TARBIYAH ONLINE: nabi muhammad

Terbaru

Showing posts with label nabi muhammad. Show all posts
Showing posts with label nabi muhammad. Show all posts

Sunday, December 3, 2017

Kedudukan Ahlul Bait Nabi SAW Dalam Aqidah Islam Ahlussunnah wal Jama'ah

December 03, 2017 0
(foto kaligrafi ahlulbait dari wikipedia)

Tarbiyah.online – Siapakah ahulbait, dan apa pentingnya mencintai keluarga Nabi SAW beserta keturunannya? Bagaimana batasan cinta kepada mereka? Dimana titik perbedaan antara cinta dan fanatik buta yang tercela? Dan tidakkah itu menyamakan kita dengan syi’ah yang sesat?

Pertanyaan ini kiranya penting untuk diajukan kepada ulama-ulama besar yang masih hidup di zaman ini, yang keilmuan mereka diakui, baik dikarenakan kelurusan aqidahnya maupun keluasan ilmunya dengan sanad keilmuan yang berterusan hingga kepada imam-imam mazhab yang muktabar hingga kepada Nabi Muhammad SAW.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, ada baiknya kita mengintip satu diantara hadits yang disabdakan oleh Nabi SAW yang berisikan perintah untuk mencintai keluarga Nabi SAW dan ikut berpegang teguh kepada mereka.

“....Amma ba’d, Ingatlah, wahai sekalian manusia. Sesungguhnya aku adalah manusia yang hampir didatangi utusan Tuhanku lalu aku penuhi panggilannya. Aku meninggalkan kepada kalian dua perkara berat nan berharga. Pertama adalah Kitabullah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah dan berpegangteguhlah kepadanya. Lalu Nabi SAW melanjutkan, Dan Ahlul bait, keluarga ku. Aku mengingatkan kalian tentang Allah pada Ahlulbait ku. Aku mengingatkan kalian tentang Allah pada Ahlulbait ku.”
Hushain lalu bertanya,”siapakah ahlulbait beliau wahai Zaid? Apakah istri-istri beliau termasuk ahlul bait? Zaid menjawab,”Istri-istri beliau termasuk ahlulbait. Akan tetapi, ahlulbait yang dimaksud adalah orang-orang yang haram menerima zakat setelah beliau. “Dan siapakah mereka? “keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil dan keluarga ‘Abbas.
“Mereka semua haram diberi zakat?”
“Ya” (H.R. Ahmad dan Muslim)

Sedangkan Sabda Nabi SAW yang lainnya, “Wahai manusia, Sesungguhnya aku meninggalkan kepad kalian sesuatu yang jika kalian ambil maka tidak akan sesat, yakni Kitabullah dan sanak keluargaku, Ahlulbait.” (H.R. Ahmad dan Turmidzi).

Maka dari itu kita sepatutnya mencintai ahlulbait Nabi SAW. Melihat turunannya, dari mencintai Allah maka kita mencintai Nabi SAW sebagai pemangku segala kebaikan dan rahmat bagi seluruh alam dari Allah SWT. Kemudian, dari mencintai Rasul SAW maka kita mencintai ahlulbaitnya dimana beliau telah berwasiat tentangnya, mereka juga memiliki ketamaan yang mulia dan kebaikan yang bertambah. Maka mencintai ahlulbait mesti lahir dari lubuk hati seorang Muslim sebagai wujud cintanya kepada Nabi SAW.

Baca juga kemuliaan nasab beliau

Fanatisme

"Dalam cinta, kata fanatisme tidak didapati." Kata-kata tersebut sering diucapkan oleh Syeikh Buthi rahimahullah. Seorang ulama Suriah. Namun fanatisme terdapat pada perihal keyakinan, aqidah. Maka ketika aqidahnya benar, tidak akan salah cintanya kepada Rasul SAW dan ahlulbaitnya. Kita yang beraqidah bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Seluruh para Nabi dan Rasul-Rasul berstatus ma’shum, yaitu terlepas daripada segala dosa. Sedangkan selain mereka mempunyai kemungkinan melakukan perbuatan dosa, hatta ahlulbaitnya, namun mereka punya kemungkinan hanya berstatus mahfuzh, sebagaimana yang didapati orang-orang shalih, yaitu penjagaan dari Allah SWT terhadap mereka. Secara syari’ah mereka bisa saja melakukan pekerjaan dosa, namun mereka mendapat penjagaan dari Allah SWT.

Nah, selama aqidah seorang muslim masih lurus dalam hal ini, maka seyogyanya ia juga akan mencintai Nabi beserta ahlulbait dengan sepenuh jiwa. Dan, ketika cinta kepada ahlulbait telah merekah, itu menunjukkan derajatnya telah semakin mendekati derajat shalih. Sebab wujud cinta kepada ahlulbait adalah wujud kesempurnaan cinta kepada Rasul, dan wujud cinta kepada Rasul adalah wujud cinta kepada Allah. Tentu saja saipa yang mencintai Allah, akan diangkat derajatnya kepada derajat orang-orang shalih.

Zaman ini mudah mengenal keturunan-keturunan ahlulbait terutama yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Karena kebanyakan dari mereka digelari Habib. Dan diantara mereka banyak yang menjadi Ulama besar dan Awliyaillah yang taqwa dan shalih. Namun demikian, tidak sedikit keturunan Rasul SAW yang tidak digelari Habib seperti kebanyakan di Mesir. Padahal ulama-ulama besar di Mesir seperti Syeikh Ahmad Thayib yang merupakan Syeikhul Azhar saat ini dan Syeikh Ali Jum'ah yang mpernah menjabat sebagai ufti Mesir juga merupakan salah satu dari ahlulbaitnya Rasul SAW. Jika di Saudi, gelaran untuk para keturunan ahlulbait adalah Sayyid, seperti Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki Al Makki yang masyhur, dan memiliki ribuan murid dari tanah air Indonesia.

Banyak kitab-kitab yang menceritakan tentang keagungan keturunan ahlulbaitnya Rasul SAW. Ada kitab yang disusun oleh Al Imam Jalaluddin As Suyuthi berjudul Ihya’ul Mayyit fii Fadhilati Ahlul Bayt yang berisikan 60 Hadits keutamaan AhlulBayt. Kebetulan saya mendapatkan versi terjemahannya -pdf-, namun ketika saya membacanya, ada sedikit berbau kesyi’ahan. Bukan hendak mendiskreditkan Imam Suyuthi, hanya saja, dari kitab terjemahan yang saya dapatkan secara bebas di internet, saya tidak berani menjadikannya referensi utama. Karena memahami isi kitab tidak sembarang dengan cara autodidak, tanpa guru pembimbing dan/ atau juga tanpa pembanding.



Disadur dari beberapa referensi, terutama Al Bayan, karya Syeikh Ali Jum'ah.
Read More

Friday, November 24, 2017

Benarkah Nur Muhammad SAW Adalah Ciptaan Pertama Sebelum Alam Raya Ini?

November 24, 2017 0

Tarbiyah.onlineDalam berbagai kesempatan, kita sering menemukan entah itu bacaan atau mendengar kajian atau juga ceramah, dimana ada satu ungkapan yang disebut-sebut sebagai Hadits. yaitu mengenai apa yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWt. dan kaitaannya dengan Nur Nabi SAW. Sebagai mana pertanyaan berikut:

“Hal pertama yang diciptakan Allah adalah Nur Nabimu, wahai Jabir.” Apakah hadits ini shahih? Dan apakah makna dari hadits tersebut selaras atau bahkan bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah yang wajib bagi Nabi?

Pertanyaan diatas pernah juga ditanyakan kepada Syaikh Ali Jum’ah, seorang ulama besar dari Al-Azhar Mesir, yang pernah menjabat sebagai mufti negara.


Dalam kitab Al Bayan li maa Yasghal al Adzhaan yang berisikan 100 persoalan yang yang paling sering ditanyakan, Syaikh Ali Jum’ah di masa beliau menjadi mufti Mesir menjawab dengan sangat baik, gamblang dan mencerahkan sebagaimana biasanya.

Berikut kutipannya:

“Para pakar hadits menghukumi hadits tersebut mungkar dan bahkan memvonis palsu. Syeikh Al-‘Allamah Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari berkata,”Mereka yang menisbatkan periwayatan hadits tersebut kepada Abdurrazaq telah keliru karena hadits tadi tidak ditemukan dalam kitab Al Musannaf, Al Jami’ dan Tafsirnya. Al-Hafizh as-Suyuthi, dalam kitab tafsir Al-Hawi fil Fatawi juz 1 halaman 32 berkata,”Hadits tersebut tidak mempunyai sanad yang otoritatif.” Hadits tersebut secara pasti PALSU.

Kesimpulannya, hadits tadi adalah mungkar dan palsu serta tidak ditemukan subernya dalam kitab-kitab hadits”. (Abdullah bin Shiddiq al Ghumari, Mursyid al Hair li Bayan Wadl’ Hadits Jabir, hal.2).

Mayoritas ahli hadits menghukumi hadit diatas palsu seperti Al Hafizh as-Shaghani. Dan pendapat ini tidak ditentang oleh Al-Hafizh Al-‘Ajluni. Demikian untuk status dari hadits Jabir.

Namun demikian, makna hadits tersebut mungkin benar apabila yang dikehendakinya adalah permulaan dari cahaya dan permulaan secara mutlak. Hal ini benar dari Qalam dan ‘Arasy dengan khilaf yang masyhur.

Al-‘Ajluni mengatakan, ”Menurut pendapat lemah bahwa permulaan segala materi sesuai dengan jenis materi tersebut. Semisal, Allah menciptakan pertama kali segala cahaya dari materi cahaya juga, dan begitu juga seterusnya.

Dalam kitab Ahkam ibn al-Qaththan sebagaimana diriwayatkan Ibnu Marzuq dari Ali bin Husein dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku dulu adalah cahaya di sisi Tuhanku selama empat ribu tahun, yakni sebelum Adam diciptakan.” Demikian ibarat kitab al Mawahib. (al-‘Ajluni, Kasyaf al-Khafa, juz 1 halaman 311-312).

Imam Al’Allamah Ad-Dardir (Al Maliki) tidak menentang makna ungkapan tersebut. Belliau berkata,” Cahaya rasulullah SAW adalah sumber semua cahaya dan materi sebagaimana sabda beliau kepada Jabir, ”Materi pertama yang diciptakan Allah adalah cahaya Nabimu dari Cahaya-Nya...al Hadits.” Beliau adalah mediator seluruh makhluk.” (Ad-Dardir, asy-Syarah as-Shaghir; Hasyiah as-Shawi, juz 4 halaman 778-779).

Sesungguhnya alam-alam yang diciptakan Allah ada banyak. Ada alam Mulk yaitu alam yang kita lihat. Ada alam Malakut yaitu alam ghaib. Ada alam Ruh, alam Jin dan alam Malaikat. Di semua alam tersebut terdapat cahaya-cahaya yang diciptaka Allah SWT. Tidak bisa ditolak kemungkinan bahwa Rasulullah SAW adalah awal cahaya yang diciptakan Allah dan cahaya-cahaya tersebut memenuhi sifat manusia pada alam ruh.


Kesimpulannya, hadits tersebut palsu dan tidak benar dinisbatkan kepada Rasul SAW. Akan tetapi maknanya mungkin benar seperti penjelasan diatas. Wallahu a’lam.

Demikian jawaban dari Syeikh Ali Jum'ah dalam kitabnya tersebut yang memuat 100 pertanyaan yang paling sering diajukan. Dengan lugas, beliau menjawab dengan nukilan dari berbagai referensi yang terpercaya, yaitu kitab-kitab ulama besar terdahulu. Dan sangat proporsional, dimana ha1 dikatakan haq, sedangkan bathil, tanpa ragu beliau katakan bathil.

Wallahu a'lam
Read More