TARBIYAH ONLINE: Nasab Nabi Muhammad

Terbaru

Showing posts with label Nasab Nabi Muhammad. Show all posts
Showing posts with label Nasab Nabi Muhammad. Show all posts

Monday, November 4, 2019

Perayaan Maulid Lebih dari Sekedar Mengenal Nama dan Nasab Nabi Saw

November 04, 2019 0

Tarbiyah.onlineApa hikmah dari memperingati perayaan maulid Nabi Muhammad SAW? apakah hanya sekedar makan-makan? Adakah hal lain yang perlu diperhatikan?

Kelahiran Baginda Rasulullah SAW adalah merupakan suatu nikmat besar lagi sangat berharga. Karena dengan lahirnya Pemuda Arab yang suci lagi mulia ini, kita dapat mengenal Allah melalui perantaraan beliau SAW.

Oleh karena inilah kita ummat Islam sedunia walaupun tidak semuanya, membuat perayaan Maulid Nabi SAW, sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap nikmat yang agung tersebut.

Namun yang sangat disayangkan adalah, jika kita perhatikan perkembangan ummat muslim sekarang ini dalam memperingati maulid Nabi, kebanyakan hanya sekedar menyanjung-nyanjung nama Rasulullah SAW, menyebut nasab keturunannya , bercerita kisah-kisah perjalanan hidupnya dan menyampaikan ajaran yang dibawanya.

Hanya sekedar itu saja, sangat kurang yang mengamalkan ajaran yang dibawanya secara komplit

Yang dimaksud dengan kata-kata “secara komplit”, adalah sebagaimana Firman Allah SWT yang tersebut didalam  Al-Quran:

قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Ali Imran: 164)

Cobalah kita perhatikan dengan seksama ayat tersebut diatas. Maka dapat disimpulkan bahwa hikmah diutusnya Rasul tersebut adalah untuk menyampaikan tiga perkara kepada orang-orang quraisy dan kita semua, tiga perkara itu adalah :

1. Tentang keberadaan Allah/tanda-tanda keberadaan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan Tauhid atau aqidah.

2. Tazkiyah (penyucian jiwa), yakni membersihkan nafsu dari segala macam sifat tercela dan dari syirik khafi (halus/tersembunyi) yang bersarang didalam bathin. tazkiyah Inilah yang disebut dengan tasawwuf dan kesufian.

3. Mengajarkan Kitab (hukum syari’at) dan hikmah atau kebijakan dalam mejalanai kehidupan didunia yang fana ini.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa, perayaan maulid Nabi tersebut bukan hanya sebatas mengetahui nama dan nasab keturunan, sejarah kelahiran dan kehidupan beliau saja. Akan tetapi Maulid Nabi itu dirayakan untuk memahami dan mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi SAW.

Memahami ajaran-ajaran tersebut dengan pemahaman yang benar, untuk kemudian mengamalkannya dengan baik. Jadi bukanlah hanya sekedar membangga-banggakan Sosoknya saja, tanpa mengikuti ajaran yang dibawanya.

Ibrahim bin Adham, seorang tokoh ulama shufi, Waliyullah terkenal. Beliau pernah ditanya oleh murid-muridnya perihal ayat yang berarti “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuterima”. muridnya berkata:

“Wahai guru, Kami senantiasa berdoa kepada Allah, akan tetapi sampai saat ini doa kami tersebut belum terwujudkan, belum diterima. Lalu bagaimana ayat tersebut dapat terbukti wahai guru? apa maksud ayat itu sebenarnya? dan apa kesalahan kami sehingga sampai saat ini doa kami belum  juga diterima Allah SWT?”

Sang guru, Ibrahim bin Adham pun menjawab beberapa hal yang menjadi pencegah diterimanya doa seorang hamba oleh Allah. Salah satunya adalah “Kalian membangga-banggakan Nabi Muhammad, kalian kagum padanya, bahkan kalian siap berperang bila namanya direndahkan, tetapi sayangnya kalian tidak mau mengikuti sunnah dan ajaran-ajarannya. inilah penyebab doa kalian tidak diterima” kata beliau.

Makanya Allah SWT menghikayahkan didalam Al-Quran ucapan Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim berkata:

فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي

“…maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku”. (QS. Ibrahim: 36)

Pertama sekali yang kita pahami dari ayat ini adalah siapa yang mengikut maka dia termasuk golongan ku, dan yang kedua merupakan kebalikan dari itu, yakni siapa yang tidak mengikutiku maka bukanlah dari golonganku.

Maka oleh karena itu, ketika Nabi Nuh as berkata kepada Allah tentang putranya yang durhaka:
فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي

“…maka ia (Nuh) berkata : Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku” (QS. Hud: 45)

Kemudian Allah SWT pun menjawab kegelisahan Nabi  Nuh, pada ayat selanjutnya Allah SWT Berfirman:

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ

“Allah Berfirman: Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu, sesungguhnya (perbuatan)nya tidak baik”. (QS. Hud: 46)

Padahal anak itu adalah anak kandung Nabi Nuh as, Nabi Nuh sendiri yang mengakui itu. Ketika beliau berkata demikian kepada Allah. Namun Allah menjawab bahwa bukanlah ia termasuk dalam golongan Nabi Nuh, karena ia memiliki amalan yang buruk, tidak mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Nuh as. Meskipun ia (Kan’an) berasal dari darah dagingnya sendiri, anak kandungnya.

Makanya jika dalam masalah agama, bukanlah masalah hubungan darah semata. Akan tetapi masalah ikut atau tidak.

Sebagaimana pada contoh lainnya, yaitu salah seorang sahabat Nabi yang mulia, Salman al-Farisi. Beliau bukanlah dari keluarga Nabi Muhammad SAW, tidak ada hubungan nasab, bahkan tidak berasal dari Mekkah. Tetapi Nabi SAW pernah berkata tentang sosoknya.

Rasulullah SAW bersabda: “Salman Farisi adalah keluargaku”. Ini dikarenakan Salman al-Farisi mengikuti ajaran-ajaran Nabi SAW (Mutaba’ah). Oleh karena ini, dalam agama bukan masalah hubungan darah, tetapi masalah mutaba’ah.

Jadi silahkan saja bila kita ingin membuat kenduri maulid, tetapi inti yang dimaksud dari perayaan maulid Nabi itu adalah sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Bukan hanya sebatas mengundang orang untuk datang dan makan bersama, lantas ajaran-ajaran Nabi SAW yang kita rayakan hari kelahirannya itu tidak kita ikuti/amalkan.

Yang perlu kita tekankan disini adalah tazkiyah (penyucian jiwa) yang ada pada surat Ali Imran ayat 164 pada awal pembahasan tadi. Ini sudah sangat kurang pembahasannya dikalangan pemuda-pemudi Islam saat ini. Apalagi dalam hal pengamalannya, sungguh jauh panggang dari api.

Kita dituntut untuk berakhlak mulia, menghilangkan ananiyah/ keakuan, dan untuk bersuhbah (berhubungan baik) dengan Allah dan semua makhluk-Nya. Dan ini semua tidak dapat kita lakukan melainkan dengan bimbingan seorang Mursyid (guru rohani). Begitulah penjelasan dari seluruh ahli sufi terdahulu yang bisa kita baca dalam berbagai kitab-kitab tashawwuf/kesufian.

Bukan hanya dengan membaca-baca saja kitab tasawuf, kemudian kita menjadi sufi, tidaklah demikian. Kesufian (tazkiyah) ini butuh kepada riyadhah lahir dan batin dibawah bimbingan seorang Mursyid yang Kamil.

Demikianlah, semoga kita dapat memetik pelajaran berharga dari tulisan ini untuk kemudian menjadi bahan renungan kedepannya, bagaiman caranya agar perayaan maulid Nabi SAW tidaklah hanya sekedar makan-makan, mengetahui nasab Nabi SAW, tempat tanggal lahir, tempat wafatnya dan kisah hidupnya.

Akan tetapi kita juga harus tahu dan mengamalkan Syariat dan Thariqatnya/hadap hatinya dan akhlak prilakunya.

Allah SWT Berfirman:

فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“…Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-A’raf: 157)

Bahkan lebih dari itu, dalam ayat diatas barusan kita juga dituntut untuk mencintai, memperjuangkan dan membela ajaran-ajarannya, tentunya dengan segala kemampuan yang kita miliki walaupun nyawa sebagai taruhannya.

Jika tidak demikian, maka sungguh perayaan maulid tersebut hanya sebatas perayaan, sedikit sekali manfaatnya atau bahkan na’uzubillah!, tidak bermanfaat sama sekali. Wallahua’lambisshawab!

[Disarikan dari ceramah khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tanggal 1 November 2019, yang disampaikan oleh Abu. H Syukri Daud Pango, Pimpinan Dayah (Ponpes) Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah]

Oleh Teungku Muhammad Haekal, S.Pd.I Pengajar at Pesantren Tradisional Dayah Raudhatul. Artikel ini juga tayang di Pecihitam.org

Read More

Thursday, November 9, 2017

Seri Sirah Nabawiyah | Kenali Nasab dan Bagaimana Kisah Kelahiran Nabi Muhammad SAW

November 09, 2017 0

Tarbiyah.onlineAl Musthafa Muhammad SAW mempunyai nasab mulia melalui garis keturunan Nabiyullah Ismail anaknya Nabiyullah Ibrahim As. Sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Sesungguhnya, Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, kemudian memilih Hasyim dari Quraisy, dan memilih ku dari bani Hasyim.”

Allah telah memilih Nabi SAW dari kabilah yang paling bersih dan dari keturunan yang paling suci dan utama. Tidak ada sedikitpun “virus-virus” jahiliyah yang menjangkiti nasabnya.


Nasab Nabi Mulia

Nasabnya yang disepakati adalah; Muhammad bin Abdullah bin Abdullah bin Abdul Muththalib (namanya Syaibatul Hamd) bin Hasyim bin Abdi Manaf (namanya Mughirah) bin Qushayyi (namanya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Mu’iddu bin Adnan. Selebihnya, dari yang telah disebutkan, masih ada perselisihan diantara ulama ahli sirah. Akan tetapi, tiada perbedaan pendapat antara mereka bahwa Adnan adalah termasuk anak dari Nabi Ismail bin Ibrahim as.

Dalam zikr maulid yang disusun oleh ulama besar asal Yaman zaman ini Habib Umar bin Hafizh yang berjudul -Dhiyaul lami’ li maulidin nabiyyu syaafi’- (potongan sya’irnya terlampir pada artikel lain berjudul Sepotong Kisah Lahir Nabi di Dhiyaul Lami’) pun disebutkan bahwa cahaya kenabian telah turun temurun ditransfer melalui pribadi-pribadi agung nan terpandang di setiap generasi. Jika Abdullah ayah Nabi SAW dikenal kelembutan sikap, kegagahan serta ketampanannya, Abdul Muththalib dipercayai sebagai pemegang kunci Ka’bah yang sangat dihormati oleh masayarakat Arab dan pengunjung Ka’bah di masanya. Demikian halnya ayah dari Qushayyi, yang digelari sebagai Hakiim, orang terpandai dan bijak yang mempunyai pengaruh bagi kaumnya.

Bangsa Arab adalah anak keturunan dari Ismail bin Ibrahim As, sebagaimana diketahui kisah Nabi Ismail yang tumbuh besar dan hidup di Mekkah sebagai pusat permukiman dan peradaban Arab setelahnya. Maka tak heran jika millah dan minhaj Ibrahim dan Ismail masih mereka warisi. Agama yang lurus (hanif), itulah kenapa ibadah haji, umrah, thawaf, wuquf di Arafah dan qurban telah menjadi ritual keagamaan setiap tahunnya oleh bangsa Arab, bahkan sebelum Islam. Meskipun pada masa-masa tertentu, banyak praktik jahiliyah menyusup kedalam masyarakat dan diteruskan oleh generasi setelahnya. Dan disebutkan bahwa orang pertama yang mengajak kepada kemusyrikan dan menyembah berhala pertama adalah Amr bin Luhayyi bin Qam’ah. (Kisah tentangnya diceritakan khusus di judul Kakek Moyang Kaum Jahiliyah).

Tetap saja masih terdapat orang-orang yang bersih dari pengaruh Jahiliyah, walau sangat sedikit, yang berpegang teguh kepada tauhid (peng-Esaan ALLAH) dan berjalan sesuai syari’at Hanifiyah, yaitu dengan tetap beriman kepada adanya hari bangkit setelah mati, percaya adanya balasan berupa pahala (bagi perbuatan baik), dan dosa (bagi pekerjaan buruk/maksiat), dan mengingkari penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang Arab serta mengecam perilaku buruk juga kesesatan pikiran lainnya.


Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nabi SAW pernah berdiri diatas mimbar lalu bersabda,” “Siapakah aku?”, para sahabat menjawab, “Engkau adalah rasullullah. Semoga keselamatan atasmu.” Nabi kemudian bersabda,”Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk (manusia) kemudian Dia menjadikan mereka dua kelompok, lalu Ia menempatkan aku di dalam kelompok yang terbaik, kemudian menjadikan mereka beberapa kabilah dan menempatkan aku di kabilah yang terbaik. Kemudian Dia menjadikan mereka beberapa rumah dan menempatkan ku di dalam rumah yang terbaik dan paling baik jiwanya.”

Kelahiran Nabi Mulia

Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun Gajah, yakni tahun saat Abraham al-Asyram berusaha menyerang Mekkah dan ingin menghancurkan Ka’bah dikarenakan rasa iri dan dengki atas ketenaran Ka’bah yang mengalahkan kemegahan istananya di negeri Habasyah, dengan congkak dan sombongnya dia langsung memimpin ratusan tentara berkendara gajah untuk datang dan memporak-porandakan Mekkah dan seluruh isinya-. Namun Allah menggagalkannya melalui kejadian yang sangat ajaib dan mengagumkan, sebagaimana diceritakan dalam Al Qurran Surah al-Fil. Belakangan terdapat syubhat tentang kisah burung ababil yang diungkapkan Al Quran tersebut, dengan mengatakan pasukan gajah diserang virus dan flu. Syeikh Muttawalli asy-Sya’rawi (ulama terkemuka dari Mesir) dalam bukunya Muhammad Rasullullah (Kedudukan Nabi Muhammad-terj) mengatakan bahwa tuduhan tersebut menunjukkan kelemahan akal si penuduh. Karena Quran surah Al-Fil turun ditengah masayarakat Mekkah yang tentunya masih banyak diantara mereka yang hidup dan melihat sendiri bagaimana kejadian ajaib itu terjadi, dan tidak ada seorag pun dari mereka membantahnya.


Ada beberapa riwayat dan versi tentang tanggal kelahiran Nabi SAW. Menurut riwayat yang paling kuat, kelahiran Nabi Muhammad SAW jatuh pada senin malam, 12 rabi`ul awal. Maka tak heran, jika peringatan Maulid pun serentak dilakukan di tanggal tersebut. Mngenai hari, Senin adalah hari kelahiran beliau SAW seperti yang beliau SAW tegaskan sendiri dalam Hadits terkait puasa di hari senin yang ditanyakan oleh Sahabat. Jawaban beliau dengan tegas dan lugas, “senin adalah hari aku dilahirkan”.

Perlu diketahui juga, di masa tersebut, tidak ada pencatatan tanggal secara jelas. Juga bangsa Arab tidak mengenal pencatatan tahun secara jelas, karena Arab tidak tersentuh Romawi yang telah menanggalinya dengan kalender Masehi.

Bangsa Arab hanya mengingat tahun melalui kejadian besar yang terjadi di tahun itu dan menamai tahun tersebut dengan nama itu. Sebagaimana tahun gajah, namun bukan berarti mereka tidak mengetahui sistem penanggalan dan perhitungan bulan, karena mereka selalu menunaikan haji di saat musim haji yaitu Dzulqaidah dan Dzulhijjah.

Di malam kelahiran Nabi SAW, diceritakan bahwa terpancar cahaya yang sangat indah nan terang hingga penjuru langit kota Mekkah, dan setiap berhala yang  mengelilingi Ka’bah terjatuh telungkup tanpa ada sebab angin maupun badai. Demikian juga api sembahan yang telah menyala dan tak pernah padam selama seribu tahun, padam hilang cahayanya, dan membuat seluruh istana Kisra di Persia panik. Juga kursi kebesaran Kaisar runtuh di Kejadian tersebut disebutkan sebagai tanda akan binasanya kejahiliyahan dan kemusyrikan. Dan cahaya Islam akan memancar ke seluruh penjuru dunia.

Nabi Muhammad SAW lahir dari rahim Aminah binti Wahab disaat menjelang fajar dalam keadaan yatim. Sebab Abdullah ayahnya telah meninggal ketika Nabi Muhammad masih dalam kandungan Aminah sang ibunda. Aminah dijaga dan sangat disayang oleh Abdul Muththalib dan juga saudara-saudara Abdullah lainnya. Terlihat jelas bagaimana Abu Lahab, paman nabi (yang di kemudian hari memusuhi Nabi) ikut bersenang hati atas keahiran keponakannya, dengan memerdekakan seorang budaknya, sebagaimana hadits riwayat Muslim dari ‘Abbas Ra. Beliau yang Mulia lahir dalam keadaan telah berkhitan dan posisi bersujud (telungkup) yang mensyaratkan rasa malu beliau akan aurat.

Bahkan semasa ibunda Aminah mengandung, tidak ada kesusah dan kepedihan berarti yang dialami oleh ibunda. Kesedihannya atas meninggalnya suami tercinta Abdullah, terobati dengan tanda-tanda kenabian yang dirasakan oleh Aminah sejak mengandung. Ia merasakan sesuatu yang spesial dari yang dikandungnya.



Demikianlah kisah singkat Nasab dan Kelahiran Nabi Mulia Muhammad SAW.

****
Dikutip dari Buku Sirah Nabawiyah susunan Syeikh Sa'id Ramadhan Al Buthi, Kedudukan Muhammad SAW susunan Syeikh Mutawalli asy- Sya'rawi dan Dhiyaul lami' bi Maulidin Nabi Syaafi' susunan Habib Umar bin Hafizh.
Read More