TARBIYAH ONLINE: tauhid

TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Showing posts with label tauhid. Show all posts
Showing posts with label tauhid. Show all posts

Saturday, April 14, 2018

MI'RAJ TIDAK MENUNJUKKAN ALLAH BERTEMPAT DI LANGIT

April 14, 2018 0
Tarbiyah.OnlineBeberapa teman dari kalangan Salafi/ Wahabi menuliskan beberapa status di berbagai sosial media yang mereka punya dengan makna yang hampir senada, "Isra' dan Mi'raj diperingati, tapi Allah di Langit diingkari."


Nah, dengan diketemukannya beberapa suara dan tulisan yang menurut kami merupakan sebuah syubhat baru -sejauh yang kami ketahui- yang disasarkan oleh teman-teman Salafi ini, teman-teman dari santri Aswaja, terutama komunitas pemuda Raisul Fata dan At-Thalib meminta kepada kami untuk menuliskan sedikit tulisan, bisa berupa pengumpulan kutipan dalil-dalil, perkataan ulama atau pun juga bantahan analogi. Karena syubhat baru ini dinilai perlu direspon walau selakadar.

Pertama, hal yang ingin kita sampaikan adalah, kita belum menemukan dalil tentang mukjizat peristiwa Isra' dan Mi'raj digunakan sebagai dalil yang menyatakan Allah SWT di langit.

Klaim atau syubhat ini tidak diketemukan di zaman sebelumnya -sejauh pengetahuan kami-, jika tidak pasti ia telah menjadi perbincangan ulama dalam memberi bantahan. Selama ini kaum Salafi/Wahabi selalu berkutat dengan dalil Surah Thaha ayat 5 dan hadits Nabi tentang seorang wanita yang ditanya oleh Nabi tentang Allah SWT lalu dijawab di Langit.

Mengenai klaim tafsiran berdalilkan Ar-Rahman 'Alal 'Arsyi istawa dan hadits tersebut, sungguh telah diuraikan dengan sangat panjang lebar oleh Ulama Ahlussunnah Al Jama'ah, baik dari sisi bahasa, perbandingan serta penggabungan berbagai ayat dan hadits yang dijadikan dalil, dengan takwilan yang tidak mengotori sifat kesucian Allah SWT.
 
Kedua, jika memang syubhat tersebut masih terus disasarkan kepada kaum muslimin secara liar, maka perlu kita tanggapi sedikit. Bahwasanya, dalam sejarah peristiwa luarbiasa yang disebut dengan Isra dan Mi'raj, tidak ada satupun ulama yang menyatakan Allah berada di Sidratul Muntaha (di luar lapisan langit ketujuh, tempat tertinggi yang bahkan Jibril, Mikail dan Israfil pun tidak bisa mendekatinya). Melainkan itu adalah tempat dimana Nabi SAW menerima wahyu tentang syari'at shalat 5 waktu dalam sehari semalam.

Adapun riwayat yang menceritakan tentang bolak-baliknya Nabi Muhamad SAW ketika bernegosiasi (dari 50 waktu awalnya menjadi 5 waktu) di langit ketiga ketika menjumpai Nabi Musa AS, sungguh tidak bisa serta merta dijadikan dalil Allah bertempat. Melainkan, Rasulullah kembali ke tempat yang mulia itu, karena disanalah tempat yang seharusnya Nabi Muhammad SAW menerima wahyu berupa (belas kasih sifat Rahiim Allah) jawaban atas kegundahan dan permintaan hati Rasulullah SAW demi umatnya.


Kenapa demikian?
Hal ini senada dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Musa AS ketika naik ke atas bukit Tursina yang amat sangat terjal, lalu memohon kepada Allah untuk membuka hijab pandangannya (Musa AS) agar bisa melihat wujud Allah SWT (hingga detail riwayat, gunung meleleh dalam sekejap karena tidak mampu menahan cahaya Allah yang Agung padahal masih terhijab dengan puluhan hijab (ghaib) Musa AS mendapatkan 10 ajaran utama dalam syari'atnya). Riwayat dan kisah Nabi Musa AS yang berbicara dengan Allah SWT di bukit Tursina, tidak menjadikan Tursina sebagai tempat yang ditempati oleh Allah SWT.

Sama halnya juga dengan kisah Nabi Ibrahim yang disebutkan dalam Al Quran kisah agungnya, ketika ia ditanya hendak kemana, ia menjawab hendak bertemu dengan Rabb nya, Allah SWT. Padahal, pada pandangan kasat mata, ia beranjak ke Palestina, dimana Baitul Maqdis berada saat ini. -Q.S Ash-Shaffat:99-. Bukankah Baitul Maqdis juga tidak dikatakan dimana Allah bertempat dan bersemayam. Demikian juga dengan Ka'bah Baitullah yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai rumah Allah. Dan rumah adalah tempat dimana penghuninya tinggal disana.

Demikian, pemaknaan terhadap dalil, harus mengacu kepada kaidah memaknai dalil -tafsir- yang tepat. Ia tidak bisa berada sendiri, atau direka-reka sesuka hati.

Ada masanya, akal bisa dijadikan dalil. Namun dalil 'aql (akal) dituntut tidak boleh bertentangan dengan dalil naql (khabar: ayat quran dan sunnah). Dalam keilmuan ahlussunnah wal jama'ah kajian tauhid dan kalam telah dirumuskan dengan sangat rapi tanpa cacat melalui Sifat 20 atau I'tiqad 50, dimana akal dan khabar berjalan beringan dan saling menguatkan.

Maka dari itu, syubhat yang menyatakan Isra' dan Mi'raj adalah dalil bagi Allah mengambil tempat di langit telah tertolak dengan ayat-ayat yang menceritakan mukjizat Nabi Musa AS di Tursina, dan perjalanan Nabi Ibrahim AS ke Baitul Maqdis.

Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah meyakini Allah Ada Tanpa Bertempat. Karena baginya Laitsa Kamitslihi Syaiun (Tidak Serupa Bagaimana di (sesuatu pun) dengan apa pun)

Wallahu 'alam bish-shawab.
Read More

MEMAKNAI MUKJIZAT PERISTIWA ISRA' DAN MI'RAJ

April 14, 2018 2
Tarbiyah.OnlineHampir seluruh umat muslimin tahu tentang kisah isra dan mi'raj ini, atau setidaknya pernah mendengar meski sekali saja dalam hidupnya. Yaitu, perjalanan di malam hari dari kota mekah (mesjidil haram) ke yarussalem (masjidil aqsa). Dan perjalanan menuju sidratul muntaha (menembus lapis langit ke tujuh) dengan mengendarai satu makhluk bernama Buraq yang ukurannya sedikit lebih besar dari keledai, kecepatannya sejauh mata memandang. Rasulullah Muhammad SAW ditemani malaikat Jibril AS sepanjang perjalanan, kecuali ketika ia sampai di Sidratul Muntaha.

Dimana dalam perjalanan tersebut Rasul SAW dibebankan syari'at shalat 5 waktu sehari semalam, di tempat yang sangat istimewa. Dimana Malaikat dan Jin sekalipun tak dapat menembus hijab tersebut. Yaitu sidratul muntaha.

Kisah Isra' dan Mi'raj ini diterangkan oleh Allah dalam firman-Nya, Surah Al Isra dimulai dari ayat pertama. Demikian pula dalam hadits-hadits shahih yang diriwayatkan secara panjang dalam kitab shahih bukhari dan muslim.

Di siang hari, Rasul SAW bercerita tentang kisahnya di hadapan kaum Quraiys, namun banyak diantara mereka yang memungkiri, mendustakan apa yang dikatakan oleh Nabi SAW.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, Rasulullah Saw bersabda:

لمّ كذّبتني قريش قمت فى الحجر فجعلّى الله لى بيت المقدس فطفقت أخبرهم عن ايته وانا انظرو اليه.
"Ketika kaum Quraisy mendustakan aku. Aku berdiri di Hijr Ismail, lalu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis padaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang tiang-tiangnya daripada apa yang aku lihat."

Ketika berita ini didengar oleh kaum Quraiys. Mereka datang kepada Abu Bakar dan menceritakan hal tersebut dengan harapan Abu Bakar akan ikut mendustakan apa yang Muhammad sampaikan seperti hal keadaan mereka lakukan. Namunya ternyata Abu Bakar menjawab, "Jika memang benar Muhammad yang mengatakan hal tersebut, maka dia telah berkata benar, dan sungguh aku akan membenarkannya lebih dari pada itu". Ini pula yang menjadikan Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq (membenarkan Nabi SAW secara mutlak).

Setelah peristiwa Isra dan Mi'raj, pada pagi harinya malaikat Jibril turun kepada Nabi SAW di setiap waktu-waktu tertentu sebagai penanda masuk dan batas waktu shalat. Dan diajarkannya shalat sebagaimana shalat yang disyari'atkan kepada Muhammad SAW, setelah sebelumnya ibadah/ ritual shalat yang dilakukan oleh Nabi SAW adalah mengikuti syari'at shalat Nabi Ibrahim AS.

Ibrah dari Peristiwa Mukjizat Isra dan Mi'raj yang dapat kita petik antara lain:

1. Ketika kita menyebutkan Isra' dan Mi'raj sebagai mukjizat, maka banyak perihal logika tertembusi. Kejadian luar biasa yang ada pada Nabi SAW dan Para Rasul AS lainnya disebut dengan Mukjizat.
Jumhur ulama (hampir semuanya) mengatakan Perjalanan yang dilakukan pada malam itu dilakukan dengan jasad dan ruh, maka perjalanan tersebut juga bukan sebuah mimpi, sebagaimana yang disebutkan oleh para orientalis dan pemuja logika. Karena Nabi SAW mampu menceritakan sebegitu detailnya peristiwa tersebut dan dirasakan oleh tubuhnya yang mulia menembusi alam ruh.
Mustahil? Tidak ada yang mustahil  bagi Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al An'am ayat 109: "...Katakanlah,"Sesungguhnya, mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah....".

Dalam Syarhul Muslim, Imam Nawawi berkata, "Pendapat yang benar menurut kebanyakan kaum muslimin, ulama salaf, fuqaha, ahli hadits dan ilmu tauhid adalah bahwa Nabi SAW di-Isra dan Mi'raj-kan dengan ruh dan jasadnya. Semua nash menunjukkan hal ini dan tidak boleh ditakwil zahirnya kecuali dengan adanya dalil." (Jilid 2 halaman 29).

Demikian halnya dengan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari Syarah 'ala Bukhari, " Sesungguhnya, Isra dan Mi'raj terjadi pada satu malam, dalam keadaan sadar dengan jasad dan ruhnya. Pendapat inilah yang diikuti oleh jumhur ulama, ahli hadits, ahli fiqh, dan ahli ilmu kalam. Semua arti zahir dari hadits-hadits shahih menunjukkan pengertian tersebut, dan tidak boleh dipalingkan kepada pengertian lain karena tidak ada sesuatu yang mengusik akal untuk mentakwilnya." (Fathul Bari 7/136-137)

2. Kedudukan Baitul Maqdis yang mulia bagi umat islam di sisi Allah SWT. Betapa kaum muslimin harus menjaga keberadaan Baitul Maqdis dari tangan-tangan keji dan bernajis Yahudi.

3. Keagungan Syari'at Shalat 5 Waktu. Satu-satunya syari'at diantara pilar agama yang paling penting, diterima oleh Nabi SAW di tempat selain bumi adalah shalat. Seolah Nabi SAW dijamu oleh Allah SWT di tempat yang agung di langit sana. Tempat dimana hanya Nabi SAW saja yang mampu menembusinya. Bahkan Jibril, Mikail dan Israfil (konon menjadi makhluk yang paling dekat dengan Allah) pun tidak mampu berdiri bahkan mendekat kepada Sidratul Muntaha tersebut. Disinilah Allah mewahyukan kepada Muhammad apa yang telah diwahyukan (syari'at shalat).


Syari'at shalat yang didapat Rasul SAW seolah berkesan dijemput oleh Nabi SAW ke tempat yang mulia. Shalat juga disebut menjadi media pendekatan (mi'raj)-nya umat kepada Allah SWT. Disebutkan dalam hadits yang panjang riwayat Bukhari dan Muslim, syari'ah shalat awalnya dibebankan oleh Allah SWT kepada umat Muhammad sebanyak 50 (waktu) kali dalam sehari. Namun para Nabi, terutama Nabi Musa AS yang dijumpai oleh Nabi Muhammad SAW menyarankan kepada Rasulullah SAW untuk meminta keringanan waktu. Sehingga dengan sifat Rahiim-Nya Allah, menjadi 5 waktu saja dalam sehari semalam dibebankannya kewajiban shalat, dengan porsi pahala yang sama dengan 50 waktu.

Untuk membaca sejarah peristiwa Isra dan Mi'raj, banyak sekali buku dan kitab-kitab yang meriwayatkan kisah Isra dan Mi'raj secara detail. Namun, demikian tidak menutup kemungkinan ada riwayat yang bercampur dengan kabar-kabar palsu. 

Dalam Buku Fiqh Sirah oleh Syeikh Asy-syahidul Mimbar Muhammad Sa'id Ramadhan al Buthi disebutkan juga agar berhati-hati kepada kitab Mi'rajul Ibni Abbas, dimana banyak sekali kisah dalam kitab tersebut yang disandarkan kepada Sahabat sekaligus sepupu dari Nabi SAW (Abdullah bin 'Abbas bin Abdul Mutthalib). Kata Syeikh, setiap orang yang berakal dan terpelajar (agama) pasti mengetahui bahwa Ibn Abas terbebas dari segala kedustaan yang dituliskan didalam buku tersebut. (Terj. Fiqh Sirah: Sirah Nabawiyah 142).

Syeikh Al Buthi juga mengatakan, sejarah peristiwa luar biasa ini hanya bisa didapat dan dipercaya melalui riwayat-riwayat shahih. Karena keghaiban yang terjadi di dalamnya. Hindarilah riwayat-riwayat palsu yang menyesatkan umat.

Wallahu a'lam bis-shawab.
Read More

Sunday, December 3, 2017

Kedudukan Ahlul Bait Nabi SAW Dalam Aqidah Islam Ahlussunnah wal Jama'ah

December 03, 2017 0
Siapakah ahulbait, dan apa pentingnya mencintai keluarga Nabi SAW beserta keturunannya? Bagaimana batasan cinta kepada mereka? Dimana titik perbedaan antara cinta dan fanatik buta yang tercela? Dan tidakkah itu menyamakan kita dengan syi’ah yang sesat?
(foto kaligrafi ahlulbait dari wikipedia)

Pertanyaan ini kiranya penting untuk diajukan kepada ulama-ulama besar yang masih hidup di zaman ini, yang keilmuan mereka diakui, baik dikarenakan kelurusan aqidahnya maupun keluasan ilmunya dengan sanad keilmuan yang berterusan hingga kepada imam-imam mazhab yang muktabar hingga kepada Nabi Muhammad SAW.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, ada baiknya kita mengintip satu diantara hadits yang disabdakan oleh Nabi SAW yang berisikan perintah untuk mencintai keluarga Nabi SAW dan ikut berpegang teguh kepada mereka.

“....Amma ba’d, Ingatlah, wahai sekalian manusia. Sesungguhnya aku adalah manusia yang hampir didatangi utusan Tuhanku lalu aku penuhi panggilannya. Aku meninggalkan kepada kalian dua perkara berat nan berharga. Pertama adalah Kitabullah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah dan berpegangteguhlah kepadanya. Lalu Nabi SAW melanjutkan, Dan Ahlul bait, keluarga ku. Aku mengingatkan kalian tentang Allah pada Ahlulbait ku. Aku mengingatkan kalian tentang Allah pada Ahlulbait ku.”
Hushain lalu bertanya,”siapakah ahlulbait beliau wahai Zaid? Apakah istri-istri beliau termasuk ahlul bait? Zaid menjawab,”Istri-istri beliau termasuk ahlulbait. Akan tetapi, ahlulbait yang dimaksud adalah orang-orang yang haram menerima zakat setelah beliau. “Dan siapakah mereka? “keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil dan keluarga ‘Abbas.
“Mereka semua haram diberi zakat?”
“Ya” (H.R. Ahmad dan Muslim)

Sedangkan Sabda Nabi SAW yang lainnya, “Wahai manusia, Sesungguhnya aku meninggalkan kepad kalian sesuatu yang jika kalian ambil maka tidak akan sesat, yakni Kitabullah dan sanak keluargaku, Ahlulbait.” (H.R. Ahmad dan Turmidzi).

Maka dari itu kita sepatutnya mencintai ahlulbait Nabi SAW. Melihat turunannya, dari mencintai Allah maka kita mencintai Nabi SAW sebagai pemangku segala kebaikan dan rahmat bagi seluruh alam dari Allah SWT. Kemudian, dari mencintai Rasul SAW maka kita mencintai ahlulbaitnya dimana beliau telah berwasiat tentangnya, mereka juga memiliki ketamaan yang mulia dan kebaikan yang bertambah. Maka mencintai ahlulbait mesti lahir dari lubuk hati seorang Muslim sebagai wujud cintanya kepada Nabi SAW.

Baca juga kemuliaan nasab beliau

Fanatisme

"Dalam cinta, kata fanatisme tidak didapati." Kata-kata tersebut sering diucapkan oleh Syeikh Buthi rahimahullah. Seorang ulama Suriah. Namun fanatisme terdapat pada perihal keyakinan, aqidah. Maka ketika aqidahnya benar, tidak akan salah cintanya kepada Rasul SAW dan ahlulbaitnya. Kita yang beraqidah bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Seluruh para Nabi dan Rasul-Rasul berstatus ma’shum, yaitu terlepas daripada segala dosa. Sedangkan selain mereka mempunyai kemungkinan melakukan perbuatan dosa, hatta ahlulbaitnya, namun mereka punya kemungkinan hanya berstatus mahfuzh, sebagaimana yang didapati orang-orang shalih, yaitu penjagaan dari Allah SWT terhadap mereka. Secara syari’ah mereka bisa saja melakukan pekerjaan dosa, namun mereka mendapat penjagaan dari Allah SWT.

Nah, selama aqidah seorang muslim masih lurus dalam hal ini, maka seyogyanya ia juga akan mencintai Nabi beserta ahlulbait dengan sepenuh jiwa. Dan, ketika cinta kepada ahlulbait telah merekah, itu menunjukkan derajatnya telah semakin mendekati derajat shalih. Sebab wujud cinta kepada ahlulbait adalah wujud kesempurnaan cinta kepada Rasul, dan wujud cinta kepada Rasul adalah wujud cinta kepada Allah. Tentu saja saipa yang mencintai Allah, akan diangkat derajatnya kepada derajat orang-orang shalih.

Zaman ini mudah mengenal keturunan-keturunan ahlulbait terutama yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Karena kebanyakan dari mereka digelari Habib. Dan diantara mereka banyak yang menjadi Ulama besar dan Awliyaillah yang taqwa dan shalih. Namun demikian, tidak sedikit keturunan Rasul SAW yang tidak digelari Habib seperti kebanyakan di Mesir. Padahal ulama-ulama besar di Mesir seperti Syeikh Ahmad Thayib yang merupakan Syeikhul Azhar saat ini dan Syeikh Ali Jum'ah yang mpernah menjabat sebagai ufti Mesir juga merupakan salah satu dari ahlulbaitnya Rasul SAW. Jika di Saudi, gelaran untuk para keturunan ahlulbait adalah Sayyid, seperti Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki Al Makki yang masyhur, dan memiliki ribuan murid dari tanah air Indonesia.

Banyak kitab-kitab yang menceritakan tentang keagungan keturunan ahlulbaitnya Rasul SAW. Ada kitab yang disusun oleh Al Imam Jalaluddin As Suyuthi berjudul Ihya’ul Mayyit fii Fadhilati Ahlul Bayt yang berisikan 60 Hadits keutamaan AhlulBayt. Kebetulan saya mendapatkan versi terjemahannya -pdf-, namun ketika saya membacanya, ada sedikit berbau kesyi’ahan. Bukan hendak mendiskreditkan Imam Suyuthi, hanya saja, dari kitab terjemahan yang saya dapatkan secara bebas di internet, saya tidak berani menjadikannya referensi utama. Karena memahami isi kitab tidak sembarang dengan cara autodidak, tanpa guru pembimbing dan/ atau juga tanpa pembanding.


Disadur dari beberapa referensi, terutama Al Bayan, karya Syeikh Ali Jum'ah.
Read More