TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Thursday, November 23, 2017

Nur Muhammad Rasulullah SAW Adalah Ciptaan Pertama

November 23, 2017 0
Dalam berbagai kesempatan, kita sering menemukan entah itu bacaan atau mendengar kajian atau juga ceramah, dimana ada satu ungkapan yang disebut-sebut sebagai Hadits. yaitu mengenai apa yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWt. dan kaitaannya dengan Nur Nabi SAW. Sebagai mana pertanyaan berikut:

“Hal pertama yang diciptakan Allah adalah Nur Nabimu, wahai Jabir.” Apakah hadits ini shahih? Dan apakah makna dari hadits tersebut selaras atau bahkan bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah yang wajib bagi Nabi?

Pertanyaan diatas pernah juga ditanyakan kepada Syaikh Ali Jum’ah, seorang ulama besar dari Al-Azhar Mesir, yang pernah menjabat sebagai mufti negara.
Dalam kitab Al Bayan li maa Yasghal al Adzhaan yang berisikan 100 persoalan yang yang paling sering ditanyakan, Syaikh Ali Jum’ah di masa beliau menjadi mufti Mesir menjawab dengan sangat baik, gamblang dan mencerahkan sebagaimana biasanya.

Berikut kutipannya:

“Para pakar hadits menghukumi hadits tersebut mungkar dan bahkan memvonis palsu. Syeikh Al-‘Allamah Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari berkata,”Mereka yang menisbatkan periwayatan hadits tersebut kepada Abdurrazaq telah keliru karena hadits tadi tidak ditemukan dalam kitab Al Musannaf, Al Jami’ dan Tafsirnya. Al-Hafizh as-Suyuthi, dalam kitab tafsir Al-Hawi fil Fatawi juz 1 halaman 32 berkata,”Hadits tersebut tidak mempunyai sanad yang otoritatif.” Hadits tersebut secara pasti PALSU. Kesimpulannya, hadits tadi adalah mungkar dan palsu serta tidak ditemukan subernya dalam kitab-kitab hadits”. (Abdullah bin Shiddiq al Ghumari, Mursyid al Hair li Bayan Wadl’ Hadits Jabir, hal.2).
Mayoritas ahli hadits menghukumi hadit diatas palsu seperti Al Hafizh as-Shaghani. Dan pendapat ini tidak ditentang oleh Al-Hafizh Al-‘Ajluni. Demikian untuk status dari hadits Jabir.

Namun demikian, makna hadits tersebut mungkin benar apabila yang dikehendakinya adalah permulaan dari cahaya dan permulaan secara mutlak. Hal ini benar dari Qalam dan ‘Arasy dengan khilaf yang masyhur. Al-‘Ajluni mengatakan,”Menurut pendapat lemah bahwa permulaan segala materi sesuai dengan jenis materi tersebut. Semisal, Allah menciptakan pertama kali segala cahaya dari materi cahaya juga, dan begitu juga seterusnya. Dalam kitab Ahkam ibn al-Qaththan sebagaimana diriwayatkan Ibnu Marzuq dari Ali bin Husein dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku dulu adalah cahaya di sisi Tuhanku selama empat ribu tahun, yakni sebelum Adam diciptakan.” Demikian ibarat kitab al Mawahib. (al-‘Ajluni, Kasyaf al-Khafa, juz 1 halaman 311-312).

Imam Al’Allamah Ad-Dardir (Al Maliki) tidak menentang makna ungkapan tersebut. Belliau berkata,” Cahaya rasulullah SAW adalah sumber semua cahaya dan materi sebagaimana sabda beliau kepada Jabir, ”Materi pertama yang diciptakan Allah adalah cahaya Nabimu dari Cahaya-Nya...al Hadits.” Beliau adalah mediator seluruh makhluk.” (Ad-Dardir, asy-Syarah as-Shaghir; Hasyiah as-Shawi, juz 4 halaman 778-779).

Sesungguhnya alam-alam yang diciptakan Allah ada banyak. Ada alam Mulk yaitu alam yang kita lihat. Ada alam Malakut yaitu alam ghaib. Ada alam Ruh, alam Jin dan alam Malaikat. Di semua alam tersebut terdapat cahaya-cahaya yang diciptaka Allah SWT. Tidak bisa ditolak kemungkinan bahwa Rasulullah SAW adalah awal cahaya yang diciptakan Allah dan cahaya-cahaya tersebut memenuhi sifat manusia pada alam ruh.

Kesimpulannya, hadits tersebut palsu dan tidak benar dinisbatkan kepada Rasul SAW. Akan tetapi maknanya mungkin benar seperti penjelasan diatas. Wallahu a’lam.

Demikian jawaban dari Syeikh Ali Jum'ah dalam kitabnya tersebut yang memuat 100 pertanyaan yang paling sering diajukan. Dengan lugas, beliau menjawab dengan nukilan dari berbagai referensi yang terpercaya, yaitu kitab-kitab ulama besar terdahulu. Dan sangat proporsional, dimana ha1 dikatakan haq, sedangkan bathil, tanpa ragu beliau katakan bathil.
Read More

Wednesday, November 22, 2017

Telah Datang Bulan Penuh Berkah

November 22, 2017 0
Selamat Berbahagia...!!!

Hari-hari yang sedang kita lalui sekarang adalah awal bulan Rabiul Anwar (Bulan berseminya cahaya) yang menampakkan cahaya Nabi Muhammad Saw. terhadap semesta.
Kaum muslimin menamakannya dengan Rabiul Anwar Karena disana berkilauan cahaya Nabi Muhammad Saw, anugerah dan pemberian terindah dari Tuhan. Dengannya Allah menutup Risalah kenabian dan wahyu terkahir untuk semesta.
Dia diutus sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan akan berbagai macam siksa. Dia telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati umat serta berjuang dijalan Allah SWT hingga akhir hayatnya dan Allah meridhainya.
Ini adalah bulan mulia yang ketika kita memasukinya, kita telah memasuki cahaya, kebahagiaan, kegembiraan dan Suka cita bagi setiap muslim.
Maka jika kita tidak bergembira dengan adanya Rasulullah Saw. Lalu kita akan bergembira dengan siapa?!


Sudah datang...!!!

Bulan Rabiul Anwar, bulan penuh berkah yang bermula darinya cahaya kenabian yang memancar hingga ke seluruh alam semesta. Ini adalah bulan Rabiul Awal yang Allah SWT. muliakan dengan diutusnya seorang Nabi pilihan , seorang Nabi tercinta Saw. Dan hendaknya kita merayakan kelahiran Nabi Saw. dengan ucapan dan perbuatan, dengan suka cita, khidmat, perasaan dan jiwa. Kita harus merangsang diri kita dengan kedatangan Nabi kepada alam semesta dengan pengertian ini. Sehingga menjadikan kita menyampaikan dari padanya walau satu ayat, sebagaimana kita diperintah, "Sampaikan daripadaku walau satu ayat".

Pengertian ini yang menjadikan kita bergembira dengan peraturan yang telah ditentukan kepada kita, menjalankan perintah-perintah yang telah diperintahkan kepada kita, menegah dari sesuatu yang telah dilarang oleh Rasulullah Saw. kepada kita, sebagaimana kegembiraan kita ketika menyambut kedatangannya.
Jadikanlah Bulan ini sebagai langkah awal kebaikan dalam hidupmu, wahai saudara ku. Firman-Nya, "Dan Lakukan kebaikan agar kamu beruntung". Hiduplah di bulan cahaya dengan cahaya yang telah di utus Allah untuk alam semesta.

Bulan Râbi' al-Anwâr (bulan berseminya cahaya) tengah meneduhi kita, dialah awal musim semi, sebutan "al-Anwâr" yang tersemat padanya lantaran pada bulan itu lahirlah Nabi pilihan dan baginda tersayang SAW.
Binar cahayanya terpancar terang di bulan agung ini, menyinari setiap yang di barat sampai sudut timur dunia, bahkan seluruh semesta, cahanya tidak akan redup hingga kiamat..

" ولد الهدى فالكائنات ضياء # وفم الزمان تبسم وثناء "
Sang hidayah telah lahir lalu semestapun berbinar # sementara bibir zaman tersenyum dan memujinya.
Maka di bulan mulya ini sepatutnya kita menjadikan Râbi'al-Anwâr bulan meneladani Rasulullah SAW, menjadikannya pelita bagi kita, dan menapaki jejaknya serta merenungi risalah (Al-Qur'an) yang beliau bawa untuk kita.
Sholawat dan salam Allah serta aliran berkah untuk Sayyidinâ (baginda kami) Muhammad beserta keluarganya bak hembusan angin semilir yang menerpa semak belukar di musim panas.

Maulana Fadhilatus-Syaikh Ali Jum'ah Hafizhahullah,
diterjemahkan oleh Admin FansPage Ahbab maulana Syaikh Ali Jum'ah
Read More

Sunday, November 19, 2017

Saiyidah Khadijah Cinta Pertama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wa Sallama

November 19, 2017 0
Tarbiyah.online – Perkenalan Saiyidah hadijah dengan Baginda Nabi Muhammad telah dimulai sejak awal, ketika Muhammad mendagangi barang-barang Khadijah di pasar Hubasyah. Sebelum Muhammad menjalankan bisnisnya ke Syam. Muhammad memang telah dikenalnya juga melalu pembicaraan para warga Mekkah, bagaimana sikap jujur, bersih, menjaga diri dan sopannya serta jiwa ksatrianya. Ia tahu Muhammad bukanlah pemuda biasa. Ditambah lagi dengan cerita Maisarah ketika menemani dan membantu Muhammad selama di Syam.


Cerita-cerita Maisarah tentang keajaiban yang terjadi pada Muhammad semakin membuat Khadijah berdecak kagum dan menaruh hormat kepada Muhammad. Tiba-tiba menyelinap rasa penasaran yang lebih besar dalam diri Khadijah. Dan ia teringat akan cerita sepupunya yang merupakan seorang ahli kitab yang masih sangat ketat ketauhidannya. Ia menyembah Allah yang satu, dengan mewarisi ajaran Ibrahim, serta tekun mempelajari kitab Taura dan Injil.. Ia juga sangat anti dan mencela kebiasaan orang Qurays yang menyembah berhala dan menyekutukan Allah, Waraqah bin Nauval. Ia pernah bercerita akan segera datang Nabi yang menyeru kepada Tauhid, mengajak kepada kebaikan dan menghindari segala perbuatan yang buruk dan menghinakan.

Khadijah yang mengingat cerita tersebut, teringat akan Muhammad. Ia merasakan getir-getir bahwa Muhammad sepertinya orang yang diceritakan. Karena keluhuran sikapnya, dan keajaiban perlindungan yang didapatkannya.

Segera Khadijah berangkat menuju Waraqah. Dia pun bercerita tentang apa yang diceritakan Maisarah kepadanya. Waraqah pun berdecak kagum. Dan meminta Khadijah menceritakan ulang dari awal. Sehingga ia tak bisa berkata-kata untuk waktu yang sementara. Keduanya terdiam, lalu dengan sedikit gugup, Waraqah mencoba membuka mulut. “Kalau benar apa yang telah kau ceritakan itu, wahai Khadijah, sungguh tak ayal, itu adalah ciri-ciri dari Nabi umat ini. Inilah saat yang ditunggu-tunggu itu. Setelah berkata demikian, Waraqah mengangkat tangan ke langit dan berseru setengah berteriak, “Sampai kapan, sampai kapan?”

Khadijah pun beranjak meninggalkan sepupunya itu dengan perasaan tak menentu. Berjuta rasa bergejolak dalam jiwanya. Makin hari, semakin tak terkendali. Ia membayangkan Muhammad, namun ia berusaha menepisnya. Tapi ayal, semakin ditepis, bayangan itu semakin nyata dalam benaknya. Ia menutup mulut rapat-rapat, tak menceritakan kepada siapapun apa yang dipikirkan dan dirasa olehnya. Ia pun berusaha untuk menjadikan bayangan itu menjadi impian saja. Membuat hatinya sedikit lebih tenang. Hanya saja, semakin berlalunya waktu, impian yang dikenangnya itu semakin membuncah hendak keluar dari alam mimpi. Ia benar-benar tak berkutik, ak mampu ia menanggung perasaannya.

Ia pun memutuskan untuk menceritakan kepada orang lain. Dia memilih Nafisah binti Munyah, yang merupakan teman terdekatnya. Selama ini, kedekatan mereka sangatlah rapat. Hampir tidak ada rahasia diantara keduanya. Selain bisa dipercaya untuk berbagi cerita, Bnafisah juga memiliki pendapat dan pandangan yang mantap terhadap apa saja curhatan yang dilontarkan Khadijah selama ini.

Di suatu sore, mereka perempuan yang anggun lagi terhormat ini duduk berdua, Khadijah mencoba menjadi seperti biasanya, mereka bercanda, saling menggoda dan bercerita hatta perihal cinta. Tiba-tiba Nafisah memotong pembicaraan dan menembak ke arah Khadijah, “Kulihat ada yang berbeda dengan mu hari ini duhai sahabat ku. Wajah mu sedikit mendung, adakah yang kau sembunyikan dariku? Atau hanya dugaan ku saja.” Khadijah pun terdiam, serasa tertembak di ulu hati, ia tercekat.
Nafisah yang melihat gelagat sahabatnya pun melanjutkan,” Katakanlah pada ku, ceritakan apa yang sedang kau hadapi saat ini, apa yang kau pikir dan kau rasakan. Barangkali aku bisa membantu mu menyelesaikan masalahnyaa. Siapa tahu aku bisa menghapus kesedihan yang tersrat di wajah anggun mu.”

Khadijah masih terdiam, lalu ia menarik nafas dalam-dalam untuk memantapkan perasaannya. Lalu ia pun berkata, “Baiklah. Ini semua terjadi karena ada keinginan dihati ku yang membuat aku kacau.”
“Orang seperti mu bisa dihampiri oleh perasaan dan keinginan yang membuat mu kacau juga?” timpal Nafisah dengan nada bertanya. Khadijah menngangkat sebelah tangannya dan menyapu ke wajah sahabatnya itu, “masalahnya tak sesederhana yang kau duga.” Kilah Khadijah.

“Lalu”, Nafisah penasaran.
Khadijah pun kembali terdiam. Nafisah menunggu hampir putus asa, tak ada jawaban dari Khadijah. “Apa pendapatmu tentang Muhammad?” Tanya Khadijah memcah kesunyian diantara mereka.
“Kenapa dengan Muhammad? Apa peduli mu tetang dirinya?” sentak kemudian, Nafisah yang berkata seperti itu sadar, apa yang sebenarnya sedang bergejolak di hati sahabatnya itu. Matahari sore yang memantul diatas ufuk langit Mekkah pun mewarnai kesunyian diantara mereka.

Khadijah sadar temannya telah mengetahui maksud dan arah pembicaraannya, ia pun memberanikan diri untuk bercerita lebih lanjut,”tetapi mana mungkin aku dengan Muhammad? Dia adalah seorang pemuda belia yang gagah perkasa, sedangkan aku sudah tua, umurku telah mencapai empat puluh, lima belas tahun lebih tua darinya, aku juga seorang janda yang ditinggal mati dua kali. Dia adalah orang yag terpandang dari keturunan ternama, dimuliakan di tengah kaumnya, nasabnya bersih. Apakah mungkin dia mau menerima ku?”.

“Tidak Khadijah!” Sergah Nafisah. “Meskipun umur mu tak lagi muda, di tengah kaummu, kau tetap utama, kau juga memiliki nasab yang agung, kau tampak masih muda dan kuat, bahkan jujur saja, kau tampak masih berumur tiga puluh tahun bahkan lebih muda. Dan jangan lupa, hampir setiap lelaki membincangkan mu, mereka datang melamar mu, namun semuanya kau tolak. Itu cukup sebagai bukti.”

Ucapan dari sang sahabat dekat mampu membuat Khadjiah sedikit leboh tenang. Ia lega dengan kalimat yang dilontarkan sahabatnya. Seolah menumbuhkan harapan baru terhadap mimpinya bisa menjadi kenyataan. Atau setidaknya, ia telah merasa lega, karena telah meluahkan perasaanya yang selama ini mendidih di dalam jiwanya. Sejurus kemudian, Khadijah malah berkata,” tetapi, manakah jarak hasrat ku dan hasrat Muhammad ibn Abdillah, antara cinta ku dan cintanya? Bagaimana ia bisa tahu jalan menuju keberadaan ku? Nafisah, apa yang kita bicarakan ini tak lebih dari seiris mimpi yang jauh dari kenyataan, yang akan segera sirna disaat mata terjaga. Mugkin ini hanya puncak lamunan ku saja.”

Nafisah pun tersenyum, lalu samil menepuk dada tanda percaya diri yang tinggi, ia berujar, “Serahkan urusan itu pada ku, pasti bisa kuselesaikan dengan mulus seperti ingin mu.” Setelah berkata itu, Nafisah bangkit dan berlalu, meninggalkan Khadijah sendirian. Ia pun ikut beranjak, sambil berjalan ia melihat para gadis dan anak-anak sedang bermain di dekatnya. Pikirannya malah melayang ke sebuah kejadian beberapa tahun lalu.

Waktu itu waktu dhuha, Khadijah yang sedang bermain-main bersama teman-teman ciliknya di sebuah suddut kota Mekkah, didatangi oleh seorang kaum Yahudi yang entah darimana datangnya. Mungkin ada sebuah kekuatan ghaib yang mengarahkan dan membawanya ke bumi Mekkah. Pria itu berhenti tepat di hadapan Khadijah dan teman-temannya, dan tertawa sejadi-jadinya. “telah datang masa kedatangan nabi terakhir, siapa diantara kalian yang dapat menjadi istrinya, maka lakukanlah!” teriaknya. Tersentak para wanita-wanita tersebut, mereka mencemooh, mengusir dan melempari dengan batu si Yahudi. Karena menganggap dia orang yang tidak waras, dengan sikapnya seperti orang gila. Hanya Khadijah yang tidak ikut serta. Khadijah malah terkesan dengan kata-kata yang keluar darinya.
Khadijah yang terkenang akan masa lalunya, bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa gerangan yang membuatnya malah mengingat kenangan itu, apa di balik semua ini?

Hari-hari pun terus berlalu. Khadijah tetap berada dalam posisi menunggu dengan perasaan tak karuan. Sementara Nafisah telah menyusun rencana. Di pagi hari, Nafisah bergegas menuju Ka’bah dan mencari Muhammad. Begitu ia melihat dan mendapati Muhammad, ia buntuti dari belakang. Ia menunggu kesempatan untuk bisa berbicara dengan Muhammad, hanya berdua saja. Maka, tiba di tempat yang sunyi, Nafisahh mendekat dan setengah berbisik berkata kepada Muhammad,” Muhammad, aku nafisah binti Munyah. Aku datang membawa berita tentang perempuan agung yang suci dan mulia. Dia sosok yang sempurna, cocok untuk mu. Kalau engkau bersedia, ku sebutkan namanya, dan menyebut namamu disisinya.”

Muhammad terdiam sesaat. Kata-katanya mengejutkan beliau, “Siapakah dia?” Muhammad penasaran.

“Ia adalah Khadijah binti Khuwailid. Tentu kau sudah mengenalnya.” Melihat gurat wajah penuh kharisma yang sedang dilanda rasa beragam rupa, Nafisah melanjutkan,”Tak usah kau jawab sekarang, ambillah waktu mu untuk berpikir-pikir dahulu dengan matang. Aku akan menemui mu kembali besok atau lusa.” Nafisah pun berlalu, khawatir dilihat oleh orang lain.

Perkataan Nafisah menjadi beban pikiran Muhammad. Ia heran kenapa ada perempuan yang menyodorkan berita yang belum pernah terlintas dipikirannya selama ini. Adakah ini hanya basa-basi atau ledekan dari perempuan yang sedang iseng? Atau ini murni dari hati Khadijah? Atau memang sekedar olok-olok. Dalam hati kecil Muhammad bertanya, apakah mungkin Khadijah mau dengannya? Khadijah adalah perempuan yang cerdas, terpandang dan kaya raya. Keagungannya tidak diragukan lagi, sedangkan dirinya hanya pemuda biasa bahkan tergolong miskin. Ia hanya pembantu bisnis Khadijah.

Setelah menganalisa berbagai kejadian terutama, kenekadan Nafisah yang dengan polos dan bersihnya cara penyampaian, kuat keyakinan bahwa itu benar-benar utusan Khadijah. Disampaikanlah kepada Abu Thalib dan seluruh keluarga besarnya, untuk bahan pertimbangan melalui musyawarah keluarga besar hingga akhirnya sepakat untuk datang melamar Khadijah.

In syaa Allah akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya bagaimana proses lamaran dan awal mula kehidupan Nabi Muhammad SAW bersama Khadijah sang Istri Tercinta.
Read More

Saturday, November 18, 2017

Perang Pertama Yang Diikuti oleh Nabi SAW Bukanlah Perang Badar

November 18, 2017 0
Kebanyakan kaum muslimin mengira perang yang pertama kali dilakukan dan diikuti oleh Nabi SAW adalah perang Badar. Ternyata selama ini kita salah besar. Perang Badar, bukanlah perang pertama Muhammad, melainkan perang pertama Nabi SAW bersama kaum muslimin memerangi kekufuran kaum kafir Quraiys. Di kesempatan lain kita akan menuliskan khusus bagaimana cerita perang badar, dan perang lainnya yang dikomandoi langung oleh Nabi SAW bersama kaum Muslimin. Insyaa Allah.

Jadi apa perang pertama yang diikuti oleh Nabi SAW..?
Perang yang pertama kali diikuti oleh Nabi SAW dikenal dengan nama Perang Fijar. Perang mempertahankaan Ka'bah Baitullah dan kota Mekkah yang dilakukan bersama-sama oleh bangsa Quraiys. Dikomandoi oleh paman-paman Nabi SAW yang senior.

Saat itu, usia Nabi SAW masih relatif muda. Beberapa mengatakan usianya masih belasan, 14 atau 15 tahun. Ia bersama pamannya yang sebaya dengannya, Hamzah ikut serta dalam perang secara aktif. Ikut mengumpulkan busur-busur panah dan berada di garda depan, dalam pasukan membantu paman-pamannya dari bani Hasyim yang bertanggung jawab menjaga Mekkah. Musuhnya adalah kaum komplotan yang dipimpin oleh Qais Ailan.

Perang ini berlangsung empat kali dalam rentang waktu empat tahun. Penduduk Mekkah semuanya panik dan merasa terancam.

Kedekatan Muhammad Dengan Seluruh Pamannya

Sebelum kenabian, Muhammad memang dekat dengan seluruh paman-pamannya. Hamzah adalah teman sepersusuannya, sedangkan Abbas berumur sedikit lebih tua dari Muhammad SAW. Tidak mengherankan jika ada keponakan yang sebaya dengan sang paman.

Hamzah adalah anak dari saudari ibu Nabi SAW, Aminah. Ketika Abdul Mutthalib hendak meminang Aminah untuk putranya (Ayah Nabi SAW), Abdul Mutthalib juga ikut meminang saudari Aminah untuk menjadi istrinya sendiri. Maka dari itu, kelahiran sang paman Hamzah -yang dikenal sebagai Singa Allah dan Rasul-Nya di kemudian hari- dan Muhammad SAW berdekatan.

lalu bagaimana dengan Abu Lahab yang menjadi musuh Nabi SAW di masa kerasulan? Abu Lahab termasuk paman yang sangat mencintai Muhammad. Buktinya, dimalam kelahiran Nabi SAW, Tsuwaibah berlarian ke arah majikannya, Abu Lahab untuk memberitakan kelahiran Muhammad. Saking senangnya Abu Lahab, ia memerdekakan Tsuwaibah selaku budaknya di saat itu juga. Riwayat tentang ini terdapat dalam Shahih Muslim. Bahkan dalam riwayat lain diterangkan, Abu Lahab yang notabene musuh Islam mendapatkan keringanan azab dalam kuburnya setiap malam senin, dengan sebab kegembiraannya menyambut Bayi Mulia Muhammad SAW. Meskipun status riwayat ini masih dipertentangkan tingkat kedha'ifannya.

Semua paman-paman Muhammad memang sangat menyayangi beliau SAW. Hal ini bisa dilihat kembali di tulisan kami saat Muhammad kecil diasuh oleh sang Kakek Abdul Muththalib. Pesan dari sang kakek, mejadi hal utama, ditambah lagi kondisi Muhammad kecil yang ditinggal oleh dua orangtuanya, dimana mereka datang menyambut penuh haru dan iba Muhammad yang kembali dari Madinah saat itu. Dan, cahaya kenabian pada karakternya yang super baik, sangat dipercaya dan dihormati oleh setiap manusia bahkan seluruh makhluk di dunia ini ikut mengambil peran dalam membangun rasa cinta anak-anak Abdul Muththalib kepada Muhammad SAW.

Sejauh ini, kisah yang tertuliskan masih berkutat pada suasana dan kondisi Nabi Muhammad SAW ktika muda dan sebelum menikah.
Insyaa Allah, setelah ini, kita akan langsung memasuki pada kisah cinta Muhammad dan Khadijah yang penuh dengan kemuliaan dan keteladaan.
Read More

Wednesday, November 15, 2017

Awal Mula Rasul SAW Mengenal Dagang dan Bertemu Saiyidah Khadijah

November 15, 2017 0
Tarbiyah.online – Hari demi hari berlalu, pengetahuan dan pengalaman Muhammad semakin matang dan mahir. Ia menjalankan bisnis perdagangan level domestik di pasar-pasar terdekat di kota Mekkah dan sekitarnya. Seperti pasar Hubasyah di dekat Mekkah, pusat lalu lintas meuju Yaman. Bila pekan dagang telah dibuka di bulan Rajab, Muhammad tak pernah menyia-nyiakan peluang tersebut. Ia terjun kesana untuk membeli dan menjual barang dagangan. Biasanya ia ke pasar tidak sendirian, tetapi mengajak teman sehingga bisa saling membantu dan mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam perjalanan.

 

Kadang Muhammad bekerja pada orang-orang kaya, konglomerat Mekkah, sepert yang pernah dilakukannya pada Khadijah binti Khuwailid.

Tiba di Mekkah dari Hubasyah, ia dan temannya tak lagsung pulang ke rumah, tetapi duluan menghadap kepada bos untuk memaparkan hasil dagang mereka, berapa laba yang diraup. Khadijah memuji Muhammad. Ia bersikap hormat dan ramah kepada Muhammad, bahkan melebihi sikap seorang majikan kepada pembantunya. Bahkan Muhammad melukiskan kebaikan Khadijah begini, “Belum pernah kudapati seorang majikan yang sebaik Khadijah. Setiap aku dan temanku pulang, ia secara semunyi-sembunyi memberi kami makan.”

Abu Thalib tetap masih sangat perhatian kepada Muhammad. Melihat kematangan yang telah diraih Muhammad dan usianya yang semakin matang, sang paman mulai berpikir untuk mengajak Muhammad berdagang secara mandiri, dan mengajaknya ikut serta dalam perjalanan dagang ke Syam. Disaat hari-hari menjelang kafilah dagang Mekkah berangkat ke Syam, Abu Thalib pun bertutur kepada Muhammad sang keponakan tersayang, “Sudah saatnya engkau duhai Muhammad, berdagang secara mandiri. Kau bisa ikut serta dalam kafilah dagang ke Syam. Bukankah usia mu telah sampai dua puluh lebih? Apalagi keadaan saat ini sangat sulit. Sudah berapa tahun kita dicekik paceklik.”

Muhammad terdiam. Setelah berpikir, ia berkata, “Tetapi paman, dari mana harta yang bisa kubawa dan kuperdagangkan dalam ekspedisi musim panas ini.?”
Abu Thalib melemparkan pandangannya ke arah kawanan, dan berkata “Lihatlah pemuda-pemuda Qurays itu! Mereka bekerja pada orang lain denga cara bagi hasil. Kenapa kau tidak ikut bekerja seperti mereka?”.
Hati dan pikiran Muhammad pun terbuka. Ia merasa tertarik dengan usul pamannya. Lalu kembali terdiam dan berpikir, bagaimana caranya membangun relasi dengan para pemilik dagang? Apakah mereka mau menerima dirinya? Belum lagi penduduk Mekkah adalah pedagang tulen, mana mau mereka menyerahkan bisnisnya kepada orang lain, pasti mereka akan menjalankannya sendiri atau menyerahkannya kepada anak-anak mereka. Dalam kekalutan pikirannya, ia bertanya kepada paman, “Siapa yang rela menyerahkan barang dagangannya ku bawa ke tempa yang sangat jauh.?”

Dengan lugas pamannya menjawab,”Khadijah bint Khuwailid! Banyak laki-laki dari kaum mu bekerja padanya. Mereka untung. Aku yakin, kalau kamu kesana, dia pasti akan memilih mu daripada yang lain. Bukankah dia sudah mengenal mu saat kamu bersama teman mu menjalankan bisnisnya di Hubasyah beberapa waktu lalu?”.

Pendapat sang paman banyak benarnya dan sunggug memikat, tapi masalahnya adalah Muhammad tak berai menawarkan diri, ia takut ditolak dengan cara yang tidak layak. Lagi pun, terlalu agung dirinya untuk hal semacam ini. “Mudah-mudahan Khadijah menyuruh orang kesini.” Muhammad berkata kepada pamannya. Tapi jawaban ini tidak memuaskan hati sang paman. Ia berpikir, bagaimana mungkin Khadijah akan ingat kepada Muhammad, sedangkan ia dikelilingi oleh banyak sekali pemuda yang menawarkan diri untuk pekerjaan serupa. Abu Thalib pun berkata, “kamu lah yang harus kesana. Dan itu tidak sulit.”
Keesokan paginya, datang seorang utusan dari Khadijah secara tiba-tiba. Ia meminta Muhammad mendatangi Khadijah, jika bersedia. Dimintanya juga agar Muhammad yang mengurusi bisnis Khadijah untuk diberangkatkan ke Syam bersama kafilah dagang.
Mungkin, Khadijah yang tengah duduk bersama beberapa wanita di tempatnya, dan ada yang datang membisikkan tentang pembicaraan Muhammad bersama Abu Thalib. Bisa jadi juga, fathimah binti Asad yang menyampaikan kepada beberapa kenalan Khadijah, dan mereka meneruskan hingga ke Khadijah. Satu hal yang pasti, Khadijah merasa sangat senang dengan berita yang diterimanya. Ia sangat bangga, jika dagangannya akan diurus oleh seorang laki-laki berjuluk Al Amin. Sebagaiman Khadijah merasa senang melihat laku dan perangai Muhammad yang agung. Ia pun menghapus nama-nama pemuda lain dari benaknya untuk urusan ini. Harapannya fokus kepada Muhammad, hingga ia putuskan untuk mengirimkan utusan untuk meminta Muhammad bersedia mengurusi pekerjaan ini.

Muhammad sangat senang dan menerima dengan bijak. Sebuah impiannya dan juga impian pamannya terpenuhi berkat pertolongan Allah.
Hanyasanya, sontak wajah Abu Thalib berubah menjadi murung. Sesuatu melintas dalam benaknya. Fahimah binti Asad sang istri menangkap dengan cepat perubahan gelagat sang suami. Ia bertanya, “Ada apa duhai suami ku, kenapa tiba-tiba wajah mu berubah lesu dan tampak gelisah sekali?”
Dengan nada sedih, lelaki tua itu menjawab, “Muhammad sebentar lagi akan bertolak ke Syam, negeri yang jauh dari Mekkah.”
“Lho,bukankah kau sendiri yang meminta dan membujuknya untuk pergi? Ada apa?”. Tanya Fathimah keheranan.
“Aku khawatir jika akan terjadi sesuatu padanya.” Abu Thalib menjawab singkat.
“Sudahlah, yang kamu khawatirkan itu, seorang pemuda yang telah berusia lebih dua puluh tahun.” Jawab Fathimah.

Lalu Abu Thalib diam dengan waktu yang cukup lama. Wajahnya keruh terpahat gelisah. Istirnya pun ikut serta cemas. Ia menunggu jawaban dari suaminya, namun tak juga keluar dari mulutnya. Ia mencoba membacahati dan pikiran sang suami melalui dua mata yang telah menua, hingga Abu Thalib berkata dalam nada tanyaa,” Masih ingatkah engkau Fathimah, apa yang dulu pernah kuceritakan pada mu saat usia Muhammad masih belasan tahun? Kau ingat apa yang dikatakan oleh Rahib itu tentang keponakan ku ini.?”

Sontak kedua mata wanita ini membeku, hatinya semakin kelu. Nafasnya terisak dan suaranya terbata, ia menjawab,”Aku masih ingat, bahkan aku hafal denga kata-katanya. Ia menyuruh mu hati-hati untuk menjaga Muhammad dari orang-orang Yahudi. Bukankah demikian?”.
“Ya, itulah yang aku cemaskan. Aku takut, jika apa yang diramalkan rahib itu menjadi kenyataan.”

Fathimah pun duduk terdiam, ia membisu. Karena merasakan kegelisahan luar biasa. Bahkan dalam hatinya ia berharap, kalau Khadijah akan menarik kembali rencanaya itu, atau berharap Muhammad membatalkan, bahkan ia berpikir jika Abu Thalib saja yang akan menahan Muhammad untuk berangkat. Semua yang ada dipikirannya adalah cara supaya Muhammad tetap tinggal di Mekkah dalam keadaan aman dan tenang.

Sementara itu Khadijah telah membulatkan tekad untuk menyerahkan hartanya pada Muhammad untuk diperdagangkan. Muhammad pun menjanjikan laba yang berlipat, melebihi pedagang lainnya. Muhammad pun diberikan kepercayaan oleh Khadijah dengan membawa bersamanya seorang teman yang bisa membantunya. Orang kepercayaannya, Maisarah. Ia berpesan kepada Maisarah untuk patuh kepada Muhammad dan mengurusi segala keperluannya. Muhammad pun berterimakasih atas kebaikan Khadijah yang luar biasa –ini pula yang menjadi pintu pembuka lembaran hidup baru di masa depan-.

Begitu kafilah berangkat meninggalkan Mekkah, Abu Thalib semakin bersedih. Hari demi hari berasa duri yang menyakitkan, ia dirundung rasa gelisah dan sedih seara terus menerus. Demikian juga dengan Fathimah istrinya, meskipun ia mencoba menghibur sang suami dengan rasa optimis, bahwa Muhammad akan baik-baik saja, ia akan dilindungi oleh Yang MahaKuasa, padahal pikirannya kacau, nuraninya teriris pilu. Hingga sampailah hari bahagia, hari ketika kafilah datang kembali tanpa ada yang kurang.

Orang-rang berkumpul di dekat Ka’bah, Rumah Suci Allah menyambut kedatangan kembali putra-putranya, suami dan kerabatnya yang kembali dengan selamat dan dagangan yang berlimpah. Semua merasa bahagia, terlebih Abu Thalib bersama istrinya. Wajahnya berseri-seri melebihi keceriaan wajah yang lain. Bahagia yang dirasa Abu Thalib berlapis, keselamatan Muhammad, dan juga pembuktian keponakan kesayangannya telah mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang ditekuninya dengan tetap hingga hari setelah itu.

Muhammad langsung menuju majikannya. Ia menyerahkan laba yang melimpah dari hasil dagangan barang-barang yang ia bawa ke Syam. Ia juga membawa pulang barang belian dari Syam untuk dijual di Mekkah dengan laba yang berlipat.

Khadijah pun merasa sangat puas dan semakin terkagum pada Muhammad atas pencapaiannya. Ditambah lagi cerita khusus dari Maisarah tentang Muhammad selama perjalanan dan perdagangan selama di Syam. Bagaimana kejujurannya, gaya menjual dan membeli barang, interaksinya dengan pembeli atau orang sekitar, tidak perah terlibat pertengkaran. Juga menceritakan kemuliaan akhlak dan kebiasaan Muhammad ketika makan, minum dan tidur.

Bahkan lebih dari itu, Maisarah pun ikut menceritakan bagaimana hal yang aneh bin ajaib terjadi, dimana awan senantiasa meneduhi Muhammad dengan berarak di langit sepanjang perjalanan dalam teriknya matahari. Tentang rahib di Basrah yang saat melihat Muhammad tidur sejenak di bawah pokok kayu di dekat pertapaanya, berkata,”Orang yang berada di bawah pohon itu tak lain adalah Nabi.”

Semua diceritakan oleh Maisarah kepada Khadijah. Bak seorang informan, atau intelijen, begitulah Maisarah bertugas. Ia membantu Muhammad sepanjang ekspedisi, dan juga memantau Muhammad dengan segenap jiwanya, lalu dilaporkan kepada sang majikannya, Khadijah. Alhamdulillah, setiap detail laporannya adalah positif, bahkan besar nilai plus nya.
Read More

Menjadi Penggembala Kambing

November 15, 2017 0
Muhammad kecil semakin tumbuh kembang menjadi anak remaja. Ia tumbuh dengan baik, bahkan terlihat lebih sehat dan bugar daripada anak lain seusianya. Karakternya pun semakin terlihat. Fathimah sang bibi menceritakan kepada Abu Thalib bahwa Muhammad kini lebih nampak kehalusan dan kelembutannya, sesantunan, ketenangan juga kewibawaannya. Bahkan Fathimah sedikit heran melihat Muhammad kini yang lebih pemalu. Ia malu untuk meminta dan menyuruh sesuatu kepadanya, “Ia lebih malu dari pada gadis pingitan.”tutur Fathimah. Sang bibi masih mengaggap hal yang sanngat wajar, jika anak seusia Muhammad kini lebih banyak malas dan banyak mainnya. Tapi itu tidak terlihat dalam diri Muhammad.

Muhammad, dengan melihat keadaan keluarga Pamannya ini, ia tentu tidak ingin kehadirannya di tengah keluarga ini malah menambah beban tanggungan. Sementara anggota keluarga yang menjadi tanggungan pamannya ini cukuolah banyak. Ia sadar, ia hanya menumpang disini, bagaimana mungkin ia bisa bermalas-malasan.
Oleh karena itu, jika Fathimah sedang menyajikan makanan, Muhammad mengalah untuk tidak memakannya terlebih dulu, membiarkan sepupu-sepupunya berebut makanan diatas napan akibat rasa lapar dan sedikitnya persediaan makanan. Muhammad mengalah karena didorong oleh rasa malu, sikap hormat, kesucian jiwa dan kelapangan hati untuk tidak ikut mengulurkan tangan ke dalam nampan itu. Namun gerak-gerik Muhammad ini diperhatikan oleh sang bibi, hingga kemudian Fathimah sering mengambilkan makanan untuk Muhammad, yang memunculkan rasa cemburu pada sepupu-sepupunya yang lain yang merupakan anak dari paman dan bibinya. Mereka sedikit merasa tidak senang karena dengan sedikitnya persediaan makanan, Muhammad malah dianak-emaskan dengan tetap menyediakan porsi makanan untuk Muhammad.

Uniknya, jika keluarga pamannya ini makan secara sendiri-sendiri atau bersama-sama tanpa kehadiran Muhammad, mereka tidak pernah merasakan kenyang. Namun sangat berbeda jika ada Muhammad di tengah-tengah mereka. Makanan yang sedikit mampu memenuhi rongga perut mereka, mereka selalu puas terhadap makanan yang tersedia. Sehingga Abu Thalib berujar kepada seluruh keluarganya, “Jangan makan dulu sebelum Muhammad anakky datang bersama kita.” Muhammad pun datang, dan mereka merasa kenyang, tak hanya kenyang, kadang mereka kelebihan makanan.

Demikian juga ketika minum susu, sering mereka meminta Muhammad yang meneguk duluan susu yang ada dalam bejana, barulah kemudian disusul oleh mereka secara bergantian. Semuanya bisa merasakan kepuasan meminum susu sepuasnya, meski hanya dari satu bejana itu.

Ummu Aiman, sang pengasuh Muhammad kecil, sering sekali makan hanya dalam keadaan sedikit, tapi ia tak pernah mengeluh lapar. Di pagi hari, kadang ia hanya meminum air dari sumur Zamzam. Kalau ditawari makanan, ia menolak dan menjawab, “Maaf, aku kenyang.” Dan kalimat yang keluar tersebut, bukan karena penolakan secara halus atau sikap malunya atau juga ungkapan kosong, melainkan memang demikian, ia merasakan kenyang.

Begitulah keberkahan yang mereka dapatkan bersama Muhammad, meski dalam keadaan sempit.

Kepekaan Muhammad tersebut tumbuh semata-mata dari jiwanya yang lembut nan halus. Ketika ia semakin matang, ia ingin membalas budi sang paman beserta keluarga, dengan sedikit membantu perekonomian mereka. Ia berpikir keras, apa yang harus dikerjakannya. Semua pekerjaan telah ada budak yang melakukan. Hendak berdagang, mana mungkin, ia seorang miskin tanpa modal. Ia terus berpikir, hingga kemudian menemukan sebuah pekerjaan yang cocok menurutnya, menggembalakan kaming penduduk Mekkah ke padang. Ia menilai pekerjaan tersebut sangat cocok baginya, Ia bisa menafakkuri alam, luasnya langit dan padang beserta kehebatan dan kekuatan yang terpampang di dalamnya sungguh suatu pemandangan yang sangat bagus untuk merenungi Kekuasaan Allah.

Sekali tepuk, dua lalat mati. Sebuah pepatah yang barangkali cocok untuk menggambarkan pikiran Muhammad.

Ketika ia utarakan niatnya ini kepada sang paman, Abu Thalib menolaknya. Fathimah terkesima, melihat betapa halus perasaan dan pemikiran yag ada pada anak ini. Usianya masih belia tapi sudah berpikir sejauh itu, mereka menjadi iba. Tapi Abu Thalib tak mampu mendebatnya. Tekad Muhammad telah bulat dan tak bisa ditawar lagi. Akhirnya Abu Thalib pun mengalah dan terpaksa mengizinkan Muhammad menggembala kambing. Maka Abu Thalb pun mencarikan beberapa orang Qurays yang bersedia kambingnya dikembalai oeh Muhammad. Abu Thalib mencari dengan selektif, karena tidak ingin ada yang menjahati Muhammad nantinya.

Tiba saatnya Muhammad menggembala. Fathimah binti Asad sang bibi setiap pagi mengantarkan Muhammad ke depan pintu, kadang ia memberikan bekal untuk seharian di padang gembala di pinggir kota Mekkah. Saban hari, ia berpesan kepada Muhammad untuk berhati-hati, kadang juga ia sampaikan kepada teman-teman Muhammad untuk menjaga Muhammad. Ia menitipkan Muhammad pada sekawanan penggembala lainnya. Sebegitu besar perhatian Fathimah sang bibi.


Muhammad pun menemukan lingkungan baru, bersama anak sebayanya para penggembala cilik yang tersebar di padang sekitar Mekkah. Anak-anak sebagaimana umumnya, ketika berkumpul mereka berbagi cerita-cerita hebat yang dialaminya. Ada yang bercerita bagaimana mereka pernah bertarung mempertaruhkan hidupnya melawan bahaya. Mereka juga menceritakan tentang keberadaan tempat-tempat hiburan, permainan dan aneka kesenangan lainnya. Muhammad tak luput dari sasaran mereka untuk berbagi cerita. Muhammad lebih banyak mendengar daripada ikut bercerita. Ia banyak menyerap informasi baru, dan belajar dari cerita teman-teman sesama penggembala.

Muhammad remaja adalah seorang penggembala yang jujur. Ia selalu tepat waktu dalam bekerja. Meskipun masih remaja, profesionalitasnya telah terlihat.

Teman-teman penggembala membujuk Muhammad untuk ikut ke acara hiburan. Awalnya Muhammad selalau menolak, tapi karena terus menerus dibujuk, akhirnya hati Muhammad pun luluh untuk ikut bersama mereka. Ia juga merasa ingin menyaksikan langsung keberadaan pesta itu, dan duduk ngobrol semalam suntuk.

Di satu hari, teman penggembala Muhammad datang dan membujuk bahkan mendesak Muhammad untuk ikut bersama mereka ke sebuah pesta disudut kota Mekkah. Malamnya mereka pun berangkat. Disana ada tabuhan rebana, tiupan seruling, alunan lagu dan berbagai macam hiburan yang biasa dijumpai di acara semacam itu. Muhammad duduk di kejauhan dan memperhatikan, namun tak lama, hanya sesaat kemudian, Allah membuat Muhammad tertidur hingga sangat pulas sepanjang malam. Ia baru terbangun ketika tersegat matahri yang kian meninggi. Saat ia kembali ke tempat teman-temannya berada, ia malah disambut penuh keheranan dan tanya. Muhammad tidak bisa banyak menjawab. Terjadi pula di beberapa waktu kemudian, hal yang sama terulang. Muhammad kembali tertidur sebelum ia mendekat ke tempat pesta.

Akhirnya, Muhammad pun merasa hari-harinya untuk menjadi penggembala cukup, mesti diakhiri secepatnya. Ia harus mencari pekerjaan lain yang lebih cocok, demi membantu pamannya beserta keluarga. Mungkin kini ia sudah bisa berdagang. Usianya telah mencapai tiga belas tahun. Ia yakin sudah bisa ikut membantu pamannya dalam berdagang. Di Mekkah, Abu Thalib mempunyai kios dagang. Muhammad berpikir ia bisa membantu mengurusinya dan menggantikan sang paman saat sang paman harus keluar atau pergi berdagang ke luar Mekkah.
Read More

Tuesday, November 14, 2017

Perjalanan Dagang Ke Syam Pertama Yang Menggelisahkan Hati

November 14, 2017 0
Kedekatan Muhammad kecil dengan pamannya Abu Thalib, sangatlah erat sekali. Dia tidak ingin berpisah meskipun hanya sehari saja. Mungkin ini adalah insting yang  muncul secara naluriah karena ia tidak ingin kehilangan orang yang dekat dengannya dan penuh kasih dan sayang dalam mencintainya, sebagaimana ibunda Aminah dan sang kakek Abdul Mutthalib. Ia pun begitu mencintai Abu Thalib beserta istrinya. Tetapi Muhammad yang masih belia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Muhammad masih kecil, ekspresi cinta kepada mereka jelas hanya bersifat rasa dan ketergantungan.

Sampai-sampai ketika hari dimana kafilah dagang Arab telah menentukan hari untuk berangkat berdagang ke Syam –sudah menjadi adat bangsa Arab melakukan ekspedisi dagang ke Syam dari aman-, bagi penduduk Mekkah hal ini sudah mendarah daging. Muhammad kecil meminta untuk ikut ke Syam, ia tidak sanggup jika tidak melihat keberadaan pamannya walau sesaat. Sang paman menampik keinginan si kecil. Menurutnya, Muhammad kecil masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang wanita dan sosok ibu, belum waktunya bagi si kecil untuk ikut ekspedisi dagang ini. Apalagi, Abu Thalib khawatir jika ia bisa menjadi lalai dengan barang dagangannya, hingga pengawasannya terhadap Muhammad akan berkurang dan terpecah. Bagaimana jika ia kelelahan, dan tak tak sanggup mengimbangi perjalanan kafilah.

Semua kekhawatiran itu memenuhi benak sang paman, demikian juga dengan bibi-bibinya. Namun Muhammad bergeming, ia merasa kekhawatiran yang berlebihan itu tidaklah patut. Ia merasa tidak puas dengan keputusan paman yang demikian. Sang paman pun bingung, karena keponakannya ini, tidak bisa dipisahkan dengannya. Tapi tetap saja mereka tak bisa bersikap keras. Wajah Muhammad kecil yang dipenuhi dengan nur, memancar dan meluluhkan hati mereka semua. Ditambah rasa iba sang paman ketika mengingat masa lalu sang keponakan kesayangannya ini yang nihil akan kasih sayang sang ayah dan miskin waktunya bersama ibu. Ia pun berat hati untuk meninggalkan Muhammad.

Abu Thalib berkata kepada istrinya Fathimah,”Kemaskan barangnya, Aku akan membawanya ikut dan menjaganya.” Fathimah terkejut dengan keptusuan suaminya, dan merasa berat hati, namun ia tak ingin membantah sang suami. Dengan penuh keraguan dan rasa iba, ia kemasi barang dan bekal untuk Muhammad, dan menggantungkan nasib Muhammad kecil serta suaminya kepada Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia agar dijaga keselmatan mereka.

Kafilah pun berangkat menuju Syam, melewati Madinah -Yastrib saat itu-, Khaibar, Tima’, dan Tabuk. Sebuah perjalanan yang amat panjang, dengan sedikit istirahat sebelum mereka mencapai Bushra, salah satu ibu kota negeri itu. Untuk pertama kalinya, Muhammad menyaksikan bangunan-bangunan megah, orang-orang asing, para budak yang diperjual belikan dan budak yang bersama tuannya, juga orang merdeka lainnya. Kaum konglomerat dan kaum fakir, semua berbaur di pasar itu. Muhammad dititipkan sebentar di sebuah kuil tua nan besar bersama beberapa pembantu yang sedang beristirahat disana. Abu Thalib berpesan pada mereka  untuk menjaga Muhammad dengan sangat baik.
Sesaat kemudian, Abu Thalib kembali dan menggandeng tangan Muhammad, mengajaknya jalan-jalan, hingga ke sebuah rumah besar dan bertingkat. Mereka pun naik ke lantai atas dan melihat-lihat ke sekitar. Tiba-tiba seorang tua yang berpakaian hitam dan kasar, datang. Ia memegang tangan Muhammad kecil yang belum matang usia remajanya, dan memeriksanya. Ia tercenung beberapa saat, kemudian meneliti setiap garis dan guratan wajah si anak belia ini. Lalu dengan cepat, pria tua itu menyingkap pundak Muhammad dan kemudian lututnya, seolah ia sedang mencari dan memeriksa sesuatu yang ada pada tubuh badan Muhammad kecil.
Barulah kemudian ia berbicara dengan sangat serius dan -fokus seolah hanya mereka saja yang ada disana-, dalam keramaian orang-orang di dekat pasar. Gelombang pertanyaan pun menghantam Muhammad dan sang paman satu demi satu, mereka menjawabnya dengan cermat. Tetapi, ketika pria tua ini meminta Muhammad untuk bersumpah atas nama Lata dan Uzza, Muhammad berpaling dan menghindar,” Jangan sekali-kali engkau menanyakan tentang keduanya. Sungguh demi Allah aku sangat membenci keduanya melebihi apa pun yang ada.” Berkata sambil melemparkan wajahnya ke arah lain.

Lalu pria tua tersebut bertanya, ”Siapa ayah dari anak ini?”, Muhammad terpana.
“Akulah ayahnya,” jawab Abu Thalib dengan tegas. Pria itu pun menatap lekat wajah dan memerhatikan tubuh Abu Thalib, lalu bergumam tak percaya, “Bukan, tidak mungkin ayah dari anak ini masih hidup.”
Abu Thalib pun terdiam, tak bisa mengelak, dengan sedikit terbata ia pun mengaku, “Maksudku, aku adalah pengganti ayahnya. Aku adalah paman yang mengasuhnya. Sejak lama ia telah ditinggalkan mati oleh ayahnya.”

Pria tua itu, yang kemudian dikenal dengan panggilan Rahib Buhaira itu terdiam untuk beberapa waktu. Lalu ia mengangkat wajahnya dan berkata sedikit berbisik dengan penuh kehati-hatian kepada Abu Thalib, “Tuan, jagalah keponakan mu ini engan sungghuh-sungguh. Berhati-hatilah terhadap orang Yahudi. Jika mereka sampai mengetahui hal ini, pasti, tanpa segan mereka akan berlaku jahat kepadanya, hingga membunuhnya.”

Perubahan sikap terjadi pada keduanya, cara masuk mereka dengan girang dan penuh tawa tadi, kini saat keluar berganti dengan rasa cemas yang tak menentu, terutama pada sang Paman, akibat perkataan Rahib Buhaira. Dadanya bergemuruh, ia gelisah. Muhammad kecil juga mungkin bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ”Siapa itu Yahudi, yang hendak mencelakainya.?” Karena sejauh ini kehidupan yang dikenal Muhammad kecil hanyalah Mekkah.

Dalam perjalanan pulang mereka, penjagaan Abu Thalib benar-benar sangat ekstra. Sebelum mereka menyentuh tanah Mekkah dan melihat rumahnya, hati Abu Thalib dipenuhi rasa was-was, ia tak bisa tidur, matanya bergerilya kiri kanan, depan-belakang untuk mengantisipasi segala potensi kejahatan yang bisa jadi akan menimpa keponakan tersayangnya.

Sesampainya di mekkah, Abu Thalib menceritakan kepada Fathimah, istrinya. Tak ada sedikit pun yang ia sembunyikan. Fathimah sangat terkagum dan terkesima dengan kisah dari suaminya. Ia pun berujar kepada suaminya. “Kalau demikian cerita mu wahai suami ku. Permintaan Muhammad yang sangat ingin ikut  dalam perjalanan kalian kemarin itu bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah takdir Allah, sehingga kau dapat melihat langsung keistimewaan yang dialami oleh anak ini. Dan setiap kejadian menyangkut dirinya. Mungkin itulah kenapa ia sangat dekat dan bergantung pada mu. Hingga aku pun tak kuasa mengekangnya dari mu.”

Dan Fathimah melanjutkan, “Dibalik hari ini terdapat hari esok yang penuh misteri, demikian juga dengan Pribadi Muhammad, masih banyak rahasia yang belum terungkap. Sejauh ini, sebagian telah nyata di hadapan kita. Dan kita pasti akan menyaksikan sesuatu yang lebih besar kedepannya.” “Itu kalau Allah menjaganya dan Yahudi tidak mencelakainya,” Abu Thalib menyela, “Dan aku sangat mengkhawatirkannya wahai Fathimah istri ku.”

Fathimah pun menenangkan, “Tidak ada Yahudi di Mekkah wahai suami ku, kecuali mereka hanya datang dan pergi unuk berdagang. Menurutka, rahasia ini harus kita jaga, jangan dibuka kepada siapa pun. Terutama yang rahib itu sebutkan. Dan Muhammad harus selalu dalam pengawasan kita.”

Sejak hari itu, perhatian dan pengawasan Fahimah binti Asad kepada Muhammad semakin besar dan ketat. Dan cintanya kepada Muhammad pun kian dipadati rasa hormat. Hingga ia tumbuh menjadi semakin dewasa, yang beranjak menjadi seorang pemuda.
Read More

Kasih Sayang Abu Thalib dan Fathimah Kepada Muhammad

November 14, 2017 0
Setelah meninggalnya sang kakek Abbdul Mutthalib, tongkat kepemimpinan Bani Hasyim, berpindah kepada paman Muhammad, saudara kandung dari Abdullah, ayahnya, Abu Thalib.

Muhammad kecil mendapatkan perhatian yang luar biasa dari Abu Thalib dan istrinya, Fathimah binti Asad. Kecintaan keduanya kepada Muhammad dicurahkan sebagaimana rasa cinta yang mereka curahkan kepada anak-anaknya yang lain. Bahkan Fathimah merasakan cinta yang lebih ia curahkan kepada Muhammad.

Si kecil Muhammad mendapatkan sosok ibu pada diri Fathimah sang Bibi. Bahkan di suatu waktu dengan polosnya Muhammad kecil memanggil Fathimah dengan sebutan ibu, bukan bibi. Terkejut Fathimah mendengarnya. Disatu sisi, ia memandang si kecil dengan rasa penuh iba, megingat si kecil yang tidak merasakan kasih sayang seorang ibu secara cukup. Namun, di sisi lain dalam benaknya ia meerasakan kebahagiaan yang sangat mendalam. Seolah ada sejuta cahaya kebagiaan yang yang keluar dibalik panggilan itu melalui mulut mungil si kecil Muhammad yang sangat mulia itu. Ia mendekat kearah Muhammad kecil dan mendekapnya, menciuminya dengan penuh kasih sayang. Panggilan "ibu" yang dilontarkan dari si kecil berasa lebih berarti dan membuatnya bahagia, bahkan melebihi rasa yang didapat ketika anak-anaknya memanggilnya dengan sebutan ibu.

Hari terus berlalu, Muhammad kecil ikut merasakan pengawasan Fathimah kepadanya tak pernah absen meskipun sehari. Dan Fathimah merasakan kecemasan ketika melihat perubahan pada sikap Muhammad kecil yang sering menyendiri, sering murung dan lebih pendiam. Seolah Muhammad kecil sedang memikirkan suatu hal yang sangat besar, namun mulutnya terkunci untuk menceritakan apa yang ada di benaknya. Fathimah takut kalau-kalau, penyakit aneh tertimpa kepada Muhammad kecil yang sangat dicintainya.

Fathimah yang semakin cemas, melaporkan kepada sang suami, Abu Thalib. Abu Thalib pun ikut memperhatikan Muhammad kecil, dan mencoba mereka-mereka, apa masalah yang sedang dipikirkan dan dihadapi oleh si kecil, namun mentok, mereka berdua tak mampu menjangkaunya. Hanya saja, dengan epenuh keyakinan dan harapan Abu Thalib berujar kepada istrinya,” Biarkan saja dia, Tuhan pasti akan menjaganya.” Dan ucapan itu terus menerus keluar dari mulut sang paman ketika istrinya mengadukan hal yang sama.

Muhammad merasakan bahwa dirinya selalu diawasi dan dijaga oleh Allah SWT. Yang merupakan salah satu tanda kenabian. Pernah ia diajak kepada berhala oleh paman-paman dan bibi-bibinya. Tapi ia selalu menolak. Hingga pada sebuah kesempatan dan momentum upacara “Bawwanah” sebuah berhala yang besar dan sangat dihormati oleh kaum Qurais dimana mereka akan melakukan ritual, dan meditasi sepanjang hari disana. Muhammad tak bisa menolak untuk menghadirinya, hingga ia pun ikut ke dalam kerumunan tersebut.  Disinilah Muhammad mengalah kepada para paman dan bibi-bibinya.

Di tengah kekhusyukan orang-oarng dewasa, terdapat anak-anak yang tidak penurut. Sebagaimana umumnya dunia anak-anak, mereka lebih banyak memilih melakukan permainan daripada ikut dalam upara. Muhammad pun menghilang dari kerumunan orang yang beribadat itu bersama banyaknya anak-anak yang berlarian kesana kemari. Bahkan Abu Thalib dan istrinya melihat Muhammad tak ada bersama kerumunan anak-anak. Pecah hati sang paman dan bibinya. Mereka keluar berhamburan mencari Muhammad kecil. Ditemukan si kecil sedang bersembunyi di salah satu sudut rumah dalam keadaan gemetar dan sangat ketakutan.


Bibi dan pamannya menanyakan ada apa gerangan hingga Muhammad demikian. Dijawab olehnya “Setiap aku mendekat ke salah satu berhala itu, ada sosok dengan jubah putih menghadang ku, dan berkata agar aku tidak kearah berhala itu. Ketika aku mendekati Bawwanah, ia menegah ‘Awas di belakang mu, Muhammad jangan sentuh itu’.”

Terdiam dan terkagum paman dan bibinya mendengar penuturan dan pengakuan Muhammad kecil. Mereka sadar, bahwa terdapat ribuan misteri di belakang si kecil, dan dia memiliki sesuatu yang sangat istimewa. Sejak saat itu, Muhammad tak pernah lagi diajak menuju tempat berhala, dan semua bibi-bibinya tak berani lagi mengusiknya.

Hal lain yang mereka saksikan adalah Muhammad tidak memakan bahkan menyentuh pun tidak jika makanan dan daiging hewan kurban yang disembelih sebagai sesaji dan sesembahan kepada berhala. Ini membuat meereka semua takjub, memngingat usia Muhammad yang masih sangat belia. Dan membuat mereka menyadari Muhammad yang bersamanya, bukanlah orang sembarangan.
Read More

Sunday, November 12, 2017

Kasih Sayang Sang Kakek Kepada Muhammad Kecil

November 12, 2017 0
Setiba di Mekkah dari Madinah setelah perjalanan panjangnya bersama sang Ibu untuk menziarahi makam Ayahanda, dan mendapati sang Ibu ikut meninggalkannya di Abwa'. Muhammad disambut oleh sang Kakek, Abdul Muththalib dengan pelukan dan dekapan kasih sayang. Sang kakek dan seluruh paman-paman beserta istri mereka datang menyambut Muhammad kecil dengan penuh haru dan rasa duka.


Tibalah saatnya Muhammad kecil diasuh oleh sang Kakek. Abdul Muththalib adalah seorang terpandang, pemegang kunci pintu dan penjaga Ka'bah. Ia lah orang yang menggali kembali sumur zam-zam yang sempat lama tertimbun. Dan ia juga yang menyiaapkan air bagi musafir-musafir jama'ah haji yang datang ke Mekkah. Muhammad kecil tetap mendapatkan perhatian dan kasih sayang  ibu, melalui istri-istri paman-pamannya, juga melalui kerabat dan sahabat dekat Aminah. Mereka sangat mencintai Muhammad kecil, sebagaimana mereka mencintai anak-anaknya, bahkan lebih.

Abdul Mutthalib mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada Muhammad kecil. Ia tidak dipanggil sebagai cucu, melainkan anak oleh Abdul Mutthalib. Ia memaminggilnya "anak ku" tidak pernah ia memanggil dengan sebutan "Wahai Anak Abdullah". Orang-orang Makkah pun menjuluki Muhammad kecil sebagai Ibn Abdul Muthhalib, bukan Ibn Abdullah. Kecintaan sang kakek kepada cucunya ini, memang telah diekspresikannya sejak Muhammad lahir. Nama Muhammad diberikan oleh sang kakek dengan harapan Muhammad akan dipuji oleh seluruh manusia. Muhammad juga adalah nama yang asing dan tidak pernah disematkan kepada seorang pun di kalangan bangsa Arab saat itu. Di subuh kelahirannya pun sang kakek menggendong Muhammad yang masih bayi, dan mentawafkannya sambil melantunkan pujian-pujian kepada Allah Pemilik Semesta Alam untuk merahmati Muhammad sepanjang hidupnya.

Orang-orang kala itu menceritakan kepada  Muhammad kecil dalam rangka menghibur Muhammad agar tak merasa kesepian dan hidup tanpa kasih sayang orangtua kandung, bahwa Abdul Mutthalib sangat mencintai Muhammad. Dan perhatian yang ia terima dari sang Kakek bukan suatu yang terjadi tiba-tiba, melainkan sudah ditunjukkannya sejak dulu. Abdul Mutthalib terlihat sangat bahagia atas kelahiran Muhammad, bahkan orang-orang menyebutnya, kebahagiaan Abdul Mutthalib lebih besar daripada ketika ia menantikan kelahiran anak-anaknya. Padahal ia memiliki banyak anak-anak lelaki maupun perempuan, memiliki pula cucu-cucu yang lain, dan ia memiliki banyak pembantu. Tapi kelahiran dan keberadaan Muhammad di sisinya benar-benar sesuatu yang lain.
Sang kakek sanhat mengkhwatirkan diri Muhammad sebagaimana orang tua mengkhawatirkan anaknya. Ia selalu memperingatkan orang-orang agar tidak berlaku suatu yang tidak menyenangkan atau yang membahayakan diri Muhammad. Ia selalu berpesan kepada Ummu Aiman selaku pengasuhnya untuk merawat Muhammad dengan baik. Dan jika Abdul Mutthalib mendapatkan undangan atau jamuan, selalu diajaknya Muhammad kecil bersamanya.

Muhammad kecil pun hidup dengan tenang bersama sang kakek, ia mampu melihat guratan penuh cinta dari wajah sang kakek. Dan menyadari keakraban batin diantara keduanya.

Abdul Mutthalib memiliki tempat duduk yang khsusus bergelar karpet merah dan tilam yang tebal sebagai tempat duduknya, ia dikelilingi oleh tempat untuk paman-paman Muhammad. Tak seorang pun berani duduk diatas tempat Abdul Mutthalib, saking istimewanya tempat itu. Lalu di suatu hari Muhammad duduk diatasnya dengan maksud kecintaannya kepada sang kakek. Lalu seorang pamannya menegur Muhammad, dan meminta Muhammad kecil untuk pergi menjauh sambil bermain dengan anak-anak kecil yang lain, agar tidak mengganggu mereka duduk bersama Abdul Mutthalib yang sedang ditunggu kedatangannya. Muhammad kecil pun menurut, dan sedikit menjauh dari tempat duduk pertemuan itu.
Abdul Mutthalib keluar rumah dan melihat Muhammad sedang bermain bersama anak-anak sebayanya. lalu dipanggilnya Muhammad kecl, dipeluknya dan didudukkannya di tempat itu bersamanya. Ia pun menoleh ke arah anak-anaknya yang lain dan orang yang hadir, dan berkata, "Biarkan anakku (Muhammad) duduk di tempat dudukku. Karena sungguh dia tahu teempat yang pantas untuknya. Demi Allah, dia memiliki sesuatu yang luar biasa". Demikianlah mata batin sang kakek melihat keistimewaan Muhammad sejak dari kecil.

Diusia yang lanjut, Abdul Mutthalib menilai diantara banyaknya anak yang ia miliki, Abu Thalib lah yang pantas mengurus Muhammad. Karena Abu Thalib selain satu-satunya saudara kandung Abdullah dari ibu yang bernama Fathimah binti Umar bin Aidz dari klan Makzum, Abu Thalib juga telah menunjukkan cintanya kepada Muhammad sejak lama.

***
Dikutip dari Buku Bilik-Bilik Cinta Muhammad tulisan Dr. Nizar Abahzah.
Read More