TARBIYAH ONLINE: mazhab

Terbaru

Showing posts with label mazhab. Show all posts
Showing posts with label mazhab. Show all posts

Sunday, August 4, 2019

Bahaya Talfiq (Mencampur) Mazhab, Mengubah Obat Jadi Racun

August 04, 2019 0

Tarbiyah.online – Sepaket ibadah adalah obat untuk penyakit. Maka, obat yang baik mesti diracik dengan komposisi bahan dan takaran yang tepat. Meskipun setiap bahan-bahan dasar itu dari bahan alami, yang pada dasarnya tidak berbahaya, bahkan ia bermanfaat kepada tubuh manusia. Namun, ketika racikan bahan tidak tepat, ia akan menjadi racun bagi tubuh, memperparah penyakit bahkan bisa membunuh.

Dalil-dalil yang tersedia bak bahan dasar alami yang menjadi obat bagi segala penyakit (ibadah). Sayangnya, bahan dasarnya tidak hanya satu (dalil tentang satu ibadah tidak hanya terdiri dari satu ayat atau satu hadits saja). Untuk satu obat, tersedia berbagai macam bahan dasar yang perlu diketahui kandungan dan manfaat serta efek samping bagi tubuh. Maka selain mengetahui komposisi, manfaat dan efek samping dari bahan tersebut, butuh juga mengenal dengan sempurna anatomi dan kondisi tubuh, guna racikan obat nanti bisa tepat dan tidak overdosis.

Resep obat merupakan gambaran mazhab. Maka ada empat jenis resep berbeda yang tersedia untuk sebuah penyakit. Resep-resep ini diracik oleh 4 orang ahli yang telah terpercaya di masanya dengan tingkat kecerdasan melampaui 1.000 tahun, serta diwariskan ke generasi selanjutnya dengan lengkap dan hampir bisa dibilang sempurna (karena kesempurnaan hakiki hanya milik Tuhan saja). Meskipun di generasi selanjutnya ke empat resep ini ada sedikit pengubahan, pengubahan itu bukan pada dasar-dasar peracikan dan komposisinya, melainkan hanya sebab perubahan zaman dan lingkungan yang sedikit membedakan kondisi penyakitnya. Tapi tetap saja mereka berpijak pada salah satu dari 4 resep utama (permasaah kontemporer misalnya).

Kita yang mengidap penyakit dan butuh kepada obat, namun tidak mampu meraciknya, karena tidak mengetahui dengan jelas komposisi bahan dan takarannya, cukup mencari obat yang telah diracik oleh ahli di toko obat atau pasar serta mantri/ dokter yang menyediakan dan memiliki obat yang telah diracik melaui salah satu resep yang telah terkenal khasiat penyembuhannya. Itulah kitab dan juga ulama serta da'i yang bertugas menyediakan dan "menjual"nya.

Sangat tidak bijak, menjadikan resep ke 5 dari percampuran 4 resep yang ada, jika memang tidak memiliki penguasaan materi bahan dasar (Quran dan Sunnah) secara keseluruhan hingga seluk beluknya dan tak pula tahu kadar manfaat dan efek sampingnya. Itulah 'illat yang terdapat pada dalil (Quran dan sunnah yang merupakan dasar pijakan mazhab) yang cukup kompleks ilmu pembahasannya. Besar kemungkinan, ia malah menjadi racun mematikan, bukan obat yang menyembuhkan.

Tentu jika kita melakukan percampuran tanpa ilmu, ke empat ahli yang telah menyusun resep itu akan berlepas diri dan tak mau bertanggungjawab bahkan bisa jadi menertawakan kita, meskipun kita mengaku mengambil bahan dasar sebagaimana mereka. Tapi racikan kita telah salah, persentase komposisi bahan dan takaran berantakan. Mereka akan berlepas diri.

Begitulah analogi kasar Mazhab dan fenomena percampuran Mazhab. Kasar, karena hanya melihat fenomena dengan kapasitas penglihatan yang terbatas serta kemampuan analisa yang jauh dari kondisi baik sempurna.

Wallahu a'lam.

Oleh Azis Azwardi, S.Pd.I sekeping hasil diskusi di warung kopi, pada tanggal 1 Agustus 2017.
Read More

Thursday, April 25, 2019

QURAN DAN SUNNAH MUDAH, KENAPA HARUS BERMAZHAB?

April 25, 2019 0
Mengapa Kita Bermadzhab??

Tarbiyah.onlineMasih seringkah Anda menjumpai teman atau saudara yang mengajukan pertanyaan "Mengapa kita harus bermadzhab padahal ada Quran dan Hadits yang mudah diakses?" Ataupun yang senada, "Tidak cukup dan terangkah Alquran dan Sunnah, kenapa harus berpecah dengan mazhab?" Mari kita simak dengan teliti paparan dibawah ini:

Tujuan manusia hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. dan mengenal-Nya, demi meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Dan kunci untuk meraih kebahagiaan itu adalah ilmu dan amal, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Mizân al-‘Amal.

Begitu pentingnya ilmu pengetahuan, maka ilmu tersebut harus dipelajari dari manhaj (metodologi) yang muktamad (terpercaya). Sudah barang tentu jika kita hendak belajar maka tujuannya adalah sekolahan atau pusat pendidikan, bukan ke super market, lapangan bola maupun warung kopi. Di sekolahan-lah kita akan mendapati seorang guru, ustad, syaikh, atau pengajar yang akan membimbing kita.

Sebelum dikenal dengan istilah mazhab, mazhab fikih terlebih dahulu dikenal dengan sebutan madrasah (sekolahan).

Dalam sejarah perkembangan fikih Islam terdapat dua madrasah; (1) Madrasah ahli hadis dan (2) madrasah ahli ra’yi. Yang selanjutnya melahirkan empat mazhab yang muktabar sebagaimana telah kita kenal bersama, yaitu Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Keempat mazhab ini telah dianggap paripurna dan komplit karena sudah tersusun dengan rapi dan terkodifikasikan sehingga keontetikannya terjamin.

Sebelumnya, terdapat sekitar lebih dari delapan puluh mazhab yang muncul.

Ketika kita teliti, madrasah ahli ra’yi dipelopori oleh Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud, Muadz bin Jabal dan sahabat yang lain, kemudian diikuti oleh tabi’in seperti ‘Aqlamah, Ibrahim Annakh’I dan lainnya. Sedangkan madrasah ahlul hadis dipelopori oleh Abdullah bin Umar, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lainnya dan diikuti oleh tabi’in seperti Sa’id bin Musayyab dan lainnya.

Mazhab Hanafi merupakan warisan dari madrasah ahli ra’yi dan mazhab Maliki merupakan representasi dari madrasah ahli hadits. Kemudian muncullah Imam Syafii yang melakukan elaborasi terhadap dua madrasah ini, sedangkan Imam Ahmad lebih cenderung ke madrasah ahli hadis. Semua mazhab fikih pasti bersumber dari kedua dua madrasah ini.

Mazhab inilah merupakan perantara dan jalan hidup kita di dunia untuk mempelajari segala hal yang terkait dengan urusan ibadah kita kepada Allah swt.. Sebelum menjadi seorang mujtahid, Imam Syafii belajar kepada Imam Malik selama enam belas tahun hingga Imam Malik wafat. Beliau mempelajari berbagai bidang keilmuan hingga mengantarkannya menjadi seorang mujtahid. Hal yang sama berlaku bagi Abu Yusuf dan Muhammad Hasan, keduanya belajar kepada Imam Abu Hanifah. Bahkan sebenarnya keduanya sudah sampai kepada derajat mujtahid, tapi karena kecintaan kepada Abu Hanifah, keduanya tetap mengikuti Abu hanifah dalam mazhabnya.

Pengertian Mazhab dan Tamazhub

Kalimat mazhab secara bahasa merupakan masdar mimi dari zahaba yazhabu, yang bermakna tempat untuk pergi atau jalan, baik jalan itu sifatnya hakiki maupun maknawi. Mazhab secara bahasa memiliki empat makna; (1) Tempat pergi; (2) Iktikad yang diikuti; (3) Jalan dan sirah; (4) Asal. (Lihat: Tâj al-‘Arûs: 1/499)

Sedangkan pengertian mazhab secara istilah yang dipahami sekarang adalah pendapat-pendapat ijtihadi imam mujtahid tentang hukum-hukum syariat yang didasarkan pada dalil-dalil yang bersifat dzanni (dugaan kuat). Maka, tidak masuk dalam kategori pengertian tersebut hukum-hukum yang telah diketahui secara dharuri, dan perkara-perkara yang memiliki dalil qath’i (pasti). Maka, sangat keliru kalau dikatakan misalnya, hukum shalat adalah wajib menurut mazhab Imam Syafii, karena kewajiban shalat ditetapkan dengan berlandaskan hukum qath’i yang tidak ada perbedaan antar mazhab manapun. Namun, yang benar, misalnya, wudhu batal menurut Imam Syafii manakala menyentuh kulit lawan jenis, karena dalil tentang hal ini sifatnya adalalah dzanni sehingga dalam praktiknya menimbulkan perbedaan pemahaman antar mazhab.

Tamazhub berarti seseorang yang belum sampai kepada derajat mujtahid mengikuti sebuah mazhab dari mazhab-mazhab fiqih yang muktabar, baik dalam permasalahan rukhsah maupun ‘azimah.

Sejarah Mazhab

Ketika kita membaca sejarah, munculnya mazhab sebagaimana pengertian istilah yang kita kenal saat ini dimulai pada masa sesudah tabi’in. Namun jika kita telisik lebih jauh, sebenarnya mazhab sudah ada sejak era para sahabat, di mana para sahabat ketika ingin mempelajari hukum, mereka langsung menanyakannya kepada para pembesar sahabat. Dan para pembesar sahabat yang menjadi rujukan ini sama persis kedudukannya sebagaimana para aimmah mazhab yang kita kenal, yaitu sebagai rujukan untuk masalah-masalah hukum syariat.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab “Al-Ishâbah” meriwayatkan dari Thawus r.a., ia berkata: “Aku melihat tujuh puluh sahabat Rasulullah saw., jika berselisih dalam suatu perkara mereka akan mengambil pendapat dari Ibnu Abbas, r.a..”

Kemudian yang mengambil dari para sahabat tersebut berbeda-beda dalam metodologi berijtihad dan berfatwa, sehingga muncullah madrasah ahli hadis di Madinah dan madrasah ahli ra’yi di Irak. Madrasah-madrasah fikih ini pun juga berkembang ditempat lainnya karena berpencarnya para sahabat ke berbagai pelosok negeri. Di Kufah ada Abu Hanifah, Abdullah bin Syabramah, Ibnu Abi Laila, dan Sufyan Assauri. Di Makkah ada Ibnu Juraij, dan Sufyan bin Uyainah. Di Madinah ada Malik bin Anas, di Mesir ada Laits bin Sa’ad dan Muhammad bin Idris, di Syam ada Abdurrahman al auza’I, di Naisabur ada Ishak bin Rahawiyah, dan di Baghdad ada Abu Tsur, Ahmad bin Hanbal, Daud Adhdhahiri dan Muhammad bin Jarir Atthabari.

Kenapa Bermazhab ?

Ketika ada segelintir orang menanyakan kepada kita, mengapa kalian bermazhab? Maka kita jawab, kami bermazhab karena:

1. Musannadah; karena mazhab-mazhab ini memiliki sanad sampai kepada Rasulullah saw. sehingga keotentikannya terjamin.

2. Mudallalah; mazhab-mazhab ini memiliki landasan argumentasi/dalil. Dalil tersebut tidak hanya dalil disebutkan secara eksplisit saja, namun ada dalil yang implisit.

3. Muashshalah; mazhab-mazhab ini memiliki metodologi berpikir yang terkodifikasikan dalam kitab-kitab ushul fikih, sehingga sangat akurat dan terukur dalam pengambilan dalil dari Al-Quran dan Sunnah.

4. Makhdumah; mazhab-mazhab ini dikhidmah oleh ratusan bahkan ribuan ulama setelahnya, dari matan menjadi syarah dan dari syarah melahirkan hasyiyah. Kemudian juga diberi taqrir dan tanbih, serta khidmah ilmiah lainnya. Ini juga memberikan garansi akan keotentikan pemahaman keagamaan yang ada di dalam mazhab.

5. Muqa’adah; mazhab-mazhab ini memiliki kaidah-kaidah fikih yang sangat rasional, seperti kitab “Al-Asybah wan Nadhair” karya Imam Suyuthi dalam mazhab Syafii, kitab “Al-Asybah wan Nadhair” karya Ibnu Nujaim dalam Hazhab Hanafi, kitab “Ta’sisun Nadhar” dalam mazhab Maliki, dan kitab “Raudhatun Nadhir” dalam mazhab Hanbali.

6. Mumanhajah; mazhab-mazhab ini memiliki metode berpikir yang jelas, detail dan akurat.

7. Muttasiqah; mazhab-mazhab ini memiliki tingkat amanah ilmiah yang sangat tinggi dalam menisbatkan sebuah pendapat kepada penuturnya, di dalamnya ada yang dikenal dengan qaul mukharraj dan ada juga yang disebut dengan qaul mansus.

8. Munfatihah; mazhab-mazhab ini memiliki cara berpikir yang elegan dan terbuka serta sangat toleran. Karena mempunyai kaidah-kaidah, ushul fikih, dan hal-hal yang bersifat kulli (global) yang masih memungkikan generasi penerusnya untuk mengembangkannya sesuai dengan masalah-masalah kontemporer yang terjadi seiring perkembangan zaman.

Oleh sebab itu, bermazhab menjadi hal yang sangat penting mengingat adanya jaminan otentisitas atau keabsahan pemahaman dari setiap detail permasalahan syariat.

Wallahu a’lam.

Tgk. Asysyairazi Abdul Wahid, Lc.
Lulusan Universitas Al-Azhar sekaligus peserta didik Darul Ifta, Mesir. Dewab Guru di Dayah Ummul Ayman, Samalanga.
Read More