disinilah Allah mewahyukan kepada Muhammad apa yang telah diwahyukan (syari'at shalat).


Syari'at shalat yang didapat Rasul SAW seolah berkesan dijemput oleh Nabi SAW ke tempat yang mulia. Shalat juga disebut menjadi media pendekatan (mi'raj)-nya umat kepada Allah SWT. Disebutkan dalam hadits yang panjang riwayat Bukhari dan Muslim, syari'ah shalat awalnya dibebankan oleh Allah SWT kepada umat Muhammad sebanyak 50 (waktu) kali dalam sehari. Namun para Nabi, terutama Nabi Musa AS yang dijumpai oleh Nabi Muhammad SAW menyarankan kepada Rasulullah SAW untuk meminta keringanan waktu. Sehingga dengan sifat Rahiim-Nya Allah, menjadi 5 waktu saja dalam sehari semalam dibebankannya kewajiban shalat, dengan porsi pahala yang sama dengan 50 waktu.

Untuk membaca sejarah peristiwa Isra dan Mi'raj, banyak sekali buku dan kitab-kitab yang meriwayatkan kisah Isra dan Mi'raj secara detail. Namun, demikian tidak menutup kemungkinan ada riwayat yang bercampur dengan kabar-kabar palsu. 

Dalam Buku Fiqh Sirah oleh Syeikh Asy-syahidul Mimbar Muhammad Sa'id Ramadhan al Buthi disebutkan juga agar berhati-hati kepada kitab Mi'rajul Ibni Abbas, dimana banyak sekali kisah dalam kitab tersebut yang disandarkan kepada Sahabat sekaligus sepupu dari Nabi SAW (Abdullah bin 'Abbas bin Abdul Mutthalib). Kata Syeikh, setiap orang yang berakal dan terpelajar (agama) pasti mengetahui bahwa Ibn Abas terbebas dari segala kedustaan yang dituliskan didalam buku tersebut. (Terj. Fiqh Sirah: Sirah Nabawiyah 142).

Syeikh Al Buthi juga mengatakan, sejarah peristiwa luar biasa ini hanya bisa didapat dan dipercaya melalui riwayat-riwayat shahih. Karena keghaiban yang terjadi di dalamnya. Hindarilah riwayat-riwayat palsu yang menyesatkan umat.

Wallahu a'lam bis-shawab.
Read More

Sunday, April 1, 2018

PENYAKIT LISAN YANG PALING BERBAHAYA

April 01, 2018 0
Dalam masa kini, mudahnya mendapat informasi dan bebasnya akses umat untuk mendapatkan dan membagikan berita juga menjadi senjata yang dapat melukai diri sendiri, disamping memudahkan kita mendapatkan informasi-informasi yang positif dan membangun. Hal ini tentu saja menjadi salah satu bukti bahwa masyarakkat kita belum begitu siap dengan kemajuan teknologi,, terutama teknologi informasi.

Beberapa tahun belakangan, di masa reformasi dan kebebasan pers kita juga melihat di setiap stasiun televisi mempunyai acara gosip. Bahkan di satu channel, memiliki tiga sampai empat acara gosip. Di pagi, siang, sore dan malam. Kala itu, masyarakat hanya menjadi konsumen, jika pun mendistribusi gosip, lingkupnya masih lokal.

Memaknai Ghibah

Mengatai dan menceritakan sesuatu yang tidak disukai oleh seseorang yang menjadi objek gunjingan disebut dengan menggunjing mengumpat atau ghibah.

Ghibah yang paling ringan adalah memanggil orang lain dengan sebutan yang tidak ia sukai, seperti warna kulitnya, atau ras keturunannya, “hei, hitam, cina, atau lainnya” yang jika dipanggil dengan nama itu ia tidak senang. Atau pun dengan mengatai di belakangnya “si hitam, si pendek, si cina atau lainnya”.

Sebuah hadits dari Nabi Saw, "Tahukah kalian apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, Allah dan rasulnya lebih tahu. Beliau mepanjutkan, ghibah itu membivarakan saudara mu dengan sesuatu yang tidak diaukainya. Kemudian seseorang djantara sahabat bertanya, "bagaimana jika yang kukatakan tentang saudara ku itu benar adanya?" Rasul bersabda, "jika benar yang kau bicarakan, berarti kau menggunjingnya, jika tidak, berarti kau telah berbohong."

Berkaitan dengan itu Hasal Al Basri berkata, "Ada 3 kategori membicarakan orang lain: ghibah, bohong dan gosip. Ghibah adalah gunjingan kita kepada orang lain, tentang sesuatu yang benar adanya. Sedangkan bohong adalah berkata sesuatu yang tidak ada padanya dan gosip adalah membicarakan orang lain dengan sesuatu yang sampai pada kita (desas-desus/ isu) belum tentu benar dan salahnya." 

Kesemua itu memiliki ketercelaan yang sama-sama dibenci oleh agama.

Ketercelaan Ghibah


Agar kita bisa terhindar dari ghibah baik berbentuk gunjingan, bohong atau gosip, kita perlu mengetahui tentang bahaya dan ketercelaan ghibah dalam islam.

Yang pertama firman Allah yaitu surah al hujarat ayat 12.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Perumpamaan dan oersamaan yang sungguh sangat menjijikkan dari Allah tentang ghibah, yaitu memakan bangkai manusia (saudara kita sendiri).

Yang kedua ada hadits/ sunnah atau khabar dari Rasulullah "Janganlah kalian saling hasud. Saling dendam, salingbermusuhan da saling menggunjing dinantara kalian. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang salig bersaudara."

“Kalian juga mesti menghindari ghibah, karena ghibah itu lebih berbahaya daripada zina."

Bahkan disebutkan, Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa As bahwa orang yang mati dalam keadaan tobat dari ghibah akan menjadi orang yang paling akhir masuk surga, sedangkan orang yang mati dalam ghibah dan belum sempat bertobat menjadi yang paling awal masuk neraka.ancaman yang sangat menakutkan dari Allah swt tentang bahaya ghibah.

Ketiga ada atsar sahabat dan para salafussalih lainnya.
 
Abu Hurairah berujar, "orang yang memakan daging saudaranya (menggunjing) di dunia, maka diakhirar kelak daging itu akan didekatkan padanya, lalu dikatakan kepadanya "makanlah daging bangkai ini sebagaimana engkau memakannya dalam keadaan hidup di dunia dulu."

Qatadah berkata "dikatakan kepada kami bahwa azab kubur terjadi sebab 3 perkara, sepertiga dari ghibah dan sepertiga dari fitnah dan sepertiga disebabkan oleh kencing."

Al hasan berkata "Demi Allah bagi seorang mukmin, ghibah itu menggerogoti agamanya bahkan lehih cepat daripada penyakit kangker menggerogoti tubuh badannya."

Ibnu Abbas berkata, "Jika engkau hendak menggunjing ab-aib orang lain, ingatlah dulu tentang aib-aib mu yang sangat banyak."

Hasan Al Basri berkata, “Wahai anak Adam, engkau tidak akan mencapai hakikat iman sebelum engkau tidak lagi mencela aib orang lain dengan aib yang aib itu juga ada pada mu, sebelum engkau memperbaiki aib itu dari diri mu. Jika engkau melakukan itu (memperbaiki aib mu sendiri) tentu engkau akan sibuk memperbaikinya dan tak sempat lagi mencela orang lain. Dan yang demikianlah hamba yang paling dicintai oleh Allah."

Ali Zainal Abidin bin Al Husein berkata ketika ia mendengar seseirang menggunjng seseorang. "Hindarilah ghibah karena ghibah adalah lauk pauk anjing-anjing neraka."

Faktor Terjadinya Ghibah


Kenapa Ghibah sering terjadi, kita perlu mengetahui faktor-faktor yang menjadikan seseorang berghibah. Setidaknya ada 8 faktor utama yang mendorong seseorang untuk menggunjing saudara.
Yang pertama adalah peluapan emosi dan kemarahan. Disaat emosi kemarahannya meluap, ia akan membicarakan kejelekan-kejelekan pada orang yang sedang ia marah.
Kedua adalah perasaan khawatir. Ia khawatir jika seseorang akan menimpakannya suatu bahaya, sehingga ia membeberkan kejelekan orang itu kepada orang lain yang punya power lebih kuat.
Ketiga adalah mengikuti kebiasaan teman (ikut-ikutan), yaitu berusaha agar ia menjadi bagian dan sama dengan mereka.
Keempat adalah membersihkan nama baik dari tuduhan, sehingga pada beberapa fase, ia malah membuka aib oranglain demi membela diri.
Kelima sombong, keinginannya untuk bergaya dan meninggikan dirinya dengan mengerdilkan orang lain.
Keenam adalah iri dengki. Ia tak suka dengan kemewahan dan kenikmatan yang didapat orang lain, sehingga dia membuka aib-aib yang tak diketahui orang banyak. Hingga melakukan fitnah, menyebarkan berita bohong.
Ketujuh adalah melawak, kadang dalam menghabiskan waktu untuk tertawa dan lucu-lucuan, kita malah menjadikan kekurangan oranglain sebagai bahan lawakan.
Kedelapan adalah sarkasme yaitu berupa sindiran yang berbunyi ejekan. Biasanya terjadi di hadapan orangnya langsung namun tak jarang menjadi ghibah di belakang.

Obatnya adalah takut akan murka Allah, karena Allah SWT sudah menyatakan betapa buruknya perumpaan pelaku ghibah terhadap saudaranya.
Sebagaimana ia tidak suka digunjing orang, maka ia pun tidak mau menggunjing orang lain.

Sedangkan kafarat/ tebusannya adalah mengakui segala kesalahan dihadapannya dan meminta maaf kepada orang yang dighibah selama ini. Jika tidak mampu,.maka ia harus bertaubat dan membalik.keadaan, dengan terus memuji dan mengabarkan  segala kebaikan yang pernah ia perbuat juga
 mendoakan segala kebaikan untuk orang yang pernah dighibah olehnya.

Semoga kita semua mampu menahan lisan kita dari menggunjing dan memftnah saudara kita.

Sumber dari:
Syeikh yahya Ibn HAmzah Al Yamani Adz Zimari -Kitab Tashfiyatul Qulub min Daran al Awzar wa al-dzunub- 749H.
Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh - Al Qabas An Nur al Mubin min Ihya Ulumuddin

Read More

Friday, March 23, 2018

ZUHUD MENJADI PENGHALANG KEMAJUAN UMAT ISLAM?

March 23, 2018 4
Diantara umat Islam, masih banyak yang bertanya tentang kebolehan mengejar dan memiliki perkara duniawi. Bolehkah? Atau memang Islam melarang umatnya mengejar dan memiliki dunia?

Foto Ichsan Adnan.

Memaknai Zuhud dan Faqir Yang Sebenarnya

Perlu diketahui bagi setiap umat Islam, bahwasanya islam tidak mengharamkan  kepemilikan dunia kepada pemeluknya. Dunia tetap memiliki peran bagi umat islam, dan umat berhak atas dunia. Hanya saja umat islam dilarang menjadi budak dunia, yang terus mengejar dunia hingga melupakan tujuan awalnya, yaitu menjadi hamba berbakti dan ta’at kepada Allah dan memperoleh kebahagiaan hakiki di akhirat kelak.

Tujuan utama manusia diciptakan Allah adalah untuk ta’abbud, yaitu beribadah dan menyembah Allah SWT. Sebagaimana dietapkan oleh Al Quran Surat Adz-Dzariyat ayat 54 "Tidaklah Ku ciptakan jin manusia, melainkan hanya untuk menyembah kepada-Ku"

Hidup di dunia adalah ibarat singgah di pelabuhan sementara untuk mengambil bekal menuju perjalanan panjang, akhirat. Demikian banyak diutarakan oleh ulama-ulama Sufi.

Keseimbangan antara dunia dan akhirat menjadi hal yang penting diketahui oleh umat islam kebanyakan, dikarenakan di satu sisi umat manusia yang terlalu dok dengan dunianya, melupakan tujuan akhirat yang seharusnya menjadi tujuan utama. Sedangkan di pihak lain, beberapa umat islam meninggalkan perkara duniawi dan hanya memfokuskan hidupnya kepada akhirat di balik jubah zuhud yang diinterpretasinya.

Hal ini sering dijadikan fokus kritik terhadap kaum Sufi oleh Syeikh Muhammad al Ghazali, ulama kenamaan Al Azhar Mesir dalam bukunya Segarkan Imanmu terbitan Penertbit Zaman. Padahal beliau selain seorang faqih, ahli hadits juga merupakan seorang sufi, namun secara fair beliau mengkritik keras penafsiran istilah zuhud yang membawa umat kepada kemunduran.

Demikian juga dengan faqir, makna faqir adalah merasa butuh kepada Allah setiap saat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili, bukan tidak mempunyai harta dan kekuatan sama sekali. Maka dari itu dalam kehidupan Syeikh Abul HAsan Asy-Syadzili ia dikenal sebagai seorang sufi yang kaya harta. Namun hartanya tidak menjadikan ia terikat padanya.

Dalam kehidupan para sahabat pun kita mengenal Abu BAkar dan Utsman bin Affan yang mempunyai harta berlimpah, dimana semua harta yang ia miliki bisa diwariskan kepada umat. Menjadi salah satu tonggak berdirinya dinul islam. Keduanya senantiasa membantu perjuangan Nabi SAW. Hal serupa juga terdapat pada Khadijah istri pertama dan tercinta yang dimiliki oleh Nabi SAW.

Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi

Contoh teladan terbaik umat manusia adalah Rasulullah Muhammad SAW yang merupakan manusia paling sempurna dan paling bertaqwa kepada Allah SWT. Setiap yang ada pada dirinya adalah keteladanan. Rasulullah SAW selain mengemban amanah sebagai Rasul yang membawa risalah ukhrawi, juga bertindak sebagai manusia yang bekerja di dunia untuk kepentingan duniawi.
Muhammad menjadi seorang pedagang, yang notabene adalah perkara duniawi, menjadi pemimpin negara, bertindak sebagai suami dan ayah.

Dari situ kita melihat pengaruh keduniwaian juga melekat pada diri Rasul SAW dan beliau memberikan contoh terbaik. Hanya saja, Rasullahu Muhammad SAW tidak menjadi budak dunia, sehingga ia lupa dengan tugas utamanya sebagai Rasul yang mengemban tugas ukhrawi dari mengajarkan ummat untuk mengenal Allah dan beribadah kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW pun penuh totalitas dalam bekerja sebagai Pemimpini Negara, Panglima Perang atau sebagai Pedagang di masa mudanya. Terlihat, ketika ia menjadi pedagang, ia mendapatkan untung yang sangat banyak.

Inilah yang menjadi interpretasi paling tepat dari firman Allah yang lain dalam Surat Al Baqarah ayat 30, yaitu "Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi..."

Benang Merah Zuhud dan Misi Khalifah

Benang merah yang menjadi penghubung antara keduniawian dan ukhrawi yang dikerjakan Nabi SAW, adalah mengisi perkara dunianya dengan nilai-nilai akhirat, sehingga segala bentuk pekerjaan yang ia lakukan mengandung nilai ibadah, hal ini berguna bagi pribadinya.

Bagi umat, totalitas pekerjaan yang dilakukan oleh Nabi SAW didapatkan hasilnya dengan sangat puas dan bermanfaat. Muhammad SAW menjadi pemimpin yang adil, menjadi panglima perang yang cerdas dan gagah perkasa, menjadi pedagang yang jujur dan amanah. Ia pun berperan sebagai suami dan ayah yang bijak bagi keluarganya.

Disinilah dunia bisa berubah menjadi akhirat, ketika setiap pekerjaan keduniawian diisi dan dihiasi dengan nilai ukhrawi.

Para sahabat radhiyallahu’anhum pun yang sejatinya adalah didikan langsung dari Nabi SAW tidak semuanya dididik menjadi seorang faqih nan ‘alim dalam ilmu agama. Melainkan mereka sangat beragam. Ada diantara mereka yang menjadi pedagang dan saudagar sukses, ada yang menjadi pemimpin penerus beliau yang sangat hebat dan bijak, ada yang menjadi pekerja yang jujur di segala lini kehidupan. Ini juga menjadi bukti, bahwa Nabi SAW dan ajaran Islam yang dibawa olehnya tidak mengekang keduniawian.

Umat Islam harus mampu menguasai berbagai elemen penting dalam kehidupan, agar tidak ditindas oleh kaum kuffar yang menjadi dunia sebagai Tuhan dan tujuannya. Menguasai ekonomi, pendidikan bahkan teknolohi, hanya bisa dicapai melalui totalitas belajar dan bekerja.

Begitulah konsep keseimbangan yang dibawa oleh Islam antara dunia dan akhirat.

Seorang arif berujar, "Niatkanlah dunia yang kau kejar dan pergunakanlah yang telah kau gapai untuk kemenangan akhiratmu kelak."

Wallahu a'lam
Read More

Monday, March 12, 2018

WAFATNYA ULAMA MERUPAKAN KERUGIAN UMAT

March 12, 2018 0

Dalam kondisi tercabik perang saudara dan dalam durasi tidak sampai satu bulan, Yaman kehilangan tiga ulamanya. Belum lama ditinggal wafat pergi Al-Habib Salim Assyathiri pada pertengahan Februari, di awal bulan ini, Al-Habib Idrus Bin Sumaith syahid di atas sajadahnya. Beliau dibunuh teroris, 3 Maret silam. Dua hari berselang, seorang ulama zahid yang dijuluki 'Ainu Tarim (matanya Kota Tarim), Al-Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi Bin Syihab menyusul dua sahabatnya. Tidak sampai satu bulan, Tarim, Hadramaut kehilangan permata ilmunya. Ketiga ulama ini masyhur ketajaman mata hatinya dan menjadi punjernya Yaman.
Foto Rijal Mumazziq Z.
Habib Salim Asy Syathiri
Di awal Maret ini pula, KH. R. Abd Hafidz bin Abdul Qadir Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, berpulang ke hadirat-Nya. Ulama sederhana yang menjadi penjaga wahyu sebagaimana ayah dan kakeknya.
Foto Rijal Mumazziq Z.
Habib Idrus bin Sumaith
Satu persatu tiang pancang ilmu dirobohkan Allah. Kita bersedih bukan hanya karena ditinggalkan beliau-beliau, melainkan karena kita tidak mampu menyerap gelontoran ilmu saat beliau masih hidup. Kita juga bersedih bukan hanya semakin sedikitnya stok ulama, melainkan karena dengan kewafatan beliau-beliau meninggalkan generasi yang rapuh seperti saya, dan mungkin juga anda. Wafatnya beliau-beliau menjadi penanda apabila satu ulama berpulang, ikut pula keilmuan yang dimiliki.
Ibaratnya, dalam dunia sepakbola, satu pemain pensiun tidak akan bisa digantikan oleh pemain dengan kualitas yang setara. Pele, Maradona, Zidane, tidak akan bisa digantikan Messi, Ronaldo, Mohammed Salah, dan sebagainya. Kemampuan mereka genuin, tak bisa dikloning, tidak bisa dikopipaste. Semua punya karakter dan kemampuan yang khas. Demikian pula dalam dunia ulama. Satu orang KH. Hasyim Asy'ari tidak bisa ditiru KH. Hasyim Muzadi. Keduanya punya karakter, keilmuan, dan gaya yang khas.
Di sinilah barangkali alasan mengapa dalam kitabnya, Tanqihul Qaul, Syekh Nawawi al-Bantani menukil sabda Rasulullah yang termuat dalam Lubabul Hadits-nya Imam Assuyuthi, bahwa di antara tanda orang munafik adalah tidak bersedih atas wafatnya seorang ulama (Baginda mengucapkan "munafik" sebanyak tiga kali). Kalau kita biasa-biasa saja, merasa wajar atas robohnya tiang rumah kita, berarti ada yang eror dalam pribadi kita. Demikian pula ketika ada tiang pancang dunia bernama ulama yang wafat dan kita santai, tidak menampakkan simpati, mungkin ada sesuatu yang hilang dari kita. Jangan-jangan kita bagian dari kaum munafik itu? Wallahu A'lam.
Karena itu, mengingat gentingnya kewafatan para ulama, Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, dalam "al-Manhajus Sawi", membuat penjelasan tersendiri. Dengan mengutip pendapat Imam Baghawi dalam tafsirnya, Habib Zain memuat QS. Ar-Ra'd 41 yang artinya "Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?" dengan memaknai apabila "pengurangan" dalam ayat ini bermakna kematian para ulama dan hilangnya ahli fiqh.
Foto Rijal Mumazziq Z.
Habib Abdullah bin Alwi bin Syihab
Begitu berharganya seorang ulama, sehingga dalam kitab ini pula Habib Zain mengutip kalimat Sayyidina Abdullah ibnu Mas'ud Radliyallahu 'anhu, bahwa kematian seorang ulama adalah lubang dalam Islam dan tidak ada yang bisa menambalnya sepanjang siang dan malam. Oleh karena itu, kata Ibnu Mas'ud, carilah ilmu sebelum dicabut. Dan, ilmu dicabut dengan kematian orang-orangnya.
Demikian gawatnya kewafatan seorang ulama, sehingga Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah juga menganalogikannya dengan telapak tangan. Apabila dipotong salah satunya, maka tidak bisa tumbuh kembali. Demikian beberapa keterangan yang termuat dalam "al-Manhajus Sawi" karya Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith.
***

Dalam Konferensi Dakwah yang dihelat di Magelang, 1 Oktober 1951, KH. A. Wahid Hasyim melontarkan statemen keras, bahwa saat itu sebutan ulama sudah mengalami inflasi.

Inflasi tersebut, menurut Kiai Wahid, diakibatkan dari banyaknya ulama ‘palsu’ yang beredar sebagaimana inflasi dalam bidang ekonomi karena banyaknya peredaran uang palsu. Banyak orang yang disebut ulama hanya untuk menunjukkan bahwa menjadi ulama itu tidak sulit. Meskipun pengetahuan keagamaan mereka dangkal, tetapi mereka dipandang sebagai pemimpin Islam. Mereka justru malah memimpin para ulama yang sesungguhnya, bahkan membatasi ruang geraknya.
Statemen Kiai Wahid Hasyim di atas dikemukakan kembali oleh KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya "Berangkat dari Pesantren". Jika di era 1950-an saja Kiai Wahid menilai seperti itu, lantas bagaimana dengan kondisi sekarang, di mana selain banyak yang mendaku diri sebagai ulama, juga ada yang berlagak mujtahid mutlak yang dengan songong dan sombong bilang tidak perlu merujuk pendapat otoritatif para ulama, cukup merujuk pada al-Qur'an dan Assunnah.
Benarlah jika demikian, kewafatan para ulama ternyata juga memunculkan generasi yang tidak tahu diri karena terlalu tinggi menilai kualitas dirinya.
WAllahu A'lam Bisshawab

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Surabaya)
Read More

Saturday, March 10, 2018

HAKIKAT JALAN SUFI DARI SYEKH ABU HASAN ASY-SYADZILI

March 10, 2018 0
Muqattam, Kamis 20 Jumadil Akhir 1439 H

Menurut Imam Asy-Syadzili, jalan tasawuf itu bukanlah jalan kerahiban, menyendiri di goa, meninggalkan tanggung jawab sosial, tampak miskin menderita, memakan makanan sisa, pakaian compang-camping dan sebagainya.
Tetapi, jalan sufi adalah jalan kesabaran dan keyakinan dalam petunjuk Ilahi. Allah SWT berfirman, “Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (dalam menegakkan kebenaran) dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.” (QS As-Sajadah [32]: 24-25)

Imam Asy-Syadzili mengatakan, “Pelabuhan (tasawuf) ini sungguh mulia, padanya lima perkara, yakni: sabar, takwa, wara’, yakin dan makrifat. Sabar jika ia disakiti, takwa dengan tidak menyakiti, bersikap wara’ terhadap yang keluar masuk dari sini—beliau menunjuk ke mulutnya—dan pada hatinya, bahwa tidak menerbos masuk ke dalamnya selain apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, serta keyakinan terhadap rezeki (yang diberikan Allah) dan bermakrifat terhadap Al-Haqq, yang tidak akan hina seseorang bersamanya, kepada siapa pun dari makhluk.

Allah SWT berfirman, “Bersabarlah (Hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl [16]: 127-128)

Imam Asy-Syadzili juga mengatakan, “Orang yang berakal adalah orang yang mengenal Allah, apa-apa yang Dia kehendaki atasnya dan apa yang berasal darinya secara syariat. Dan, hal yang Allah inginkan dari seorang hamba adalah empat perkara: adakalanya berupa nikmat atau cobaan, ketaatan ataupun kemaksiatan.

Jika engkau berada dalam kenikmatan, maka Allah menuntutmu untuk bersyukur secara syariat. Jika Allah menghendaki cobaan bagimu, maka Dia menuntutmu untuk bersabar secara syariat. Jika Allah menghendaki ketaatan darimu, maka Allah menuntutmu untuk bersaksi atas anugerah dan taufik-Nya secara syariat.

Dan, jika Dia menghendaki kemaksiatan dirimu, maka Allah menuntut dirimu untuk bertobat dan kembali kepada-Nya dengan penyesalan mendalam secara syariat.
Siapa yang mengerti empat perkara ini datang dari Allah dan melakukan apa yang Allah cintai darinya secara syariat, maka dia adalah hamba yang sebenar-benarnya.

Baca juga Abu Hasan Asy-Syadzily, Gurunya Para Wali

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang ketika diberi lalu ia bersyukur, jika ditimpa cobaan dia bersabar, jika dia menzalimi lalu meminta ampun dan jika dia dizalimi lalu memaafkan.” Kamudian Rasul terdiam...Para sahabat pun heran dan bertanya, “Ada hal apa, wahai Rasulullah?” Kemudian Rasul pun menjawab, “Merekalah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dalam ungkapan sebahagian dari mereka menyebutkan, “Tidak akan dianggap mudah melakukan itu, kecuali bagi seorang hamba yang memiliki cinta. Dia tidak mencintai kecuali karena Allah semata atau mencintai apa yang Allah perintahkan sebagai syariat agamanya.”
Read More

KEUTAMAAN SAYIDAH FATHIMAH AZ-ZAHRA (PERINGATAN HARI LAHIRNYA PENGHULU WANITA SURGA)

March 10, 2018 0

Sayyidah Fathimah az-Zahra merupakan seorang perempuan yang sangat cantik, mirip dengan ayah beliau yang sangat rupawan, Sayyiduna Muhammad SAW.
Dilahirkan pada hari jum`at, 20 Jumadil akhir 5 tahun sebelum Muhammad SAW diutus sebagai Rasul. Tahun di mana Rasulullah SAW menjadi pendamai di tengah petinggi kabilah-kabilah Arab yang bertikai untuk menentukan siapa yang paling berhak mengangkat hajar aswad setelah banjir besar melanda Kota Mekkah.
Jubah Sayyidah Fathimah Az-zahra
Kelahiran Sayyidah Fathimah dirayakan besar-besaran.
Beliaulah perempuan nomor 1 diantara perempuan yang ada seluruh alam.
Keagungan itu diberikan atas kesabaran beliau menempuh berbagai penderitaan:
1. Sayyidah Fathimah kecil menjadi anak satu-satunya yang berada di rumah karena kakak-kakaknya menikah dan ikut suami mereka yang berasal dari keluarga terpandang & kaya raya. Sayyidah Fathimah sangat dekat dengan sang ayah, melayani keperluan orang tua.
2. Sayyidah Fathimah merupakan anak perempuan pertama yang masuk Islam.
3. Sayyidah Fathimah selalu setia berada di sisi sang ayah, saat sang ayah dihina, dicaci maki, disakiti.
4. Sayyidah Fathimah merasakan penderitaan diboikot 3 tahun, saat bahan makanan pun tidak ada, dan hanya memakan dedauan.
5. Keluar dari boikot, Sayyidah Fathimah yang dalam kondisi lemah, kehilangan ibundanya.
6. Di perjalanan menuju Madinah, untuk menyusul sang ayah, Sayyidah Fathimah pun jatuh dari tunggangan, akibat ulah kejahatan kafir Quraisy yang mengejar.
7. Di Madinah, untungnya isteri ke dua sang ayah setelah Khadijah al Kubra, Ummuna "Saudah binti Zam`ah al-`Amiriyah" sangat sangat sayang & memperhatikan, dan kesehatan Sayyidah Fathimah mulai memulih.
8. Menikah dengan Sayyiduna Ali dalam perayaan pernikahan yang paling luar biasa masa itu, kaum muslim sangat bahagia dengan kebahagian Sayyiduna Rasulullah SAW.
9. Pernikahan beliau di usia 17 atau 18 tahun, di umur yang tergolong lambat menikah; karena sibuknya keluarga mulia itu dalam memikul beban dakwah & ketinggian derajat beliau, sehingga lelaki yang setaraf sangat sedikit.
Jangan sampai ada yang mengikuti musuh-musuh Islam yang mengatakan hal yang tidak senonoh (dianggap sebagai perempuan jelek & tidak laku).
10. Dan sangat pas dengan Sayyiduna Ali yang merupakan anak laki-laki pertama yang masuk Islam.
11. Pernikahan Sayyidah Fathimah & Sayyiduna Ali merupakan idzin & wahyu dari Allah SWT.
Sebelum Sayyiduna Ali, Sayyiduna Abu Bakr & Sayyiduna Umar meminang tapi ditolak karena tidak ada wahyu untuk itu, menunjukkan bahwa semua yang dilakukan & dikatakan Sayyiduna Rasulullah SAW adalah dari wahyu.
12. Kehidupan pernikahan dengan Sayyiduna Ali yang tidak berpunya banyak harta, kondisi yang lemah & mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa pembantu. Bahkan kadang sang suami ikut membantu ketika tidak sedang sibuk di luar atau dikirim ke luar Madinah untuk suatu tugas.
13. Suatu hari pergi dengan niat meminta budak untuk membantunya mmeberesi pekerjaan rumah pada sang ayah, tapi sesampai di hadapan sang Ayah ia malu mengutarakannya, lalu pulang ke rumah. Dan kembali lagi bersama suaminya Ali untuk memberanikan diri. Tapi permintaan itu ditolak sang Ayah, karena budak itu perlu dijual untuk membeayai anak-anak yatim dari syuhada Uhud. Rasulullah SAW memang membiayai hidup para anak-anak yatim. Beliau SAW memberi amalan untuk Sayyidah Fathimah & suaminya untuk dibaca sebelum tidur.
Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali.
Amalan yang dilaksanakan Sayyidah Fathimah & Sayyiduna Ali sepanjang hidup mereka, mujarrab membuat pengamalnya hilang rasa lelah setelah bangun tidur.
Amalan itu sangat bagus diterapkan oleh para pekerja keras.
Foto Fauzan Inzaghi.
14. Setelah pernikahan, kondisi Sayyidah Fathimah di Madinah terus menerus dalam keadaan lemah, dalam keadaan hamil atau periode menyusui. Tapi dalam semua itu, Sayyidah Fathimah tidak hanya duduk diam di rumah, ia ikut serta dalam berbagai peperangan sebagai tim kesehatan yang merawat luka atau memberi minum para pejuang di medan perang.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan terhormat & mulia tidak berarti hidup mewah, duduk-duduk di rumah dilayani para pembantu, tapi mereka keluar membantu & berpartisipasi dalam berbagai kepentingan sosial, agama & negara.
15. Sayyidah Fathimah "Ummu Abiha" yang merupakan ibu, isteri & anak bagi sang ayah sangat sedih dengan perpisahan, sakit terus menerus setelah Rasulullah wafat.
Kesabaran Sayyidah Fathimah dalam musibah ditinggalkan sang ayah SAW, sebelumnya ibundanya, seluruh kakak-kakaknya, semua masuk ke lembaran pahala Sayyidah Fathimah.. Berkat itu, Sayyidah Fathimah memperoleh kemuliaan yang lebih tinggi dari kakak-kakak beliau, bahkan dari ibundanya sendiri Khadijah al Kubra.
____
Beliaulah perempuan no 1 di seluruh semesta alam. Hidup sabar menghadapi berbagai cobaan, menunjukkkan bahwa kita di dunia ini untuk diuji, berbuat baik dalam semua kondisi yang kita hadapi & rasakan.
Perlunya kita merubah cara berfikir kita bahwa kemulian & keagungan seseorang di sisi Allah SWT bukanlah dilihat dari kenyamanan hidupnya di dunia.
Ayo mencintai ahli al-Bait yang kita diperintahkan Allah dalam al-Qur`an untuk berhubungan baik pada mereka.
Mereka lah juga yang sudah berjuang berat memikul derita dalam menyampaikan agama agung pada kita

Di hadits dha`if disebutkan: "Barang siapa yang di hatinya ada rasa cinta pada ahli al-bait; mati dalam keadaan syahid".
رضي الله عن فاطمة الزهراء وأرضاها، وصلى الله على أبيها سيدنا محمد أزكى صلاة وأنماها، اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله

_____
Sumber:
- Taraajim Sayyidaat Bait an-Nubuwwah.. karangan Binti asy-Syaathi.
- perayaan maulid Sayyidah Fathimah tahun kemaren bersama Syekh Yusri  hafizhahullaah di masjid al-Asyraaf, 23 Jumaadil akhir 1437 / 1 April 2016.
عِقد اللول في سيرة البتول تأليف الشيخ محمد بن حسن بن علوي الحداد.
https://archive.org/details/3iedullul
- Khutbah & prayaan maulid Sayyidah Fathimah bersama Syekh Yusri hafizhahullaah di masjid al-Asyraaf, 20 Jumaadil akhir 1439 / 9 Maret 2018
- Syekh Usamah Mansi al-Hasani hafizhahullaah dalam acara al-amnah.
- al-Habib Muhammad as-Saqqaf hafizhahullaah
Read More