TARBIYAH ONLINE: Ulama Dunia

Terbaru

Showing posts with label Ulama Dunia. Show all posts
Showing posts with label Ulama Dunia. Show all posts

Saturday, January 18, 2020

Kenal Ulama: Musthafa al Siba’i Ahli Hadits dan Politikus Negeri Syam

January 18, 2020 0

Tokoh Ulama | Dialah yang bernama lengkap Musthafa bin Husni Abu Hasan al Siba’i, dalam beberapa karyanya beliau biasa menulis namanya dengan sebutan Musthafa al Siba’i, dan beberapa kesempatan pula beliau menuliskan namanya dengan sebutan Mustahfa Husni al Siba’i dalam suatu persembahan dan pengantar kitab atau karyanya.

Musthafa al Siba’i dilahirkan di kota Homs, salah satu dari kota yang ada di Negara Suriah pada tahun 1915 M bertepatan pada tahun 1331 H. Adapun masa kecil beliau kurang dijelaskan dalam beberapa buku tentang biografi hidupnya.

Namun paling tidak dikatakan bahwa beliau memang berasal dari keluarga ulama yang terpandang. Sehingga berangkat dari jalur inilah yang memudahkan beliau dalam menimbah ilmu agama  dan politik terutama belajar kepada sang ayah yang merupakan seorang Mujahid dan Khatib (Syaikh Husni al Siba’i)

Menariknya, beliau tidak hanya aktif dalam dunia keislaman yang telah membesarkan namanya terutama dalam dunia hadits, melainkan beliau pun turut aktif dalam melawan penjajah (Prancis-Suriah di usia yang masih menginjak belasan tahun), dan ini dikarenakan tantangan dunia Islam dalam banyak Negara yang ingin membebaskan diri dari imperialisme barat pada waktu itu.

Dari keaktifannya inilah dalam melawan penjajah dengan beberapa bentuk partisipasi yang diantaranya dengan membagi bagikan selebaran, berpidato, dan memimpin demonstrasi di Homs sempat membuat dirinya ditangkap oleh orang orang Prancis.

Selain itu, beliau juga aktif dalam menggalang kekuatan dunia Islam untuk berjuang melawan tentara Israel demi mempertahankan Bait al Maqdis, maka tak berlebihan rasanya jikalau Musthafa al Siba’i yang selain dikenal sebagai Ulama hadits pun dikenal sebagai pejuang yang berkemampuan retorik.

Masih pada kisah hidup beliau, ketika menginjak usia 18 tahun (1933), barulah Mustahafa al Siba’i berpindah ke Mesir demi memperoleh pengalaman intelektual dan politik sekaligus mendapatkan pengetahuan tentang pemikiran Muhammad Abduh di al Azhar, yang sekaligus merupakan tempat beliau memperoleh gelar doktor di bidang hadits.

Dari ketekunan dan kepiawaiannya-lah dalam bidang ilmu hadits, rupanya mengantarkan beliau pada pemikiran kritisnya terhadap pemikiran Ahmad Amin, baik itu tentang Pamalsuan hadits pada masa Rasulullah Saw., tentang pembukuan hadits, tentang ‘Adalat al Shahabah dan lainnya yang membahas tentang Hadits.

Karya karya beliau

Sebagai seorang tokoh yang dikenal dalam masyarakat, maka belum lengkap rasanya jikalau hidupnya tidak dibumbuhi dengan karya tulis yang menjadikan namanya semakin dikenal  dan dikenang.

Sama halnya dengan Musthafa al Siba’i, sepanjang hidupnya kurang lebih ada 21 kitab dan risalahnya yang mampu beliau susun atas kegigihan dan semangat besarnya, dan berikut beberapa karya dan garis besar isi dari karyanya tersebut:

1. Istikariyat al Islam, karya ini sudah dikenal di Indonesia sejak dekade 1970-an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam edisi terjemahan oleh Moh. Abday Ratoni dengan judul Sosialisme Islam. Buku ini paling tidak membahas pemikiran politik dengan memberi gambaran tentang perbaikan pada seluruh masyarakat Islam dalam membentuk sebuah negara, atau sebuah masyarakat yang lebih maju dari segi ekonomi, politik dan sosial yang berlandaskan pada syri’at Islam.

2. Al Sunnah wa Makanatuha fa al Tasyri’ al Islami, yakni salah satu karya fundamentalnya yang cukup populer di kalangan muslim Indonesia, yang diterjemahkan pada tahun 1993 oleh Dja’far Abd. Muchith dan kemudian diterbitkan oleh CV, Dipenogoro.

3. Al Istisyraq wa al Mustsyriqun, yaitu karya yang berisikan tentang pembongkaran beliau terhadap kepalsuan hadits. Selain itu, lewat karya inilah beliu menggambarkan tentang langkah langkah yang diambil para orientalis dalam menghancurkan Islam serta sarana sarana yang dipakai demi merealisasikan tujuan tersebut.

3. Al Mar’ah Bayn al Fiqh wa al Qanun, yaitu membahas tentang wanita diantara fiqh dan undang undang, yang mana lebih jelasnya menerangkan tentang toleransi Islam dalam sikapnya terhadap wanita dan hak hak yang ditetapkan baginya termasuk hal hal yang sesuai dengan tabiatnya.

4. Min Rawa’i’ Hadlaratina, karya ini disusun oleh Musthafa al Siba’i yang bertujuan untuk membuktikan bahwa aspek aspek kemanusiaan yang abadi dalam peradaban kita lebih kuat dan indah, serta untuk menolak fitnah fitnah orang yang mendakwahkan peradaban Islam yang katanya memiliki kaiban dan kekurangan.

Adapun karya lainnya ialah:

Akhalquna al Ijtima’iyyah
Al Qala’id min Fara’id al Fawa’id
Al Washaya wa al Fara’id
‘Azhama ‘una fi al Tharikh
Hadza Huwa al Islam
Ahkam al Shiyam wa Falsafatuhu
Ahkam al Mawarits
Ahkam al Zawaj wa Inkhillalih
Manhajuna fi al Ishlah
Al Sirah al Nabawiyyah, Tarikhuha wa Durusuha
Al Ikhwan al Muslimun fi Harb Falasthin
Al Nizham Al Ijtima’ fi Al Islam
Al ‘Alaqah Bayn Al Muslimin wa Al Mashihiyyin fi Al Tharikh

Dari berbagai karya karyanya yang sempat disebutkan diatas secara tidak langsung telah melukiskan tentang sosok Musthafa al Siba’i yang merupakan penulis produktif dan termasuk tokoh yang alim dibidang Hadits, hukum Islam, Sejarah peradaban, sosialisalisme dan bidang ilmu lainnya.

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Friday, January 10, 2020

Kenal Ulama: Al Hafzih Ibnu Hajar Al Asqalani, Ahli Hadits Termasyhur Sepanjang Zaman

January 10, 2020 0

Tokoh Ulama | Pada akhir abad kedelapan hijriah dan pertengahan abad kesembilan hijriah termasuk masa keemasan para ulama dan terbesar bagi perkembangan madrasah, perpustakaan dan halaqah ilmu, walaupun terjadi keguncangan sosial politik. Hal ini karena para penguasa dikala itu memberikan perhatian besar dengan mengembangkan madrasah-madrasah, perpustakaan dan memotivasi ulama serta mendukung mereka dengan harta dan jabatan kedudukan. Semua ini menjadi sebab berlombanya para ulama dalam menyebarkan ilmu dengan pengajaran dan menulis karya ilmiah dalam beragam bidang keilmuan. Pada masa demikian ini muncullah seorang ulama besar yang namanya harum hingga kini Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, tepatnya 12 Sya’ban tahun 773H. Berikut biografi singkat beliau:

Nama dan Nashab

Beliau bernama Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Asqalani Al-Mishri. (Lihat Nazhm Al-‘Uqiyaan Fi A’yaan Al-A’yaan, karya As-Suyuthi hal 45)

Gelar dan Kunyah Beliau

Beliau seorang ulama besar madzhab Syafi’i, digelari dengan ketua para qadhi, syaikhul islam, hafizh Al-Muthlaq (seorang hafizh secara mutlak), amirul mukminin dalam bidang hadist dan dijuluki syihabuddin dengan nama pangilan (kunyah-nya) adalah Abu Al-Fadhl. Beliau juga dikenal dengan nama Abul Hasan Ali dan lebih terkenal dengan nama Ibnu Hajar Nuruddin Asy-Syafi’i. Guru beliau, Burhanuddin Ibrahim Al-Abnasi memberinya nama At-Taufiq dan sang penjaga tahqiq.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan tanggal 12 Sya’ban tahun 773 Hijriah dipinggiran sungai Nil di Mesir kuno. Tempat tersebut dekat dengan Dar An-Nuhas dekat masjid Al-Jadid. (Lihat Adh-Dahu’ Al-Laami’ karya imam As-Sakhaawi 2/36 no. 104 dan Al-badr At-Thaali’ karya Asy-Syaukani 1/87 no. 51).

Sifat beliau

Ibnu Hajar adalah seorang yang mempunyai tinggi badan sedang berkulit putih, mukanya bercahaya, bentuk tubuhnya indah, berseri-seri mukanya, lebat jenggotnya, dan berwarna putih serta pendek kumisnya. Dia adalah seorang yang pendengaran dan penglihatan sehat, kuat dan utuh giginya, kecil mulutnya, kuat tubuhnya, bercita-cita tinggi, kurus badannya, fasih lisannya, lirih suaranya, sangat cerdas, pandai, pintar bersyair dan menjadi pemimpin dimasanya.

Pertumbuhan dan belajarnya

Ibnu Hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim, ayah beliau meninggal ketika ia berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika ia masih balita. Ayah beliau meninggal pada bulam rajab 777 H. setelah berhaji dan mengunjungi Baitulmaqdis dan tinggal di dua tempat tersebut. Waktu itu Ibnu Hajar ikut bersama ayahnya. Setelah ayahnya meninggal beliau ikut dan diasuh oleh Az-Zaki Al-Kharubi (kakak tertua ibnu Hajar) sampai sang pengasuh meninggal. Hal itu karena sebelum meninggal, sang ayah berwasiat kepada anak tertuanya yaitu saudagar kaya bernama Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad Al-Kharubi (wafat tahun 787 H.) untuk menanggung dan membantu adik-adiknya. Begitu juga sang ayah berwasiat kepada syaikh Syamsuddin Ibnu Al-Qaththan (wafat tahun 813 H.) karena kedekatannya dengan Ibnu Hajar kecil.

Ibnu Hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim piatu yang menjaga iffah (menjaga diri dari dosa), sangat berhati-hati, dan mandiri dibawah kepengasuhan kedua orang tersebut. Zaakiyuddin Abu Bakar Al-Kharubi memberikan perhatian yang luar biasa dalam memelihara dan memperhatikan serta mengajari beliau. Dia selalu membawa Ibnu Hajar ketika mengunjungi dan tinggal di Makkah hingga ia meninggal dunia tahun 787 H.

Pada usia lima tahun Ibnu Hajar masuk Al-Maktab (semacam TPA sekarang) untuk menghafal Alquran, di sana ada seorang guru yang bernama Syamsuddin bin Al-Alaf yang saat itu menjadi gubernur Mesir dan juga Syamsuddin Al-Athrusy. Akan tetapi, ibnu Hajar belum berhasil menghafal Alquran sampai beliau diajar oleh seorang ahli fakih dan pengajar sejati yaitu Shadruddin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq As-Safthi Al Muqri’. Kepada beliau ini lah akhirnya ibnu Hajar dapat mengkhatamkan hafalan Alqurannya ketika berumur sembilan tahun.

Ketika Ibnu Hajar berumur 12 tahun ia ditunjuk sebagai imam shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Ketika sang pengasuh berhaji pada tahun 784 H. Ibnu Hajar menyertainya sampai tahun 786 H. hingga kembali bersama Al-Kharubi ke Mesir. Setelah kembali ke Mesir pada tahun 786 H. Ibnu Hajar benAr-benar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, hingga ia hafal beberapa kitab-kitab induk seperti Al-‘Umdah Al-Ahkaam karya Abdulghani Al-Maqdisi, Al-Alfiyah fi Ulum Al-Hadits karya guru beliau Al-Haafizh Al-Iraqi, Al-Haawi Ash-Shaghi karya Al-Qazwinir, Mukhtashar ibnu Al-Haajib fi Al-Ushul dan Mulhatu Al-I’rob serta yang lainnya.

Pertama kali ia diberikan kesenangan meneliti kitab-kitab sejarah (tarikh) lalu banyak hafal nama-nama perawi dan keadaannya. Kemudian meneliti bidang sastra Arab dari tahun 792 H. dan menjadi pakar dalam syair.

Kemudian diberi kesenangan menuntut hadits dan dimulai sejak tahun 793 H. namun beliau belum konsentrasi penuh dalam ilmu ini kecuali pada tahun 796 H. Diwaktu itulah beliau konsentrasi penuh untuk mencari hadits dan ilmunya.

Saat ketidakpuasan dengan apa yang didapatkan akhirnya Ibnu Hajar bertemu dengan Al-Hafizh Al-Iraqi yaitu seorang syaikh besar yang terkenal sebagai ahli fikih, orang yang paling tahu tentang madzhab Syafi’i. Disamping itu ia seorang yang sempurna dalam penguasaan tafsir, hadist dan bahasa Arab. Ibnu Hajar menyertai sang guru selama sepuluh tahun. Dan dalam sepuluh tahun ini Ibnu Hajar menyelinginya dengan perjalanan ke Syam dan yang lainnya. Ditangan syaikh inilah Ibnu Hajar berkembang menjadi seorang ulama sejati dan menjadi orang pertama yang diberi izin Al-Iraqi untuk mengajarkan hadits. Sang guru memberikan gelar Ibnu Hajar dengan Al-Hafizh dan sangat dimuliakannya. Adapun setelah sang guru meninggal dia belajar dengan guru kedua yaitu Nuruddin Al-Haitsami, ada juga guru lain beliau yaitu Imam Muhibbuddin Muhammad bin Yahya bin Al-Wahdawaih melihat keseriusan Ibnu Hajar dalam mempelajari hadits, ia memberi saran untuk perlu juga mempelajari fikih karena orang akan membutuhkan ilmu itu dan menurut prediksinya ulama didaerah tersebut akan habis sehingga Ibnu Hajar amat diperlukan.

Imam Ibnu Hajar juga melakukan rihlah (perjalanan tholabul ilmi) ke negeri Syam, Hijaz dan Yaman dan ilmunya matang dalam usia muda himgga mayoritas ulama dizaman beliau mengizinkan beliau untuk berfatwa dan mengajar.

Beliau mengajar di Markaz Ilmiah yang banyak diantaranya mengajar tafsir di Al-madrasah Al-Husainiyah dan Al-Manshuriyah, mengajar hadits di Madaaris Al-Babrisiyah, Az-Zainiyah dan Asy-Syaikhuniyah dan lainnya. Membuka majlis Tasmi’ Al-hadits di Al-Mahmudiyah serta mengajarkan fikih di Al-Muayyudiyah dan selainnya.

Beliau juga memegang masyikhakh (semacam kepala para Syeikh) di Al-Madrasah Al-Baibrisiyah dan madrasah lainnya (Lihat Ad-Dhau’ Al-Laami’ 2/39).

Para Guru Beliau

Al-Hafizh Ibnu Hajar sangat memperhatikan para gurunya dengan menyebut nama-nama mereka dalam banyak karya-karya ilmiahnya. Beliau menyebut nama-nama mereka dalam dua kitab, yaitu:

Al-Mu’jam Al-Muassis lil Mu’jam Al-Mufahris.
Al-Mu’jam Al-Mufahris.
Imam As-Sakhaawi membagi guru beliau menjadi tiga klasifikasi:

Guru yang beliau dengar hadits darinya walaupun hanya satu hadits
Guru yang memberikan ijazah kepada beliau
Guru yang beliau ambil ilmunya secara mudzkarah atau mendengar darinya khutbah atau karya ilmiahnya.
Guru beliau mencapai lebih dari 640an orang, sedangkan Ibnu Khalil Ad-Dimasyqi dalam kitab Jumaan Ad-Durar membagi para guru beliau dalam tiga bagian juga dan menyampaikan jumlahnya 639 orang.

Dalam kesempatan ini kami hanya menyampaikan beberapa saja dari mereka  yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan keilmuan beliau agar tidak terlalu panjang biografi beliau ini.

Diantara para guru beliau tersebut adalah:

Bidang keilmuan Al-Qira’aat (ilmu Alquran):

Syeikh Ibrahim bin Ahmad bin Abdulwahid bin Abdulmu`min bin ‘Ulwaan At-Tanukhi Al-Ba’li Ad-Dimasyqi (wafat tahun 800 H.) dikenal dengan Burhanuddin Asy-Syaami. Ibnu Hajar belajar dan membaca langsung kepada beliau sebagian Alquran, kitab Asy-Syathibiyah, Shahih Al-Bukhari dan sebagian musnad dan Juz Al-Hadits. Syeikh Burhanuddin ini memberikan izin kepada Ibnu Hajar dalam fatwa dan pengajaran pada tahun 796 H.

Bidang ilmu Fikih:

Syeikh Abu Hafsh Sirajuddin Umar bin Ruslaan bin Nushair bin Shalih Al-Kinaani Al-‘Asqalani Al-Bulqini  Al-Mishri (wafat tahun 805 H) seorang mujtahid, haafizh dan seorang ulama besar. Beliau memiliki karya ilmiah, diantaranya: Mahaasin Al-Ish-thilaah Fi Al-Mushtholah dan Hawasyi ‘ala Ar-Raudhah serta lainnya.

Syeikh Umar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abdillah Al-Anshari Al-Andalusi Al-Mishri (wafat tahun 804 H) dikenal dengan Ibnu Al-Mulaqqin. Beliau orang yang terbanyak karya ilmiahnya dizaman tersebut. Diantara karya beliau: Al-I’laam Bi Fawaa`id ‘Umdah Al-Ahkam (dicetak dalam 11 jilid) dan Takhrij ahaadits Ar-Raafi’i (dicetak dalam 6 jilid) dan Syarah Shahih Al-Bukhari dalam 20 jilid.

Burhanuddin Abu Muhammad Ibrahim bin Musa bin Ayub Ibnu Abnaasi  (725-782 ).

Bidang ilmu Ushul Al-Fikih :

Syeikh Izzuddin Muhammad bin Abu bakar bin Abdulaziz bin Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah Al-Kinaani Al-Hamwi Al-Mishri (Wafat tahun 819 H.) dikenal dengan Ibnu Jama’ah seorang faqih, ushuli, Muhaddits, ahli kalam, sastrawan dan ahli nahwu. Ibnu Hajar Mulazamah kepada beliau dari tahun 790 H. sampai 819 H.

Bidang ilmu Sastra Arab :

Majduddin Abu Thaahir Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar  Asy-Syairazi Al-Fairuzabadi (729-827 H.). seorang ulama pakar satra Arab yang paling terkenal dimasa itu.
Syamsuddin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Abdurrazaaq Al-Ghumaari 9720 -802 H.).

Bidang hadits dan ilmunya:

Zainuddin Abdurrahim bin Al-Husein bin Abdurrahman bin Abu bakar bin Ibrahim Al-Mahraani Al-Iraqi (725-806 H. ).
Nuruddin abul Hasan Ali bin Abu Bakar bin Sulaimanbin Abu Bakar bin Umar bin Shalih Al-Haitsami (735 -807 H.).

Selain beberapa yang telah disebutkan di atas, guru-guru Ibnu Hajar, antara lain:

Al-Iraqi, seorang yang paling banyak menguasai bidang hadits dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan hadits.
Al-Haitsami, seorang yang paling hafal tentang matan-matan.
Al-Ghimari, seorang yang banyak tahu tentang bahasa Arab dan berhubungan dengan bahasa Arab.
A-Muhib bin Hisyam, seorang yang cerdas.
Al-Ghifari, seorang yang hebat hafalannya.
Al-Abnasi, seorang yang terkenal kehebatannya dalam mengajar dan memahamkan orang lain.
Al-Izzu bin Jamaah, seorang yang banyak menguasai beragam bidang ilmu.
At-Tanukhi, seorang yang terkenal dengan qira’atnya dan ketinggian sanadnya dalam qira’at.

Murid Beliau

Kedudukan dan ilmu beliau yang sangat luas dan dalam tentunya menjadi perhatian para penuntut ilmu dari segala penjuru dunia. Mereka berlomba-lomba mengarungi lautan dan daratan untuk dapat mengambil ilmu dari sang ulama ini. Oleh karena itu tercatat lebih dari lima ratus murid beliau sebagaimana disampaikan murid beliau imam As-Sakhawi.

Diantara murid beliau yang terkenal adalah:

Syeikh Ibrahim bin Ali bin Asy-Syeikh bin Burhanuddin bin Zhahiirah Al-Makki Asy-Syafi’i (wafat tahun 891 H.).
Syeikh Ahmad bin Utsmaan bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah Al-Karmaani Al-hanafi (wafat tahun 835 H.) dikenal dengan Syihabuddin Abul Fathi Al-Kalutaani seorang Muhaddits.
Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hasan Al-Anshari Al-Khazraji (wafat tahun 875 H.) yang dikenal dengan Al-Hijaazi.
Zakariya bin Muhammad bin Zakariya Al-Anshari wafat tahun 926 H.
Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abu bakar bin Utsmaan As-Sakhaawi Asy-Syafi’i wafat tahun 902 H.
Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdullah bin Fahd Al-Hasyimi Al-‘Alawi Al-Makki  wafat tahun 871 H.
Burhanuddin Al-Baqa’i, penulis kitab Nuzhum Ad-Dhurar fi Tanasub Al-Ayi wa As-Suwar.
Ibnu Al-Haidhari.
At-Tafi bin Fahd Al-Makki.
Al-Kamal bin Al-Hamam Al-Hanafi.
Qasim bin Quthlubugha.
Ibnu Taghri Bardi, penulis kitab Al-Manhal Ash-Shafi.
Ibnu Quzni.
Abul Fadhl bin Asy-Syihnah.
Al-Muhib Al-Bakri.
Ibnu Ash-Shairafi.
Menjadi Qadhi

Wafatnya

Setelah melalui masa-masa kehidupan yang penuh dengan kegiatan ilmiah dalam khidmah kepada ilmu dan berjihad menyebarkannya dengan beragam sarana yang ada. Ibnu Hajar jatuh sakit dirumahnya setelah ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai qadhi pada tanggal 25 Jamadal Akhir tahun 852 H. Dia adalah seorang yang selalu sibuk dengan mengarang dan mendatangi majelis-majelis taklim hingga pertama kali penyakit itu menjangkit yaitu pada bulan Dzulqa’dah tahun 852 H. Ketika ia sakit yang membawanya meninggal, ia berkata, “Ya Allah, bolehlah engkau tidak memberikanku kesehatan, tetapi janganlah engkau tidak memberikanku pengampunan.” Beliau berusaha menyembunyikan penyakitnya dan tetap menunaikan kewajibannya mengajar dan membacakan imla’. Namun penyakit tersebut semakin bertambah parah sehingga para tabib dan penguasa (umara) serta para Qadhi bolak balik menjenguk beliau. Sakit ini berlangsung lebih dari satu bulan kemudian beliau terkena diare yang sangat parah dengan mengeluarkan darah. Imam As-Sakhaawi berkata, “Saya mengira Allah telah memuliakan beliau dengan mati syahid, karena penyakit tha’un telah muncul.  Kemudian pada malam sabtu tanggal 18 Dzulhijjah tahun 852 H. berselang dua jam setelah shalat isya’, orang-orang dan para sahabatnya berkerumun didekatnya menyaksikan hadirnya sakaratul maut.”

Hari itu adalah hari musibah yang sangat besar. Orang-orang menangisi kepergiannya sampai-sampai orang nonmuslim pun ikut meratapi kematian beliau. Pada hari itu pasar-pasar ditutup demi menyertai kepergiannya. Para pelayat yang datang pun sampai-sampai tidak dapat dihitung. Semua para pembesar dan pejabat kerajaan saat itu datang melayat dan bersama masyarakat yang banyak sekali menshalatkan jenazah beliau. Diperkirakan orang yang menshalatkan beliau lebih dari 50.000 orang dan Amirul Mukminin khalifah Al-Abbasiah mempersilahkan Al-Bulqini untuk menyalati Ibnu Hajar di Ar-Ramilah di luar kota Kairo. Jenazah beliau kemudian dipindah ke Al-Qarafah Ash-Shughra untuk dikubur di pekuburan Bani Al-Kharrubi yang berhadapan dengan masjid Ad-Dailami di antara makam Imam Syafi’i dengan Syaikh Muslim As-Silmi.

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Al-Hafizh As-Sakhawi berkata, “Adapun pujian para ulama terhadapnya, ketahuilah pujian mereka tidak dapat dihitung. Mereka memberikan pujian yang tak terkira jumlahnya, namun saya berusaha untuk menyebutkan sebagiannya sesuai dengan kemampuan.”

Al-Iraqi berkata, “Ia adalah syaikh, yang alim, yang sempurna, yang mulia, yang seorang muhhadits (ahli hadist), yang banyak memberikan manfaat, yang agung, seorang Al-Hafizh, yang sangat bertakwa, yang dhabit (dapat dipercaya perkataannya), yang tsiqah, yang amanah, Syihabudin Ahmad Abdul Fadhl bin Asy-Syaikh, Al-Imam, Al-Alim, Al-Auhad, Al-Marhum Nurudin, yang kumpul kepadanya para perawi dan syaikh-syaikh, yang pandai dalam nasikh dan mansukh, yang menguasai Al-Muwafaqat dan Al-Abdal, yang dapat membedakan antara rawi-rawi yang tsiqah dan dhaif, yang banyak menemui para ahli hadits,dan yang banyak ilmunya dalam waktu yang relatif pendek.” Dan masih banyak lagi Ulama yang memuji dia, dengan kepandaian Ibnu Hajar.

Karya Ilmiah Beliau

Al-Haafizh ibnu Hajar telah menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan menyebarkannya dengan lisan, amalan dan tulisan. Beliau telah memberikan jasa besar bagi perkembangan beraneka ragam bidang keilmuan untuk umat ini.

Murid beliau yang ternama imam As-Sakhaawi dalam kitab Ad-Dhiya’ Al-Laami’ menjelaskan bahwa karya tulis beliau mencapai lebih dari 150 karya, sedangkan dalam kitab Al-Jawaahir wad-Durar disampaikan lebih dari 270 karya.

Tulisan-tulisan Ibnu Hajar, antara lain:

Ithaf Al-Mahrah bi Athraf Al-Asyrah.
An-Nukat Azh-Zhiraf ala Al-Athraf.
Ta’rif Ahli At-Taqdis bi Maratib Al-Maushufin bi At-Tadlis (Thaqabat Al-Mudallisin).
Taghliq At-Ta’liq.
At-Tamyiz fi Takhrij Ahadits Syarh Al-Wajiz (At-Talkhis Al-Habir).
Ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits Al-Hidayah.
Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari.
Al-Qaul Al-Musaddad fi Adz-Dzabbi an Musnad Al-Imam Ahmad.
Al-Kafi Asy-Syafi fi Takhrij Ahadits Al-Kasyyaf.
Mukhtashar At-Targhib wa At-Tarhib.
Al-Mathalib Al-Aliyah bi Zawaid Al-Masanid Ats-Tsamaniyah.
Nukhbah Al-Fikri fi Mushthalah Ahli Al-Atsar.
Nuzhah An-Nazhar fi Taudhih Nukhbah Al-Fikr.
Komentar dan kritik atas kitab Ulum Hadits karya Ibnu As-Shalah.
Hadyu As-Sari Muqqadimah Fath Al-Bari.
Tabshir Al-Muntabash bi Tahrir Al-Musytabah.
Ta’jil Al-Manfaah bi Zawaid Rijal Al-Aimmah Al-Arba’ah.
Taqrib At-Tahdzib.
Tahdzib At-Tahdzib.
Lisan Al-Mizan.
Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah.
Inba’ Al-Ghamar bi Inba’ Al-Umur.
Ad-Durar Al-Kaminah fi A’yan Al-Miah Ats-Tsaminah.
Raf’ul Ishri ‘an Qudhat Mishra.
Bulughul Maram min Adillah Al-Ahkam.
Quwwatul Hujjaj fi Umum Al-Maghfirah Al-Hujjaj.

Referensi:
Muqaddimah kitab an-Nukaat ‘Ala ibni ash-Shalaah oleh Syeikh Prof. DR. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali
Muqaddimah kitab Subul As-Salaam


Oleh Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.

Artikel ini telah tayang di KisahMuslim.com
Read More

Monday, January 6, 2020

Kenal Ulama: Imam Ibnu Katsir, Ulama yang Memiliki Ilmu Komplit

January 06, 2020 0

Tokoh Ulama | Siapa yang tidak pernah mendengar nama Ibnu Katsir, seorang ulama kenamaan dalam bidang tafsir.

Nama, Kelahiran, dan Kunyahnya

Ibnu Katsir bernama lengkap Ismail bin Umar bin Katsir bin Dhau’i bin Katsir bin Dhau’i bin Dar’i bin al-Qurasyi asy-Syafi’i al-Bushrawi ad-Dimasyqi. Ia digelari dengan ‘Imaduddin (penopang agama). Nama kunyahnya adalah Abul Fida’. Ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir, nisbat kepada sang kakek. Dalam fikih, Ibnu Katsir berpegang dengan madzhab Syafi’i. Namun begitu, ia tidak fanatik dengan madzhabnya tersebut.

Ibnu Katsir dilahirkan di Damaskus, Syam. Tepatnya di daerah Majdal yang terletak sebelah timur Bushra pada tahun 701 H (1301 M). Ayahnya dikenal sebagai khatib di Majdal. Dalam usia 2 tahun Ibnu Katsir telah menjadi yatim. Ayahnya meninggal pada tahun 703 H. Sepeninggal sang ayah tercinta, Ibnu Katsir diasuh oleh kakak kandungnya, Kamaluddin ‘Abdul Wahab. Tahun 707 H, dengan didampingi sang kakak, ia pindah ke Damaskus. Ketika itu ia berusia 6 tahun.

Belajar dan Menuntu Ilmu Sejak Dini

Beliau mulai menuntut ilmu kepada saudara kandung beliau Abdul Wahhab bin Umar bin Katsir sejak usia dini. Pada tahun 711 H beliau telah hafal al-Qur'an da-lam usia 10 tahun. Sesudah itu beliau banyak mengha-fal matan-matan, berbagai bidang ilmu agama dan ba-hasa Arab.

Beliau memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu hadits terutama dalam mencari riwayat, menelaah, il-al dan rijal.
Demikian juga, beliau memiliki perhatian yang  besar terhadap ilmu fiqih, tafsir dan qira'ah.

Beliau selalu gigih dalam menuntut ilmu sehingga me-njadi masyhur nama beliau hingga keluar negeri Syam. Banyak ulama yang memberi ijazah-ijazah sanad kepada beliau dari Baghdad, Kairo, dan kota-kota lain-nya. Demikian juga banyak para ulama dan penuntut ilmu dari seluruh penjuru negeri datang kepada beli-au untuk mereguk ilmu darinya.

Beliau terus tekun menulis karya-karya ilmiah dalam fiqih dan ushulnya, hadits dan ushulnya, tafsi, dan ta-rikh hingga beliau kehilangan pengelihatannya, keti-ka beliau sedang menulis kitab Jami'ul Masanid wa Su-nan yang belum sempat beliau selesaikan karena data-ng ajal beliau pada tahun 774 H.

Guru-gurunya

1.Syaikh Burhanuddin Ibrahim bin Abdirrahman al-Fazari yang terkenal dengan nama Ibnul Farkah (wafat 729 H).
2.Di Damsyik Syria, beliau belajar dengan Isa bin al-Muth’im,
3.Ahmad bin Abi Thalib, terkenal dengan nama Ibnu Syahnah (walat 730H),
3.Ibnul Hajjar yang (wafat 730 H),
4.Baha-uddin al-Qasim bin Muzhaffar Ibnu Asakir, ahli hadis negeri Syam yang wafat pada tahun 723 H,
5.Ibnu asy-Syirazi,
6.Ishaq bin Yahya al-Amidi Afifuddin –ulama Zhahiriyah (wafat 725 H),
7.Muhammad lbnu Zar rad, menyertai Syaikh Jamaluddin Yusuf bin az-Zaki al’Mizzi (wafat 742H), beliau mendapat banyak faedah dan menimba ilmu darinya dan akhirnya beliau menikahi puterinya.
8.Syaikhul Islam Taqiyyuddin Ahmad bin Abdil Halim bin Abdis Salam bin Taimiyyah (wafat 728 H),
9.Sebagaimana beliau menimba ilmu dari Syaikh al-Hafizh, seorang ahli tarikh (sejarah), Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman bin Qayimaz adz-Dzahabi (wafat pada tahun 748 H).
10.Dan ulama Mesir yang memberi beliau ijazah adalah Abu Musa al-Qarafi,
11.Abul Fath ad-Dabbusi,
12.Ali bin Umar as-Sawani dan lain-lain.

Pujian Para Ulama Mengenai Ibnu Katsir

1. Al-Hafizh al-Kabir Abul Hajjaj Yusuf bin az-Zaki Abdurrahman bin Yusuf al-Mizzi.
Ibnu Katsir memfokuskan diri untuk mempelajari ilmu hadits kepada al-Mizzi. Al-Mizzi adalah guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan Ibnu Katsir. Disamping sebagai guru, al-Mizzi juga sebagai mertua Ibnu Katsir, karena beliau mempersunting putri al-Mizzi yang bernama Ammatu Rahim Zainab.

2. Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim bin Abil Qasim bin Taimiyah al-Harrani.
Ibnu Katsir juga menimba ilmu sekian lamanya dengan mempelajari banyak ilmu kepada Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah pun banyak memberikan pengaruh dalam kehidupan Ibnu Katsir. Ibnu Katsir menyebutkan tentang biografi Ibnu Taimiyah dalam kitab al Bidayah wa an Nihayah, “Antara aku dan beliau terjalin kecintaan dan persahabatan dari kecil.”

Saking dekatnya persahabatan dengan Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir pun ikut mendapatkan cobaan sebagaimana yang dialami oleh Ibnu Taimiyah. Dari sini ada sebuah pelajaran berharga bagi kita semua bahwa perbedaan madzhab bukanlah sebagai alasan untuk bersikap fanatik. Sebab, sikap fanatik akan menghalangi seseorang dalam belajar atau mengajarkan ilmu satu sama lain. Ibnu Katsir adalah seorang tokoh ulama syafi’iyyah (madzhab syafi’i) dan Ibnu Taimiyah adalah tokoh ulama hanabilah (madzhab hanbali).

3. Al-Hafizh al-Kabir Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Utsman adz-Dzahabi.
Beliau adalah salah seorang tokoh ulama yang sangat mumpuni dalam ilmu sejarah dan ilmu hadits. Ibnu Katsir menyebutkan tentang biografi adz-Dzahabi dalam kitab al Bidayah wa an Nihayah, “Beliau adalah tokoh penutup para ulama ahli hadits dan para penghafal hadits.”

Murid-murid Beliau

Di antara Murid-murid beliau adalah:
al-Imam Syihab-uddin Abul Abbas Ahmad bin Alauddin Hajji ad-Dima-syqi, al-Hafizh Zainuddin al-Iraqi, al-Hafizh Waliyyud-din Abu Zur'ah bin al-Hafidz al-Iraqi, al-Hafizh Syams-uddin Abul Khair Muhammad bin Muhammad al-Jaza-ri asy-Syafi'i, dan masih banyak lagi selain mereka.

Karya- Karyanya

Berikut ini adalah bagian karya- karya Ibnu Katsir yaitu:
1.   Tafsir al-Qur'anul Azhim
2.   Bidayah wa Nihayah
3.   Fushul fi Ikhtshari Sirati Rasul
4.   Maulidur Rasul صلى الله عليه وسلَّم
5.   Ikhtishar Ulumul Hadits
6.   at-Takmil fi Ma'rifati Tsiqat wa Dhu'afa' wal Majahil
7.   Jami'ul Masanid wa Sunan al-Hadi li Aqwami Sunan
8.   Ittihaful Mathalib bi Ma'rifati Ahadits Mukhtashar Ibnul Hajib
9.   Irsyadul Faqih ila Ma'rifati Adillati Tanbih
10. al-Ijtihad fi Thalabil Jihad
11. Syarh Shahih Bukhari
12. Kitabul Ahkam
13. Syarh Qith'atu Tanbih lil Imam Abi Ishaq asy-Syair- azi
14. Musnad Syaikhain Abu Bakr wa Umar
15. Musnad Umar bima Ruwiya anhu minal Hadits wal Aatsar
16. Kitabul Muqaddimat
17. Mukhtashar Kitab al Madkhal lil Baihaqi
18. Thabaqah Syafi'iyyah wa Manaqib asy-Syafi'i

Akhir Hayatnya

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Beliau hilang penglihatan di akhir hayatnya dan wafat di Damaskus, Syam pada tahun 77 4 H/ 1373 M. Semoga Allah mencurahkan rahmat seluas-luasnya kepada beliau dan menempatkan beliau di Surga-Nya yang luas.

Dari Berbagai Sumber

Artikel ini telah tayang di Laduni.id
Read More

Wednesday, January 1, 2020

Kenal Ulama: Biografi Syeikh Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthi

January 01, 2020 0

Tokoh Ulama | Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi (محمد سعيد رمضان البوطي) nama lengkap beliau adalah Muhammad Said ibnu Mula Ramadhan ibnu Umar al-Buthi. Beliau lahir di Buthan (Turki) pada tahun 1929 M/ 1347 H, dari sebuah keluarga religius.

Ayah beliau adalah Syekh Mula Ramadhan, seorang ulama besar di Turki. Usai peristiwa kudeta Kemal Attatruk, al-Buthi kecil dibawa ikut keluarganya pindah ke Syiria.

Al-Buthi belajar agama pertama kali dari Ayah beliau sendiri, mulanya beliau diajarkan tentang Aqidah, kemudian baru mempelajari sirah nabi, mempelajari ilmu alat, Nahwu dan Sharaf. Beliau sanggup menghafal kitab Alfiyah Ibnu Malik, yaitu salah satu kitab tentang ilmu Nahwu yang berbentuk sya’ir, beliau mampu menghafal 1000 bait sya’ir kitab tersebut, padahal usia beliau masih 4 tahunan. Dan pada usia 6 tahun beliau sudah khatam Al-Quran.

Said Ramadhan al-Buthi juga menempuh pendidikan di Ma’had at-Taujih al-Islamy Damaskus, di bawah bimbingan al-‘allamah Syekh Hasan Habannakeh rahimahullah.

Di usia beliau yang belum melewati 17 tahun, beliau telah mampu naik mimbar menjadi khatib. Beliau menyelesaikan pendidikannya di Ma’had at-Taujih al-Islamy Damaskus pada tahun 1953 M

Pada tahun tersebut al-Buthi menuju Cairo Mesir dan meneruskan studinya dengan spesialisasi ilmu Syariah hingga memperoleh Ijazah Licence. Pendidikan Diploma-nya (setingkat S2) ia ikuti di Fakultas Bahasa Arab.

Pada tahun 1965, Sa’id Ramadhan menyelesaikan program Doktornya di Universitas Al-Azhar dengan predikat Mumtaz Syaf ‘Ula. Disertasi yang ia tulis dan berjudul “Dlawabit al-Mashlahah fi asy-Syari’at al-Islamiyyah” mendapatkan rekomendasi Jami’ah al-Azhar sebagai “Karya Tulis yang Layak Dipublikasikan”.

Dr. Al-Buthi adalah figur ulama yang mengabdikan hidupnya sebagai seorang pembimbing dan dai, sembari terus menampilkan sikap zuhud di dunia yang fana. Orang yang berprinsip tegas jika memang benar itu adalah benar, tanpa peduli tindakannya nanti akan dicerca orang ataupun sebaliknya.

Beliau juga merupakan seorang pemikir Islam moderat sekaligus penulis yang sangat produktif. Karyanya mencapai bilangan tujuh puluh lima buku. Karya-karyanya juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti:

Al-Hub fil Qur’an (Al-Qur’an Kitab Cinta).
La ya’thil Bathil (Takkan Datang Kebathilan terhadap Al-Qur’an).
Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah (Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasul Saw) dan masih banyak yang lainnya.
Dalam konteks kepesantrenan, terutama pesantren salaf, bukunya yang berjudul Dhowabitul Maslahah merupakan referensi primer dalam kajian Bahtsul Masail (BM).

Pandangan Ilmiah Syaikh Said Ramadhan al-Buthi

Beliau adalah seorang ulama Ahlussunnah Waljama’ah, bermadzhab Syafi’i dalam bidang Fiqh dan dalam bidang Tauhid bermanhaj Asy’ari.

Beliau juga sangat gigih meluruskan berbagai macam kesesatan dan ajaran sesat, terlihat dari kitab-kitab beliau dalam meluruskan kesesatan Salafi Wahabi seperti kitab As-Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarokah la Mazhab Islamiyun dan al-La Mazhabiyyah: Akhtoru Bid’atin Tuhaddidus Syariah Islamiyyah.

Tokoh yang paling berpengaruh di Timur Tengah ini juga termasuk barisan ulama yang getol membendung radikalisme Islam. Paham radikal adalah suatu paham yang anti dengan tradisi bermadzhab, anti ijtihad, intoleran, cenderung eksklusif dan menganggap kebenaran hanya ada pada kelompok mereka.

Pandangan politik beliau berseberangan dengan pandangan politik Ikhwanul Muslimin, oleh sebab itu beliau menuliskan satu kitab tentang esensi Jihad dalam Islam yang berjudul “Al Jihadu fi Islam”, untuk membendung generasi muda muslim agar tidak terjatuh dalam politik teroris berkedok Jihad dan Islam. Beliau lebih mengutamakan perdamaian dan perundingan dari pada pemberontakan dan oposisi.

Wafat al-Buthi

Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi asy-Syafi’i al-Asy’ari, syahid terbunuh dalam sebuah aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh para kaum ekstrimis radikalis yang tidak tidak sepemikiran dengan Said Ramadhan Al-Buthi.

Bom bunuh diri itu terjadi di Masjid al-Iman Damaskus Syiria, pada tanggal 21 Maret 2013 M atau bertepatan pada tanggal 9 Jumadil Awal 1434 H, disaat beliau sedang melakukan kajian rutin malam Jum’at di Mesjid tersebut.

Beliau tutup usia pada umur 84 tahun, dan disholatkan pada tanggal 23 Maret 2013 di Mesjid Umayyah oleh ribuan jama’ah dari Iran, Libanon dan Urdun. Beliau dimakamkan didekat Mesjid tersebut, disamping makam Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Wafat beliau adalah duka bagi seluruh muslim Ahlussunnah di seluruh dunia.

Oleh Arif Rahman Hakim, Pengurus PWCINU dan LAZIZNU Okinawa - Jepang Tahun 2017

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Tuesday, December 31, 2019

Kenal Ulama: Biografi Imam Tirmidzi, Penyusun Kitab Sunan At Tirmidzi

December 31, 2019 0

Tokoh Ulama | Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin adl Dlahhak atau lebih terkenal dengan nama Imam Tirmidzi. Nasab Beliau adalah As Sulami, yaitu nisbah kepada satu kabilah yang dijadikan sebagai afiliasi beliau, dan nisbah ini merupakan nisbah keakraban. Kemudian kata At Tirmidzi, dinisbahkan kepada negeri tempat beliau di lahirkan (Tirmidz), yaitu sebuah kota yang terletak di selatan dari sungai Jaihun, bagian selatan Iran.

Kelahiran

Para pakar sejarah tidak menyebutkan tahun kelahiran Imam Tirmidzi secara pasti, akan tetapi sebagian yang lain memperkirakan bahwa kelahiran Imam Tirmidzi pada tahun 209 hijriah. Sedang Adz Dzahabi berpendapat dalam kisaran tahun 210 hijriah. Imam Tirmidzi beliau pernah bercerita bahwa kakeknya adalah orang Marwa, kemudian berpindah dari Marwa menuju ke Tirmidz, dengan ini menunjukkan bahwa beliau lahir di Tirmidzi.

Ada satu berita yang mengatakan bahwa Imam Tirmidzi dilahirkan dalam keadaan buta, padahal berita yang akurat adalah, bahwa Imam at-Tirmidzi mengalami kebutaan di masa tua, setelah mengadakan lawatan ilmiah dan penulisan Imam at-Tirmidzi terhadap ilmu yang ia miliki. Masa kecil beliau tumbuh di daerah Tirmidz mendalami ilmu di daerah ini sebelum memulai rihlah ilmiah beliau.

Menimba Ilmu

Berbagai literatur-literatur yang ada tidak menyebutkan dengan pasti kapan imam Tirmidzi memulai mencari ilmu, akan tetapi yang tersirat ketika kita memperhatikan manaqib beliau, bahwa beliau memulai aktifitas mencari ilmunya setelah menginjak usia dua puluh tahun. Maka dengan demikian, beliau kehilangan kesempatan untuk mendengar hadits dari sejumlah tokoh-tokoh ulama hadits yang kenamaan, meski tahun periode beliau memungkinkan untuk mendengar hadits dari mereka, tetapi beliau mendengar hadits mereka melalui perantara orang lain. Yang nampak adalah bahwa beliau memulai rihlahnya pada tahun 234 hijriah.

Beliau memiliki kelebihan hafalan yang begitu kuat dan kemampuan otak yang cepat menangkap ilmu pelajaran. Sebagai permisalan yang dapat menggambarkan kecerdasan kecerdasan dan kekuatan hafalan beliau adalah, satu kisah perjalanan beliau ketika menuju Mekkah, yaitu :

“Pada saat aku dalam perjalanan menuju Mekkah, ketika itu aku telah menulis dua jilid berisi hadits-hadits yang berasal dari seorang syaikh. Kebetulan Syeikh tersebut berpapasan dengan kami. Maka aku bertanya kepadanya, dan saat itu aku mengira bahwa “dua jilid kitab” yang aku tulis itu bersamaku. Tetapi yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang masih putih bersih belum ada tulisannya. Aku memohon kepadanya untuk memperdengarkan hadits kepadaku, dan ia mengabulkan permohonanku itu. Kemudian ia membacakan hadits dari lafazhnya kepadaku. Di sela-sela pembacaan itu ia melihat kepadaku dan melihat bahwa kertas yang kupegang putih bersih. Maka dia menegurku: ‘Tidakkah engkau malu kepadaku? Maka aku pun memberitahukan kepadanya perkaraku. Dan aku berkata: ‘Aku telah menghafal semuanya’, maka syeikh tersebut berkata: ‘bacalah!’, maka aku pun membacakan kepadanya seluruhnya, tetapi dia tidak mempercayaiku, maka dia bertanya: ‘Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?’ ‘Tidak’ jawabku. Kemudian aku meminta lagi agar dia meriwayatkan hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadits, lalu berkata: ‘Coba ulangi apa yang kubacakan tadi’ Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai tanpa salah satu huruf pun.”

Rihlah Beliau

Imam At Tirmidzi keluar dari tempat kelahirannya menuju ke Khurasan, Iraq dan Haramain dalam rangka menuntut ilmu. Di sana beliau mendengar ilmu dari kalangan ulama yang beliau temui, sehingga dapat mengumpulkan hadits dan memahaminya. Akan tetapi sangat di sayangkan beliau tidak masuk ke daerah Syam dan Mesir, sehingga hadits-hadits yang beliau riwayatkan dari ulama kalangan Syam dan Mesir harus melalui perantara, kalau sekiranya beliau mengadakan perjalanan ke Syam dan Mesir, niscaya beliau akan mendengar langsung dari ulama-ulama tersebut, seperti Hisyam bin ‘Ammar dan yang lainnya.

Para pakar sejarah berbeda pendapat tentang masuknya imam At Tirmidzi ke daerah Baghdad, sehingga mereka berkata : “Kalau sekiranya dia masuk ke Baghdad, niscaya dia akan mendengar dari Imam Ahmad bin Hanbal.”

Al Khathib tidak menyebutkan at Tirmidzi (masuk ke Baghdad) di dalam tarikhnya, sedangkan Ibnu Nuqthah dan yang lainnya menyebutkan bahwa beliau masuk ke Baghdad. Ibnu Nuqthah menyebutkan bahwasanya beliau pernah mendengar di Baghdad dari beberapa ulama, diantaranya adalah : Al Hasan bin AshShabbah, Ahmad bin Mani’ dan Muhammad bin Ishaq Ash Shaghani.

Sehingga kemudian diprediksi bahwa beliau masuk ke Baghdad setelah wafatnyanya Imam Ahmad bin Hanbal, dan ulama-ulama yang disebutkan oleh Ibnu Nuqthah meninggal setelah sang Imam Ahmad. Sedangkan pendapat Al Khathib yang tidak menyebutkannya, itu tidak berarti bahwa beliau tidak pernah memasuki kota Baghdad sama sekali, sebab banyak sekali dari kalangan ulama yang tidak disebutkan Al Khathib di dalam tarikhnya, padahal mereka memasuki Baghdad.

Setelah pengembaraannya, Imam At Tirmidzi kembali ke negerinya, kemudian beliau masuk Bukhara dan Naisapur, dan beliau tinggal di Bukhara beberapa saat.

Negeri-negeri yang pernah dimasuki Imam At Tirmidzi adalah:

Khurasan
Bashrah
Kufah
Wasith
Baghdad
Makkah
Madinah
Ar Ray

Guru-Guru Beliau

Imam at Tirmidzi menuntut ilmu dan meriwayatkan hadits dari ulama-ulama kenamaan. Di antara mereka adalah :

Qutaibah bin Sa’id
Ishaq bin Rahuyah
Muhammad bin ‘Amru As Sawwaq al Balkhi
Mahmud bin Ghailan
Ismai’l bin Musa al Fazari
Ahmad bin Mani’
Abu Mush’ab Az Zuhri
Basyr bin Mu’adz al Aqadi
Al Hasan bin Ahmad bin Abi Syu’aib
Abi ‘Ammar Al Husain bin Harits
Abdullah bin Mu’awiyyah al Jumahi
‘Abdul Jabbar bin al ‘Ala’
Abu Kuraib
‘Ali bin Hujr
‘Ali bin Sa’id bin Masruq al Kindi
‘Amru bin ‘Ali al Fallas
‘Imran bin Musa al Qazzaz
Muhammad bin Aban al Mustamli
Muhammad bin Humaid Ar Razi
Muhammad bin ‘Abdul A’la
Muhammad bin Rafi’
Imam Bukhari
Imam Muslim
Abu Dawud
Muhammad bin Yahya al ‘Adani
Hannad bin As Sari
Yahya bin Aktsum
Yahya bin Hubaib
Muhammad bin ‘Abdul Malik bin Abi Asy Syawarib
Suwaid bin Nashr al Marwazi
Ishaq bin Musa Al Khathami
Harun al Hammal

Murid-Murid Beliau

Kumpulan hadits dan ilmu-ilmu yang dimiliki Imam Tirmidzi banyak yang meriwayatkan, diantaranya adalah :

Abu Bakr Ahmad bin Isma’il As Samarqandi
Abu Hamid Adullah bin Daud Al Marwazi
Ahmad bin ‘Ali bin Hasnuyah al Muqri’
Ahmad bin Yusuf An Nasafi
Ahmad bin Hamduyah an Nasafi
Al Husain bin Yusuf Al Farabri
Hammad bin Syair Al Warraq
Daud bin Nashr bin Suhail Al Bazdawi
Ar Rabi’ bin Hayyan Al Bahili
Abdullah bin Nashr saudara Al Bazdawi
‘Abd bin Muhammad bin Mahmud An Safi
‘Ali bin ‘Umar bin Kultsum as Samarqandi
Al Fadhl bin ‘Ammar Ash Sharram
Abu al ‘Abbas Muhammad bin Ahmad bin Mahbub
Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad An Nasafi
Abu Ja’far Muhammad bin Sufyan bin An Nadlr An Nasafi al Amin
Muhammad bin Muhammad bin Yahya Al Harawi al Qirab
Muhammad bin Mahmud bin ‘Ambar An Nasafi
Muhammad bin Makki bin Nuh An Nasafi
Musbih bin Abi Musa Al Kajiri
Makhul bin al Fadhl An Nasafi
Makki bin Nuh
Nashr bin Muhammad bin Sabrah
Al Haitsam bin Kulaib

Karya-Karyanya

Imam Tirmidzi menitipkan ilmunya di dalam hasil karya beliau, diantara buku-buku beliau ada yang sampai kepada generasi kita dan ada juga yang tidak sampai.

Diantara hasil karya beliau yang sampai kepada kita adalah :

Kitab Al Jami’, atau terkenal dengan sebutan kitab Sunan at Tirmidzi
Kitab Al ‘Ilal
Kitab Asy Syama’il an Nabawiyyah
Kitab Tasmiyyatu ashhabi rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Adapun karangan beliau yang tidak sampai kepada kita adalah :

Kitab At-Tarikh
Kitab Az Zuhd
Kitab Al Asma’ wa al kuna

Pujian Para Ulama

Para ulama banyak memberikan kesaksian terhadap keilmuan dan kecerdasan Imam Tirmidzi, yang antara lain adalah;

Al Hafiz ‘Umar bin ‘Alak menuturkan; “at-Tirmidzi meninggal, dan ia tidak meninggalkan di Khurasan orang yang seperti Abu ‘Isa dalam hal ilmu, hafalan, wara’ dan zuhud.”

Ibnu Hibban menuturkan; “Abu ‘Isa adalah sosok ulama yang mengumpulkan hadits, membukukan, menghafal dan mengadakan diskusi dalam hal hadits.”

Abu Ya’la al Khalili menuturkan; “Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi adalah seorang yang tsiqah menurut kesepatan para ulama, terkenal dengan amanah dan keilmuannya.”

Abu Sa’d al Idrisi menuturkan; “Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam yang di ikuti dalam hal ilmu hadits, Imam at-Tirmidzi telah menyusun kitab al jami’, tarikh dan ‘ilal dengan cara yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang alim. Imam Tirmidzi ialah seorang ulama yang menjadi contoh dalam hal kuatnya hafalan.”

Al Mubarak bin al Atsram menuturkan; “Imam Tirmidzi merupakan salah seorang imam hafizh dan tokoh.”

Al Hafizh al Mizzi menuturkan; “Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam yang menonjol, dan termasuk orang yang Allah jadikan kaum muslimin mengambil manfaat darinya.

Adz Dzahabi menuturkan; “Imam Tirmidzi adalah seorang hafizh, alim, dan imam yang cakap.

Ibnu Katsir menuturkan: “Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam dalam bidangnya pada zaman Imam at-Tirmidzi.”

Wafatnya Beliau

Setelah perjalanan panjang beliau dalam mencari ilmu, mencatat, berdiskusi dan bertukar pikiran serta mengarang kitab, pada akhir hayatnya beliau mendapat musibah kebutaan, dan dalam beberapa tahun lamanya beliau hidup sebagai tuna netra. Dan dalam keadaan seperti inilah akhirnya Imam At-Tirmidzi wafat. Beliau wafat di kampung halamannya Tirmidz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H bertepatan dengan 8 Oktober 892, dalam usia beliau pada saat itu 70 tahun.

Oleh Arif Rahman Hakim, Pengurus PWCINU dan LAZIZNU Okinawa - Jepang Tahun 2017
Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More