TARBIYAH ONLINE: hukum

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Showing posts with label hukum. Show all posts
Showing posts with label hukum. Show all posts

Friday, August 30, 2019

Doa Akhir Tahun, Evaluasi Kehidupan, Menggapai Keberkahan

August 30, 2019 0

Tarbiyah.online – Dalam kelender Islam, bulan Zulhijjah merupakan bulan penutup  tahun dan Muharram sebagai awal tahun baru Islam yang dikenal dengan tahun hijriah. Dalam proses pergantian akhir dan awal tahun merupakan sebuah peristiwa”revolusi”. Tentu saja para ulama terdahulu dalam menyikapi fenomena ini baik dalam mengkhatam dan ibtida’ (memulai)nya pergantian tersebut tentu saja tidak luput dari sebuah pengharap dan limpahan rahmat dan kebaikan kepada Allah Swt dengan untaian doa dan amaliah dengan satu harapan semoga akhir diri dan awal tahun itu di berkahi dan di ridhai segala apa yang telah dikerjakan dan kedepan lebih baik dari sebelumnya.

Syekh Daud Al-Patani dalam kitab Jam’ul Fawaid Wa jauhar Qalaid menyebutkan bahwa para ulama terdahulu Syekh Jamaluddin Sabti Ibnu Al-Jauzi para guru beliau telah mengajari dan mewasiatkan untuk tidak melupakan membaca doa akhir tahun (29 atau 30 Zulhijjah) dan awal tahun (malam pertama Muharram).


Doa akhir tahun di baca pada akhir waktu asar tanggal 29 atau 30 Zulhijjah sebanyak tiga kali. Doa tersebut yaitu:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

الحمد لله رب العالمينِ

وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وِلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْ رَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ اِلَى التَّوْ بَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْءأَ تِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَاِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِيْ

وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاَسْئَلُكَ اَللَّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَتَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَاكَرِيْمُ

وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


Bismillaahirramaanirrahiim
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

Washallallaahu ‘Alaa Sayyidinaa Wa Maulaanaa Muhammadin Wa ‘Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wasallam

Allaahumma Maa ‘Amiltu Fii Haadzihis Sanati Mimmaa Nahaitanii ‘Anhu Falam Atub Minhu Walam Tardhahu Walam Tansahu Wa Halumta ‘Alayya Ba’da Qudratika ‘Alaa ‘UquubatiiWada’autanii Ilat Taubati Mnhu Ba’da Jur-Atii ‘Alaa Ma’shiyatika Fa Innii Astaghfiruka Faghfir Lii Wa Maa ‘Amiltu Fiihaa Mimmaa Tardhaahu Wa Wa’adtanii ‘Alaihits Tsawaaba Fa AsAlukallaahumma Yaa Karimu Yaa Dzal Jalaali Wal Ikraam An Tataqabbalahuu Minnii Wa Laa Taqtha’ Rajaa-Ii Minka Yaa Kariim.

Washallallaahu ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Wa ‘Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wasallam

Artinya

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang.
Segala puji kepada Allah Pemilik Sekalian Alam.
Segala rahmat Allah tersampaikan kepada penghulu kami dan pemimpin kami Nabi Muhammad SAW dan keluarga-Nya, dan segala sahabat beliau.

Ya Rabbi, segala perbuatan yang saya kerjakan pada tahun ini (yang telah lalu), dari segala hal yang Kamu larang kepada saya, lalu saya tidak bertaubat, sedangkan Kamu tidak merestui (meridhai)-Nya dan Kamu tidak mengalpakan-Nya dan menyantuni atas saya sesudah kewilayahan engkau atas segala siksaan kepada saya.

Kamu  menyeru saya bertaubat darinya setelah saya kerjakan durhaka kepada Engkau. Perkenankanlah Kamu memaafkan saya  dan segala apa yang saya kerjakan di dalamnya dari perkara yang Kamu ridhai dan Kamu telah menjanjikan pahala kepada saya, maka saya memohon kepada Engkau ya Allah zat yang agung, wahai zat yang mempunyai keagungan dan kemuliaan, hendaklah Kamu maqbul (terima) dari saya, janganlah Kamu memutuskan asa (harapan) saya dari rahmat Engkau wahhai Zat Yang Mulia.

Segala Selawat dan sejahtera, tetapkanlah pada penghulu kami Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabat beliau sekalian"

Kelebihan dan Hikmah Doa Akhir Tahun

Seseorang yang telah membaca doa diatas pada waktu tersebut (akhir) asar bulan Zulhijjah niscaya menyebut oleh syaitan bahwa kesusahanlah terhadapnya dan sia-sialah segala pekerjaan syaitan dalam menggoda anak Adam pada tahun ini maka di binasakan mereka dengan satu waktu juga efek dari membaca doa akhir tahun diatas.

Sumber Referensi :
Kitab Kanzunnajaah Wassuruur halaman 298, karya Syeikh ‘Abdul Hamid ibn Muhammad ‘Ali Quds
Kitab Jam’ul Fawaid Wa Jauhar Qalaid,  Syekh Daud Fatani, hal 129
Read More

Monday, August 26, 2019

Almarhum atau Rahimahullah? Jangan Salah, Ini Penjelasan Yang Benar!

August 26, 2019 0

Tarbiyah.onlineSering mendapat peerbandingan gambar dengan keterangan singkat berisikan satu dua ayat atau hadits untuk melegitimasi ?

Beberapa meme berbentuk tulisan seperti contoh diatas sering kita dapati. Sebelumnya InsyaAllah vs Insha Aah pernah viral (di blog ini, tulisan tersebut drafting, belum dipublis kembali).

Nah, untuk kalimat RAHIMAHULLAH sama statusnya dgn AL-MARHUM, artinya bisa diartikan sebagai doa (الإنشاء) dan bisa juga diartikan sebagai pernyataan (الخبر)

Kalau alasannya tidak boleh diucapkannya kalimat AL-MARHUM adalah krn kalimat tsb bentuk pernyataan bahwa org tsb telah dirahmati Allah swt, maka apa bedanya dengan kalimat RAHIMAHULLAH, toh secara bentuk, kalimat tsb adalah khabariyah (pernyataan). 

Kalau alasannya boleh mengucapkan kalimat RAHIMAHULLAH adalah krn kalimat tsb bentuk doa, artinya berdoa supaya Allah swt merahmatinya, maka apa bedanya dgn kalimat AL-MARHUM, toh kalimat tsb bisa juga dimaksudkan sbg doa. Dalam istilah ilmu Ma'ani disebut dengan istilah Khabriyah lafzhan Insyaiyah ma'nan (خبرية لفظا انشائية معنى).

Jadi, kesimpulannya, boleh dan sunnah hukumnya mengucapkan lafazh Al-Marhum, jika dimaksudkan sebagai doa. 

Bagaimana kalau dimaksudkan kalimat tsb sebagai pernyataan? 

Hukumnya juga boleh dan bahkan sunnah. Knp demikian? Krn pernyataan tsb, maksudnya adalah memuji mayyit bahwa ia termasuk org yg telah mendapatkan Rahmat Allah swt. Atau bisa juga dimaksudkan sebagai kesaksian terhadap si mayyit bahwa dia termasuk org yg telah mendapatkan Rahmat Allah swt. Kedua-duanya (sanjungan dan kesaksian) bisa bermanfaat terhadap si mayit, sebagaimana yg dijelaskan Imam Al-'Aini Al-Hanafi dalam kitab Umdatul-Qari, halaman 197, juz 8.

Pertanyaannya: Bagaimana "kesaksian atau sanjungan baik" terhadap mayit yang tidak sesuai realitanya, artinya mayit tsb org jahat? 

Syaikh Zainuddin berkata: KESAKSIAN BAIK MEMBERI DAMPAK POSITIF TERHADAP MAYIT, WALAUPUN ITU TIDAK SESUAI DENGAN REALITANYA. 

Umdatul-Qari, halaman 197, juz 8.

فإن قلت: هل ينفع الثناء على الميت بالخير وإن خالف الواقع أم لا بد أن يكون الثناء عليه مطابقا للواقع؟ قلت: قال شيخنا زين الدين، رحمه الله: فيه قولان للعلماء أصحهما أن ذلك ينفعه، وأن لم يطابق الواقع لأنه لو كان لا ينفعه إلا بالموافقة لم يكن للثناء فائدة

Ada banyak hadis yg dinukilkan dalam kitab tsb, saya menukil salah satunya saja. Selebihnya silahkan lihat dan murajaah kitab tsb. 

Anas bin Malik berkata: para sahabat pernah melewati jenazah. lalu mereka menyanjungnya dan menyebut kebaikannya. Maka Nabi saw bersabda: "Pasti baginya." 

Kemudian mereka melewati jenazah yang lain. lalu mereka mencelanya dan menyebut keburukannya. Maka Beliau pun bersabda: "Pasti baginya." 

Kemudian Umar bin Khatab bertanya: "Ya Rasulullah, Apa yang pasti baginya?

Beliau menjawab: "Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga. Sedangkan jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan. Maka pasti baginya masuk neraka. Karena kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi." (HR. Bukhari. 1278)

Kesimpulannya, mengucapkan Al-Marhum adalah sunnah. 

Note: Lajnah Daimah, sumber yg disebutkan dlm gambar tsb, adalah website wahabi. Hati-hati!!

Oleh Teungku Muhammad Hafidh Al Bakri, dewan guru di Dayah Darul Ma'arif (Mamplam Golek) Lam Ateuk, Aceh Besar.
Read More

Thursday, September 6, 2018

KETAHUILAH 7 AMALAN PADA HARI JUM'AT, LALU AMALKAN

September 06, 2018 1


Tarbiyah.Online - Hari Jum'at adalah salah satu hari daripada hari raya bagi kaum Muslim. Disebut hari raya, karena hari Jum'at selain memiliki kekhususan bagi kaum muslimin terutama yang laki-laki untuk berkumpul dan bersama-sama datang ke mesjid untuk beribadah, hari Jum'at juga memiliki berbagai kelebihan dan keutamaan. Bahkan banyak sekali amalan yang Rasulullah SAW ajarkan untuk diamalkan khusus di hari mulia itu.

:فــُوائــــــــد كــبــــــــــــيرۃ تختص بسيد الأيام  يوم الجمعة
Faedah Agung Yang Khusus di Amalkan di Hari Jum'at

١من قال بعد غسل الجمعة مائة مرة يامهيمن رزقه الله المهابة والجلا 

1. Barangsiapa yang membaca Ya Muhaimin 100x setelah mandi jum'at, maka Allah SWT akan memberikan kewibawaan dan kemulyaan.

٢. من قرأ بين أذاني الجمعة سورة القدر ٧ مرات، قضى الله دينه

2. Barangsiapa yang membaca surat Al-Qadar 7x antara 2 adzan di hari jum'at, maka Allah SWT akan melunasi semua hutangnya.

٣من قال بعد صلاة الجمعة ٣٣ مرة يا باطن، جعله الله من أهل  الباطن

3. Barangsiapa yang berucap Ya Baathin 33x setelah shalat jum'at, Allah swt akan menjadikannya dari ahli bathin.

٤من قرأ وهو ثان رجليه بعد صلاة الجمعة وقبل أن يتكلم الفاتحة  والإخلاص والفلق والناس كل واحدة ٧ مرات، حفظه الله من 
كل سوء  إلى الجمعة القابلة

4. Barangsiapa setelah shalat jum'at membaca  Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas masing 7x tanpa merubah posisi duduknya (tasyahhud akhir) dan tanpa berbicara sebelumnya, maka Allah SWT akan menjaganya dari semua kejelekan sampai jum'at berikutnya.

٥من قال بعد الجمعة مائة مرة اللهم أكفني بحلالك  عن حرامك  واغنني بفضلك  عمن سواك، لم تمض عليه جمعة إل وأغناه الله أي: سخر له رزقآ

5. Barangsiapa setelah sholat jum'ah membaca ALLAHUMMA AKFINIY BIHALAALIKA 'AN HARAMIKA WAGHNINIY BIFADLIKA 'AMMAN SIWAAK, maka segala kebutuhannya akan terpenuhi hingga hari berikutnya.

٦.  من قال ساعة الدعاء  للمؤمنين والمؤمنات في الخطبة : ياغني  يامغني أربعين مرة؛ يقول في رأس كل عشر منها : أغنني ، إلا  وسع  الله  عليه  رزقه

6. Barangsiapa yang berdoa YAA GHONIYYU YAA MUGHNIIY 40X, setiap 10 dari bacaan tersebut ditambahi AGHNINIY, ketika do'a mukminin mukminaat pada khutbah kedua, maka Allah SWT akan meluaskan rizkinya.  

٧من صلى على النبي صلى الله عليه وسلم بعد عصر الجمعة (بأي صيغة ) ثمانين مرة، غفر له ذنوب ثمانين سنة ، فإن لم يكن عليه مايقابل هذا غفر ﻵبائه ورفع في درجاته، وورد أن من صلى بهذه الصيغة : (اللهم صل على سيدنا محمد النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم تسليما) بعد عصر الجمعة كتب له عبادة ثمانين سنة مع ما ذكر.

7. Barangsiapa yang bersholawat kepada Nabi SAW setelah ashar hari jum'at 80x, maka Allah SWT akan mengampuni dosanya 80 tahun, jika memang si pembaca tidak memiliki dosa sebanyak itu, maka keutamaan tersebut akan diberikan kepada kedua orangtuanya dan Allah SWT akan mengangkat derajat mereka. 

ومن اكثر الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم يكفى همه ويغفر ذنبه ويقضى دينه وكانت له شفاعة  عند النبي صلى الله عليه وسلم وكان اقرب منزلا من النبي صلى الله عليه وآله وسلم يوم القيامة
 

Ada riwayat bahwasan-nya yang membaca sholawat dengan sighoh ini ALLOOHUMMA SHOLLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMIY WA 'ALAA AALIHI WASOHBIHI WA SALLIM TASLIIMAA setelah asar hari jum'at, maka akan ditulis untuknya pahala ibadah 80 tahun.
"Barangsiapa yang memperbanyak sholawat atas Nabi SAW, maka Allah SWT akan menyelesaikan semua urusannya, mengampuni segala dosanya, melunasi hutangnya, dan sholawat tersebut akan menjadikan sebab dia memperoleh syafaat Nabi SAW, dia kan berada paling dekat kedudukan-nya di sisi Nabi SAW pada saat hari kiamat".

مستفاد من مجالس  الحبيب  زين بن سميط والحبيب سالم الشاطري  حفظهم الله
Disadur dari majlis Habib Zein bin Sumaith dan Habib Saalim As-Syaatiri

Read More

Friday, June 29, 2018

APAKAH WANITA HAID HARUS MENGQADHA PUASA DAN SHALATNYA?

June 29, 2018 0

Tarbiyah.Online - Wanita haid dan nifas memang dilarang melaksanakan shalat serta berpuasa, akan tetapi kewajiban yang harus mereka lakukan setelah selesai haid dan nifas adalah mengqadha puasa yang ditinggalkan, bukan mengqadha shalat. Hal tersebut berdasarkan riwayat hadis serta ijma‘ para ulama.

Aisyah Ummul Mukminin radhiyallâhu ‘anhâ;

عن معاذة العدوية قالت سألت عائشة فقلت: ما بال الحائض تقضي الصوم ولا تقضي الصلاة؟ فقالت: أحرورية أنت؟ قلت: لست بحرورية، ولكني أسأل، قالت: قد كان يصيبنا ذلك مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة
Dari Mu‘adzah al-‘Adawiyah, ia bertanya kepada Aisyah; Ada apa gerangan mengapa wanita haid harus mengqadha puasanya namun tidak mengqadha shalatnya? Aisyah menjawab; Apakah kamu Harûriyyah? Bukan, saya hanya bertanya. Aisyah menjelaskan; Memang seperti itu syariat yang kami dapati bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita diperintahkan mengqadha puasa, bukan mengqadha shalat
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.1, hal.331)

Al-Imam Muhammad Ibn Idris Ibn al-‘Abbas al-Syafi‘i (w.204H);

وكان عاما في أهل العلم أن النبي لم يأمر الحائض بقضاء الصلاة وعاما أنها أمرت بقضاء الصوم، ففرقنا بين الفرضين استدلالا بما وصفت من نقل أهل العلم وإجماعهم
Sudah jamak diketahui dari para ulama bahwa Nabi tidak memerintahkan wanita haid mengqadha shalatnya, dan juga jamak diketahui bahwa wanita haid diperintahkan mengqadha puasa. Kami membedakan antara dua ibadah fardhu ini berdasarkan periwayat dari para ulama dan ijma‘ mereka yang telah disebutkan sebelumnya
(Al-Syafi‘i, al-Risâlah, hal.119)

Al-Imam Abu Isa Muhammad Ibn Isa al-Tirmidzi (w.279H);

والعمل على هذا عند أهل العلم، لا نعلم بينهم اختلافا أن الحائض تقضي الصيام ولا تقضي الصلاة
Para ulama mengamalkan hadis ini, dan tidak kami ketahui adanya perbedaan pendapat mereka dalam kewajiban mengqadha puasa bagi wanita haid, sedangkan shalat tidak diqadha
(Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, vol.3, hal.154, pada nomor hadis 787)

Al-Imam Abu Bakr Muhammad Ibn Ibrahim Ibn al-Mundzir al-Naisaburi (w.319H);

وأجمع أهل العلم على أن عليها قضاء الصوم لإجماعهم، وسقط عنها فرض الصلاة لثبوت السنة والإجماع
Wanita haid yang tidak berpuasa wajib mengqadha puasanya berdasarkan ijma‘ para ulama, sedangkan kewajiban -qadha- shalat gugur bagi mereka berdasarkan sunnah dan ijma‘
(Ibn al-Mundzir, al-Awsath Fî al-Sunan wa al-Ijmâ‘ wa al-Ikhtilâf, vol.7, hal.191)

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Khalaf Ibn Abdil Malik Ibn Batthâl al-Qurthubi (w.449H);

وأجمعوا أن عليها قضاء ما تركت من الصيام، ولا قضاء عليها للصلاة
Para ulama berijma‘ bahwa wanita haid wajib mengqadha puasa yang ditinggalkannya, namun tidak dengan shalat
(Ibn Batthal, Syarh Shahîh al-Bukhârî, vol.1, hal.419)
Al-Imam Abu Muhammad Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Hazm al-Andalusi (w.456H);

وأجمعوا أن الحائض تقضي ما أفطرت في حيضها
Dan para ulama berijma‘ bahwa wanita haid wajib menqadha puasa yang ditinggalkannya selama haid
(Ibn Hazm, Marâtib al-Ijmâ‘, hal.40)

ولا قضاء إلا على خمسة فقط، وهم الحائض والنفساء فإنهما يقضيان أيام الحيض والنفاس، لا خلاف في ذلك من أحد...
Tidak ada qadha selain yang lima; wanita haid dan nifas, mereka wajib mengqadha -puasa yang ditinggalkan- selama haid dan nifas. Tidak ada perbedaan yang muncul dalam masalah ini...
(Ibn Hazm, al-Muhallâ Bi al-Atsâr, vol.6, hal.185)

Al-Imam Abu Bakr Ala’uddin Ibn Mas‘ud Ibn Ahmad al-Kasani (w.587H)

Al-Imam al-Kasani ketika mengomentari atsar dari Aisyah dengan Mu‘adzah yang disebutkan di atas mengatakan;

أشارت إلى أن ذلك ثبت تعبدا محضا، والظاهر أن فتواها بلغت الصحابة ولم ينقل أنه أنكر عليها منكر فيكون إجماعا من الصحابة رضي الله عنهم
Beliau mengisyaratkan bahwa aturan tersebut murni ta‘abbud. Secara lahir, fatwa Aisyah tersebut sampai kepada para sahabat lain, dan tidak ada riwayat pengingkaran dari mereka, sehingga jadilah apa yang disampaikan itu sebagai ijma para sahabat radhiyallâhu ‘anhum
(Al-Kasani, Badâi’ al-Shanâi’ Fî Tartîb al-Syarâi‘, vol.2, hal.89)


Al-Imam Abu Muhammad Baha’uddin Abdurrahman Ibn Ibrahim Ibn Ahmad al-Maqdisi (w.624H);

الحائض والنفساء تفطران وتقضيان إجماعا، وإن صامتا لم يجزئهما إجماعا
Wanit haid dan nifas mesti berbuka dan mengqadha puasa tersebut berdasarkan ijma‘, dan jika mereka tetap berpuasa maka belum sah berdasarkan ijma‘
(Baha’uddin al-Maqdisi, al-‘Uddah Syarh al-‘Umdah, vol.1, hal.41)
     
Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);

أجمع أهل العلم على أن الحائض والنفساء لا يحل لهما الصوم وإنهما يفطران رمضان ويقضيان
Ulama berijma‘ bahwa wanita haid dan nifas tidak halal berpuasa, sehingga mereka memang harus berbuka lalu mengqadha puasa tersebut
(Ibn Qudamah, al-Mughnî Syarh Mukhtashar al-Kharqî, vol.3, hal.83)

Al-Imam Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad Ibn Abdillah al-Zarkasyi (w.772H);

القضاء واجب على الحائض والنفساء بالإِجماع
Mengqadha puasa wajib bagi wanita haid dan nifas berdasarkan ijma‘

(Al-Zarkasyi, Syarh Mukhtashar al-Kharqî, vol.1, hal.430)

Wallahu a'lam
Oleh Ustadz Ashfi Bagindo Pakiah
Read More

Wednesday, June 27, 2018

TIDAK MENGQADHA PUASA HINGGA BERTEMU RAMADHAN, BAGAIMANA?

June 27, 2018 0


Tarbiyah.Online -  Fenomena yang banyak terjadi di kalangan umat muslim ketika tidak melaksanakan puasa Ramadhan oleh suatu halangan adalah kecenderungan mengulur waktu mengqadha puasa yang pernah ditinggalkan itu hingga pada akhirnya bertemu dengan Ramadhan berikutnya tanpa menunaikan kewajiban qadha puasa sebelumnya tanpa ada uzur.

Berikut ini adalah beberapa alasan atau sebab seseorang tidak berpuasa;

1. Bagi laki-laki maupun perempuan yang tidak berpuasa karena sakit, kemudian sembuh, atau bagi musafir/ah yang tidak berpuasa kemudian kembali bermukim, wajib mengqadhanya dalam tempo setelah ‘Idul Fitri hingga satu hari sebelum Sya‘ban usai bila tidak ada halangan atau uzur.

2. Bagi wanita haid dan nifas saat Ramadhan, mereka berkewajiban mengqadha puasa yang ditinggalkannya dalam tempo waktu yang disebutkan di atas saat masa-masa suci bila tidak ada halangan atau uzur.

3. Bagi wanita hamil dan menyusui di bulan Ramadhan dan memilih tidak berpuasa, mereka pun dapat mengqadha puasa itu dalam tempo waktu yang disebutkan di atas bila mampu. Apabila tidak mampu lantaran uzur disebabkan masih dalam masa hamil atau masih dalam masa menyusui, maka qadha tersebut dilakukan apabila telah mampu meskipun setelah Ramadhan berikutnya.

4. Wanita yang pada Ramadhan ini sedang hamil dan memilih tidak berpuasa karena kuatir pada dirinya atau pun pada bayinya, lalu ternyata pada Ramadhan sebelumnya pernah tidak berpuasa karena haid, maka sejatinya dia pernah mendapati momen wajib mengqadha puasa tanpa halangan -selain haid, sakit, atau safar- terhitung setelah ‘Idul Fitri sampai awal kehamilannya saat ini. Bahkan bila kehamilannya pada Ramadhan ini telah memasuki bulan ke-9, bila dihitung mundur, maka akan didapati kehamilannya dimulai pada bulan Muharram. Artinya, dia memiliki tempo tiga bulan untuk mengqadha puasanya tanpa halangan -selain haid, sakit ataupun musafirah-, yaitu pada bulan Syawwal, Dzul Qa‘dah dan Dzul Hijjah.

5. Dan beragam kondisi lainnya.
Mereka yang disebutkan di atas bila tidak ada halangan mengqadha puasa yang pernah ditinggalkan hingga akhirnya bertemu dengan Ramadhan berikutnya, maka selain mengqadha, juga ada kewajiban membayar “kafarat” (baca : Fidyah) sebanyak hari yang ditinggalkan karena faktor mengulur-ulur waktu tersebut.

Berikut adalah riwayat dari beberapa sahabat terkait qadha puasa dan denda fidyah;

Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu ;

عن أبي هريرة قال من أدركه رمضان وهو مريض ثم صح فلم يقضه حتى أدركه رمضان آخر صام الذي أدرك ثم صام الاول وأطعم عن كل يوم نصف صاع من قمح
Dari Abu Hurairah, ia berkata ; siapa yang sakit pada bulan Ramadhan, lalu sembuh dan tidak mengqadha puasa yang ditinggalkan hingga bertemu dengan Ramadhan berikutnya, maka ia tetap melaksakan puasa Ramadhan yang ada, kemudian dia harus mengqadha puasa yang lewat ditambah dengan -fidyah- setengah shâ‘ gandung untuk setiap harinya
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.234, no.7620)

عن أبي هريرة قال إن إنسانا مرض في رمضان ثم صح فلم يقضه حتى أدركه شهر رمضان آخر فليصم الذي أحدث ثم يقضي الآخر ويطعم مع كل يوم مسكينا
Dari Abu Hurairah, ia berkata; seseorang yang sakit pada bulan Ramadhan (dan tidak berpuasa), kemudian sembuh, namun puasa itu belum diqadhanya hingga bertemu dengan Ramadhan berikutnya, maka dia tetap harus puasa Ramadhan yang ada, lalu mengqadha puasa yang lewat ditambah dengan denda fidyah; satu orang miskin untuk satu hari yang ditinggalkan
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.234, no.7621)

سئل سعيد هو ابن أبي عروبة عن رجل تتابع عليه رمضانان وفرّط فيما بينهما فأخبرنا عن قتادة عن صالح أبي الخليل عن مجاهد عن أبي هريرة أنه قال: يصوم الذي حضر ويقضي الآخر ويطعم لكل يوم مسكينا
Sa‘id Ibn Abi ‘Arubah (w.156H) pernah ditanya tentang seseorang yang bertemu dua Ramadhan dan tidak mengqadha puasa yang ditinggalkan saat jeda antara dua Ramadhan tersebut. Lalu Ibn Abi ‘Arubah langsung menyampaikan riwayat kepada kami dari Qatadah (w.100H)), dari Shalih Ibn Abi Khalil, dari Mujahid (w.101H)), dari Abu Hurairah, ia berkata ; (orang itu) tetap berpuasa Ramadhan ini, lalu harus mengqadha puasa yang ia tinggalkan sekaligus membayar denda fidyah; satu hari yang ditinggalkan untuk satu orang miskin
(Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, vol.4, hal.253, no.8471)

Abdullah Ibn ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ;

عن ابن عباس: في رجل أدركه رمضان وعليه رمضان آخر قال: يصوم هذا ويطعم عن ذاك كل يوم مسكينا ويقضيه
Dari Ibn Abbas, tentang seseorang yang bertemu dengan Ramadhan yang baru sementara ia memiliki kewajiban puasa yang lalu, maka Ibn Abbas mengatakan; Dia tetap melakukan puasa yang sekarang, lalu memberikan makan satu orang miskin untuk satu hari yang ditinggalkan dan disertai dengan mengqadha puasa tersebut
(Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, vol.4, hal.253, no.8470)

Berikut keterangan para ulama;

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Khalaf Ibn Abdul Malik Ibn Batthal al-Qurthubi (w.449H);
وأجمع أهل العلم على أن من قضى ما عليه من رمضان فى شعبان بعده أنه مؤد لفرضه غير مفرط
Ulama berijma‘ bahwa orang yang mengqadha puasa Ramadhannya yang lalu di bulan Sya‘ban (sebelum Ramadhan yang baru) berarti telah menunaikan kewajibannya, tidak melampaui masa dia harus mengqadha
(Ibn Batthal, Syarh Shahih al-Bukhari, vol.4, hal.95)

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Habib al-Bashri (w.450H);
وإن أخره غير معذور فعليه مع القضاء الكفارة عن كل يوم بمد من طعام، وهو إجماع الصحابة ... هذا مع إجماع ستة من الصحابة لا يعرف لهم خلاف
Jika seseorang mengundur qadha puasa tanpa uzur maka di samping mengqadha, dia juga harus membayar denda fidyah sebanyak satu mudd untuk satu hari yang ditinggalkan, dan ini adalah ijma‘ para sahabat ... meskipun sahabat yang berijma ada enam orang, namun tidak diketahui ada yang berpandangan berbeda
(al-Mawardi, al-Hâwî al-Kabîr Syarh Mukhtashar al-Muzanî, vol.3, hal.983 & 984)

Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.620H);
فإن كان لغير عذر فعليه مع القضاء إطعام مسكين لكل يوم، وبهذا قال ابن عباس وابن عمر وأبو هريرة ... ولنا ما روي عن ابن عمر وابن عباس وأبي هريرة أنهم قالوا: أطعم عن كل يوم مسكينا ولم يرو عن غيرهم من الصحابة خلافهم
Maka jika seseorang (belum mengqadha puasa) tanpa uzur, maka di samping mengqadha itu dia harus membayar denda fidyah memberi makan satu orang miskin untuk satu hari puasa yang ditinggalkan. Ibn Abbas, Ibn Umar dan Abu Hurairah berpendapat demikian. Kami memiliki riwayat dari mereka (ketika ditanya) mereka menjawab; Beri makanlah satu orang miskin untuk satu hari yang ditinggalkan, dan tidak ada riwayat dari sahabat lain yang berpendapat berbeda
(Ibn Qudamah, al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Imâm Abî al-Qâsim al-Kharqî, vol.3, hal.85)
Al-Imam Abu al-‘Abbas Ahmad Ibn Idris Ibn Abdirrahman al-Qarrâfî (w.684H);
وجوابه أن ابن عمر وابن عباس وأبا هريرة رضي الله عنهم كانوا يقولون بذلك من غير نكير فكان إجماعا
Dan jawab atas itu adalah tidak adanya pengingkaran dari sahabat lain atas perkataan Ibn Umar, Ibn Abbas dan Abu Hurairah (terkait Qadha dan denda Fidyah ini), sehingga menjadi ijma‘
(Al-Qarrâfî, al-Dzakhîrah, vol.2, hal.525)

Al-Imam al-Hafizh Abu al-Fadhl Ahmad Ibn Ali Ibn Muhammad Ibn Ahmad Ibn Hajar al-‘Asqalani (w.852H) ketika memberikan catatan tambahan untuk hadis yang diriwayatkan al-Baihaqi di atas, ia mengatakan ;
وحكى الطحاوي عن يحيى بن أكتم أن في هذه المسألة قول ستة من الصحابة وسمى منهم صاحب المهذب عليا وجابرا والحسين بن علي
Dan al-Thahâwî meriwayatkan dari Yahyâ Ibn Aktam bahwa masalah ini ada argumen dari perkataan enam orang sahabat. Penulis al-Muhadzzab (al-Syîrâzî) menyebutkan di antara nama mereka yatu; Ali, Jabir, Husain Ibn Ali
(Ibn Hajar al-Asqalani, Talkhîsh al-Habîr Fî Takhrîj Ahâdîts al-Râfi‘î al-Kabîr, vol.2, hal.456)

Wallahu A’lam
Read More

Sunday, June 3, 2018

SEDANG PUASA, BERCUMBU DAN BERCIUMAN. BATALKAH?

June 03, 2018 0


Tarbiyah.Online - Titik kesepakatan ulama dalam hal ini adalah keabsahan puasa seseorang yang dicium atau mencium dan mencumbui istrinya yang tidak membuat spermanya keluar akibat rangsangan yang dirasakannya. Sedangkan bila hal tersebut membuatnya terangsang dan mengakibatkan spermanya keluar maka puasanya menjadi batal. Adapun riwayat dari beberapa sahabat Nabi yang melarang melakukan hal demikian adalah lantaran mempertimbangkan terjerumusnya seseorang pada melakukan yang halal dalam kondisi haram, yakni berhubungan dengan istri di siang Ramadhan.

Berikut keterangan dari beberapa sahabat radhiyallâhu ‘anhum;

Umar Ibn al-Khatthab radhiyallâhu ‘anhu;

إن عاتكة ابنة زيد بن عمرو بن نفيل امرأة عمر بن الخطاب كانت تقبل رأس عمر بن الخطاب وهو صائم فلا ينهاها
Sesungguhnya ‘Atikah bint Zaid Ibn ‘Amr Ibn Nufail, istri Umar Ibn al-Khatthab mencium kepada Umar Ibn al-Khatthab ketika ia sedang berpuasa, dan Umar tidak mencegahnya
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.292, no.643)

Ali Ibn Abi Thalib karramallâhu wajhah;

عن علي، قال: لا بأس بالقبلة للصائم
Dari Ali, ia berkata bahwa tidak mengapa orang yang berpuasa melakukan ciuman
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.59, no.9458)

Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallâhu ‘anhâ;

عن أبي النضر مولى عمر بن عبيد الله أن عائشة بنت طلحة أخبرته أنها كانت عند عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم فدخل عليها زوجها هنالك وهو عبد الله بن عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق وهو صائم فقالت له عائشة ما يمنعك أن تدنو من أهلك فتقبلها وتلاعبها؟ فقال: أقبلها وأنا صائم؟ قالت نعم
Dari Abu al-Nadhr (pelayan Umar Ibn Ubaidillah), bahwa Aisyah bint Thalhah mengabarinya bahwa ketika ia bersama Aisyah istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, datanglah suaminya (Abdullah Ibn Abdurrahman Ibn Abi Bakr al-Shiddîq) yang sedang berpuasa. Lalu Aisyah (ummul mu’minin) berkata; Apa gerangan yang membuatmu tidak ingin mendekati istrimu untuk mencium atau bermesraan dengannya? Abdullan menjawab: Apakah saya dapat menciumnya saat puasa? Tentu, jawab Aisyah
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.292, no.644)

Abu Hurairah, Sa‘d Ibn Abî Waqqâsh dan Sa‘d Ibn Malik radhiyallâhu ‘anhum;

إن أبا هريرة وسعد بن أبي وقاص كانا يرخصان في القبلة للصائم
Sesungguhnya Abu Hurairah dan Sa‘ad Ibn Abi Waqqash membolehkan ciuman bagi orang yang berpuasa
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.292, no.645)

عن زيد بن أسلم قال: قيل لأبي هريرة: تقبل وأنت صائم؟ قال: نعم، وأكفحها، -يعني يفتح فاه إلى فيها- قال: قيل لسعد بن مالك: تقبل وأنت صائم؟ قال: نعم وأخذ بمتاعها
Dari Zaid Ibn Aslam, ia berkata: Abu Hurairah ditanya: Anda mencium istri ketika puasa? Ia menjawab: Iya, bahkan sama-sama mempertemukan bibir. Zaid Ibn Aslam berkata lagi bahwa Sa‘d Ibn Malik pernah ditanya: Anda mencium istri ketika puasa? Ia menjawab: Iya, saya pun menikmatinya
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.185, no.7421)

عن سعيد المقبري أن رجلا سأل أبا هريرة، فقال: رجل قبل امرأته وهو صائم، أأفطر؟ قال: لا، قال: فغيرها؟ قال: فأعرض أبو هريرة
Dari Sa‘id al-Maqbari, suatu ketika seseorang bertanya kepada Abu Hurairah tentang seorang suami yang mencium istrinya apakah batal? Ia menjawab: Tidak. Orang itu bertanya lagi: Bagaimana kalau mencium perempuan yang bukan istri? Maka Abu Hurairah langsung berpaling
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.185, no.7422)

Abdullah Ibn Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ;

إن عبد الله بن عباس سئل عن القبلة للصائم فأرخص فيها للشيخ وكرهها للشاب
Abdullah Ibn Abbas pernah ditanya tentang ciuman bagi orang yang berpuasa, maka beliau membolehkan bagi orang yang sudah tua dan memakruhkan bagi yang masih muda
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.293, no.648)

عن عطاء قال سمعت ابن عباس يسئل عن القبلة للصائم فقال: لا بأس بها إن انتهى إليها، فقيل له: أفيقبض على ساقها؟ قال أيضا: اعفوا الصائم لا يقبض على ساقها
Dari ‘Atha’, ia berkata: Aku mendengar Ibn Abbas ditanya tentang ciuman bagi orang yang berpuasa. Ia menjawab: Tidak mengapa (tidak batal) bila hanya sampai disitu saja. Ia ditanya lagi: Apakah boleh memeluk/mengusap betisnya (istri)? Ia menjawab: Hendaklah orang yang berpuasa menahan dirinya, jangan sampai melakukan itu pada betisnya
(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.184, no.7413)

Abdullah Ibn Umar radhiyallâhu ‘anhuma;

إن عبد الله بن عمر كان ينهى عن القبلة والمباشرة للصائم
Abdullah Ibn Umar melarang berciuman dan bercumbu bagi orang yang sedang berpuasa
(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.293, no.649)
Dan beberapa sahabat lainnya seperti Abdullah Ibn Mas‘ud, Abu Sa‘id al-Khudri, Hudzaifah, dll, radhiyallâhu ‘anhum.

Berikut keterangan ijma‘ ulama mazhab;

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Habib al-Mawardi al-Bashri (w.450H);

أما إن وطئ دون الفرج أو قبل أو باشر فلم ينزل فهو على صومه لا قضاء عليه ولا كفارة، وإن أنزل فقد أفطر ولزمه القضاء إجماعا
Suami yang mencumbui istrinya yang tidak sampai pada berhubungan, ataupun melakukan ciuman dan bermesraan tanpa ada sperma yang keluar, maka puasanya tetap sah, tidak ada yang perlu diqadha, apalagi kafarat. Namun jika spermanya keluar, maka puasanya batal dan wajib diqadha berdasarkan ijma‘
(Al-Mawardi, Al-Hawi al-Kabir Syarh Mukhtashar al-Muzani, vol.3, hal.945)

Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);

ولا يخلو المقبل من ثلاثة أحوال : أحدها أن لا ينزل فلا يفسد صومه بذلك لا نعلم فيه خلافا ... الحال الثاني : أن يمني فيفطر بغير خلاف نعلمه
Ada tiga kondisi yang dapat dialami oleh orang yang melakukan ciuman : (1) Mencium tanpa sampai mengeluarkan sperma, maka puasanya tetap sah tanpa ada perbedaan pendapat yang kami ketahui. (2) Sampai mengeluarkan sperma, maka puasanya batal tanpa ada perbedaan pendapat yang kami ketahui
(Ibn Qudamah, al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Kharqî, vol.3, hal.336)

Al-Imam Abu al-Abbas Ahmad Ibn Idris Ibn Abdirrahman al-Qarrafi (w.684H);

لا يعلم خلاف في عدم تحريم المباشرة للانسان امرأته بعد الفجر
Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat ulama tentang tidak diharamkannya bercumbu dengan istri setelah fajar
(Al-Qarrafi, al-Dzakhîrah, vol.2, hal.504)

Wallahu a'lam


Read More