TARBIYAH ONLINE: Tasawuf

Terbaru

Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

Sunday, September 8, 2019

Ternyata Ada Bahaya Besar Dibalik Kalimat "Jangan Merasa Sok Suci"

September 08, 2019 0

Tarbiyah.onlineSering mendapati kalimat "Jangan Merasa Paling Suci, Kita Cuma Berbeda Jalan Dalam Memilih Dosa…?“ atau "Jangan Merasa Sok Suci" ...?

Kalimat dalam status atau komentar para saudara kita begitu mengusik nalar dan menggelitik hati. Sadar atau tidak, opini dan timpalan kalimat seperti ini akan menggiring orang untuk tidak lagi merasa jijik dengan maksiat dan kasihan kepada pelaku maksiat.

Padahal dalam sebuah hadits disebutkan bahwa tanda serendah-rendah iman adalah merasa benci dengan maksiat dan pelakunya. Oleh karenanya, kalimat "JANGAN MERASA PALING SUCI" secara tidak langsung telah menabrak hadits.

Memang benar, ada ayat Al Qur an yang berbunyi:
لا تزكوا انفسكم هو أعلم بمن اتقى
Janganlah kamu menganggap dirimu suci, Dia lebih mengetahui siapa yang paling bertakwa (QS: An Najm: 32)

Sekilas, kalimat "JANGAN MERASA PALING SUCI" dalam status atau komentar saudara kita sesuai dengan bunyi ayat di atas. Namun ketika kembali direnungkan lebih jauh ternyata ada qarinah (indikator) lain yang menegaskan bahwa kalimat di atas justru telah fitalbis (dicampurkan antara haq dan batil) dengan licik.

Ayat diatas bermaksud agar orang muslim itu tidak 'ujub dengan kebaikan yang dilakukannya. Jangan mengatakan bahwa diri kita paling baik. Ayat ini difirmankan oleh ALLAH SWT yang kebenarannya tidak diragukan lagi dan tidak bercampur dengan kedustaan sedikitpun.

Sedangkan kalimat "JANGAN MERASA PALING SUCI" dalam status ini telah dicampur dengan "bangkai" yang berbunyi "KITA HANYA BERBEDA DALAM MEMILIH DOSA". Berarti kalimat "JANGAN MERASA PALING SUCI" ini diucapkan oleh pelaku dosa. Bayangkan bila semua pelaku dosa bebas mengucapkan seperti ini. Efek yang muncul begitu mengerikan. Misalnya:
1. Ada guru menghukum muridnya yang bandel dengan berdiri di depan kelas, lantas muridnya berkata "jangan merasa diri paling suci, kita hanya berbeda dalam memilih dosa".

2. Polisi syari'at (Wilayatul Hisbah/ WH) menegur pelaku perjudian dan wanita berpakaian ketat, lantas penjudi dan wanita itupun berkilah, "jangan merasa paling suci, kita hanya berbeda dalam memilih dosa".

3. Suami menegur istrinya agar jangan suka chatingan negatif sama non mahram, istri pun berujar, "jangan merasa paling suci, kita hanya berbeda dalam memilih dosa".

Bayangkan, betapa bahayanya pemikiran yang telah terjangkiti virus liberal tanpa batas ini. Semoga Allah menjaga kita semua dari virus liberal.

Wallahua'lam bishshawab.

Oleh: Mahfudh Muhammad Ahmad
Read More

Saturday, September 7, 2019

Awas! Aswaja Dan Muhibbin Sufi Palsu: Guruku Lebih Mulia Daripada Sahabat Nabi

September 07, 2019 0

Tarbiyah.online - Sebuah fenomena baru dari sebagian orang yang mengaku ahlussunnah wal jamaah dan pencinta sufiyyin menganggap bahwa ajaran aswaja dalam menghormati dan mencintai sahabat nabi radhiyallahu 'anhum ajma'in hanya doktrin turunan belaka, bukan karena mereka pantas dihormati, melainkan gak enak sama guru mereka.

Sebenarnya dalam hati mereka ingin memaki Saiyidina Muawiyah radhiyallahu 'anh yang sepengatahuan mereka beliau itu seorang penjahat. Atau ingin menggunjingi Saiyidina Usman radhiyallahu 'anh dengan berbagai macam alasan, misal. Dan lagi, satu-satunya yang membuat mereka ngerem untuk melakukan itu adalah kembali karena gak enak sama doktrin guru.

Dimata mereka, Waliyullah selain daripada Sahabat Nabi itu jauh lebih mulia dibanding Sahabat Nabi, hanya saja mereka tidak berani mengungkapkan.

Hal ini tampak ketika mereka aka sangat marah jika guru mereka dikatakan salah, tapi untuk menyalahkan mawqif sahabat itu sangat mudah, tak jarang mereka menganggap maqam guru mereka lebih tinggi daripada sahabat alhabib radhiyallahu 'anhum ajma'in.

Mereka seolah lupa jika dalam dunia kesufian atau muhibbin ada sebuah kaidah masyhur "nihayatul awliya bidayatul wahsyy", akhir dari maqam auliya awal dari makam Wahsyi (yang hanya bisa memandangi sayidina rasulullah saq dari jauh). Tentu saja para awliya tidak membuat kaidah ini karena doktrin. Tapi kaidah itu setelah meraka mempelajari sirah sahabat dengan detail ditambah lagi kasyaf mereka dari karamah mereka.

Mereka menghormati Saiyidina Muawiyah atau Saiyidina Amru bin 'Ash serta sahabat lainnya bukan karena doktrin, tapi karena muhibbin dan sufi yang merupakan arbab ASWAJA itu, sangat mengenal para sahabat, merekalah manusia yang paling sering membaca manaqib para sahabat nabi, tak ada yang mengenal sahabat nabi melebihi mereka.

Sehingga mereka sadar maqam dari didikan Saiyidina Rasulullah SAW, setelah mempelajari sejarah para sahabat dengan benar dan teliti, mereka sampai pada kesimpulan bahwa debu disepatu sahabat nabi yang semuanya pernah meneguk nikmatnya Nur Muhammadiyah itu jauh lebih mulia daripada mereka semua.

Dan kini datang sekolompok manusia yang mengaku sufiyin, muhubbin, sunniyin, saat berbicara tentang para Sahabat Nabi, seperti berbicara tentang pak RT dikampung mereka, bahkan kadang terhadap pak RT pun lebih sopan, yang menghalangi diri mereka berkata lebih dari itu hanya karena gak enak sama guru, tidak lebih. Sesungguhnya mereka benar-benar tidak mengenal sufiyin, sunniyin dan muhibbin kecuali hanya nama saja.

Hal yang paling gila yang bisa mereka lakukan adalah menuduh kalau perintah tawaquf (diam dulu) saat ada musykil (masalah) dalam sejarah sahabat adalah doktrin!

Tidak kawan! Itu bukan doktrin!

Level terendah dalam buku tarikh yang diajarkan memerintahkan tawaquf dan berhusnuzhan karena memang tahap pertama mengenal mereka itu singkat. Tapi ada tahap selanjutnya, dimana semuanya dibahas dengan rinci dan agak panjang.

Dan tak jarang ada yang sotoy ilmiyah, kalau mereka merasa lebih banyak tahu daripada guru mereka, menganggap bahwa guru mereka tidak tahu masalah musykil ini (tentu didepan guru mereka gak berani ngomong hal ini).

Tidak kawan!! Guru kalian yang punya sanad keilmuan tarikh sahabat itu, pasti tahu masalah musykil itu, dan bahkan lebih dari itu, mereka bahkan tahu dengan detail masalah ini, dan jika kalian bertanya pasti mereka tahu jawaban musykil itu, maka dari itu sampai sekarang makin hari mereka semakin yakin secara ilmiyah dan zauqiyah bahwa menghormati sahabat itu kewajiban.

Saat mereka tidak menjelaskan secara detail pada kalian tentang masalah musykil dalam tarikh sahabat, itu karena waktu itu pembahasan tinggi belum level kalian, tapi tentu seorang guru bersanad telah memberi nasehat pada kalian dalam menghadapi masalah ini. Jika kalian mau naik level saat belajar tarikh sahabat maka datanglah ke guru yang bersanad, jika kalian tidak mau naik level maka cukupkan tawaquf (diam) dan husnuzhan.

Tapi sayangnya kalian melanggar semuanya. Ke guru bersanad kalian tidak datangi, tawaquf juga tidak. Kalian malah ngoceh dan su'uzan. Benar-benar tidak beradab.

Akhirnya malah jauh sekali lari dari manhaj guru mereka yang sufi, muhibbin dan aswaja, dan anehnya mereka masih merasa bahwa mereka mewakili guru mereka.

Tentu benar sebuah kaedah dalam ilmu tasawuf, siapa yang belajar tanpa guru maka setanlah yang akan jadi gurunya. Jika gurunya setan? Lanjut sendiri...!

Sebaliknya jika kamu punya guru, dan gurumu bersanad dan kamu ikuti nasehatnya In syaa Allah kita bisa selalu dalam manhaj yang diajarkan Saiyidina Nabi SAW.

Oleh Ustadz Fauzan, Mahasiswa Program Magister di Suriah
Read More

Sunday, August 25, 2019

Masyarakat Muslim Adalah Panglima Sekaligus Pelopor Perdamaian

August 25, 2019 0

Tarbiyah.online – Kondisi terakhir pemikiran dan pendapat dunia tentang Islam dan kaum muslim adalah sebuah paham kekerasan dan kaum teroris. Adapun "mujamalah" mereka dengan mengatakan umat muslim adalah saudara kami hanyalah omong kosong belaka.

Negara minoritas muslim manapun di muka bumi sekarang ini sudah menganggap Islam adalah sebagai sebuah paham yang menjadi ancaman dimana pun berada. Umat muslim sudah dipahami sebagai biang kerusuhan dan terorisme dimana pun mereka tinggal. Hampir tidak ada lagi hal baik dari Islam yang muncul di dalam benak mereka, bahkan muslim arab yang kaya sudah dianggap sebagai manusia haus nafsu seksual yang sudah biasa membeli perempuan kulit putih di eropa timur.

Ya memang begitu lah anggapan mereka saat ini.

Lalu anda berseru,"Itu semua adalah strategi yahudi dan nasrani untuk menghancurkan nama baik Islam, padahal Islam tidak demikian.".

Benar, Islam memang tidak demikian, namun fakta dan kenyataannya saat ini menunjukkan demikian. Selayak perkataan Muhammad Abduh "Al-Islamu mahjubun bil muslimin" yakni Keagungan Islam tertutupi oleh orang-orang muslim adalah benar adanya.

Sahabat ku, kita paham, kita mengerti bahwa Islam tidak mengajarkan terorisme, pengerusakan dan hal-hal buruk lainnya. Tetapi sadarilah bahwa mereka (orang Eropa) tidak mengerti yang demikian karena mereka tidak mempelajari Islam. Seandainya mereka mempelajari keindahan Islam tentu mereka tidak beranggapan bahwa Islam adalah paham terorisme. Dan sadarilah saudaraku, bahwa ketika mereka tidak mengetahui isi ajaran Islam, mereka akan menilai Islam dari umat muslim. Tentu saja anggapan mereka tentang Islam begitu buruk karena buruknya kelakuan kaum muslim.

Mari menjadi muslim sejati dengan mengamalkan hadits baginda Saw yang diriwaytkan oleh Bukhari dan Muslim yang amat sarat akan makna berikut :

عن عبد الله بن عمرو ـ رضي الله عنهما ـ عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده، والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه.

Dari Abdullah bin Amru r.a dari Rasulullah Saw bersbda: "Muslim adalah yang selamat umat muslim lainnya dari lisan dan tangannya, dan  Muhajir (orang yang hijrah) adalah yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah terhadapnya" (Muttafaqun alaih)


Menjadi muslim sejati adalah dengan bersikap baik agar umat muslim lain tidak tersakiti olehnya secara langsung. Dan lebih dari itu, jagalah sikap kita sebagai muslim agar umat muslim lainnya tidak disakiti oleh umat lain akibat perbuatan kita yang mengganggu dan merusak kedamaian umat lainnya.

Sadar atau tidak, perilaku sebagian umat Islam yang merusak, membunuh, membom dan menghancurkan kedamaian umat lain akan menciptakan aksi balasan. Hal ini adalah sebuah sunnatullah, dimana setiap ada aksi akan terjadi reaksi. Perilaku buruk yang terjadi kepada muslim minoritas di dunia bisa jadi merupakan tindakan balasan terhadap perilaku buruk yang diterima umat lain yang minoritas di negara muslim. Kecurigaan terorisme yang dialami oleh umat muslim minoritas di eropa, amerika dan australia adalah akibat tindakan ekstrimis muslim yang membunuh semena-mena, membom dan meledakkan diri sesukanya, menghancurkan dan mengancam keamanan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Saudaraku, pahamilah bahwa Islam mengajarkan kedamaian. Maka jadilah panglima kedamaian di muka bumi untuk menjaga keselamatan umat Islam lainnya di negara yang minoritas muslimnya. Karena setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya.

Mari menjdi muslim sejati dengan menyelamatkan muslim lainnya dari tindakan kita secara langsung atau aksi balas terhadap tindakan kita secara tidak langsung.

Oleh Ustad Suryandi Temala (Ustad Fesbuker)
Read More

Sunday, July 7, 2019

Sisi Lain Tafsir Hadits: Dunia Penjara Bagi Orang Beriman dan Surga Bagi Kafir

July 07, 2019 0

Tarbiyah.online Selama ini kebanyakan dari kita memahami sebuah hadis hanya berdasarkan fiqh dan dan hukum lahiriyah saja. Tentu saja itu tidak salah, bahkan hal tersebut menjadi sebuah dalil hukum yang sama sekali tidak bisa kita kesampingkan, sedikit pun. Namun, beberapa hadis Rasulullah kadang perlu ditinjau dari sisi psikologis dan kejiwaan.

Sebuah hadis yang amat terkenal, "Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir" (H.R Muslim), tentu familiar di telinga kita.

Secara zahir, setiap mukmin dibatasi oleh hukum halal-haram. Dan segala yang diharamkan bisa dinikmati sepuasnya di kehidupan mendatang (akhirat kelak). Sebagaimana pengharaman atas sex bebas dan arak. Di dunia (penjara) ini, setiap orang beriman dilarang oleh syari'at untuk mendekati (apalagi melakukan) hal-hal yang diharamkan.

Parahnya, ada beberapa yang memahami hadis ini bahwa orang beriman harus hidup penuh derita dan menyedihkan selama di dunia. Sedangkan segala bentuk kesenangan hanya boleh dinikmati oleh orang kafir saja. Tentu saja pemahaman seperti ini buntung, dan tidak tepat.

Namun demikian, sisi lain dalam memaknai penjara dunia ini tidaklah sekedar pembatasan halal dan haram saja.

Penggunaan analogi penjara oleh Rasulullah untuk menggambarkan hakikat dunia bagi orang beriman ternyata lebih luas lagi yang bahkan bisa dimengerti oleh orang awam sekalipun (jika ia membuka ketajaman rasanya).

Penjara adalah hal yang sangat tidak disukai oleh siapapun. Selain karena adanya pembatasan, tentu saja sebab penjara bukanlah tempat yang seharusnya bagi jiwa kita. Tempat yang seharusnya bagi orang beriman adalah surga yang tiada batas, yang dikelilingi oleh kesenangan dan tempat seharusnya jiwa berada.

Jiwa kita tahu persis dimana seharusnya tempatnya berada. Jika seorang mukmin sadar, bahwa tempat bagi jiwanya adalah surga, maka otomatis ia akan menganggap dunia sebagai tempat pengasingan. Karakter jiwa kita dibentuk oleh alam pikir dan rasa.

Allah berfirman dalam Surah Yunus ayat 7, "Sesungguhnya oranghorang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat Kami".

Terang dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa orang kafir meyakini dunia ini adalah surga bagi jiwanya. Dimana ia bisa bebas melakukan apa saja dan juga merasa aman di dunia.

Sedang bagi orang beriman, dunia adalah penjara. Jiwanya akan terus merasa gusar di dunia dan 'berontak' ingin kembali ke rumahnya (surga).

Itulah juga orang beriman ketika nyawanya dicabut oleh malaikat, ia merasa senang. Karena saat jiwa terpisah dari raga duniawi, ia berasa terlepas dari penjara dan kembali menuju rumahnya. Bagaikan seorang tahanan yang divonis bebas, ia diantar oleh penjaga (sipir) keluar dari penjara. Betapa bahagianya ia melihat alam yang luas, menikmati kebebasannya.

Sedang jiwa orang kafir akan merenggang kesakitan sebab berontak pergi dari surga dunia nya. Firman Allah "Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut nyawa dengan keras." (An Nazi'at: 1). Selain tidak rela meninggalkan surga dunianya, ia pun baru tersadar bahwa ternyata dunia ini bukanlah surga.

Disadur dari buku Reclaim Your Heart, Yasmin Mogahed
Wallahu a'lam
Read More

Wednesday, April 24, 2019

SYA'BAN WAKTU TERBAIK UNTUK MEMPERBANYAK SHALAWAT

April 24, 2019 0

Tarbiyah.online - Pernah dengar kalau Sya'ban sering disebut sebagai bulannya Nabi SAW? Ya, dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan, Rajab adalah bulan Allah, Rajab adalah Muhammad, dan Ramadhan adalah bulannya Ummat Muhammad.

Jika Anda percaya dengan hadits dan keutamaan bulan Sya'ban, tentu Anda akan menjadikan shalawat keatas baginda nabi sebagai amalan utama yang mengisi dan menghiasi sebulan penuh ini.

Salah satu hadist tentang kelebihan shalawat yang di sebutkan  dari Ubayy bin Ka’ab Ra ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau. Lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau?” Rasulullahshallallahu alaihi wasallam menjawab, “Terserah kamu” aku berkata: “Seperempat?”

Beliau bersabda: “Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik”  aku berkata: “Separuh?” Beliau bersabda: ““Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik”aku berkata: “Saya menjadikan seluruh shalawat saya untuk engkau” Beliau bersabda:“…Jika begitu maka kamu dicukupi keinginanmu dan diampuni dosamu.” (HR Turmudzi)

Dalam hal ini, Imam Nawawi rahimahullah berkata: Maksud ungkapan (sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau. Lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau?) adalah: “Saya memperbanyak berdo’a maka berapa banyak saya harus bershalawat  atas engkau dalam do’a saya?”

Sementara itu Abu Laits As Samarkand rahimahullah berkata: Andai dalam bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak ada pahala sama sekali kecuali mengharapkan Syafa’at maka wajib bagi orang berakal untuk tidak melupakannya.

[Apalagi dalam bershalawat ada ampunan dosa – dosa, ada shalawat dari Allah],  Abu Laits melanjutkan: [Jika ingin mengetahui bahwa bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah ibadah yang paling utama maka renungkanlah firman Allah,:

 “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al Ahzab:56.)

Seluruh ibadah telah Allah perintahkan kepada para hambaNya. Sementara shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam maka sungguh diriNya telah bershalawat dan kemudian Memerintahkan orang beriman agar mereka bershalawat atasnya. Ini menetapkan bahwa Shalawat atas Nabishallallahu alaihi wasallam adalah ibadah yang paling utama.

Imam Nawawi berkata: [Jika seseorang bershalawat kepada Nabishallallahu alaihi wasallam maka hendaknya menggabungkannya dengan ucapan salam (Taslim) dan tidak hanya menyebutkan salah satunya].

Imam al Ghazali menceritakan: [Pernah aku menulis sebuah hadits dan sekaligus bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, tetapi tidak mengucapkan salam. Maka aku bermimpi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Beliau bersabda kepadaku, “Kenapa tidak kamu sempurnakan bershalawat atasku dalam kitabmu?” maka mulai setelah itu tidak kutulis shalawat kecuali menyertakan salam]

Imam Nawawi berkata: "[Disunnahkan bagi pembaca hadits atau lainnya yang semakna, jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebut agar mengeraskan suara bacaan shalawat dan salam atas Beliau  dan jangan sampai mengeraskan dengan suara yang terlalu keras sehingga terkesan jelek. Di antara tokoh yang menyatakan dan menganjurkan mengeraskan suara ini adalah al Imam al A’zham al Hafizh Abu Bakar al Khathib al Baghdadi serta juga para tokoh ulama yang lain]”.

Abu Bayan al Ashfihani berkata: [Aku bermimpi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bertanya kepada Beliau: “Kenapa engkau tidak memberikan manfaat kepada anak pamanmu As Syafi’i dengan sesuatu atau mengistimewakannya dengan sesuatu?” Beliau bersabda:

“Ia, aku memohon kepada Tuhanku agar tidak menghisabnya” aku bertanya: “Sebab apa?” Beliau bersbda: “Sebab ia telah bershalawat kepadaku dengan shalawat yang belum pernah aku mendapat shalawat seperti itu” aku bertanya: “Apakah itu?” Beliau bersabda: “Ia (Syafii) mengucapkan: “Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad selama orang – orang yang ingat menyebutnya dan selama orang – orang yang lupa lalai dari menyebutnya”]

Ibnu Abdul Hakam berkata: Dalam mimpi aku melihat Syafi’i dan bertanya: “Apakah yang dilakukan Allah kepadamu?” ia menjawab: “Dia Memberiku nikmat dan Mengampunikun dan dan aku diarak di surga layaknya pengantin diarak serta ditaburkan atasku seperti halnya ditaburkan atas pengantin” aku (Ibnu Abdil Hakam) bertanya: “Dengan apakah kamu menggapai derajat ini?” ia menjawab:

“Sebab ucapanku dalam kitab Ar Risalah;“Dan semoga Allah bershalawat atas Muhammad sesuai bilangan orang pengingatan orang – orang yang ingat dan sesuai bilangan kelalaian orang – orang yang lupa mengingatnya”

Beranjak dari itu mari kita perbanyak bershalawat di bulan Syakban yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Semoga keberkahan dan keridhaan Allah SWT menghampiri kita. Semoga.

Teungku Helmi Abu Bakar, M.Ag, Dewan Guru Senior Dayah MUDI Mesra.
Read More

Friday, June 22, 2018

DUA PERKARA UTAMA DALAM AGAMA

June 22, 2018 0

Tarbiyah.Online -  Agama kita memiliki prinsip utama yang mengajarkan ummatnya untuk menjadi insan kamil, manusia yang sempurna dalam pandangan syari'at. Dalam kitab Nashaihul 'Ibad disebutkan, ada 2 perkara utama yang harus dimiliki dan diamalkan oleh setiap muslim untuk mencapai kesempurnaan iman.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi SAW bersabda:

خصلتان لا شئ افضل منهما الايمان بالله والنفع للمسلمين

"Ada dua perkara, yang tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama muslim (baik dengan ucapan atau kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan badannya)."

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW juga bersabda, "Barang siapa yang pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk menganiaya terhadap seseorang maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa pada waktu pagi hari memiliki niat memberikan pertolongan kepada orang yang dianiaya atau memenuhi hajat orang islam, maka baginya mendapat pahala seperti pahala haji yang mabrur".

Dalam hadits diatas Rasulullah mengabarkan tentang keutamaan berbuat baik kepada seluruh makhluk Allah. Berbuat baik dikategorikan kepada dua perkara: yang pertama kebaikan yang berlaku pasif (yaitu tidak melakukan keburukan) dan kedua kebaikan yang aktif (membantu oranglain dengan segala daya semampunya).

Dan Nabi SAW bersabda "Hamba yang paling dicintai Allah SWT adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling utama adalah membahagiakan hati orang mukmin; dengan menghilangkan laparnya, atau menghilangkan kesusahannya, atau membayarkan hutangnya. Dan selain itu juga terdapat dua perkara yang tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut yaitu syirik kepada Allah dan mendatangkan bahaya kepada kaum muslimin".


Sebagaimana kebaikan diketjakan dengan anggota tubuh badan, pikiran atau pun juga harta. Kejahatanan juga berlaku sama (baik membahayakan atas badannya, atau hartanya). Dua hal tersebut merupakan hal yang paling buruk. 

Karena dari sesungguhnya seluruh perintah Allah selalu tergolong kepada dua perkara tersebut (pengagungan kepada Allah dan menebar kasih sayang kepada makhluk-Nya). Mengagungkan Allah dan berbuat baik kepada makhluknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala. "Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat." (Q.S Al Baqarah:43). Dan melanggar keduanya adalah dosa yang teramat besar.

Dan dalam surat yang lain firman Allah Ta’ala, "Hendaklah kamu bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu." (Q.S. Luqman :14)

Disarikan daripada Kitab Nashaihul 'Ibad karya Syeikh Nawawi Bantani.
Read More

Friday, May 18, 2018

HIKMAH RAMADHAN PERTAMA: BESARNYA GANJARAN PAHALA

May 18, 2018 0

Salah satu ibadah khusus yang tidak ada di bulan lain bulan Ramadhan, berupa shalat tarawih. Bahkan shalat tarawih dari malam pertama hingga malam ke-30 mempunyai nilai pahala tersendiri dan berbeda-beda.
Penulis mengutip dari berbagai sumber, berikut keutamaan Salat Tarawih di malam pertama bulan Ramadhan:
Pertama, Shalat tarawih merupakan salah satu keistimewaan bulan Ramadhan, tidak ada disunatkan shalat tarawih di luar bulan Ramadhan. Beranjak dariitu kita tidak boleh menyiakan kesempatan berharga ini. Di sebutkan dari Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu‘Alaihi wa Sallam tentang keutamaan (shalat) Tarawih di bulan Ramadhan lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi was Sallam bersabda: Dosa-dosa orang yang beriman keluar darinya pada malam pertama seperti hari dilahirkan ibunya.
Kedua, Diampuni Dosanya
Diketahui dari hadits riwayat Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abu Harairah, barang siapa yang melaksanakan Salat Tarawih pada malam pertama bulan ramadan, dia diibaratkan seperti bayi yang dilahirkan kembali oleh ibunya.
Hal ini berarti orang yang melaksanakan Salat Tarawih di hari pertama akan bersih dari dosa dan kesalahan.

إِِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ اللَّهُ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِعيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَْ الذُّنُوبْ كَيَوْم وَلَدَتْهُ أُمُّه

“Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR : Ahmad, Ibnu Majah. Al Bazzar, Abu Ya’la dan Abu Hurairah.)
Ketiga, Dimantapkan Hatinya.
Salat Tarawih pada malam pertama bulan Ramadan sangat dianjurkan agar kita semakin siap memasuki bulan penuh berkah ini. Tarawih malam pertama merupakan sebagai penanda awal ramadhan.

Shalat tarawih pada malam pertama adalah pertanda bahwa umat muslim pada keesokan harinya akan mulai melaksanakan ibadah puasa ramadhan.Hal ini juga secara tidak langsung merupakan pemberitahuan kepada setiap umat muslim jika ada diantara mereka yang belum mengetahui kapan dimulainya puasa ramadhan.
Keempat, Doa Dikabulkan
Setelah mendapat kemantapan hati dan ampunan dosa, melaksanakan Salat Trawih mulai dari malam pertama akan membuat doa yang kita minta dikabulkan Allah SWT.

“Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR Muslim dan Ahmad).
Kelima, Taqarrub Kepada Allah.
Seseorang yang memulai ibadah di bulan ramadhan dengan melaksanakan Salat Tarawih menandai bahwa kita semakin dekat dengan Allah.

Shalat Tarawih sebagaimana salat malam lainnya sanga dianjurkan untuk dilaksanakan selama bulan ramadhan. Hal ini bisa membantu kita semakin dekat dengan Allah SWT sebagaimana dalam hadits berbunyi :
“Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang saleh sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR Ahmad). 
Beranjak dari itu marilah kita raih untaian pahala tarawih malam pertama ini dengan sempurna dan mengharap ridha ilahi.


Helmi Abu Bakar el-Langkawi
Read More

HIKMAH RAMADHAN KE-2: PAHALA SHALAT TARAWIH & MEMBACA ALQURAN

May 18, 2018 0
Shalat tarawih sebagai ibadah khusus bulan Ramadhan, mereka yang beribadah dan melakukan shalat tarawih pada malamkedua akan mendapatkan pahala:

 وفى الليلة الثانية يغفر له ولأبويه ان كان مؤمنين 

Pada Malam yang ke : 2 Orang yang Shalat Tarawih akan diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya jika keduanya Mukmin.

Membaca Al-Quran

Bulan Ramadhan yang sedang ditempuh saat ini hendaknya kita meningkatkan amal ibdah. Satunya dengan memperbanyak membaca Al-Quran yang merupakan sebagai pedoman dan petunjuk umat Islam. Siapa yang membacanya juga termasuk ibadah walaupun tidak mengerti isi dan kandungannya. Ramadhan di identifikasikan sebagai bulan Al-Quran, hal ini disebabkan pada bulan ini alquran di turunkan. Setidaknya momentum ramadhan ini tentu saja menganjurkan kepada kita untuk lebih giat dan tekun dalam membaca, memahami dan menguak rahasia dalam kitab suci tersebut.

Rasulullah Saw sendiri orang yang sangat giat membaca al-Quran di samping akhlak beliau juga di ibaratkan sebagai al-quran berjalan. Dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, ia berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan padanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan padanya Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ditemui jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”
Hadist diatas meununjukkan kepada kita untuk memperbanyak membaca al-quran terlebih di bulan Ramadhan ini. Nabi Saw juga memanjangkan bacaan Alqurannya pada saat shalat malam di bulan Ramadhan, lebih dari malam-malam di bulan lainnya. Ini adalah sesuatu yang disyariatkan bagi mereka yang ingin memanjangkannya sesuai dengan kehendaknya, maka hendaknya ia shalat sendiri.
Namun boleh juga memperpanjang bacaan dalam shalat berjamaah atas persetujuan para jamaah. Selain itu, maka dianjurkan untuk membaca dengan bacaan yang ringan. Imam Ahamd berkata kepada sebagian sahabtnya yang shalat bersamanya di bulan Ramadhan, “Mereka itu orang yang lemah, maka bacalah lima, enam, atau tujuh ayat”. Berdasarkan pernyataan Imam Ahmad rahimahullah untuk memperingatkan agar memperhatikan keadaan para makmum dan jangan membebani mereka.
Apa yang di lakukan oleh Rasulullah juga di praktekkan para salafussaleh, dimana membaca Alquran di bulan Ramadhan di dalam shalat dan di luar shalat. Mereka menambah perhatian mereka terhadap Alquran yang mulia. Al-Aswad rahimahullah mengkhatamkan Alquran setiap dua hari. An-Nakha-I mengkhatamkannya setiap tiga hari, namun di sepuluh hari terakhir beliau tambah giat lagi. Sementara itu Qatadah mengkhatamkan Alquran di setiap tujuh hari dan di sepuluh hari terakhir beliau menyelesaikannya dalam tiga hari. Apabila bulan Ramadhan tiba, Az-Zuhri mengatakan, “Bulan ini adalah bulan membaca Alquran dan memberi makan”. Bahkan Imam Malik apabila masuk bulan Ramadhan meninggalkan membaca hadits dan berdiskusi bersama penuntut ilmu lainnya, beliau memfokuskan diri untuk membaca Alquran dari mushafnya. Qatadah fokus mempelajari Alquran di bulan Ramadhan. Hal ini juga di kerjakan oleh Sufyan ats-Tauri apabila datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan ibadah sunnah dan menyibukkan diri dengan membaca Alquran. Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat tentang perhatian para salaafush shalih terhadap Alquran di bulan Ramadhan.

Kelebihan Membaca -Quran

Termasuk keistimewaan Alqur’an adalah ia bisa diambil berkahnya. Allah berfirman: “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya…”QS al An’aam: 92. Imam Darimi meriwayatkan dengan sanad shahih bahwa sesungguhnya Ikrimah bin Abu Jahal seringkali meletakkan mushaf di wajahnya sambil berkata: “Ini adalah kitab Tuhanku, kitab Tuhanku”. Di antara berkahnya adalah bahwa membaca sebagian surat atau ayat darinya bisa mengusir setan dari pembaca dan rumahnya, dan sesungguhnya berkumpul untuk membacanya merupakan jalan bagi turun derasnya rahmat Allah, menarik keridho’annya, tempat datangnya ketenangan dan penyebutan Allah bagi orang – orang yang berkumpul karena Alqur’an.

Menggunakan Alqur’an sebagai pengobatan penyakit fisik dan untuk mengambil berkah tidak lantas mencegah menggunakan Alqur’an untuk penyakit hati, menolak kebodohan dan keraguan dari hati serta mengamalkan syariat dan hukum yang terkandung di dalamnya. Barang siapa setelah ini menyangka bahwa menggunakan Alqur’an pada satu sisi seperti pengobatan bisa membatalkan penggunaannya untuk sisi lain atau menafikannya maka persangkaannya itu didustakan oleh amalan Nabishallallahu alaihi wasallam dan amalan para sahabat serta tabiin. ( Kitab Haula Khasha’ish Alqur’an )
wwww.dinulislamnews.com
Read More

DAWUH SYEIKH PRAMUKIY: DAKWAH ADALAH MENAGAJAK DAN MEMPERBAIKI

May 18, 2018 0

“Kalau ada orang yang suka mabuk-mabukan ya ajak dia baik-baik agar meninggalkannya, dengan sabar, jangan memaki dia, sesungguhnya mereka terkena bala yang sangat sulit ditinggalkan, kasihani mereka.”
 Foto Fauzan Inzaghi.
“Kalau ada pelacur, dakwahi dia dan beri solusi yang lebih baik agar dia berubah, jangan menghina atau merendahkan dia, sesungguhnya mereka terjebak disitu, kasihani mereka.”

“Kalau ada orang yang salah paham tentang kewajiban menutup aurat, muamalah dengan non muhrim, kewajiban sholat, kewajiban menghormati orang berilmu dan hukum syar'i lainnya, kasih tahu dia baik-baik dengan penuh kasih sayang, jangan mencaci mereka dengan kata-kata kotor, walau mungkin awalnya nasehat kita dianggap bodoh dan ketinggalan zaman, sesungguhnya itu terjadi karena mereka tidak tahu, kasihani mereka.”

“Begitu juga kalau ada orang salah paham tentang makna jihad, kafir, harbi, khilafah dan lainnya maka harusnya kita tidak membully mereka, tapi ajaklah mereka berdialog dengan sabar, walau mereka akan mencela kita, itu karena mereka tidak tahu, kasihani mereka.”

“Apapun kesalahan mereka kasihani mereka, dan perbaiki mereka dengan baik, bayangkan saja kita atau saudara kita yang terjebak dalam kesalahan itu, baik kesalahan perbuatan atau pemikiran.”

“Betapa malang nasib kita, kita terjebak dalam lingkungan yang membuat kita salah, disatu sisi saudara kita yang lain dibanding menyelamatkan kita dengan sabar malah memlilih membuly kita.”

“Wahai para pembully, pemaki, dan yang menertawakan kesalahan manusia, jika kalian ingin merubah dan memperbaiki mereka bukan begitu caranya, itu bukanlah dakwah atau mengingatkan yang dikerjakan seorang dai,cara seperti itu sama sekali tidak akan merubah mereka, yang ada membuat mereka makin jauh.”

“Tapi jika niat kalian tidak ingin mengingatkan atau merubah, tapi hanya ingin memvonis dan menertawakan kesalahan orang maka sungguh kalian sudah sukses, sungguh kalian sudah sukses memvonis mereka dalam kesalahan, kalian sukses jadi hakim.”

Read More

Wednesday, May 16, 2018

POLA PIKIR BERBAHAYA YANG HARUS DIHINDARI

May 16, 2018 0

Ada lima pola pikir yang harus ditolak dan dihindari oleh umat Islam, yaitu pola pikir al-intihār, al-inbihār, al-ijtirār, al-inhisār dan al-ightirār. Berikut penjelasannya:
1. الانتحار (bunuh diri demi mengalahkan lawan). Orang yang memiliki cara berpikir ini mudah mengafirkan orang lain demi menunjukkan diri dan menjaga eksistensi.
2. الانبهار (terpesona dengan orang lain). Orang yang memiliki cara berpikir ini tidak menggunakan sumber-sumber hukum syariat dan tidak lagi bangga dengan peradaban Islam, karena ia telah terpesona oleh sihir peradaban lain, baik dalam hal negatif atau positifnya. 
Setiap hari kita dapat melihat orang yang memiliki pola pikir ini selalu berusaha mengingkari kaidah bahasa Arab, hukum-hukumnya, mengingkari kesepakatan para fuqahā’ dan ulama umat Islam sepanjang sejarah. Ia gemar melontarkan pendapat yang bisa merusak identitas dan menjauhkan karakternya sebagai seorang muslim, demi membangun karakter barunya sebagai penganut sekularisme dan globalisasi peradaban baru yang menyihirnya.
3. الانحسار (menutup diri dari dunia). Orang yang berpikir dengan cara ini memilih untuk melarikan diri dari realitas kehidupan zamannya, dan berlindung di balik mimpi, khayalan dan ilusinya. Hal ini mirip dengan keadaan orang yang melarikan diri dari medan jihad.
Syariat Islam sangat menolak pola pikir ini, karena Islam mengajak pemeluknya untuk hidup bersama masyarakat, melakukan interaksi dengan manusia dan ikut serta memakmurkan dunia. Allah berfirman: “Bersabarlah dengan baik” (QS. Yusuf: 18). Dan Rasulullah bersabda: “Seorang mukmin yang bergaul dengan masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka itu lebih baik dari yang tidak bergaul dan tidak bersabar”. (HR. al-Tirmidzi).
4. الاجترار (mengurung diri pada masa lalu). Orang yang berpikir dengan cara ini ditawan oleh semua pembahasan yang ia dapatkan pada khazanah ilmu Islam klasik (turāts), tanpa mau membentuk cara berpikirnya untuk dapat berijtihad. Ia seolah-olah hidup jauh dari realitas zamannya sendiri.
Foto Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum'ah.
Cara ideal mengobati pola pikir ini adalah dengan memahami berbagai manhaj turāts yang telah dibangun oleh ulama dan fuqahā’ agar kita mampu berjalan pada jalan lurus mereka, sehingga kita mampu berijtihad sesuai kondisi zaman kita, memperbarui pembahasan mereka agar sesuai realitas modern, dan membuat korelasi yang dinamis antara berbagai unsur yang bisa memengaruhi cara pikir dan karakter ilmiah modern.
5. الاغترار (terperdaya oleh diri sendiri). Pola pikir ini adalah cara pikir orang yang bukan ahli pada sebuah bidang ilmu, karena ia terperdaya oleh derajat pengetahuan yang ia anggap telah mencapai puncak spesialisasi ilmu, sehingga ia merasa bisa mandiri dan tidak perlu lagi belajar atau menimba pengalaman dari para ahli dan ulama yang telah menguasai ilmu ini sesuai unsur sistem pendidikan lengkap, yaitu: pelajar, pengajar, kitab, manhaj dan lingkungan ilmiah.
Lima unsur penting ini pun tidak bisa terlepas dari faktor bakat alami, seperti kesiapan, kecerdasan dalam menghubungkan pengetahuan dengan objektif, kemauan kuat yang mendorongnya untuk mencurahkan seluruh kemampuannya agar terus berada di jalan ini, menggali pengetahuan dan mendalami ilmu yang telah ia jadikan fokus pendidikannya.
Spesialisasi ilmiah membuat sang pencari ilmu memiliki naluri ilmu dan kode etik ilmiahnya, serta dapat mengoptimalkan bakat dan kemampuannya.
Spesialisai ilmiah dengan cara mempelajari dan menyelami ilmu dalam waktu yang lama menjadikannya layak dan mampu menerapkan nya pada realitas dengan sempurna.
Pola pikir ini (al-Ightirār) adalah pola pikir yang PALING BERBAHAYA, karena ia menipu. Sehingga pemilik cara pikir ini mengira ia telah mendapatkan ilmu syariat, padahal ia masih belum menyempurnakan alat-alat yang membuatnya layak untuk sampai pada derajat ulama pembaharu (turāts agar sesuai dengan zaman modern ini).
Foto Ahbab Maulana Syaikh Ali Jum'ah.
Maulana Syaikh Ali Jum’ah, Ulama Al Azhar yang juga merupakan mantan Mufti Mesir
(Tārīkh Ushūl al-Fiqh, hal: 135-137)
Read More

Tuesday, May 15, 2018

10 FAEDAH MENAHAN LAPAR (PUASA)

May 15, 2018 0


Sebulan ke depan kita akan menjalani hari-hari dengan berpuasa. Menahan lapar dan dahaga sejak mulai dari terbit fajar (subuh) hingga tenggelamnya matahari (maghrib).
Menahan lapar tentu bukanlah perkara gampang. Namun demikian ternyata banyak sekali faedah bagi diri dengan menahan lapar. Puasa adalah cara terbaik untuk mengendalikan nafsu yang liar.

Dalam kitab Tashfiyatul Qulub ... Syeikh Yahya bin Hamzah al Yamani Adz-Dzimari menuturkan ada setidaknya 10 manfaat dan faedah daripada menahan lapar (puasa), sebagai berikut:


Faedah yang pertama, membeningkan hati, mempertajam matahati dan menyalakan bakat. Karena sebaliknya, kenyang menimbulkan kedunguan dan membutakan hati, memperbanyak uap pada otak melalui enzim-enzim sehingga karenanya hati dan benak akan kesulitan untuk berpikir. Orang kenyang kebanyakan berat dan malas berpikir.


Faedah yang kedua, melembutkan hati. Hati yang lembut akan dengan mudah merasakan manisnya munajat kepada Allah Swt. Ada banyak zikir lisan yang menuntuk hadirnya hati, namun malah terasa kering kerontang, akibat hati tak mampu terpengaruh. Mengosongkan perut (puasa) adalah cara yang paling baik untuk melembutkan hati.

Faedah yang ketiga, menimbulkan rasa hina dan patah hati. Ia akan melenyapkan kesombongan dan kecongkakan yang merupakan sumbu dari kezaliman serta kelalaian kepada Allah swt.

Faedah keempat, mengingatkan siksa Allah dan mereka yang mendapatkan bala (ahli bala). Kenyang akan menyebabkan lupa kepada orang-orang yang merasakan kelaparan. Rasa lapar dan haus akan memberikan gambaran kepadanya dahsyatnya sakratul maut dan perihnya siksa neraka. Dimana di dalamnya ia yang dalam keadaan disiksa hanya diberikan makan dari pohon dzaqqum adh-ahri (pohon untuk makanan ahli neraka yang berduri) dan minuman al ghassaq (air yang teramat dingin).

Faedah yang kelima, menjadi penghancur syahwat kemaksiatan dan mengalahkan nafsu pemicu tindakan jahat dan maksiat. Sebab, punca dari segala maksiat adalah nafsu syahwat. Syahwat bergerak bersebab kekuatan, dan kekuatan didapat melalui makan. Maka mengurangi makan dengan menahan lapar (puasa) akan menjadikan syahwat melemah.

Faedah yang keenam, lapar menghilangkan kantuk dan menjadikan mata tetap terjaga. Tentu saja hal ini dibutuhkan bagi pencari rahmat Tuhan di malam hari. Para shiddiqin mensedikitkan makan dan minum agar mereka kuat berjaga demi bersimpuh dan beribadah kepada Allah 'Azza wa jalla. Dan tidur yang banyak bakal menghilangkan banyak kesempatan dan ketersediaan umur.

Faedah yang ketujuh, rasa lapar akan memudahkan ketekunan dalam beribadah, sedangkan kenyang akan menjadikan malas. Makan tentu akan menghabiskan waktu kepada hal yang selain ibadah. Dimulai dari membeli dan/ atau memasak, mencuci tangan, mengunyah hingga bolak-balik ke jamban. Bagi para mujahidin dan 'abidin (pejalan di jalan ibadah) waktu akan selalu diusahakan menjadi peluang beribadah.

Faedah yang kedelapan, puasa menyehatkan badan dan menangkal berbagai penyakit. Karena kebanyakan penyakit berasal dari endapan ampas makanan di dalam perut dan usus. Sakit akan menghambat ibadah dan aktivitas.

Faedah yang kesembilan, lapar menunjukkan sikap hemat (meringankan suplai). Orang yang sedikit makan, ia dapat hidup dan merasa cukup dengan sedikit harta. Sedangkan bagi mereka yang banyak makan, hidupnya terus dihantui pertanyaan "apa yang harus kumakan hari ini?" Tuntutan untuk kenyang, juga akan membuka matanya kepada hal-hal yang idak baik, seperti ketamakan. Tamak merupakan puncak kehinaan.

Faedah yang kesepuluh, lapar akan menggugah rasa sosial ('itsar), mengutamakan orang lain diatas kepentingannya pribadi. Hal ini akan membuka ruang ibadah berupa sedekah kepada anak yatim dan fakir miskin. Makanan yang ia miliki bisa dibagikan, harta yang ia punya bersedia disedekahkan. Hal ini dikarenakan ia merasa cukup dengan makanan yang sedikit.

Demikian 10 faedah daripada menahan lapar (berpuasa). Dalam satu riwayat disebutkan, dengan makna: Rasul berdo'a kepada Allah swt agar ia dijadikan lapar sehari, dan kenyang sehari. Ketika ia Saw ditanya, ia menjawab, karena rasa lapar dan dahaga akan mengingatkan ku kepada mereka yang lebih membutuhkan (anak yatim dan fakir miskin).

Wallahu a'lam

Read More

DENGAN 6 HAL INI, SURGA MENDATANGI MU DAN NERAKA LARI DARI MU

May 15, 2018 0

Seluruh manusia yang beriman dan percaya kepada hari akhir, surga dan neraka tentu sangat menginginkan surga serta berharap tidak mendekati neraka sama sekali. Lalu bagaimana jika ada amalan yang bisa dilakukan dan dikerjakan oleh umat Islam, surga yang akan mendatanginya, serta neraka yang akan lari darinya.

Amirul Mukminin, Saiyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah meriwayatkan, "Siapa yang saja yang mengerjakan enam perkara, maka dia tidak perlu meminta surga dan tak perlu ia melarikan diri dari neraka. Enam perkara dimaksud adalah :
1. Setelah mengenal Allah Swt, ia mena'ati-Nya.
2. Setelah ia mengenal setan, dia mendurhakainya.
3. Setelah mengetahui tentang kebenaran, ia mengikutinya.
4. Setelah mengetahui kebathilan, ia menjauhinya.
5. Setelah ia mengenal dunia, ia menolaknya.
6. Setelah ia mengenal akhirat, ia bersungguh-sungguh mencarinya.

Dengan mengetahui pesan yang enam diatas, tampak betapa mudahnya surga diraih dan neraka dihindari. Kesemua itu adalah inti dari ajaran Islam, pokok dari kebaikan. Disana tertanam aqidah yang kokoh, amalan fiqih yang kuat dan tasawuf yang bersih.

Mengenal Allah Swt dengan segala kekuasaan-Nya, dengan segala rahmat dan azab-Nya tentu akan menggetarkan hati dan menundukkan jiwa. Raja dari segala raja yang harus dita'ati, setiap perintah dan larangan-Nya adalah mutlak.

Setan atau syaithan merupakan musuh bagi manusia. Ia yang selalu mengajak, merayu dan menipu umat manusia kepada kesesatan. Mengikutinya menjadi kerugian tersebar, terlebih setelah sepenuhnya sadar bahwa setan adalah musuh yang nyata.

Segala kebenaran bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Pembawa berita gembira dan penunjuk ke jalan yang benar. Alquran sebagai pedoman bagi umat manusia. Wajib bagi sekalian umat mengikutinya. Demikian juga dengan sunnah, dimana dengannya Alquran tampak semakin nyata. Perkataan Nabi Saw menjadi penjelas, perilakunya mencontohkan segala kebaikan dan kebenaran. Diam dan juga pembiarannya membuka ruang berpikir.

Kebathilan/ keburukan adalah lawan dari kebenaran. Tidak ada jiwa yang fitrah menginginkan berlakunya keburukan, kecuali nafsu-nasfu yang telah dikuasai setan. Maka lawanlah. Durhakai segala keburukan, jauhi, tinggalkan.

Dunia hanyalah alam fana. Wujudnya fatamorgana oase di tengah gurun tandus. Dunia suka menipu, dunia senang merayu umat manusia agar terbuai di dalamnya. Melupakan hakikat penciptaan. Kesenangan dunia berlaku sementara, tidak bijak bahi manusia berakal untuk mengejar dunia hingga melupakan kehidupan selanjutnya, dimana ia akan dihisab. Jadikanlah dunia sebagai ladang untuk bertani. Demi memanen hasilnya di kampung akhirat yang abadi.

Akhirat adalah kampung halaman, seluruh manusia yang pernah hidup, meski hanya sehela nafas, akan dibangkitkan di yaumil ba'ats, dimintakan pertanggungjawaban. Carilah akhiratmu di dunia.

Wallahu a'lam

Kitab Tashfiyatul Qulub min Daranil Awzar wadz-dzunub karya Syeikh Yahya bin Hamzah al Yamani (w.749)
Read More