TARBIYAH ONLINE: Negeri Syam

TARBIYAH ONLINE

Mengenal Nabi SAW dan Ajaran yang dibawanya

Hot

Showing posts with label Negeri Syam. Show all posts
Showing posts with label Negeri Syam. Show all posts

Sunday, June 17, 2018

NEGERI SYAM DAN JEJAK WALI ABDAL (2) Umat Yatim dan Dunia Baru

June 17, 2018 0
Tarbiyah.Online - Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan bahwa jika Ahli Syam (penduduk negeri Syam) sudah rusak maka tidak ada lagi kebaikan di dunia ini. Tuhan menjaga Ahli Syam dengan menjaga ulamanya, ulama yang menjaga iman umat. Yang membuat spesial Ahli Syam adalah perpaduan antara ilmu zahir dan batin, ilmu kalam yang katanya ilmu debat, kering, jika diajarkan ulama Syam bisa jadi ilmu yang membuatmu menangis. Itu dia spesialnya para abdal.
Syeikh Anas Syarfawi

Ilmu ushul fiqh yang katanya ilmu akal murni, melelahkan, kering dan tanpa sisi ruhaniyah bisa bikin kita taubat jika diajarkan ulama Syam. Dan orang seperti itu selalu ada di Syam dari generasi ke generasi, warisan paling mahal di negeri Syam, dan Sayidina Muhammad SAW sendiri yang menjaminnya

Tentu kami merasakan kiamat kecil saat satu persatu ulama besar meninggalkan kami, terutama dengan wafatnya nama-nama besar seperri Syeikh Sa'id Ramadhan Albuty, Syeikh Wahbah Zuhayly, Syeikh Abdurrazaq Halaby dan seterusnya. Perasaan yang kami rasakan saat itu  seolah "kami menjadi yatim", siapa yang akan menjaga kami? Bagaimana kami menjalankan hidup kami setelah ini?


Baru-baru ini aku ditegur, Sampai kapan kamu merasa yatim? Dunia terus berjalan dan nabi telah menjanjikan akan selalu ada di syam orang yang mewarisi tugas besar sebagai penjaga iman umat manusia. Mereka generasi baru, yang disiapkan oleh pendahulu untuk menjadi penerus tugas mereka.
Syeikh Hasan Khiyami


Akhirnya akupun terbangun dan sadar, mau tidak mau aku harus menerima, jika sekarang zaman sudah berubah, selalu ada orang spesial disetiap zaman. Dan aku bertemu dengan dua orang yang mewarisi tugas pendahulu mereka dan memahami zaman ini. Segalanya baru, dunia baru dan diisi oleh orang-orang baru yang akan menjaganya.

Diantara mereka yamg kukenal dan hadir untuk dunia baru adalah syeikh Hasan Kjiyami dan syeikh Anas Syarfawi. Dua orang dari generasi baru yang sangat kukagumi. Dimata mereka aku melihat kecerdasan dan kelurusan albuty, ketawadhuan dan keluasan ilmu wahbah zuhayly, keikhlasan dan keramahan kuftaro.

Dan aku bersyukur bisa belajar pada dua generasi yang berbeda ini. Mereka adalah manusia syam yamg terpilih untuk memikul beban umat manusia. Insyaallah nanti akan kuceritakan apa yang mereka ceritakan dalam persatuan hari ini, syeikh Hasan Khiyami tentang dunia tanpa jarak antara kita dengan orang yang sudah wafat, Syeikh Anas Syarfawi siapa itu manusia.

Oleh Ustadz Fauzan
Read More

Friday, June 1, 2018

NEGERI SYAM DAN JEJAK WALI ABDAL (1) Kabar Tentang Keberadaan Para Wali Abdal di Negeri Syam

June 01, 2018 0

Tarbiyah.Online - Salah satu tradisi mubibbin di tanah Syam adalah hadrah, majelis shalawat berjamaah yang dihadiri ulama-ulama dan para wali, dan salah satu majelis hadrah yang paling terkenal adalah majelis Subuh Senin di Jami' Taubah, salah satu mesjid tua di Damaskus. Di zaman ini salah satu ulama yang selalu hadir dimajlis ini adalah Syeikh Syukri al Luhafy, ulama ahli qiraat (ilmu baca Al Quran) beliau juga wali besar negeri Syam.

Dalam satu majlis di Jami Taubah, tidak seperti biasa aku tidak melihat syeikh Syukri al Luhafy didalam lingkaran hadrah, aku tidak percaya beliau tidak hadir di majlis shalawat, karena setahuku beliau tidak pernah absen di seluruh majelis hadrah di Damaskus. Mata ku menyusuri seluruh sudut mesjid, akhirnya aku menemukan beliau sedang bersender di salah satu tiang mesjid, sambil memakai selimut, ternyata beliau sedang sakit parah.

Begitulah ke"gila"an dan rasa cinta kepada baginda Nabi SAW. Walau dalam keadaan sakit parah pun beliau berusaha tetap hadir dimajlis orang-orang yang mengagungkan kekasihnya tersebut. Perlu diketahui saat itu umur beliau sudah hampir seratus tahun, ditambah beliau lagi sakit parah, musim dingin sedang dipuncaknya, dan semua itu terjadi diwaktu subuh. Tapi ini masalah cinta kawan!!! Sulit aku menjelaskannya dengan logika biasa. 

Maqam beliau sebagai ulama besar ini membuat beliau sering ditawarkan untuk memimpin majelis hadrah, tapi beliau selalu menolak karena beliau merasa tidak pantas, beliau lebih memilih berkhidmad, dengan berkeliling dan melayani jamaah hadrah dengan menuangkan air minum untuk mereka, satu persatu dengan tangan beliau sendiri.

Karena keistiqamahan dan kerendahan hati beliau ini, beliau dipercayai sebagai Wali Abdal oleh ulama dan penduduk negeri Syam.

Bagi yang belum tau tentang istilah wali abdal. Kita dengar penjelasan oleh Sayidina Ali karamallahu wajhahu. Suatu hari dalam perang Shiffin penduduk Iraq berkata kasar pada penduduk Syam, lalu sayidina Ali berkata, "Jangan lakukan itu, sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda "wali abdal itu berada di syam, mereka ada 40 orang, ketika satu orang meninggal maka Allah akan mengganti tempatnya dengan orang lain, disebabkan merekalah kalian diturunkan hujan rahmat, karena merekalah kalian dapat mengalahkan musuh, dan karena merekalah penduduk bumi dijauhkan dari marab ahaya.

Dalam hadis lain diriwayatkan dari Abi Darda "bahwasanya para nabi adalah pondasi bumi. Maka dikala masa kenabian telah usai, maka Tuhan mengembankan tugas mereka pada umat Muhammad, yang mendapatkan tugas ini adalah Wali Abdal, mereka bukanlah orang yang banyak berpuasa atau shalat ataupun bertsabih mereka adalah orang-orang yang baik akhlaknya dan wara' (berhati-hati dan menjaga diri), ikhlas niatnya, dan bersih hatinya pada setiap muslim, dan selalu memberi nasihat hanya karena mengharapkan Allah semata.

Dan banyak hadis lain, jika dikumpulkan bisa mencapai derajat Sahih Lighairihi, bagi yang ingin tahu lebih lengkap Imam Suyuthi mengumpulkannya dalam kitab Al hawi lil Fatawa. Bagi yang berniat ziarah ke Syam jangan lupa kunjungi mereka, ambil berkah mereka minta doa dari mereka. 

Oleh Ustadz Fauzan, Mahasiswa Pasca Sarjana asal Aceh di Universitas Auzai, Damaskus, Suriah.
Read More

Wednesday, November 15, 2017

Mengenal Dagang dan Bertemu Khadijah

November 15, 2017 0
Hari demi hari berlalu, pengetahuan dan pengalaman Muhammad semakin matang dan mahir. Ia menjalankan bisnis perdagangan level domestik di pasar-pasar terdekat di kota Mekkah dan sekitarnya. Seperti pasar Hubasyah di dekat Mekkah, pusat lalu lintas meuju Yaman. Bila pekan dagang telah dibuka di bulan Rajab, Muhammad tak pernah menyia-nyiakan peluang tersebut. Ia terjun kesana untuk membeli dan menjual barang dagangan. Biasanya ia ke pasar tidak sendirian, tetapi mengajak teman sehingga bisa saling membantu dan mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam perjalanan.

 

Kadang Muhammad bekerja pada orang-orang kaya, konglomerat Mekkah, sepert yang pernah dilakukannya pada Khadijah binti Khuwailid.

Tiba di Mekkah dari Hubasyah, ia dan temannya tak lagsung pulang ke rumah, tetapi duluan menghadap kepada bos untuk memaparkan hasil dagang mereka, berapa laba yang diraup. Khadijah memuji Muhammad. Ia bersikap hormat dan ramah kepada Muhammad, bahkan melebihi sikap seorang majikan kepada pembantunya. Bahkan Muhammad melukiskan kebaikan Khadijah begini, “Belum pernah kudapati seorang majikan yang sebaik Khadijah. Setiap aku dan temanku pulang, ia secara semunyi-sembunyi memberi kami makan.”

Abu Thalib tetap masih sangat perhatian kepada Muhammad. Melihat kematangan yang telah diraih Muhammad dan usianya yang semakin matang, sang paman mulai berpikir untuk mengajak Muhammad berdagang secara mandiri, dan mengajaknya ikut serta dalam perjalanan dagang ke Syam. Disaat hari-hari menjelang kafilah dagang Mekkah berangkat ke Syam, Abu Thalib pun bertutur kepada Muhammad sang keponakan tersayang, “Sudah saatnya engkau duhai Muhammad, berdagang secara mandiri. Kau bisa ikut serta dalam kafilah dagang ke Syam. Bukankah usia mu telah sampai dua puluh lebih? Apalagi keadaan saat ini sangat sulit. Sudah berapa tahun kita dicekik paceklik.”

Muhammad terdiam. Setelah berpikir, ia berkata, “Tetapi paman, dari mana harta yang bisa kubawa dan kuperdagangkan dalam ekspedisi musim panas ini.?”
Abu Thalib melemparkan pandangannya ke arah kawanan, dan berkata “Lihatlah pemuda-pemuda Qurays itu! Mereka bekerja pada orang lain denga cara bagi hasil. Kenapa kau tidak ikut bekerja seperti mereka?”.
Hati dan pikiran Muhammad pun terbuka. Ia merasa tertarik dengan usul pamannya. Lalu kembali terdiam dan berpikir, bagaimana caranya membangun relasi dengan para pemilik dagang? Apakah mereka mau menerima dirinya? Belum lagi penduduk Mekkah adalah pedagang tulen, mana mau mereka menyerahkan bisnisnya kepada orang lain, pasti mereka akan menjalankannya sendiri atau menyerahkannya kepada anak-anak mereka. Dalam kekalutan pikirannya, ia bertanya kepada paman, “Siapa yang rela menyerahkan barang dagangannya ku bawa ke tempa yang sangat jauh.?”

Dengan lugas pamannya menjawab,”Khadijah bint Khuwailid! Banyak laki-laki dari kaum mu bekerja padanya. Mereka untung. Aku yakin, kalau kamu kesana, dia pasti akan memilih mu daripada yang lain. Bukankah dia sudah mengenal mu saat kamu bersama teman mu menjalankan bisnisnya di Hubasyah beberapa waktu lalu?”.

Pendapat sang paman banyak benarnya dan sunggug memikat, tapi masalahnya adalah Muhammad tak berai menawarkan diri, ia takut ditolak dengan cara yang tidak layak. Lagi pun, terlalu agung dirinya untuk hal semacam ini. “Mudah-mudahan Khadijah menyuruh orang kesini.” Muhammad berkata kepada pamannya. Tapi jawaban ini tidak memuaskan hati sang paman. Ia berpikir, bagaimana mungkin Khadijah akan ingat kepada Muhammad, sedangkan ia dikelilingi oleh banyak sekali pemuda yang menawarkan diri untuk pekerjaan serupa. Abu Thalib pun berkata, “kamu lah yang harus kesana. Dan itu tidak sulit.”
Keesokan paginya, datang seorang utusan dari Khadijah secara tiba-tiba. Ia meminta Muhammad mendatangi Khadijah, jika bersedia. Dimintanya juga agar Muhammad yang mengurusi bisnis Khadijah untuk diberangkatkan ke Syam bersama kafilah dagang.
Mungkin, Khadijah yang tengah duduk bersama beberapa wanita di tempatnya, dan ada yang datang membisikkan tentang pembicaraan Muhammad bersama Abu Thalib. Bisa jadi juga, fathimah binti Asad yang menyampaikan kepada beberapa kenalan Khadijah, dan mereka meneruskan hingga ke Khadijah. Satu hal yang pasti, Khadijah merasa sangat senang dengan berita yang diterimanya. Ia sangat bangga, jika dagangannya akan diurus oleh seorang laki-laki berjuluk Al Amin. Sebagaiman Khadijah merasa senang melihat laku dan perangai Muhammad yang agung. Ia pun menghapus nama-nama pemuda lain dari benaknya untuk urusan ini. Harapannya fokus kepada Muhammad, hingga ia putuskan untuk mengirimkan utusan untuk meminta Muhammad bersedia mengurusi pekerjaan ini.

Muhammad sangat senang dan menerima dengan bijak. Sebuah impiannya dan juga impian pamannya terpenuhi berkat pertolongan Allah.
Hanyasanya, sontak wajah Abu Thalib berubah menjadi murung. Sesuatu melintas dalam benaknya. Fahimah binti Asad sang istri menangkap dengan cepat perubahan gelagat sang suami. Ia bertanya, “Ada apa duhai suami ku, kenapa tiba-tiba wajah mu berubah lesu dan tampak gelisah sekali?”
Dengan nada sedih, lelaki tua itu menjawab, “Muhammad sebentar lagi akan bertolak ke Syam, negeri yang jauh dari Mekkah.”
“Lho,bukankah kau sendiri yang meminta dan membujuknya untuk pergi? Ada apa?”. Tanya Fathimah keheranan.
“Aku khawatir jika akan terjadi sesuatu padanya.” Abu Thalib menjawab singkat.
“Sudahlah, yang kamu khawatirkan itu, seorang pemuda yang telah berusia lebih dua puluh tahun.” Jawab Fathimah.

Lalu Abu Thalib diam dengan waktu yang cukup lama. Wajahnya keruh terpahat gelisah. Istirnya pun ikut serta cemas. Ia menunggu jawaban dari suaminya, namun tak juga keluar dari mulutnya. Ia mencoba membacahati dan pikiran sang suami melalui dua mata yang telah menua, hingga Abu Thalib berkata dalam nada tanyaa,” Masih ingatkah engkau Fathimah, apa yang dulu pernah kuceritakan pada mu saat usia Muhammad masih belasan tahun? Kau ingat apa yang dikatakan oleh Rahib itu tentang keponakan ku ini.?”

Sontak kedua mata wanita ini membeku, hatinya semakin kelu. Nafasnya terisak dan suaranya terbata, ia menjawab,”Aku masih ingat, bahkan aku hafal denga kata-katanya. Ia menyuruh mu hati-hati untuk menjaga Muhammad dari orang-orang Yahudi. Bukankah demikian?”.
“Ya, itulah yang aku cemaskan. Aku takut, jika apa yang diramalkan rahib itu menjadi kenyataan.”

Fathimah pun duduk terdiam, ia membisu. Karena merasakan kegelisahan luar biasa. Bahkan dalam hatinya ia berharap, kalau Khadijah akan menarik kembali rencanaya itu, atau berharap Muhammad membatalkan, bahkan ia berpikir jika Abu Thalib saja yang akan menahan Muhammad untuk berangkat. Semua yang ada dipikirannya adalah cara supaya Muhammad tetap tinggal di Mekkah dalam keadaan aman dan tenang.

Sementara itu Khadijah telah membulatkan tekad untuk menyerahkan hartanya pada Muhammad untuk diperdagangkan. Muhammad pun menjanjikan laba yang berlipat, melebihi pedagang lainnya. Muhammad pun diberikan kepercayaan oleh Khadijah dengan membawa bersamanya seorang teman yang bisa membantunya. Orang kepercayaannya, Maisarah. Ia berpesan kepada Maisarah untuk patuh kepada Muhammad dan mengurusi segala keperluannya. Muhammad pun berterimakasih atas kebaikan Khadijah yang luar biasa –ini pula yang menjadi pintu pembuka lembaran hidup baru di masa depan-.

Begitu kafilah berangkat meninggalkan Mekkah, Abu Thalib semakin bersedih. Hari demi hari berasa duri yang menyakitkan, ia dirundung rasa gelisah dan sedih seara terus menerus. Demikian juga dengan Fathimah istrinya, meskipun ia mencoba menghibur sang suami dengan rasa optimis, bahwa Muhammad akan baik-baik saja, ia akan dilindungi oleh Yang MahaKuasa, padahal pikirannya kacau, nuraninya teriris pilu. Hingga sampailah hari bahagia, hari ketika kafilah datang kembali tanpa ada yang kurang.

Orang-rang berkumpul di dekat Ka’bah, Rumah Suci Allah menyambut kedatangan kembali putra-putranya, suami dan kerabatnya yang kembali dengan selamat dan dagangan yang berlimpah. Semua merasa bahagia, terlebih Abu Thalib bersama istrinya. Wajahnya berseri-seri melebihi keceriaan wajah yang lain. Bahagia yang dirasa Abu Thalib berlapis, keselamatan Muhammad, dan juga pembuktian keponakan kesayangannya telah mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang ditekuninya dengan tetap hingga hari setelah itu.

Muhammad langsung menuju majikannya. Ia menyerahkan laba yang melimpah dari hasil dagangan barang-barang yang ia bawa ke Syam. Ia juga membawa pulang barang belian dari Syam untuk dijual di Mekkah dengan laba yang berlipat.

Khadijah pun merasa sangat puas dan semakin terkagum pada Muhammad atas pencapaiannya. Ditambah lagi cerita khusus dari Maisarah tentang Muhammad selama perjalanan dan perdagangan selama di Syam. Bagaimana kejujurannya, gaya menjual dan membeli barang, interaksinya dengan pembeli atau orang sekitar, tidak perah terlibat pertengkaran. Juga menceritakan kemuliaan akhlak dan kebiasaan Muhammad ketika makan, minum dan tidur.

Bahkan lebih dari itu, Maisarah pun ikut menceritakan bagaimana hal yang aneh bin ajaib terjadi, dimana awan senantiasa meneduhi Muhammad dengan berarak di langit sepanjang perjalanan dalam teriknya matahari. Tentang rahib di Basrah yang saat melihat Muhammad tidur sejenak di bawah pokok kayu di dekat pertapaanya, berkata,”Orang yang berada di bawah pohon itu tak lain adalah Nabi.”

Semua diceritakan oleh Maisarah kepada Khadijah. Bak seorang informan, atau intelijen, begitulah Maisarah bertugas. Ia membantu Muhammad sepanjang ekspedisi, dan juga memantau Muhammad dengan segenap jiwanya, lalu dilaporkan kepada sang majikannya, Khadijah. Alhamdulillah, setiap detail laporannya adalah positif, bahkan besar nilai plus nya.


Read More

Menjadi Penggembala Kambing

November 15, 2017 0
Muhammad kecil semakin tumbuh kembang menjadi anak remaja. Ia tumbuh dengan baik, bahkan terlihat lebih sehat dan bugar daripada anak lain seusianya. Karakternya pun semakin terlihat. Fathimah sang bibi menceritakan kepada Abu Thalib bahwa Muhammad kini lebih nampak kehalusan dan kelembutannya, sesantunan, ketenangan juga kewibawaannya. Bahkan Fathimah sedikit heran melihat Muhammad kini yang lebih pemalu. Ia malu untuk meminta dan menyuruh sesuatu kepadanya, “Ia lebih malu dari pada gadis pingitan.”tutur Fathimah. Sang bibi masih mengaggap hal yang sanngat wajar, jika anak seusia Muhammad kini lebih banyak malas dan banyak mainnya. Tapi itu tidak terlihat dalam diri Muhammad.

Muhammad, dengan melihat keadaan keluarga Pamannya ini, ia tentu tidak ingin kehadirannya di tengah keluarga ini malah menambah beban tanggungan. Sementara anggota keluarga yang menjadi tanggungan pamannya ini cukuolah banyak. Ia sadar, ia hanya menumpang disini, bagaimana mungkin ia bisa bermalas-malasan.
Oleh karena itu, jika Fathimah sedang menyajikan makanan, Muhammad mengalah untuk tidak memakannya terlebih dulu, membiarkan sepupu-sepupunya berebut makanan diatas napan akibat rasa lapar dan sedikitnya persediaan makanan. Muhammad mengalah karena didorong oleh rasa malu, sikap hormat, kesucian jiwa dan kelapangan hati untuk tidak ikut mengulurkan tangan ke dalam nampan itu. Namun gerak-gerik Muhammad ini diperhatikan oleh sang bibi, hingga kemudian Fathimah sering mengambilkan makanan untuk Muhammad, yang memunculkan rasa cemburu pada sepupu-sepupunya yang lain yang merupakan anak dari paman dan bibinya. Mereka sedikit merasa tidak senang karena dengan sedikitnya persediaan makanan, Muhammad malah dianak-emaskan dengan tetap menyediakan porsi makanan untuk Muhammad.

Uniknya, jika keluarga pamannya ini makan secara sendiri-sendiri atau bersama-sama tanpa kehadiran Muhammad, mereka tidak pernah merasakan kenyang. Namun sangat berbeda jika ada Muhammad di tengah-tengah mereka. Makanan yang sedikit mampu memenuhi rongga perut mereka, mereka selalu puas terhadap makanan yang tersedia. Sehingga Abu Thalib berujar kepada seluruh keluarganya, “Jangan makan dulu sebelum Muhammad anakky datang bersama kita.” Muhammad pun datang, dan mereka merasa kenyang, tak hanya kenyang, kadang mereka kelebihan makanan.

Demikian juga ketika minum susu, sering mereka meminta Muhammad yang meneguk duluan susu yang ada dalam bejana, barulah kemudian disusul oleh mereka secara bergantian. Semuanya bisa merasakan kepuasan meminum susu sepuasnya, meski hanya dari satu bejana itu.

Ummu Aiman, sang pengasuh Muhammad kecil, sering sekali makan hanya dalam keadaan sedikit, tapi ia tak pernah mengeluh lapar. Di pagi hari, kadang ia hanya meminum air dari sumur Zamzam. Kalau ditawari makanan, ia menolak dan menjawab, “Maaf, aku kenyang.” Dan kalimat yang keluar tersebut, bukan karena penolakan secara halus atau sikap malunya atau juga ungkapan kosong, melainkan memang demikian, ia merasakan kenyang.

Begitulah keberkahan yang mereka dapatkan bersama Muhammad, meski dalam keadaan sempit.

Kepekaan Muhammad tersebut tumbuh semata-mata dari jiwanya yang lembut nan halus. Ketika ia semakin matang, ia ingin membalas budi sang paman beserta keluarga, dengan sedikit membantu perekonomian mereka. Ia berpikir keras, apa yang harus dikerjakannya. Semua pekerjaan telah ada budak yang melakukan. Hendak berdagang, mana mungkin, ia seorang miskin tanpa modal. Ia terus berpikir, hingga kemudian menemukan sebuah pekerjaan yang cocok menurutnya, menggembalakan kaming penduduk Mekkah ke padang. Ia menilai pekerjaan tersebut sangat cocok baginya, Ia bisa menafakkuri alam, luasnya langit dan padang beserta kehebatan dan kekuatan yang terpampang di dalamnya sungguh suatu pemandangan yang sangat bagus untuk merenungi Kekuasaan Allah.

Sekali tepuk, dua lalat mati. Sebuah pepatah yang barangkali cocok untuk menggambarkan pikiran Muhammad.

Ketika ia utarakan niatnya ini kepada sang paman, Abu Thalib menolaknya. Fathimah terkesima, melihat betapa halus perasaan dan pemikiran yag ada pada anak ini. Usianya masih belia tapi sudah berpikir sejauh itu, mereka menjadi iba. Tapi Abu Thalib tak mampu mendebatnya. Tekad Muhammad telah bulat dan tak bisa ditawar lagi. Akhirnya Abu Thalib pun mengalah dan terpaksa mengizinkan Muhammad menggembala kambing. Maka Abu Thalb pun mencarikan beberapa orang Qurays yang bersedia kambingnya dikembalai oeh Muhammad. Abu Thalib mencari dengan selektif, karena tidak ingin ada yang menjahati Muhammad nantinya.

Tiba saatnya Muhammad menggembala. Fathimah binti Asad sang bibi setiap pagi mengantarkan Muhammad ke depan pintu, kadang ia memberikan bekal untuk seharian di padang gembala di pinggir kota Mekkah. Saban hari, ia berpesan kepada Muhammad untuk berhati-hati, kadang juga ia sampaikan kepada teman-teman Muhammad untuk menjaga Muhammad. Ia menitipkan Muhammad pada sekawanan penggembala lainnya. Sebegitu besar perhatian Fathimah sang bibi.


Muhammad pun menemukan lingkungan baru, bersama anak sebayanya para penggembala cilik yang tersebar di padang sekitar Mekkah. Anak-anak sebagaimana umumnya, ketika berkumpul mereka berbagi cerita-cerita hebat yang dialaminya. Ada yang bercerita bagaimana mereka pernah bertarung mempertaruhkan hidupnya melawan bahaya. Mereka juga menceritakan tentang keberadaan tempat-tempat hiburan, permainan dan aneka kesenangan lainnya. Muhammad tak luput dari sasaran mereka untuk berbagi cerita. Muhammad lebih banyak mendengar daripada ikut bercerita. Ia banyak menyerap informasi baru, dan belajar dari cerita teman-teman sesama penggembala.

Muhammad remaja adalah seorang penggembala yang jujur. Ia selalu tepat waktu dalam bekerja. Meskipun masih remaja, profesionalitasnya telah terlihat.

Teman-teman penggembala membujuk Muhammad untuk ikut ke acara hiburan. Awalnya Muhammad selalau menolak, tapi karena terus menerus dibujuk, akhirnya hati Muhammad pun luluh untuk ikut bersama mereka. Ia juga merasa ingin menyaksikan langsung keberadaan pesta itu, dan duduk ngobrol semalam suntuk.

Di satu hari, teman penggembala Muhammad datang dan membujuk bahkan mendesak Muhammad untuk ikut bersama mereka ke sebuah pesta disudut kota Mekkah. Malamnya mereka pun berangkat. Disana ada tabuhan rebana, tiupan seruling, alunan lagu dan berbagai macam hiburan yang biasa dijumpai di acara semacam itu. Muhammad duduk di kejauhan dan memperhatikan, namun tak lama, hanya sesaat kemudian, Allah membuat Muhammad tertidur hingga sangat pulas sepanjang malam. Ia baru terbangun ketika tersegat matahri yang kian meninggi. Saat ia kembali ke tempat teman-temannya berada, ia malah disambut penuh keheranan dan tanya. Muhammad tidak bisa banyak menjawab. Terjadi pula di beberapa waktu kemudian, hal yang sama terulang. Muhammad kembali tertidur sebelum ia mendekat ke tempat pesta.

Akhirnya, Muhammad pun merasa hari-harinya untuk menjadi penggembala cukup, mesti diakhiri secepatnya. Ia harus mencari pekerjaan lain yang lebih cocok, demi membantu pamannya beserta keluarga. Mungkin kini ia sudah bisa berdagang. Usianya telah mencapai tiga belas tahun. Ia yakin sudah bisa ikut membantu pamannya dalam berdagang. Di Mekkah, Abu Thalib mempunyai kios dagang. Muhammad berpikir ia bisa membantu mengurusinya dan menggantikan sang paman saat sang paman harus keluar atau pergi berdagang ke luar Mekkah.
Read More

Tuesday, November 14, 2017

Perjalanan Dagang Ke Syam Pertama Yang Menggelisahkan Hati

November 14, 2017 0
Kedekatan Muhammad kecil dengan pamannya Abu Thalib, sangatlah erat sekali. Dia tidak ingin berpisah meskipun hanya sehari saja. Mungkin ini adalah insting yang  muncul secara naluriah karena ia tidak ingin kehilangan orang yang dekat dengannya dan penuh kasih dan sayang dalam mencintainya, sebagaimana ibunda Aminah dan sang kakek Abdul Mutthalib. Ia pun begitu mencintai Abu Thalib beserta istrinya. Tetapi Muhammad yang masih belia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Muhammad masih kecil, ekspresi cinta kepada mereka jelas hanya bersifat rasa dan ketergantungan.

Sampai-sampai ketika hari dimana kafilah dagang Arab telah menentukan hari untuk berangkat berdagang ke Syam –sudah menjadi adat bangsa Arab melakukan ekspedisi dagang ke Syam dari aman-, bagi penduduk Mekkah hal ini sudah mendarah daging. Muhammad kecil meminta untuk ikut ke Syam, ia tidak sanggup jika tidak melihat keberadaan pamannya walau sesaat. Sang paman menampik keinginan si kecil. Menurutnya, Muhammad kecil masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang wanita dan sosok ibu, belum waktunya bagi si kecil untuk ikut ekspedisi dagang ini. Apalagi, Abu Thalib khawatir jika ia bisa menjadi lalai dengan barang dagangannya, hingga pengawasannya terhadap Muhammad akan berkurang dan terpecah. Bagaimana jika ia kelelahan, dan tak tak sanggup mengimbangi perjalanan kafilah.

Semua kekhawatiran itu memenuhi benak sang paman, demikian juga dengan bibi-bibinya. Namun Muhammad bergeming, ia merasa kekhawatiran yang berlebihan itu tidaklah patut. Ia merasa tidak puas dengan keputusan paman yang demikian. Sang paman pun bingung, karena keponakannya ini, tidak bisa dipisahkan dengannya. Tapi tetap saja mereka tak bisa bersikap keras. Wajah Muhammad kecil yang dipenuhi dengan nur, memancar dan meluluhkan hati mereka semua. Ditambah rasa iba sang paman ketika mengingat masa lalu sang keponakan kesayangannya ini yang nihil akan kasih sayang sang ayah dan miskin waktunya bersama ibu. Ia pun berat hati untuk meninggalkan Muhammad.

Abu Thalib berkata kepada istrinya Fathimah,”Kemaskan barangnya, Aku akan membawanya ikut dan menjaganya.” Fathimah terkejut dengan keptusuan suaminya, dan merasa berat hati, namun ia tak ingin membantah sang suami. Dengan penuh keraguan dan rasa iba, ia kemasi barang dan bekal untuk Muhammad, dan menggantungkan nasib Muhammad kecil serta suaminya kepada Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia agar dijaga keselmatan mereka.

Kafilah pun berangkat menuju Syam, melewati Madinah -Yastrib saat itu-, Khaibar, Tima’, dan Tabuk. Sebuah perjalanan yang amat panjang, dengan sedikit istirahat sebelum mereka mencapai Bushra, salah satu ibu kota negeri itu. Untuk pertama kalinya, Muhammad menyaksikan bangunan-bangunan megah, orang-orang asing, para budak yang diperjual belikan dan budak yang bersama tuannya, juga orang merdeka lainnya. Kaum konglomerat dan kaum fakir, semua berbaur di pasar itu. Muhammad dititipkan sebentar di sebuah kuil tua nan besar bersama beberapa pembantu yang sedang beristirahat disana. Abu Thalib berpesan pada mereka  untuk menjaga Muhammad dengan sangat baik.
Sesaat kemudian, Abu Thalib kembali dan menggandeng tangan Muhammad, mengajaknya jalan-jalan, hingga ke sebuah rumah besar dan bertingkat. Mereka pun naik ke lantai atas dan melihat-lihat ke sekitar. Tiba-tiba seorang tua yang berpakaian hitam dan kasar, datang. Ia memegang tangan Muhammad kecil yang belum matang usia remajanya, dan memeriksanya. Ia tercenung beberapa saat, kemudian meneliti setiap garis dan guratan wajah si anak belia ini. Lalu dengan cepat, pria tua itu menyingkap pundak Muhammad dan kemudian lututnya, seolah ia sedang mencari dan memeriksa sesuatu yang ada pada tubuh badan Muhammad kecil.
Barulah kemudian ia berbicara dengan sangat serius dan -fokus seolah hanya mereka saja yang ada disana-, dalam keramaian orang-orang di dekat pasar. Gelombang pertanyaan pun menghantam Muhammad dan sang paman satu demi satu, mereka menjawabnya dengan cermat. Tetapi, ketika pria tua ini meminta Muhammad untuk bersumpah atas nama Lata dan Uzza, Muhammad berpaling dan menghindar,” Jangan sekali-kali engkau menanyakan tentang keduanya. Sungguh demi Allah aku sangat membenci keduanya melebihi apa pun yang ada.” Berkata sambil melemparkan wajahnya ke arah lain.

Lalu pria tua tersebut bertanya, ”Siapa ayah dari anak ini?”, Muhammad terpana.
“Akulah ayahnya,” jawab Abu Thalib dengan tegas. Pria itu pun menatap lekat wajah dan memerhatikan tubuh Abu Thalib, lalu bergumam tak percaya, “Bukan, tidak mungkin ayah dari anak ini masih hidup.”
Abu Thalib pun terdiam, tak bisa mengelak, dengan sedikit terbata ia pun mengaku, “Maksudku, aku adalah pengganti ayahnya. Aku adalah paman yang mengasuhnya. Sejak lama ia telah ditinggalkan mati oleh ayahnya.”

Pria tua itu, yang kemudian dikenal dengan panggilan Rahib Buhaira itu terdiam untuk beberapa waktu. Lalu ia mengangkat wajahnya dan berkata sedikit berbisik dengan penuh kehati-hatian kepada Abu Thalib, “Tuan, jagalah keponakan mu ini engan sungghuh-sungguh. Berhati-hatilah terhadap orang Yahudi. Jika mereka sampai mengetahui hal ini, pasti, tanpa segan mereka akan berlaku jahat kepadanya, hingga membunuhnya.”

Perubahan sikap terjadi pada keduanya, cara masuk mereka dengan girang dan penuh tawa tadi, kini saat keluar berganti dengan rasa cemas yang tak menentu, terutama pada sang Paman, akibat perkataan Rahib Buhaira. Dadanya bergemuruh, ia gelisah. Muhammad kecil juga mungkin bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ”Siapa itu Yahudi, yang hendak mencelakainya.?” Karena sejauh ini kehidupan yang dikenal Muhammad kecil hanyalah Mekkah.

Dalam perjalanan pulang mereka, penjagaan Abu Thalib benar-benar sangat ekstra. Sebelum mereka menyentuh tanah Mekkah dan melihat rumahnya, hati Abu Thalib dipenuhi rasa was-was, ia tak bisa tidur, matanya bergerilya kiri kanan, depan-belakang untuk mengantisipasi segala potensi kejahatan yang bisa jadi akan menimpa keponakan tersayangnya.

Sesampainya di mekkah, Abu Thalib menceritakan kepada Fathimah, istrinya. Tak ada sedikit pun yang ia sembunyikan. Fathimah sangat terkagum dan terkesima dengan kisah dari suaminya. Ia pun berujar kepada suaminya. “Kalau demikian cerita mu wahai suami ku. Permintaan Muhammad yang sangat ingin ikut  dalam perjalanan kalian kemarin itu bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah takdir Allah, sehingga kau dapat melihat langsung keistimewaan yang dialami oleh anak ini. Dan setiap kejadian menyangkut dirinya. Mungkin itulah kenapa ia sangat dekat dan bergantung pada mu. Hingga aku pun tak kuasa mengekangnya dari mu.”

Dan Fathimah melanjutkan, “Dibalik hari ini terdapat hari esok yang penuh misteri, demikian juga dengan Pribadi Muhammad, masih banyak rahasia yang belum terungkap. Sejauh ini, sebagian telah nyata di hadapan kita. Dan kita pasti akan menyaksikan sesuatu yang lebih besar kedepannya.” “Itu kalau Allah menjaganya dan Yahudi tidak mencelakainya,” Abu Thalib menyela, “Dan aku sangat mengkhawatirkannya wahai Fathimah istri ku.”

Fathimah pun menenangkan, “Tidak ada Yahudi di Mekkah wahai suami ku, kecuali mereka hanya datang dan pergi unuk berdagang. Menurutka, rahasia ini harus kita jaga, jangan dibuka kepada siapa pun. Terutama yang rahib itu sebutkan. Dan Muhammad harus selalu dalam pengawasan kita.”

Sejak hari itu, perhatian dan pengawasan Fahimah binti Asad kepada Muhammad semakin besar dan ketat. Dan cintanya kepada Muhammad pun kian dipadati rasa hormat. Hingga ia tumbuh menjadi semakin dewasa, yang beranjak menjadi seorang pemuda.
Read More