TARBIYAH ONLINE: hikmah

Terbaru

Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Wednesday, April 3, 2019

Hikmah Shalat Maktubah yang Jumlahnya 17 Raka'at

April 03, 2019 0

Tarbiyah.Online | Shalat wajib lima waktu atau yang sering disebut dengan shalat maktubah juga shalat mafrudhah yang berarti shalat yang wajib dikerjakan, fardhu 'ain. Wajib disini bermakna wajib syar'i. Yakni, mendapat pahala ketika dikerjakan dan berdosa jika ditinggalkan.

Masing-masing shalat maktubah ini memiliki jumlah raka'at yang bervariasi. Dan jika dikalkulasikan bilangan raka'atnya maka jumlahnya ada tujuh belas (17raka'at.

Nah, pernahkah Anda bertanya kenapa shalat maktubah itu harus berjumlah lima waktu? Atau kenapa jumlah raka'atnya berbeda? Atau kenapa sehingga jumlah keseluruhan raka'atnya ada tujuh belas?

Jika tiga pertanyaan ini pernah terlintas di benak Anda, maka jawabannya adalah "fata'abbudy". Demikian jawaban simple dari Imam Syaikh Syihabuddin Al-Qulyuby dalam sebuah hasyiahnya.

Ta'abbudy itu sendiri berarti "Melakukan suatu ibadat semata-mata karena Allah tanpa didasari oleh alasan tertentu", red.

Pun demikian, terkait tujuh belas raka'at dari jumlah keseluruhan shalat maktubah, beliau, Imam Al-Qulyuby melanjutkan bahwa sebagian Ulama telah menyebutkan hikmah di sebaliknya. Yakni, dalam satu hari (24 jam) manusia berada dalam keadaan terjaga (yaqdhah) selama 17 jam. Dengan rincian 12 jam pada waktu siang hari, sekitar 3 jam pada awal waktu malam, dan 2 jam pada penghujung malam (menjelang subuh).

Maka (hikmahnya adalah) setiap satu raka'at shalat maktubah dapat menghapus dosa yang terjadi dalam durasi satu jam. Alhasil, tujuh belas (17raka'at shalat maktubah yang kita kerjakan dapat menghapus dosa yang terjadi dalam durasi tujuh belas jam dalam satu hari, insyaAllah.

Subhanallah. Demikianlah hikmahnya.

Tetapi jangan lupa, perlu digarisbawahi bahwa dosa yang diampuni disini hanyalah dosa-dosa kecil, tidak dengan dosa besar, tidak pula dengan dosa terhadap manusia. Karena dosa besar hanya bisa terhapus dengan tetesan air mata taubat nasuha, dan dosa sesama manusia hanya bisa terhapus dengan meminta maaf kepada manusia.

Kecuali itu, meninggalkan shalat maktubah adalah dosa besar. Dan orang yang tidak shalat sama derajatnya dengan binatang "ghairu muhtaram" alias binatang yang tidak terhormat. Dimana dalam kasus terntentu misalkan ketika sedang berlayar di tengah samudera, sedang kapal hampir karam karena kelebihan muatannya, maka orang yang tidak melakukan shalat lah yang harus didahulukan untuk disingkirkan, atau dilempar ke lautan hidup-hidup, guna menyelamatkan yang lainnya. (Adak surah lam kapai yang ineuk ngop karna leubeh muatan, maka "ureung hana seumayang" phon yang wajeb tatiek lam laot).

Dikutip dari kitab Mahli (Hasyiah Qulyubi) oleh Tgk. Muhammad Yusuf Aree, S.Sos.
Pengajar di Dayah Ummul Ayman, Samalanga.
Read More

Saturday, April 14, 2018

MI'RAJ TIDAK MENUNJUKKAN ALLAH BERTEMPAT DI LANGIT

April 14, 2018 0
Tarbiyah.OnlineBeberapa teman dari kalangan Salafi/ Wahabi menuliskan beberapa status di berbagai sosial media yang mereka punya dengan makna yang hampir senada, "Isra' dan Mi'raj diperingati, tapi Allah di Langit diingkari."


Nah, dengan diketemukannya beberapa suara dan tulisan yang menurut kami merupakan sebuah syubhat baru -sejauh yang kami ketahui- yang disasarkan oleh teman-teman Salafi ini, teman-teman dari santri Aswaja, terutama komunitas pemuda Raisul Fata dan At-Thalib meminta kepada kami untuk menuliskan sedikit tulisan, bisa berupa pengumpulan kutipan dalil-dalil, perkataan ulama atau pun juga bantahan analogi. Karena syubhat baru ini dinilai perlu direspon walau selakadar.

Pertama, hal yang ingin kita sampaikan adalah, kita belum menemukan dalil tentang mukjizat peristiwa Isra' dan Mi'raj digunakan sebagai dalil yang menyatakan Allah SWT di langit.

Klaim atau syubhat ini tidak diketemukan di zaman sebelumnya -sejauh pengetahuan kami-, jika tidak pasti ia telah menjadi perbincangan ulama dalam memberi bantahan. Selama ini kaum Salafi/Wahabi selalu berkutat dengan dalil Surah Thaha ayat 5 dan hadits Nabi tentang seorang wanita yang ditanya oleh Nabi tentang Allah SWT lalu dijawab di Langit.

Mengenai klaim tafsiran berdalilkan Ar-Rahman 'Alal 'Arsyi istawa dan hadits tersebut, sungguh telah diuraikan dengan sangat panjang lebar oleh Ulama Ahlussunnah Al Jama'ah, baik dari sisi bahasa, perbandingan serta penggabungan berbagai ayat dan hadits yang dijadikan dalil, dengan takwilan yang tidak mengotori sifat kesucian Allah SWT.
 
Kedua, jika memang syubhat tersebut masih terus disasarkan kepada kaum muslimin secara liar, maka perlu kita tanggapi sedikit. Bahwasanya, dalam sejarah peristiwa luarbiasa yang disebut dengan Isra dan Mi'raj, tidak ada satupun ulama yang menyatakan Allah berada di Sidratul Muntaha (di luar lapisan langit ketujuh, tempat tertinggi yang bahkan Jibril, Mikail dan Israfil pun tidak bisa mendekatinya). Melainkan itu adalah tempat dimana Nabi SAW menerima wahyu tentang syari'at shalat 5 waktu dalam sehari semalam.

Adapun riwayat yang menceritakan tentang bolak-baliknya Nabi Muhamad SAW ketika bernegosiasi (dari 50 waktu awalnya menjadi 5 waktu) di langit ketiga ketika menjumpai Nabi Musa AS, sungguh tidak bisa serta merta dijadikan dalil Allah bertempat. Melainkan, Rasulullah kembali ke tempat yang mulia itu, karena disanalah tempat yang seharusnya Nabi Muhammad SAW menerima wahyu berupa (belas kasih sifat Rahiim Allah) jawaban atas kegundahan dan permintaan hati Rasulullah SAW demi umatnya.


Kenapa demikian?
Hal ini senada dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Musa AS ketika naik ke atas bukit Tursina yang amat sangat terjal, lalu memohon kepada Allah untuk membuka hijab pandangannya (Musa AS) agar bisa melihat wujud Allah SWT (hingga detail riwayat, gunung meleleh dalam sekejap karena tidak mampu menahan cahaya Allah yang Agung padahal masih terhijab dengan puluhan hijab (ghaib) Musa AS mendapatkan 10 ajaran utama dalam syari'atnya). Riwayat dan kisah Nabi Musa AS yang berbicara dengan Allah SWT di bukit Tursina, tidak menjadikan Tursina sebagai tempat yang ditempati oleh Allah SWT.

Sama halnya juga dengan kisah Nabi Ibrahim yang disebutkan dalam Al Quran kisah agungnya, ketika ia ditanya hendak kemana, ia menjawab hendak bertemu dengan Rabb nya, Allah SWT. Padahal, pada pandangan kasat mata, ia beranjak ke Palestina, dimana Baitul Maqdis berada saat ini. -Q.S Ash-Shaffat:99-. Bukankah Baitul Maqdis juga tidak dikatakan dimana Allah bertempat dan bersemayam. Demikian juga dengan Ka'bah Baitullah yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai rumah Allah. Dan rumah adalah tempat dimana penghuninya tinggal disana.

Demikian, pemaknaan terhadap dalil, harus mengacu kepada kaidah memaknai dalil -tafsir- yang tepat. Ia tidak bisa berada sendiri, atau direka-reka sesuka hati.

Ada masanya, akal bisa dijadikan dalil. Namun dalil 'aql (akal) dituntut tidak boleh bertentangan dengan dalil naql (khabar: ayat quran dan sunnah). Dalam keilmuan ahlussunnah wal jama'ah kajian tauhid dan kalam telah dirumuskan dengan sangat rapi tanpa cacat melalui Sifat 20 atau I'tiqad 50, dimana akal dan khabar berjalan beringan dan saling menguatkan.

Maka dari itu, syubhat yang menyatakan Isra' dan Mi'raj adalah dalil bagi Allah mengambil tempat di langit telah tertolak dengan ayat-ayat yang menceritakan mukjizat Nabi Musa AS di Tursina, dan perjalanan Nabi Ibrahim AS ke Baitul Maqdis.

Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah meyakini Allah Ada Tanpa Bertempat. Karena baginya Laitsa Kamitslihi Syaiun (Tidak Serupa Bagaimana di (sesuatu pun) dengan apa pun)

Wallahu 'alam bish-shawab.
Read More