TARBIYAH ONLINE: Sirah

Terbaru

Showing posts with label Sirah. Show all posts
Showing posts with label Sirah. Show all posts

Monday, January 13, 2020

Sirah Sahabat: Mu’adz bin Jabal, Sahabat yang Dikenal Sangat Memahami Hukum Islam

January 13, 2020 0

Sirah Sahabat | Mu’adz bin Jabal, salah seorang sahabat yang terkemuka Rasululloh SAW. yang terkenal dengan kecerdasan dan keberaniannya, dan dinyatakan “orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”. Siapakah beliau? Berikut kami sajikan biografinya.

Ia adalah Muadz bin jabal RA, seorang pemuda dengan wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat, Perhatian dengan sikap dan ketenangannya.
Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya.

Muadz bin jabal RA memiliki kelebihan dan keitstimewaan yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW dengan sabdanya: “Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz bin Jabal.”

Ketika Rasulullah SAW hendak memerintahkan Muadz untuk pergi ke negeri Yaman, terlebih dulu ia ditanya oleh Rasululloh, “Apa yang menjadi peganganmu dalam menghakimi sesuatu perkara, hai Mu’adz?”
Mu’adz menjawab, “Kitabullah (Al-Qur’an)” . Nabi bertanya lagi, “Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”

“Saya putuskan dengan Sunnah Rasul,” jawabnya. “Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?”, tanya Rasulullah. “Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia,” jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah,” sabda beliau.

Kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu’adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai “orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”.

Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, A’idzullah bin Abdillah masuk masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majelis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih.

Masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW. Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan, hitam manis warna kulitnya, bersih, baik tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka.

Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya.

“Dan ia tak berbicara kecuali bila diminta. Dan tatkala majelis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab, saya adalah Mu’adz bin Jabal,” tutur A’idzullah.

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya, “Bila para sahabat berbicara, sedang di antara mereka hadir Mu’adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama-sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya.”

Di masa Kahilafah Abu Bakar RA Mu’adz diutus untuk kembali ke Yaman. Dan Umar mengetahui bahwa Mu’adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu’adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu’adz dan mengemukakan masalah tersebut.

“Mu’adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat”, kata Umar.

Oleh sebab itu, usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula. Umar berpaling meninggalkannya. Pagi-pagi keesokan harinya Mu’adz pergi ke rumah Umar.

Ketika sampai di sana, Mu’adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. “Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!”

Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu’adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. “Tidak satu pun yang akan kuambil darimu,” ujar Abu Bakar.

“Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik,” kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu’adz. Andai diketahuinya bahwa Mu’adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya.

Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu’adz. Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan.

Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA sendiri sering meminta pendapat dan buah pikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, “Kalau tidaklah berkat Mu’adz bin Jabal, akan celakalah Umar!”

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu’adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: “Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara.”

Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu’adz sewaktu ia masih muda.

Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun! Mu’adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberikannya langsung.

Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu’adz telah menghabiskan semua hartanya.

Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu’adz, maka beliau bertanya, “Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu’adz?””Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah,” jawabnya. “Setiap kebenaran ada hakikatnya,” kata Nabi pula, “maka apakah hakikat keimananmu?”

“Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi.

Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka.”

Maka sabda Rasulullah SAW, “Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!”

Menjelang akhir hayatnya, Mu’adz berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan.”

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam gaib, ia masih sempat berujar, “Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di saat diperlukan…” Dan nyawa Mu’adz pun melayanglah menghadap Allah. Subhanallah!

Semoga Kisah ini menjadi khazanah dan ibrah bagi kita, sehingga tiada satu katapun yang tertinggal untuk kita amalkan.

Karena satu kenangan terindah apabila kita meninggalkan jejak langkah yang bermanfaat untuk umat manusia.

Oleh Faisol Abdurrahman, Alumni dan Staff Pengajar di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Al-Khaliliyah | Sarjana Komunikasi Islam IAIN Pontianak | Bidang Dakwah dan Kajian Keislaman Ikatan Santri dan Alumni Al-Khaliliyah (Insaniyah).

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Saturday, January 11, 2020

Sirah Sahabat: Tahun Kekeringan di Masa Khalifah Umar bin Khattab

January 11, 2020 0

Sirah Sahabat | Pada tahun 18 Hijriah, terjadi musim kemarau di Madinah Rasulullah, saat itu Sahabat Agung Umar bin Khattab yang menjadi Khalifah Rasulullah serta Amirul Mukminin. Kemarau dan gagal panen itu berlangsung hampir 9 bulan. 

Tahun ini disebut “Aam Ramadah” (Tahun Berabu), karena musim kemarau dan kering melanda Madinah, angin kencang meniup debu-debu sehingga langit dan pemukiman tertutup debu hitam. Ada juga yang mengatakan kenapa disebut Aam Ramadah karena pada tahun itu banyak manusia dan ternak serta tumbuhan yang mati. Secara dalam bahasa Arab “ramadah” juga berarti mati atau hancur.

Tahun itu benar-benar musibah luar biasa, sampai binatang buas saja tidak mampu memangsa hewan lain saking lemahnya, bahkan kalau ada yang menyembelih ternak tak akan mau dimakan, karena ternak sudah sangat kurus, melihatnya saja menjijikkan.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab menyurati semua Gubernurnya meminta bantuan, beliau menyurati Gubernur Mesir, Sahabat Amr bin Ash meminta bantuan, beberapa hari kemudian Amr bin Ash membalas surat itu.

“Bismillahirrahmanirrahim, kepada Hamba Allah Amirul Mukminin dari Amr bin Ash. Salamalaik. Aku memuji Allah dan berharap anda selalu baik-baik saja, La ilaha Illallah. Bantuan akan segera datang, tunggulah. Aku akan mengirim bantuan yang akan dibawa oleh unta, dimana unta pertama di depan pintu Madinah dan terakhir di pintuku, dan aku usahakan juga mengirimnya lewat kapal laut”. 

Sahabat Amr bin Ash mengirim 1.000 unta yang membawa gandum, dan mengirim 20 kapal laut berisi pakaian serta kebutuhan makanan lainnya dari Mesir ke Madinah.

Amirul Mukminin menyurati Gubernur Damascus, sahabat Muawiyah bin Abi Sofyan, beliau juga menyurati Gubernur Yaman dan wilayah kekuasaannya yang lain. Semua Gubernur itu mengirim bantuan.

Ketika bantuan datang, Umar sendiri turun tangan menurunkan barang-barang dan membawanya ke rumah-rumah masyarakat yang sedang kelaparan. Sekali jalan beliau membawa dua karung gandum di atas pundaknya dan minyak samin di tangannya, diantar ke setiap rumah. Beberapa sahabat yang melihat itu menangis melihat Amirul Mukminin memikul karung gandum. Tidak hanya itu, kalau ada rumah yang isinya anak yatim kecil, beliau malah memasak makanan untuk mereka setelah itu baru pergi ke tempat lainnya.

Sahabat Abdullah bin Umar mengatakan bahwa pada tahun itu, sahabat Umar bin Khattab melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukannnya. Setiap malam setelah shalat isya bersama masyarakat, beliau pulang ke rumah dan shalat sunnah, smapai tengah malam, setelah itu beliau keluar rumah menuju lereng gunung, disana beliau bersimpuh dan berdoa, “Ya Allah…janganlah Engkau hancurkan umat Muhammad di tanganku, saat aku memimpin mereka…”, terus saja doa itu diulang-ulang setiap malam sambil menangis.

Kebanyang nggak orang yang kalau lewat gang A, setan-setan kabur nggak berani lewat gang A, nyari gang lain karena mereka takut sama orang itu, itulah Umar bin Khattab, setan saja kabur melihat beliau, nah orang seperti itu menangis, merengek-rengek pada Allah.

Suatu hari, saking capeknya Amirul Mukminin ketiduran di masjid Rasulullah, tiba-tiba terdengar suara orang teriak, “Umar! Umar!”, beliau terkejut dan mencari arah suara, orang-orang yang hadir disitu memperingatkan pemilik suara, “Itu Amirul Mukminin!”. Amirul Mukminin bangun dan mendekati laki-laki itu, “Siapa yang menyakitimu?”, beliau mengira laki-laki itu terzalimi. “Kami kelaparan”. Kata laki-laki itu. Amirul Mukminin memegang kepalanya, dan menunduk, “Umar! Umar! kok bisa-bisanya kamu itu kenyang, sedangkan umat Islam kelaparan!”. Akhirnya beliau mengirimkan makanan ke kampung laki-laki itu.

Para sahabat Rasulullah mengatakan, “Kalau saja Allah tidak tidak mengangkat musibah itu, mungkin Umar sudah meninggal karena kesedihannya memikirkan nasib umat Islam”.

Suatu ketika pada tahun Aam Ramadah, Amirul Mukminin mendapat kiriman roti gandum bercampur daging dan minyak samin, salah satu makanan istimewa. Beliau mengajak seorang laki-laki badui yang lewat untuk makan bersamanya, mereka berdua makan dengan lahap, tetapi laki-laki badui itu lebih lahap, 

“Sepertinya kamu suka sekali pada daging dan minyak samin?”, kata Umar. “Ya, saya tidak makan daging dan minyak samin ini sejak sekian lama, bahkan tak pernah melihat orang makan itu, ini pertama sejak sekian lama….”. Jawab laki-laki itu sambil makan. Sepertinya dia juga tidak tahu kalau sedang makan bersama Amirul Mukimin yang menguasai hampir seluruh wilayah Timur Tengah hari ini! Sejak itu, Umar bin Khattab bersumpah tidak akan makan daging dan minyak samin sebelum Madinah subur kembali.

Selama Aam Ramadah, perut Umar sering kali bersuara, karena beliau hanya makan minyak, terkadang beliau memegang perutnya saat bersuara dan berkata, “Teriak-teriak saja sepuasmu, tak ada lain yang akan kamu makan, selama umat Islam masih kelaparan!”. Selama Aam Ramadah, muka Amirul Mukminin berubah hitam, karena hanya makan minyak.

Suatu hari, ada penyembelihan unta, hati unta dan daging pahanya dibuat bubur dan disajikan kepada Amirul Mukminin, “Dari mana ini?”, “Ini yang kita sembelih hari ini”, kata pembantunya. “Bagus..Bagus…aku akan jadi pemimpin paling buruk kalau aku makan begini, sedangkan umat Islam kelaparan! Ambil makanan biasa”. Kata Umar pada pembantunya, makanan biasa ya roti gandum keras dan minyak. “Oia, sudah beberapa hari aku tidak berkunjung ke si Fulan, bungkus itu makanan untuk mereka, pasti mereka butuh”.

Suatu hari, ada susu dan keju di pasar, ketika belanja pembantu Amirul Mukminin membeli susu dan keju itu seharga 40 dirham. Ketika sampai di rumah dia mengatakan pada Amirul Mukminin, “wahai Amirul Mukminin, doa anda terkabulkan, aku melihat susu dan keju di pasar, akupun membelinya untuk anda, harganya 40 dirham”.

“Mahal sekali harganya, pasti masyarakat tak mampu membeli, ambil dan sedekahkan itu susu dan keju, aku tidak mau makan makanan mahal-mahal saat ini. Bagaimana aku bisa cinta dan perhatian pada rakyat kalau aku tidak pernah merasakan kepedihan mereka”.

Selama Aam Ramadah, sayyidina Umar tidak pernah makan di rumah bersama anak-anaknya atau istrinya saja, selalu makan bersama masyarakat.

Suatu hari, Amirul Mukminin berpidato di atas mimbar rasulullah, beliau berkata, “Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian pada Allah, sesungguhnya kita semua sedang diuji Allah, entah Allah murka padaku karena aku menjadi pemimpin kalian, entah Allah sedang murka pada kita semua. Mari kita semua berdoa, semoga Allah membersihkan hati kita semua, dan semoga Allah merahmati kita dengan segera mengangkat musibah ini…”, pada hari itu, Umar mengangkat tangannya berdoa, sambil menangis dan umat Islam yang hadirpun menangis bersama beliau.

Saat hujan tak kunjung datang, Umar berdoa, “Ya Allah, aku sudah lelah, usahaku sudah habis, Engkau lebih tahu bagaimana nasib hamba-Mu…”. Selama Aam Ramadah, paling banyak dilakukan Amirul Mukminin adalah bersitighfar, beristighfar dan beristighfar.

10 tahun menjadi Khalifah, Umar bin Khattab banyak meninggalkan kisah-kisah indah dan teladan bagi pemimpin setelahnya, makanya tidak aneh kalau cucunya, Umar bin Abdul Aziz puluhan tahun kemudian mengeluarkan perintah pertama setelah dilantik menjadi Khalifah , "Kumpulkan semua kisah tentang Umar bin Khattab, aku ingin meneladaninya".

Oleh Ustad Saifannur (Saief Alemdar)
Read More

Saturday, September 7, 2019

Awas! Aswaja Dan Muhibbin Sufi Palsu: Guruku Lebih Mulia Daripada Sahabat Nabi

September 07, 2019 0

Tarbiyah.online - Sebuah fenomena baru dari sebagian orang yang mengaku ahlussunnah wal jamaah dan pencinta sufiyyin menganggap bahwa ajaran aswaja dalam menghormati dan mencintai sahabat nabi radhiyallahu 'anhum ajma'in hanya doktrin turunan belaka, bukan karena mereka pantas dihormati, melainkan gak enak sama guru mereka.

Sebenarnya dalam hati mereka ingin memaki Saiyidina Muawiyah radhiyallahu 'anh yang sepengatahuan mereka beliau itu seorang penjahat. Atau ingin menggunjingi Saiyidina Usman radhiyallahu 'anh dengan berbagai macam alasan, misal. Dan lagi, satu-satunya yang membuat mereka ngerem untuk melakukan itu adalah kembali karena gak enak sama doktrin guru.

Dimata mereka, Waliyullah selain daripada Sahabat Nabi itu jauh lebih mulia dibanding Sahabat Nabi, hanya saja mereka tidak berani mengungkapkan.

Hal ini tampak ketika mereka aka sangat marah jika guru mereka dikatakan salah, tapi untuk menyalahkan mawqif sahabat itu sangat mudah, tak jarang mereka menganggap maqam guru mereka lebih tinggi daripada sahabat alhabib radhiyallahu 'anhum ajma'in.

Mereka seolah lupa jika dalam dunia kesufian atau muhibbin ada sebuah kaidah masyhur "nihayatul awliya bidayatul wahsyy", akhir dari maqam auliya awal dari makam Wahsyi (yang hanya bisa memandangi sayidina rasulullah saq dari jauh). Tentu saja para awliya tidak membuat kaidah ini karena doktrin. Tapi kaidah itu setelah meraka mempelajari sirah sahabat dengan detail ditambah lagi kasyaf mereka dari karamah mereka.

Mereka menghormati Saiyidina Muawiyah atau Saiyidina Amru bin 'Ash serta sahabat lainnya bukan karena doktrin, tapi karena muhibbin dan sufi yang merupakan arbab ASWAJA itu, sangat mengenal para sahabat, merekalah manusia yang paling sering membaca manaqib para sahabat nabi, tak ada yang mengenal sahabat nabi melebihi mereka.

Sehingga mereka sadar maqam dari didikan Saiyidina Rasulullah SAW, setelah mempelajari sejarah para sahabat dengan benar dan teliti, mereka sampai pada kesimpulan bahwa debu disepatu sahabat nabi yang semuanya pernah meneguk nikmatnya Nur Muhammadiyah itu jauh lebih mulia daripada mereka semua.

Dan kini datang sekolompok manusia yang mengaku sufiyin, muhubbin, sunniyin, saat berbicara tentang para Sahabat Nabi, seperti berbicara tentang pak RT dikampung mereka, bahkan kadang terhadap pak RT pun lebih sopan, yang menghalangi diri mereka berkata lebih dari itu hanya karena gak enak sama guru, tidak lebih. Sesungguhnya mereka benar-benar tidak mengenal sufiyin, sunniyin dan muhibbin kecuali hanya nama saja.

Hal yang paling gila yang bisa mereka lakukan adalah menuduh kalau perintah tawaquf (diam dulu) saat ada musykil (masalah) dalam sejarah sahabat adalah doktrin!

Tidak kawan! Itu bukan doktrin!

Level terendah dalam buku tarikh yang diajarkan memerintahkan tawaquf dan berhusnuzhan karena memang tahap pertama mengenal mereka itu singkat. Tapi ada tahap selanjutnya, dimana semuanya dibahas dengan rinci dan agak panjang.

Dan tak jarang ada yang sotoy ilmiyah, kalau mereka merasa lebih banyak tahu daripada guru mereka, menganggap bahwa guru mereka tidak tahu masalah musykil ini (tentu didepan guru mereka gak berani ngomong hal ini).

Tidak kawan!! Guru kalian yang punya sanad keilmuan tarikh sahabat itu, pasti tahu masalah musykil itu, dan bahkan lebih dari itu, mereka bahkan tahu dengan detail masalah ini, dan jika kalian bertanya pasti mereka tahu jawaban musykil itu, maka dari itu sampai sekarang makin hari mereka semakin yakin secara ilmiyah dan zauqiyah bahwa menghormati sahabat itu kewajiban.

Saat mereka tidak menjelaskan secara detail pada kalian tentang masalah musykil dalam tarikh sahabat, itu karena waktu itu pembahasan tinggi belum level kalian, tapi tentu seorang guru bersanad telah memberi nasehat pada kalian dalam menghadapi masalah ini. Jika kalian mau naik level saat belajar tarikh sahabat maka datanglah ke guru yang bersanad, jika kalian tidak mau naik level maka cukupkan tawaquf (diam) dan husnuzhan.

Tapi sayangnya kalian melanggar semuanya. Ke guru bersanad kalian tidak datangi, tawaquf juga tidak. Kalian malah ngoceh dan su'uzan. Benar-benar tidak beradab.

Akhirnya malah jauh sekali lari dari manhaj guru mereka yang sufi, muhibbin dan aswaja, dan anehnya mereka masih merasa bahwa mereka mewakili guru mereka.

Tentu benar sebuah kaedah dalam ilmu tasawuf, siapa yang belajar tanpa guru maka setanlah yang akan jadi gurunya. Jika gurunya setan? Lanjut sendiri...!

Sebaliknya jika kamu punya guru, dan gurumu bersanad dan kamu ikuti nasehatnya In syaa Allah kita bisa selalu dalam manhaj yang diajarkan Saiyidina Nabi SAW.

Oleh Ustadz Fauzan, Mahasiswa Program Magister di Suriah
Read More