TARBIYAH ONLINE: sirah nabawiyah

TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Showing posts with label sirah nabawiyah. Show all posts
Showing posts with label sirah nabawiyah. Show all posts

Wednesday, November 15, 2017

Menjadi Penggembala Kambing

November 15, 2017 0
Muhammad kecil semakin tumbuh kembang menjadi anak remaja. Ia tumbuh dengan baik, bahkan terlihat lebih sehat dan bugar daripada anak lain seusianya. Karakternya pun semakin terlihat. Fathimah sang bibi menceritakan kepada Abu Thalib bahwa Muhammad kini lebih nampak kehalusan dan kelembutannya, sesantunan, ketenangan juga kewibawaannya. Bahkan Fathimah sedikit heran melihat Muhammad kini yang lebih pemalu. Ia malu untuk meminta dan menyuruh sesuatu kepadanya, “Ia lebih malu dari pada gadis pingitan.”tutur Fathimah. Sang bibi masih mengaggap hal yang sanngat wajar, jika anak seusia Muhammad kini lebih banyak malas dan banyak mainnya. Tapi itu tidak terlihat dalam diri Muhammad.

Muhammad, dengan melihat keadaan keluarga Pamannya ini, ia tentu tidak ingin kehadirannya di tengah keluarga ini malah menambah beban tanggungan. Sementara anggota keluarga yang menjadi tanggungan pamannya ini cukuolah banyak. Ia sadar, ia hanya menumpang disini, bagaimana mungkin ia bisa bermalas-malasan.
Oleh karena itu, jika Fathimah sedang menyajikan makanan, Muhammad mengalah untuk tidak memakannya terlebih dulu, membiarkan sepupu-sepupunya berebut makanan diatas napan akibat rasa lapar dan sedikitnya persediaan makanan. Muhammad mengalah karena didorong oleh rasa malu, sikap hormat, kesucian jiwa dan kelapangan hati untuk tidak ikut mengulurkan tangan ke dalam nampan itu. Namun gerak-gerik Muhammad ini diperhatikan oleh sang bibi, hingga kemudian Fathimah sering mengambilkan makanan untuk Muhammad, yang memunculkan rasa cemburu pada sepupu-sepupunya yang lain yang merupakan anak dari paman dan bibinya. Mereka sedikit merasa tidak senang karena dengan sedikitnya persediaan makanan, Muhammad malah dianak-emaskan dengan tetap menyediakan porsi makanan untuk Muhammad.

Uniknya, jika keluarga pamannya ini makan secara sendiri-sendiri atau bersama-sama tanpa kehadiran Muhammad, mereka tidak pernah merasakan kenyang. Namun sangat berbeda jika ada Muhammad di tengah-tengah mereka. Makanan yang sedikit mampu memenuhi rongga perut mereka, mereka selalu puas terhadap makanan yang tersedia. Sehingga Abu Thalib berujar kepada seluruh keluarganya, “Jangan makan dulu sebelum Muhammad anakky datang bersama kita.” Muhammad pun datang, dan mereka merasa kenyang, tak hanya kenyang, kadang mereka kelebihan makanan.

Demikian juga ketika minum susu, sering mereka meminta Muhammad yang meneguk duluan susu yang ada dalam bejana, barulah kemudian disusul oleh mereka secara bergantian. Semuanya bisa merasakan kepuasan meminum susu sepuasnya, meski hanya dari satu bejana itu.

Ummu Aiman, sang pengasuh Muhammad kecil, sering sekali makan hanya dalam keadaan sedikit, tapi ia tak pernah mengeluh lapar. Di pagi hari, kadang ia hanya meminum air dari sumur Zamzam. Kalau ditawari makanan, ia menolak dan menjawab, “Maaf, aku kenyang.” Dan kalimat yang keluar tersebut, bukan karena penolakan secara halus atau sikap malunya atau juga ungkapan kosong, melainkan memang demikian, ia merasakan kenyang.

Begitulah keberkahan yang mereka dapatkan bersama Muhammad, meski dalam keadaan sempit.

Kepekaan Muhammad tersebut tumbuh semata-mata dari jiwanya yang lembut nan halus. Ketika ia semakin matang, ia ingin membalas budi sang paman beserta keluarga, dengan sedikit membantu perekonomian mereka. Ia berpikir keras, apa yang harus dikerjakannya. Semua pekerjaan telah ada budak yang melakukan. Hendak berdagang, mana mungkin, ia seorang miskin tanpa modal. Ia terus berpikir, hingga kemudian menemukan sebuah pekerjaan yang cocok menurutnya, menggembalakan kaming penduduk Mekkah ke padang. Ia menilai pekerjaan tersebut sangat cocok baginya, Ia bisa menafakkuri alam, luasnya langit dan padang beserta kehebatan dan kekuatan yang terpampang di dalamnya sungguh suatu pemandangan yang sangat bagus untuk merenungi Kekuasaan Allah.

Sekali tepuk, dua lalat mati. Sebuah pepatah yang barangkali cocok untuk menggambarkan pikiran Muhammad.

Ketika ia utarakan niatnya ini kepada sang paman, Abu Thalib menolaknya. Fathimah terkesima, melihat betapa halus perasaan dan pemikiran yag ada pada anak ini. Usianya masih belia tapi sudah berpikir sejauh itu, mereka menjadi iba. Tapi Abu Thalib tak mampu mendebatnya. Tekad Muhammad telah bulat dan tak bisa ditawar lagi. Akhirnya Abu Thalib pun mengalah dan terpaksa mengizinkan Muhammad menggembala kambing. Maka Abu Thalb pun mencarikan beberapa orang Qurays yang bersedia kambingnya dikembalai oeh Muhammad. Abu Thalib mencari dengan selektif, karena tidak ingin ada yang menjahati Muhammad nantinya.

Tiba saatnya Muhammad menggembala. Fathimah binti Asad sang bibi setiap pagi mengantarkan Muhammad ke depan pintu, kadang ia memberikan bekal untuk seharian di padang gembala di pinggir kota Mekkah. Saban hari, ia berpesan kepada Muhammad untuk berhati-hati, kadang juga ia sampaikan kepada teman-teman Muhammad untuk menjaga Muhammad. Ia menitipkan Muhammad pada sekawanan penggembala lainnya. Sebegitu besar perhatian Fathimah sang bibi.


Muhammad pun menemukan lingkungan baru, bersama anak sebayanya para penggembala cilik yang tersebar di padang sekitar Mekkah. Anak-anak sebagaimana umumnya, ketika berkumpul mereka berbagi cerita-cerita hebat yang dialaminya. Ada yang bercerita bagaimana mereka pernah bertarung mempertaruhkan hidupnya melawan bahaya. Mereka juga menceritakan tentang keberadaan tempat-tempat hiburan, permainan dan aneka kesenangan lainnya. Muhammad tak luput dari sasaran mereka untuk berbagi cerita. Muhammad lebih banyak mendengar daripada ikut bercerita. Ia banyak menyerap informasi baru, dan belajar dari cerita teman-teman sesama penggembala.

Muhammad remaja adalah seorang penggembala yang jujur. Ia selalu tepat waktu dalam bekerja. Meskipun masih remaja, profesionalitasnya telah terlihat.

Teman-teman penggembala membujuk Muhammad untuk ikut ke acara hiburan. Awalnya Muhammad selalau menolak, tapi karena terus menerus dibujuk, akhirnya hati Muhammad pun luluh untuk ikut bersama mereka. Ia juga merasa ingin menyaksikan langsung keberadaan pesta itu, dan duduk ngobrol semalam suntuk.

Di satu hari, teman penggembala Muhammad datang dan membujuk bahkan mendesak Muhammad untuk ikut bersama mereka ke sebuah pesta disudut kota Mekkah. Malamnya mereka pun berangkat. Disana ada tabuhan rebana, tiupan seruling, alunan lagu dan berbagai macam hiburan yang biasa dijumpai di acara semacam itu. Muhammad duduk di kejauhan dan memperhatikan, namun tak lama, hanya sesaat kemudian, Allah membuat Muhammad tertidur hingga sangat pulas sepanjang malam. Ia baru terbangun ketika tersegat matahri yang kian meninggi. Saat ia kembali ke tempat teman-temannya berada, ia malah disambut penuh keheranan dan tanya. Muhammad tidak bisa banyak menjawab. Terjadi pula di beberapa waktu kemudian, hal yang sama terulang. Muhammad kembali tertidur sebelum ia mendekat ke tempat pesta.

Akhirnya, Muhammad pun merasa hari-harinya untuk menjadi penggembala cukup, mesti diakhiri secepatnya. Ia harus mencari pekerjaan lain yang lebih cocok, demi membantu pamannya beserta keluarga. Mungkin kini ia sudah bisa berdagang. Usianya telah mencapai tiga belas tahun. Ia yakin sudah bisa ikut membantu pamannya dalam berdagang. Di Mekkah, Abu Thalib mempunyai kios dagang. Muhammad berpikir ia bisa membantu mengurusinya dan menggantikan sang paman saat sang paman harus keluar atau pergi berdagang ke luar Mekkah.
Read More

Tuesday, November 14, 2017

Perjalanan Dagang Ke Syam Pertama Yang Menggelisahkan Hati

November 14, 2017 0
Kedekatan Muhammad kecil dengan pamannya Abu Thalib, sangatlah erat sekali. Dia tidak ingin berpisah meskipun hanya sehari saja. Mungkin ini adalah insting yang  muncul secara naluriah karena ia tidak ingin kehilangan orang yang dekat dengannya dan penuh kasih dan sayang dalam mencintainya, sebagaimana ibunda Aminah dan sang kakek Abdul Mutthalib. Ia pun begitu mencintai Abu Thalib beserta istrinya. Tetapi Muhammad yang masih belia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Muhammad masih kecil, ekspresi cinta kepada mereka jelas hanya bersifat rasa dan ketergantungan.

Sampai-sampai ketika hari dimana kafilah dagang Arab telah menentukan hari untuk berangkat berdagang ke Syam –sudah menjadi adat bangsa Arab melakukan ekspedisi dagang ke Syam dari aman-, bagi penduduk Mekkah hal ini sudah mendarah daging. Muhammad kecil meminta untuk ikut ke Syam, ia tidak sanggup jika tidak melihat keberadaan pamannya walau sesaat. Sang paman menampik keinginan si kecil. Menurutnya, Muhammad kecil masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang wanita dan sosok ibu, belum waktunya bagi si kecil untuk ikut ekspedisi dagang ini. Apalagi, Abu Thalib khawatir jika ia bisa menjadi lalai dengan barang dagangannya, hingga pengawasannya terhadap Muhammad akan berkurang dan terpecah. Bagaimana jika ia kelelahan, dan tak tak sanggup mengimbangi perjalanan kafilah.

Semua kekhawatiran itu memenuhi benak sang paman, demikian juga dengan bibi-bibinya. Namun Muhammad bergeming, ia merasa kekhawatiran yang berlebihan itu tidaklah patut. Ia merasa tidak puas dengan keputusan paman yang demikian. Sang paman pun bingung, karena keponakannya ini, tidak bisa dipisahkan dengannya. Tapi tetap saja mereka tak bisa bersikap keras. Wajah Muhammad kecil yang dipenuhi dengan nur, memancar dan meluluhkan hati mereka semua. Ditambah rasa iba sang paman ketika mengingat masa lalu sang keponakan kesayangannya ini yang nihil akan kasih sayang sang ayah dan miskin waktunya bersama ibu. Ia pun berat hati untuk meninggalkan Muhammad.

Abu Thalib berkata kepada istrinya Fathimah,”Kemaskan barangnya, Aku akan membawanya ikut dan menjaganya.” Fathimah terkejut dengan keptusuan suaminya, dan merasa berat hati, namun ia tak ingin membantah sang suami. Dengan penuh keraguan dan rasa iba, ia kemasi barang dan bekal untuk Muhammad, dan menggantungkan nasib Muhammad kecil serta suaminya kepada Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia agar dijaga keselmatan mereka.

Kafilah pun berangkat menuju Syam, melewati Madinah -Yastrib saat itu-, Khaibar, Tima’, dan Tabuk. Sebuah perjalanan yang amat panjang, dengan sedikit istirahat sebelum mereka mencapai Bushra, salah satu ibu kota negeri itu. Untuk pertama kalinya, Muhammad menyaksikan bangunan-bangunan megah, orang-orang asing, para budak yang diperjual belikan dan budak yang bersama tuannya, juga orang merdeka lainnya. Kaum konglomerat dan kaum fakir, semua berbaur di pasar itu. Muhammad dititipkan sebentar di sebuah kuil tua nan besar bersama beberapa pembantu yang sedang beristirahat disana. Abu Thalib berpesan pada mereka  untuk menjaga Muhammad dengan sangat baik.
Sesaat kemudian, Abu Thalib kembali dan menggandeng tangan Muhammad, mengajaknya jalan-jalan, hingga ke sebuah rumah besar dan bertingkat. Mereka pun naik ke lantai atas dan melihat-lihat ke sekitar. Tiba-tiba seorang tua yang berpakaian hitam dan kasar, datang. Ia memegang tangan Muhammad kecil yang belum matang usia remajanya, dan memeriksanya. Ia tercenung beberapa saat, kemudian meneliti setiap garis dan guratan wajah si anak belia ini. Lalu dengan cepat, pria tua itu menyingkap pundak Muhammad dan kemudian lututnya, seolah ia sedang mencari dan memeriksa sesuatu yang ada pada tubuh badan Muhammad kecil.
Barulah kemudian ia berbicara dengan sangat serius dan -fokus seolah hanya mereka saja yang ada disana-, dalam keramaian orang-orang di dekat pasar. Gelombang pertanyaan pun menghantam Muhammad dan sang paman satu demi satu, mereka menjawabnya dengan cermat. Tetapi, ketika pria tua ini meminta Muhammad untuk bersumpah atas nama Lata dan Uzza, Muhammad berpaling dan menghindar,” Jangan sekali-kali engkau menanyakan tentang keduanya. Sungguh demi Allah aku sangat membenci keduanya melebihi apa pun yang ada.” Berkata sambil melemparkan wajahnya ke arah lain.

Lalu pria tua tersebut bertanya, ”Siapa ayah dari anak ini?”, Muhammad terpana.
“Akulah ayahnya,” jawab Abu Thalib dengan tegas. Pria itu pun menatap lekat wajah dan memerhatikan tubuh Abu Thalib, lalu bergumam tak percaya, “Bukan, tidak mungkin ayah dari anak ini masih hidup.”
Abu Thalib pun terdiam, tak bisa mengelak, dengan sedikit terbata ia pun mengaku, “Maksudku, aku adalah pengganti ayahnya. Aku adalah paman yang mengasuhnya. Sejak lama ia telah ditinggalkan mati oleh ayahnya.”

Pria tua itu, yang kemudian dikenal dengan panggilan Rahib Buhaira itu terdiam untuk beberapa waktu. Lalu ia mengangkat wajahnya dan berkata sedikit berbisik dengan penuh kehati-hatian kepada Abu Thalib, “Tuan, jagalah keponakan mu ini engan sungghuh-sungguh. Berhati-hatilah terhadap orang Yahudi. Jika mereka sampai mengetahui hal ini, pasti, tanpa segan mereka akan berlaku jahat kepadanya, hingga membunuhnya.”

Perubahan sikap terjadi pada keduanya, cara masuk mereka dengan girang dan penuh tawa tadi, kini saat keluar berganti dengan rasa cemas yang tak menentu, terutama pada sang Paman, akibat perkataan Rahib Buhaira. Dadanya bergemuruh, ia gelisah. Muhammad kecil juga mungkin bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ”Siapa itu Yahudi, yang hendak mencelakainya.?” Karena sejauh ini kehidupan yang dikenal Muhammad kecil hanyalah Mekkah.

Dalam perjalanan pulang mereka, penjagaan Abu Thalib benar-benar sangat ekstra. Sebelum mereka menyentuh tanah Mekkah dan melihat rumahnya, hati Abu Thalib dipenuhi rasa was-was, ia tak bisa tidur, matanya bergerilya kiri kanan, depan-belakang untuk mengantisipasi segala potensi kejahatan yang bisa jadi akan menimpa keponakan tersayangnya.

Sesampainya di mekkah, Abu Thalib menceritakan kepada Fathimah, istrinya. Tak ada sedikit pun yang ia sembunyikan. Fathimah sangat terkagum dan terkesima dengan kisah dari suaminya. Ia pun berujar kepada suaminya. “Kalau demikian cerita mu wahai suami ku. Permintaan Muhammad yang sangat ingin ikut  dalam perjalanan kalian kemarin itu bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah takdir Allah, sehingga kau dapat melihat langsung keistimewaan yang dialami oleh anak ini. Dan setiap kejadian menyangkut dirinya. Mungkin itulah kenapa ia sangat dekat dan bergantung pada mu. Hingga aku pun tak kuasa mengekangnya dari mu.”

Dan Fathimah melanjutkan, “Dibalik hari ini terdapat hari esok yang penuh misteri, demikian juga dengan Pribadi Muhammad, masih banyak rahasia yang belum terungkap. Sejauh ini, sebagian telah nyata di hadapan kita. Dan kita pasti akan menyaksikan sesuatu yang lebih besar kedepannya.” “Itu kalau Allah menjaganya dan Yahudi tidak mencelakainya,” Abu Thalib menyela, “Dan aku sangat mengkhawatirkannya wahai Fathimah istri ku.”

Fathimah pun menenangkan, “Tidak ada Yahudi di Mekkah wahai suami ku, kecuali mereka hanya datang dan pergi unuk berdagang. Menurutka, rahasia ini harus kita jaga, jangan dibuka kepada siapa pun. Terutama yang rahib itu sebutkan. Dan Muhammad harus selalu dalam pengawasan kita.”

Sejak hari itu, perhatian dan pengawasan Fahimah binti Asad kepada Muhammad semakin besar dan ketat. Dan cintanya kepada Muhammad pun kian dipadati rasa hormat. Hingga ia tumbuh menjadi semakin dewasa, yang beranjak menjadi seorang pemuda.
Read More

Kasih Sayang Abu Thalib dan Fathimah Kepada Muhammad

November 14, 2017 0
Setelah meninggalnya sang kakek Abbdul Mutthalib, tongkat kepemimpinan Bani Hasyim, berpindah kepada paman Muhammad, saudara kandung dari Abdullah, ayahnya, Abu Thalib.

Muhammad kecil mendapatkan perhatian yang luar biasa dari Abu Thalib dan istrinya, Fathimah binti Asad. Kecintaan keduanya kepada Muhammad dicurahkan sebagaimana rasa cinta yang mereka curahkan kepada anak-anaknya yang lain. Bahkan Fathimah merasakan cinta yang lebih ia curahkan kepada Muhammad.

Si kecil Muhammad mendapatkan sosok ibu pada diri Fathimah sang Bibi. Bahkan di suatu waktu dengan polosnya Muhammad kecil memanggil Fathimah dengan sebutan ibu, bukan bibi. Terkejut Fathimah mendengarnya. Disatu sisi, ia memandang si kecil dengan rasa penuh iba, megingat si kecil yang tidak merasakan kasih sayang seorang ibu secara cukup. Namun, di sisi lain dalam benaknya ia meerasakan kebahagiaan yang sangat mendalam. Seolah ada sejuta cahaya kebagiaan yang yang keluar dibalik panggilan itu melalui mulut mungil si kecil Muhammad yang sangat mulia itu. Ia mendekat kearah Muhammad kecil dan mendekapnya, menciuminya dengan penuh kasih sayang. Panggilan "ibu" yang dilontarkan dari si kecil berasa lebih berarti dan membuatnya bahagia, bahkan melebihi rasa yang didapat ketika anak-anaknya memanggilnya dengan sebutan ibu.

Hari terus berlalu, Muhammad kecil ikut merasakan pengawasan Fathimah kepadanya tak pernah absen meskipun sehari. Dan Fathimah merasakan kecemasan ketika melihat perubahan pada sikap Muhammad kecil yang sering menyendiri, sering murung dan lebih pendiam. Seolah Muhammad kecil sedang memikirkan suatu hal yang sangat besar, namun mulutnya terkunci untuk menceritakan apa yang ada di benaknya. Fathimah takut kalau-kalau, penyakit aneh tertimpa kepada Muhammad kecil yang sangat dicintainya.

Fathimah yang semakin cemas, melaporkan kepada sang suami, Abu Thalib. Abu Thalib pun ikut memperhatikan Muhammad kecil, dan mencoba mereka-mereka, apa masalah yang sedang dipikirkan dan dihadapi oleh si kecil, namun mentok, mereka berdua tak mampu menjangkaunya. Hanya saja, dengan epenuh keyakinan dan harapan Abu Thalib berujar kepada istrinya,” Biarkan saja dia, Tuhan pasti akan menjaganya.” Dan ucapan itu terus menerus keluar dari mulut sang paman ketika istrinya mengadukan hal yang sama.

Muhammad merasakan bahwa dirinya selalu diawasi dan dijaga oleh Allah SWT. Yang merupakan salah satu tanda kenabian. Pernah ia diajak kepada berhala oleh paman-paman dan bibi-bibinya. Tapi ia selalu menolak. Hingga pada sebuah kesempatan dan momentum upacara “Bawwanah” sebuah berhala yang besar dan sangat dihormati oleh kaum Qurais dimana mereka akan melakukan ritual, dan meditasi sepanjang hari disana. Muhammad tak bisa menolak untuk menghadirinya, hingga ia pun ikut ke dalam kerumunan tersebut.  Disinilah Muhammad mengalah kepada para paman dan bibi-bibinya.

Di tengah kekhusyukan orang-oarng dewasa, terdapat anak-anak yang tidak penurut. Sebagaimana umumnya dunia anak-anak, mereka lebih banyak memilih melakukan permainan daripada ikut dalam upara. Muhammad pun menghilang dari kerumunan orang yang beribadat itu bersama banyaknya anak-anak yang berlarian kesana kemari. Bahkan Abu Thalib dan istrinya melihat Muhammad tak ada bersama kerumunan anak-anak. Pecah hati sang paman dan bibinya. Mereka keluar berhamburan mencari Muhammad kecil. Ditemukan si kecil sedang bersembunyi di salah satu sudut rumah dalam keadaan gemetar dan sangat ketakutan.


Bibi dan pamannya menanyakan ada apa gerangan hingga Muhammad demikian. Dijawab olehnya “Setiap aku mendekat ke salah satu berhala itu, ada sosok dengan jubah putih menghadang ku, dan berkata agar aku tidak kearah berhala itu. Ketika aku mendekati Bawwanah, ia menegah ‘Awas di belakang mu, Muhammad jangan sentuh itu’.”

Terdiam dan terkagum paman dan bibinya mendengar penuturan dan pengakuan Muhammad kecil. Mereka sadar, bahwa terdapat ribuan misteri di belakang si kecil, dan dia memiliki sesuatu yang sangat istimewa. Sejak saat itu, Muhammad tak pernah lagi diajak menuju tempat berhala, dan semua bibi-bibinya tak berani lagi mengusiknya.

Hal lain yang mereka saksikan adalah Muhammad tidak memakan bahkan menyentuh pun tidak jika makanan dan daiging hewan kurban yang disembelih sebagai sesaji dan sesembahan kepada berhala. Ini membuat meereka semua takjub, memngingat usia Muhammad yang masih sangat belia. Dan membuat mereka menyadari Muhammad yang bersamanya, bukanlah orang sembarangan.
Read More

Sunday, November 12, 2017

Kasih Sayang Sang Kakek Kepada Muhammad Kecil

November 12, 2017 0
Setiba di Mekkah dari Madinah setelah perjalanan panjangnya bersama sang Ibu untuk menziarahi makam Ayahanda, dan mendapati sang Ibu ikut meninggalkannya di Abwa'. Muhammad disambut oleh sang Kakek, Abdul Muththalib dengan pelukan dan dekapan kasih sayang. Sang kakek dan seluruh paman-paman beserta istri mereka datang menyambut Muhammad kecil dengan penuh haru dan rasa duka.


Tibalah saatnya Muhammad kecil diasuh oleh sang Kakek. Abdul Muththalib adalah seorang terpandang, pemegang kunci pintu dan penjaga Ka'bah. Ia lah orang yang menggali kembali sumur zam-zam yang sempat lama tertimbun. Dan ia juga yang menyiaapkan air bagi musafir-musafir jama'ah haji yang datang ke Mekkah. Muhammad kecil tetap mendapatkan perhatian dan kasih sayang  ibu, melalui istri-istri paman-pamannya, juga melalui kerabat dan sahabat dekat Aminah. Mereka sangat mencintai Muhammad kecil, sebagaimana mereka mencintai anak-anaknya, bahkan lebih.

Abdul Mutthalib mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada Muhammad kecil. Ia tidak dipanggil sebagai cucu, melainkan anak oleh Abdul Mutthalib. Ia memaminggilnya "anak ku" tidak pernah ia memanggil dengan sebutan "Wahai Anak Abdullah". Orang-orang Makkah pun menjuluki Muhammad kecil sebagai Ibn Abdul Muthhalib, bukan Ibn Abdullah. Kecintaan sang kakek kepada cucunya ini, memang telah diekspresikannya sejak Muhammad lahir. Nama Muhammad diberikan oleh sang kakek dengan harapan Muhammad akan dipuji oleh seluruh manusia. Muhammad juga adalah nama yang asing dan tidak pernah disematkan kepada seorang pun di kalangan bangsa Arab saat itu. Di subuh kelahirannya pun sang kakek menggendong Muhammad yang masih bayi, dan mentawafkannya sambil melantunkan pujian-pujian kepada Allah Pemilik Semesta Alam untuk merahmati Muhammad sepanjang hidupnya.

Orang-orang kala itu menceritakan kepada  Muhammad kecil dalam rangka menghibur Muhammad agar tak merasa kesepian dan hidup tanpa kasih sayang orangtua kandung, bahwa Abdul Mutthalib sangat mencintai Muhammad. Dan perhatian yang ia terima dari sang Kakek bukan suatu yang terjadi tiba-tiba, melainkan sudah ditunjukkannya sejak dulu. Abdul Mutthalib terlihat sangat bahagia atas kelahiran Muhammad, bahkan orang-orang menyebutnya, kebahagiaan Abdul Mutthalib lebih besar daripada ketika ia menantikan kelahiran anak-anaknya. Padahal ia memiliki banyak anak-anak lelaki maupun perempuan, memiliki pula cucu-cucu yang lain, dan ia memiliki banyak pembantu. Tapi kelahiran dan keberadaan Muhammad di sisinya benar-benar sesuatu yang lain.
Sang kakek sanhat mengkhwatirkan diri Muhammad sebagaimana orang tua mengkhawatirkan anaknya. Ia selalu memperingatkan orang-orang agar tidak berlaku suatu yang tidak menyenangkan atau yang membahayakan diri Muhammad. Ia selalu berpesan kepada Ummu Aiman selaku pengasuhnya untuk merawat Muhammad dengan baik. Dan jika Abdul Mutthalib mendapatkan undangan atau jamuan, selalu diajaknya Muhammad kecil bersamanya.

Muhammad kecil pun hidup dengan tenang bersama sang kakek, ia mampu melihat guratan penuh cinta dari wajah sang kakek. Dan menyadari keakraban batin diantara keduanya.

Abdul Mutthalib memiliki tempat duduk yang khsusus bergelar karpet merah dan tilam yang tebal sebagai tempat duduknya, ia dikelilingi oleh tempat untuk paman-paman Muhammad. Tak seorang pun berani duduk diatas tempat Abdul Mutthalib, saking istimewanya tempat itu. Lalu di suatu hari Muhammad duduk diatasnya dengan maksud kecintaannya kepada sang kakek. Lalu seorang pamannya menegur Muhammad, dan meminta Muhammad kecil untuk pergi menjauh sambil bermain dengan anak-anak kecil yang lain, agar tidak mengganggu mereka duduk bersama Abdul Mutthalib yang sedang ditunggu kedatangannya. Muhammad kecil pun menurut, dan sedikit menjauh dari tempat duduk pertemuan itu.
Abdul Mutthalib keluar rumah dan melihat Muhammad sedang bermain bersama anak-anak sebayanya. lalu dipanggilnya Muhammad kecl, dipeluknya dan didudukkannya di tempat itu bersamanya. Ia pun menoleh ke arah anak-anaknya yang lain dan orang yang hadir, dan berkata, "Biarkan anakku (Muhammad) duduk di tempat dudukku. Karena sungguh dia tahu teempat yang pantas untuknya. Demi Allah, dia memiliki sesuatu yang luar biasa". Demikianlah mata batin sang kakek melihat keistimewaan Muhammad sejak dari kecil.

Diusia yang lanjut, Abdul Mutthalib menilai diantara banyaknya anak yang ia miliki, Abu Thalib lah yang pantas mengurus Muhammad. Karena Abu Thalib selain satu-satunya saudara kandung Abdullah dari ibu yang bernama Fathimah binti Umar bin Aidz dari klan Makzum, Abu Thalib juga telah menunjukkan cintanya kepada Muhammad sejak lama.

***
Dikutip dari Buku Bilik-Bilik Cinta Muhammad tulisan Dr. Nizar Abahzah.
Read More

Saturday, November 11, 2017

Singkatnya Waktu Muhammad Kecil Bersama Aminah

November 11, 2017 0
Setelah lama berpisah dengan sang ibunda Aminah, Muhammad kecil diantar pulang oleh Halimah ke pangkuan ibunda. Di saat itu, Muhammad kecil belum genap berusia lima tahun. Halimah menyerahkan Muhammad kepada ibu asuh baru yang merupakan pembantu dari Aminah yang juga tinggal bersama Aminah. Muhammad kecil kini mendapat curahan kasih sayang dari dua ibu sekaligus, Aminah dan Ummu Aiman. Perpisahan Halimah pun diwarnai haru dan pesan kepada Ummu Aiman untuk mencurahkan kecintaan dan perhatian yang besar kepada Muhammad kecil, mengurusi segala keperluannya dan tidak meninggalkannya meski sehari. Sedemikian bentuk cinta Halimah yang sejatinya tak ingin berpisah dengan anak asuh yang lebih dicintainya daripada anaknya sendiri.



Tak berapa lama bersama ibunda, Muhammad diajak untuk menemph perjalanan bersama ibunya ke Madinah (Yastrib nama Madinah saat itu). Perjalanan yang diperuntukkan menziarahi kuburan sang ayah yang tak pernah ia bertemu dengannya, karena duluan meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan, Abdullah. Selain juga untuk bertemu dengan kerabat sang ayah dari Bani Najjar. Perjalanan yang menyenangkan bersama ibunda dan kafilah lainnya, sungguh sangat dinikmati oleh Muhammad kecil. Hingga saat perjalanan pulang, mereka tiba di sebuah kasawan bernama Abwa’, beberapa kilometer dari Mekkah. Perjalanan rombongan mereka terhenti, karena salah satu dari anggoa kafilah terlihat kelelahan, ia terlihat sudah sangat lemah. Seolah kekuatannya telah tumpah. Aminah, ibunda dari Muhammad.

Melihat sang ibu yang terbaring lemah, ia melihat sang ibu pipinya membasah dengan tetesan air mata yang membulir di kedua matanya. Air mata Aminah pun tumpah. Muhammad tahu, air mana itu menyimpan sejuta makna. Ada perasaan asing yang merasuk kedalam jiwa Muhammad kecil ketika sang ibu memeluknya tidak sebagaimana biasa. Hatinya berdebar kencang, kesedihan pun menghampirinya. Sang ibu menatap ke arah Ummu Aiman. Ia pesankan kepada Ummu Aiman untuk mengasuh Muhammad kecil dengan sungguh-sungguh. Ia titipkan buah hati tercintanya. Ummu Aiman pun mengaggukkan kepala sebagai tanda dan bukti penerimaan amanah yang harus ia tanggung.


Detik-detik itu terasa sungguh begitu menyakitkan untuk dikenang. Terlihat oleh Muhammad mata kedua wanita yang ia sayangi itu berlinang hingga membasahi dagu mereka. Ia mengerti, sebuah peristiwa tengah terjadi. Ummu Aiman tampak begitu bersedih dan terpukul. Air matanya tak tertahan tumpah ruah ketika  Aminah menghembuskan nafas terakhirnya. Diusapkan wajah Aminah, dan ditutupinya. Hingga selesailah proses penguburan Aminah.

Muhammad kecil hanya terdiam, ia termenung sedih, ingin mengungkapkan banyak rasa. Tapi ia tak mampu. Ummu Aiman pun memegang tangan Muhammad kecil dan menuntunnya kepada rombongan yang akan segera melanjutkan perjalanan pulang ke Mekkah. Suasana hening, tak satu pun dari mereka yang berucap. Semua mata tertuju kepada Muhammad kecil, mereka menyayangi Muhammad, anak saudaranya, yang kini telah yatim dan piatu. Ditinggal oleh keua orangtuanya. Kini ia akan hidup sebatang kara, tanpa bisa mencicipi rasa kasih sayang kedua orang tua. Ummu Aiman menatap dengan tatapan penuh makna. Ia pun mencoba menghibur Muhammad dengan mengajaknya bercanda sepanjang perjalanan. Meskipun hasilnya tak seperti yang diharapkan. Muhammad bergeming, wajahnya malah makin pasi, dadanya terasa sesak duri derita. Ada sejuta tanda tanya yang menyelimuti samudera jiwanya. Ingin rasanya ditumpahkan kepada Ummu Aiman, tapi lidahnya pun terasa kelu, dan mulutnya terkunci. Muhammad kecil memilih untuk membiarkan kesedihannya mengalir dalam semesa diam. Muhammad sadar, Ummu Aimanlah ibu sekaligus pelindung baginya. Hidupnya bergantung kepada Ummu Aiman, sebagaimana Ummu Aiman juga pun bergantung kepada Muhammad setelah ia menerima wasiat dari Aminah.

Tiba di Mekkah, Muhammad kecil langsung disambut oleh Abdul Mutthalib, kakeknya dengan dekapan penuh kasih sayang dan rasa haru. Tubuhnya yang sudah sangat lemah dan sudah sakit-sakitan akibat dimakan usia, di temani anak-anaknya yang lain (paman-paman Muhammad) ikut mengelilingi dan menatap lekat penuh keprihatinan dan belas kasih.

Dan Muhammad merasakan pandangan kasihan mereka, hati kecilnya berkata, suatu kejadian besar tengah terjadi. Terbayang sesuatu yang besar dan berat sedang menantinya dalam lanjutan kehidupannya

Begitu kisah singkat Muhammad Nabi Mulia bersama ibundanya. Setelah berpisah untuk disusui dan diasuh di pedalaman Bani Sa’ad, belum ia merasa puas bermain dan berkasih sayang dengan ibunda, Allah swt mentakdirkan ia harus berpisah untuk selamanya. Selanjutnya Abdul Mutthalib mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.
Read More

Masa Kecil Muhammad Bersama Halimah As-Sa’diah

November 11, 2017 0
Setelah dilahirkan Nabi mulia Muhammad SAW disusui oleh Tsuwaibah, namun tak lama, datang sekelompok bani Sa’ad untuk mencari anak-anak yang baru lahir untuk menawarkan jasa penyusuan (sebagaimana tradisi Arab saat itu). Halimah binti Abu Dzu’aib salah satunya. Ia datang dari pedalaman ke Mekkah untuk mencari anak yang bisa disusuinya dengan upah. Dari kampung, ia datang bersama suaminya dan seekor keledai yang menjadi tunggangannya, berharap mendapat seorang anak dari pemuka Mekkah agar ikut mendapatkan upah yang besar. Namun, nasibnya berkata lain, ia malah mendapatkan seorang anak yatim yang keluarganya tidak memiliki kekayaan berarti. Itulah Muhammad.

Ia pun menerima Muhammad kecil untuk disusuinya, daripada harus pulang dengan tangan kososng,karena tak mendapati seorang anak pun. Seketika ia menerima dan menggendong sang anak, jiwanya pun tertarik seolah tak ingin melepasnya meski sebentar. Langsung rasa cinta yang begitu besar menghujam jiwanya. Demikian juga dengan suaminya. Disaat itu juga keajaiban dialama oleh Halimah bersama suaminya secara bersamaan. Unta tunggangannya yang terlihat lemas, menjadi semangat dan kuat menanggung beban bawaan. Berikut juga salah salah satu bagian tubuh Halimah yang sebelumnya kurang baik, kini tumbuh sebagaimana mestinya. Muhammad kecil pun dibawa hingga sampai ke pedalaman bani Sa’ad. Saat itu, perkampungan Bani Sa’ad sedang ditimpa kekeringan, ajaibnya, Halimah kembali bersama Muhammad kecil, keberkahan diterima oleh Bani Sa’ad pada umumnya dan keluarga Halimah secara khususnya. Bahkan ambing susu unta milik halimah yang sudah tua dan telah berhenti menghasilkan susupun ikut kembali memproduksi susu.

Muhammad kecil tumbuh bersama keluarga Halimah bersama adik-adiknya dan saudarinya yang lebih tua bernama Syaima’. Sebagaimana kebanyakan anak kecil, Muhammad ikut bermain, berlarian menikmati keriangan bersama mereka. Bahkan Muhammad kecil sering menggoda saudara-saudarinya dengan tiba-tiba menyergap dan mengejutkannya atau mengigit nakal punggung mereka. Tawa atau terika pun sesekali ikut lepas dan terdengar ke angkasa.

Muhammad kecil tahu persis kalau Halimah dan suaminya sangat mecintainya. Bahkan Muhammad kecil ikut merasakan rasa cinta keduanya melebihi kecintaan mereka terhadap anak kandungnya. Seolah sorot mata mereka terbaca dengan baik lukisan cinta yang tak terhingga terpancar begitu terang.

Hingga di suatu waktu terjadi sebuah peristiwa besar pada Muhammad kecil di saat ia bermain dengan anak-anak lain. Peristiwa pembelahan dada yang sungguh menggemparkan keluarga Halimah. Anak-anak lain berlari ketakutan dan melaporkan kejadian tersebut kepada Halimah. “Muhammad telah dibunuh. Muhammad telah dibunuh.” Mereka berteriak. Sontak halimah dan suaminya kaget, segera mendatangi Muhammad dengan keadaan penuh cemas. Ditemukannya Muhammad dalam keadaan baik-baik saja, tak ada bekas luka. Hanya saja ia terlihat lelah dan menggigil takut.

Peristiwa tersebut direkam dalam Shahih Muslim dan dikisahkan dalam Sirah Ibnu Hisyam. Itu merupakan salah satu tanda kenabian dan isyarat pemilihan Allah kepadanya untuk sebuah tugas yang amat besar lagi mulia. Jibril As yang datang dengan menyerupakan dirinya sebagai manusia datang dan menelatangkan Muhammad di atas batu, lalu ia membelah dada mulia Muhammad kecil. Dibukanya dada Muhammad, dan kebelah kembali hati Muhammad, lalu dikeluarkan suatu gumpalan (‘alaqah), dan kemudian Jibril pun berkata, “In adalah bagian setan yang ada padamu.” Lalu Jibril mencucinya dengan air dari sumur zamzam di dalam bejana emas, lalu mengembalikannya ketempat semula. Tanpa bekas.
Diantara hikmah yang kita ambil dari kejadian tersebut, Syeikh Buthi mengatakan perlu dipahami, bahwa pembedahan itu bukan berarti suatu keburukan terdapat dalam dada secara fisik. Karena jika demikian, sungguh orang-orang yang berlaku jahat dengan sifat-sifat setan, bisa diobati dengan hanya membedah lalu mengangkat bagian (kelenjar) hitam dalam dadanya. Ia adalah bentuk pengumuman yang dipersiapkan untuk mendapatkan pemeliharaan (‘ishmah) dan wahyu semenjak kecilnya dengan sarana material. Pembelahan dada tersebut adalah “operasi pembersihan spritiual”. Dan khabar yang ajaib ini tidak layak ditakwil dengan takwilan keluar dari  makna hakiki dan lahiriyah. Kesahihan hadits  dari Anas yang diriwayatka Imam Muslim ini sudah cukup.

Peristiwa itulah yang menjadikan kekhawatiran pada Halimah, hingga ia harus mengembalikan Muhammad kecil ke pangkuan Ibundanya Aminah sedikit lebih cepat. Dengan penuh rasa berat hati. Perspisahan yang telah disadarinya sejak pertama kali membawa pulang Muhammad yang masih bayi ke rumahnya. Waktu pun terasa begitu singkat, berlalu begitu cepat.

Demikianlah masa kecil Muhammad di rumah Halimah yang penuh berkah bersebab olehnya.


***
Dikutip dari Buku Bilik-Bilik Cinta Muhammad tulisan Dr. Nizar Abazhah dan Sirah Nabawiyah karangan Syeikh Buthi.
Read More

Wednesday, November 8, 2017

Kakek Moyang Kaum Jahiliyah

November 08, 2017 0
Jahiliyah, bukanlah kebodohan tanpa memiliki ilmu pengetahuan terhadap ilmu dunia. Tapi hakikat jahiliyah adalah menutup mata dari kebenaran, atau bahkan berpaling dari kebenaran yang sebelumnya menjadi pakaian, lalu digantinya dengan baju-baju kesesatan tiada mendasar. Abai, adalah punca dari kejahilan. Lalu, siapa yang menjadi dedengkot (penggagas) praktik jahiliyah yang memalingkan kaum bangsa Arab di masa lalu setelah risalah Ibrahim dan Ismail dipegang teguh oleh mereka?


Kita tahu, bangsa Arab adalah anak keturunan dari Naabiyullah Ismail bin Ibrahim As. Sebagaimana diketahui bersama kisah Nabi Ismail yang tumbuh besar dan hidup di Mekkah, hingga menjadi pusat kemukiman dan peradaban Arab setelahnya. Maka tak heran jika millah dan minhaj Ibrahim dan Ismail As. masih mereka warisi. Agama yang lurus (hanif) itulah jawaban kenapa ibadah haji, umrah, thawaf, wuquf di Arafah dan qurban telah menjadi ritual keagamaan setiap tahunnya oleh bangsa Arab, bahkan sebelum Islam. Meskipun pada masa-masa tertentu, banyak praktik jahiliyah menyusup kedalam masyarakat dan diteruskan oleh generasi setelahnya. Dan disebutkan bahwa orang pertama yang mengajak kepada kemusyrikan dan menyembah berhala pertama adalah Amr bin Luhayyi bin Qam’ah.

Ulama Sirah masa awal, Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim ibnul Hharits At-Tamimi: Shalih as-Saman menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada Aktsam bin Jun al-Lhuza’i,’Wahai Aktsam, aku pernah melihat Amr bin Luhayyi bin Qam’ah bin Khandaf ditarik usus-ususnya ke dalam neraka. Aku tidak melihat seorang pun mirip (wajah) dengannya kecuali kamu.’ Aktsam lalu berkata,’Apakah kemiripan rupa tersebut akan membahayakan aku, wahai Rasulullah.?’ Rasul pun menjawab, Tidak, sebab kamu Mukmin sedang dia kafir. Sesungguhnya, dia adalah orang yang ertama mengubah agama Ismail as. Selanjutnya, dia membuat patung-patung, memotong teelinga binatang untuk dipersembahkan kepada thagut-thagut, menyembelih binatang untuh tuhan-tuhan mereka, membiarkan unta-unta untuk sesembahan, dan memerintahkan untuk tidak menaiki unta tertentu karena keyakinan kepada berhala’.

 
Dan Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhayyi ini memasukkan penyembaan berhala kepada bangsa Arab. Ia berkata, “Amr bin Luhayyi keluar Mekkah ke Syam untuk suatu keperluannya. Ketika sesampainya di Ma’ab, di daerah Balqa’, pada waktu itu di tempat tersebut terdapat anak keturunan Amliq bin Laudz bin Sam bin Nuh. Dia melihat mereka menyembah berhala-berhala. Amr bin Luhayyi lalu berkata kepada mereka, ‘Berhala-berhala apakah yang kamu sembah ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah berhala-berhala yang kami sembah, kepadanya kai meminta hujan, lalu kami diberi hujan. Kami minta kepadaya pertolongan, dia menolong kami.’ Amr bin Luhayyi lalu berkata lagi, ‘ Bolehkan kamu berkan satu berhala kepada ku untuk kubawa ke negeri Arab agar mereka juga menyembahnya?’ Mereka pun memberikan sau berhala yang bernama Hubal. Lalu Amr membawanya pulang ke Mekkah dan dipasanglah berhala tersebut. Selanjutnya ia meminta dan memerintahkan orang-orang untuk menyembah dan menghormatinya.”

Demikianlah, penyembahan berhala dan kemusyrikan lahir dan tersebar di jazirah Arab. Mereka meninggalkan aqidah tauhid, dan mengganti agama Ibrahim dan Ismail dan yang lainnya. Akhirnya mereka mengalami kesesatan, meyakini berbagai keyakinan keliru dan melakukan tidakan-tindakan buruk sebagaimana umat lainnya yang dahhulu. Mereka kaum Arab melakukan semua kebohdohan itu disebabkan kebodohan, ke-ummi-an (buta huruf) dan juga karena demi membalas dendam kesumat terhadap kabilah-kabilah dan bangsa di sekitarnya.


Itulah kejahilan. Disebut atas mereka sebagai kaum jahiliyah. Mereka meninggalkan yang benar, demi meyakini sesuatu yang salah dan menyesatkan, yang dimulai dari sikap abai yang terlalu lama.

****
Dikutip dari Kitab Fiqh Srah (Sirah Nabawiyah-terjemah) susunan Syeikh Sa'id Ramadhan Al Buthi
Read More

Sepotong Kisah Lahir Nabi di Dhiyaul Lami’

November 08, 2017 0
Maulid Dhiyaullami' bi Maulidin Nabi Syaafi' tentang nasab dan kelahiran Nabi Musthafa SAW:


لَمَّا دَ نَا وَ قْتُ الْبُرُو ز  ِلأَ حْمَدٍ
عَنْ   إِذْنِ   مَنْ   مَا شَاءَ هُ   قَدْ   كَانَـا

Ketika telah dekat waktu kelahiran Ahmad (saw) dari Izin Nya,
yang apabila menghendaki sesuatu tidaklah akan terhalang,

حَمَلَتْ   بِهِ  اْلأُ مُّ   اْلأ َمِينَةُ   بِنْتُ   وَ هـب   مَنْ   لَهَا  أَعْلَى  اْلإِ لهُ  مَكَانَا
مِنْ   وَ الِدِ   الْمُخْتَارِ   عَبْدِ  اللّهِ  بْنِ
عَبْدٍ   لِمُطَّلِبٍ   رَ أَى  الْبُرْ هَانَا

Ia (saw) berada di dalam kandungan Sang Ibu Aminah binti Wahb, yang baginya telah

 Allah Muliakan Martabatnya (sebagai ibu bagi sebaik baik ciptaan),
Dari ayah Sang Hamba yang terpilih (saw), yaitu (ayahnya itu) Abdullah bin Abdul Muthalib

 yang melihat tanda-tanda (Isyarat Kenabian)

قَدْ   كَانَا  يَغْمُرُ   نُورُ  طهَ   وَجْهَهُ
وَسَرَ ى  إِلَى  اْلاِ  بْنِ  الْمَصُونِ   عَيَانَا

Telah terjadi bahwa wajahnya (ayahnya) diterangi Cahaya Thaahaa (saw) yang kemudian

berpindah kepada Sang Anak yang terjaga ini (cahaya itu) terlihat dengan jelas

وَهُوَ ابْنُ   هَاشِمٍ   الْكَرِ  يمِ   الشَّهْمِ  بْنِ
عَبْدِ  مَنَافٍ   اِبْنِ   قُصَيٍّ    كَانَا
وَ الِدُ هُ   يُدْعَى  حَكِيمًا  شَأْ نُهُ
Dan dia adalah keturunan Hasyim yang Mulia dan Perkasa ,
putra Abdu Manaaf, Keturunan Qushay yang dahulu,
Ayahnya digelari Hakiim (orang yang adil) dan kepribadiannya telah termasyur,
maka berbanggalah dengan kepribadian itu,

قَدِ  اعْتَلَى   أَعْزِزْ   بِذ لِكَ  شَانَا
وَاحْفَظْ  أُصُو لَ  الْمُصْطَفَى  حَتَّى   تَرَى
فِي  سِلْسِلا َتِ   أُصُو  لِهِ   عَدْنَانَا
فَهُنَاكَ  قِفْ   وَ اعْلَمْ    بِرَ فْعِهِ     إِ لَى  السْـمَاعِيلَ     كَانَا  لِلأَبِ   مِعْوَ انَا

Dan hafalkanlah silsilah keturunan Nabi yang Terpilih hingga kau temukan

silisilahnya pada (datuknya) Adnan, Apabila telah sampai kepada Adnan maka berhentilah, (bahwa setelah Adnan,
banyak riwayat yang berbeda) dan ketahuilah bahwa nasabnya bersambung hingga
Ismail As (putra Ibrahim As) yang telah menjadi pendukung Ayahnya (Ibrahim As),

وَ حِينَمَا  حَمَلَتْ   بِهِ   آمِنَةٌ
لَمْ   تَشْكُ  شَيْئًا  يَأْ خُذُ   النِّسْوَ انَا
وَبِهَا  أَحَاطَ   اللُّطْفُ   مِنْ  رَ بِّ   السَّمَا
Dan ketika Aminah (ra) mengandungnya (saw) tidaklah Ia (Ibundanya ra)
merasa sakit sebagaimana keluhan wanita hamil,
Baginya (Aminah ra) selubung Kelembutan dari Allah Pemelihara Langit, hilanglah
 segala gangguan, kegelisahan dan kesedihan,
Kemudian ia (Aminah ra) menyaksikan sebagaimana yang telah diketahuinya, bahwa
Yang Maha Pemelihara telah memuliakan Alam Semesta

أَ قْصَى  اْلأَ ذَى  وَ الْهَمَّ   وَ اْلأَ حْزَ انَا
وَ رَ أَتْ   كَمَا  قَدْ  جَاءَ  مَا عَلِمَتْ   بِهِ
أَنَّ   الْمُهَيْمِنَ   شَرَّ فَ   اْلأَ  كْوَ انَا
بِالطُّهْرِ   مَنْ   فِي   بَطْنِهَا   فَاسْتَبْشَرَ تْ
وَ دَ نَا  الْمَخَاضُ   فَأُتْرِ عَتْ   رِ ضْوَ انَا
وَ  تَجَلَّتِ   اْلأَ  نْوَ ارُ   مِنْ    كُلِّ  الْجِهَاتِ   فَوَ قْتُ   مِيلاَ دِ   الْمُشَفَّعِ   حَانَا

Dengan kesucian bayi di dalam kandungannya, maka iapun bergembira ketika telah dekat saat saat kelahiran, maka berluapanlah limpahan keridhoan Nya,
(Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, 4X)

Maka Muncullah Cahaya Cahaya dari segala penjuru dan Detik Kelahiranpun tiba,

وَقُبَيْلَ   فَجْرٍ   أَبْرَ زَتْ   شَمْسُ  الْهُدَى
ظَهَرَ  الْحَبِيبُ   مُكَرَّ  مًا  وَ مُصَانَا

Beberapa saat sebelum terbitnya fajar Muncullah Matahari Hidayah, Lahirlah Sang Kekasih yang Termuliakan dan Terjaga,


سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُللهِ وَلاَ إلهَ  إِلاَ اللهُ وَاللهُ أَ كْبَرُ   أربعًا
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِـاللهِ الْعَلِيِّ الْعَطِيمِ  فِـي كُــلِّ لَـحْظَةٍ أَبَدًا
عَدَدَ خَلْـقِهِ وَرِضَا نَـفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْ شِهِ وَ مِدَادَ كَـلِمَاتِهِ.
صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد  صَلَّى الله عَلَيْهِ  وَسَلَّم

Bershalawat Allah kepada (Nabi) Muhammad
Bershalawat Allah padanya dan memberi salam sejahtera 3x)


يَا نَبِي  سَلاَ  مُ  عَلَيْكَ  يَا رَسُو ل   سَلاَ  مُ   عَلَيْكَ
يَا  حَبِيب  سَلاَ  مُ  عَلَيْك  صَلَو اتُ اللّه عَلَيْكَ

Wahai Nabi salam sejahtera bagimu,  Wahai Rasul salam sejahtera bagimu.
Wahai Kekasih salam sejahtera bagimu,  Shalawat Allah bagimu


أَبْرَ زَ    اللّهُ    الْمُشَفَّع  صَاحِبُ   الْقَدْ رِ   الْمُرَ  فَّع
فَمَلاَ   النُّو رُ   النَّوَ احِي عَمَّ   كُلَّ  الْكَوْنِ أَجْمَع

Telah tiba dengan kehendak Allah sang penberi syafa’at, Yang memiliki derajat yang dimuliakan.
Maka limpahan cahaya memenuhi segala penjuru, Meliputi seluruh alam semesta.

نُكِسَتْ    أَصْنَامُ    شِرْ كٍ  وَ بِنَا الشِّرْ كُ   تَصَدَّ ع
وَ  دَ نَا  وَ قْتُ   الْهِدَ ايَة  وَ حِمَى الْكُفْرِ تَزَعْزَ ع

Maka berjatuhanlah patung-patung berhala di ka’bah, Dan tumbanglah sendi-sendi kemusyrikan.
Maka dekatlah saat-saat petunjuk, Dan benteng kekafiranpun berguncang

مَرْ حَبًا  أَهْلاً  وَ سَهْلا  بِكَ   يَا  ذَا  الْقَدْرِ  اْلأَ رْ فَع
يَا إِمَامَ   اهْلِ   الرِّ سَالَة  مَنْ   بِهِ   اْلآ فَاتِ  تُدْ فَع

Salam sejahteralah atas kedatanganmu, Wahai sang pemilik derajat yang mulia.
Wahai Imam dan pemimpin para Rasul, Yang dengannya bencana-bencana terhapuskan.

أَنْتَ   فِي  الْحَشْرِ   مَلاَ ذٌ  لَكَ    كُلُّ   الْخَلْقِ   تَفْزَ ع
وَ يُنَادُ ونَ   تَرَ ى   مَا قَدْدَهَى مِنْ هَوْلٍ أَفْظَع

Engkaulah satu-satunya harapan di hari Qiamat, Kepadamulah seluruh

 ciptaan berlindung dari kemurkaan Allah.

طَلَعَ الْبَدْرُ  عَلَيْنَا  مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَ دَاع
وَ جَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا  مَا دَ عَا لِلّهِ دَاع

Kemudian mereka datang memanggil-manggilmu dengan penuh harapan,

 Ketika menyaksikan dahsyatnya kesulitan dan rintangan.

فَلَهَا  أَنْتَ  فَتَسْجُد  وَ تُنَادَ ى   أشْفَع   تُشَفَّع

Maka karena itulah engkau (SAW) bersujud kehadirat Tuhanmu,
Maka diserukan kepadamu berikanlah syafa’at, karena engkau diizinkan memberi syafa’at.

فَعَلَيْكَ   اللّهُ   صَلَّى    مَا بَدَ ى النُّو رُ  وَ شَعْشَع

Maka atasmu limpahan shalawat dari Allah, Selama

cahaya masih bersinar terang benderang.

وَ بِكَ   الرَّ حْمنَ   نَسْأَل وَ  أِلهُ   الْعَرْشِ   يَسْمَع

Dan denganmu (SAW) kami memohon kepada Ar Rahmaan,
Maka pencipta Arsy mendengar do’a kami.

يَا عَظِيمَ   الْمَنِّ   يَا رَ بّ شَمْلَنَا بِالْمُصْطَفَى اجْمَع
Wahai pemberi anugerah yang mulia, Wahai Tuhan,
Kumpulkanlah kami dengan AlMusthafa (SAW).

وَ بِهِ   فَا نْظُرْ إِلَيْنَا  وَ اعْطِنَا  بِه  كُلَّ   مَطْمَع

Dan demi Dia (SAW), maka pandanglah kami dengan kasih sayangmu,
Dan berilah kami segala yang kami inginkan.

وَ ا كْفِنَا  كُلَّ   الْبَلاَ  يَا وَ ادْ فَعِ اْلآ  فَاتِ   وَ ارْفَع

Dan hindarkanlah kami dari segala bencana, Dan jauhkanlah

segala kesulitan, dan angkatlah sejauh-jauhnya

رَبِّ  فَا غْفِرْ لِي  ذ ُنُو  بِـي  بِبَرْكَةِ  الْهَادِي  الْمُشَفَّع

Dan siramilah Wahai Tuhanku serta tolonglah kami
 .Dengan lebatnya curahan rahmat- Mu


وَ اسْقِنَا  يَا  رَبّ أَغِثْنَا  بِحَيَا  هَطَّالِ   يَهْمَع
وَ اخْتِمِ   الْعُمْرَ   بِحُسْنَى وَاحْسِنِ الْعُقْبَىوَمَرْجَع

Dan akhirilah usia kami dengan husnul khatimah,
Dan terimalah kami dengan baik saat kembali kepada- Mu 

وَ صَلاَ ةُ   اللّهِ   تَغْشَى مَنْ  لَهُ  الْحُسْنُ  تَجَمَّع

Dan terlimpahlah shalawat dari Allah,  Baginya (SAW) yang kepadanya terkumpul segala kebaikan.


أَ حْمَدَ   الطُهْرَ وَ آلِه  وَ الصَّحَابَة   مَالسَّنَا شَع

Ahmad yang tersuci serta keluarganya

Dan sahabatnya sebanyak pijaran cahaya.

اللهـم صـل وسـلم وبارك علـيه وعلـى آلـه

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam Sejahtera serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya,


***
Dikutip dari Kitab Maulid Dhiyaullami' susunan Habib Umar bin Hafiz
Read More

Nasab dan Kelahiran Nabi Muhammad SAW

November 08, 2017 0
Nasab Nabi Mulia

Al Musthafa Muhammad SAW mempunyai nasab mulia melalui garis keturunan Nabiyullah Ismail anaknya Nabiyullah Ibrahim As. Sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Sesungguhnya, Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, kemudian memilih Hasyim dari Quraisy, dan memilih ku dari bani Hasyim.”

Allah telah memilih Nabi SAW dari kabilah yang paling bersih dan dari keturunan yang paling suci dan utama. Tidak ada sedikitpun “virus-virus” jahiliyah yang menjangkiti nasabnya.

Nasabnya yang disepakati adalah; Muhammad bin Abdullah bin Abdullah bin Abdul Muththalib (namanya Syaibatul Hamd) bin Hasyim bin Abdi Manaf (namanya Mughirah) bin Qushayyi (namanya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Mu’iddu bin Adnan. Selebihnya, dari yang telah disebutkan, masih ada perselisihan diantara ulama ahli sirah. Akan tetapi, tiada perbedaan pendapat antara mereka bahwa Adnan adalah termasuk anak dari Nabi Ismail bin Ibrahim as.

Dalam zikr maulid yang disusun oleh ulama besar asal Yaman zaman ini Habib Umar bin Hafizh yang berjudul -Dhiyaul lami’ li maulidin nabiyyu syaafi’- (potongan sya’irnya terlampir pada artikel lain berjudul Sepotong Kisah Lahir Nabi di Dhiyaul Lami’) pun disebutkan bahwa cahaya kenabian telah turun temurun ditransfer melalui pribadi-pribadi agung nan terpandang di setiap generasi. Jika Abdullah ayah Nabi SAW dikenal kelembutan sikap, kegagahan serta ketampanannya, Abdul Muththalib dipercayai sebagai pemegang kunci Ka’bah yang sangat dihormati oleh masayarakat Arab dan pengunjung Ka’bah di masanya. Demikian halnya ayah dari Qushayyi, yang digelari sebagai Hakiim, orang terpandai dan bijak yang mempunyai pengaruh bagi kaumnya.

Bangsa Arab adalah anak keturunan dari Ismail bin Ibrahim As, sebagaimana diketahui kisah Nabi Ismail yang tumbuh besar dan hidup di Mekkah sebagai pusat permukiman dan peradaban Arab setelahnya. Maka tak heran jika millah dan minhaj Ibrahim dan Ismail masih mereka warisi. Agama yang lurus (hanif), itulah kenapa ibadah haji, umrah, thawaf, wuquf di Arafah dan qurban telah menjadi ritual keagamaan setiap tahunnya oleh bangsa Arab, bahkan sebelum Islam. Meskipun pada masa-masa tertentu, banyak praktik jahiliyah menyusup kedalam masyarakat dan diteruskan oleh generasi setelahnya. Dan disebutkan bahwa orang pertama yang mengajak kepada kemusyrikan dan menyembah berhala pertama adalah Amr bin Luhayyi bin Qam’ah. (Kisah tentangnya diceritakan khusus di judul Kakek Moyang Kaum Jahiliyah).

Tetap saja masih terdapat orang-orang yang bersih dari pengaruh Jahiliyah, walau sangat sedikit, yang berpegang teguh kepada tauhid (peng-Esaan ALLAH) dan berjalan sesuai syari’at Hanifiyah, yaitu dengan tetap beriman kepada adanya hari bangkit setelah mati, percaya adanya balasan berupa pahala (bagi perbuatan baik), dan dosa (bagi pekerjaan buruk/maksiat), dan mengingkari penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang Arab serta mengecam perilaku buruk juga kesesatan pikiran lainnya.


Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nabi SAW pernah berdiri diatas mimbar lalu bersabda,” “Siapakah aku?”, para sahabat menjawab, “Engkau adalah rasullullah. Semoga keselamatan atasmu.” Nabi kemudian bersabda,”Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk (manusia) kemudian Dia menjadikan mereka dua kelompok, lalu Ia menempatkan aku di dalam kelompok yang terbaik, kemudian menjadikan mereka beberapa kabilah dan menempatkan aku di kabilah yang terbaik. Kemudian Dia menjadikan mereka beberapa rumah dan menempatkan ku di dalam rumah yang terbaik dan paling baik jiwanya.”

Kelahiran Nabi Mulia

Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun Gajah, yakni tahun saat Abraham al-Asyram berusaha menyerang Mekkah dan ingin menghancurkan Ka’bah dikarenakan rasa iri dan dengki atas ketenaran Ka’bah yang mengalahkan kemegahan istananya di negeri Habasyah, dengan congkak dan sombongnya dia langsung memimpin ratusan tentara berkendara gajah untuk datang dan memporak-porandakan Mekkah dan seluruh isinya-. Namun Allah menggagalkannya melalui kejadian yang sangat ajaib dan mengagumkan, sebagaimana diceritakan dalam Al Qurran Surah al-Fil. Belakangan terdapat syubhat tentang kisah burung ababil yang diungkapkan Al Quran tersebut, dengan mengatakan pasukan gajah diserang virus dan flu. Syeikh Muttawalli asy-Sya’rawi (ulama terkemuka dari Mesir) dalam bukunya Muhammad Rasullullah (Kedudukan Nabi Muhammad-terj) mengatakan bahwa tuduhan tersebut menunjukkan kelemahan akal si penuduh. Karena Quran surah Al-Fil turun ditengah masayarakat Mekkah yang tentunya masih banyak diantara mereka yang hidup dan melihat sendiri bagaimana kejadian ajaib itu terjadi, dan tidak ada seorag pun dari mereka membantahnya.


Ada beberapa riwayat dan versi tentang tanggal kelahiran Nabi SAW. Menurut riwayat yang paling kuat, kelahiran Nabi Muhammad SAW jatuh pada senin malam, 12 rabi`ul awal. Maka tak heran, jika peringatan Maulid pun serentak dilakukan di tanggal tersebut. Mngenai hari, Senin adalah hari kelahiran beliau SAW seperti yang beliau SAW tegaskan sendiri dalam Hadits terkait puasa di hari senin yang ditanyakan oleh Sahabat. Jawaban beliau dengan tegas dan lugas, “senin adalah hari aku dilahirkan”. Perlu diketahui juga, di masa tersebut, tidak ada pencatatan tanggal secara jelas. Juga bangsa Arab tidak mengenal pencatatan tahun secara jelas, karena Arab tidak tersentuh Romawi yang telah menanggalinya dengan kalender Masehi. Bangsa Arab hanya mengingat tahun melalui kejadian besar yang terjadi di tahun itu dan menamai tahun tersebut dengan nama itu. Sebagaimana tahun gajah, namun bukan berarti mereka tidak mengetahui sistem penanggalan dan perhitungan bulan, karena mereka selalu menunaikan haji di saat musim haji yaitu Dzulqaidah dan Dzulhijjah.

Di malam kelahiran Nabi SAW, diceritakan bahwa terpancar cahaya yang sangat indah nan terang hingga penjuru langit kota Mekkah, dan setiap berhala yang  mengelilingi Ka’bah terjatuh telungkup tanpa ada sebab angin maupun badai. Demikian juga api sembahan yang telah menyala dan tak pernah padam selama seribu tahun, padam hilang cahayanya, dan membuat seluruh istana Kisra di Persia panik. Juga kursi kebesaran Kaisar runtuh di Kejadian tersebut disebutkan sebagai tanda akan binasanya kejahiliyahan dan kemusyrikan. Dan cahaya Islam akan memancar ke seluruh penjuru dunia.

Nabi Muhammad SAW lahir dari rahim Aminah binti Wahab disaat menjelang fajar dalam keadaan yatim. Sebab Abdullah ayahnya telah meninggal ketika Nabi Muhammad masih dalam kandungan Aminah sang ibunda. Aminah dijaga dan sangat disayang oleh Abdul Muththalib dan juga saudara-saudara Abdullah lainnya. Terlihat jelas bagaimana Abu Lahab, paman nabi (yang di kemudian hari memusuhi Nabi) ikut bersenang hati atas keahiran keponakannya, dengan memerdekakan seorang budaknya, sebagaimana hadits riwayat Muslim dari ‘Abbas Ra. Beliau yang Mulia lahir dalam keadaan telah berkhitan dan posisi bersujud (telungkup) yang mensyaratkan rasa malu beliau akan aurat.

Bahkan semasa ibunda Aminah mengandung, tidak ada kesusah dan kepedihan berarti yang dialami oleh ibunda. Kesedihannya atas meninggalnya suami tercinta Abdullah, terobati dengan tanda-tanda kenabian yang dirasakan oleh Aminah sejak mengandung. Ia merasakan sesuatu yang spesial dari yang dikandungnya.


Demikianlah kisah singkat Nasab dan Kelahiran Nabi Mulia Muhammad SAW.

****
Dikutip dari Buku Sirah Nabawiyah susunan Syeikh Sa'id Ramadhan Al Buthi, Kedudukan Muhammad SAW susunan Syeikh Mutawalli asy- Sya'rawi dan Dhiyaul lami' bi Maulidin Nabi Syaafi' susunan Habib Umar bin Hafizh.
Read More

5 Alasan Kenapa Sirah Nabawiyah Penting

November 08, 2017 0
Tarbiyah.onlineSyeikh Al Buthi, dalam Pengantar Kitab Fiqh Sirah (terj: Sirah Nabawiyah) menyebutkan perihal pentingnya mengkaji Sirah Nabawiyah untuk memahami Islam.

Tujuan mengkaji sirah atau kisah riwayat hidup Nabi bukan sekedar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah yang mengungkapkan  kisah dan kasus menarik yang dialami oleh Nabi bersama sahabat-sahabatnya saja. Tapi lebih dari itu, yaitu bertujuan agar setiap Muslim nemperoleh gambaran tentang hakikat islam secara paripurna yang tercermin dalam kehidupan Nabi Saw.


Sirah adalah upaya aplikatif dengan tujuan memperjelas hakikat islam secara utuh dalam keteladanan yang di miliki Nabi Mulia Muhammad SaW yang sangat tinggi.

Bila kita hendak membatasi pengkajian sirah, maka bisa dibatasi dalam beberapa sasaran berikut:
1. Memahami pribadi kenabian melalui celah-celah kehidupan dan kondisi yang pernah dihadapinya.

2. Agar manusia semua mendapatkan al matsal al a'la (contoh ideal) dalam setiap aspek kehidupan yang utama secara paripurna. Karena itulah Allah menjadikannya qudwah bagi seluruh manusia. "Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kamu sekalian..." (Al Ahzab:21)

3. Agar manusia mendapatkan sesuatu yang dapat membantunya memahami Kitabullah. Karena tidak sedikit ayat-ayat dalam Al Quran yang hanya dapat dipahami makna tafsirannya melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dihadapi Rasulullah dan bagaimana beliau menyikapinya.

4. Bagi Muslim, melalui kajian Sirah, ia dapat mengumpulkan tsaqafah dan pengetahuan Islam yang benar, apakah itu dalam tataran aqidah, hukum , maupun akhlak. Karena kehidupan Rasulullah Saw adalah gambaran konkret dari sejumlah prinsip dan hukum islam.

5. Agar pada da'i dan pembina Islam memiliki contoh hidup menyangkut cara-cara pembinaan dan dakwah. Karena Rasulullah adalah seorang da'i dan pemberi nasihat.
Read More

Tuesday, November 7, 2017

Menjadi Suami dan Ayah Teladan

November 07, 2017 0
Siapa diantara kita yang tidak mengharapkan rumah yang tenang, pasangan yang sehaluan, dan anak-anak yang berbakti sebagai buah hati dan cahaya mata? Tapi tidak semua mampu mendapatkan rumah tangga semacam itu. Sebab konstruksinya bukan semen, batu-bata dan pasir. Bukan pula material mahal yang menjadi assesoris berupa emas pakaian sutera dan kecanggihan elektronik. Melainkan kesediaan setiap individu untuk rela berkorban dan mengalah. Apalagi ayah sebagai pemimpin -notabene punya ego lebih besar- yang harus memikul tanggung jawab dalam memimpin, membimbing, mejadi teladan yang sempurna terhadap seluruh keluarganya.
Mungkin saja diantara kepala keluarga ada yang tidak mampu menjalankan fungsi kepemimpinannya, tidak sanggup bertindak bijak atau bahka tidak tahu bagimana cara  mengatasi problematika dan polemik kehidupan rumah tangga serta tidak menjadi teladan dan menyuguhka pendidikan kepada anak dan istrinya.

Diantara sebanyak jumlah kepala keluarga, satulah yang paling sempurna keteladanannya. Imam Tirmidi dan Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits tentang seorang laki-laki teladan dalam keluarga. Ia pernah berkata menasihati sahabat-sahabatnnya,"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan akulah yang terbaik terhadap keluarga ku." Dia lah Muhammad SAw, sang teladan di segala bidang kehidupan, karena Tuhan sendiri yang menyatakan dalam firmannya Surat Ahzab ayat 21, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasul suri teladan yang indah bagi orang yang memenda harap kepada Allah dan hari kiamat dan banyak memngingat Allah."
Sebagai teladan yang sempurna, Muhammad memperistri banyak perempuan-perempuan shalihah dengan bermacam latar belakang dan watak serta ragam perbedaan umurnya. Dengan beristrikan janda, ia mampu menjukkan sikap teladan. Beristrikan wanita kaya raya, ia memperlihatkan kebijaksanaan mengelola harta. Beristrikan mantan budak, ia mencontohkan bagaimana seharusnya laki-laki memuliakan wanita. Beristrikan remaja, ia pun menampakkan sikap bijak menghadapi istri yang emosinya masih sering meluap.

Keteledanan yang ditampilkan tanpa celah, kecuali di mata segelinir orangt yang kerjaannya memang untuk mencari salah. Keluarga yang ia bentuk berjalan terjal, berbagai masalah menghadang, namun dengan sigap ia tampil mencari solusi.

Hebatnya, ketika ia harus keras dan tampak marah, ia mengambil sikap marah. Namun kerasnya tak pernah diikuti pecut. Tangannya tetap “terikat” tak lepas landas ke atas anak dan istri-istrinya. Tak ada umpatan dan hinaan yang melukai perasaan. Tak lama marahnya, langsung berdamai, sikapnya kembali lunak dan lembut penuh kasih sayang. Sikap profesional dan proporsional yang wajib diteladani.
Rumah Muhammad adalah rumah yang sakinah, penuh cinta dan berlimpah rahmah. Semua merasakannya, istri dan anaknya, budak dan pembanyunya, hingga tamu dan siapa pu yang datang ke rumahnya. Karena telah benar firman Allah “Dan tidaklah Kami utus Engkau (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam”.

Dia lah nabi kita, contoh terbaik dan teragung. Sungguh setiap yag ada pada dirinya adalah keagungan. Kita yang mengaku diri sebagai umatnya, harus malu jika pengakuan kita kosong, karena tak mengenalnya kecuali sedikit sahaja. Sungguh tak patut bagi seseorang mengaku dirinya pecinta, sedang ia tak mengenal kepada yang dicintanya.

Di kesempatan lain, kita akan tuliskan beberapa pelajaran indah yang diajarkan Nabi Muhammad kepada kita melalui keteladanannya bersama Istrinya.
Read More

Pribadi Muhammad Teladan Umat

November 07, 2017 0
Tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, selain Rasulullah Muhammad ibn Abdullah shallallahu 'alayhi wa sallama, yang kehidupannya dilukiskan sebegitu detail. Sampai-sampai dkatakan, dialah satu-satunya manusia yang lahir dibawah matahari, hidup dibawah matahari, mati dibawah matahari yang sejarah hidupnya dicatat sejak kelahiran hingga kepergiannya.


Dialah satu-satunya manusia yang setiap kata dan ucapannya dicatat secara terperinci dan lengkap, diamnya dicermati, ridha dan marahnya diungkap. Dia yang ditemani oleh sahabatnya di rumah maupun dalam perjalanan, segala lakunya diketahui bahkan yang sepele dan remeh sekali pun. Lalu diceritakan kepada sahabat lain yang tidak tahu, lalu menyimpannya dalam memori mereka.

Di setiap situasi dan peristiwa, Nabi adalah teladan bagi setiap insan, baik laki maupun perempuan. Yang kaya menemukan contoh kedermawanan. Yang miskin mendapat pelipur lara di tengah kemelaratan. Yang yatim mengirup ketenangan jiwa di tengah badai kesedihan. Yang tertimpa musibah dan kesulitan memetik contoh ketegaran batin di tengah bencana kehidupan. Semua itu ada pada Nabi.

Dalam dirinya terangkum segaka model riwayat kehidupan manusia: yatim, miskin, terusir, menjadi suami dan ayah, menjadi pemimpin negeri, politikus hebat, komandan dan panglima perang, pendakwah, sakit, dan lainnya. Allah menghadirkan beliau sebagai sumber teladan sejati bagi seluruh umat manusia.

Dialah sosok teragung. Saiyidina Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallama. Sungguh setiap yang ada pada diri mu adalah keagungan.
Read More

Monday, November 6, 2017

Mengenal Siapa Dr. Nizar Abazha

November 06, 2017 0
Lahir di Damaskus Suriah pada tahun 1946. Beliau belajar agama pada ulama-ulama terkemuka di Damaskus yang memang dikenal sebagai salah satu surga ilmu pengetahuan di dunia. Dr. Nizar juga meraih gelar sarjana sastra dari Univrsitas Damaskus. Kemudian melanjutkan program magister ke Universitas Punjab, di Lahore, Pakistan. Tak hanya sampai disitu, beliau pun melanjutkan studinya di program doktoral di Azerbaijan dengan konsentrasi Sastra Arab.

Dr. Nizar juga dikenal pakar dalam bidang sastra Perancis dan Sejarah Islam. Kegiatan beliau saat ini seain menjadi pengajar di berbagai kampus di Suriah, beliau juga terlibat aktif menjadi penasihat kebudayaan untuk salah satu perusahaan penerbit terkenal, Dar al-Fikr. Beliau mendapatkan gelar Guru Besar di Universitas al fath al-Islami. Ada puluhan buku yang sudah dituliskan oleh beliau. Dan beberapa diantaranya sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di dunia. termasuk Indonesia. Diantara yang sangat terkenal adalah Sekolah Cinta Rasulullah, Ketika Nabi di Kota (Sejarah Madinah-versi lain) dan Bilik-Bilik Cinta Muhammad.


Perkenalan dengan Dr. Nizar berawal dari salah satu mahasiswa Suriah asal Aceh, Indonesia, Fauzan Inzaghi (nama akun facebook) ketika chattingnya dengan admin yang bertanya tentang kepada siapa saja beliau belajar disana. Dan nama Niza Abazha masuk dalam rentetan nama pengajar Sirah Nabawiyah bagi beliau. Lalu dilanjutkan pencarian di facebook akun Dr. Nizar Abazha dan admin mendapat ada dua akun dengan link di bawah ini:

 https://www.facebook.com/NizarAbazaAuthor?ref=br_rs
https://www.facebook.com/D.NizarAbaza/?ref=br_rs


Selanjutnya ada juga teman admin lainnya Ustad Saief Alemdar yang juga merupakan penulis buku dengan judul Risalah Jiwa dan buku berjudul Dalam Dekapan Ramadhan yang sering bercerita tentang beliau. Saief Alemdar juga berasal dari Aceh, dan sekarang berdiam di Suriah. Selain kuliah disana, beliau juga bekerja di Kedutaan.


Read More