TARBIYAH ONLINE: muhammad saw

Terbaru

Showing posts with label muhammad saw. Show all posts
Showing posts with label muhammad saw. Show all posts

Sunday, March 11, 2018

KEUTAMAAN SAYIDAH FATHIMAH AZ-ZAHRA (PERINGATAN HARI LAHIRNYA PENGHULU WANITA SURGA)

March 11, 2018 0

Sayyidah Fathimah az-Zahra merupakan seorang perempuan yang sangat cantik, mirip dengan ayah beliau yang sangat rupawan, Sayyiduna Muhammad SAW.
Dilahirkan pada hari jum`at, 20 Jumadil akhir 5 tahun sebelum Muhammad SAW diutus sebagai Rasul. Tahun di mana Rasulullah SAW menjadi pendamai di tengah petinggi kabilah-kabilah Arab yang bertikai untuk menentukan siapa yang paling berhak mengangkat hajar aswad setelah banjir besar melanda Kota Mekkah.
Jubah Sayyidah Fathimah Az-zahra
Kelahiran Sayyidah Fathimah dirayakan besar-besaran.
Beliaulah perempuan nomor 1 diantara perempuan yang ada seluruh alam.
Keagungan itu diberikan atas kesabaran beliau menempuh berbagai penderitaan:
1. Sayyidah Fathimah kecil menjadi anak satu-satunya yang berada di rumah karena kakak-kakaknya menikah dan ikut suami mereka yang berasal dari keluarga terpandang & kaya raya. Sayyidah Fathimah sangat dekat dengan sang ayah, melayani keperluan orang tua.
2. Sayyidah Fathimah merupakan anak perempuan pertama yang masuk Islam.
3. Sayyidah Fathimah selalu setia berada di sisi sang ayah, saat sang ayah dihina, dicaci maki, disakiti.
4. Sayyidah Fathimah merasakan penderitaan diboikot 3 tahun, saat bahan makanan pun tidak ada, dan hanya memakan dedauan.
5. Keluar dari boikot, Sayyidah Fathimah yang dalam kondisi lemah, kehilangan ibundanya.
6. Di perjalanan menuju Madinah, untuk menyusul sang ayah, Sayyidah Fathimah pun jatuh dari tunggangan, akibat ulah kejahatan kafir Quraisy yang mengejar.
7. Di Madinah, untungnya isteri ke dua sang ayah setelah Khadijah al Kubra, Ummuna "Saudah binti Zam`ah al-`Amiriyah" sangat sangat sayang & memperhatikan, dan kesehatan Sayyidah Fathimah mulai memulih.
8. Menikah dengan Sayyiduna Ali dalam perayaan pernikahan yang paling luar biasa masa itu, kaum muslim sangat bahagia dengan kebahagian Sayyiduna Rasulullah SAW.
9. Pernikahan beliau di usia 17 atau 18 tahun, di umur yang tergolong lambat menikah; karena sibuknya keluarga mulia itu dalam memikul beban dakwah & ketinggian derajat beliau, sehingga lelaki yang setaraf sangat sedikit.
Jangan sampai ada yang mengikuti musuh-musuh Islam yang mengatakan hal yang tidak senonoh (dianggap sebagai perempuan jelek & tidak laku).
10. Dan sangat pas dengan Sayyiduna Ali yang merupakan anak laki-laki pertama yang masuk Islam.
11. Pernikahan Sayyidah Fathimah & Sayyiduna Ali merupakan idzin & wahyu dari Allah SWT.
Sebelum Sayyiduna Ali, Sayyiduna Abu Bakr & Sayyiduna Umar meminang tapi ditolak karena tidak ada wahyu untuk itu, menunjukkan bahwa semua yang dilakukan & dikatakan Sayyiduna Rasulullah SAW adalah dari wahyu.
12. Kehidupan pernikahan dengan Sayyiduna Ali yang tidak berpunya banyak harta, kondisi yang lemah & mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa pembantu. Bahkan kadang sang suami ikut membantu ketika tidak sedang sibuk di luar atau dikirim ke luar Madinah untuk suatu tugas.
13. Suatu hari pergi dengan niat meminta budak untuk membantunya mmeberesi pekerjaan rumah pada sang ayah, tapi sesampai di hadapan sang Ayah ia malu mengutarakannya, lalu pulang ke rumah. Dan kembali lagi bersama suaminya Ali untuk memberanikan diri. Tapi permintaan itu ditolak sang Ayah, karena budak itu perlu dijual untuk membeayai anak-anak yatim dari syuhada Uhud. Rasulullah SAW memang membiayai hidup para anak-anak yatim. Beliau SAW memberi amalan untuk Sayyidah Fathimah & suaminya untuk dibaca sebelum tidur.
Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali.
Amalan yang dilaksanakan Sayyidah Fathimah & Sayyiduna Ali sepanjang hidup mereka, mujarrab membuat pengamalnya hilang rasa lelah setelah bangun tidur.
Amalan itu sangat bagus diterapkan oleh para pekerja keras.
Foto Fauzan Inzaghi.
14. Setelah pernikahan, kondisi Sayyidah Fathimah di Madinah terus menerus dalam keadaan lemah, dalam keadaan hamil atau periode menyusui. Tapi dalam semua itu, Sayyidah Fathimah tidak hanya duduk diam di rumah, ia ikut serta dalam berbagai peperangan sebagai tim kesehatan yang merawat luka atau memberi minum para pejuang di medan perang.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan terhormat & mulia tidak berarti hidup mewah, duduk-duduk di rumah dilayani para pembantu, tapi mereka keluar membantu & berpartisipasi dalam berbagai kepentingan sosial, agama & negara.
15. Sayyidah Fathimah "Ummu Abiha" yang merupakan ibu, isteri & anak bagi sang ayah sangat sedih dengan perpisahan, sakit terus menerus setelah Rasulullah wafat.
Kesabaran Sayyidah Fathimah dalam musibah ditinggalkan sang ayah SAW, sebelumnya ibundanya, seluruh kakak-kakaknya, semua masuk ke lembaran pahala Sayyidah Fathimah.. Berkat itu, Sayyidah Fathimah memperoleh kemuliaan yang lebih tinggi dari kakak-kakak beliau, bahkan dari ibundanya sendiri Khadijah al Kubra.
____
Beliaulah perempuan no 1 di seluruh semesta alam. Hidup sabar menghadapi berbagai cobaan, menunjukkkan bahwa kita di dunia ini untuk diuji, berbuat baik dalam semua kondisi yang kita hadapi & rasakan.
Perlunya kita merubah cara berfikir kita bahwa kemulian & keagungan seseorang di sisi Allah SWT bukanlah dilihat dari kenyamanan hidupnya di dunia.
Ayo mencintai ahli al-Bait yang kita diperintahkan Allah dalam al-Qur`an untuk berhubungan baik pada mereka.
Mereka lah juga yang sudah berjuang berat memikul derita dalam menyampaikan agama agung pada kita

Di hadits dha`if disebutkan: "Barang siapa yang di hatinya ada rasa cinta pada ahli al-bait; mati dalam keadaan syahid".
رضي الله عن فاطمة الزهراء وأرضاها، وصلى الله على أبيها سيدنا محمد أزكى صلاة وأنماها، اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله

_____
Sumber:
- Taraajim Sayyidaat Bait an-Nubuwwah.. karangan Binti asy-Syaathi.
- perayaan maulid Sayyidah Fathimah tahun kemaren bersama Syekh Yusri  hafizhahullaah di masjid al-Asyraaf, 23 Jumaadil akhir 1437 / 1 April 2016.
عِقد اللول في سيرة البتول تأليف الشيخ محمد بن حسن بن علوي الحداد.
https://archive.org/details/3iedullul
- Khutbah & prayaan maulid Sayyidah Fathimah bersama Syekh Yusri hafizhahullaah di masjid al-Asyraaf, 20 Jumaadil akhir 1439 / 9 Maret 2018
- Syekh Usamah Mansi al-Hasani hafizhahullaah dalam acara al-amnah.
- al-Habib Muhammad as-Saqqaf hafizhahullaah
Read More

Monday, February 26, 2018

QASHIDAH AS-SAYYID AHMAD AL-BADAWI RAHIMAHULLAH

February 26, 2018 0
Qashidah As-Sayyid Ahmad Al-Badawi
Hasil gambar untuk sayyid ahmad al badawi
Sya’ir As-Sayyid Ahmad Al-Badawi Radlhyallahu ‘Anhu ketika menziarahi Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam. (As-Sayyid Ahmad al-Badawi merupakan Quthub dari jalur keturunan Imam al-Husein Radhiyallahu ‘Anhu)
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
Yaa Allah limpahkanlah rahmat ta’dzim pada Nabi Muhammad Saw. Wahai Tuhanku limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan padanya.
إن قيل زرتم بما رجعتم ياأکرم الخلق ما نقول
In qîla zurtum bimâ raja’tum yâ akromal khalqi mâ naqûlu
(Ketika Sayyid Ahmad al-Badawi sampai di Raudhah, beliau duduk di hadapan makam Nabi Saw. dan berkata): “Ketika orang-orang bertanya pada kami: “Apa yang kamu bawa pulang setelah menziarahi makam Nabi Saw? Wahai hamba yang paling mulia dari semua umat manusia, apa yang akan kita jawab?”
قولوا رجعنا بکل خير واجتمع الفرع والأصول
Qûlû raja’nâ bikulli khairin Wajtama’al far’u wal ushûl
(Kemudian Sayyid Ahmad al-Badawi mendengar suara dari dalam ruangan makam Nabi Saw yang berkata): “Katakanlah: “Kami datang kembali dengan membawa segala kebaikan, Dan telah berhimpun dari generasi yang lalu dan yang sekarang.”
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
لولا ك يازينة الوجود ماطاب عيشی ولا وجودی
Laulâ ka yâ zînatal wujûdi Mâ thaba ‘aisyî wa lâ wujûdî
“Jika bukan karena Engkau wahai perhiasan dunia (Rasulullah Saw), Maka niscaya tidak akan berbahagia hidup dan keberadaanku.”
ولا ترنمت فی صلاتی ولا رکوعی ولا سجودی
Walâ tarannamtu fî shalâtî Walâ rukû’î walâ sujûdî
“Dan tidaklah aku beribadah hanya melalui shalatku, ruku’ ku maupun sujudku saja.”
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
أيا ليالی الرضا علينا عودي ليخضر منك عودي
Ayâ layâlîr-ridha ‘alainâ ‘Ûdî liyakhdlarra minka ‘ûdî
“Wahai malam (kelahiran Rasulullah Saw) yang penuh dengan keridhaan Ilahi.. Berulanglah lagi agar menjadi menghijau tentram jiwaku ini.”
عودي علينا بکل خير بالمصطفی طيب الجدود
‘Ûdî ‘alaynâ bikulli khairin bil Mushthafâ thayyibil judûdi
“Telah datanglah semua kebaikan, Dengan berkah al-Musthafa yang penuh kedermawanan.”
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
بالله صلنی فداك روحی ذبت من الهجر والصدود
Billâhi shilnî fidâka rûhî Dzubtu minal hajri washshudûdi
“Demi Allah, sampaikanlah pada penebus jiwaku (Rasulullah Saw) Aku akan bingung dan bersedih sekiranya tidak mendapatkan syafa’atmu.”
أنا الذی همت فی هواکم يوما أراکم يکون عيدي
Analladzî himtu fî hawâkum yaumân arakum yakûnu ‘îdî
“Daku hamba yang sangat mencintai Engkau.. Sungguh hari dimana aku dapat berjumpa denganmu adalah hari rayaku“
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
ثم الصلاة علی نبينا وأله الرکع السجود
Tsummash-shalâtu ‘alâ nabiyyinâ wa âlihir-rukka’is-sujûdi
“Kami akhiri dengan shalawat pada Nabi kami, dan keluarganya yang selalu ruku’ dan bersujud.”
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
اللهم صل علی محمد ؛ يا رب صل عليه وسلم
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad Yâ Rabbi shalli ‘alayhi wasallim
Video bisa dilihat disini atau bisa juga disini dengan versi irama berbeda. Dan juga versi Habib Syech.

Read More

Sunday, December 3, 2017

Kedudukan Ahlul Bait Nabi SAW Dalam Aqidah Islam Ahlussunnah wal Jama'ah

December 03, 2017 0
(foto kaligrafi ahlulbait dari wikipedia)

Tarbiyah.online – Siapakah ahulbait, dan apa pentingnya mencintai keluarga Nabi SAW beserta keturunannya? Bagaimana batasan cinta kepada mereka? Dimana titik perbedaan antara cinta dan fanatik buta yang tercela? Dan tidakkah itu menyamakan kita dengan syi’ah yang sesat?

Pertanyaan ini kiranya penting untuk diajukan kepada ulama-ulama besar yang masih hidup di zaman ini, yang keilmuan mereka diakui, baik dikarenakan kelurusan aqidahnya maupun keluasan ilmunya dengan sanad keilmuan yang berterusan hingga kepada imam-imam mazhab yang muktabar hingga kepada Nabi Muhammad SAW.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, ada baiknya kita mengintip satu diantara hadits yang disabdakan oleh Nabi SAW yang berisikan perintah untuk mencintai keluarga Nabi SAW dan ikut berpegang teguh kepada mereka.

“....Amma ba’d, Ingatlah, wahai sekalian manusia. Sesungguhnya aku adalah manusia yang hampir didatangi utusan Tuhanku lalu aku penuhi panggilannya. Aku meninggalkan kepada kalian dua perkara berat nan berharga. Pertama adalah Kitabullah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah dan berpegangteguhlah kepadanya. Lalu Nabi SAW melanjutkan, Dan Ahlul bait, keluarga ku. Aku mengingatkan kalian tentang Allah pada Ahlulbait ku. Aku mengingatkan kalian tentang Allah pada Ahlulbait ku.”
Hushain lalu bertanya,”siapakah ahlulbait beliau wahai Zaid? Apakah istri-istri beliau termasuk ahlul bait? Zaid menjawab,”Istri-istri beliau termasuk ahlulbait. Akan tetapi, ahlulbait yang dimaksud adalah orang-orang yang haram menerima zakat setelah beliau. “Dan siapakah mereka? “keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil dan keluarga ‘Abbas.
“Mereka semua haram diberi zakat?”
“Ya” (H.R. Ahmad dan Muslim)

Sedangkan Sabda Nabi SAW yang lainnya, “Wahai manusia, Sesungguhnya aku meninggalkan kepad kalian sesuatu yang jika kalian ambil maka tidak akan sesat, yakni Kitabullah dan sanak keluargaku, Ahlulbait.” (H.R. Ahmad dan Turmidzi).

Maka dari itu kita sepatutnya mencintai ahlulbait Nabi SAW. Melihat turunannya, dari mencintai Allah maka kita mencintai Nabi SAW sebagai pemangku segala kebaikan dan rahmat bagi seluruh alam dari Allah SWT. Kemudian, dari mencintai Rasul SAW maka kita mencintai ahlulbaitnya dimana beliau telah berwasiat tentangnya, mereka juga memiliki ketamaan yang mulia dan kebaikan yang bertambah. Maka mencintai ahlulbait mesti lahir dari lubuk hati seorang Muslim sebagai wujud cintanya kepada Nabi SAW.

Baca juga kemuliaan nasab beliau

Fanatisme

"Dalam cinta, kata fanatisme tidak didapati." Kata-kata tersebut sering diucapkan oleh Syeikh Buthi rahimahullah. Seorang ulama Suriah. Namun fanatisme terdapat pada perihal keyakinan, aqidah. Maka ketika aqidahnya benar, tidak akan salah cintanya kepada Rasul SAW dan ahlulbaitnya. Kita yang beraqidah bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Seluruh para Nabi dan Rasul-Rasul berstatus ma’shum, yaitu terlepas daripada segala dosa. Sedangkan selain mereka mempunyai kemungkinan melakukan perbuatan dosa, hatta ahlulbaitnya, namun mereka punya kemungkinan hanya berstatus mahfuzh, sebagaimana yang didapati orang-orang shalih, yaitu penjagaan dari Allah SWT terhadap mereka. Secara syari’ah mereka bisa saja melakukan pekerjaan dosa, namun mereka mendapat penjagaan dari Allah SWT.

Nah, selama aqidah seorang muslim masih lurus dalam hal ini, maka seyogyanya ia juga akan mencintai Nabi beserta ahlulbait dengan sepenuh jiwa. Dan, ketika cinta kepada ahlulbait telah merekah, itu menunjukkan derajatnya telah semakin mendekati derajat shalih. Sebab wujud cinta kepada ahlulbait adalah wujud kesempurnaan cinta kepada Rasul, dan wujud cinta kepada Rasul adalah wujud cinta kepada Allah. Tentu saja saipa yang mencintai Allah, akan diangkat derajatnya kepada derajat orang-orang shalih.

Zaman ini mudah mengenal keturunan-keturunan ahlulbait terutama yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Karena kebanyakan dari mereka digelari Habib. Dan diantara mereka banyak yang menjadi Ulama besar dan Awliyaillah yang taqwa dan shalih. Namun demikian, tidak sedikit keturunan Rasul SAW yang tidak digelari Habib seperti kebanyakan di Mesir. Padahal ulama-ulama besar di Mesir seperti Syeikh Ahmad Thayib yang merupakan Syeikhul Azhar saat ini dan Syeikh Ali Jum'ah yang mpernah menjabat sebagai ufti Mesir juga merupakan salah satu dari ahlulbaitnya Rasul SAW. Jika di Saudi, gelaran untuk para keturunan ahlulbait adalah Sayyid, seperti Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki Al Makki yang masyhur, dan memiliki ribuan murid dari tanah air Indonesia.

Banyak kitab-kitab yang menceritakan tentang keagungan keturunan ahlulbaitnya Rasul SAW. Ada kitab yang disusun oleh Al Imam Jalaluddin As Suyuthi berjudul Ihya’ul Mayyit fii Fadhilati Ahlul Bayt yang berisikan 60 Hadits keutamaan AhlulBayt. Kebetulan saya mendapatkan versi terjemahannya -pdf-, namun ketika saya membacanya, ada sedikit berbau kesyi’ahan. Bukan hendak mendiskreditkan Imam Suyuthi, hanya saja, dari kitab terjemahan yang saya dapatkan secara bebas di internet, saya tidak berani menjadikannya referensi utama. Karena memahami isi kitab tidak sembarang dengan cara autodidak, tanpa guru pembimbing dan/ atau juga tanpa pembanding.



Disadur dari beberapa referensi, terutama Al Bayan, karya Syeikh Ali Jum'ah.
Read More

Friday, November 24, 2017

Benarkah Nur Muhammad SAW Adalah Ciptaan Pertama Sebelum Alam Raya Ini?

November 24, 2017 0

Tarbiyah.onlineDalam berbagai kesempatan, kita sering menemukan entah itu bacaan atau mendengar kajian atau juga ceramah, dimana ada satu ungkapan yang disebut-sebut sebagai Hadits. yaitu mengenai apa yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWt. dan kaitaannya dengan Nur Nabi SAW. Sebagai mana pertanyaan berikut:

“Hal pertama yang diciptakan Allah adalah Nur Nabimu, wahai Jabir.” Apakah hadits ini shahih? Dan apakah makna dari hadits tersebut selaras atau bahkan bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah yang wajib bagi Nabi?

Pertanyaan diatas pernah juga ditanyakan kepada Syaikh Ali Jum’ah, seorang ulama besar dari Al-Azhar Mesir, yang pernah menjabat sebagai mufti negara.


Dalam kitab Al Bayan li maa Yasghal al Adzhaan yang berisikan 100 persoalan yang yang paling sering ditanyakan, Syaikh Ali Jum’ah di masa beliau menjadi mufti Mesir menjawab dengan sangat baik, gamblang dan mencerahkan sebagaimana biasanya.

Berikut kutipannya:

“Para pakar hadits menghukumi hadits tersebut mungkar dan bahkan memvonis palsu. Syeikh Al-‘Allamah Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari berkata,”Mereka yang menisbatkan periwayatan hadits tersebut kepada Abdurrazaq telah keliru karena hadits tadi tidak ditemukan dalam kitab Al Musannaf, Al Jami’ dan Tafsirnya. Al-Hafizh as-Suyuthi, dalam kitab tafsir Al-Hawi fil Fatawi juz 1 halaman 32 berkata,”Hadits tersebut tidak mempunyai sanad yang otoritatif.” Hadits tersebut secara pasti PALSU.

Kesimpulannya, hadits tadi adalah mungkar dan palsu serta tidak ditemukan subernya dalam kitab-kitab hadits”. (Abdullah bin Shiddiq al Ghumari, Mursyid al Hair li Bayan Wadl’ Hadits Jabir, hal.2).

Mayoritas ahli hadits menghukumi hadit diatas palsu seperti Al Hafizh as-Shaghani. Dan pendapat ini tidak ditentang oleh Al-Hafizh Al-‘Ajluni. Demikian untuk status dari hadits Jabir.

Namun demikian, makna hadits tersebut mungkin benar apabila yang dikehendakinya adalah permulaan dari cahaya dan permulaan secara mutlak. Hal ini benar dari Qalam dan ‘Arasy dengan khilaf yang masyhur.

Al-‘Ajluni mengatakan, ”Menurut pendapat lemah bahwa permulaan segala materi sesuai dengan jenis materi tersebut. Semisal, Allah menciptakan pertama kali segala cahaya dari materi cahaya juga, dan begitu juga seterusnya.

Dalam kitab Ahkam ibn al-Qaththan sebagaimana diriwayatkan Ibnu Marzuq dari Ali bin Husein dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku dulu adalah cahaya di sisi Tuhanku selama empat ribu tahun, yakni sebelum Adam diciptakan.” Demikian ibarat kitab al Mawahib. (al-‘Ajluni, Kasyaf al-Khafa, juz 1 halaman 311-312).

Imam Al’Allamah Ad-Dardir (Al Maliki) tidak menentang makna ungkapan tersebut. Belliau berkata,” Cahaya rasulullah SAW adalah sumber semua cahaya dan materi sebagaimana sabda beliau kepada Jabir, ”Materi pertama yang diciptakan Allah adalah cahaya Nabimu dari Cahaya-Nya...al Hadits.” Beliau adalah mediator seluruh makhluk.” (Ad-Dardir, asy-Syarah as-Shaghir; Hasyiah as-Shawi, juz 4 halaman 778-779).

Sesungguhnya alam-alam yang diciptakan Allah ada banyak. Ada alam Mulk yaitu alam yang kita lihat. Ada alam Malakut yaitu alam ghaib. Ada alam Ruh, alam Jin dan alam Malaikat. Di semua alam tersebut terdapat cahaya-cahaya yang diciptaka Allah SWT. Tidak bisa ditolak kemungkinan bahwa Rasulullah SAW adalah awal cahaya yang diciptakan Allah dan cahaya-cahaya tersebut memenuhi sifat manusia pada alam ruh.


Kesimpulannya, hadits tersebut palsu dan tidak benar dinisbatkan kepada Rasul SAW. Akan tetapi maknanya mungkin benar seperti penjelasan diatas. Wallahu a’lam.

Demikian jawaban dari Syeikh Ali Jum'ah dalam kitabnya tersebut yang memuat 100 pertanyaan yang paling sering diajukan. Dengan lugas, beliau menjawab dengan nukilan dari berbagai referensi yang terpercaya, yaitu kitab-kitab ulama besar terdahulu. Dan sangat proporsional, dimana ha1 dikatakan haq, sedangkan bathil, tanpa ragu beliau katakan bathil.

Wallahu a'lam
Read More

Thursday, November 23, 2017

Selamat Berbahagia! Telah Datang Bulan Penuh Berkah

November 23, 2017 0

Tarbiyah.online | Hari-hari yang sedang kita lalui sekarang adalah awal bulan Rabiul Anwar (Bulan berseminya cahaya) yang menampakkan cahaya Nabi Muhammad Saw. terhadap semesta.
Kaum muslimin menamakannya dengan Rabiul Anwar Karena disana berkilauan cahaya Nabi Muhammad Saw, anugerah dan pemberian terindah dari Tuhan. Dengannya Allah menutup Risalah kenabian dan wahyu terkahir untuk semesta.
Dia diutus sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan akan berbagai macam siksa. Dia telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati umat serta berjuang dijalan Allah SWT hingga akhir hayatnya dan Allah meridhainya.
Ini adalah bulan mulia yang ketika kita memasukinya, kita telah memasuki cahaya, kebahagiaan, kegembiraan dan Suka cita bagi setiap muslim.
Maka jika kita tidak bergembira dengan adanya Rasulullah Saw. Lalu kita akan bergembira dengan siapa?

Sudah datang!
Bulan Rabiul Anwar, bulan penuh berkah yang bermula darinya cahaya kenabian yang memancar hingga ke seluruh alam semesta. Ini adalah bulan Rabiul Awal yang Allah SWT. muliakan dengan diutusnya seorang Nabi pilihan , seorang Nabi tercinta Saw. Dan hendaknya kita merayakan kelahiran Nabi Saw. dengan ucapan dan perbuatan, dengan suka cita, khidmat, perasaan dan jiwa. Kita harus merangsang diri kita dengan kedatangan Nabi kepada alam semesta dengan pengertian ini. Sehingga menjadikan kita menyampaikan dari padanya walau satu ayat, sebagaimana kita diperintah, "Sampaikan daripadaku walau satu ayat".

Pengertian ini yang menjadikan kita bergembira dengan peraturan yang telah ditentukan kepada kita, menjalankan perintah-perintah yang telah diperintahkan kepada kita, menegah dari sesuatu yang telah dilarang oleh Rasulullah Saw. kepada kita, sebagaimana kegembiraan kita ketika menyambut kedatangannya.

Jadikanlah Bulan ini sebagai langkah awal kebaikan dalam hidupmu, wahai saudara ku. Firman-Nya, "Dan Lakukan kebaikan agar kamu beruntung". Hiduplah di bulan cahaya dengan cahaya yang telah di utus Allah untuk alam semesta.

Bulan Râbi' al-Anwâr (bulan berseminya cahaya) tengah meneduhi kita, dialah awal musim semi, sebutan "al-Anwâr" yang tersemat padanya lantaran pada bulan itu lahirlah Nabi pilihan dan baginda tersayang SAW.

Binar cahayanya terpancar terang di bulan agung ini, menyinari setiap yang di barat sampai sudut timur dunia, bahkan seluruh semesta, cahanya tidak akan redup hingga kiamat..

" ولد الهدى فالكائنات ضياء # وفم الزمان تبسم وثناء "
Sang hidayah telah lahir lalu semestapun berbinar # sementara bibir zaman tersenyum dan memujinya

Maka di bulan mulya ini sepatutnya kita menjadikan Râbi'al-Anwâr bulan meneladani Rasulullah SAW, menjadikannya pelita bagi kita, dan menapaki jejaknya serta merenungi risalah (Al-Qur'an) yang beliau bawa untuk kita.
Sholawat dan salam Allah serta aliran berkah untuk Sayyidinâ (baginda kami) Muhammad beserta keluarganya bak hembusan angin semilir yang menerpa semak belukar di musim panas.

Maulana Fadhilatus-Syaikh Ali Jum'ah Hafizhahullah,
diterjemahkan oleh Admin FansPage Ahbab maulana Syaikh Ali Jum'ah
Read More

Sunday, November 19, 2017

Seri Sirah Nabawiyah | Perang Pertama yang Diikuti oleh Nabi SAW Bukanlah Perang Badar, Lalu?

November 19, 2017 0

Tarbiyah.online | Kebanyakan kaum muslimin mengira perang yang pertama kali dilakukan dan diikuti oleh Nabi SAW adalah perang Badar. Ternyata selama ini kita salah besar. Perang Badar, bukanlah perang pertama Muhammad, melainkan perang pertama Nabi SAW bersama kaum muslimin memerangi kekufuran kaum kafir Quraiys. Di kesempatan lain kita akan menuliskan khusus bagaimana cerita perang badar, dan perang lainnya yang dikomandoi langung oleh Nabi SAW bersama kaum Muslimin. Insyaa Allah.

Jadi apa perang pertama yang diikuti oleh Nabi SAW..?
Perang yang pertama kali diikuti oleh Nabi SAW dikenal dengan nama Perang Fijar. Perang mempertahankaan Ka'bah Baitullah dan kota Mekkah yang dilakukan bersama-sama oleh bangsa Quraiys. Dikomandoi oleh paman-paman Nabi SAW yang senior.

Saat itu, usia Nabi SAW masih relatif muda. Beberapa mengatakan usianya masih belasan, 14 atau 15 tahun. Ia bersama pamannya yang sebaya dengannya, Hamzah ikut serta dalam perang secara aktif. Ikut mengumpulkan busur-busur panah dan berada di garda depan, dalam pasukan membantu paman-pamannya dari bani Hasyim yang bertanggung jawab menjaga Mekkah. Musuhnya adalah kaum komplotan yang dipimpin oleh Qais Ailan.

Perang ini berlangsung empat kali dalam rentang waktu empat tahun. Penduduk Mekkah semuanya panik dan merasa terancam.

Kedekatan Muhammad Dengan Seluruh Pamannya

Sebelum kenabian, Muhammad memang dekat dengan seluruh paman-pamannya. Hamzah adalah teman sepersusuannya, sedangkan Abbas berumur sedikit lebih tua dari Muhammad SAW. Tidak mengherankan jika ada keponakan yang sebaya dengan sang paman.

Hamzah adalah anak dari saudari ibu Nabi SAW, Aminah. Ketika Abdul Mutthalib hendak meminang Aminah untuk putranya (Ayah Nabi SAW), Abdul Mutthalib juga ikut meminang saudari Aminah untuk menjadi istrinya sendiri. Maka dari itu, kelahiran sang paman Hamzah -yang dikenal sebagai Singa Allah dan Rasul-Nya di kemudian hari- dan Muhammad SAW berdekatan.

lalu bagaimana dengan Abu Lahab yang menjadi musuh Nabi SAW di masa kerasulan? Abu Lahab termasuk paman yang sangat mencintai Muhammad. Buktinya, dimalam kelahiran Nabi SAW, Tsuwaibah berlarian ke arah majikannya, Abu Lahab untuk memberitakan kelahiran Muhammad. Saking senangnya Abu Lahab, ia memerdekakan Tsuwaibah selaku budaknya di saat itu juga.

Riwayat tentang ini terdapat dalam Shahih Muslim. Bahkan dalam riwayat lain diterangkan, Abu Lahab yang notabene musuh Islam mendapatkan keringanan azab dalam kuburnya setiap malam senin, dengan sebab kegembiraannya menyambut Bayi Mulia Muhammad SAW. Meskipun status riwayat ini masih dipertentangkan tingkat kedha'ifannya.

Semua paman-paman Muhammad memang sangat menyayangi beliau SAW. Hal ini bisa dilihat kembali di tulisan kami saat Muhammad kecil diasuh oleh sang Kakek Abdul Muththalib. Pesan dari sang kakek, mejadi hal utama, ditambah lagi kondisi Muhammad kecil yang ditinggal oleh dua orangtuanya, dimana mereka datang menyambut penuh haru dan iba Muhammad yang kembali dari Madinah saat itu.

Dan, cahaya kenabian pada karakternya yang super baik, sangat dipercaya dan dihormati oleh setiap manusia bahkan seluruh makhluk di dunia ini ikut mengambil peran dalam membangun rasa cinta anak-anak Abdul Muththalib kepada Muhammad SAW.

Sejauh ini, kisah yang tertuliskan masih berkutat pada suasana dan kondisi Nabi Muhammad SAW ketika muda dan sebelum menikah.

Insyaa Allah, setelah ini, kita akan langsung memasuki pada kisah cinta Muhammad dan Khadijah yang penuh dengan kemuliaan dan keteladaan.
Read More

Thursday, November 16, 2017

Seri Sirah Nabawiyah | Awal Mula Muhammad SAW Mengenal Dagang dan Bertemu Saiyidah Khadijah

November 16, 2017 0

Tarbiyah.online – Hari demi hari berlalu, pengetahuan dan pengalaman Muhammad semakin matang dan mahir. Ia menjalankan bisnis perdagangan level domestik di pasar-pasar terdekat di kota Mekkah dan sekitarnya. Seperti pasar Hubasyah di dekat Mekkah, pusat lalu lintas meuju Yaman. Bila pekan dagang telah dibuka di bulan Rajab, Muhammad tak pernah menyia-nyiakan peluang tersebut. Ia terjun kesana untuk membeli dan menjual barang dagangan. Biasanya ia ke pasar tidak sendirian, tetapi mengajak teman sehingga bisa saling membantu dan mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam perjalanan.

Kadang Muhammad bekerja pada orang-orang kaya, konglomerat Mekkah, sepert yang pernah dilakukannya pada Khadijah binti Khuwailid.

Tiba di Mekkah dari Hubasyah, ia dan temannya tak lagsung pulang ke rumah, tetapi duluan menghadap kepada bos untuk memaparkan hasil dagang mereka, berapa laba yang diraup. Khadijah memuji Muhammad. Ia bersikap hormat dan ramah kepada Muhammad, bahkan melebihi sikap seorang majikan kepada pembantunya. Bahkan Muhammad melukiskan kebaikan Khadijah begini, “Belum pernah kudapati seorang majikan yang sebaik Khadijah. Setiap aku dan temanku pulang, ia secara semunyi-sembunyi memberi kami makan.”

Abu Thalib tetap masih sangat perhatian kepada Muhammad. Melihat kematangan yang telah diraih Muhammad dan usianya yang semakin matang, sang paman mulai berpikir untuk mengajak Muhammad berdagang secara mandiri, dan mengajaknya ikut serta dalam perjalanan dagang ke Syam. Disaat hari-hari menjelang kafilah dagang Mekkah berangkat ke Syam, Abu Thalib pun bertutur kepada Muhammad sang keponakan tersayang, “Sudah saatnya engkau duhai Muhammad, berdagang secara mandiri. Kau bisa ikut serta dalam kafilah dagang ke Syam. Bukankah usia mu telah sampai dua puluh lebih? Apalagi keadaan saat ini sangat sulit. Sudah berapa tahun kita dicekik paceklik.”

Muhammad terdiam. Setelah berpikir, ia berkata, “Tetapi paman, dari mana harta yang bisa kubawa dan kuperdagangkan dalam ekspedisi musim panas ini.?”

Abu Thalib melemparkan pandangannya ke arah kawanan, dan berkata “Lihatlah pemuda-pemuda Qurays itu! Mereka bekerja pada orang lain denga cara bagi hasil. Kenapa kau tidak ikut bekerja seperti mereka?”.


Hati dan pikiran Muhammad pun terbuka. Ia merasa tertarik dengan usul pamannya. Lalu kembali terdiam dan berpikir, bagaimana caranya membangun relasi dengan para pemilik dagang? Apakah mereka mau menerima dirinya? Belum lagi penduduk Mekkah adalah pedagang tulen, mana mau mereka menyerahkan bisnisnya kepada orang lain, pasti mereka akan menjalankannya sendiri atau menyerahkannya kepada anak-anak mereka. Dalam kekalutan pikirannya, ia bertanya kepada paman, “Siapa yang rela menyerahkan barang dagangannya ku bawa ke tempa yang sangat jauh.?”

Dengan lugas pamannya menjawab,”Khadijah bint Khuwailid! Banyak laki-laki dari kaum mu bekerja padanya. Mereka untung. Aku yakin, kalau kamu kesana, dia pasti akan memilih mu daripada yang lain. Bukankah dia sudah mengenal mu saat kamu bersama teman mu menjalankan bisnisnya di Hubasyah beberapa waktu lalu?”.

Pendapat sang paman banyak benarnya dan sunggug memikat, tapi masalahnya adalah Muhammad tak berai menawarkan diri, ia takut ditolak dengan cara yang tidak layak. Lagi pun, terlalu agung dirinya untuk hal semacam ini. “Mudah-mudahan Khadijah menyuruh orang kesini.” Muhammad berkata kepada pamannya. Tapi jawaban ini tidak memuaskan hati sang paman. Ia berpikir, bagaimana mungkin Khadijah akan ingat kepada Muhammad, sedangkan ia dikelilingi oleh banyak sekali pemuda yang menawarkan diri untuk pekerjaan serupa. Abu Thalib pun berkata, “kamu lah yang harus kesana. Dan itu tidak sulit.”
Keesokan paginya, datang seorang utusan dari Khadijah secara tiba-tiba. Ia meminta Muhammad mendatangi Khadijah, jika bersedia. Dimintanya juga agar Muhammad yang mengurusi bisnis Khadijah untuk diberangkatkan ke Syam bersama kafilah dagang.
Mungkin, Khadijah yang tengah duduk bersama beberapa wanita di tempatnya, dan ada yang datang membisikkan tentang pembicaraan Muhammad bersama Abu Thalib. Bisa jadi juga, fathimah binti Asad yang menyampaikan kepada beberapa kenalan Khadijah, dan mereka meneruskan hingga ke Khadijah. Satu hal yang pasti, Khadijah merasa sangat senang dengan berita yang diterimanya. Ia sangat bangga, jika dagangannya akan diurus oleh seorang laki-laki berjuluk Al Amin. Sebagaiman Khadijah merasa senang melihat laku dan perangai Muhammad yang agung. Ia pun menghapus nama-nama pemuda lain dari benaknya untuk urusan ini. Harapannya fokus kepada Muhammad, hingga ia putuskan untuk mengirimkan utusan untuk meminta Muhammad bersedia mengurusi pekerjaan ini.

Muhammad sangat senang dan menerima dengan bijak. Sebuah impiannya dan juga impian pamannya terpenuhi berkat pertolongan Allah.


Hanyasanya, sontak wajah Abu Thalib berubah menjadi murung. Sesuatu melintas dalam benaknya. Fahimah binti Asad sang istri menangkap dengan cepat perubahan gelagat sang suami. Ia bertanya, “Ada apa duhai suami ku, kenapa tiba-tiba wajah mu berubah lesu dan tampak gelisah sekali?”

Dengan nada sedih, lelaki tua itu menjawab, “Muhammad sebentar lagi akan bertolak ke Syam, negeri yang jauh dari Mekkah.”
“Lho,bukankah kau sendiri yang meminta dan membujuknya untuk pergi? Ada apa?”. Tanya Fathimah keheranan.

“Aku khawatir jika akan terjadi sesuatu padanya.” Abu Thalib menjawab singkat.
“Sudahlah, yang kamu khawatirkan itu, seorang pemuda yang telah berusia lebih dua puluh tahun.” Jawab Fathimah.

Lalu Abu Thalib diam dengan waktu yang cukup lama. Wajahnya keruh terpahat gelisah. Istirnya pun ikut serta cemas. Ia menunggu jawaban dari suaminya, namun tak juga keluar dari mulutnya. Ia mencoba membacahati dan pikiran sang suami melalui dua mata yang telah menua, hingga Abu Thalib berkata dalam nada tanyaa,” Masih ingatkah engkau Fathimah, apa yang dulu pernah kuceritakan pada mu saat usia Muhammad masih belasan tahun? Kau ingat apa yang dikatakan oleh Rahib itu tentang keponakan ku ini.?”

Sontak kedua mata wanita ini membeku, hatinya semakin kelu. Nafasnya terisak dan suaranya terbata, ia menjawab,”Aku masih ingat, bahkan aku hafal denga kata-katanya. Ia menyuruh mu hati-hati untuk menjaga Muhammad dari orang-orang Yahudi. Bukankah demikian?”.
“Ya, itulah yang aku cemaskan. Aku takut, jika apa yang diramalkan rahib itu menjadi kenyataan.”

Fathimah pun duduk terdiam, ia membisu. Karena merasakan kegelisahan luar biasa. Bahkan dalam hatinya ia berharap, kalau Khadijah akan menarik kembali rencanaya itu, atau berharap Muhammad membatalkan, bahkan ia berpikir jika Abu Thalib saja yang akan menahan Muhammad untuk berangkat. Semua yang ada dipikirannya adalah cara supaya Muhammad tetap tinggal di Mekkah dalam keadaan aman dan tenang.

Sementara itu Khadijah telah membulatkan tekad untuk menyerahkan hartanya pada Muhammad untuk diperdagangkan. Muhammad pun menjanjikan laba yang berlipat, melebihi pedagang lainnya. Muhammad pun diberikan kepercayaan oleh Khadijah dengan membawa bersamanya seorang teman yang bisa membantunya. Orang kepercayaannya, Maisarah. Ia berpesan kepada Maisarah untuk patuh kepada Muhammad dan mengurusi segala keperluannya. Muhammad pun berterimakasih atas kebaikan Khadijah yang luar biasa –ini pula yang menjadi pintu pembuka lembaran hidup baru di masa depan-.

Begitu kafilah berangkat meninggalkan Mekkah, Abu Thalib semakin bersedih. Hari demi hari berasa duri yang menyakitkan, ia dirundung rasa gelisah dan sedih seara terus menerus. Demikian juga dengan Fathimah istrinya, meskipun ia mencoba menghibur sang suami dengan rasa optimis, bahwa Muhammad akan baik-baik saja, ia akan dilindungi oleh Yang MahaKuasa, padahal pikirannya kacau, nuraninya teriris pilu. Hingga sampailah hari bahagia, hari ketika kafilah datang kembali tanpa ada yang kurang.

Orang-rang berkumpul di dekat Ka’bah, Rumah Suci Allah menyambut kedatangan kembali putra-putranya, suami dan kerabatnya yang kembali dengan selamat dan dagangan yang berlimpah. Semua merasa bahagia, terlebih Abu Thalib bersama istrinya. Wajahnya berseri-seri melebihi keceriaan wajah yang lain. Bahagia yang dirasa Abu Thalib berlapis, keselamatan Muhammad, dan juga pembuktian keponakan kesayangannya telah mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang ditekuninya dengan tetap hingga hari setelah itu.

Muhammad langsung menuju majikannya. Ia menyerahkan laba yang melimpah dari hasil dagangan barang-barang yang ia bawa ke Syam. Ia juga membawa pulang barang belian dari Syam untuk dijual di Mekkah dengan laba yang berlipat.

Khadijah pun merasa sangat puas dan semakin terkagum pada Muhammad atas pencapaiannya. Ditambah lagi cerita khusus dari Maisarah tentang Muhammad selama perjalanan dan perdagangan selama di Syam. Bagaimana kejujurannya, gaya menjual dan membeli barang, interaksinya dengan pembeli atau orang sekitar, tidak perah terlibat pertengkaran. Juga menceritakan kemuliaan akhlak dan kebiasaan Muhammad ketika makan, minum dan tidur.

Bahkan lebih dari itu, Maisarah pun ikut menceritakan bagaimana hal yang aneh bin ajaib terjadi, dimana awan senantiasa meneduhi Muhammad dengan berarak di langit sepanjang perjalanan dalam teriknya matahari. Tentang rahib di Basrah yang saat melihat Muhammad tidur sejenak di bawah pokok kayu di dekat pertapaanya, berkata,”Orang yang berada di bawah pohon itu tak lain adalah Nabi.”

Semua diceritakan oleh Maisarah kepada Khadijah. Bak seorang informan, atau intelijen, begitulah Maisarah bertugas. Ia membantu Muhammad sepanjang ekspedisi, dan juga memantau Muhammad dengan segenap jiwanya, lalu dilaporkan kepada sang majikannya, Khadijah. Alhamdulillah, setiap detail laporannya adalah positif, bahkan besar nilai plus nya.
Read More

Wednesday, November 15, 2017

Seri Sirah Nabawiyah | Perjalanan Dagang Ke Syam Pertama Yang Menggelisahkan Hati

November 15, 2017 0

Tarbiyah.onlineKedekatan Muhammad kecil dengan pamannya Abu Thalib, sangatlah erat sekali. Dia tidak ingin berpisah meskipun hanya sehari saja. Mungkin ini adalah insting yang  muncul secara naluriah karena ia tidak ingin kehilangan orang yang dekat dengannya dan penuh kasih dan sayang dalam mencintainya, sebagaimana ibunda Aminah dan sang kakek Abdul Mutthalib. Ia pun begitu mencintai Abu Thalib beserta istrinya. Tetapi Muhammad yang masih belia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Muhammad masih kecil, ekspresi cinta kepada mereka jelas hanya bersifat rasa dan ketergantungan.

Sampai-sampai ketika hari dimana kafilah dagang Arab telah menentukan hari untuk berangkat berdagang ke Syam –sudah menjadi adat bangsa Arab melakukan ekspedisi dagang ke Syam dari aman-, bagi penduduk Mekkah hal ini sudah mendarah daging. Muhammad kecil meminta untuk ikut ke Syam, ia tidak sanggup jika tidak melihat keberadaan pamannya walau sesaat.

Sang paman menampik keinginan si kecil. Menurutnya, Muhammad kecil masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang wanita dan sosok ibu, belum waktunya bagi si kecil untuk ikut ekspedisi dagang ini. Apalagi, Abu Thalib khawatir jika ia bisa menjadi lalai dengan barang dagangannya, hingga pengawasannya terhadap Muhammad akan berkurang dan terpecah. Bagaimana jika ia kelelahan, dan tak tak sanggup mengimbangi perjalanan kafilah.

Semua kekhawatiran itu memenuhi benak sang paman, demikian juga dengan bibi-bibinya. Namun Muhammad bergeming, ia merasa kekhawatiran yang berlebihan itu tidaklah patut. Ia merasa tidak puas dengan keputusan paman yang demikian. Sang paman pun bingung, karena keponakannya ini, tidak bisa dipisahkan dengannya. Tapi tetap saja mereka tak bisa bersikap keras.

Wajah Muhammad kecil yang dipenuhi dengan nur, memancar dan meluluhkan hati mereka semua. Ditambah rasa iba sang paman ketika mengingat masa lalu sang keponakan kesayangannya ini yang nihil akan kasih sayang sang ayah dan miskin waktunya bersama ibu. Ia pun berat hati untuk meninggalkan Muhammad.

Abu Thalib berkata kepada istrinya Fathimah,”Kemaskan barangnya, Aku akan membawanya ikut dan menjaganya.” Fathimah terkejut dengan keptusuan suaminya, dan merasa berat hati, namun ia tak ingin membantah sang suami. Dengan penuh keraguan dan rasa iba, ia kemasi barang dan bekal untuk Muhammad, dan menggantungkan nasib Muhammad kecil serta suaminya kepada Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia agar dijaga keselmatan mereka.


Kafilah pun berangkat menuju Syam, melewati Madinah -Yastrib saat itu-, Khaibar, Tima’, dan Tabuk. Sebuah perjalanan yang amat panjang, dengan sedikit istirahat sebelum mereka mencapai Bushra, salah satu ibu kota negeri itu. Untuk pertama kalinya, Muhammad menyaksikan bangunan-bangunan megah, orang-orang asing, para budak yang diperjual belikan dan budak yang bersama tuannya, juga orang merdeka lainnya. Kaum konglomerat dan kaum fakir, semua berbaur di pasar itu. Muhammad dititipkan sebentar di sebuah kuil tua nan besar bersama beberapa pembantu yang sedang beristirahat disana. Abu Thalib berpesan pada mereka  untuk menjaga Muhammad dengan sangat baik.

Sesaat kemudian, Abu Thalib kembali dan menggandeng tangan Muhammad, mengajaknya jalan-jalan, hingga ke sebuah rumah besar dan bertingkat. Mereka pun naik ke lantai atas dan melihat-lihat ke sekitar. Tiba-tiba seorang tua yang berpakaian hitam dan kasar, datang. Ia memegang tangan Muhammad kecil yang belum matang usia remajanya, dan memeriksanya. Ia tercenung beberapa saat, kemudian meneliti setiap garis dan guratan wajah si anak belia ini. Lalu dengan cepat, pria tua itu menyingkap pundak Muhammad dan kemudian lututnya, seolah ia sedang mencari dan memeriksa sesuatu yang ada pada tubuh badan Muhammad kecil.

Barulah kemudian ia berbicara dengan sangat serius dan -fokus seolah hanya mereka saja yang ada disana-, dalam keramaian orang-orang di dekat pasar. Gelombang pertanyaan pun menghantam Muhammad dan sang paman satu demi satu, mereka menjawabnya dengan cermat. Tetapi, ketika pria tua ini meminta Muhammad untuk bersumpah atas nama Lata dan Uzza, Muhammad berpaling dan menghindar,” Jangan sekali-kali engkau menanyakan tentang keduanya. Sungguh demi Allah aku sangat membenci keduanya melebihi apa pun yang ada.” Berkata sambil melemparkan wajahnya ke arah lain.

Lalu pria tua tersebut bertanya, ”Siapa ayah dari anak ini?”, Muhammad terpana.
“Akulah ayahnya,” jawab Abu Thalib dengan tegas. Pria itu pun menatap lekat wajah dan memerhatikan tubuh Abu Thalib, lalu bergumam tak percaya, “Bukan, tidak mungkin ayah dari anak ini masih hidup.”
Abu Thalib pun terdiam, tak bisa mengelak, dengan sedikit terbata ia pun mengaku, “Maksudku, aku adalah pengganti ayahnya. Aku adalah paman yang mengasuhnya. Sejak lama ia telah ditinggalkan mati oleh ayahnya.”

Pria tua itu, yang kemudian dikenal dengan panggilan Rahib Buhaira itu terdiam untuk beberapa waktu. Lalu ia mengangkat wajahnya dan berkata sedikit berbisik dengan penuh kehati-hatian kepada Abu Thalib, “Tuan, jagalah keponakan mu ini enggan sungghuh-sungguh. Berhati-hatilah terhadap orang Yahudi. Jika mereka sampai mengetahui hal ini, pasti, tanpa segan mereka akan berlaku jahat kepadanya, hingga membunuhnya.”

Perubahan sikap terjadi pada keduanya, cara masuk mereka dengan girang dan penuh tawa tadi, kini saat keluar berganti dengan rasa cemas yang tak menentu, terutama pada sang Paman, akibat perkataan Rahib Buhaira. Dadanya bergemuruh, ia gelisah. Muhammad kecil juga mungkin bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ”Siapa itu Yahudi, yang hendak mencelakainya.?” Karena sejauh ini kehidupan yang dikenal Muhammad kecil hanyalah Mekkah.

Dalam perjalanan pulang mereka, penjagaan Abu Thalib benar-benar sangat ekstra. Sebelum mereka menyentuh tanah Mekkah dan melihat rumahnya, hati Abu Thalib dipenuhi rasa was-was, ia tak bisa tidur, matanya bergerilya kiri kanan, depan-belakang untuk mengantisipasi segala potensi kejahatan yang bisa jadi akan menimpa keponakan tersayangnya.

Sesampainya di mekkah, Abu Thalib menceritakan kepada Fathimah, istrinya. Tak ada sedikit pun yang ia sembunyikan. Fathimah sangat terkagum dan terkesima dengan kisah dari suaminya. Ia pun berujar kepada suaminya. “Kalau demikian cerita mu wahai suami ku. Permintaan Muhammad yang sangat ingin ikut  dalam perjalanan kalian kemarin itu bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah takdir Allah, sehingga kau dapat melihat langsung keistimewaan yang dialami oleh anak ini. Dan setiap kejadian menyangkut dirinya. Mungkin itulah kenapa ia sangat dekat dan bergantung pada mu. Hingga aku pun tak kuasa mengekangnya dari mu.”

Dan Fathimah melanjutkan, “Dibalik hari ini terdapat hari esok yang penuh misteri, demikian juga dengan Pribadi Muhammad, masih banyak rahasia yang belum terungkap. Sejauh ini, sebagian telah nyata di hadapan kita. Dan kita pasti akan menyaksikan sesuatu yang lebih besar kedepannya.” “Itu kalau Allah menjaganya dan Yahudi tidak mencelakainya,” Abu Thalib menyela, “Dan aku sangat mengkhawatirkannya wahai Fathimah istri ku.”

Fathimah pun menenangkan, “Tidak ada Yahudi di Mekkah wahai suami ku, kecuali mereka hanya datang dan pergi unuk berdagang. Menurutka, rahasia ini harus kita jaga, jangan dibuka kepada siapa pun. Terutama yang rahib itu sebutkan. Dan Muhammad harus selalu dalam pengawasan kita.”

Sejak hari itu, perhatian dan pengawasan Fahimah binti Asad kepada Muhammad semakin besar dan ketat. Dan cintanya kepada Muhammad pun kian dipadati rasa hormat. Hingga ia tumbuh menjadi semakin dewasa, yang beranjak menjadi seorang pemuda.
Read More