TARBIYAH ONLINE: Ulama Nusantara

Terbaru

Showing posts with label Ulama Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Ulama Nusantara. Show all posts

Monday, February 3, 2020

Kenal Ulama: Biografi Singkat Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf

February 03, 2020 0

Ulama Nusantara | Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf, beliau adalah seorang Habib kelahiran Solo 20 September 1961. Beliau merupakan putra dari Habib Abdul Qadir bin Abdurrahman Assegaf seorang yang alim nan tawadhu’.

Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf sedari kecil dulu sudah terbiasa menguras samudra keilmuan dari guru terbesarnya yang tidak lain adalah ayahnya. Ayah Habib Syekh memiliki 16 putra, dan Habib Syekh lah salah satunya.

Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf mengenyam pendidikannya tidak dengan bermukim disuatu pondok, namun ia belajar secara istiqamah di masjid Assegaf, Wiropaten, Pasar kliwon Solo. Setelah ba’da maghrib menjelang isya. Beliau selalu mengabdi dengan merawat masjid pada usia-usia SD nya, mulai dari menyapu, mengepel dan membersihkan masjid.

Ayahnya bukanlah seorang yang terkenal dan juga masyhur, namun sang ayah adalah orang yang sangat mencintai masjid. Dalam keadaan apapun Habib Abdul Qadir selalu berusaha untuk mengimami. Hingga pada akhir usianya, beliau diwafatkan oleh Allah dalam keadaan bersujud pada saat shalat jum’at terahir, wafat dalam keadaan yang sangat mulia, yang di impi-impikan oleh hampir seluruh kaum muslimin.

Setelah ayahnya wafat, Habib Syekh dibimbing oleh paman beliau yaitu Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang berasal dari Hadramaut. Beliau membimbing Habib Syekh bukan dengan hal yang lazim dilakukan oleh seorang guru kepada murid.

Pasalnya beliau membimbing Habib Syekh dengan cara mencaci, dan menyalahkan Habib Syekh padahal dia tidak melakukan kesalahan, bahkan hal itu hampir membuat Habib Syekh tidak kuat. Namun pada akhirnya Habib Syekh tahu bahwa itu merupakan suatu pendidikan untuk membentuk mental yang kuat terhadap dirinya.

Selain pamannya, Habib Syekh juga mendapatkan pendidikan dan perhatian oleh Habib Muhammad Anis bin Alwy Al-Habsyi seorang yang Arifbillah ia merupakan imam masjid Riyadh dan pemegang maqom al Habsyi.

Dari guru-gurunya itulah ia mempelajari islam yang ramah, yang penuh dengan cinta hingga sampai sekarang dakwah-dakwahnya bertajukan dakwah Mahabaturrasul. Dengan selalu melantunkan sholawat dan qasidah-qasidah yang membuat pendengarnya merasakan ketenangan dan kebahagiaan juga menambah cinta dengan Rasulullah.

Habib Syekh merupakan seorang yang istiqamah terbukti dari masjlisnya yang berdiri sejak tahun 1998 hingga sampai sekarang masih tetap eksis yaitu Majlis Ahbabul Mustafa yang dalam rutinannya diikuti oleh ribuan masyarakat.

Sebelumnya majlis Ahbabul Mustafa didirikian majlis ini berupa majlis Rotibul Hadad, Burdah dan maulid simtut duror yang berada di kampung Metodranan kota Solo. Adapun rutinan dari majlis Ahbabul Mustafa yaitu:

Setiap Malam Sabtu Kliwon di Purwodadi tepatnya Masjid Agung Makmur Purwodadi Setiap Malam Rabu Pahing di Kudus tepatnya Halaman Masjid Agung Kudus Setiap Malam Sabtu Legi Jepara di Halaman Masjid Agung Jepara Setiap Malam Minggu Pahing di Sragen tepatnya Masjid Assakinah, Puro Asri, Sragen Setiap Malam Jumat Pahing di Jogja tepatnya Halaman PP Minhajuttamyiz, Timoho di belakang Kampus UIN Sunan Kalijaga Setiap Malam Minggu Legi di Solo tepatnya Halaman Masjid Agung Surakarta.

Sudah banyak sekali shalawat dan qasidah-qasidah yang dibawakan oleh Habib syekh dan juga sudah banyak album-album rekaman yang dapat diakses melalui kaset maupun lewat kanal youtube.

Dalam pembawaannya, Habib Syekh menggunakan rebana sebagai pengiring shalwatnya, dan hal itu lebih sering pada saat acara live, sedangkan jika pada rekaman-rekaman beliau lebih sering menggunakan alat musik modern dan dipadukan dengan rebana. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan kekuatan untuk terus berdakwah dengan cara lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang.

Oleh Lukman Hakim Hidayat, Alumni Al-Iman Islamic Boarding School Purworejo
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Thursday, January 23, 2020

Kenal Ulama: Abu Usman Fauzi, Ulama Kharismatik Nusantara Asal Aceh

January 23, 2020 0

Ulama Nusantara | Abu Usman Fauzi bernama lengkap Tgk. H. Teuku Usman Al-Fauzi Bin Tgk. Teuku Muhammad Ali. Beliau juga akrab disapa dengan sebutan Abu Lueng Ie. Sedangkan Lueng Ie itu sendiri merupakan nama laqab tempat ia tinggal, yakni Desa Lueng Ie, Aceh Besar.

Dikarenakan beliau berasal dari golongan ninggrat yang di Aceh sering disebut dengan Teuku atau Ampon, maka gurunya yakni Abuya Muda Waly sering memanggilnya dengan sapaan Ampon.

Al-Fauzi merupakan laqab yang diberikan oleh Abuya Muda Waly. Abuya mengartikan al-Fauzi sebagai orang yang kuat menghadapi cobaan dan tantangan.

Abuya Muda Waly memberi gelar tersebut kepada Abu Lueng Ie lantaran beliau memang pantas menyemat laqab tersebut, sebab beliau berhasil melewati bermacam tantangan hidup, terutama ketika masih belajar kepada Abuya di Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Kelahirannya

Abu Usman Fauzi lahir di Desa Cot Cut pada tahun 1919, sekitaran Desa Cot Iri, Aceh Besar dan meninggal dunia pada tahun 1992 di Banda Aceh dalam usia 72 tahun. Ayahnya bernama Tgk. Teuku Muhammad Ali. Namun masyarakat mengenal dengan sebutan Teuku Nyak Ali.

beliau berasal dari kalangan Teuku (bangsawan/niggrat), sehingga pada masa kanak-kanak dan remaja mampu bersekolah di sekolah favorit pada masanya, sehingga wajar-wajar saja Abu Usman Fauzi mampu menguasai beberapa bahasa Asing baik Inggris dan lainnya.

Awalnya Abu Usman Fauzi adalah seorang veteran pada masa penjajahan di usia dewasanya, beliau bertugas untuk mengawal para Ulama pada acara-acara penting.

Suatu saat ketika Abu Usman Fauzi sedang mengawal Abuya Mudawaly, Abu Usman melihat sosok Abuya yang sangat menakjubkan dan wajahnya begitu beraura, sehingga Abu Usman tertarik hatinya untuk dapat terus mengikuti Abuya dan berguru padanya.

Keinginan beliau semakin hari semakin menjadi-jadi, Cita-cita dan keinginannya agar dapat menuntut ilmu ke Dayah Darussalam Labuhan Haji pun semakin meningkat.

Walaupun pada awalnya ada suatu hal yang mengganjal, ketika bermusyawarah dengan ibu, Abu tidak diizinkan untuk pergi menuntut ilmu ke Labuhan Haji, karena sangat jauh dan pun beliau merupakan putra semata wayang.

Walaupun sudah beberapa kali diminta sang Ibupun tidak juga megizinkan, sampai akhirnya, Abuya mengambil sikap bahwa Abu Lieng Ie harus ikut Abuya Muda Waly untuk menuntut ilmu di dayah Labuhan Haji walaupun sang ibu tidak merestuinya.

Kiprahnya

Setelah Abu Lueng Ie menuntut ilmu di Darussalam Labuhan Haji kurang lebih selama delapan tahun, beliau kemudian sempat menjadi guru di Dayah Kalee Pidie selama 3 tahun.

Akan tetapi ini tidaklah bertahan lama karena Abu berkeinginan untuk mendirikan dayah (pesantren) sendiri yang kemudian diberi nama dengan Dayah Darul ‘Ulum sekitar tahun 1960 di Desa Lueng Ie.

Dayah Darul ‘Ulum tersebut kemudian berkembang pesat, banyak murid-murid yang berdatangan untuk menimba ilmu disana dan berhasil mencetak kader-kader Ulama sekitarnya.

Disamping perannya sebagai pimpinan dayah,  Abu Usman Fauzi rahimahullah juga merupakan seorang Mursyid dalam thariqat naqsyabandiyyah yang luar biasa perkembangannya dan sangat banyak pengikut thariqat tersebut di Aceh bahkan didunia saat ini.

Dari karena itu, beliau kemudian memiliki banyak murid dan pengikut, bahkan hampir di setiap wilayah dalam kabupaten di propinsi paling ujung itu terdapat pengikutnya.

Wafatnya

Abu Usman Fauzi rahimahullah meningal dunia pada hari jum’at tahun 1992 di Rumah Sakit Kesdam setelah sebelumnya sempat dirawat di RSUD Zainal Abidin. Sebagaimana cita-cita semua ummat Islam, meninggal di hari Jumat adalah sebuah harapan indah. Makanya dalam zikir suluk selalu dipanjatkan doa agar meninggal hari Jumat bulan Ramadan. Teryata Allah memperkenankan doa Abu selama ini.

Sebelum beliau wafat, Desa Lueng Ie sedang dalam kondisi kemarau. Panas terik matahari membuat masyarakat setempat malas keluar rumah. Pohon-pohon pun terlihat layu dan kering dan tanah pun tampak gersang.

Setelah  Abu meninggal, alam sekitar langsung berubah drastis. Langit seakan menangis histeris. Hujan deras terus membasahi tanah Lueng Ie dan sekitarnya.

Derasnya hujan berlangusung hingga beberapa hari. Ditambah lagi dengan angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar yang. Seolah-olah alam berpesan kepada penghuninya, bahwa kepergian Abu adalah musibah bagi dunia.

Para murid dan masyarakat dari berbagai daerah di Aceh mulai mendatangi rumah duka. Kepergian Abu membuat keluarga dan anak-anaknya sedih. Muridnya merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Sepertinya sulit sekali mencari pengganti sekaliber Abu Usman Fauzi atau yang kerap disapa Abu Lueng Ie ini.

Demikian biografi Abu Usman Fauzi yang sangat singkat ini, semoga menambah wawasan bagi para pembaca.  Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosa Almarhum dan menempatkan beliau disisi-Nya, bersama para Nabi ‘alaihimusshalatu wassalam. Wallahua’lambisshawab!

[Referensi: Dari Berbagai Sumber]

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org

Read More

Monday, January 20, 2020

kenal Ulama: Teungku Fakinah, Ulama Perempuan Aceh dan Pejuang Kemerdekaan Indonesia

January 20, 2020 0

Ulama Nusantara | Bernama lengkap Teungku Fakinah binti Teungku Datuk, lahir di Desa Lam Beunot kabupaten Aceh Besar pada tahun 1856. Ibundanya  bernama Cut Fatimah (Cut Mah), anak dari Teungku Chik Lampucok atau Tgk Muhammad Saad.

Semenjak usia dini Tgk Fakinah sudah dididik dan diarahkan oleh orang tuanya dengan penuh kedisiplinan dan kesungguhan. Tidak hanya diajarkan membaca Al-Quran dan ilmu pengetahuan agama lainnya, orang tuanya juga mengajarinya pekerjaan keterampilan wanita lainnya seperti menjahit, membuat kerawang sutera dan kasab.

Ketika memasuki usia remajanya, Fakinah sudah menjadi seorang wanita yang alim lagi ahli kerawang. Oleh karena kealimannya itulah kemudian ia dipanggil oleh rekan-rekan dan masyarakat sekitar dengan sebutan Teungku Fakinah atau Teungku Faki.

Kiprahnya Untuk Agama dan Tanah Air

Ketika Tgk Fakinah beranjak dewasa, sekitar tahun 1872, ia dinikahkan dengan seorang lelaki yang alim, bernama Tgk Ahmad, pemuda yang berasal dari desa Aneuk Glee, Indrapuri. Masyarakat Lam Beunot memanggil suami Tgk Fakinah dengan penuh rasa hormat yaitu dengan sebutan Tgk Aneuk Glee.

Tgk Aneuk Glee kemudian dibantu oleh sang mertua, yakni Tgk Datuk untuk mendirikan sebuah Dayah (Pesantren) di desa Lam Beunot yang juga mendapat dukungan dari masyarakat desa tersebut beserta Imam Mukim Lamkrak. Dayah tersebut kemudian berkembang pesat dan banyak didatangi oleh remaja dan pemuda –pemudi yang berasal dari berbagai daerah untuk belajar disana.

Pengajar disaat itu adalah Tgk Aneuk Glee untuk santri laki-laki, dan sang istri yakni Tgk Fakinah mengajar para santri perempuan. Tgk Fakinah tidak hanya mengajarkan ilmu agama kepada para santriwati, akan tetapi ia juga mengajarkan mereka berbagai keterampilan seperti jahit-menjahit, membuat kerawang dan lain sebagainya.

Namun ketika terjadi ekspedisi Belanda pertama ke Aceh pada tahun 1873, Suami Teungku Fakinah yaitu Tgk Aneuk Glee Syahid dalam suatu peperangan demi menghadang laju penjajah Belanda di Aceh.

Setelah menjanda, Tgk Fakinah tetap terus memusatkan perhatiannya untuk membantu memerangi para penjajah Belanda. Saat itu Tgk Fakinah membentuk Badan Amal Sosial yang beranggotakan perempuan dan janda.

Anggota Badan Sosial ini sangat giat dalam mengumpulkan sumbangan perbekalan dari rakyat berupa padi dan uang. Sebagian dari anggotanya juga menjadi juru masak untuk para pejuang. Selain itu, ia juga mengomandoi pembentukan Kuta Pertahanan (Kuta Cot Weue).

Kuta ini khusus dibuat oleh perempuan, baik dalam hal membuat pagar, menggali parit dan memasang ranjau-ranjau. Semua itu dikerjakan oleh perempuan  yang dipimpin oleh Teungku Fakinah.

Setelah membentuk Kuta Cot Weue, pemuka masyarakat pada saat itu menyarankan agar Tgk Fakinah jangan tinggal sendirian (menjanda) dalam memperjuangkan tanah air yang sangat berat itu. Oleh karena itu Tgk Fakinah dinikahkan dengan seorang pemuda alim yang bernama Tgk Badai yang berasal dari desa Langa, Pidie. Tgk Badai adalah salah seorang alumni dayah Tertua di Aceh, Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar.

Perkawinan ini pun ternyata juga tidak berlangsung lama, dikarenakan sang suami tercinta syahid dalam medan peperangan melawan penjajah Belanda.

Dalam mempertahankan Agama dan tanah air, Tgk Fakinah ternyata menjalin ikatan yang kuat dengan seorang wanita pejuang Aceh yang sangat terkenal, yakni Cut Nyak Dhien. Namun hubungan ini pernah sedikit terganggu karena adanya kabar bahwa suami Cut Nyak Dhien, Teuku Umar (diduga) membelot kepada Belanda (walau sebenarnya itu hanya pura-pura demi memata matai para penjajah-pen).

Kendati demikian pada akhirnya hubungan mereka kembali akrab seperti semula, setelah mengetahui kebenarannya dan kembalinya Teuku Umar ke pihak rakyat Aceh dengan segudang senjata dan informasi penting yang berhasil dicuri dari pihak penjajah.

Setelah sebahagian wilayah Seulimum dapat dikuasai Belanda, Tgk Fakinah mengungsi ke Lamno. Lalu pindah ke Tangse dan sekaligus membangun tempat tingal di Blang Peuneuleun.

Pada tanggal 21 Mei 1910, atas permintaan Tgk Panglima Polem Muhammad Daud, Tgk Fakinah dihimbau untuk dapat kembali ke kampung halamannya untuk membuka kembali dayah yang pernah dibangunnya. Dan akhirnya ia pun kembali pulang ke kampung halamannya pada tahun 1911. Kemudian kembali membuka pengajian di dayah tersebut, sehingga ramailah para penuntut ilmu yang berdatangan dari berbagai daerah.

Akhir Hayatnya

Sekitar tahun 1914, Teungku Fakinah berkeinginan untu menunaikan ibadah haji, namun karena tidak ada muhrim yang menemani, akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang lelaki yang bernama Ibrahim. Pada bulan Juli 1915 mereka berdua berangkat ke Tanah suci untuk menunaikan Haji. Selesai melaksanakan Ibadah Haji, Tgk Fakinah masih menetap di Mekkah untuk memperdalam ilmu fikih.

Setelah tiga tahun lamanya di Mekkah, ketika memasuki tahun keempat, suami Tgk Fakinah, H. Ibrahim meninggal dunia. Maka pada tahun 1918 Teungku Fakinah memutuskan untuk kembali ke Aceh.

Sepulangnya dari Mekkah, Teungku Fakinah kembali menetap di kampung halamannya dan memimpin kembali dayah yang sudah lama ia tinggalkan itu dengan mengajarkan ilmu yang diperolehnya selama belajar di Mekkah. Namun setelah beberapa tahun mengajar di dayah tersebut, ajal pun datang menjemput. Teungku Fakinah meninggal dunia pada tahun 1938 di Mukim Lamkrak kampung halamannya.

Demikian biografi singkat Ulama sekaligus Pejuang Kemerdekaan dari kalangan Wanita asal Aceh yang sampai saat ini masih sangat harum namanya. Semoga Allah SWT menerima segala amalannya dan mengampuni segala dosanya dan menempatkan Teungku Fakinah di sebaik-baik tempat, yakni disisi-Nya. Wallahua’lambisshawab!

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Friday, January 17, 2020

Kenal Ulama: Abon Aziz Samalanga, Ahli Mantiq Pengkader Ulama Aceh Abad Ini

January 17, 2020 0

Ulama Nusantara | Abu Aziz Samalanga bernama lengkap Teungku/Tgk Abdul Aziz bin Tgk Muhammad Shaleh bin Tgk Abdullah. Ibunda beliau bernama Tgk Hj. Halimah binti Makam bin Keuchik Lamblang Jeunib. Samalanga di Ujung nama beliau adalah dinisbahkan kepada kecamatan tempat kelahirannya.

Tgk. H Abdul Aziz atau kerap disapa Abu Aziz atau Abon Aziz Samalanga ini lahir di desa Kandang kecamatan Samalanga Kabupaten Aceh Utara pada bulan Ramadhan tahun 1351 H.

Ayahanda beliau adalah seorang Ulama, tokoh masyarakat yang merupakan salah seorang pendiri dayah Darul ‘Atiq Jeunib. Juga pernah menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan Jeunib, Aceh Utara. Sedang sang Ibunda adalah seorang guru agama di pesantren Jeunib.

Masa-masa kecil Abu Aziz lebih banyak dilaluinya di Jeunieb, Desa Ibundanya. Setelah beranjak dewasa, beliau menikah dengan perempuan yang bernama Tgk Hj. Fatimah, putri dari seorang Ulama yang bernama Tgk H. Hanafiah atau lebih dikenal dengan sebutan Tgk di Ribee. Dari perkawinan tersebut mereka dikaruniai lima orang anak.

Latar Belakang Pendidikannya

Abu Aziz Samalanga menempuh pendidikan sekolah umum di Sekolah Rakyat (SR) selama tujuh tahun dan menamatkannya ditahun 1945, disaat itu beliau juga belajar di dayah Ayahnya yakni Dayah Darul ‘Atiq Jeunib.

Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya selama dua tahun di Dayah Mesjid Raya Samalanga yang saat itu dipimpin oleh Tgk. H. Muhammad Hanafiah. Setelahnya beliau melanjutkan  pendidikannya  ke dayah Matang Kuli yang dipimpin oleh Tgk. Ben (Tgk Tanjungan) pada tahun 1948. Di dayah ini beliau belajar pada seorang guru yang bernama Tgk. Idris Tanjungan sampai dengan tahun 1949.

Kemudian beliau pun kembali  ke pesantren Mesjid Raya Samalanga, lalu mengabdi disana menjadi seorang guru.

Namun karena ketidak puasan beliau terhadap ilmu pengetahuan yang masih secuil pada dirinya, beliau memutuskan untuk kembali merantau mencari ilmu, dengan berangkat ke Dayah Darussalam Labuhan Haji yang dipimpin oleh seorang Ulama Kharismatik Yang Tersohor, Abuya Syekh Mudawaly Al-Khalidy. Di dayah ini Abu Aziz Samalanga mendami ilmu mantiq, tasawuf, nahu-sharaf, ilmu kalam, ilmu hadits, tafsir, ilmu ma’ani, balaghah dan lain-lain.

Kiprahnya Dalam Dunia Pendidikan

Setelah menetap di dayah Darussalam Labuhan haji selama 8 tahun, kemudian Abu Aziz pulang kembali ke tanah kelahirannya Samalanga pada tahun 1958. Mertuanya yang memimpin pesantren Mesjid Raya Samalanga pun meninggal dunia pada tahun itu. Oleh karenanya, Abu Aziz kemudian segera menjadi pimpinan di pesantren tersebut.

Semenjak berada dibawah pimpinan beliau, pesantren tersebut mengalami banyak perkembangan, dan perubahan-perubahan pun terjadi. Terutama menyangkut dengan kurikulum pendidikan yang semula hanya bermaterikan kitab-kitab arab (tradisional) kemudian disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Seperti penambahan ilmu Bahasa inggris dan beberapa bidang ilmu pengetahuan umum lainnya (modern). Sehingga kurikulum yang digunakan di pesantren ini nyaris sama dengan kurikulum di sekolah MAN pada masa sekarang ini. Dayah Mesjid Raya pun semakin lama semakin maju dan semakin banyak santri yang berdatangan untuk belajar di dayah ini.

Dalam memimpin dan membina murid-muridnya, Abu Aziz Samalanga berupaya dengan semaksimal mungkin agar mereka semua kelak dapat menjadi Ulama-ulama yang mandiri, berkualitas dan sanggup menghadapi tantangan zaman. Banyak santri-santrinya yang kelak menjadi Ulama dan membangun dayah di daerah masing-masing.

Meskipun Abu Aziz Samalanga tidak pernah menduduki jabatan di pemerintahan, namun beliau selalu memberi dukungan terhadap berbagai kebijakan pemerintah selama tidak bertentangan dengan  ajaran Islam.

Bahkan dalam hal-hal tertentu beliau mendukungnya seperti pembangunan sekolah-sekolah umum, berlakunya asas tunggal terhadap setiap organisasi politik dan lain sebagainya. Karena inilah beliau selalu menjalin persahabatan dengan pejabat di pemerintahan, bahkan murid-muridnya juga banyak yang menjadi pejabat pemerintah.

Akhir Hayatnya

Setelah mencapai usia lebih kurang 59 tahun, Abu Aziz Samalanga meninggal dunia. Tepatnya pada tanggal 15 April 1989 M, bertepatan dengan Jumadil Akhir 1409 H, dan dimakamkan di tanah kelahirannya Samalanga Kabupaten Aceh Utara (Saat ini Kabupaten Bireun).

Semoga Allah SWT menerima segala amalannya, mengampuni segala dosanya, dan menempatkan beliau disisi-Nya bersama para Nabi ‘alaihimusshalatu wassalam. Wallahua’lambisshawab!

[Referensi: Disarikan dari “Biografi Ulama Aceh Abad XX”, Jilid II Cet. ke-II, ditulis oleh Drs. Shabri A. dkk]

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Thursday, January 16, 2020

Kenal Ulama: Teungku Abu Bakar Aceh, Ulama Produktif Asal Aceh

January 16, 2020 0

Ulama Nusantara | Beliau bernama lengkap Prof. Dr. Tgk. H. Abu Bakar bin Tgk. H. Abdurrahman. Ayahnya berasal dari Peureumbeu, Aceh Barat, sedangkan ibunya bernama Hj. Naim, berasal dari Peulanggahan, Banda Aceh. Teungku Abu Bakar Aceh lahir dari keluarga Ulama di Peureumbeu, Aceh Barat pada tanggal 7 Rabiul Akhir 1327 H atau bertepatan dengan 28 April 1909 M. (Biografi Ulama Aceh Abad 19, Jilid 2, Cet. ke-2)

Beliau memiliki dua orang istri, dari istri pertama yang bernama Suwarni beliau dikarunian enam orang anak, sedangkan dari istrinya yang kedua tidak mempunyai anak.

Pendidikannya

Masa kecilnya lebih banyak dihabiskannya dengan belajar membaca Al-Quran pada orang tuanya ketimbang menghabiskan waktu dengan bermain. Disamping itu beliau juga memperdalam ilmu agama lainnya dari beberapa Teungku (Kiyai) di Desanya.

Semenjak kecil bakatnya sudah mulai menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Oleh karena itu ia juga sempat memperdalam ilmu agama pada Teungku H. Abdussalam Meuraxa dan di Dayah Manyang Tuanku Raja Keumala di desa Peulanggahan, Banda Aceh, setelah lulus dari Volkschool di Meulaboh.

Setelah mempelajari ilmu agama di Dayah-dayah di Aceh, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool Islamiyah di Sumatera Barat. Kemudian Teungku Abu Bakar Aceh berangkat ke Jakarta untuk menimba ilmu lainnya, khususnya dalam bidang ilmu Bahasa.

Cakrawalanya semakin terbuka semenjak berada di Jakarta. Disana beliau berinteraksi dengan berbagai orang serta bersentuhan dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Beliau sangat menyadari bahwa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, mestilah menguasai Bahasa asing, khususnya Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Karena itulah beliau memutuskan untuk mendalami berbagai Bahasa asing selama berada di Jakarta, melalui kursus-kursus yang ada disana kala itu. Sehingga akhirnya beliau dapat menguasai beberapa Bahasa asing seperti Arab, Inggris dan Belanda.

Teungku Abu Bakar Aceh masih sangat haus akan ilmu pengetahuan, sehingga beliau pun berusaha untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah sekaligus melaksanakan Ibadah Haji ke Baitullah Yang Mulia. Selama di Mekkah dan Madinah, beliau mengikuti orang tuanya dan sempat berkenalan dengan dengan beberapa Ulama besar disana dan mempelajari ilmu dari mereka.

Kiprahnya Untuk Agama dan Bangsa

Pengetahuannya yang luas dalam bidang ilmu agama Islam sebisa mungkin diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Teungku Abu Bakar Aceh pernah menjabat sebagai Departemen Agama Republik Indonesia dan hingga akhir hayatnya beliau menetap di Jakarta.

Sebelum menetap di Jakarta, beliau sempat terlebih dulu tinggal beberapa lama di Yogyakarta dalam rangka menjalani tugas sebagai pegawai Depag dan menimba ilmu pengetahuan disana. Dikarenakan dirinya yang berwibawa besar dan memiliki ilmu agama yang luas, beliau menjadi pemimpin masyarakat Aceh di Yogyakarta kala itu dan menjadi tempat bertanya seputar agama dan juga masalah lainnya.

Teungku Abu Bakar Aceh adalah Ulama yang produktif, hal ini bisa kita lihat dari berbagai karya tulisnya yang beliau sumbangkan untuk ummat dimasa yang akan datang. Diantara karya-karya beliau adalah:

Sejarah Al-Quranul Karim
Sejarah Mesjid
Sejarah Ka’bah
Riwayat Hidup Nabi Muhammad
Teknik Khutbah
Islam dan Kemerdekaan Beragama
Pengantar Ilmu Tarekat
Ibnu ‘Arabi Tokoh Tasawuf dan Filsafat Agama
Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf
Ilmu Fiqih Islam dalam Lima Madzhab
Perjuangan Wanita Islam
Ahlussunnah Wal-Jama’ah
Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia
Ilmu Ketuhanan
Pendidikan Sufi
Islam Sumber Jihad dan Ijtihad
Syiah Rasionalisme dalam Islam
Tarekat dalam Tasawuf
Wasiat Ibn Arabi
dan lain-lain.

Suri tauladan yang baik yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta sikap kepekaannya dalam berbagai bidang kehidupan sosial masyarakat telah membuatnya menjadi orang yang dicintai oleh rakyat.

Dalam Setiap konflik, beliau juga selalu muncul sebagai salah seorang penengah yang bijak. Oleh karenanya, pemerintah daerah pernah mengundang beliau untuk menjadi penengah dalam penyelesaian “Peristiwa Aceh” tahun 1953.

Akhir Hayat

Sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT, setiap yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya maut. Teungku Abu Bakar Aceh rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 27 Muharram 1400 H, bertepatan dengan 17 Desember 1979.

Beliau meninggal dunia setelah beberapa waktu lamanya menderita sakit. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Karet Jakarta pada keesokan harinya, yakni 18 Desember 1979.

Demikian biografi singkat Ulama Nusantara asal Aceh yang dikagumi oleh Presiden Soekarno terkait keluasan ilmu pengetahuannya, yang kemudian Sang Presiden pertama RI tersebut  membubuhkan nama “Atjeh/Aceh” diujung nama Teungku Abu Bakar sehingga terkenallah beliau dengan sebutan “Teungku Haji Abu Bakar Aceh”. Sekian, semoga bermanfaat. Wallahua’lambisshawab!

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Tuesday, January 14, 2020

Kenal Ulama: Abu Hasan Krueng Kalee, Ulama Sufi Sekaligus Pakar Ilmu Falak Asal Aceh

January 14, 2020 0

Ulama Nusantara | Abu Hasan Krueng Kalee adalah salah seorang Ulama kharismatik Aceh, Tokoh Ulama Sufi sekaligus Pakar Ilmu Falakiyah, yang berperan penting dalam perkembangan Islam di Aceh. Beliau memiliki nama lengkap Teungku Muhammad Hasan bin Teungku Muhammad Hanafiyah.

Abu Hasan Krueng kalee lahir pada tanggal 13 Rajjab 1303 H/18 April 1886 M, di desa Meunasah Letembu, Langgoe Kabupaten Pidie. Saat itu ayah beliau yang merupakan pimpinan dayah Krueng Kalee sedang dalam pengungsian di daerah tersebut akibat perang dengan Belanda yang berkecamuk di wilayah Aceh Besar.

Pendidikan Abu Hasan Krueng Kalee

Setelah situasi mulai sedikit tenang, Muhammad Hasan kecil dibawa kembali oleh orang tuanya ke kampung halaman mereka di Krueng Kalee. Di sanalah perjalanan keilmuannya dimulai di bawah asuhan sang ayah, Tgk. Muhammad Hanafiyah yang lebih dikenal dengan panggilan Teungku Haji Muda. Selain itu ia juga belajar agama di Dayah Tgk. Chik di Keubok pada Tgk. Musannif yang menjadi guru pertama setelah ayahnya sendiri.

Ketika beranjak dewasa, Abu Hasan Krueng Kalee melanjutkan pendidikannya ke Malaysia, tepatnya di Negeri Yan, Kedah. Beliau berguru kepada Salah seorang Ulama Aceh yang turut mengungsi kesana akibat situasi perang, yakni Tgk. Chik Muhammad Irsyad Ie Leubeu.

Selanjutnya beliau berangkat ke Mekkah bersama dengan adik kandungnya, Tgk. Abdul Wahhab untuk melaksanakan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama. Namun setiba mereka di sana, adiknya tersebut meninggal dunia karena sakit.

Akan tetapi Hal tersebut tidak membuat Abu hasan patah semangat, ia tetap sabar dan teguh melanjutkan pendidikannya, belajar kepada para ulama besar Mesjid al-Haram hingga lebih kurang 7 tahun lamanya.

Selain belajar ilmu agama pada umumnya, ia juga mendalami ilmu falak dari seorang pensiunan jenderal kejaaan Turki Ustmani yang menetap di Mekkah. Hingga kemudian membuatnya ahli dalam bidang Falakiyah dan digelar dengan sebutan “Tgk. Muhammad Hasan Al-Asyie Al-Falaky.”

Kiprahnya Untuk Agama dan Bangsa

Sepulangnya dari Mekkah, Abu Hasan Krueng Kalee tidak langsung pulang ke Aceh, namun beliau terlebih dahulu menyempatkan diri tuk singgah di Pesantren gurunya Tgk. M. Irsyad Ie Leubeu di Kedah. Di pesantren ini Abu Krueng Kalee sempat mengajar beberapa tahun dan kemudian dijodohkan oleh gurunya dengan seorang gadis yatim yang juga keturunan Aceh bernama Nyak Safiah binti Husein.

Lalu Abu Hasan berangkat ke Meunasah Baro untuk mengajar di dayah pamannya, Tgk. Muhammad Sa’id. Tak lama kemudian beliau membuka pesantren sendiri di meunasah blang yang sekarang terletak di desa Siem bersebelahan dengan desa Krueng Kalee, Darussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Di Dayahnya inilah beliau mengabdikan segala ilmu yang telah diperolehnya hingga akhirnya berhasil mencetak kader-kader ulama yang berpengaruh dan berpencar ke seluruh Aceh. Seperti misalnya Tgk. H. Abdul Rasyid Samlako, Tgk. H. Sayid Sulaiman, Tgk. H. Mahmud Blang Bladeh, Tgk. H. Idris Lamreung, dan banyak lagi lainnya.

Abu  Hasan Krueng Kalee memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan agama di Aceh pada masa berikutnya. Begitu pula dengan kiprahnya dalam bidang politik yang telah memberi arti penting, dukungan dan semangat bagi kelangsungan Republik Indonesia yang ketika itu baru seumur jagung.

Kiprahnya Dalam Dunia Politik

Meskipun Abu Krueng Kalee seorang Ulama Sufi terkemuka di Aceh, namun beliau tetap berusaha untuk terjun dalam dunia politik. Misalanya dalam upaya untuk mengusir penjajah Belanda, beliau membentuk laskar mujahidin yang beranggotakan para santri dan masyarakat untuk mengusir kolonial Belanda dari tanah Serambi Mekkah.

Beliau juga memberikan dukungannya terhadap kemerdekaan Republik Indonesia ketika itu dengan menerbitkan “Maklumat Ulama Seluruh Aceh” pada tanggal 15 oktober 1945.

Maklumat tersebut berisikan tentang fatwa bahwa perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia adalah sama halnya dengan perjuangan suci yang disebut perang sabil/Jihad Fii Sabilillah, dan merupakan lanjutan dari perjuangan Aceh terdahulu seperti perjuangan Alm. Tgk. Chik Di Tiro, dan pahlawan-pahlawan kebangsaan lainnya.

Keluarnya Maklumat Ulama seluruh Aceh ini sangat memberi dampak positif bagi pemeritah baru RI saat itu dan munculnya semangat dukungan fisik dan materil dari rakyat Aceh untuk membiayai perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.

Sehingga tidak mengherankan, dalam kunjungan pertama Presiden Soekarno ke Aceh Juni 1948, ia menegaskan bahwa Aceh beserta segenap rakyatnya adalah modal utama bagi kemerdekaan RI.”

Sekitar tahun lima puluhan, Abu Hasan Krueng Kalee beserta beberapa tokoh lainnya memprakarsai lahirnya PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) di Aceh, kemduian beliau memimpin organisasi ini hingga tahun 1968.

Kiprah beliau dalam dunia politik terus berlanjut hingga pernah diangkat menjadi Dewan Konstituante pasca pemilu 1955 mewakili PERTI. Beliau Juga terus Istiqamah memberikan ilmu-ilmunya kepada masyarakat melaui konsultasi dan pengajian-pengajian.

Karyanya dalam Bidang Tasawuf

Abu Hasan Krueng Kalee Terkenal juga dengan Kesufiannya, beliau adalah orang pertama yang memperkenalkan sekaligus mengembangkan Thariqat al-Haddadiyah di Aceh, hal ini sesuai dengan keterangan yang dijelaskan dalam sanad thariqat.

Guna menyebarkan Thariqat tersebut, beliau menuliskan sebuah kitab panduan dalam Ilmu pengamalan thariqat al-Haddadiyah yang bernama “Risalah Lathifah Fi Adab adz-Dzikr wa al-Tahlil wa Kaifiyatu Tilawah al-Shamadiyah ‘ala Thariqat Quthb al-Irsyad habib Abdullah al-Haddad”.

Akhir Hayat

Abu Hasan Krueng kale rahimahullah meninggal dunia Pada malam Jum’at sekitar pukul 3 dini hari tanggal 19 Januari 1973. Beliau meninggalkan tiga orang istri, yakni Tgk. Hj. Nyak Safiah di Siem, Tgk. Nyak Aisyah di Krueng Kalee dan Tgk. Hj. Nyak Awan di Lamseunong.

Dari ketiga istri tersebut Abu Krueng Kalee Meninggalkan Tujuh belas orang putra dan putri. Salah seorangnya yaitu Tgk. H. Syech Marhaban yang sempat menjabat Mentri Muda Pertanian pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Demikian sekilas sejarah dan Biografi singkat Abu Hasan Krueng Kalee, Seorang Ulama Sufi Nusantara yang sangat terkenal. Ahli Ilmu Falak yang berasal dari Tanah Rencong. Semoga bermanfaat. Wallahua’lambisshawab!

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh | Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Tuesday, January 7, 2020

Kenal Ulama: Biografi KH Ali Mustafa Yaqub, Ulama Ahli Hadits Nusantara

January 07, 2020 0

Ulama Nusantara | Kyai Ali Mustafa Yaqub adalah satu dari sekian banyak ulama Indonesia yang muncul dari pedalaman kampung. Beliau lahir tanggal 2 Maret 1952 M di desa Kemiri, kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dari pasangan bernama Yaqub dan Siti Habibah.

Mengaitkan Kemiri dengan kyai Ali Mustafa Yaqub membawa kita pada sketsa wajah tersebut di era tahun 60-an. Kemiri di masa-masa itu sangat jauh dengan keadaan di masa sekarang.

Dagi segi religiusitas, tidak di jumpai seorang ulama yang dapat dijadikan tempat mengadu permasalahan agama. Alih-alih konsultasi agama, orang yang memperhatikan dan mempraktikan keislamannya saja bisa dibilang minim.

Kalaupun ada orang yang pantas menyandang gelar ulama Kemiri waktu itu, maka kyai Yaqub-lah (ayah kyai Ali Mustafa Yaqub) orangnya. Itupun karena memang tidak ada orang yang dianggap lebih tahu tentang ajaran islam dibanding beliau.

Masa kecil kyai Ali Mustafa Yaqub tidak jauh berbeda dengan teman-teman sebayanya. Jika teman-temannya lebih banyak bermain, maka demikian halnya dengan kyai Ali pada masa kecilnya.

Beliau memulai pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat (SR), yaitu sekolah-sekolah yang dirintis oleh para pejuang bangsa Indonesia di masa penjajahan dahulu.

Setiap hari, kyai Ali pergi ke SR yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya. Hanya dipisahkan oleh kebun milik ayahnya. Karenanya, ketika istirahat tiba, beliau sering kali memilih pulang ke rumahnya. Jika paginya belum makan, maka waktu istirahat menjadi pengganti waktunya untuk menyantap sarapan buatan ibunya.

Selain sekolah, pada masa kecilnya, kyai Ali memiliki kebiasaan ngangon (mengembala) kerbau bersama temannya. Setiap hari setelah pulang sekolah, beliau lantas shalat dhuhur dan makan sejenak, lalu keluar bersama temennya untuk mengembala kerbau. Sembari menunggu kerbau memakan rerumputan, beliau menikmati semilir angin lereng bukit bersama temannya.

Ketika menginjak kelas 3 SMP, kyai Ali mulai belajar mengenal organisasi. Yaitu Nahdlatul Ulama, organisasi yang banyak dianut oleh kalangan akar rumput pedesaan. Organisasi ini mengakar kuat dalam tradisi-tradisnya yang berkembang di masyarakat, seperti tahlilan, maulidan, dan tarekat. 

Meskipun masih kecil, keikutsertaan kyai Ali dalam wadah GP Anshor menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang gemar berorganisasi. Dengan masuk dalam keanggotaan organisasi ini, jiwa ke-NU-annya sedikit demi sedikit terbentuk. Siapa sangka, jika akhirnya beliau menjadi seorang kyai besar yang duduk di jajaran Rais Syuriyah PBNU.

Kyai Ali Mustafa pada masa kecilnya kerap merasakan perilaku tidak mengenakkan dari kepala sekolahnya lantaran keaktifannya di NU. Puncak dari ketegangan ini adalah keputusan Kyai Ali untuk keluar dari SMP, padahal beliau sedang duduk di kelas 3 dan akan mengakhiri studinya 4 bulan lagi.

Namun apa mau dikata beliau sering mengeluh kepada ayahnya. Setelah bermusyawarah dengan ayah dan kakaknya, maka lahirlah keputusan untuk keluar dari SMP. Selanjutnya, ayahnya membawanya ke Jombang untuk dipondokkan disana.

Dengan diantar ayahnya, beliau berangkat menuju sebuah pesantren di Jombang, Jawa Timur pada tahun 1966. Dari sinilah perjalannan Kyai Ali sebagai santri 24 karat bermula. Kyai Yaqub mengantarkan putranya itu ke kota Jombang dan memilih pesantren Seblak sebagai tempat berlabuhnya dalam menuntut ilmu agama.

Pasca boyong (pulang) dari pesantren Seblak, Kyai Ali tidak lantas pulang ke kampung. Kehausannya akan ilmu agama masih butuh kucuran yang banyak. Pesantren Seblak telah menjadi oase pertamanya dalam menuntut ilmu di pesantren. Untuk melengkapinya Kyai Ali memilih Pesantren Tebuireng sebagai tempat bertapa selanjutnya.

Di pesantren Tebuireng, Kyai Ali melanjutkan pendidikannya dengan menempuh Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng. Tingkatan ini beliau lalui selama 3 tahun mulai dari tahun 1969 hingga 1972.

Tidak hanya itu, beliau juga melanjutkan pendidikan tingginya di Fakultas Syariah IKAHA Tebuireng terhitung mulai 1972 sampai 1975. Selain menempuh pendidikan formalnya, beliau juga menekuni kitab-kitab kuning dibawah asuhan para kyai senior.

Tercatat, Kyai Ali memperoleh ijazah sanad Shahih al-Bukhari dari Kyai Syansuri Badawi  pada tanggal 1 Oktober 1974. Jumlah ulama yang menyambungkan sanadnya hingga Imam al-Bukhari berjumlah 19 ulama. Sebenarnya beliau juga memperolah sanad Shohih Muslim, hanya saja hingga akhir hayatnya sanad tersebut belum di temukan.

Pada tahun 1976, di usianya yang ke-24, Kyai Ali mendapatkan panggilan untuk melanjutkan studinya di Fakultas Syariah, Universitas Islam Maulana bin Saud, Riyadh, Saudi Arabia. Di Riyadh, beliau menyelesaikan studinya sampai lulus S1 dengan ijazah Licence pada tahun 1980.

Masih di kota yang sama, Riyadh, Kyai Ali melanjutkan studi S2 di Universitas Kang Saud, Departemen Studi Islam jurusan Tafsir dan Hadits, sampai lulus dengan gelar ijazah Master pada tahun 1985.  

Pada tahun 1985, Kyai Ali pulang ke Indonesia dan mengakhiri jejaknya di bumi Saudi Arabia. Beliau kemudian mengajar di IIQ, Uin Syarif Hidayatullah Jakarta, serta perguruan tinggi lainnya. Beliau juga mulai aktif di beberapa organisasi keislaman serta aktif berdakwah dan mendirikan Peantren Darus-Sunnah di Ciputat.

Atas saran gurunya, Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitou, beliau pun melanjutkan doktoralnya di Universitas Nizamiah, Hyderabad, India pada tahun 2005. Studi ini tidak bersifat residensial (belajar di kampus), tetapi melalui komunikasi jarak jauh by research.

Pada tahun 2008 beliau menyelesaikan disertasinya dengan hasil penelitian Kriteria Halal untuk Pangan, Obat, dan Kosmetika yang Tidak Ditemukan dalam al-Qur’an  maupun Hadits. Dari sidang disertasi ini, Kyai Ali Mustafa dinyatakan lulus dengan gelar Doktor dalam bidang Hukum Islam.

Yang menarik adalah kenyataan bahwa beliau memperoleh gelar ini justru setelah 10 tahub menyandang Guru Besar Madya (Profesor) dalam bidang Ilmu Hadits dari IIQ Jakarta.

Dengan melekatnya gelar doktor ini, maka lengkaplah titel yang beliau sandang menjadi Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Meskipun telah menyandang sederet gelar, Kyai Ali tetaplah sosok yang haus ilmu.

Untuk memenuhi dahaganya tersebut , beliau selalu membaca buku atau kitab sertiap harinya. Untuk itu beliau sering berkata “Nahnu Thullabul Ilmi ila Yaumil Qiyamah (kami adalah pencari ilmu hingga hari kiamat)”.  

Demikialah biografi singkat Kyai Ali Mustafa Yaqub, salah Seorang Ulama Nusantara. Biografi ini belum seberapa dibanding perjalanan beliau dalam menuntut ilmu yang tiada habisnya hingga akhir hayatnya.

Sebab, jika di tuangkan dalam artikel ini rasanya 20 lembar pun tidak cukup untuk menceritakan perjalanan beliau. Semoga kita dapat meneladani semangat beliau dalam menuntut ilmu. Wallahu A’lam.

Biografi ini dikutip dari karangan salah seorang murid Kyai Ali Mustafa Yaqub, Ustadz Ulin Nuha Mahfuddhon, dalam bukunya yang berjudul Meniti Dakwah di Jalan Sunnah.

Oleh Nur Faricha, Aktivis at LPM Nabawi Darus-Sunnah, sekaligus Santri Pondok Pesantren Darus Sunnah yang juga Mahasiswa Fakultas Dirosat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah.

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Wednesday, January 1, 2020

Kenal Ulama: Biografi Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan

January 01, 2020 0

Ulama Nusantara | Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, beliau lahir di Pekalongan pada tanggal 10 Niovember 1948, bertepatan dengan 27 Rajab 1367. Beliau dilahirkan dari seorang Syarifah yang bernama Sayyidah al Karimah as Syarifah Nur.

Selain seorang ulama yang karismatik Habib Luthfi juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama sebagai salah satu anggota Syuriyah PBNU. Beliau adalah salah satu Ulama dan habaib yang disegani, dan beliau juga ketua Umum majelis Ulama di Jawa Tengah serta terpilih juga sebagai pemimpin Forum Sufi Dunia. Selain itu habib Luthfi juga menjabat sebagai Ra’is ‘Am Jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabaroh an Nahdiyah.

Riwayat pendidikan beliau terutama mengenai pendidiikan agama, terutama beliau mendapatkan ilmu agama dari ayahanda tercinta Al-Habib al Hafidz Ali al-Ghalib. Setelah mendapatkan pelajaran agama dari ayahanda, beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di madrasah salafiah selama tiga tahun. Kemudian beliau pernah belajar ilmu agama dengan simbah Kyai Malik Kedung Paruk Purwokerto.

Jalur nasab Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dari ibunya adalah sebagai berikut: Sayidah al Karimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin Sayid al Imam Shalih bin Sayid Muhsin biin Sayid Hasan bin Sayid Imam ‘Alawi biin Sayid al Imam Muhammad biin al Imam ‘Alawii bin Imam al Kabir Sayid Abdullah biin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam Alii bin ‘Alawi bin Sayidina Imam al Faqih al Muqodam bin Ali Ba Alawi.

Sedangkan nasab beliau dari jalur Ayah yaitu Al Habib Muhammad Luthfi bin Al Habib Ali bin Al Habib Hasyim bin Al Habib Umar bin Al Habib Thoha bin Al Habib Muhammad al Qodhi bin Al Habib Thoha bin Al Habib Muhammad bin Al Habib Syekh bin Al Habib Ahmad bin Al Ima Yahya Ba’Alawy bin Al Habib Hasan bin Al Habiib Alwy bin Al Habib Ali bin Imam Alwy an Nasiq bin Imam Muhammad Maulad Dawileh bin Imam Ali Maula Darrak bin Imam Alwy al-Ghuyyur bin Imam Al Faqih al Muqaddam Muhammad Ba’Alawy bin Imam Ali bin Iimam Muhammad Shihab Marbath bin Imam Ali Khali Qasam bin Imam Alwy bin Imam Muhammad bin Imam Alwy Ba’Alawy bin Imam Ubaidullah bin Iimam Ahmad al Muhajjir bin Imam Isa an Naqib ar Rumii bin Imam Muhammad an Naqib bin Ali al Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad al Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Husein ash Sibth bin Amirul Mu’minin Ali Bin Abi Thalib + Sayidatina Fatimah az Zahrah binti Nabii Muhammad SAW.

Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya setelah memperoleh pendidikan langsung dari kedua orang tuanya, pada usia 12 tahun, beliau mulai mengembara mencari ilmu. Pada usia tersebut beliau mengikuti pamannya al Habib Muhammad di Indramayu Jawa Barat. Sejak saat itulah beliau mulai keluar masuk pesantren.

Kemudian setelah tak lama beliau nyantri di Bondokerep Cirebon, Habib Luthfi mendapatkan beasiswa ke Hadramaut. Setelah tiga tahun disana beliau kembali ke Tanah Air, dan nyantri lagi ke sejumlah pesantren seperti ke pesantren Kliwet Indramayu, Tegal (Kiai Said), juga ke Purwokerto (Kyai Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas).

Seiring waktu berjalan beliau dikenal sebagai ulama karismatik, dalam berdakwah beliau adalah seseorang yang sering mengangkat isu-isu nasionalisme serta persatuan. Hingga akhirnya beliau masuk dalam 50 tokoh muslim berpengaruh dunia yang dirilis oleh Pusat Strategi Islam (The Royal Islamik Strategic Studies Centre) di Ammann, Jordania.

Atas keulamaan, nasionalisme dan karismatiknya, membawa Habib Muhammad Luthfi bin Yahya pada tanggal 13 Desember 2019 menjadi dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang dilantik langsung oleh Presiden Joko Widodo. Pelantikan ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 137/p tahun 2019 tentang pengangkatan Dewan Pertimbangan Presiden.

Oleh Arif Rahman Hakim, Pengurus PWCINU dan LAZIZNU Okinawa - Jepang Tahun 2017.
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Friday, December 20, 2019

Kenal Ulama: Abu Ibrahim Woyla, Waliyullah Dari Aceh

December 20, 2019 0

Ulama Nusantara | Abu Ibrahim Woyla adalah seorang Ulama  sufi pengembara asal Aceh. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Abu Beurahim Keuramat. Memiliki nama lengkap Teungku (ustadz) Ibrahim bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husein. Woyla sendiri adalah nama salah satu kecamatan di kabupaten Aceh Barat.

Abu Ibrahim Woyla lahir di kampung Pasie Aceh, kecamatan Woyla, Aceh Barat pada tahun 1919 M. menempuh pendidikan formal dimasa kecilnya hingga tamat di SR (Sekolah Rakyat). selanjutnya beliau sepenuhnya terjun kedalam pendidikan dayah/pesantren tradisional sekitar hampir 25 tahun lamanya.

Pendidikannya

Dalam sejarah pendidikan dayahnya, beliau pernah belajar pada Syeikh Mahmud, seorang Ulama asal Lhok Nga, Aceh Besar selama 12 tahun di dayah Bustanul Huda. Beliau juga pernah berguru kepada Abu Calang (Syekh Muhammad Arsyad), Teungku Bilyatin suak dan Abuya Syekh Muhammad Waly Al-Khalidy (Abuya Mudawaly).

Kehidupannya

Menurut satu riwayat dari menantunya yakni Teungku Nasruddin, Abu Ibrahim pernah menghilang sebanyak 3 kali dimasa hidupnya. Kali yang pertama beliau menghilang selama 2 bulan, kedua beliau menghilang selama 2 tahun dan yang terakhir kalinya Abu Ibrahim menghilang selama 4 tahun, hilang tidak tahu kemana perginya.

Abu Ibrahim Woyla dikenal sebagai sosok ulama yang agak pendiam, hal tersebut memang sudah menjadi bawaannya semenjak kecil hingga masa tua. Beliau hanya berbicara apabila ada hal yang sangat penting untuk disampaikan sehingga banyak orang yang tidak berani bertanya terhadap hal-hal yang terkesan aneh yang dilakukan oleh Abu Ibrahim.

Beliau memiliki dua orang isteri,  yang pertama bernama Rukiah, dari hasil pernikahan ini Abu Ibrahim dikaruniai 3 orang anak, seorang laki-laki dan 2 perempuan. yang laki-laki bernama Zulkifli dan yang perempuan bernama Salmiah dan Hayatun Nufus. Sementara pada isteri keduanya yang beliau nikahi di Peulantee, Aceh Barat, dua tahun sebelum beliau meninggal tidak dikaruniai anak.

Bila kita mendengar kisah kehidupan Abu Ibrahim Woyla, persis seperti kita membaca kisah para sufi dan ahli tashawwuf. Banyak sekali tindakan aneh bin ajaib yang dikerjakan Abu Ibrahim semasa hidupnya yang terkadang tidak dapat dicerna dengan logika, karena kejadian yang diperankannya termasuk di luar jangkauan akal pikiran manusia.

Untuk mengenal prilaku Abu Ibrahim Woyla  kita mesti menggunakan pikiran alam yang berbeda sehingga menemukan jawaban  terhadap apa yang dilakukan Abu Ibrahim itu benar adanya dan ada hikmah tersendiri dibalik tingkah lakunya itu.

Beliau memilik banyak karamah yang dalam bahasa aceh disebut Keuramat, oleh karena inilah beliau juga dikenal dengan sebutan Abu Beurahim/Ibrahim Keuramat.

Sebagian ulama di Aceh menilai bahwa Abu Ibrahim Woyla adalah seorang ulama ‘Arifbillah yang sudah mencapai tingkat Waliyullah. hal itu diakui Teungku Nasruddin, memang banyak sekali laporan yang diterima oleh keluarga dari masyarakat yang menceritakan seputar  peristiwa ajaib dalam kehidupan Abu Ibrahim Woyla.

Menurut pengakuan Tgk Nasruddin , dilihat dari kehidupannya, Abu Ibrahim Woyla seakan-akan tidak lagi membutuhkan hal-hal yang bersifat duniawi. Ia mencontohkan, kalau misalnya beliau memiliki uang, uang tersebut bisa habis begitu saja dalam sekejap, dibagikan kepada orang yang membutuhkan.

Biasanya Abu Ibrahim Woyla membagikan uang itu kepada anak-anak  dengan tidak memperhitungkan jumlahnya. Begitulah kehidupan Abu Ibrahim dalam kehidupan sehari-hari.

Abu Ibrahim Woyla berpulang ke Rahmatullah pada hari sabtu pukul 16.00 WIB tanggal 18 Juli 2009 di rumah anaknya di kampung Pasie Aceh Kecamatan Woyla Induk, Kabupaten Aceh Barat. Beliau tutup usia pada umur 90 tahun.

Dihari wafatnya Abu Ibrahim, ribuan orang datang melayat, dan ini terjadi selama hampir 30 hari setelah kepergiannya. Ribuan masyarakat Aceh berduyun-duyun datang ke kampung Pasie Aceh untuk berziarah. Bahkan sampai saat ini pun makam beliau tidak pernah sepi dari penziarah setiap harinya.

Demikian sekilas tentang sosok Waliyullah yang sangat masyhur di Aceh. Sebenarnya sangat banyak cerita-cerita ajaib nan aneh yang terjadi pada beliau, namun disini saya hanya menuliskan sejarah singkat tentang kelahiran beliau, pendidikan, dan kehidupannya saja dengan sangat ringkas. Semoga bermanfaat untuk menambah khazanah para pembaca. Wallahua’lambisshawab!

(Referensi: dari berbagai sumber bacaan dan diperkuat dengan cerita masyarakat sekitar)

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh sekaligus Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh
Artikel ini juga telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Wednesday, December 11, 2019

Kenal Ulama: Syeikh Ahmad Khatib Sambas, Sufi Kelahiran Kalimantan

December 11, 2019 0

Tokoh | Menjadi seorang pengkaji dalam dunia persufian, terkadang membuat kita berkesimpulan bahwa tokoh tokoh sufi hanya berasal dari Persia, Al Andalusia dan sekitarnya.

Padahal jikalau kita mencoba membuka sejarah, rupanya di Indonesia sendiri hidup para sufi yang berasal dari berbagai penjuru, yang sekalipun kiblat mereka adalah para sufi terdahulu.

Salah satunya seperti Hamzah al Fansuri yang berkelahiran Sumatera Utara dan Yusuf al Makassari yang berasal dari Makassar, dan kini penulis akan paparkan terkait kisah hidup dari syaikh Ahmad Khatib Sambas yakni seorang Syaikh berkelahiran Kalimantan.

Syaikh Ahmad Khatib Sambas yang bernama lengkap Syaikh Muhammad Khatib bin Abdul Ghaffar As Sambasi, beliau lahir pada tahun 1217 Hijriah di Sambas, Kalimantan Barat.

Beliau lahir dari keluarga perantau yang mana ayahnya bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Pada saat itu Kalimantan Barat memang masih menjadikan tradisi perantauan sebagai cara hidup bermasyarakat.

Pada masa kecilnya beliau diasuh oleh pamannya yang terkenal alim di wilayahnya, hingga dari sini beliau tergerak untuk mempelajari ilmu ilmu Agama, dengan berguru dari satu ke yang lainnya.

Beberapa gurunya yakni Syaikh Dawud bin Abdullah bin Indris al Fantani (w. ± 1843), Syaikh Syamsuddin, Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari (w. 1812), Syaikh Ibn ‘Ali al Sanusi (w. 1859), Syaikh ‘abd al Hafiz ‘ajami, Utsman bin Hasan Ad Dimyathi (w. 1849), dan lainnya.

Atas kepiawaian beliau dalam menuntut Ilmu dikatakan bahwa diantara murid Syaikh Syamsuddin rupanya, Syaikh Ahmad Khatib Sambas lah yang mencapai pada tingkat kemampuan dan wewenang tertinggi. Maka tak heran jika pencapaian spritualnya ini menjadikan beliau sebagai Syaikh yang terhormat di zamannya dan berpengaruh di seluruh Indonesia.

Bahkan beliau juga ditetapkan sebagai Syaikh Mursyid Kamil Mukammil dalam lingkungan tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah yang berasal dari ajaran Syaikh Syamsuddin.

Itulah mengapa jika dalam pandangan Muhammad Naquib al Attas (cendekiawan dan filsuf muslim yang berasal dari Malaysia) mengatakan bahwa Syaikh Ahmad Khatib adalah Syaikh yang telah mengkombinasikan antara tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah.

Dan siapa sangka? Pengkombinasian tarekat ini rupanya sangat berpengaruh di Melayu dan Indonesia. Selain itu ada tiga pesantren besar di Jawa yang malah merupakan pusat tarekat ini yakni Pesantren Suryalaya di Tasikmalaya (Jawa Barat), Pesantren Futuhiyah di Mranggen (Jawa Tengah) dan di Pesantren Darul Ulum di Peterongan (Jawa Timur). 

Adapun pokok pokok ajaran dari tarekat dari  tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah yakni;

Kesempurnaan Suluk

Yang perlu diketahui terlebih dahulu ialah pengertian dari suluk itu, suluk dalam artian tasawufnya ialah menepuh jalan menuju Allah. Sehingga dalam menempuh kesempurnaan suluk rupanya perlu meracik tiga istilah atau term dalam satu ajaran, dan ketiga istilah tersebut yakni Iman, Islam dan Ihsan.

Adab

Pada ajaran ini tentu membuktikan bahwa Adab atau etika dianggap sangat penting, karena tanpa adab tentu seorang salik tidak akan mungkin mencapai tujuan suluknya. Dan memandang ruang lingkup adab yang dipraktikkan oleh seorang salik yakni meliput pada Adab kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada Syaikh, kepada Ikhwan dan adab kepada diri sendiri.

Dzikir

Dalam tarekat Dzikir yang dikembangkan oleh Syaikh Ahmad Khatib inilah yang membedakan tarekatnya dengan tarekat yang lain. Yang dimana pada aktivitas tarekat ini  meliputi aktivitas lidah baik itu pada lidah fisik maupun lidah batin yang tak hentin hentinya mengingat dan menyebut Asma Allah

Muraqabah

Muraqabah sendiri dalam pandangan tasawuf diartikan sebagai kontemplasi kesadaran seorang hamba yang secara terus menerus diawali Allah disetiap keadaan. Dan tentu pada pelaksaan Muraqabah ini dilaksanakan dalam setiap rangka latihan psikis demi menerima limpahan karunia dari Tuhan sehingga menjadi mukmin yang sesungguhnya.

Disisi lain, melalui muraqabah inilah seseorang akan terus mengawasi hati mereka dan memperoleh wawasan tentang hubungan hati dengan penciptanya dan lingkungannya sendiri.

Namun yang menjadi catatan pentingnya ialah, ternyata Syaikh Ahmad Khatib Sambas tidak lama di Indonesia. Karena dalam catatan sejarah sendiri dikatakan bahwasanya pada usia 19 tahun beliau melanjutkan studi dan menikah dengan seorang waita Arab keturunan Melayu. Beliau menetap di Makkah sampai pada akhirnya beliau wafat disana pada tahun 1289 Hijriah.

Itulah sekilas kisah hidup dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas, semoga bermanfaat.

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More