TARBIYAH ONLINE: karya novel best seller

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Showing posts with label karya novel best seller. Show all posts
Showing posts with label karya novel best seller. Show all posts

Saturday, November 18, 2017

Perang Pertama Yang Diikuti oleh Nabi SAW Bukanlah Perang Badar

November 18, 2017 0
Kebanyakan kaum muslimin mengira perang yang pertama kali dilakukan dan diikuti oleh Nabi SAW adalah perang Badar. Ternyata selama ini kita salah besar. Perang Badar, bukanlah perang pertama Muhammad, melainkan perang pertama Nabi SAW bersama kaum muslimin memerangi kekufuran kaum kafir Quraiys. Di kesempatan lain kita akan menuliskan khusus bagaimana cerita perang badar, dan perang lainnya yang dikomandoi langung oleh Nabi SAW bersama kaum Muslimin. Insyaa Allah.

Jadi apa perang pertama yang diikuti oleh Nabi SAW..?
Perang yang pertama kali diikuti oleh Nabi SAW dikenal dengan nama Perang Fijar. Perang mempertahankaan Ka'bah Baitullah dan kota Mekkah yang dilakukan bersama-sama oleh bangsa Quraiys. Dikomandoi oleh paman-paman Nabi SAW yang senior.

Saat itu, usia Nabi SAW masih relatif muda. Beberapa mengatakan usianya masih belasan, 14 atau 15 tahun. Ia bersama pamannya yang sebaya dengannya, Hamzah ikut serta dalam perang secara aktif. Ikut mengumpulkan busur-busur panah dan berada di garda depan, dalam pasukan membantu paman-pamannya dari bani Hasyim yang bertanggung jawab menjaga Mekkah. Musuhnya adalah kaum komplotan yang dipimpin oleh Qais Ailan.

Perang ini berlangsung empat kali dalam rentang waktu empat tahun. Penduduk Mekkah semuanya panik dan merasa terancam.

Kedekatan Muhammad Dengan Seluruh Pamannya

Sebelum kenabian, Muhammad memang dekat dengan seluruh paman-pamannya. Hamzah adalah teman sepersusuannya, sedangkan Abbas berumur sedikit lebih tua dari Muhammad SAW. Tidak mengherankan jika ada keponakan yang sebaya dengan sang paman.

Hamzah adalah anak dari saudari ibu Nabi SAW, Aminah. Ketika Abdul Mutthalib hendak meminang Aminah untuk putranya (Ayah Nabi SAW), Abdul Mutthalib juga ikut meminang saudari Aminah untuk menjadi istrinya sendiri. Maka dari itu, kelahiran sang paman Hamzah -yang dikenal sebagai Singa Allah dan Rasul-Nya di kemudian hari- dan Muhammad SAW berdekatan.

lalu bagaimana dengan Abu Lahab yang menjadi musuh Nabi SAW di masa kerasulan? Abu Lahab termasuk paman yang sangat mencintai Muhammad. Buktinya, dimalam kelahiran Nabi SAW, Tsuwaibah berlarian ke arah majikannya, Abu Lahab untuk memberitakan kelahiran Muhammad. Saking senangnya Abu Lahab, ia memerdekakan Tsuwaibah selaku budaknya di saat itu juga. Riwayat tentang ini terdapat dalam Shahih Muslim. Bahkan dalam riwayat lain diterangkan, Abu Lahab yang notabene musuh Islam mendapatkan keringanan azab dalam kuburnya setiap malam senin, dengan sebab kegembiraannya menyambut Bayi Mulia Muhammad SAW. Meskipun status riwayat ini masih dipertentangkan tingkat kedha'ifannya.

Semua paman-paman Muhammad memang sangat menyayangi beliau SAW. Hal ini bisa dilihat kembali di tulisan kami saat Muhammad kecil diasuh oleh sang Kakek Abdul Muththalib. Pesan dari sang kakek, mejadi hal utama, ditambah lagi kondisi Muhammad kecil yang ditinggal oleh dua orangtuanya, dimana mereka datang menyambut penuh haru dan iba Muhammad yang kembali dari Madinah saat itu. Dan, cahaya kenabian pada karakternya yang super baik, sangat dipercaya dan dihormati oleh setiap manusia bahkan seluruh makhluk di dunia ini ikut mengambil peran dalam membangun rasa cinta anak-anak Abdul Muththalib kepada Muhammad SAW.

Sejauh ini, kisah yang tertuliskan masih berkutat pada suasana dan kondisi Nabi Muhammad SAW ktika muda dan sebelum menikah.
Insyaa Allah, setelah ini, kita akan langsung memasuki pada kisah cinta Muhammad dan Khadijah yang penuh dengan kemuliaan dan keteladaan.
Read More

Saturday, November 11, 2017

Singkatnya Waktu Muhammad Kecil Bersama Aminah

November 11, 2017 0
Setelah lama berpisah dengan sang ibunda Aminah, Muhammad kecil diantar pulang oleh Halimah ke pangkuan ibunda. Di saat itu, Muhammad kecil belum genap berusia lima tahun. Halimah menyerahkan Muhammad kepada ibu asuh baru yang merupakan pembantu dari Aminah yang juga tinggal bersama Aminah. Muhammad kecil kini mendapat curahan kasih sayang dari dua ibu sekaligus, Aminah dan Ummu Aiman. Perpisahan Halimah pun diwarnai haru dan pesan kepada Ummu Aiman untuk mencurahkan kecintaan dan perhatian yang besar kepada Muhammad kecil, mengurusi segala keperluannya dan tidak meninggalkannya meski sehari. Sedemikian bentuk cinta Halimah yang sejatinya tak ingin berpisah dengan anak asuh yang lebih dicintainya daripada anaknya sendiri.



Tak berapa lama bersama ibunda, Muhammad diajak untuk menemph perjalanan bersama ibunya ke Madinah (Yastrib nama Madinah saat itu). Perjalanan yang diperuntukkan menziarahi kuburan sang ayah yang tak pernah ia bertemu dengannya, karena duluan meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan, Abdullah. Selain juga untuk bertemu dengan kerabat sang ayah dari Bani Najjar. Perjalanan yang menyenangkan bersama ibunda dan kafilah lainnya, sungguh sangat dinikmati oleh Muhammad kecil. Hingga saat perjalanan pulang, mereka tiba di sebuah kasawan bernama Abwa’, beberapa kilometer dari Mekkah. Perjalanan rombongan mereka terhenti, karena salah satu dari anggoa kafilah terlihat kelelahan, ia terlihat sudah sangat lemah. Seolah kekuatannya telah tumpah. Aminah, ibunda dari Muhammad.

Melihat sang ibu yang terbaring lemah, ia melihat sang ibu pipinya membasah dengan tetesan air mata yang membulir di kedua matanya. Air mata Aminah pun tumpah. Muhammad tahu, air mana itu menyimpan sejuta makna. Ada perasaan asing yang merasuk kedalam jiwa Muhammad kecil ketika sang ibu memeluknya tidak sebagaimana biasa. Hatinya berdebar kencang, kesedihan pun menghampirinya. Sang ibu menatap ke arah Ummu Aiman. Ia pesankan kepada Ummu Aiman untuk mengasuh Muhammad kecil dengan sungguh-sungguh. Ia titipkan buah hati tercintanya. Ummu Aiman pun mengaggukkan kepala sebagai tanda dan bukti penerimaan amanah yang harus ia tanggung.


Detik-detik itu terasa sungguh begitu menyakitkan untuk dikenang. Terlihat oleh Muhammad mata kedua wanita yang ia sayangi itu berlinang hingga membasahi dagu mereka. Ia mengerti, sebuah peristiwa tengah terjadi. Ummu Aiman tampak begitu bersedih dan terpukul. Air matanya tak tertahan tumpah ruah ketika  Aminah menghembuskan nafas terakhirnya. Diusapkan wajah Aminah, dan ditutupinya. Hingga selesailah proses penguburan Aminah.

Muhammad kecil hanya terdiam, ia termenung sedih, ingin mengungkapkan banyak rasa. Tapi ia tak mampu. Ummu Aiman pun memegang tangan Muhammad kecil dan menuntunnya kepada rombongan yang akan segera melanjutkan perjalanan pulang ke Mekkah. Suasana hening, tak satu pun dari mereka yang berucap. Semua mata tertuju kepada Muhammad kecil, mereka menyayangi Muhammad, anak saudaranya, yang kini telah yatim dan piatu. Ditinggal oleh keua orangtuanya. Kini ia akan hidup sebatang kara, tanpa bisa mencicipi rasa kasih sayang kedua orang tua. Ummu Aiman menatap dengan tatapan penuh makna. Ia pun mencoba menghibur Muhammad dengan mengajaknya bercanda sepanjang perjalanan. Meskipun hasilnya tak seperti yang diharapkan. Muhammad bergeming, wajahnya malah makin pasi, dadanya terasa sesak duri derita. Ada sejuta tanda tanya yang menyelimuti samudera jiwanya. Ingin rasanya ditumpahkan kepada Ummu Aiman, tapi lidahnya pun terasa kelu, dan mulutnya terkunci. Muhammad kecil memilih untuk membiarkan kesedihannya mengalir dalam semesa diam. Muhammad sadar, Ummu Aimanlah ibu sekaligus pelindung baginya. Hidupnya bergantung kepada Ummu Aiman, sebagaimana Ummu Aiman juga pun bergantung kepada Muhammad setelah ia menerima wasiat dari Aminah.

Tiba di Mekkah, Muhammad kecil langsung disambut oleh Abdul Mutthalib, kakeknya dengan dekapan penuh kasih sayang dan rasa haru. Tubuhnya yang sudah sangat lemah dan sudah sakit-sakitan akibat dimakan usia, di temani anak-anaknya yang lain (paman-paman Muhammad) ikut mengelilingi dan menatap lekat penuh keprihatinan dan belas kasih.

Dan Muhammad merasakan pandangan kasihan mereka, hati kecilnya berkata, suatu kejadian besar tengah terjadi. Terbayang sesuatu yang besar dan berat sedang menantinya dalam lanjutan kehidupannya

Begitu kisah singkat Muhammad Nabi Mulia bersama ibundanya. Setelah berpisah untuk disusui dan diasuh di pedalaman Bani Sa’ad, belum ia merasa puas bermain dan berkasih sayang dengan ibunda, Allah swt mentakdirkan ia harus berpisah untuk selamanya. Selanjutnya Abdul Mutthalib mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.
Read More

Tuesday, November 7, 2017

Menjadi Suami dan Ayah Teladan

November 07, 2017 0
Siapa diantara kita yang tidak mengharapkan rumah yang tenang, pasangan yang sehaluan, dan anak-anak yang berbakti sebagai buah hati dan cahaya mata? Tapi tidak semua mampu mendapatkan rumah tangga semacam itu. Sebab konstruksinya bukan semen, batu-bata dan pasir. Bukan pula material mahal yang menjadi assesoris berupa emas pakaian sutera dan kecanggihan elektronik. Melainkan kesediaan setiap individu untuk rela berkorban dan mengalah. Apalagi ayah sebagai pemimpin -notabene punya ego lebih besar- yang harus memikul tanggung jawab dalam memimpin, membimbing, mejadi teladan yang sempurna terhadap seluruh keluarganya.
Mungkin saja diantara kepala keluarga ada yang tidak mampu menjalankan fungsi kepemimpinannya, tidak sanggup bertindak bijak atau bahka tidak tahu bagimana cara  mengatasi problematika dan polemik kehidupan rumah tangga serta tidak menjadi teladan dan menyuguhka pendidikan kepada anak dan istrinya.

Diantara sebanyak jumlah kepala keluarga, satulah yang paling sempurna keteladanannya. Imam Tirmidi dan Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits tentang seorang laki-laki teladan dalam keluarga. Ia pernah berkata menasihati sahabat-sahabatnnya,"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan akulah yang terbaik terhadap keluarga ku." Dia lah Muhammad SAw, sang teladan di segala bidang kehidupan, karena Tuhan sendiri yang menyatakan dalam firmannya Surat Ahzab ayat 21, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasul suri teladan yang indah bagi orang yang memenda harap kepada Allah dan hari kiamat dan banyak memngingat Allah."
Sebagai teladan yang sempurna, Muhammad memperistri banyak perempuan-perempuan shalihah dengan bermacam latar belakang dan watak serta ragam perbedaan umurnya. Dengan beristrikan janda, ia mampu menjukkan sikap teladan. Beristrikan wanita kaya raya, ia memperlihatkan kebijaksanaan mengelola harta. Beristrikan mantan budak, ia mencontohkan bagaimana seharusnya laki-laki memuliakan wanita. Beristrikan remaja, ia pun menampakkan sikap bijak menghadapi istri yang emosinya masih sering meluap.

Keteledanan yang ditampilkan tanpa celah, kecuali di mata segelinir orangt yang kerjaannya memang untuk mencari salah. Keluarga yang ia bentuk berjalan terjal, berbagai masalah menghadang, namun dengan sigap ia tampil mencari solusi.

Hebatnya, ketika ia harus keras dan tampak marah, ia mengambil sikap marah. Namun kerasnya tak pernah diikuti pecut. Tangannya tetap “terikat” tak lepas landas ke atas anak dan istri-istrinya. Tak ada umpatan dan hinaan yang melukai perasaan. Tak lama marahnya, langsung berdamai, sikapnya kembali lunak dan lembut penuh kasih sayang. Sikap profesional dan proporsional yang wajib diteladani.
Rumah Muhammad adalah rumah yang sakinah, penuh cinta dan berlimpah rahmah. Semua merasakannya, istri dan anaknya, budak dan pembanyunya, hingga tamu dan siapa pu yang datang ke rumahnya. Karena telah benar firman Allah “Dan tidaklah Kami utus Engkau (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam”.

Dia lah nabi kita, contoh terbaik dan teragung. Sungguh setiap yag ada pada dirinya adalah keagungan. Kita yang mengaku diri sebagai umatnya, harus malu jika pengakuan kita kosong, karena tak mengenalnya kecuali sedikit sahaja. Sungguh tak patut bagi seseorang mengaku dirinya pecinta, sedang ia tak mengenal kepada yang dicintanya.

Di kesempatan lain, kita akan tuliskan beberapa pelajaran indah yang diajarkan Nabi Muhammad kepada kita melalui keteladanannya bersama Istrinya.
Read More

Pribadi Muhammad Teladan Umat

November 07, 2017 0
Tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini, selain Rasulullah Muhammad ibn Abdullah shallallahu 'alayhi wa sallama, yang kehidupannya dilukiskan sebegitu detail. Sampai-sampai dkatakan, dialah satu-satunya manusia yang lahir dibawah matahari, hidup dibawah matahari, mati dibawah matahari yang sejarah hidupnya dicatat sejak kelahiran hingga kepergiannya.


Dialah satu-satunya manusia yang setiap kata dan ucapannya dicatat secara terperinci dan lengkap, diamnya dicermati, ridha dan marahnya diungkap. Dia yang ditemani oleh sahabatnya di rumah maupun dalam perjalanan, segala lakunya diketahui bahkan yang sepele dan remeh sekali pun. Lalu diceritakan kepada sahabat lain yang tidak tahu, lalu menyimpannya dalam memori mereka.

Di setiap situasi dan peristiwa, Nabi adalah teladan bagi setiap insan, baik laki maupun perempuan. Yang kaya menemukan contoh kedermawanan. Yang miskin mendapat pelipur lara di tengah kemelaratan. Yang yatim mengirup ketenangan jiwa di tengah badai kesedihan. Yang tertimpa musibah dan kesulitan memetik contoh ketegaran batin di tengah bencana kehidupan. Semua itu ada pada Nabi.

Dalam dirinya terangkum segaka model riwayat kehidupan manusia: yatim, miskin, terusir, menjadi suami dan ayah, menjadi pemimpin negeri, politikus hebat, komandan dan panglima perang, pendakwah, sakit, dan lainnya. Allah menghadirkan beliau sebagai sumber teladan sejati bagi seluruh umat manusia.

Dialah sosok teragung. Saiyidina Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alayhi wa sallama. Sungguh setiap yang ada pada diri mu adalah keagungan.
Read More

Monday, November 6, 2017

Mengenal Siapa Dr. Nizar Abazha

November 06, 2017 0
Lahir di Damaskus Suriah pada tahun 1946. Beliau belajar agama pada ulama-ulama terkemuka di Damaskus yang memang dikenal sebagai salah satu surga ilmu pengetahuan di dunia. Dr. Nizar juga meraih gelar sarjana sastra dari Univrsitas Damaskus. Kemudian melanjutkan program magister ke Universitas Punjab, di Lahore, Pakistan. Tak hanya sampai disitu, beliau pun melanjutkan studinya di program doktoral di Azerbaijan dengan konsentrasi Sastra Arab.

Dr. Nizar juga dikenal pakar dalam bidang sastra Perancis dan Sejarah Islam. Kegiatan beliau saat ini seain menjadi pengajar di berbagai kampus di Suriah, beliau juga terlibat aktif menjadi penasihat kebudayaan untuk salah satu perusahaan penerbit terkenal, Dar al-Fikr. Beliau mendapatkan gelar Guru Besar di Universitas al fath al-Islami. Ada puluhan buku yang sudah dituliskan oleh beliau. Dan beberapa diantaranya sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di dunia. termasuk Indonesia. Diantara yang sangat terkenal adalah Sekolah Cinta Rasulullah, Ketika Nabi di Kota (Sejarah Madinah-versi lain) dan Bilik-Bilik Cinta Muhammad.


Perkenalan dengan Dr. Nizar berawal dari salah satu mahasiswa Suriah asal Aceh, Indonesia, Fauzan Inzaghi (nama akun facebook) ketika chattingnya dengan admin yang bertanya tentang kepada siapa saja beliau belajar disana. Dan nama Niza Abazha masuk dalam rentetan nama pengajar Sirah Nabawiyah bagi beliau. Lalu dilanjutkan pencarian di facebook akun Dr. Nizar Abazha dan admin mendapat ada dua akun dengan link di bawah ini:

 https://www.facebook.com/NizarAbazaAuthor?ref=br_rs
https://www.facebook.com/D.NizarAbaza/?ref=br_rs


Selanjutnya ada juga teman admin lainnya Ustad Saief Alemdar yang juga merupakan penulis buku dengan judul Risalah Jiwa dan buku berjudul Dalam Dekapan Ramadhan yang sering bercerita tentang beliau. Saief Alemdar juga berasal dari Aceh, dan sekarang berdiam di Suriah. Selain kuliah disana, beliau juga bekerja di Kedutaan.


Read More

Mengenal Siapa Nabi Muhammad SAW

November 06, 2017 0

Nabi Muhammad SAW adalah teladan bagi umat manusia secara keseluruhan. Ia bernama Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Mutthalib ibn Hasyim ibn Abdi Manaf, hingga nasabnya sampai kepada Ismail ibn Ibrahim yang juga merupakan Nabi dan Rasul utusan Allah.

Muhammad yang diutus oleh Allah merupakan sosok manusia biasa yang memiliki unsur kemanusiaan sebagaimana manusia lain. Sehingga, dirinya layak dan sangat pantas untuk diikuti. Kebaikan akhlaknya bisa didapati melalui kajian-kajian sirah/ kisah dari berbagai buku dan kitab yang telah ditulis oleh para pendahulu.

Muhammad adalah Nabi pembawa syari'at yang paling sempurna. Karena ia merupakan penyempurna syari'at "langit". Kehadirannya adalah untuk memperbaiki akhlak secara keseluruhan. Akhlak manusia sebagai hamba dengan Allah sebagai Tuhan, akhlak manusia terhadap sesama manusia, akhlak manusia dengan alam tempat ia hidup.

Diantara banyak sekali buku dan kitab yang dituliskan oleh ulama. Penulis sangat tertarik pada gaya penulisan yang dilakukan oleh Dr. Nizar Abazhah, seorang pakar sirah dari Suriah. Beliau membagi karya sirahnya kedalam berbagai benuk dan tema. Dimulai dari Kepiribadiannya. interaksinya bersama Sahabat-Sahabatnya, keluhuran akhlaknya di dalam rumah tangga bersama para Istinya, bagaimana perang-perang yang pernah dilalui oleh Muhammad di masa hidupnya. Serta bagaimana seorang Muhammad memimpin Madinah sebagai pusat peradaban baru di dataran Arab hingga menjadi cikal bakal wilayah kekuasaan Islam yang luar biasa hebat nan luas menyentuh Romawi dan Persia yang sudah duluan hadir.

Insyaa Allah, dalam blog ini, penulis akan merangkum beberapa tulisan karya Dr. Nizar Abazhah dalam berbagai bab, untuk membuat kta lebih mengenal siapa Nabi Mulia Muhammad SAW. Yang Allah jadikan ia sebagai sosok teladan terbaik.
Read More