TARBIYAH ONLINE: ulama

Terbaru

Showing posts with label ulama. Show all posts
Showing posts with label ulama. Show all posts

Sunday, August 4, 2019

Kualitas Ulama dan Lingkungan Yang Membentuk Keulamaannya

August 04, 2019 0

Tarbiyah.online – Jika membaca profil seorang ulama, tentu saja diantara bagian penting yang perlu dijelaskan adalah setting sosial ulama tersebut. Hal ini disebabkan karena kualitas dan tingkat keilmuan seorang ulama memang sangat dipengaruhi oleh setting sosial, mulai dari lingkungan hingga masyarakat yang melingkar di sisi bangunan perjalanan kehidupan ulama tersebut.

Sekarang seberapa nilai kualitas ulama yang terbit pada sebuah areal ruang dan waktu tertentu, maka semua itu juga erat kaitannya dengan lingkungan masyarakat pada tempat dan masa itu. Masyarakat tidak boleh berlepas tangan pada nilai dan kualitas ulama² yang muncul di tempat mereka, karena secara langsung atau tidak, mereka juga memiliki peran dalam membentuk kualitas ulama-ulama di sana.

Sekarang apa saja unsur yang perlu diperhatikan dalam setting sosial yang dimaksud? Kalau hendak dirumuskan satu per satu tentu banyak sekali. Tapi kali ini kita hanya membahas dua hal yang sederhana namun cukup berpengaruh. Bagian-bagian tersebut meskipun dijelaskan secara terpisah, tetapi satu sama lain akan tumpang tindih dan saling berkaitan.

1. Standar kompetensi yang ditetapkan oleh masyarakat serta skala prioritasnya

Awal sekali tentu kita semua paham bahwa seseorang tidak akan diposisikan sebagai seorang ulama secara tiba-tiba. Tidak mungkin ketika hari ini ia bukan apa-apa, lalu ujug-ujug keesokan harinya ia dinobatkan sebagai ulama oleh masyarakat di sana. Ketika seseorang diposisikan sebagai ulama, maka tentu saja ada standar tertentu yang berlaku dalam masyarakat dan telah ia penuhi.

Berbicara tentang status keulamaan, maka ada banyak sekali standar yang membentuk seseorang hingga dapat sampai pada level tersebut.  Dari berbagai standar yang ada, kita akan pecahkan menjadi dua kelas. Yaitu standar kelas satu (pokok) dan standar kelas dua (opsional). Dalam hal ini perbedaan kelas tersebut ditentukan oleh seberapa urgen standar tersebut dalam urutan skala prioritas kompetensi seorang ulama.

Standar kelas satu contohnya seperti tingkat ilmu dan wawasan, keluasan referensi, kemampuan mengajar, pemahaman langkah-langkah berpikir ilmiah, kemampuan berkarya (menulis), kemampuan meneliti dan penguasaan pada satu spesialisasi ilmu tertentu. Perhatikan bahwa nama-nama ulama monumental yang mengisi barisan ulama level tertinggi sepanjang sejarah umat Islam! Mereka semua pasti memiliki capaian yang maksimal pada tujuh standar kelas satu yang disebutkan di atas. 

Adapun standar kelas dua contoh-contohnya lebih banyak lagi seperti: membangun atau memimpin satu lembaga pendidikan (Dayah), pandai berceramah, memiliki sebuah majelis zikir/shalawat, memiliki amalan atau bacaan zikir/shalawat tertentu, memiliki pengaruh menentukan arah politik masyarakat, bersuara bagus, pandai bersenandung dan lain sebagainya. 


Ulama Kibar di Al Azhar
Kedua kelas tersebut tentu saja sama-sama penting dan bermanfaat. Namun urutan skala prioritas ini tidak boleh dilangkahi. Seharusnya yang paling diutamakan dalam kompetensi seorang ulama adalah standar kelas satu, jangan sampai standar kelas satu ada yang terabaikan, dan justru poin-poin di standar kelas dua malah jadi kompetensi pokok yang diberlakukan oleh masyarakat. 

Jadi pada satu tempat yang tidak menetapkan syarat keulamaan pada standar kelas satu, maka kualitas ulama di sana juga pasti cenderung menurun. Tempat tersebut akan diisi oleh para ulama yang kering dengan karya dan tulisan, karena memang kemampuan berkarya tidak ditetapkan dalam standar awal. Gebrakan penelitian dan penyelesaian masalah pada hal-hal yang berkaitan dengan Islam menjadi amat sunyi dan sepi, karena sejak awal pemahaman dan penguasaan metodologi penelitian tidak sama sekali diperhitungkan sebagai standar.

Contoh lain misalkan variasi dan kuantitas referensi keilmuan yang menjadi amat terbatas, bahkan tidak jarang ada rujukan (seperti kitab atau tokoh ulama) ilmu keislaman yang amat bernilai pada cabang tertentu, tetapi di tempat tersebut rujukan itu tidak pernah tersentuh atau dikenal. Hal ini tentu saja karena sejak awal, aspek keluasan referensi di tingkat pelajar tidak diperhatikan dengan baik.

Efek yang lebih buruk lagi adalah, di sebagian tempat itu agama Islam akan terkesan sebagai agama yang benar-benar irasional. Kenapa bisa, karena tahapan berpikir ilmiah  sejak awal masa pengkaderan ulama telah dicampakkan secara perlahan-lahan. Di kemudian hari pemuka agama Islam yang terbit adalah orang-orang yang begitu semangatnya menyeret ajaran Islam semakin jauh dari perkembangan ilmu pengetahuan dan sains. Padahal ajaran Islam telah memisahkan dengan baik tentang hal-hal yang tidak bisa diukur dengan rasio seperti perkara ghaib, eskatologi, mukjizat dll, dengan hal-hal yang memang sewajarnya kita mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
K.H Aqil Siradj bersama Habib Luthfi Yahya
Akan tetapi yang terjadi di tempat itu tidak demikian. Secara mutlak sains kemudian dianggap kafir, sains dikesankan sebagai kendaraan yang bergerak ke arah berbeda dengan agama pada persimpangan sejarah hidup manusia. Hingga fakta² empirik dan nyata² telah diterapkan dalam keseharian manusia pun harus ditolak, semua itu atas nama kesetiaan pada ajaran agama. Pokoknya bumi harus datar, semua harus kembali pada pemahaman geosentris bahwa matahari dan benda angkasa lainnya mengelilingi bumi, gravitasi omong kosong, teori² dalam ilmu genetika harus ditolak, misi-misi astronomis hanyalah dongeng dan lain sebagainya. Semua itu dikampanyekan atas nama bela agama. padahal tanpa sadar hal itu justru sedang mencoreng wajah agama Islam pada masyarakat dunia. Tidak peduli bahwa  mereka semua adalah objek dakwah Islam juga, orang-orang yang mesti dibuat tertarik pada agama ini.

Wajah agama Islam jadi semakin runyam ketika tampil orang-orang yang memakai topeng ulama palsu. Hal ini mudah saja terjadi ketika standar kelas dua justru lebih didahulukan daripada standar kelas satu.

Satu orang yang capaian akademik nya belum teruji, tiba-tiba kemudian dielu-elukan bak seorang ulama besar hanya karena ia ternyata memiliki majelis zikir yang ramai pengikutnya. Ada seorang sosok ulama yang membumbung begitu tinggi karena ia banyak membuat gubahan doa, zikir, shalawat tertentu yang katanya Fadhilah membacanya berlipat-lipat. 

Kenapa hal-hal demikian bisa terjadi? Apa pernah ada sejarahnya ulama diorbitkan melalui jalur-jalur non akademik seperti demikian? Atau kemudian muncul satu jalan pintas lain untuk naik ke level ulama, yaitu dengan membangun pesantren dan sebagainya.

Kenapa hal-hal di atas bisa sangat marak terjadi? Tidak lain masalahnya ada pada standar kompetensi yang diberlakukan pada satu daerah, yang telah melanggar skala prioritas yang seharusnya dipakai.

Abah Guru Sekumpul bersama Habib Anis
Standar yang keliru itu jadi  jalan lempang untuk sebagian orang pelan-pelan mulai mendistorsi standar keulamaan.

Ada banyak pihak yang menaikkan kelihaian berceramah menjadi standar di atas segalanya. Sokongan keilmuan penceramah kemudian diabaikan begitu saja. Pokoknya banyak diisi dengan cerita menarik, masa bodoh dengan referensi dan validitas isinya. Kemudian hadis-hadis palsu yang bahkan terlalu palsu untuk dikategorikan sebagai hadis palsu ditebar seperti menebarkan pupuk ke atas tanaman. Kisah-kisah israiliyat yang sejak awal telah bermasalah dikembangkan dan ditambah-tambah lagi agar semakin menarik, lalu karangan² itu dilekatkan pada agama Islam. Pokoknya harus lucu, diisi dengan lagu-lagu irama India, maka penceramah itu sudah layak dipanggil kemana-mana. Bayangkan kemudian orang-orang semacam itu diberikan panggung untuk memperkenalkan wajah Islam kepada masyarakat. Kemudian hal itu berlarut-larut  menyisakan pemahaman² keliru yang sulit diluruskan kembali dalam tubuh umat Islam.

Fakta menyakitkan lain yang mendera kita sekarang adalah pengabaian pada spesialisasi ilmu tertentu. Khazanah ilmu Islam yang demikian luas mengharuskan para pelajar untuk bagi-bagi tugas, mereka harus memilih spesialisasi ilmu yang berbeda-beda. Tujuannya adalah supaya tidak ada posisi pakar cabang ilmu tertentu yang lowong. Mungkin banyak pihak yang menganggap hal ini tidak penting, tapi saya ambil satu contoh. Spesialisasi ilmu hadis. Ada kesulitan besar untuk memisahkan dengan rapi antara hadis² shahih dengan hadis² bermasalah, bahkan dengan cerita-cerita israiliyat yang beredar dalam masyarakat. Mengapa semua ini bisa terjadi? Tidak lain adalah dampak terbatasnya pakar-pakar hadis yang mengisi pos-pos keulamaan di daerah tersebut. Belum lagi diperparah dengan muatan-muatan hadis bermasalah dan israiliyat yang dicampur adukkan oleh penceramah tipe-tipe yang dijelaskan di atas.
Gus Dur bersama K.H.Zainuddin MZ dan Rhoma Irama
Dan kalau mau jujur, ada banyak sekali posisi pakar keilmuan tertentu yang lowong misalnya di Aceh ini atau Indonesia secara umum. Ada berapa orang pakar hadis? pakar ilmu Rijal, ilmu qiraat, ilmu Rasm dan dhabt, pakar muamalah kontemporer, dan ilmu-ilmu yang sebenarnya sangat urgen bagi umat. Jangan bermimpi hal ini bisa diselesaikan dengan pola pendidikan yang mendidik sekelompok pelajar dengan muatan ilmu dan kurikulum yang seluruhnya seragam, kemudian mereka ditugaskan untuk dapat mengisi pos-pos pakar keilmuan yang lowong tersebut. Jangan mimpi!!

Terakhir untuk menutup pembahasan tentang standar kompetensi dan masuk ke poin selanjutnya, maka mari sama-sama kita renungkan,

Ulama-ulama level puncak semacam imam 4 mazhab seperti imam Syafi'i, ulama Mujtahid pra-empat mazhab seperti Al-Zuhry atau Ibrahim al-Nakha'iy, ulama selevel imam Mazhab seperti Sufyan al-Tsaury dan Al-Awza'iy, ulama murid-murid senior dalam mazhab seperti Al-Muzany atau Sahnun, ulama-ulama pelopor perintisan cabang keilmuan seperti imam Haramain al-juwainy atau Ramahurmuzy, ulama yang memiliki banyak karya besar seperti al-Suyuthy dan al-'Asqalany, ulama yang berperan besar dalam tahrir mazhab seperti imam Ghazali atau imam Nawawi, ulama yang sukses meredam pemikiran menyimpang seperti imam al-Asy'ary atau al-Qadhi al-Baqilany, ulama poros dunia kontemporer seperti wahbah Zuhaili atau Ramadhan al-Buthy. Serta berbagai nama ulama sekaliber seperti ulama di atas yang tidak disebutkan di sini. Mereka semua muncul di tengah masyarakat yang memang sejak awal memberlakukan standar selevel itu.

Akan tetapi, jika sejak awal standar yang ditetapkan itu bobrok, maka tidak akan dapat dihindarkan nanti hasil yang dituai juga bobrok.

2. Fungsi dan kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat

Selain daripada standar, setting sosial yang menentukan kualitas ulama yang terbit di satu kawasan adalah fungsi yang diharapkan dan dibutuhkan oleh masyarakat dari keberadaan seorang ulama di sekitarnya. Saat masyarakat menginginkan fungsi pokok seorang ulama, maka ulama-ulama yang muncul juga kapabel dengan fungsi-fungsi tersebut.
Habib Ali al Jifri bersama Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki

Sekarang mari sama-sama membuat perenungan! Apakah selama ini masyarakat kita merupakan gambaran orang yang haus pada ilmu pengetahuan atau lebih gemar menikmati banyolan-banyolan. Jika seperti gambaran pertama, maka kaderisasi ulama pun pastinya akan menyesuaikan dengan rasa haus ilmu pengetahuan, para ulama akan terbentuk untuk menjadi figur yang dapat memuaskan rasa haus itu. Akan tetapi jika sebaliknya, maka percayalah kader-kader ulama pasti akan berbelok menjadi pembuat cerita, karena memang animo masyarakat ada pada bagian itu. Maka saksikanlah bahwa kemampuan mengolah dan merangkai kata akan jauh lebih diperhatikan dibandingkan kualitas dan validitas konten yang dibawanya.

Perhatikan lagi apakah umat Islam di sini terlihat bergairah untuk menikmati karya-karya tulis ilmiah? Mulai dari tulisan murni, Syarah atau hasyiyah untuk karya yang sudah ada sebelumnya, ringkasan untuk karya besar yang sudah ada, Syarah untuk karya-karya dalam bentuk syair dan nazham, terjemahan dan alih bahasa untuk kitab-kitab berbahasa Arab, pemisahan satu kajian tertentu dalam tulisan baru yang utuh dari sebelumnya tercampur², aktualisasi kandungan dari kitab para ulama sebelumnya, atau bentuk-bentuk karya tulis lainnya. Kekeringan tulisan ulama Tempatan yang terjadi di sebuah daerah, pastinya juga dipengaruhi oleh minat membaca umat Islam di sana yang amat rendah. Sehingga sejak awal kemampuan menulis menjadi sesuatu yang tertinggal dalam proses kaderisasi ulama. Padahal kalau melihat kemungkinan verifikasi kebenaran,sajian tertulis akan lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan ceramah-ceramah lisan.

Jika hendak melakukan perbaikan, maka umat Islam harus mulai meningkatkan perhatian dan minat mereka untuk menelusuri dan menikmati sebuah bacaan,baik berkaitan dengan ilmu agama dan bacaan umum yang lain.

Jika kemudian fungsi keulamaan disunat pada batas-batas remeh remeh saja, maka kualitas ulama pun akan menyesuaikan dengan fungsi yang sedikit itu. Bayangkan apa jadinya jika fungsi yang dibutuhkan oleh para ulama sebatas pada hal-hal semacam ini:
Bisa jadi pemimpin doa dan zikir, khususnya saat ada kematian
Ada orang mengaji di kuburan
Ada yang memenuhi undangan berdoa dan shalawatan pada acara tertentu
Ada yang jadi imam shalat dan mengurus tempat shalat, dll
Abiya Anwar Kuta Krueng bersama Abu Mudi
Tidak ada yang salah dengan fungsi-fungsi tersebut. Yang salah adalah menjadikannya sebagai fungsi utama, melenceng dari fungsi ulama sebagaimana mestinya. Jika demikian ya sudah, paradigma yang terbangun di kalangan pelajar agama Islam pun adalah, "saya belajar agama biar bisa mendoakan orang meninggal", "kalian anak sekolah silahkan buat ini itu segala macam! Tapi nanti kalau ada yang meninggal, kamu atau saudara kamu pasti kami yang doakan", "selesai menuntut ilmu agama nanti pasti akan ada banyak undangan kenduri dan sedekah". Sekarang apakah capaian seperti d atas selayaknya dijadikan target seorang penuntut ilmu agama?? Apakah kita hanya bisa berpikir sependek itu??

Justru selayaknya fungsi keulamaan diperluas seluas-luasnya. Bagaimana memberikan solusi terhadap problematika yang muncul dengan sudut pandang pemahaman agama Islam, seharusnya para pelajar agama berperan aktif dan menghasilkan ide-ide untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Bagaimana mewujudkan perkembangan ekonomi, mengentaskan kemiskinan, membangkitkan pikiran kreatif, mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara, mewujudkan stabilitas politik dan pemerintahan dan isu-isu major lainnya. Semua diselesaikan dari sudut yang sesuai dengan keilmuannya masing-masing.

Semua itu tentu saja baru bisa terwujud dengan kemampuan meneliti. Masalah baru bisa diselesaikan dengan kemampuan pengumpulan dan pengolahan data yang baik, kemudian menghasilkan temuan dan simpulan yang bermanfaat dan bisa dipasang sebagai solusi untuk masalah yang hendak diselesaikan. Lalu dilengkapi dengan kemampuan deskripsi dan menulis yang baik dan benar, penguasaan media dan lain sebagainya.

Sekarang bagaimana semua itu bisa terwujud jika menulis tidak pernah merasa perlu dipelajari, meneliti tidak harus dilakukan, penguasaan teknologi dan media terbatas, penguasaan bahasa terbatas pada bahasa daerah saja, bahasa nasional terbata-bata, bahasa internasional tidak dipelajari sama sekali, kemandirian ekonomi tidak mampu dicapai malahan justru bergantung pada sedekah dan pemberian orang, Bagaimana kita pelajar agama bisa diharapkan dapat melakukan fungsi-fungsi seperti di atas.

Abu Mudi dan Waled Nu bersama Habib Umar dan habaib lainnya.
Kecuali jika pelajar agama di masa sekarang memang sudah setuju dan nyaman dengan paradigma berfikir bahwa fungsi dan tujuan belajar agama sebatas mendoakan orang yang sudah mati, mengaji di kuburan dan menghadiri undangan kenduri saja. Ingat bahwa saya tidak mempermasalahkan hal-hal itu, saya pun pernah melakukannya. Tapi kita para pelajar agama, mari sama-sama mengembalikan fungsi ilmu agama sebagaimana kedudukannya yang tinggi. Mari ikut berkarya, meneliti, memberikan solusi, memperbaiki apa yang keliru, mari mengubah wajah pelajar agama sebagai kader-kader ulama menjadi wajah yang lebih akademis dan bernilai, lebih dari sekedar fungsi sampingan saat orang meninggal.

Terakhir kali tentu saja tulisan di atas sebatas merupakan opini penulis. Sah-sah saja dibantah atau dikoreksi, bahkan memang sewajarnya demikian. Tetapi tolong utarakan dengan bahasa dan cara yang berkelas. Kalau sekedar mampu memberikan sumpah serapah, tuduhan dan kecurigaan tidak jelas atau tanggapan sampah, sebaiknya tidak usah ikut berkomentar, karena tulisan ini memang tidak diarahkan untuk orang semacam itu.

Oleh Teungku Rudy Fachruddin, S.IT (Sarjana Ilmu Quran dan Tafsir, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh dan Dewan Guru di Dayah Darul Ulum, Lueng Ie, Aceh Besar).
Read More

Wednesday, May 16, 2018

POLA PIKIR BERBAHAYA YANG HARUS DIHINDARI

May 16, 2018 0

Ada lima pola pikir yang harus ditolak dan dihindari oleh umat Islam, yaitu pola pikir al-intihār, al-inbihār, al-ijtirār, al-inhisār dan al-ightirār. Berikut penjelasannya:
1. الانتحار (bunuh diri demi mengalahkan lawan). Orang yang memiliki cara berpikir ini mudah mengafirkan orang lain demi menunjukkan diri dan menjaga eksistensi.
2. الانبهار (terpesona dengan orang lain). Orang yang memiliki cara berpikir ini tidak menggunakan sumber-sumber hukum syariat dan tidak lagi bangga dengan peradaban Islam, karena ia telah terpesona oleh sihir peradaban lain, baik dalam hal negatif atau positifnya. 
Setiap hari kita dapat melihat orang yang memiliki pola pikir ini selalu berusaha mengingkari kaidah bahasa Arab, hukum-hukumnya, mengingkari kesepakatan para fuqahā’ dan ulama umat Islam sepanjang sejarah. Ia gemar melontarkan pendapat yang bisa merusak identitas dan menjauhkan karakternya sebagai seorang muslim, demi membangun karakter barunya sebagai penganut sekularisme dan globalisasi peradaban baru yang menyihirnya.
3. الانحسار (menutup diri dari dunia). Orang yang berpikir dengan cara ini memilih untuk melarikan diri dari realitas kehidupan zamannya, dan berlindung di balik mimpi, khayalan dan ilusinya. Hal ini mirip dengan keadaan orang yang melarikan diri dari medan jihad.
Syariat Islam sangat menolak pola pikir ini, karena Islam mengajak pemeluknya untuk hidup bersama masyarakat, melakukan interaksi dengan manusia dan ikut serta memakmurkan dunia. Allah berfirman: “Bersabarlah dengan baik” (QS. Yusuf: 18). Dan Rasulullah bersabda: “Seorang mukmin yang bergaul dengan masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka itu lebih baik dari yang tidak bergaul dan tidak bersabar”. (HR. al-Tirmidzi).
4. الاجترار (mengurung diri pada masa lalu). Orang yang berpikir dengan cara ini ditawan oleh semua pembahasan yang ia dapatkan pada khazanah ilmu Islam klasik (turāts), tanpa mau membentuk cara berpikirnya untuk dapat berijtihad. Ia seolah-olah hidup jauh dari realitas zamannya sendiri.
Foto Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum'ah.
Cara ideal mengobati pola pikir ini adalah dengan memahami berbagai manhaj turāts yang telah dibangun oleh ulama dan fuqahā’ agar kita mampu berjalan pada jalan lurus mereka, sehingga kita mampu berijtihad sesuai kondisi zaman kita, memperbarui pembahasan mereka agar sesuai realitas modern, dan membuat korelasi yang dinamis antara berbagai unsur yang bisa memengaruhi cara pikir dan karakter ilmiah modern.
5. الاغترار (terperdaya oleh diri sendiri). Pola pikir ini adalah cara pikir orang yang bukan ahli pada sebuah bidang ilmu, karena ia terperdaya oleh derajat pengetahuan yang ia anggap telah mencapai puncak spesialisasi ilmu, sehingga ia merasa bisa mandiri dan tidak perlu lagi belajar atau menimba pengalaman dari para ahli dan ulama yang telah menguasai ilmu ini sesuai unsur sistem pendidikan lengkap, yaitu: pelajar, pengajar, kitab, manhaj dan lingkungan ilmiah.
Lima unsur penting ini pun tidak bisa terlepas dari faktor bakat alami, seperti kesiapan, kecerdasan dalam menghubungkan pengetahuan dengan objektif, kemauan kuat yang mendorongnya untuk mencurahkan seluruh kemampuannya agar terus berada di jalan ini, menggali pengetahuan dan mendalami ilmu yang telah ia jadikan fokus pendidikannya.
Spesialisasi ilmiah membuat sang pencari ilmu memiliki naluri ilmu dan kode etik ilmiahnya, serta dapat mengoptimalkan bakat dan kemampuannya.
Spesialisai ilmiah dengan cara mempelajari dan menyelami ilmu dalam waktu yang lama menjadikannya layak dan mampu menerapkan nya pada realitas dengan sempurna.
Pola pikir ini (al-Ightirār) adalah pola pikir yang PALING BERBAHAYA, karena ia menipu. Sehingga pemilik cara pikir ini mengira ia telah mendapatkan ilmu syariat, padahal ia masih belum menyempurnakan alat-alat yang membuatnya layak untuk sampai pada derajat ulama pembaharu (turāts agar sesuai dengan zaman modern ini).
Foto Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum'ah.
Maulana Syaikh Ali Jum’ah, Ulama Al Azhar yang juga merupakan mantan Mufti Mesir
(Tārīkh Ushūl al-Fiqh, hal: 135-137)
Read More